
"Neng, kamu gak boleh gitu. Jacob suami kamu, kalau dia ngajak buat pulang, kamu harus ikut dia pulang," ucap Kakek Ujang, menasihati cucunya.
Alesha menggelengkan kepalanya. Dia bersikeras. "Neng gak mau pulang, hiks. Neng pengen sama Kakek aja, hiks hiks."
"Alesha..." lirih Jacob. Pria itu sudah pasrah.
"Neng pengen di sini. Neng pengen sama Kakek, hiks." Alesha memeluk erat lengan Kakeknya, dan menelusupkan wajahnya pada bahu Kakek Ujang. "Hiks, Neng gak mau pulang, Kek."
Kakek Ujang menatap heran pada Jacob. Ada masalah apa Jacob dengan Alesha hingga menyebabkan cucunya itu enggan dibawa pulang.
Jacob sedikit tertunduk. Bingung bagaimana memberikan penjelasannya pada Kakek Ujang.
"Neng, gak boleh kaya gitu. Jacob udah nungguin dari tadi. Pulang sekarang!" Kakek Ujang mulai menegas.
"Hiks, Kakek, Neng gak mau, Neng mau di sini sama Kakek, hiks hiks."
Jacob menghembuskan napasnya dengan sabar. Tidak sampai hati ia melihat Alesha yang menangis sesegukkan seperti itu. Tapi, ia juga mesti menyelesaikan masalah dengan Alesha secepatnya agar Alesha tidak semakin salah paham.
"Neng!" Kakek Ujang mengangkat wajah cucunya. Memelototi Alesha.
"Hiks, Kakek. Neng gak mau pulang," air mata Alesha kian tumpah saat menerima pelototan dari Kakeknya.
"Kamu gak boleh kaya gitu! Sebagai istri, kamu harus nurut sama semua ucapan suami kamu! Alesha, pulang sekarang! Jacob dari tadi udah ajak kamu pulang!" tegas Kakek Ujang, memarahi cucunya.
"POKOKNYA ALESHA GAK MAU PULANG!!"
"ALESHA!!"
Deg!
Alesha terlonjak saking terkejutnya ia saat mendapati Kakeknya yang membentaknya dengan lantang. Meski sudah tua dan sakit sakitan, ternyata suara Kakek Ujang masih bisa terdengar menggelegar apabila sudah marah.
Jacob pun sama, ia terlonjak, mematung di tempat, tidak percaya apa yang baru saja ia dapati barusan. Kakek Ujang membentak Alesha. Ya ampun, baru kali ini Jacob melihat kilatan kemarahan dalam sorot mata Kakek Ujang.
"Hiks, Kakek..." suara Alesha parau. Ia ingat, dulu, Kakek Ujang akan memarahinya apabila ia berbuat nakal. Mencuri buah dari kebun orang lain, bertengkar dan berkelahi ala anak anak dengan temannya, terutama jika ia sengaja tidak sholat dan mengaji karna malas, Kakek Ujang pasti akan langsung memarahi dan membentaknya karna ia begitu keras kepala.
"Pulang sekarang!" tegas Kakek Ujang.
Alesha menggelengkan kepalanya, pelan. "Hiks, gak mau, Kek."
"Kamu mau jadi istri durhaka, Alesha? Trus siksa orang tua kamu di alam kubur sana karna gak patuh sama perintah suami kamu sendiri?"
Lagi, Alesha menggelengkan kepalanya. Tubuhnya bergetar seiring tangisannya yang kian menjadi.
"Pulang sekarang! Ikutin suami kamu!"
Cukup! Jacob tidak kuasa melihat Alesha yang seperti sekarang ini. Ia mengambil keputusan bijak, lalu melangkah menghampiri Alesha dan Kakek Ujang.
"Kakek, udah, Kek. Gak apa-apa." Jacob berucap setenang mungkin. "Kalau Alesha pengen di sini sementara waktu, ya udah, gak apa-apa. Jacob izinin, kok." Meski berat, tapi Jacob tidak mau membuat istrinya semakin terbebani, apalagi mengingat Alesha yang sedang hamil. Jika Alesha stress, itu akan sangat bahaya bagi Baby J.
"Alesha, sayang..." Jacob menyentuh bahu istrinya.
Sementara Alesha, ia langsung menghindar, membuat telapak tangan Jacob terjatuh sesaat setelah mendarat dibahunya.
"Huffttt..." Jacob harus tenang. "Sayang, baiklah, tidak apa-apa kalau kau mau di sini. Aku mengizinkannya, Al. Jangan menangis lagi."
Alesha acuh. Tapi ia sedikit lega karna Jacob mau mengizinkannya tinggal sementara waktu di apartemen Kakeknya.
"Sayang...." Jacob berlutut di hadapan Alesha. Menggenggam erat-erat telapak tangan istrinya itu.
"Jangan menangis lagi. Kau boleh di sini beberapa hari. Bersamaku."
Refleks, Alesha menoleh tajam pada suaminya. Apa maksudnya itu? Jacob akan tinggal di sana juga? Tidak! Percuma saja kalau begitu. Alesha ingin tinggal bersama Kakeknya demi menghindari Jacob!
"Tidak!" Alesha menggelengkan kepalanya, tegas. "Kau pulang saja!"
Jacob pun sama, menggelengkan kepalanya. "Aku akan di sini bersamamu."
"Tidak mau! Aku tidak mau kau di sini, dan aku tidak mau tidur satu kamar denganmu!"
Rahang Jacob mengeras. Sorot matanya datar, namun bisa dirasakan jika pria itu tengah menahan sekuat tenaga amarahnya sebab ucapan Alesha barusan.
"Alesha!" bentak Kakek Ujang. "Bilang sekali lagi, Alesha!"
Alesha menoleh pada Kakeknya. Baiklah! Mungkin tidak masalah jika Kakek Ujang tau kebenaran yang ia tahu saat ini.
"Kakek, Alesha gak mau tinggal sama Jacob! Alesha gak mau satu kamar lagi sam dia! Dia suami Alesha, tapi hati dia buat perempuan lain!"
Deg!
Apa?
Kakek Ujang tercekat. Telak!
"Mr. Jacob nikahin Alesha karna Alesha buat dia merasa deket sama pacarnya yang udah meninggal, Kek! Hiks. Mr. Jacob gak tulus cinta sama Neng! Cinta dia cuman buat perempuan yang mirip sama Neng! Makanya dia nikahin Neng supaya dia bisa merasa deket sama gadis tercintanya itu! Hiks hiks. Gimana Alesha gak sakit hati, Kek?"
Kakek Ujang menatap tajam pada Jacob.
Jacob balas menatap pasrah kakek istrinya itu. Ia menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kakek, Alesha belum ingat semua. Dia baru ingat setengah aja. Dia juga gak mau denger penjelasan dari Jacob!" Jacob membela diri. "Kakek, tolong, kalau Kakek mau penjelasan lengkapnya, Jacob bakal certain semuanya. Tapi tolong, jangan langsung percaya sama ucapan Alesha yang tadi, Kek."
"Bohong?" Alesha menatap marah suaminya. "Kau bilang aku berbohong? Kau jelas sering menyamakanku dengan Yuna. Kau menikahiku karna rasa cintamu yang begitu besar pada Yuna, bukan?"
"ALESHA!" bentak Jacob yang tidak sengaja kelepasan hingga membuat Alesha terlonjak dan tercekat. "Kau belum mengingat semuanya! Percayalah! Harus berapa kali aku mengatakannya?"
"Hiks, kau tidak mencintaiku, Jack," lirih Alesha yang merasa begitu terkhianati.
"Aku mencintaimu, Alesha. Aku sungguh mencintaimu. Kau tidak mau mendengarkanku!" Jacob berusaha mengatur ritme emosinya.
"Aku membencimu, Jack. Hiks. Jangan ikuti aku. Aku ingin sendiri malam ini!" Alesha bangkit berdiri, dan berlalu pergi.
Jacob menyusul bangkit. "AARGH!!" ia menjambak rambutnya dengan frustasi.
"Jacob, apa maksudnya tadi?" Kakek Ujung menatap tajam suami cucunya itu. Menuntut kejelasan.
Sementara Jacob. Beberapa kali bulak balik ia melirik ke arah ke arah Kakek Ujang, lalu keluar kamar itu. Memberikan penjelasan pada Kakek Ujang atau menyusul Alesha? Aduh, bagaimana ini?
Sementara itu Alesha, di ruang tengah, ternyata Nakyung, Maudy, Bastian, dan Aiden ada di sana. Keempat pemuda itu bergegas ke apartemen Kakek Alesha saat tau Alesha ada di sana.
"Al, ada apa?" tanya Nakyung cemas.
Alesha tidak menjawab, ia hanya menatap kawannya itu dengan air mata.
"Alesha, apa yang terjadi? Kami mendengar keributan dari kamar Kakekmu tadi," kini Maudy yang bertanya.
Alesha tertunduk. Sungguh, ia tidak dapat berkata kata saat ini. Hatinya sangat sakit sebab merasa dikhianati oleh Jacob.
Dengan inisiatifnya, Maudy maju, dan memeluk tubuh Alesha untuk menenangkan kawannya itu.
"Hey, tidak apa, kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Kau tenangkan saja dulu dirimu, Al," ucap Maudy dengan lembut.
Bastian dan Aiden saling tatap. Ada apa dengan Alesha? Mereka sama sama menunjukkan tatapan bertanya, namun sejurus kemudian, mereka pun sama-sama menggelengkan kepala, tidak tahu ada masalah apa Alesha saat ini.
"Hiks, aku ingin ke kamar," ucap Alesha.
"Baiklah, kalau begitu, ayo." Maudy melepas pelukkannya dan menatap lembut pada Alesha.
Alesha menyeka air matanya lantas lanjut berjalan lemas menuju kamar lain di apartemen itu.
Sembari merangkul bahu Alesha, Maudy menoleh pada Nakyung, memberi isyarat untuk ikut bersamanya dan Alesha.
Nakyung menangkap cepat soal itu. Ia lantas menyusul Maudy dan Alesha menuju kamar.
"Bas, ada apa ini?"
"Aku tidak tahu, Aiden. Jangan tanya aku soal itu, dan dimana Mr. Jacob sekarang? Dia yang akan menjawabnya," jawab Bastian.
"Kakek, Jacob bener-bener gak bohong. Sama sekali gak bohong. Kakek udah tau semuanya sekarang, kan. Sekarang gimana, Kek? Apa usul Kakek?" Jacob menatap penuh harap pada Kakek Ujang setelah ia beres menjelaskan semuanya. Tentang Yuna, tentang alasan ia dulu menyamakan Alesha dengan Yuna, lalu perasaannya terhadap Yuna dan Alesha saat ini, dan semuanya! Tidak ada satu pun yang Jacob tutupi dari Kakek Ujang soal Yuna sekarang.
"Kakek, Alesha belum ingat semuanya. Dia salah paham, Kek." Jacob pasrah.
Kakek Ujang mengangguk. Ia mengerti permasalahan yang menimpa Alesha dan Jacob sekarang.
"Jacob harus kaya gimana, Kek?"
"Kakek yang bakal bantu jelasin ke Alesha nanti. Sekarang kamu tenangin diri aja. Sholat yang khusyuk, dan minta pertolongan sama Allah supaya dapet jalan keluar dari masalah ini," jawab Kakek Ujang dengan tenang.
"Jacob gak mau pisah sama Alesha, Kek. Jacob sayang dan cinta sama Alesha. Alesha udah bantu Jacob buat hidup di jalan yang benar. Dia perantara yang Allah kasih buat ubah dunia Jacob jadi lebih sempurna. Jacob gak mau kehilangan dia, Kek," lirih Jacob.
Sementara di dalam kamarnya, kini Alesha masih menangis setelah hampir satu jam berlalu. Ia juga sudah menceritakan semua yang terjadi pada dua kawannya itu, dan kini, Maudy juga Nakyung sama-sama tahu, ada kesalah pahaman yang terjadi antara Jacob dan Alesha.
"Hiks, aku membencinya! Dia memanfaatkanku, dia mengkhianatiku!"
Maudy dan Nakyung saling bersitatap bingung. Bagaimana cara mereka menjelaskan pada Alesha jika apa yang saat ini Alesha kira adalah salah. Alesha bisa marah pada mereka berdua.
Tok... Tok... Tok....
"Al..." suara Merina.
Pintu kamar itu sengaja Alesha kunci dari dalam.
"Itu Merina. Boleh dibuka pintunya, Al?" tanya Nakyung.
Alesha mengangguk. "Yang lain dilarang masuk!"
Nakyung menghembuskan napasnya dengan sabar. "Iya."
Lantas, Nakyung pun beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu. Sepersekian detik kemudian, saat pintu dibuka, sudah ada Merina, Tyson, Lucas, Bastian, Mike, dan Aiden di depan kamar itu.
"Alesha bilang hanya Merina yang boleh masuk," ucap Nakyung, pelan.
"Cepat, Nakyung!" sentak Alesha.
Lagi, Nakyung menghembuskan napasnya dengan tenang. "Maaf, kawan-kawan," ucapnya pada kelima kawan lelakinya. "Ayo, Merina." Ia menarik cepat lengan Merina untuk masuk, kemudian menutup kembali pintunya, dan tidak lupa menguncinya.
Di luar, kelima pria itu saling bersitatap heran, sampai beberapa detik kemudian, muncul Jacob.
"Dimana Alesha?" tanya Jacob sedikit panik.
__ADS_1
"Di dalam." Mike menunjuk ke arah kamar.
Tak membuang waktu, Jacob segera menghampiri pintu yang tertutup itu. Berniat untuk membukanya.
"CK, ah, dikunci!" dumalnya.
Tok.... Tok.... Tok....
"Alesha... Sayang..."
Di dalam kamar, Alesha menggeram, menatap marah ke arah pintu.
Tok.... Tok.... Tok....
"Lil Ale.... Sayang, buka pintunya. Aku mohon..."
Tok.... Tok.... Tok....
"Al.... Jangan seperti ini. Kita harus bicara."
Alesha membuang wajahnya dengan kasar.
"Alesha... Al, ayolah, Kakek sudah tau semuanya, aku sudah menceritakannya."
Masih tidak ada respon.
Tok.... Tok.... Tok....
"Alesha..... Al! Buka pintunya, atau akan aku dobrak. Al! Alesha... Bukan pintunya, Al!"
Alesha mendengus marah. Ia menutup kupingnya dan memejamkan matanya erat erat seperti orang frustasi.
Melihat itu, Nakyung sadar, Alesha butuh waktu untuk menenangkan diri, sementara kehadiran Jacob malah akan semakin menambah Alesha frustasi.
"Tidak apa, Mr. Jacob, Alesha bersamaku, Maudy, dan Merina. Kau tenang saja!" sahut Nakyung.
"Tidak, Alesha harus mendengar penjelasanku, Nakyung!" balas Jacob.
"Bisa kau pergi?" Alesha berteriak. "Carilah Yuna mu yang baru. Aku bukan Yuna mu!"
"Kau bukan Yuna, Al!"
Dug!
Jacob menonjok keras tembok di sebelahnya. Harus bagaimana lagi ia menjelaskan pada Alesha jika Alesha saja tidak mau mendengarnya?
"Mr. Jacob, bersabarlah. Kondisi Alesha akan semakin memburuk jika kau emosi seperti ini. Ingat, dia sedang hamil," ucap Lucas sembari merangkul bahu Jacob.
Jacob mendengus. Lucas benar. Ia tidak boleh terbawa emosi.
"Al..."
"PERGI! Aku tidak mau bermalam bersamamu!"
Kedua telapak tangan Jacob terkepal.
"Mr. Jacob, kita beri Alesha waktu bersama Nakyung, Maudy, dan Merina. Setidaknya sampai Alesha tenang dan tidur. Setelah itu, mereka akan keluar, dan kau bisa masuk ke dalam," usul Bastian.
"Hiks, aku membencinya!" Alesha memukuli bantal yang ada dalam pangkuannya. "Dia tidak mencintaiku."
"Al, tenanglah, ingat, kau sedang hamil sekarang," lirih Merina.
"Hiks. Bayi ini. Seharusnya dia tidak menghamiliku! Untuk apa pula? Dia tidak mencintaiku!"
Ketiga gadis disekitar Alesha saling bersitatap bingung. Sedikit saja mereka salah bicara, Alesha bisa marah.
Dan itu berlangsung sampai dua jam kemudian. Alesha lelah menangis. Ia memutuskan berbaring, dan memeluk guling. Sesegukkan masih menerpanya, tapi kedua matanya sudah terpejam, dan mulai terlelap pulas.
Merina mendapatkan pesan dari Mike sejak dua jam lalu, jika Alesha tidur, ia dan kedua temannya yang ada di dalam kamar itu untuk keluar dan digantikan oleh Mr. Jacob.
Sekarang adalah waktunya. Sepuluh menit berlalu, Alesha sudah benar-benar terlelap.
Merina, Nakyung, dan Maudy memutuskan untuk keluar kamar secara mengendap-endap.
Ceklek.
Refleks, Jacob dan kelima pria yang duduk bersamanya itu menoleh ke arah pintu.
"Alesha sudah tidur?" tanya Aiden.
Maudy mengangguk.
"Kau bisa ke dalam sekarang, Mr. Jacob," ucap Nakyung.
Jacob mengangguk. "Terima kasih banyak." Setelah mengatakan itu, ia bergegas masuk ke dalam kamar dimana istrinya berada. Begitu hati-hati ia menutup dan mengunci pintu kemudian menyembunyikan kunci itu di tempat yang tidak akan Alesha tahu.
"Lil Ale..." lirih Jacob. Ia naik perlahan ke atas kasur, lalu berbaring dengan sangat hati-hati, dan menempatkan dirinya tepat dihadapan Alesha. Berusaha membawa istrinya itu ke dalam pelukannya.
Tapi sayang, yang terjadi justru sebaliknya.
__ADS_1
Alesha terusik, dan menyadari siapa yang berada dihadapannya kini.
"PERGII!!!!"