Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Mulai Tak Aman


__ADS_3

Alesha berjalan perlahan sembari memegangi lengan suaminya. Ia tidak tahu siapa yang harus ia temui.


Namun, tepat di tengah-tengah tangga, tiba-tiba Alesha berhenti melangkah, dan terdiam datar.


"Sayang, ada apa?" tanya Jacob.


"Mereka? Siapa?" tatapan Alesha lurus pada sekelompok orang yang tengah asik bergurau di ruang keluarga.


Jacob tersenyum. "Mereka teman-temanmu, sayang," bisiknya.


"Teman-temanku?" ulang Alesha.


"Iya. Ayo, waktu itu kau bilang kalau kau ingin bertemu, dan berkumpul bersama mereka lagi." Jacob lanjut menarik lembut pergelangan tangan Alesha, dan membawanya menuju ruang keluarga.


"Itu Alesha!" Lucas menunjuk bersama ekspresi sumringahnya.


"Alesha?"


Dan ketujuh anak asuh Jacob yang lain pun akhirnya menoleh ke arah Alesha yang baru saja memasuki ruang keluarga.


"ALESHAAAAA......." serentak Maudy, Merina, dan Nakyung berlari menghampiri, lalu memeluk tubuh Alesha begitu erat.


Jacob sedikit menjauh, membiarkan ketiga anak asuhnya memeluk, dan melepaskan rasa rindu terhadap istrinya.


"Alesha, ya ampun, hiks, kami merindukanmu..." Merina begitu terharu hingga membuatnya menangis.


"Iya, kami sangat amat merindukanmu Alesha, hiks," lanjut Nakyung.


"Kau menghilang satu tahun. Kau tahu, kami semua di sini sangat khawatir, kami mencarimu terus menerus, Alesha..." sambung Maudy.


Alesha hanya tersenyum, begitu pula Jacob, dan kelima kawan prianya yang lain.


"Kau tahu, Al, Mr. Jacob." Merina menunjuk pada Jacob, "dia benar-benar kehilanganmu, dan begitu frustasi. Kami semua begitu khawatir dengan kondisinya waktu itu, Alesha."


"Jangan menghilang lagi, Al. Bukan hanya Mr. Jacob, dan kami saja yang kehilanganmu, tapi SIO juga. Mrs. Laras dan beberapa ilmuan SIO sering menanyakan apakah kau sudah ditemukan atau belum. Mereka membutuhkanmu untuk kembali, Alesha," ucap Nakyung sejujurnya.


"Kau tidak banyak berubah, Lil Ale, masih sama." Maudy menangkup wajah Alesha dan menggerak-gerakkannya kekiri lalu kanan.


"Kata siapa?" sahut Bastian. "Awal aku, dan Lucas menemukannya, Alesha tidak seperti itu. Dia sangat jauh berubah. Feminim, polos, sangat lugu, dan pakaiannya juga tidak seperti itu, favoritnya adalah baju dress selutut. Benar bukan, Alesha?"


Alesha tertawa kecil mendengar itu. Memang iya. Benar apa yang Bastian katakan barusan.


"Aku benar-benar merasa asing pada Alesha waktu itu. Ucapannya lembut, tidak seperti yang aku kenal sebelumnya, kasar, dan kadang asal. Bahkan, Alesha sungguh-sungguh berubah, aku tidak pernah melihat Alesha yang begitu lemah lembut." Lucas menatap aneh pada Alesha.


"Ya, kau benar, Lucas. Sekarang, dia sudah mulai berubah kembali seperti semula," balas Jacob.


"Kau lebih suka yang mana, aku yang polos, lemah lembut, dan feminim, atau aku yang sebelum seperti itu?" tanya Alesha diselingi tawa kecil.


"Jujur saja, aku lebih suka melihatmu yang polos, lemah lembut, dan feminim. Aku pikir kau lebih cocok seperti itu ketimbang kau yang keras kepala, jahil, cukup kasar, dan berani," jawab Lucas.


"Tidak, tetaplah jadi dirimu, Alesha," tukas Nakyung. "Tetaplah jadi dirimu yang kami kenal."


Alesha membalas dengan senyum kaku. Ia masih cukup canggung berada diantara teman-teman lamanya.


"Kalian sudah makan?" tanya Jacob.


"Belum, Mr. Jacob. Sebenarnya, salah satu alasan kami datang ke sini juga karna kami kelaparan, dan berniat untuk menumpang makan," jawab Tyson apa adanya. Aish, ia terlalu jujur, membuat Jacob yang mendengarnya jadi menyerngitkan dahi sembari terkekeh kecil.


"Tyson benar, Mr. Jacob, kami semua memang kelaparan, dan kebetulan kau meminta kami datang kemari, jadi, ya sekalian saja kami akan menumpang makan di sini. Hehehe," sambung Mike.


"Kasihan," ledek Jacob. "Yasudah ayo, kita ke dapur. Kita makan sama-sama."


...*****...


Tangerang, Banten, Indonesia.


"Boss, mobil sudah siap. Kita bisa berangkat menuju markas kedua," ucap salah seorang pria berjas rapih.


"Bagus. Kita berangkat sekarang," balas pria sembari menginjak puntung rokok bekas hisapannya. Dia adalah seorang pria yang bukan lain ketua dari Kelompok Jaringan Gelap yang sedang memata-matai SIO untuk melakukan pembalasan dendam sekaligus berniat untuk mencuri data tentang luar angkasa yang telah SIO dapatkan.


"Baik, Tuan," pria berjas itu mengangguk patuh.


Sekitar lima belas orang pengawal akan mengantarkan bos tersebut menuju markas kedua mereka disalah satu jalur pendakian gunung salak.


"Aku dengar Theo, dan Vincent bergabung untuk mencuri sampel virus XXX milik SIO."


"Iya, Boss. Theo, dan Vincent bergabung untuk untuk sama-sama mencuri sampel itu. Mereka mungkin sedang menyusun rencana untuk menyerang kantor SIO."


Sang Boss menarik salah satu sudut bibirnya, membentuk smirk licik. Ia tak banyak berbicara apapun lagi. Sepanjang perjalanan hanya menatapi jalan raya dengan akal licik yang sudah menari-nari dalam kepalanya.


Sementara itu di Greenland, Vincent tengah bersiap-siap diri. Ia akan segera pergi menuju Bandung, Indonesia bersama asistennya, Stella.


"Jika rencanaku gagal karnamu, maka aku akan memburu lalu membunuhmu, Vincent," ucap Theo.


"Tenanglah. Karna jika rencanaku berhasil, itu akan semakin memudahkan kita mendapatkan apa yang kita tuju," balas Vincent sembari tersenyum licik.


"Tiga puluh anak buahku akan ikut bersamamu. Lakukan pekerjaanmu dengan baik!" tatapan Theo terpaku tajam pada Vincent.


"Bagaimana dengan adikmu? Apa dia ikut?" canda Vincent.


"Tidak akan pernah aku biarkan adikku bersama pria brengsek sepertimu! Jangan pernah berharap untuk bisa menjadi adik iparku! Cepatlah pergi, dan lakukan pekerjaanmu dengan benar!" emosi Theo sedikit tersulut. Ia tak suka karna belakangan ini Vincent diam-diam sering curi pandang pada adiknya, Theora. Mungkin Theo bukanlah kakak yang baik, namun ia juga tak akan membiarkan adiknya jatuh pada pria yang salah.


"Santai saja, calon kakak ipar, aku pasti melakukan pekerjaanku dengan baik, dan aku jamin kau pasti akan menyesal karna pernah menolakku untuk menjadi adik iparmu." Vincent tersenyum sembari mengedipkan sebelah matanya pada Theo.


"Jangan pernah bicarakan tentang hal itu lagi!" bentak Theo. "Kalian semua! Cepat pergi dari sini!" Theo memerintahkan kelima belas anak buah untuk segera pergi bersama Vincent, dan Stella. Sedangkan lima belas anak buahnya yang lain sudah lebih dulu berada di Indonesia, di tempat yang berbeda-beda.

__ADS_1


"Aku muak dengan ucapanmu!" setelah menekankan kalimat itu pada Vincent, Theo pun berlalu pergi.


"Calon kakak iparmu terlalu galak," komen Stella, pelan.


"Nanti juga tidak," balas Vincent. "Sudah ayo, kita berangkat sekarang."


Stella mengangguk malas. Ketidak enakkan hati membuat moodnya kurang bersahabat. Ia tahu kalau tidak lama lagi ia akan segera bertemu dengan orang-orang telah ia khianati. Tapi, semoga saja semuanya berjalan lancar.


...*****...


Kembali ke mansion Jacob, dan Alesha.


Kedua sejoli itu tengah menikmati waktu mereka bersama yang lain.


Kehadiran Bastian, dan kawan-kawan berhasil membawa keceriaan Alesha di rumah itu, bahkan lebih baiknya lagi, beberapa ingatan Alesha pun ada turut kembali berkat kebersamaan itu.


"Iya, aku ingat! Mr. Jacob memarahi lalu menghukumku dengan menyuruhku untuk membersihkan kebun WOSA dari rerumputan liar selama tiga hari karna aku mencampurkan obat sakit perut kedalam minuman salah satu anggota tim Brandon," seru Alesha. Sejurus kemudian ia menoleh sebal pada suaminya. "Tapi kenapa hanya aku yang dihukum? Mike, dan Lucas yang menyuruhku! Mereka tiba-tiba menghilang, dan kabur saat kau datang memergokiku!"


Jacob tertawa kecil mendengar itu.


"Aku sangat marah, dan benci padamu waktu itu!" lanjut Alesha.


"Kau selalu marah, dan benci padaku saat aku memarahi, dan menghukummu, Alesha," balas Jacob yang benar adanya.


"Sebenarnya aku, dan Lucas berniat untuk memberitahumu agar menggagalkan rencana kita, Al, tapi Mr. Jacob sudah sangat dekat waktu itu. Jadi, ya kami kabur saja duluan. Hehehe, maaf..." Mike mengenyir sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Siapa yang memberitahu padamu kalau aku mencampurkan obat sakit perut kedalam minuman salah satu tim Brandon?" tanya Alesha pada suaminya.


"Salah satu anggota tim Brandon melihatmu yang sedang memilih-milih tempat minum milik orang yang akan kau kerjai di taman itu. Mereka langsung melaporkannya padaku," jawab Jacob begitu santai.


"Huh! Setelah itu kau datang, berwajah dingin, datar, lalu membawaku ke ruanganmu kemudian memarahiku, dan setelah itu kau menghukumku sendirian!" Alesha memutar kedua bola matanya dengan jengah.


"Asik bukan? Aku marahi, lalu aku hukum tapi kau tak Lucas, dan Mike tidak pernah jera!" balas Jacob. "Untung saja yang lain tidak seperti kalian bertiga atau aku bisa ditegur habis-habissan oleh Mr. Thomson!"


"Aku sering mengingatkan Alesha, Lucas, dan Mike, tapi mereka tak pernah mau mendengarkan ku," ucap Aiden diselingi tawa kecil.


"Bahkan aku sudah lelah menegur, dan mengingatkan mereka bertiga," sambung Bastian.


"Tapi itu adalah hal yang membuatku merindukan masa-masa ketika aku menjadi mentor kalian," ucap Jacob.


"Aku ingin mengulang masa itu kembali," lirih Merina dengan senyum tipisnya.


"Permisi, Tuan," ucap Taylor dengan sebuah paper bag digenggamannya. Sontak semua pasang mata yang ada di ruang keluarga tersebut memandang ke arah orang kepercayaan Jacob tersebut.


"Ini susu, dan suplemen hamil untuk nona."


"APA?!!" serentak Bastian, dan ketujuh kawannya memekik setelah mendengar apa yang Taylor katakan barusan.


"Susu, dan suplemen hamil?!"


Kedelapan anak asuh Jacob itu terbelalak saking terkejutnya.


"Mr. Jacob, Alesha?" tatapan tak percaya Maudy layangkan untuk Jacob.


"Iya." Jacob mengangguk sembari tersenyum. "Alesha sedang hamil."


"APA?!!"


...*****...


Malam harinya.


Semenjak kedatangan Alesha siang tadi, mansion yang semula sepi kini menjadi ceria, dan hidup kembali. Canda tawa tak lekang mewarnai aura baru rumah tersebut.


Cengkrama ria, dan obrolan yang sebenarnya tidak penting menjadi bahan ledekkan untuk mereka.


Walau sudah pukul delapan malam, Jacob tetap membiarkan istrinya itu menghabiskan waktu bersama yang lain. Ia sangat amat bahagia bisa melihat kembali pancaran keceriaan, dan semangat dalam diri Alesha.


Sementara Rangga, kakak ipar Jacob tersebut ada di dalam kamarnya. Ia tak diberikan izin untuk keluar oleh Jacob. Kenapa? Karna untuk saat ini, Jacob tidak mau melihat istrinya itu berdekatan, dan mengobrol dengan kakak iparnya.


"Tuan, Rangga memberitahu pada kami kalau Dirga berada Bogor, dan mungkin saja ia akan segera mengetahui kalau nona sudah kembali ke Indonesia," ucap Taylor.


"Kita terus awasi dia. Aku tidak akan membiarkan dia lolos begitu saja setelah apa yang telah ia perbuat pada istri, dan mendiang anakku!" geram Jacob.


Ceklek.


Mendadak pintu kamar terbuka.


"Alesha?" kedua mata Jacob memicing, menatap pada istrinya yang nampak lesuh. "Kau kenapa, sayang?"


"Aku mengantuk, Jack," jawab Alesha, malas. "Hoaammm...."


Jacob, dan Taylor sama-sama terkekeh melihat Alesha menguap.


"Hmm, tuan, saya akan keluar sekarang. Kasihan nona, sepertinya ia sudah mengantuk berat," ucap Taylor.


"Iya, silahkan," balas Jacob.


"Kalau begitu, permisi." Taylor melangkah pergi meninggalkan kamar tuan, dan nonanya.


"Sudah puas bercanda, dan menghabiskan waktu bersama teman-temanmu, Lil Ale?" ledek Jacob. Ia menghampiri Alesha yang sudah berbaring miring menghadapnya.


"Belum. Tapi, aku sangat mengantuk, jadi aku bilang pada mereka untuk melanjutkannya besok," jawab Alesha, diambang kantuknya.


"Mereka sudah kembali ke kamar?" tanya Jacob, lagi.

__ADS_1


"Belum. Mereka bilang masih ingin di taman."


"Lalu kenapa.."


"Sudah, jangan bertanya lagi. Aku mengantuk, Jack!"


Jacob terkekeh, mendengar ucapan Alesha yang memotong perkataannya.


"Yasudah iya. Kalau begitu tidurlah, jangan lupa baca doa lebih dulu," ucap Jacob sembari menaruh sebuah ciuman lembut pada sebelah pipi istrinya.


"Selamat malam, dan selamat tidur, sayang. Aku mencintaimu, Alesha."


Alesha tidak membalas. Ia sudah jatuh pada alam bawa sadarnya dengan tubuh yang dipeluk begitu nyaman oleh suaminya.


****


Pagi harinya, pukul tujuh, Alesha mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya matahari yang tembus memasuki gorden.


"Eunghh...hoaammm...."


Alesha merenggangkan tubuhnya begitu leluasa sembari menguap. Setelah itu, tidak ada.


Tidak ada yang Alesha lakukan selain terdiam menatap sekeliling dengan ekor matanya.


Kemana Jacob?


Alesha sendirian dikasur itu.


"Jack..."


Sejurus kemudian, Alesha beranjak bangun, meringsek menuruni tempat tidurnya.


Ia berjalan keluar kamar. Sebenarnya masih sedikit canggung sih, pasalnya, meski pun itu adalah rumahnya, Alesha masih merasa cukup asing, seperti ia baru saja menginap di rumah teman atau saudara.


"Selamat pagi, nona Alesha," seorang menyapa Alesha. Ternyata salah satu pelayan.


"Butuh bantuan, Nona?" tanya pelayan tersebut.


"Dimana Mr. Jacob?" Alesha bertanya dengan hati-hati. Sungguh, ia masih merasa sangat canggung, bahkan terhadap pelayannya pun.


"Kalau tidak salah sekitar satu jam yang lalu saya melihat tuan pergi, Nona," jawab pelayan itu.


"Pergi? Kemana?" dahi Alesha menyerngit bingung.


"Saya kurang tahu, Nona."


Alesha diam penuh tanya dalam kepalanya. Jacob pergi? Pagi-pagi? Kemana?


"Hmm, yasudah kalau begitu makasih, ya."


"Iya, Nona sama-sama."


Alesha berlalu pergi mencari Taylor. Semoga saja Taylor tidak ikut bersama Jacob, jadi Alesha bisa tahu kemana suaminya itu pergi. Tapi sebelum itu, Alesha mencoba untuk mengecek satu persatu kamar, memastikan kalau teman-temannya, juga kakaknya masih ada di kamar masing-masing atau tidak.


Tapi nihil. Kemana mereka semua?


"Tuan!" Alesha memanggil salah satu penjaga di dekat pintu keluar.


"Nona Alesha?" penjaga tersebut sedikit terkejut mendapati nyonya mudanya yang menghampirinya.


"Tuan kau tau dimana tuan Taylor?" tanya Alesha.


"Tuan Taylor?"


"Iya."


"Tuan Taylor ada di halaman depan garasi, Nona. Ada yang bisa saya bantu?"


"Tidak tidak, terima kasih," balas Alesha sembari menyunggingkan senyumannya. Kemudian, ia lanjut berjalan santai menuju halaman depan garasi.


Pagi ini cerah, ya. Tidak berawan, dan sejuk. Alesha selalu suka pemandangan pagi hari ketika sudah masuk musim panas. Cuaca yang indah, dan tepat untuk piknik. Aish, kenapa Alesha jadi ingin jalan-jalan, ya? Sepertinya asik. Semoga saja Jacob mau untuk menemaninya jalan-jalan nanti.


"Tuan Taylor!" panggil Alesha sembari menghampiri bodyguard pribadinya itu.


Taylor yang mendengar namanya dipanggil lantas menoleh ke asal suara, tepatnya dibelakang punggungnya.


"Nona!" betapa terkejutnya Taylor ketika mendapati nyonya mudanya itu berada di luar mansion. Tidak! Alesha tidak boleh keluar rumah! Jacob melarang itu!


"Nona, apa yang anda lakukan di sini?" buru-buru Taylor membalikkan tubuh Alesha, dan membawa nonanya itu berjalan untuk masuk kembali ke dalam mansion.


"Mencarimu," jawab Alesha, santai.


"Mencariku?" ulang Taylor. Ya ampun!


"Ada apa memangnya, Nona?" tanya Taylor.


"Aku ingin menanyakan dimana Mr. Jacob, itu saja." Alesha mengedikkan kedua bahunya. Ia begitu santai. Tentu saja, ia belum tahu apa-apa, padahal nyawanya sedang dalam bahaya saat ini.


"Tuan Jacob sedang ke kantornya, Nona. Ada pekerjaan yang harus diurus secara dadakan," Jawab Taylor, bohong. "Oh ya, apa nona sudah makan? Nona pasti lapar. Sepertinya para pelayan sudah selesai memasak." Taylor mesti mengalihkan pikiran Alesha.


"Hmm..." Alesha berpikir. "Iya sih, aku memang belum makan karna baru bangun, aku juga lapar."


"Yasudah, kalau gitu nona sarapan dulu saja, ya." Taylor menyunggingkan senyum terbaiknya agar tidak membuat Alesha merasa curiga akan satu hal.


"Iya." Alesha mengangguk.

__ADS_1


Huft!! Taylor sudah panik! Ia harus bisa menjaga nyonya mudanya itu agar tetap di dalam mansion, dan tidak boleh keluar! Atau Jacob pasti akan sangat marah!


__ADS_2