
Dua hari kemudian....
Alesha duduk terdiam diatas sofa sembari mengelusi perutnya. Ia belum berkomunikasi dengan suaminya lagi hingga detik ini. Terakhir hanya ketika Jacob berangkat untuk menyelamatkan Sharon saja. Entah apa kabar suaminya sekarang, Taylor bahkan tidak tahu pula bagaimana kondisi Jacob. Itu membuat Alesha semakin cemas, namun tidak dapat berbuat apa-apa.
Dari arah lorong ruang kendali, Sang Nyonya Besar, Laura berjalan keluar dengan wajah datarnya, diikuti tiga asistennya.
Alesha tidak tahu apa yang ibu mertuanya itu lakukan selama dua hari ini. Laura terus menghabiskan waktu, bergabung dengan Taylor dan Rangga di ruangan kendali. Mungkin menjalankan rencana mereka. Alesha juga dengar kalau kemarin pagi beberapa anak buah ibu mertuanya menyusul Jacob untuk menuntaskan misi.
"Cari dan susul mereka sekarang!" titah Laura yang langsung diangguki ketiga asistennya itu.
Sebelah alis Alesha terangkat. Cari dan susul siapa? Jacob dan yang lain? Alesha ingin bertanya, namun melihat ekspresi ibu mertuanya yang nampak tak bersahabat membuatnya urung.
Setelah itu, Laura kembali melangkah, menuju kamarnya, sementara tiga asistennya pergi meninggalkan bungker itu.
"Al..."
Alesha sedikit tersentak saat namanya tiba-tiba dipanggil.
"Rangga, ada apa?" tanya Alesha.
"Kau masih di sini? Sudah makan malamnya?" tanya balik Rangga. Ia duduk tepat disebelah Alesha.
Taylor yang juga muncul barengan bersama Rangga langsung memasang tatapan awasnya. Ia terduduk tidak jauh dari Alesha dan Rangga.
Alesha menggelengkan kepalanya, pelan.
"Kau mencemaskan Jacob, Al?" lembut Rangga.
Kali ini, Alesha mengangguk.
"Tapi kau tidak seharusnya seperti ini. Kau belum makan dari siang, Al. Lagi pula Jacob baik-baik saja."
"Apa kalian sudah mendapatkan kabar terbarunya?" tanya Alesha pelan tanpa menatap yang ditanya.
Rangga terdiam. Ia tidak bisa memberitahu pada Alesha soal Jacob yang saat ini sedang putus kontaknya dengannya dan yang lain oleh sebab sistem komunikasi mereka diretas oleh anak buah Dirga. Tapi setidaknya mereka aman. Laura langsung melaksanakan tindakan cepat untuk membuat bungker ini tetap tersembunyi dan tidak diketahui musuh. Tapi setidaknya, berkat teknologi super canggih yang berada di dalam bungker itu, anak buah Laura masih bisa melacak keberadaan Jacob dan yang lain.
"Jacob belum tentu baik-baik saja, Rangga," ucap Alesha datar.
"Al, jangan berpikir negatif."
"Tapi itu bisa jadi benar. Kau tidak menjawab pertanyaanku. Atau mungkin kau tahu jawabannya, tapi kau dan yang lain menyembunyikannya dariku!" balas Alesha datar namun tajam.
Rangga menghembuskan napasnya dengan sabar, "Kau lihat ketiga anak buah Nyonya Laura yang tadi? Mereka ditugaskan untuk menyusul dan membawa pulang Jacob juga yang lain, Al. Kau tahu apa yang sudah ibu mertuamu itu lakukan pada Dirga?"
Alesha mengangkat wajahnya, menatap lurus penasaran pada Rangga.
"Nyonya Laura...." Belum sempat Rangga menyelesaikan kalimatnya, mendadak Mona datang sembari menangis histeris dan mencari-cari ibunya.
"Ibu!! Hiks hiks, Ibu....."
Suara wanita anak satu itu bergetar parau seiring dengan derasnya air mata yang mengalir.
"Mona! Ada apa?" Alesha langsung berdiri, panik seraya mendekati kakak iparnya itu.
"Dimana ibu, Al? Hiks hiks, dimana Ibu?" Mona menatap Alesha penuh air mata.
Ada apa ini? Kenapa Mona menangis? Apa terjadi sesuatu yang buruk pada William? Lalu bagaimana dengan Jacob? Bagus! Kepala Alesha mulai dirasuki oleh pikiran-pikiran negatif sekarang.
"IBU!!! Hiks hiks..." Tubuh Mona merosot. Alesha yang menahannya pun tentu ikut merosot, terduduk pasrah dilantai.
"Mona!" pekik Laura. Ia berlari cemas, berlutut dihadapan putrinya. "Mona, ya ampun! Kau kenapa?" paniknya.
"Hiks, Ibu, katakan yang sebenarnya padaku! Ibu harus jujur! Hiks hiks, apa benar William tertembak dibagian dadanya tiga kali?"
Deg!
Alesha dan Laura sama-sama tercekat saat mendengar itu.
"JAWAB! Hiks hiks, jawab aku! Kenapa Ibu dan yang lain tidak bilang padaku? Kenapa kalian tidak memberitahuku kabar soal William dua hari terakhir ini? Hiks hiks." Tangis Mona semakin pecah.
Alesha yang semula berlutut, kini jatuh terduduk. Syok mendengar ucapan Mona barusan.
"Al!" Rangga memekik, langsung menghampiri Alesha yang masih diam, tercekat. "Alesha!"
"Mr. Jacob...." gumam Alesha, begitu pelan.
"JAWAB! Hiks hiks..." Mona mendorong tubuh ibunya hingga ikut jatuh terduduk. "Bagaimana keadaan William sekarang, Ibu? Hiks hiks. Jawab aku!"
Laura terdiam. Ia tidak tahu bagaimana Mona bisa tahu soal hal itu. Dua hari lalu, tepatnya saat tengah malam, anak buah Dirga berhasil menemukan lokasi persembunyian Jacob dan yang lain di kediaman Mr. Galuh.
"Jack!" Sharon memekik kencang sembari membawa tubuhnya kepojokan kamar saat mendengar suara baku tembak. "JACK!!"
Tidak lama kemudian....
DAR!!
Pintu kamar yang Sharon tempati ditendang hingga hancur oleh Jacob.
Cepat-cepat Sharon bangkit berdiri, berlari menghampiri kakaknya.
Jacob tak membuang waktu, ia menarik lengan adiknya untuk berlari meninggalkan rumah panggung itu.
Sementara Wiliam bersama Bastian dan Mr. Galuh sibuk melayani anak buah Dirga yang datang secara bergerombol.
DOR!
DOR!
Jacob menembaki orang yang menghalangi jalannya. Sementara kakinya terus dipacu sembari menarik Sharon agar menjauh dari gerombolan anak buah Dirga.
DOR!
DOR!
DOR!
Bugh! Bugh!
Dag!
"Argh!"
Jacob menghabisi kelima musuhnya sekaligus dalam hitungan detik.
Disusul Wiliam, Bastian, dan Mr. Galuh. Mereka berlima lari, masuk ke dalam hutan.
"Ikuti aku jika kalian tidak ingin tersesat!" teriak Mr. Galuh.
Kini, Mr. Galuh berlari di depan. Memimpin. Meski usianya sudah lebih dari setengah abad, namun fisiknya masih kuat.
Semalaman mereka berlarian, menghindar, melawan, berlari, lalu melawan lagi, lalu menghindar lagi, sudah seperti pemainan petak umpet dengan tambahan permainan skill bela diri.
Paginya, saat waktu matahari terbit, sial sekali! Lima anak buah Dirga berhasil menemukan lokasi Jacob dan yang lain.
Mereka tentu kembali bertarung, di tengah hutan, diantara lebatnya ilalang dan rerumputan.
Sayangnya, meski berhasil mengalahkan lima musuh itu, Wiliam terkena tiga luka tembakan, dua diperut, dan satu didada. Hal itu membuat darahnya mengucur deras. Itu pun, jika tidak dibantu Jacob, William mungkin sudah mati sebab tubuhnya dihujani oleh peluru.
Akhirnya, setelah mereka tiba dipedesaan, Jacob meminjam satu buah mobil milik penduduk, dan meminta Bastian untuk membawa Wiliam ke rumah sakit secepatnya. Saat itu, sebenarnya anak buah Laura yang lain sudah dalam perjalanan untuk menyusul. Mereka melacak ponsel yang Bastian bawa, dan gelang kayu yang Sharon pakai. Sementara ia, Sharon, dan Mr. Galuh masih harus pergi, menghindari anak buah Dirga setidaknya sampai bantuan dari anak buah Laura datang. Tapi itu tidak mudah, Laura cukup kesulitan mendeteksi lokasi keberadaan kedua anaknya. Pasalnya, gelang kayu milik Sharon tertinggal dalam hutan, copot saat terjadi baku hantam.
Sebenarnya bisa saja Jacob bersama Sharon dan Mr. Galuh ikut bersama Bastian. Tapi itu akan sangat berbahaya. Dirga mengincarnya juga Sharon, bukan Wiliam apalagi Bastian. Jadi, Jacob memutuskan untuk berpisah karna ia tahu, Dirga akan terus mengejarnya juga Sharon.
"Kau memiliki hubungan spesial apa dengan Bastian?" tanya Jacob, malam sebelum Mona tahu soal William yang tertembak.
Sharon terdiam, sedikit salah tingkah. Duh! Bagaimana ia menjawabnya pada Jacob?
"Kalian pacaran?"
"Eh, tidak!" jawab Sharon dengan cepat. Ia menggelengkan kepalanya, "Kami tidak pacaran. Kami hanya teman, Jack."
"Oh ya? Lantas apa maksudnya gelang kayu itu?" Sebelah alis Jacob terangkat.
Mr. Galuh yang menyaksikan itu hanya diam sembari terkekeh di tepian sungai bibir hutan, tidak jauh dari perkampungan.
"Aku tidak tahu," jawab Sharon, pelan. Ia mengatakan yang sejujurnya, "Bastian saat itu mengajakku bermain ke Trans Studio Bandung, awalnya aku menolak, karna aku tidak berteman, apalagi dekat dengannya. Tapi.... Ehm, tapi dia membujuk, bilang, apasalahnya kalau kami memulai pertemanan. Lalu setelah itu, saat sampai di tempat tujuan, Bastian memberikanku gelang kayu itu. Dia berpesan agar aku menghubungi nomor yang tertera digelang itu saat aku dalam bahaya."
Jacob mendengus. Ia yang mengajarkan Bastian soal membuat nomor telepon gratis, juga cara menonaktifkan nomor tersebut apabila tidak dipakai lagi. Tentu saja! Ia mentor Bastian saat di WOSA.
"Lalu kalian pacaran?"
"Eh, tidak, Jack! Tidak seperti itu! Kami tidak pacaran!"
"Tapi Bastian menyukaimu, Sharon. Dia tertarik padamu. Cepat atau lambat kalian paling akan pacaran."
Sharon terdiam, seperti berpikir setelah mendengar ucapan kakaknya barusan.
"Tapi itu tidak semudah yang dibayangkan. Dia tidak akan bisa mendapatkanmu jika tidak membuktikan padaku jika dia pantas untukmu." Jacob mengubah posisi duduknya, menjadi lebih santai, "Tidak, Sharon. Tidak sembarang pria boleh mendekatimu!"
Sharon mengerutkan keningnya. Maksudnya apa? Ia tidak pernah dekat dengan lelaki mana pun, walau nyatanya banyak sekali pria yang mendekatinya. Itu karna, ya memang ia tidak tertarik saja untuk pacaran. Ia sibuk mengejar cita-citanya, menjadi seorang pemuda penjelajah alam.
Jacob menatap serius adik perempuannya itu. Sharon cantik, beberapa persen lebih cantik dari Mona. Ia harus bisa menjaga adiknya itu sebaik mungkin kalau tidak mau kecolongan.
"Aku pengganti ayah untukmu. Kau pikir aku akan membiarkanmu dengan sembarang pria begitu saja? Tidak Sharon." Jacob menggelengkan kepalanya, "Apalagi kau tahu, musuh pesaing bisnis ibu banyak. Mereka bisa memanfaatkan seorang pria untuk mengelabuimu dan menghancurkan perusahaan ibu. Beruntung jika kau juga tidak dilukai entah secara fisik atau mental oleh mereka."
Sharon menundukkan kepalanya. Jacob benar, dan itu pula lah alasannya selalu menghindar jika ada seorang pria yang mendekatinya. Bisa jadi itu hanya alat pancingan saja untuk menghancurkan bisnis ibunya.
Tapi Bastian?
Seperti Bastian tidak mungkin memiliki niat untuk menghancurkan bisnis Ibunya. Pikir Sharon. Bastian justru berpihak padanya, apalagi pada Jacob dan Alesha.
"Tapi, seandainya aku memberikan restu untuk Bastian agar bisa mendekatimu, apa kau mau manerimanya?" kali ini pertanyaan Jacob terdengar meledek dan menjengkelkan.
Sharon mendengus sebal. Menatap kesal kakaknya itu. Dasar Jacob!
Keadaan mereka tetap baik-baik saja, bahkan hingga pagi hari tiba. Entah kenapa, tidak ada anak buah Dirga yang berhasil menemukan mereka.
Jacob masih terus melanjutkan perjalanan bersama Sharon dan Mr. Galuh. Ia hendak menghubungi keluarganya, namun tidak ada ponsel. Ditambah, mereka berada di kaki gunung salak, sinyal belum tentu ada, juga Jacob tidak begitu hapal nomor telepon asistennya.
__ADS_1
Tapi setidaknya, mungkin, dan memang seharusnya, saat ini beberapa anak buah ibunya sudah berada di rumah sakit tempat kakak iparnya, William mendapatkan penanganan medis. Secara, mereka dapat melacak ponsel Bastian. Beda dengan Jacob, tak ada teknologi modern yang melekat ditubuh saat ini, gelang Sharon tertinggal, dan hilang di hutan, juga yang ganjil adalah kemana para anak buah Dirga? Apa mereka kehilangan jejak?
Semoga saja.
Berjam-jam berlalu, saat masuk waktu malam, Jacob, Sharon, dan Mr. Galuh memilih istirahat sejenak disebuah masjid sederhana di perkampungan sekitaran kaki gunung. Tidak lupa, mereka juga diberi makan malam oleh salah satu tetangga.
Pas sekali, Jacob memang sudah sangat kelaparan.
Ya ampun, malam ini, kira-kira Alesha sudah makan belum, ya?
***
"Jawab, Ibu! Hiks hiks, bagaimana kondisi William sekarang?" Mona meronta, memaksa meminta jawaban.
Laura terdiam. William, menantu laki-lakinya itu cukup kritis, meski sudah ada perkembangan sedikit. Tapi pertanyaan, bagaimana Mona tahu soal itu?
"IBU, JAWAB!!"
Laura sedikit tersentak saat mendapat bentakkan barusan.
"Ibu, Jacob...." lirih Alesha seraya menatap lemah pada ibu mertuanya.
Laura kembali menghela napasnya dengan sabar. Haruskah ia bilang pada Alesha kalau saat ini ia masih kehilangan jejak kedua anaknya yang lain?
Alesha dan Mona sama-sama sedang hamil. Hamil muda. Sedikit banyak, berita buruk soal William dan Jacob pasti akan mempengaruhi mereka berdua. Laura hanya berusaha menjaga agar putri dan menantu perempuannya tetap baik-baik saja.
"Ibu, Jacob bagaimana?" lirih Alesha, "jawab, Bu."
"JAWAB SEKARANG, BU!!" sentak Mona yang sekali lagi sukses membuat Laura terkejut.
"Jacob dan Sharon hilang, Al," ucap Mona antara sadar dan tidak.
Deg!
Tubuh Alesha tercekat seketika.
Apa? Hilang?
Alesha menatap tak percaya pada ibu mertuanya. Tidak mungkin! Masa iya anak buah Laura bisa kehilangan jejak suaminya?
"Al!" Rangga menepuk pelan sebelah pipi adiknya, "Hey, istigfar!"
Alesha masih tercekat. Ia menelan ludahnya dengan kedua kelopak mata yang sudah berkaca-kaca. Apa yang terjadi pada Jacob? Bagaimana kondisi suaminya itu sekarang? Pikiran Alesha berkecamuk, perasaannya semakin memburuk, mengkhawatirkan ayah dari janin yang sedang ia kandung.
"Alesha, istigfar!" Rangga sedikit menegas.
"Hiks... Mr. Jacob...." parau Alesha.
"William.... Hiks hiks, William.... Aku mau ketemu dengan Wiiam, Ibu.... Hiks hiks." Mona menangis tersedu-sedu dalam pelukan ibunya.
"Mr. Jacob.... Hiks hiks," kepala Alesha tertunduk, mulai menangis lirih.
"Tidak, Al, jangan bersedih dulu. Anak buah Nyonya Laura berhasil mendapatkan sebuah petunjuk. Mungkin saja itu bisa membantu mereka untuk segera menemukan Jacob," ucap Rangga yang berusaha untuk setidaknya membuat Alesha tenang.
Alesha menggelengkan kepalanya. "Hiks, aku takut terjadi sesuatu yang buruk padanya, Rangga."
"Hey, Al, kau harus percaya, tidak akan terjadi sesuatu yang buruk pada Jacob!" Rangga menangkup wajah Alesha, menatapnya lamat-lamat, "Suamimu itu kuat, dia tidak lemah. Mengerti? Kami hanya kehilangan jejak saja, tapi kami menemukan jejak lain yang sepertinya bisa membawa kami untuk dapat menemukan Jacob dan Sharon. Paham?"
Alesha tak membalas apapun. Ia hanya terus balas menatap kakaknya dengan derai air mata dan napas yang tersendat-sendat.
Di sisi lain, Jacob sudah meminjam salah satu ponsel milik penduduk di sekitaran masjid. Sinyal di perkampungan itu cukup sulit. Ia sudah menghungi nomor kantor beberapa kali, namun masih tidak tersambungkan juga.
Beberapa menit kemudian....
"Hallo, selamat siang, dengan sekretaris Irene, ada yang bisa..."
"Hallo, Irene! Ini aku, Jacob!"
"Ya? Jacob?"
"Iya! Jacob! Putra Nyonya Laura!"
"Oh, Tuan Jacob. Iya, ada apa, Tuan? Ada yang bisa dibantu?"
"Irene, ibu dimana? Bisa aku bicara dengannya?"
"Maaf, Tuan, tapi Nyonya Laura sedang berada di Indonesia sekarang."
Eh, sebentar. Jacob diam sejenak.
Owh iya! Bagaimana Jacob bisa lupa! Irene tidak ikut ke Indonesia bersama ibunya. Sekretaris cantik itu tetap di Florida, mengurus pekerjaan di sana.
"Baiklah, tidak apa. Oh ya, Irene, aku minta tolong. Kirimkan nomor teleponku ini pada ibuku. Suruh dia untuk menghubungiku secepatnya. Kurang dari lima menit dari sekarang."
"Baik, Tuan. Masih ada lagi?"
"Tidak. Terima kasih, Irene."
"Sama-sama, Tuan."
Dan sambungan telepon langsung Jacob putus. Lima menit paling lama, Jacob harus bersabar sedikit lagi. Bukan apa-apa. Ia sangat mencemaskan istrinya.
Cepat-cepat Jacob mengangkatnya.
"Hallo, Jack!" suara Laura yang terdengar cemas.
"Iya, Bu."
"Jack, astaga, Ibu sangat cemas kau tahu? Kau dan Sharon hilang. Ibu benar-benar sangat takut terjadi sesuatu yang buruk pada kalian, Jack! Bagaimana kondisimu dan Sharon? Mana Sharon, Ibu ingin mendengar suaranya." Laura terdengar begitu panik dan takut.
Jacob menghela napasnya dengan tenang, "Aku dan Sharon baik, Bu. Kami di tempat aman. Sharon sedang tidur sekarang."
"Kau yakin kalian baik? Ibu sudah tahu soal Sharon yang disiksa oleh Dirga dan anak buahnya, Jack!" Kali ini Laura terdengar marah, "Jacob, dengar! Kali ini, urusan Dirga bukan hanya dengan Alesha saja! Dia sudah berani menyentuh dan melukai Sharon. Itu berarti dia sudah berurusan denganku juga."
"Ibu, tunggu dulu, dengarkan..."
"Jack! Ibu sudah tahu siapa Dirga, latar belakangnya, dan tindak kriminalitasnya selama ini! Ibu sudah tahu semua tentangnya! Hanya butuh waktu kurang dari lima belas menit untuk Ibu mengetahui siapa dia sebenarnya. Dan sekarang? Ibu tidak akan main, dia sudah mengusik Alesha, terutama Sharon. Dia sudah berani menyiksa Sharon, dan lihat saja nanti apa yang akan terjadi padanya juga anak buahnya itu!"
"Ibu, tolong tenang dulu, ya ampun! Dimana Alesha?" Jacob terdengar sedikit frustasi.
Laura mendengus, "Ada disebelah Ibu, sedang menangis tersedu-sedu, ingin mendengar suaramu."
"Beri ponsel ibu padanya sekarang, Bu," pinta Jacob.
Tak lebih dari lima detik kemudian...
"Hiks, Jack..." lirih Alesha.
"Al!" Jacob berseru lega, "Alesha, bagaimana keadaanmu sekarang? Kau baik, kan?"
"Hiks, Jack, kau dimana? Aku sedang tidak baik-baik saja sekarang. Hiks hiks, aku mengkhawatirkanmu," lirih Alesha.
Jacob menghembuskan napasnya dengan tenang. Sekarang ia merasa jauh lebih lega. Ia tahu kalau Alesha baik-baik saja setelah mendengar suaranya, ya, meski pun sedang menangis.
"Aku baik, Al. Hey, jangan menangis. Sudah, tidak apa-apa. Kita akan segera bertemu. Paling lambat besok siang. Oke. Berhentilah menangisnya. Aku benar-benar dalam keadaan baik, Sayang."
"Bohong!" Alesha sedikit membentak, "Kau pasti bohong padaku!"
"Kalau saja ponsel yang aku gunakan ini bisa video call, aku akan menunjukkan diriku langsung padamu agar kau percaya, Al."
"Hiks, tapi bagaimana jadinya Ibu dan yang lain kehilangan jejak kalian?"
"Itu karna Dirga, Al. Dia menyuruh tiga lusin anak buahnya dan menyerang kami saat malam. Tentu kami belum siap, jadi, akhirnya kami memutuskan kabur lebih dulu ke dalam hutan."
"Lalu Sharon? Bagaimana dia? Apa dia baik-baik saja?"
"Sharon.... Dia baik, hanya saja, luka-luka lebam ditubuhnya masih belum sembuh."
"Luka lebam?"
"Ya. Beberapa anak buah Dirga memukulnya."
"APA?"
Jacob menyerngit terkejut saat mendengar pekikan istrinya.
"Berani sekali mereka, Jack!"
"Ya, begitulah. Tapi setidaknya, Sharon baik-baik saja sekarang."
"Lalu kau kapan akan pulang?"
"Sepertinya besok pagi. Ibu pasti langsung menyuruh anak buahnya untuk melacak lokasi nomor ponsel ini, dan menjemputku juga Sharon."
Dan sambungan telepon itu berakhir tidak lama kemudian. Laura harus bergerak cepat, ia memerintahkan anak buahnya melacak lokasi Jacob saat ini dan memberitahukan pada anak buahnya yang beberapa saat lalu ia suruh untuk mencari lokasi Jacob.
Sekian jam berlalu. Alesha tidak bisa tidur. Pertama, seperti biasa, efek kehamilannya, kedua, sebab tidak tenang hingga ia dapat bertemu dan melihat kondisi suaminya secara langsung.
Mona di kamarnya masih menangis. Ia dilarang untuk pergi ke rumah sakit tempat suaminya dirawat saat ini.
Sementara Tessa, dia baru saja diberitahu oleh Taylor jika Levin sudah sadar, dan kondisinya sudah kondusif. Berangsur pulih. Mendengar nama ayahnya disebut, Nick, pria kecil itu sangat bersemangat. Dengan ria ia bertanya kapan ia dapat bertemu dengan ayahnya. Tapi meski begitu, masih tersisa sedikit rasa sedih dalam diri Tessa. Ia masih belum dapat bertemu dengan suaminya. Setidaknya dua atau tiga hari kedepan. Ia masih harus bersabar.
Pukul tujuh pagi. Beres mandi, Alesha menyempatkan untuk sholat dhuha sejenak. Untuk melepaskan rasa resah dan gelisahnya. Pagi ini, rasa mual dan pening tidak begitu Alesha rasakan. Hanya sedikit saja. Menunggu... Dan terus menunggu....
Jacob bilang, paling lama, mereka akan bertemu siang. Tapi sekarang saja sudah menunjukan pukul setengah sebelas lagi. Lalu mana Jacob? Kenapa masih belum muncul juga?
Alesha menanti kedatangan suaminya di dalam kamar. Ia baru saja beres makan siang. Rangga membuatkannya nasi goreng sosis pedas lagi, juga secangkir besar jus mangga.
"Baby J...." Bosan, Alesha mengusapi perutnya sendiri dengan lembut seraya tersenyum kecil. Ia ingat sekali, setengah tahun lebih yang lalu, ia begitu takut dan asing terhadap Jacob. Bahkan setelah ia diberitahu berkali-kali oleh Jacob juga Rangga kalau ia sudah menikah, itu sama sekali tidak membuatnya merasa nyaman. Ia bahkan tidak memberikan hak Jacob selama berbulan-bulan lamanya setelah ia dibawa kembali ke WOSA. Ia masih belum mempercayai Jacob sepenuhnya waktu itu. Tapi sekarang, ceritanya sudah lain. Ia sudah ingat soal pernikahan. Meski ia yakin, masih banyak sekali memori lama yang belum kembali. Dan malam itu, tepat saat ia sepenuhnya percaya kalau Jacob adalah suaminya, mereka kembali bersatu. Memulai awal baru, hingga lebih dari dua bulan kemudian, Baby J hadir dalam rahimnya.
"Bunda gak sabar buat bisa ketemu kamu," ucap Alesha.
"Al!"
"ASTAGFIRULLAH!" Alesha terlonjak kaget saat tiba-tiba saja Rangga datang dan memanggilnya. "Rangga! Bisa tidak, sih ketuk dulu pintunya! Aku kaget! Kau ini bagaimana, sih?" omel Alesha.
"Jacob datang," ucap Rangga yang seketika langsung merubah mimik wajah Alesha.
__ADS_1
"Mr. Jacob sudah tiba?" gumam Alesha.
Sejurus kemudian. Alesha beranjak cepat dari tempat tidur dan berlari menuju ruang utama.
Sedangkan Jacob sendiri, saat ini, ia sedikit kikuk. Mona memeluknya dengan erat sembari menangis sesegukkan. Pertama, sebab kakak itu begitu mengkhawatirkannya, dan kedua, sebab rasa sedih karna kondisi William sekarang ini.
"Syukur kalau kau baik-baik saja. Aku bisa semakin gila kalau sampai kau juga sama seperti Wiliam, Jack. Hiks hiks," isak Mona.
"Ehm... I... Iya, Mona. Aku benar-benar baik-baik saja. Sangat baik. Hanya luka-luka biasa. Ehm, bisa kau...melepaskanku...sekarang, Mona?" Duh, bagaimana caranya agar Jacob bisa terlepas dari pelukan kakaknya itu?
Mona menggelengkan kepalanya.
"Hufttt...." Jacob menghembuskan napasnya dengan pasrah. Ini adalah kali ketiga Mona yang menangis dan memeluknya selepas ia kembali dari misi. Pertama, saat ia dan Wiliam lost contact dengan SIO selama seminggu di daratan antartika, kedua, saat ia dan beberapa agent SIO lain ditahan oleh para perompak di perairan Pasifik.
Sementara Sharon, ia sudah kembali ke kamarnya untuk membersihkan seraya mengobati tubuhnya yang cukup banyak luka lebam.
"Mr. Jacob...."
Satu panggilan dari suara yang sangat familiar itu langsung mengambil alih fokus Jacob.
Alesha berdiri beberapa langkah di depan suaminya. Satu sisi ia ingin sekali memeluk Jacob, dan menumpahkan tangisannya di sana. Tapi ada Mona yang juga tengah memeluk Jacob. Ia harus bagaimana sekarang? Hanya terisak sendiri sembari menatap penuh air mata pada suaminya.
"Hey, jangan menangis. Aku sudah kembali. Aku baik-baik saja, sesuai janjiku, Al," ucap Jacob bersama senyum hangatnya. "Mona, ya ampun. Tolong lepas pelukannya sekarang. Ada Alesha!" pinta Jacob, memaksa.
Terpaksa, Mona akhirnya mengalah. Melepaskan pelukannya dan bergeser, memberikan ruang untuk Alesha.
Sejurus kemudian, Alesha berlari, dan duduk tepat disebelah suaminya.
"Hiks, kau sungguh baik-baik saja, kan, Jack?" lirih Alesha.
Jacob terkekeh. Sudah berapa kali pertanyaan itu terlontar padanya?
"Kau lihat sesuatu yang buruk ditubuhku, Lil Ale?" tanya balik Jacob.
Alesha diam-masih sesegukkan. Entahlah, ia tak melihat sesuatu yang buruk ditubuh suaminya. Tapi itu tidak menandakan jika Jacob baik-baik saja. Bisa jadi, lukanya adalah luka dalam.
"Aku baik, Sayang. Aku tidak apa-apa," sambung Jacob seraya menarik lembut tubuh Alesha ke dalam pelukannya.
Alesha masih menangis. Menghabiskan sisa rasa sedih, dan khawatirnya terhadap kondisi Jacob.
"Al, aku lelah. Kita kembali ke kamar sekarang, ya," ucap Jacob, pelan.
Alesha mengangguk kecil.
"Taylor, kau masih memantau mansion kita, kan?" tanya Jacob seraya bangkit berdiri.
Taylor mengangguk, "Mereka sepertinya sudah meninggalkan mansion, Tuan."
"Mustahil jika mereka belum meninggalkan mansionmu, Jack," ucap Laura, dingin.
Jacob memicingkan kedua matanya, menatap Laura, "Apa yang ibu lakukan pada mereka?"
"Memberi pelajaran karna sudah mengusik keluarga kita," jawab Laura, datar.
Dahi Jacob menyerngit.
"Taylor, siapkan mobil. Kita kembali ke mansion sekarang!" titah Laura.
"Baik, Nyonya." Taylor mengangguk.
"Apa?" Jacob menatap tak percaya ibunya, "Tapi anak buah Dirga bisa jadi masih di sana. Akan berbahaya kalau kita kembali ke sana sekarang, Bu!"
Laura menyeringai malas, "Mansionmu sudah aman. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Anak buahku sudah mengurus semuanya."
Setelah membalas itu, Laura berlalu pergi begitu saja. Meninggalkan Jacob yang masih dilingkupi oleh kebingungan.
"Taylor, apa yang Ibu lakukan? Kau yakin mansion aman?" tanya Jacob begitu penasaran.
Taylor mengangkat kedua bahunya, "Entah, Tuan. Nyonya Laura hanya memintaku untuk menghubungi Geraldo dan mengirimkan semua data informasi tentang Dirga."
Deg!
Jacob tertegun saat mendengar nama itu disebut. Ia tahu siapa itu Geraldo. Kepala petarung, anak buah, sekaligus orang yang paling ibunya percaya dalam hal menghabisi musuh. Tidak perlu banyak bertanya, jika ibunya sudah memutuskan untuk memerintahkan Geraldo turun lapangan secara langsung, itu berarti, tidak ada ampun untuk musuh. Jangan disangka, Jacob bahkan terkejut saat tahu kalau ibunya adalah salah satu orang berbahaya dalam dunia perbisnisan, ibunya bahkan memiliki banyak anak buah setia yang direkrut dari jalanan hingga menjadi petarung hebat.
Pernah sekali Jacob latihan bertarung bersama Geraldo di halaman belakang rumah ibunya di Florida. Dan hasilnya adalah ia yang harus menerima kekalahan telak. 3 ronde, 3 kali KO.
***
Di dalam kamar, Jacob baru saja beres mandi. Ia hanya memakai celana joger selutut saja, sementara tubuh bagian atasnya sedang diobati oleh Mona.
Ya! Mona, sebelum keluar dari SIO dan menjadi CEO di induk perusahaan ibunya, Mona juga bagian dari tim kesehatan di SIO. Mengobati luka Jacob juga Wiliam adalah hal yang lumrah baginya setelah kedua pria itu kembali dari misi.
Alesha yang duduk bersandar di atas kasur hanya tertawa kecil saat melihat suaminya yang berkali-kali meringgis kesakitan sembari diomeli oleh Mona.
"Sakit, Mona!" protes Jacob.
"Kalau kau tidak bisa diam, akan semakin sakit! Lemah sekali, sih!" balas Mona. Bumil satu ini, meski hatinya masih terluka dan dilingkupi kesedihan oleh sebab kondisi suaminya saat ini, namun tabiat over care terhadap adiknya, Jacob tetaplah sama.
"Bagaimana bisa lukanya sebanyak ini? Kau benar tidak, sih saat melawan musuhmu itu?"
Jacob mendengus. Ini memang selalu menyebalkan. Bukannya berkata lema lembut, Mona justru malah memarahinya, segala bilang ia tidak becus melawan musuh pula.
"Aku sudah bilang, lebih baik menghindar saja kalau sekiranya kau tidak bisa! Kau tahu? Aku sangat cemas. Dan lihat kondisimu sekarang! Babak belur! Kau pikir aku tidak sedih melihatnya? Setiap kali kembali dari misi kau selalu seperti ini!"
"Cukup, Mona. Sudah," ucap Jacob seraya menghentikan pekerjaan kakaknya yang tengah mengobati luka ditubuhnya itu. "Aduh, sakit!"
"DIAM! Sedikit lagi!"
Alesha cekikikan kecil. Membungkam bibirnya agar tak keluar suara.
Jacob yang mendapati itu lantas melayangkan tatapan sebalnya pada Alesha. Bisa-bisanya Alesha justru menertawainya.
"Sudah," ucap Mona.
"Huft..." Jacob menghembuskan napasnya dengan lega. "Terima kasih kakakku yang cantik." Ia menyunggingkan senyum terbaiknya.
Mona tidak membalas. Wajahnya terus datar.
"Hey, Mona, jangan sedih. Wiliam baik-baik saja. Kau harus percaya itu." Jacob menatap cemas kakaknya.
Mona tak membalas. Ia sibuk merapikan alat-alat medis ke dalam kotak P3K-nya.
"Mona, percayalah...." Jacob membujuk. "Kau sudah sering melalui hal seperti ini. Wiliam akan baik-baik saja."
"Tapi tidak dengan kondisinya yang tertembak tiga peluru didada, Jack," balas Mona, datar.
Jacob menghela napasnya. Ia melirik pada Alesha sekilas, lantas menatap kakaknya kembali.
"Apapun kondisinya. Wiliam pasti akan baik-baik saja, Mona. Kau ingat bagaimana kondisiku saat ditahan oleh perompak beberapa tahun lalu? Mungkin aku tidak tertembak tiga peluru didada, tapi kondisiku sama buruknya seperti Wiliam sekarang. Tapi buktinya, saat ini aku baik-baik saja. Aku pulih."
Mona menghembuskan napasnya dengan sabar. Tatapannya kurus kosong kearah lantai.
"Mona, percayalah...." lirih Jacob.
Mona hanya mengangguk kecil. Sangat pelan. Kedua kelopak matanya sudah berkaca-kaca. Nyaris terjatuh jika saja tidak muncul suara lengkingan nyaring seorang bocah pria kecil yang berlari ke arahnya.
"Momyyy....." Haris berdiri dihadapan Mona yang masih terduduk lemah disofa. Ia menyunggingkan senyum yang cerah. Senyum yang mirip dengan senyum milik Wiliam.
Mona ikut tersenyum kecil saat mendapati itu.
"Momy, aku dan Nick tadi lomba menggambar. Ini, lihat!" ucap Haris dengan antusias seraya menunjukkan gambaran hasil tangannya sendiri pada Mona. "Bagus, kan, Momy?"
Mona mengangguk kecil. Ia masih belum menjawab. Hanya tersenyum lemah saja.
"Paman Jack, aku bisa menggambar sekarang! Aku tidak butuh Paman lagi untuk membuat gambar dinosaurus," ucap Haris dengan penuhi percaya diri.
Sebelah alis Jacob terangkat. "Oh ya?"
"Huum!" Haris mengangguk pasti.
"Baiklah..." Jacob menegakkan tubuhnya, menatap sang keponakan, "Kalau begitu, nanti kita lomba menggambar untuk membuktikan siapa gambaran yang paling bagus."
"Siapa takut!" balas Haris dengan ke-Pd-annya.
Jacob menyeringai, "Yang kalah harus mentraktir tiga box pizza ukuran besar!"
Haris diam sebentar. Berpikir. Namun sejurus kemudian, "Siapa takut!"
"Deal!" Jacob menjulurkan tangannya.
"Deal!" Haris balas menjabat telapak tangan pamannya itu. So' menampakkan tatapan menantangnya yang justru terkesan imut dan lucu.
"Sudah... Sudah..." Mona menarik lembut lengan putranya, "Ayo, Haris, kita kembali ke kamar."
"Eh, tapi aku masih ingin bermain dengan Mr. Jacob, Momy," balas Haris.
"Nanti saja mainnya. Kasihan Paman Jacob, dia harus beristirahat, Sayang."
Haris menoleh pada pamannya. Berharap Jacob justru mau bermain dengannya.
"Maaf, Sayang, tapi sekarang kita tidak bisa bermain dulu." Jacob melemparkan senyum bersalahnya pada Haris.
"Kenapa?" lirih Haris. Ia nampak sedih.
"Sekarang adalah waktunya paman bermain dulu bersama Tante Alesha," jawab Jacob, lembut.
"Bermain bersama Tante Alesha?" ulang Haris.
"Jackkk...." Mona menatap tajam adiknya. Haris mana paham soal ucapan Jacob yang terakhir tadi.
"Hehehe..." Jacob tertawa kikuk. "Haris, nanti lagi, ya kalau ingin main bersama Paman. Paman lelah. Ingin istirahat dulu. Oke."
Bersama tampang kecewanya, Haris mengangguk. Mengalah. Namun itu berimbas pada bibirnya yang mengerucut.
Singkatnya, Mona pun pergi meninggalkan kamar itu, diikuti putranya, Haris.
Sementara Jacob, ia tinggal berdua bersama istrinya saat ini.
__ADS_1
"Nah, Sayang. Aku di sini, dan bebas. Tidak ada pekerjaan apapun yang harus aku tuntaskan sekarang," ucap Jacob seraya naik ke atas kasur. Menghampiri dan duduk disebelah istrinya. "Pertanyaan..." Ia melemparkan seringai nakalnya pada Alesha, "Apa yang harus kita lakukan sekarang?"