
Jacob bergerak perlahan, melepaskan pelukannya dari tubuh Sang Istri yang baru saja terlelap. Ia melangkah meninggalkan kamar itu, menuju ruang depan, tempat berkumpul tadi. Di sana ada Rangga, Taylor, Wiliam, ibunya, dan anak buah mereka.
"Jack, kau yakin menunggu sampai pagi? Hiks hiks." Laura menatap nanar putranya yang baru saja tiba. Ia sudah tidak menangis lagi, hanya tersisa sesegukkan kecil, dan wajahnya yang sembab.
Jacob mengangguk pelan. "Pertama, kita harus tenang. Kedua, kita juga belum tahu kemana dan dimana Sharon sekarang, ketiga, aku sendiri yang nanti akan turun menghajar orang-orang yang sudah menculik adikku. Ibu harus percaya padaku."
Laura mengalihkan pandangannya ke arah lain. Hatinya benar-benar tidak tenang. Ibu mana yang tidak takut dan cemas saat putrinya diculik oleh sekelompok orang jahat? Bukan tidak mungkin orang-orang jahat itu melukai Sharon.
"Rangga, apa kabar terakhir yang kau dapatkan?" tanya pelan Laura.
"Belum ada lagi. Yang terakhir hanyalah soal penyerangan secara mendadak itu," jawab Rangga. Semalaman ia memata-matai anak buah Dirga dengan bantuan komputer super canggih milik Laura di gedung kantor wanita paruh baya itu. Ia dan ibu mertua adiknya itu memang sudah bekerja sama untuk memantau pergerakan anak buah Dirga dan mengawasi mansion Jacob dan Alesha. Untung saja ia bisa bergerak cepat, langsung memerintahkan Taylor untuk membawa penghuni mansion ke bungker persembunyian. Ya, walau tetap saja harus menghadapi beberapa anak buah Dirga lebih dulu. Tapi setidaknya mereka tidak amat terlambat untuk kabur sebelum anak buah Dirga yang lain mengepung mansion itu.
"Rangga, kau bisa meretas, kan?" tanya Jacob, serius.
Rangga mengangguk.
"Ikut aku!" Jacob bangkit berdiri, kembali melangkah menuju salah satu ruangan lain. Diikut Rangga di belakang.
Kembali pada Alesha, bumil itu terusik pelan, lantas menggeliat, merenggangkan tubuhnya. Apa ini sudah pagi? Sepertinya Alesha tidur cukup lelap. Eh, tapi dimana Jacob? Entahlah, sepertinya di luar sudah masuk waktu subuh. Jam diponselnya menunjukkan pukul lima lewat. Alesha menyempatkan untuk sholat sebentar. Di dalam bungker itu, semua sudah tersedia. Dari mulai pakian, makanan, perabotan rumah tangga, pokoknya segala hal yang biasanya ada didalam setiap rumah, sudah tersedia di dalam bungker itu. Setelah itu, Alesha memilih untuk mencari suaminya.
"Jack?" Alesha berjalan keluar kamarnya. Tapi belum sampai di ruang depan, Alesha lebih dulu mendapati satu pintu kamar yang terbuka, "Kakek!"
Kakek Ujang yang saat ini tengah bersandar lemah pada headboard kasur pun menoleh. Tersenyum saat mendapati kehadiran cucu satu-satunya itu.
"Kakek gak apa-apa, kan?" tanya cemas Alesha yang kini sudah duduk disebelah kakeknya.
Kakek Ujang mengangguk pelan. "Semalem Kakek kaget banget. Lagi tidur, tiba-tiba aja ada anak buah suami Eneng yang bangunin Kakek, trus bawa Kakek cepet-cepet ke mobil bareng yang lain."
"Eneng juga sama kagetnya, Kek. Bedanya Eneng belum tidur, lagi video call-an sama Jacob," balas Alesha. "Oh ya, jam berapa sekarang?"
"Mungkin jam setengah enam pagi."
"Kakek liat Jacob?"
Kakek Ujang mengangguk, pelan, "Belum lama dia dari sini. Coba cari aja sendiri."
Alesha menghembuskan napasnya dengan tenang.
"Ehm, kalau gitu, Eneng cari Jacob dulu, ya, Kek." Alesha bangkit berdiri. Memutar tubuhnya, dan kembali melangkah, keluar dari kamar itu.
Entah dimana Jacob berada. Orang-orang juga tidak tahu dimana. Bungker itu sepi.
"Al...."
Refleks, Alesha menoleh ke asal suara yang barusan memanggilnya.
"Eh, Jack, kau dari mana?" Alesha melangkah menghampiri suaminya.
Jacob tersenyum lembut, "Aku dari ruang kendali. Di sana." Ia menunjuk salah satu lorong di ujung ruang utama tersebut.
"Ruang kendali? Untuk apa?" Kening Alesha menyerngit.
"Untuk melacak keberadaan Sharon. Dan ya, kita tidak bisa kembali ke rumah untuk saat ini, Al." Jacob membawa istrinya untuk duduk disofa, "Mereka bersembunyi di sekitaran mansion kita, dan mungkin akan menyerang secara mendadak bila menemukan ada orang yang memasuki mansion itu."
Alesha tertunduk, sedikit kecewa juga merasa bersalah. Ini semua karnanya. Dirga mengincarnya, dan sekarang, keluarganya ikut terancam.
"Maaf, Jack, seharusnya kalian tidak ikut terkena imbasnya dari masalah ini. Ini tentang aku dan masa lalu orang tuaku. Dirga menginginkanku untuk membalaskan dendamnya pada ayahku," lirih Alesha.
"Hey, kau bilang apa barusan? Kenapa bicara seperti itu? Masalahmu adalah masalahku juga, Al. Kau adalah istriku. Sudah kewajibanku menjagamu dari orang jahat." Jacob sedikit tak enak hati dengan ucapan Alesha barusan.
"Tapi aku melibatkan kalian semua," lirih Alesha.
"Ini bukan salahmu, Alesha. Sama sekali bukan salahmu. Kau pun tidak mau diposisi seperti ini, kan? Sudah jelas, Dirga lah yang bersalah. Dia mengikuti ego dan hawa nafsunya. Hendak mengakhiri garis keturunan bapakmu. Kau tidak bersalah, Al." Jacob berusaha meyakinkan.
"Aku tidak tahu siapa lagi musuh orang tuaku yang harus aku hadapi lagi. Pertama Mack, sekarang Dirga. Lalu setelah ini siapa?" Alesha terdengar pasrah.
"Tidak ada! Aku tidak akan membiarkan orang-orang jahat mendekatimu, Alesha."
"Oh ya? Kau yakin? Bagaimana kalau diam-diam ada orang lain yang menyusun rencana untuk membunuhku juga dengan memanfaatkan situasi yang sedang aku hadapi sekarang?" Alesha menatap suaminya.
Jacob menggelengkan kepalanya, "Maka aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Memangnya kau akan membiarkan orang-orang yang berniat jahat padamu itu sukses dengan misi mereka? Kau juga aku, ada tanggung jawab lain yang jauh lebih besar, menjaga Baby J."
Alesha menghela napas dengan tenang. Jacob benar. Ia tidak boleh sampai kalah. Setidaknya untuk calon buah hatinya. Baby J harus terus tumbuh dan menjadi manusia yang kelak dapat membanggakannya juga suaminya.
"Hey, Sayang..." Jacob menangkup wajah istrinya, melempar tatapan lembut dan senyum hangat, "Aku mencintaimu."
Menyusul kalimat itu, beberapa kecupan lembut Jacob daratkan diwajah istrinya.
Alesha hanya tersenyum malu. Hal seperti itu selalu saja membuatnya tersipu. Tabiat romantis suaminya itu tidak pernah berubah dari sejak mereka saling mengetahui perasan masing-masing.
"Sayang sekali, aku belum puas. Tapi kondisi saat ini sedang tidak memungkinkan," bisik Jacob.
Alesha terkekeh. "Sabar adalah kunci," Ia mengedipkan sebelah matanya.
"Oh ya? Tapi aku sudah bersabar satu minggu ini. Kau tahu yang ada dalam bayanganku saat aku pulang?" Jacob menggerak-gerakkan sebelah alisnya sembari menyeringai.
Alesha tertawa kecil melihat itu. Bukan karna ucapan atau arah pembicaraan suaminya, melainkan karna ekspresi suaminya saat ini. Kira-kira bagaimana, ya rupa anaknya nanti? Akan lebih dominan ke ia atau suaminya?
"Kenapa kau tertawa?"
"Kau lucu, sih," jawab geli Alesha.
"Apanya yang lucu?"
"Pikir saja sendiri." Alesha mengedikkan kedua bahunya.
Kening Jacob berkerut. Apa yang lucu? Godaannya kah?
"Baby J nanti lebih dominan mirip siapa, ya?"
"Yang pasti harus muncul wajahku," ucap Jacob dengan santainya.
"Hah? Muncul wajahmu diwajah Baby J?" Alesha mulai tertawa cekikikan, "Bagaimana jadinya ada wajahmu diwajah Baby J? Ish, kau ini! Hahahah! Ada-ada saja."
"Eh, maksudnya, Baby J harus mirip denganku. Mewarisi ketampananku," lanjut Jacob sedikit salah tingkah. Ia salah menyampaikan tadi.
Alesha masih belum berhenti tertawa. Entahlah mungkin itu terdengar biasa saja bagi orang lain, tapi menurutnya itu lucu dan menghibur.
Jacob yang melihat istrinya terus tertawa pun akhirnya ikut tertawa juga. Namun akal jailnya mendadak muncul.
"Aaaa! Geli!" Alesha memekik, dan menggeliat kegelian disela-sela tawanya.
"Geli? Iya? Mana yang geli?" Jacob semakin gencar melancarkan aksinya. Menggelitiki Alesha.
"Jack, cukup! Hahahaha, geli! Ish, sudah!"
Tubuh Alesha terhempas, bersandar pada punggung sofa. Terkunci oleh tubuh suaminya.
"Jack!" Bumil itu melotot. Wajah Jacob berjarak tidak lebih dari lima belas centi dari wajahnya. "Hey, minggir!"
"Tidak mau," balas Jacob seperti anak kecil.
"Jack, jangan di sini!" tekan Alesha.
"Kenapa memangnya?"
"Nanti ada yang lihat!"
"Memangnya kenapa?"
"Ish, kau ini!"
"Aku merindukanmu, Al."
__ADS_1
"Omong kosong! Kita sudah bertemu dari semalam, kau bahkan memelukku saat aku tidur semalam!" Alesha berusaha menetralisir suaranya agar tak didengar oleh selain suaminya.
"Bukan itu. Aku merindukan hal lain."
Sejenak, Alesha menatap penuh tanya wajah suaminya itu. Namun sejurus kemudian, ia paham.
"Pergi! Sana pergi! Tidak sekarang! Kau sendiri yang tadi bilang kalau kondisi saat ini sedang tidak memungkinkan!"
"Tapi aku ma..."
"Cukup, Jack! Tubuhmu berat tahu!" protes Alesha.
Jacob mengerucutkan bibirnya. Baiklah, ia mengalah. Namun setelah Alesha membetulkan posisi duduknya, tidak membuang waktu, Jacob langsung menyosor, mencium bibir ranum istrinya itu sedikit ditekan dan cukup lama.
"Argh! MR. JACOB!!"
Yang diteriaki langsung bangkit dan berlari terbirit-birit sembari menertawai ulahnya barusan.
"Kebiasaan banget, sih!" Alesha menggerutu sebal, "Awas aja loh, ya!"
*****
"Al..." Jacob menyentuh lembut sebelah pipi istrinya. Alesha berdiri tepat dihadapannya, berwajah lurus datar seakan penuh rasa bersalah. "Hey." Ia mengangkat wajah Alesha agar mereka dapat bersitatap.
Alesha menghela napasnya. Ini cukup berat. Jacob harus berhadapan kembali dengan musuh. Alesha takut. Hatinya seperti tidak rela kalau Jacob harus pergi lagi. Tapi kalau tidak seperti itu, kasihan Sharon. Ini semua salahnya. Sharon juga terkena imbasnya sekarang.
"Jack, maaf..." lirih Alesha. "Aku sangat tidak enak padamu, ibu, dan yang lain, terutama Sharon. Ini semua salahku. Aku jadi melibatkan kalian semua."
"Alesha, ini bukan salahmu. Tolong, jangan berpikiran seperti itu." Jacob membungkukan tubuh, mensejajarkan tingginya dengan Alesha.
"Tapi itu kenyataannya, Jack. Ini salahku. Aku tidak seharusnya melibatkan kalian."
"Kau istriku, Alesha! Apa yang terjadi padamu adalah tanggung jawabku! Paham?" Jacob sedikit bertegas.
Alesha menundukkan kepalanya, "Maaf, Jack. Hiks, maaf...."
"Hey hey hey, kenapa menangis. Jangan menangis, Al." Jacob mengangkat kembali wajah istrinya dengan lembut.
"Hiks, aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada keluarga kita, terutama kau, Jack. Hiks. Apalagi kau baru saja kembali dari misi semalam. Tenagamu pasti belum pulih betul. Hiks hiks." Alesha menangis pelan-tersedu-sedu.
Mendengar itu, Jacob memilih membawa Alesha duduk disofa di sudut kamar. "Aku baik-baik saja, Alesha. Aku tidak butuh waktu lama untuk memulihkan tenagaku. Aku akan baik-baik saja. Kehadiran Baby J membuatku jauh lebih kuat saat dihadapkan dengan misi. Kenapa? Karna aku harus berhasil dalam misi itu untuk kembali pada Baby J, juga kau." Ia membawa Alesha masuk ke dalam pelukannya.
"Hiks hiks, Jack, jangan pergi," bisik Alesha begitu pelan, nyaris tak bersuara seraya mengeratkan pelukannya.
Tapi Jacob masih bisa mendengar itu. Ia menarik napas setenang mungkin. Kalau begini, rasanya cukup berat. Masalahnya Alesha tidak mau ditinggalkan.
Jacob mengelusi puncak kepala dan punggung istrinya itu. Tidak lupa sesekali menaruh kecupan lembut.
Kurang lebih lima belas menit, mereka berdua saling memeluk dengan Alesha yang masih terisak lirih.
Tok... Tok... Tok...
"Jack, kita harus berangkat sekarang," ucap Wiliam dari balik pintu.
"Iya, Wil. Aku akan keluar sekarang. Tunggu di depan sebentar!" sahut Jacob.
"Baiklah. Jangan lama, Jack!"
Alesha mengencangkan pelukannya.
"Al..." Jacob berusaha melepaskan pelukan mereka dengan lembut. Tapi Alesha seperti tak rela kalau harus melepaskan pelukan itu.
"Alesha..."
"Hiks, Jack, bisa tidak, kau berangkatnya nanti, sebentar lagi," lirih Alesha.
Ya ampun, semakin sulit saja rasanya untuk Jacob meninggalkan istrinya saat ini. Tapi ia tidak bisa. Sharon harus cepat ditemukan dan dibawa pulang.
"Al, lebih cepat aku pergi, lebih cepat pula kita akan bertemu kembali," ucap Jacob begitu lembut.
"Aku tidak sendiri, Lil Ale. Wiliam, dan anak buah ibu yang lain akan ikut bersamaku."
Alesha mengangguk lemah. Ia menarik tubuhnya perlahan dari pelukan suaminya. "Hiks, hati-hati, ya."
Jacob tersenyum lembut. "Pasti, Al. Pasti!"
"Hiks, ya sudah, kalau begitu ayo, yang lain pasti sudah menunggumu." Alesha bangkit berdiri lebih dulu. Ia berusaha untuk sabar dan ikhlas. Toh, ia percaya kalau Jacob akan kembali padanya dengan selamat.
Di ruang depan, semua sudah menunggu kecuali Tessa, dan Mona. Dua mama muda itu sibuk mengurus anak mereka di kamar masing-masing.
"Wiliam, hiks, bawa Sharon kembali pada ibu dengan selamat," lirih Laura.
Wiliam mengangguk, "Pasti, Ibu. Aku dan Jacob akan membawa Sharon kembali pada Ibu dengan selamat. Ibu yang tenang, ya, di sini."
Taylor dan Rangga hanya diam, menyaksikan Nyonya Besar, pemilik induk perusahaan terkemuka itu menangis sesegukkan sebab mengkhawatirkan nasib putri bungsunya ditangan musuh.
Tidak lama kemudian, Jacob datang bersama Alesha-yang juga masih sesegukkan.
Rangga memicingkan kedua matanya. Alesha habis menangis? Kenapa? Ada apa? Semoga saja bukan karna dikasari oleh Jacob.
"Ayo, Jack," ajak Wiliam. "Kalian semua, pergi duluan sekarang!" titahnya pada anak buahnya.
Sekitar lima belas orang pria bergerak melewati ambang pintu, berlari kecil menyusuri lorong besi itu.
Terakhir, Wiliam dan Jacob.
"Aku akan kembali dengan selamat dan baik-baik saja." Jacob mensejajarkan wajahnya dengan wajah Alesha. "Aku janji!" ucapnya, pelan namun pasti.
Alesha mengangguk lemah.
Dan yang paling terakhir, Jacob menaruh kecupan lembut yang singkat pada kedua sisi pipi dan bibir Alesha, lalu lanjut mencium perut istrinya tersebut.
"Ayah akan kembali untukmu, Nak. Janji."
Alesha masih diam. Ia berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.
"Aku berangkat sekarang, Al. Assalamualaikum."
"Waallaikumussalam..." balas pelan Alesha.
"Taylor, kau yang bertanggung jawab di sini selama aku pergi!" ucap Jacob tepat sebelum melewati ambang pintu.
"Siap, Tuan!" balas tegas Taylor.
Alesha terkesiap panjang saat wajah suaminya hilang dibalik pintu baja.
Ini buruk!
Alesha tidak dapat menahan tangisnya lagi sekarang. Ia segera membalikkan tubuhnya, lalu berlari menuju kamarnya. Sungguh, Alesha marah pada dirinya sendiri. Ia sudah melibatkan keluarganya dalam masalah ini. Seharusnya Sharon tidak jadi korban juga, dan seharusnya yang lain tidak sibuk berwaspada seperti ini. Ditambah sekarang ia juga mengkhawatirkan kondisi suaminya.
Lengkap sudah. Alesha hanya bisa menangis tergugu diatas tempat tidur sembari menutupi wajahnya dengan bantal.
*****
Di rumah sakit.
Levin duduk lemas, bersandar pada kasur pasien. Ia baru saja siuman beberapa hari lalu setelah melewati masa kritis dan koma lebih dari dua minggu.
"Tessa, Nick..." lirihnya seraya menatap selembar foto polaroid yang menunjukkan gambar ia bersama istri dan anaknya yang tengah berwisata di Disney Land.
"Dia aman bersama Jacob, Levin," ucap Danish yang saat ini memang tengah menjenguk Levin, "Selama kau dalam misi, dan selama kau dirawat di sini, Tessa dan Nick aman bersama Jacob."
Levin mengangguk pelan, "Aku merindukan mereka. Apa aku bisa bertemu dengan mereka?"
__ADS_1
"Situasi dan kondisinya belum aman, Levin. Bersabarlah beberapa hari lagi. Setelah itu kau bisa melampiaskan rasa rindu itu sepuasmu."
Levin tak membalas. Ia paham kondisinya, juga kondisi SIO saat ini. Tapi setidaknya ia tahu jika istri dan anaknya baik-baik saja.
"Apa aku bisa menghubungi mereka sekarang?" Levin bertanya pelan.
"Entahlah." Danish mengedikkan kedua bahunya.
"Berapa lama aku koma? Tessa pasti sangat mengkhawatirkanku. Apa dia tahu apa yang terjadi padaku?"
"Tentu tahu. Tapi apa yang bisa istrimu lakukan selain menurut pada Jacob demi kebaikannya, kau, juga putra kalian?"
Tedengar helaan napas samar dari Levin.
"Jacob juga bilang kalau Nick sering menangis karna ingin bertemu denganmu." Danish terkekeh, "Dia pasti sama rindunya sepertimu."
"Oh ya?" Levin menatap serius kawannya itu.
Danish mengangguk. "Untung saja ada Haris, kepokanan Jacob. Setidaknya Nick ada teman bermain di mansion Jacob."
Levin tersenyum kecut. Nick memang sangat dekat dan lengket dengannya. Oh ya ampun, sedih sekali rasanya kini, membayangkan putranya yang menangis karna ingin bertemu dan merindukannya.
"Kau harus segera pulih. Baru dokter SIO akan mengizinkanmu bertemu dengan Tessa dan Nick," ucap Danish.
Levin mengangguk. Pasti! Ia harus semangat untuk kembali sehat. Agar ia bisa segera bertemu dan memeluk istri dan anaknya.
Dilain tempat, di dalam apartemennya, Bastian sedang sibuk bermain PS bersama Lucas dan Aiden, sementara Taylor di dapur, sibuk memasak untuk sarapan, dan Mike sedang latihan bertinju di kamar.
Tringg..... Tring....
Terdengar suara dering ponsel yang menerima panggilan masuk dari nomor tak dikenal.
"BAS! ADA YANG MENELPONMU!" teriak Mike dari dalam kamar.
Bastian tidak mendengar itu. Ia memakai headphone, seperti Aiden dan Lucas.
"BAS!!" teriak Mike sekali lagi. Ia berdecak sebal. Siapa sih yang menelepon?
Saat Mike hendak menerima panggilan masuk itu, mendadak suara nyaring tersebut berhenti. Panggilannya terputus.
Sebelah alis Mike terangkat. Dari nomor tak dikenal? Siapa? Tapi ya sudahlah, bodo amat. Bukan urusannya. Ia kembali melanjutkan aktivitasnya, berlatih tinju.
"Bas.... Ya ampun, aku mohon, cepat angkat telponnya!" gumam panik Sharon. Ia mencuri kesempatan, menggunakan ponsel milik salah satu anak buah Dirga yang tergeletak diatas meja, sementara si empunya ponsel itu tengah keluar ruangan. Minggu lalu, Bastian memberinya gelang ukiran dari kayu yang terdapat delapan digit nomor telepon.
"Kalau kau dalam kondisi darurat atau berbahaya. Usahakan cari ponsel atau alat apapun yang dapat menghubungi nomor ini. Tidak ada biaya tarif yang akan dikenakan untuk menghubungi nomor ini. Oke."
Begitulah ucap Bastian waktu itu, saat mereka sedang menghabiskan waktu-berdua-di Trans Studio Bandung.
Tring.... Tring....
Dering ponsel itu kembali menyala. Membuat Mike jengah.
"Argh! BAS!!" Mike mengambil kasar ponsel itu lantas pergi ke ruang tempat dimana Bastian berada.
"Awas di belakang!" pekik Lucas.
"Bawa mobilnya lebih kecang, Lucas! Kau payah!" kali ini Bastian yang berseru.
Aiden berdecak, "Aku sudah bilang jangan lewat jalan itu. Polisi itu masih mengejar kita!"
"HEH!"
Plak!
"Aduh!" ringgis Bastian. "Hey!" Ia menatap protes pada Mike yang barusan memukul bahunya. "Ka..."
"Ini!" Mike lebih dulu menyodorkan ponsel yang ia bawa pada Bastian sebelum kawannya itu memarahinya.
Refleks, kening Bastian menyerngit. Ia urung memprotes Mike. Lantas menatap heran pada ponselnya yang menerima panggilan masuk dari nomor tak dikenal.
"Siapa?" tanya Bastian sembari mengambil alih ponselnya.
"Tidak tahu," balas malas Mike seraya pergi, kembali ke kamarnya.
Tak membuang waktu, dengan penuh rasa penasaran, Bastian pun mengangkat panggilan masuk itu.
Bastian : Hallo....
Sharon : Bas! Ya ampun, aku menelepon dari tadi. Kau kemana saja? Hiks hiks, Bas, bisa kau bantu aku. Ada lima orang yang menculikku semalam. Hiks hiks. Aku tidak tahu aku berada dimana sekarang. Keluargaku yang lain juga tidak tahu ada dimana saat ini.
Bastian tercekat. Ya ampun, itu suara Sharon. Apa yang terjadi?
Sharon : Hiks, Bas, aku takut. Mereka menahanku di dalam kamar. Merantai tangan dan kakiku. Hiks hiks.
Mendadak terdengar suara keributan dari luar ruangan Sharon.
Sharon : Hiks, Bas sepertinya mereka sudah kembali. Aku harus menutup panggilan ini. Hiks, tolong bantu aku, katakan pada keluargaku kalau aku diculik. Hiks hiks.
Dan panggilan pun berakhir.
"Hallo, Sharon!" Bastian mulai panik.
"Siapa, Bas? Ada apa?" tanya Lucas sedikit lantang. Ia dan Aiden masih memakai headphone, sibuk dengan game mereka.
Bastian tak menjawab. Ia tak punya banyak waktu. Segera ia bangkit berdiri. Melangkah cepat menuju kamarnya, meraih jaket dan tabnya. Tidak lupa dua pistol dan dua belati yang ia sembunyikan dalam jaket itu.
"Bas, kau mau kemana?" tanya Tyson sembari membawa sepiring besar olahan makanan untuk sarapan.
"Pergi. Ada misi pribadi yang harus aku lakukan!" jawab singkat Bastian.
"Hey, Bas!" Tyson hendak menyusul, namun Bastian lebih dulu menghilang dari balik pintu. "Bastian kenapa?" Ia bergumam sendiri dengan mimik penuh tanda tanya.
Bastian sendiri, sembari melangkah cepat menyusuri koridor apartemen, ia menyalakan tabnya untuk melacak lokasi Sharon saat ini. Ia menaruh alat pelacak micro pada gelang yang ia berikan pada Sharon minggu lalu.
"Mr. Jacob! Apa dia sudah tahu kalau Sharon diculik?" gumam Bastian.
*****
"Nona Sharon masih di tempatnya, Tuan," ucap salah satu anak buah Jacob sembari memangku tabnya.
Jacob hanya mengangguk. Ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Toh ia berada di jalan tol. Jalur bebas hambatan.
Taylor : Cek, Tuan.
Jacob mendengar suara Taylor dari alat komunikasi kecil yang terpasang ditelinganya.
Jacob : Ya, ada apa, Taylor?
Taylor : Anak buah Dirga mengirim pesan pada Nyonya Laura.
Jacob : Pesan? Pesan apa?
Taylor : Mereka menginginkan Nona Alesha, Tuan. Mereka akan mengembalikan Nona Sharon asal kita menyerahkan Nona Alesha pada mereka dalam waktu satu kali dua puluh empat jam. Dihitung dari pukul dua semalam.
Jacob mendengus, disusul geraman marah.
Taylor : Mereka akan membuang Nona Sharon disalah satu perairan paling berbahaya di negeri ini jika kita tidak menyerahkan Nona Alesha dalam batas waktu yang sudah ditentukan. Mereka menunggu di dermaga selat sunda. Dan di sana, adalah wilayah kekuasaan mereka.
Jacob : Tetap dalam rencana yang sudah aku susun, Taylor. Jangan ada yang mengambil tindakan apapun tanpa seizinku!
Taylor : Baik, Tuan.
"Argh!" Jacob memukul kesal kemudi mobil. Ia tidak mungkin mengorbankan istrinya untuk adiknya. Begitu pun sebaliknya.
__ADS_1
Mendapati jalanan dihadapannya begitu lenggang, Jacob menambah kembali laju kecepatan mobilnya. Waktunya terbatas. Dan soal ancaman itu. Ia sama sekali tidak takut! Ia akan mendapatkan kembali adiknya dalam keadaan selamat. Juga Alesha akan tetap aman.