Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Persetujuan


__ADS_3

"Theo!!!!" Theora melengkingkan suaranya untuk memanggil kakaknya.


"Theo!!!!!"


"Aku tidak tuli, Theora," Seseorang membalas dengan malas. Dialah si pemilik nama yang sejak tadi Theora panggili, Theo.


"Aku mencarimu dari tadi!" Ketus Theora.


Theo melepaskan sebatang rokok yang sejak tadi dihisapnya. Disusul dengan hembusan asap dari dalam mulut, Theo pun bertanya santai. "Ada apa?"


"Aku akan ke Indonesia. Kita harus mendapatkan anggrek hitam itu di Papua," Ucap Theora.


"Kau tahu kan kalau Levin akan berjaga di sana?" Sindir Theo.


"Aku tidak takut padanya..."


"Dan kau berpikir kalau kau bisa menarik Jacob padamu?" Potong Theo sembari melirik pada adik perempuannya itu. Ia sudah bisa menebak salah satu rencana adiknya itu untuk pergi ke Indonesia selain menjalankan misi. Theo tahu kalau Theora memang masih memiliki sebuah harapan untuk bisa bersama dengan Jacob kembali, mengingat dulu Jacob, dan Theora sangat dekat.


"Aku tidak akan membiarkanmu, Theora, meski sekarang Jacob sudah bukan agent SIO lagi. Kalian hanya teman dulu, tidak perlu berharap lebih," Lanjut Theo.


Theora bergeming mendengar ucapan kakaknya. Theo tahu semua, dari kedekatan juga pertemanan Jacob, dan Theora sejak kecil, hingga beranjak dewasa mereka berpisah, lalu Theora yang patah hati karna Jacob memiliki kekasih bernama Yuna.


"Aku pikir setelah Yuna meninggal aku bisa mendapatkan hatinya, tapi aku terlambat," Lirih Theora.


"Fokus pada tugasmu! Tidak usah mengharapkan pria yang sudah beranak satu itu!" Tegas Theo. "Lagi pun dia tidak akan menerimamu karna dia tahu kau adalah adikku, ketua dari kelompok mafia."


"Aku akan pergi ke Indonesia tengah malam ini," Selepas berucap itu, Theora pergi meninggalkan kakaknya, Theo.


Theora tahu, dan cukup sadar, Jacob sudah tahu siapa dirinya, dan kakaknya, dan hal itu membuat Theora merasa bersedih, apalagi jika ia mengingat kedekatannya bersama Jacob dulu semasa mereka masih kecil hingga remaja.


"Semoga kau menolak tawaran SIO untuk kembali memimpin pasukan agar bisa menyerang kelompokku, Jack, aku tidak ingin berhadapan denganmu, apalagi bertarung denganmu," Theora bergumam lirih. Ia tidak ingin mengharapkan Jacob, itu hanya akan membuat hatinya semakin tersakiti, tetapi jika ada kesempatan, ingin rasanya Theora sekali saja bertemu dengan Jacob.


...*****...


Di rumah kediaman Jacob, dan Alesha, kini ada beberapa tamu yang merupakan orang kiriman SIO yang diberi tugas untuk membujuk Jacob agar mau membantu SIO memberantas kelompok mafia yang diketuai oleh Theo.


Alesha yang berdiri tepat di sebelah pintu bagian luar ruang tamu sembari menggendong tubuh Alshiba pun tentunya mendengar percakapan para pria itu.


"Alesha...." Sapa Aiden bersama Lucas. "Apa yang kau lakukan di sini?"


"Syutt, diam!" Balas Alesha sembari menatap serius pada Aiden.


"Jadi, bagaimana? Kau mau menerimanya kan, Jack?" Tanya salah seorang pria.


"Levin akan tiba besok bersama beberapa anak buahnya," Sambung pria yang lain.


Jacob tidak langsung menjawab, melainkan terdiam sembari berpikir apakah ia akan menerima tawaran permohonan SIO itu atau tidak? Jika ia menolak, ada kemungkinan jika dunia ini akan dibuat geger oleh kemunculan virus, belum lagi perekonomian global juga pasti goyah, termasuk perusahaan milik ibunya. Tetapi jika ia menerima, ia takut kalau keluarganya juga akan dijadikan sasaran oleh kelompok mafia itu.


"Kita tidak boleh membiarkan niat jahat Theo terlaksanakan. Virus itu bisa menyebar dengan sangat cepat, Jack, dan SIO masih belum bisa menemukan vaksin yang tepat selain Profesor Hans, namun kau tahu sendiri kelompok mafia itu sudah berhasil menculik Profesor Hans. Bantu kami, Jack. SIO harus segera memusnahkan kelompok mafia itu."


"Mereka memang belum mendapatkan virus tersebut, tapi aku tidak yakin kalau mereka akan menyerah begitu saja, Jack. Jadi, sebelum mereka melakukan tindakan yang lebih jauh lagi, ada baiknya kita memberantas mereka terlebih dahulu."


"Kapan SIO akan menyerang mereka?" Tanya Jacob.


"Secepatnya. SIO juga harus membawa kembali Profesor Hans."

__ADS_1


Kedua telapak tangan Jacob saling memeluk, tatapan matanya lurus manuju satu titik pada lantai, juga sang pikiran yang kini sedang bekerja untuk memberikan kepastian pada beberapa orang kirim SIO itu.


"SIO membutuhkan bantuanmu, Jack, tolong kami..."


Timbul jeda selang beberapa saat, sebelum akhirnya Jacob membuka suara, dan menyatakan jika ia....


"Aku setuju. Aku akan membantu SIO."


Para pria utusan SIO tersebut langsung menyunggingkan senyum kelegaan mereka setelah mendapat jawaban persetujuan dari Jacob.


"Tapi ada satu syarat!"


Senyuman para pria itu pun seketika berubah kembali menjadi datar ketika Jacob melanjutkan ucapannya.


"Apa, Jack?"


"SIO harus memastikan keselamatan, dan keamanan keluargaku, terutama istri, dan anakku."


"Kami akan mengutus beberapa agent terbaik yang ada untuk berjaga di sini. Beberapa murid alumni WOSA juga akan turut ikut dalam misi ini, Jack, kau tidak perlu khawatir."


"Mr. Jacob....."


Lirihan panggilan itu membuat Jacob juga beberapa pria utusan SIO menoleh ke asal suara, tepatnya ambang pintu. Di sana, Alesha berdiri sembari menggendong si putri kecil, Alshiba. Tatapan Alesha menyiratkan sebuah kesedihan.


Ada apa?


"Al..." Jacob bangkit dari duduknya lalu menghampiri istrinya itu.


"Ada apa, Alesha?" Tanya Jacob, pelan.


"Al, kenapa?" Ulang Jacob.


"Kau menerima tawaran SIO, Jack?" Lirih Alesha.


Jacob sedikit terkesiap setelah istrinya berucap. Apa Alesha tidak akan memberikan izin padanya untuk membantu SIO menghabisi kelompok mafia itu? Jantung Jacob mulai berdebar.


"I-iya, Al, kenapa?"


Alesha menggelengkan kepalanya pelan. "Kau tahukan risikonya apa?"


"Iya, aku tahu," Jacob mengangguk. Tentu saja ia tahu, dan sangat tahu. Menghabisi musuh SIO adalah pekerjaan Jacob, dan Jacob sudah terbiasa dengan hal itu.


"Kalau begitu berjanjilah kau akan baik-baik saja."


"Kau mengizinkan aku, Al?"


Alesha mengangguk kecil. "I-iya. Kau melakukan itu juga kan demi kebaikan, dan untuk memberantas orang jahat. Aku tidak akan melarangmu," Meski begitu, sebenarnya Alesha takut. Alesha tahu risiko berbahaya yang akan dihadapi suaminya tidak lama lagi. Tapi Alesha percaya, dan juga sangat yakin kalau suaminya itu adalah pria hebat, dan akan diberikan kemudahan untuk bisa memberantas orang-orang jahat yang hanya menginginkan kekayaan dunia. "Aku percaya padamu, kau akan kembali untuk aku, dan Alshiba. Jadi, lakukan tugasmu dengan baik, aku akan mendoakanmu supaya diberikan kelancaran."


Jacob menghembuskan napasnya dengan lega. Ia tidak menyangka jika Alesha akan mengizinkannya. Sangat bersyukur memiliki istri yang begitu pengertian.


" Terima kasih, Al, aku berjanji akan melaksanakan tugasku dengan baik agar kita bisa berkumpul lagi," Balas Jacob dibarengi senyum juga elusan lembut untuk wajah manis istrinya.


"Makan siang sudah siap, Jack, kau ajaklah mereka untuk ke dapur sekarang, aku, dan yang lain ada di halaman belakang," Ucap Alesha.


"Iya," Jacob hanya mengangguk sembari sedikit tersenyum.

__ADS_1


Lalu Alesha mambalikkan tubuhnya, dan berjalan menuju halaman belakang dimana teman-temannya yang lain sudah menunggu, tak terkecuali Lucas, dan Aiden yang kini tengah termenung memandangi wajah mentor lama mereka.


"Apa?" Tanya Jacob pada dua lelaki muda dihadapannya.


"Kau akan ikut bersama kami nanti, Mr. Jacob?" Tanya balik Aiden.


"Tidak, kalian akan bersama Levin untuk berjaga, sedangkan aku akan langsung menyerang kelompok itu," Jawab Jacob.


"Aku harap aku bisa ikut bersamamu, Mr. Jacob. Aku ingin tahu seberapa ahlinya kau dalam menghabisi musuh," Ucap Lucas.


Jacob terkekeh mendengar ucapan Lucas barusan. Tapi boleh juga ya kalau sesekali ia, dan kedelapan anak-anak asuhnya itu menghabisi musuh bersama. "Kalau ada waktu, dan kesempatan kita bisa menghabisi musuh bersama, Lucas."


"Aku akan menunggu waktu, dan kesempatan itu, benar, Aiden?" Lucas mengepalkan telapak tangannya lalu mengangkatnya tepat dihadapan Aiden, meminta tossan ala para pria muda.


"Benar," Balas Aiden sembari menghentakkan kepalan punggung ibu jarinya pada punggung ibu jari Lucas.


"Sudah sudah, sekarang kalian pergi lah, aku masih ada yang harus dibicarakan lagi dengan orang-orang SIO itu, dan oh ya jangan lupa, jam satu nanti kalian akan memulai latihan," Jacob mengusap-usap puncak kepala dua pria muda yang ada dihadapannya itu.


"Oke."


Kemudian Aiden, dan Lucas pergi, begitu pula Jacob yang kembali berkumpul bersama orang-orang kiriman SIO itu.


...*****...


Beralih menuju kediaman Levin, dan Tessa. Saat ini pasangan suami istri itu tengah dilanda sebuah perdebatan kecil, hingga pada akhirnya sang istri yang lelah menanggapi ucapan suaminya kini lebih memilih untuk terdiam.


"Tessa, aku mohon, kau harus percaya padaku," Levin menggenggam erat jemari istrinya, berusaha meyakinkan, dan mendapatkan kepercayaan dari istrinya supaya ia bisa menjalankan tugas yang sudah SIO berikan.


"Tessa...." Tatapan Levin berubah sayu. Ia tahu kalau istrinya itu begitu mengkhawatirkannya, namun Levin juga harus menjalankan tugasnya untuk menjaga SIO dari kelompok mafia jahat itu.


"Percayalah, Tessa, aku akan baik-baik saja. Lagi pula nanti ada beberapa orang kiriman SIO yang akan menjagamu, dan Nicholas di sini, Sayang," Levin menangkup wajah istrinya.


"Aku tidak ingin orang-orang SIO itu menjagaku, dan Nicholas. Aku hanya ingin kau baik-baik saja, Levin, hiks," Tessa menundukkan wajahnya, dan mulai menangis. "Aku takut, aku tidak mau kehilanganmu, hiks."


Melihat Tessa yang saat ini menangis membuat Levin semakin sadar bahwa istrinya itu benar-benar mencintainya.


"Maafkan aku, Tessa..." Levin membawa tubuh Tessa ke dalam pelukannya. Merengkuh dengan erat sembari berbisik pada hatinya sendiri.


Kenapa kau sangat mencintaiku, Tessa? Aku malu karna kau begitu baik padaku hingga kau merelakkan sebelah paru-parumu untukku. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Bahkan kau selalu ada untukku dulu, meski kau tahu aku tidak menaruh rasa padamu. Aku berjanji untuk akan semakin menumbuhkan rasa cintaku padamu, dan anak kita, Tessa, aku berjanji.


"Aku mencintaimu, Tessa."


"Jangan pergi, aku mohon....." Parau Tessa.


"Sayang, aku berjanji aku akan baik-baik saja."


"Siapa yang bisa menjamin itu?"


"Kalian, kau, dan Nicholas yang akan membuatku bersemangat untuk menjalankan tugasku, aku akan bertahan, dan kembali untuk kalian, aku berjanji."


Tessa bungkam, namun tubuhnya bergetar akibat tangis sendu karna tidak mau ditinggal pergi oleh suaminya.


"Percayalah, Tessa, aku akan baik-baik saja."


Tessa mengangguk pelan. Jauh di dalam lubuk hatinya ia benar-benar tidak terima jika Levin harus dikirim kembali oleh SIO untuk menjalankan misi, namun ya sudahlah, ia pasrah, yang penting nanti adalah Levin harus kembali padanya dalam keadaan baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2