Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Latihan Bertarung


__ADS_3

Sore hari di kantor SIO.


Jacob sedang sibuk berkutik dengan ponselnya sejak tadi. Ia duduk santai di pinggir jendela kamar.


Sedangkan Alesha, hampir tiga jam ia tertidur, kini istri Jacob itu bangun dengan mengerjapkan matanya beberapa kali.


"Eungh, Mr. Jacob...." Alesha merenggangkan tubuhnya sembari memanggil lirih suaminya.


Jacob yang mendengar namanya disebutkan pun menoleh ke arah suara tersebut.


"Alesha..." Sebelah alis Jacob terangkat. Ia memperhatikan istrinya yang beranjak bangun, dan terduduk manis di atas tempat tidur.


"Jam berapa sekarang, Jack?" Tanya Alesha sembari menggesekkan jarinya pada kedua matanya.


"Jam setengah empat, sayang," Jawab Jacob.


Tidak ada balasan.


Alesha berniat untuk mendekati suaminya itu.


"Aku tidur lama cukup, ya?"


"Jika kau masih mengantuk Kembali lah tidur," Balas Jacob.


"Tidak mau," Alesha menggelengkan kepalanya. Kini ia terduduk tepat di sebelah Jacob. "Jack, aku lapar."


"Kalau begitu makan lah. Kantin ada di ujung lorong sebelah kanan gedung asrama ini, Lil Ale," Jawab Jacob tanpa mengenyahkan tatapannya dari layar ponsel.


"Temani aku, Jack."


"Tidak ada penjahat di sini, sayangku. Tidak usah takut, katakan saja kalau kau Alesha, istriku," Balas Jacob.


"Hmm, baiklah," Sedikit kecewa, akhirnya Alesha pun pergi sendirian menunju kantin SIO.


Jacob sedang sibuk menghubungi para agent SIO, jadi ya boleh dibilang ia sedang tidak bisa diganggu dulu untuk saat ini.


"Hmm, ujung lorong sebelah kanan," Gumam Alesha. Ia menyusuri lorong besi yang panjang itu, sendirian.


Ketika sedang asik berjalan, tiba-tiba saja Alesha berpapasan dengan seorang pria tinggi besar yang nampak familiar namun asing.


"Alesha?"


Alesha mengerutkan keningnya saat mendapati keterkejutan yang pria itu tunjukkan.


"Alesha ini benar kau? Alesha, ya ampun!"


Alesha kebingungan. Sungguh. Ia menyipit kan kedua matanya, memperhatikan siapa pria yang ada dihadapannya itu.


"Kau pasti lupa padaku, Al. Aku Levin! Mr. Levin!" Pria itu berkata antusias.


Deg!


"Levin?" Gumam Alesha.


"Iya, aku Levin, Mr. Levin, Al!" Levin menggenggam erat kedua telapak tangan Alesha.


"Mr. Levin?" Ulang Alesha yang masih benar-benar kebingungan.


"Ya ampun, Al, bagaimana kabarmu? Kau tahu aku sangat khawatir setelah tahu kau menghilang. Kami mencarimu, aku, Jacob, teman-temanmu, dan anak buah ibu mertuamu mencarimu, Alesha! Kau tahu, aku sangat bahagia saat mendengar kabar dari Bastian kalau kau sudah ditemukan dan berada di WOSA bersama Jacob, tapi aku sangat sedih karna kau amnesia yang itu tandanya kau juga pasti lupa padaku."


"Uhmm..." Alesha tersenyum kikuk. Sepertinya pria yang bernama Levin itu sangat mengenalnya, meski ia sendiri masih lupa siapa pria itu.


"Tapi aku sangat senang karna sekarang aku bisa bertemu lagi denganmu," Kini Levin mengusap pelan puncak kepala Alesha. "Oh ya, kau mau kemana? Biar aku antarkan."


"Hmm, a-aku, mau ke kantin," Jawab Alesha, ragu.


"Ayo, kalau begitu aku akan mengantarkanmu."


Ajakkan Levin barusan sedikit membuat Alesha merasa gugup dan canggung. Tapi, kalau dilihat-lihat, wajah Levin seperti tidak asing untuk Alesha.


Singkatnya, mereka berdua pun tiba di kantin. Alesha duduk dibangku panjang, begitu pula dengan Levin yang terduduk tepat dihadapan Alesha.


"Kau mau makan apa? Biar aku pesankan," Tawar Levin.


"A-aku tidak tahu menu makanannya," Jawab Alesha.


"Kalau tidak salah, kau suka makanan pedas bukan? Dan kau juga berasal dari Indonesia, ah aku tahu! Bagaimana kalau ayam rica-rica?" Usul Levin yang tampak antusias.


"Ayam rica-rica?" Ulang Alesha. Kadang Rangga suka memasakkannya makanan itu. "Memangnya di sini ada?" Tanyanya.


"Awalnya tidak. Namun Laras, dia juga sama, berasal dari Indonesia sepertimu, dia yang mengusulkan untuk menambah menu makanan itu, dan orang-orang di sini menyukai makanan itu," Jawab Levin. "Mau tidak?"


"Hmm... Boleh," Alesha mengangguk.


"Baiklah, kalau begitu tunggu di sini sebentar," Ucap Levin seraya bangkit berdiri lalu berjalan untuk mengambil jatah makannya juga Alesha.


Sementara Jacob. Ia yang kini masih berada di kamarnya pun mulai merasa bosan sebab ketidak hadiran sang istri tercinta.


"CK, Alesha lama sekali!" Dumal Jacob. Lalu ia membawa dirinya untuk bangkit, dan mulai berjalan untuk menyusul Alesha. Namun, saat di tengah perjalan, Jacob mendapati ponselnya yang berdering. Mona, kakaknya lah yang menelponnya.


"Hallo, Mona, ada apa?" Tanya Jacob.


"Jack, kau kapan akan kembali ke Indonesia?" Tanya balik Mona.


"Entah lah, Mona, mungkin tidak akan lama lagi. Ada apa memangnya?"


"Aku ingin rapat bersamamu, dan pimpinan anak cabang perusahaan yang lain secepatnya."


"Apa perusahaan ibu sedang mengalami masalah, Mona?"


"Tidak. Tapi aku ingin membahas tentang pengunduran diri dari jabatanku sebagai CEO utama induk perusahaan ibu."


"APA?" Pekik Jacob.


"Jack, aku pikir sudah cukup untukku memimpin induk perusahaan besar ini. Sekarang adalah giliranmu. Kau satu-satunya anak laki-laki ibu."


"Tidak! Mona, aku tidak bisa jika harus memimpin induk perusahaan ibu sekarang!" Potong Jacob, cepat.


"Kenapa?"


"Masih banyak tugas yang perlu aku selesaikan, dan SIO pun memintaku untuk menjadi agent kembali, Mona!"


"Tapi, Jack, aku sedang hamil saat ini. Apa kau tega padaku?"


Deg!


Jacob tertegun seketika.


"Kumohon, Jack. Sementara saja sampai aku melahirkan nanti," Mona terdengar lirih.


"Mona, akan sulit untukku jika harus menggantikan posisimu saat ini. Aku juga harus melindungi induk perusahaan ibu karna SIO sedang menghadapi komplotan mafia. Jika terjadi sesuatu yang buruk pada SIO, induksi perusahaan ibu juga akan terkena imbasnya mengingat seperempat saham SIO adalah milik ibu. Tolong beri waktu hingga kau hamil lima atau empat bulan. Setelah itu aku akan menggantikan posisimu."


"Huftt... Baiklah, Jack," Mona terdengar kecewa.


"Maaf, Mona," Jacob sedikit menyesal.


"Tidak apa, Jack. Tapi kau harus berjanji untuk menggantikan posisiku sementara waktu saja sampai aku melahirkan nanti," Ucap Mona.


"Iya, Mona. Tapi hanya sementara waktu saja, tidak lebih.


"Iya! Oh ya, jika kau akan kembali ke Indonesia segera kabari aku! Aku menyuruh Irene untuk mewakilkanku dalam rapat tahunan di Jakarta."


"Baiklah."


"Ya sudah, kalau begitu aku akan tutup telponnya. Kau jaga dirimu, dan Alesha!"


"Iya, Kakakku yang cantik," Balas Jacob dengan nada meledek.


"Oke, bye.."


"Byee..."


Sambungan telpon terputus.


Jacob menghembuskan napasnya. Peningnya mulai terasa sakit. Kakaknya, Mona ternyata sedang hamil saat ini, dan ia diminta untuk menggantikan posisi kakaknya itu sebagai CEO utama induk perusahaan besar sementara waktu.


Tidak apa. Hanya sementara waktu sampai Mona beres melahirkan nanti, dan mungkin tambahan beberapa waktu sampai Mona benar-benar pulih pasca melahirkan.


Lalu Jacob kembali melanjutkan langkahnya menuju kantin. Namun, ketika sampai, alangkah terkejutnya Jacob sebab mendapati istrinya sedang makan bersama Levin, si rival. Ya! Meski hubungannya dengan Levin sudah jauh lebih baik begitu pun dengan Eve, namun ia tetap menganggap Levin juga Eve sebagai rival kerjanya.


"Alesha!" Panggil Jacob sedikit membentak. Ia merasa cemburu!


"Jack?" Alesha, dan Levin sama-sama menatap pada Jacob.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Jacob sinis pada Levin.


"Huh, Jacob... Jacob..." Levin terkekeh sembari menggelengkan kepalanya. Ia sudah bisa menebak pasti Jacob sedang cemburu. "Tidak usah berlebihan seperti itu bisa tidak? Aku sudah memiliki istri, dan anak. Tenang saja, aku sangat mencintai istri dan anakku."


Jacob tidak membalas dengan perkataan apapun, melainkan terus memandang sebal pada Levin.


"Sayang, kau sudah selesai makannya?" Tanya Jacob yang mengalihkan tatapannya pada Alesha.


"Sedikit lagi, Jack," Jawab Alesha.


"Kalau begitu lanjutkan makanmu," Jacob tersenyum sembari mengusap pelan puncak kepala istrinya.


Alesha hanya mengangguk kecil sebagai balasan. Kemudian ia kembali melanjutkan makannya yang mungkin hanya tersisa beberapa suapan lagi.


Tidak ada percakapan yang terdengar selama Alesha makan. Levin sibuk memainkan ponselnya karna ia telah lebih dulu menyelesaikan sesi makannya, sedangkan Jacob, ia lebih memilih untuk memperhatikan istrinya dari pinggir.


Manis.


Satu kata itu mungkin cukup untuk menggambarkan apa yang ada dalam pikiran Jacob tentang istrinya.


Alesha.... Aku harap kau tidak akan mengingat tentang Yuna. Aku takut kau akan marah jika tahu kalau dulu aku sering menyamakanmu dengan Yuna. Sekarang sudah beda, sayang. Aku benar-benar mencintaimu bukan karna kau sama atau mirip dengan Yuna. Aku bersungguh-sungguh sudah melepaskan, dan mengikhlaskan Yuna pergi, juga perasaanku kini padanya hanya sebatas hambar yang datar. Yuna adalah masa laluku, aku memang sangat mencintainya waktu itu, namun WAKTU ITU! Tidak dengan saat ini, sayang. Jangan sakiti dirimu dengan mengingat-ingat kembali Yuna. Dia sudah pergi, dan tidak akan pernah kembali. Begitu pun perasaanku padanya tidak akan pernah kembali lagi. Aku hanya ingin kau tetap bersamaku, dan tetap mencintaiku karna aku juga sangat amat mencintaimu, My Lil Ale.... Ucap Jacob dalam hatinya.


"Sudah selesai, sayang?" Tanya Jacob saat mendapati istrinya yang sudah menghabiskan satu porsi makanan di atas piring.


Alesha mengangguk lugu. "Sudah."


Lagi-lagi Jacob tersenyum. Oh ya ampun, Alesha benar-benar manis saat ini. Tetapi sepersekian detik kemudian, Jacob menyadari satu hal.

__ADS_1


"Kau tidak memakan makananmu dengan rapih, Lil Ale," Ucap Jacob, dan sejurus kemudian.


Deg!


Alesha tercekat! Tubuhnya membatu seketika saat Jacob mencium, dan mengelap sisa makanan disudut bibirnya menggunakan lidah.


Levin yang melihat itu pun hanya bisa menghela, dan menghembuskan napasnya dengan sabar. Drama macam apa ini? Pikir Levin. Dasar Jacob!


"Sudah!" Ucap Jacob sembari mengelap bibir Alesha yang basah karna terkena jilatan lidahnya.


Lalu Alesha? Jangan tanya. Wajahnya sudah merah padam, panas diseluruh tubuhnya menandakan jika ia begitu malu, dan tersipu atas tindakan Jacob barusan.


"Manis," Jacob menoel gemas ujung hidung Alesha. "Ayo, aku ingin mengajakmu ke sebuah tempat."


Alesha tidak membalas apapun. Ia hanya menuruti ucapan suaminya itu sambil tetap menundukkan wajahnya.


"Hey, dia baru selesai makan!" Tegur Levin.


"Aku tahu, hanya saja di sini kami tidak bisa menikmati waktu kami berdua!" Balas Jacob.


Levin memutar kedua bola matanya dengan jengah.


"Sudah, ayo, sayang," Jacob meraih pergelangan tangan istrinya. "Kami pergi dulu, Levin."


"Hmm..." Levin membalas malas.


"Ayo, Lil Ale."


Kemudian, Jacob membawa istrinya itu untuk berjalan menuju sebuah ruangan dimana sudah terdapat dua orang yang menunggunya juga Alesha di ruangan itu.


Alesha tidak tahu. Ia hanya mengikutinya saja kemana Jacob akan membawanya.


Jack, apa maksudnya tadi? Kau membuatku sangat malu..... Gumam Alesha dalam hati. Ia jadi tersenyum-senyum sendiri, dan sedikit melipatkan bibirnya.


Selalu saja Jacob seperti itu, mencium secara tiba-tiba. Namun Alesha suka, ia tidak mau menyangkal hal tersebut. Beberapa bulan kembali bersama, Alesha tahu jika dirinya begitu mencintai Jacob. Memang belum semua ingat yang Alesha terima tentang kenangannya bersama Jacob, namun ingatan-ingatan yang ada sudah cukup untuknya membuktikan jika ia benar-benar mencintai pria besar itu.


Kesabaran, keikhlasan, kelembutan, dan kasih sayang selalu Alesha rasakan. Perilaku Jacob yang seperti itu tidak akan pernah terlupakan oleh Alesha. Saat-saat dimana dengan ketegaran hati, dan ketekukan yang begitu besar, Jacob membimbingnya secara perlahan untuk mendapatkan kembali ingatan dan kenangan lama.


"Mr. Jacob...." Panggil Alesha sangat pelan.


"Hmmm, iya, sayang?" Jacob menyahut lembut.


"Kau tuan mentor yang galak, tegas, dan menyebalkan. Itu yang aku ingat," Alesha pun tertawa kecil. "Tapi disisi lain, kau adalah pria yang begitu penyabar, dan penyayang. Kau bahkan mengajariku tentang semua materi yang aku lupakan. Dan sekarang? Terima kasih, Mr. Jacob, aku jadi ingat semua yang sudah guru WOSA, dan kau ajarkan sebelum aku mengalami amnesia, meski pun aku rasa masih ada beberapa lagi yang belum aku ingat," Terdengar seperti lelucon, namun Alesha bersungguh-sungguh dengan ucapannya itu.


"Aku galak, tegas, dan menyebalkan. Tapi kau mencintaiku, Lil Ale."


Cup....


Alesha sedikit tersentak karna lagi dan lagi Jacob mencium bibirnya secara mendadak.


"Iya, Mr. Jacob. Aku memang mencintaimu, dan aku tidak akan pernah melupakan lagi ucapanku sewaktu kita bulan madu dulu, yaitu aku meminta padamu supaya jangan pernah tinggalkan aku," Balas Alesha.


"Tenang saja, Al. Apapun masalah nanti, aku tidak akan pernah meninggalkan, dan melepaskanmu," Jacob mencubit gemas kedua pipi istrinya.


Tidak terasa, mereka berdua ternyata sudah tiba di tempat tujuan yang letaknya relatif dekat dengan kantin.


"Haii...." Sapa ramah Jacob pada dua orang pria yang sudah menunggunya, dan Alesha.


"Sayang, saat ini aku ingin kau bertarung dengan dua pria itu," Ucap Jacob sembari menunjuk pada dua orang pria yang merupakan teman berlatih bela dirinya di kantor SIO.


"A-apa?" Alesha terlonjak kecil, dan langsung menatap penuh keterkejutan, dan ketidak percayaan pada Jacob. "Jack, kau tidak sedang berusaha untuk menyakitiku, kan?"


Mendengar itu, tawa kecil Jacob pun timbul. "Bagaimana bisa aku menyakiti peri kecilku ini," Ia mencubit gemas kedua pipi istrinya.


"Aww!!" Alesha meringgis.


"Hadapi mereka, sayang. Tunjukkan kemampuan bela dirimu," Lanjut Jacob yang disusul oleh sebuah ciuman singkat dibibir Alesha. "Ayo!"


"Jack, aku tidak bisa!" Alesha tidak yakin pada dirinya sendiri. Ia khawatir kalau ia akan menjadi bulan bulanan kedua pria itu.


"Tidak ada kata tidak bisa, Sweetheart, menghadapi mereka seharusnya bukan hal sulit untukmu," Jacob membalas santai.


"Bukan yang sulit katamu! Hey! Mereka lelaki bertubuh tinggi besar yang pastinya pandai bertarung, dan aku harus melawan mereka?" Pekik Alesha.


"Jangan banyak bicara, sayangku. Kau belum mencobanya, kan? Jadi, ayo. Sekarang..." Jacob mengangkat tubuh Alesha untuk berdiri di atas arena latihan bertarung. "Hadapi mereka, dan jangan berhenti sebelum kau menang. Mengerti? Semangat, istriku."


Cup...


Tidak lupa Jacob memberikan ciuman lembut lagi pada bibir ranum Alesha. Itung itung memberikan semangat.


"Argh! Jack!" Alesha mendengus sebal. Ia marah? Ya! Kenapa pula Jacob menyuruhnya untuk menghadapi dua pria bertubuh tinggi besar, dan kekar, dan sepertinya sangat kuat. Oh ayolah, Alesha memutar kedua bola matanya dengan jengah. Jacob itu memang sangat menyebalkan!


"Posisi siap, Alesha!" Jacob memberikan intruksi. Ia melipatkan kedua lengannya dengan tubuh tegap, dan arah mata yang terfokus pada istrinya.


"Hitungan ketiga memulai menyerang! Satu..."


Alesha bersiap siaga, menatap intens pada kedua pria yang akan menjadi lawan bertarungnya dalam latihan kali ini.


"Dua..."


Aku tidak bisa aku tidak bisa aku tidak bisa..... Sungguh, Alesha gemetar, dan ragu.


"Tiga!"


Refleks, Alesha membungkukkan tubuhnya saat tiba-tiba saja seorang pria maju, dan akan menyerangnya.


"Bugh!"


Alesha menendang dengan cepat juga keras punggung si pria tersebut, dan kini giliran pria yang satunya lagi.


"Argh! Sakit!" Alesha memekik karna ia gagal menghindari pukulan mentah yang dilayangkan oleh pria yang lain.


"Brugh!"


"Aaaaaa!!!! Ish! Awas kau!" Alesha terhuyung, terjatuh, dan langsung bangkit dengan rasa kesal dalam hatinya.


"Bugh! Bugh! Bugh! Jedug!"


"Argh!"


Pria yang tadi berhasil menonjok perut Alesha kini menghantam dinding dengan sangat keras karna Alesha yang menendang dadanya.


"Aaaaaaaaa, sakit!!!!!" Alesha meronta sekuat tenaga karna tubuhnya dikunci dengan sangat kuat oleh pria satunya. "Lepaskan aku!"


Jacob tidak berkutik sama sekali. Ia masih begitu fokus melihat istrinya yang sedang berlatih bela diri.


"Iiiiiiiiihhhhh!!!!" Alesha menggertakkan giginya dengan sangat sangat kesal. "Awas kau!!" Ia memekik lalu mencoba untuk menendang pria yang menahannya menggunakan kaki dari arah bawah.


"Lepaskan aku!"


Dug!


"Argh!" Pria yang menahan Alesha langsung terjatuh saat Alesha berhasil menendang area sensitifnya. Untung saja tidak kencang.


"Uuhh, maaf...." Dan bodohnya Alesha malah menunjukkan raut bersalah pada lawan berlatihnya itu. Tidak! Seharusnya itu tidak boleh terjadi! Alesha harus fokus!


Plak!


Jacob menepuk keningnya sendiri. Sudah beberapa kali ia menekan kan pada Alesha untuk fokus bertarung jika sedang menghadapi lawan, entah itu hanya lawan berlatih atau pun lawan sungguhan, tapi Alesha. Ya ampun, Jacob harus bagaimana lagi menegaskan pada istrinya itu?


"Aaaaa!! Sakit tahu!!!" Lagi-lagi Alesha berteriak kencang karna tubuhnya yang didorong cukup kencang sampai membentur tembok.


"Jack!! Cukup!" Alesha melengkingkan suara. Berharap Jacob akan mengakhiri sesi latihan ini.


Tapi apa? Tentu saja tidak. Jacob perlu tau sejauh mana Alesha bisa bertahan ketika berhadapan dengan lawan bertarung.


"Argh!" Alesha kembali terhuyung, dan nyaris terjatuh saat pria yang mendorongnya itu menarik, dan menghempaskan tubuhnya begitu enteng.


"Hey!!" Alesha menghentakkan kaki dengan kesal. "Kemari maju! Hadapi aku! Kalau perlu kita bertarung sampai ada yang mati! Lagi pun tidak masalah jika aku mati karna mungkin itu lah yang diharapkan oleh pria besar yang berdiri santai sembari melipatkan tangan di sana!" Alesha menyindir suaminya. Ugh! Ia sangat sebal pada Jacob!


"Fokus, sayangku, ucapanmu itu tidak akan membuatmu menang, Lil Ale," Balas Jacob diikuti oleh kekehan kecil.


"Maju cepat! Biarkan pria itu melihat istrinya yang mati karna latihan bertarung bersama dua pria besar yang sangat ahli dalam bela diri!"


Kedua pria yang menjadi lawan latihan bertarung Alesha pun hanya bisa tertawa kecil sebab melihat istri kawannya yang marah-marah.


"Kalian lama! Biar aku yang duluan!"


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Alesha mulai berani melayangkan beberapa pukulan, dan menghindar dengan sangat cepat saat mendapat serangan balik.


"Jangan ragu untuk memukulku agar pria di sana puas melihat aku yang habis dihajar oleh kalian!!" Lagi-lagi Alesha berteriak dengan penuh emosi.


"Alesha.... Alesha...." Jacob menggelengkan kepalanya sembari tertawa kecil.


"Argh!! Kalian curang!!..... Satu-satu!!" Alesha berusaha keras untuk menghindari pukulan pukulan yang dilayangkan oleh dua pria itu sekaligus.


Bugh!


"Ugh!"


"Yes! Alesha menang!!"


Satu tonjokkan matang sukses Alesha daratkan begitu mulus diwajah salah satu pria.


"Aaaaaa!!!! Ish! Lepaskan aku!" Alesha memutar sekuat tenaga tubuhnya agar terbebas dari cengkraman pria yang lain.


"Argh!" Pria yang menahan tubuh Alesha barusan meringgis karna Alesha yang mendorong, dan menendang kencang dadanya.


Bugh!


Bugh!


Dag!


Jedug!

__ADS_1


"Argh!"


Plak!


Bugh!


Bugh!


Alesha begitu sibuk menjual belikan serangan, dan melakukan hindaran dengan sangat cepat. Kewalahan? Tentu! Sangat sangat amat kewalahan! Bayangkan! Seorang wanita yang belum banyak menguasai teknik bela diri harus berhadapan dengan dua pria yang bukan lain adalah agent hebat yang pastinya sangat pandai dalam hajar menghajar lawan.


"Argh! Cukup!" Alesha terhuyung, dan terjatuh cukup keras.


"Bangun!" Ucap salah satu pria dengan tegas.


"Tidak, tidak mau! Cukup!" Alesha menggelengkan kepalanya. Oh ya ampun, tubuhnya sudah remuk, dan lelah. Ia sangat lemas, dan tidak sanggup lagi jika harus melanjutkan latihan bela diri ini.


"Alesha, bangun! Hadapi mereka!" Titah Jacob cukup tegas.


"Tidak mau, Jack, aku lelah, tubuhku sakit," Balas Alesha, pasrah.


"Sayang, hadapi mereka sekali lagi. Ayo, kau tidak boleh menyerah seperti itu, Lil Ale!" Jacob menyemangati istrinya.


"Tidak mau," Sekali lagi Alesha menggelengkan kepalanya. Menolak begitu pasrah. Ia sudah sangat lelah. Tidakkah Jacob mengerti itu?


Sedangkan Jacob, ia menggerakkan kepalanya pelan untuk memberikan isyarat agar kedua temannya itu mulai menyerang Alesha kembali.


"Angkat tubuhnya!" Ucap Jacob untuk memperjelas maksudnya.


"Jack, kau yakin?" Salah seorang dari dua pria itu bertanya.


Jacob mengangguk pasti.


"Tidak mau, Jack, aku lelah, tubuhku sakit," Alesha memohon pada suaminya.


"Sekali lagi, sayang," Balas Jacob.


"Tidak mau, Jack, hiks," Air mata Alesha mulai menggenangi kelopaknya. Ia mulai menangis karna tidak sanggup lagi jika harus melawan dua kawan suaminya itu.


"Hitungan ketiga! Satu!"


"Jack, cukup, hiks."


"Dua!"


"Hiks, hiks," Alesha mencoba untuk bangkit dan menghadapi dua lawan berlatihnya itu lagi. Namun ia tidak yakin ia bisa. Mungkin ia lebih memilih kalah saja.


"Posisi siap, sayang!"


"Jack, sudah, hiks," Meski dengan tangisan, Alesha pun menuruti ucapan suaminya untuk bersiap bertarung kembali.


"Maju, dan mulai lah pertarungan dari mu, Lil Ale!" Tegas Jacob. "Tiga!"


Bugh!


"Hiks, hiks."


Alesha kembali menjual belikan serangannya, meski pun diiringi oleh tangisan ketidak mampuan.


Bugh! Bugh!


"Bagus, Alesha," Gumam Jacob.


"Argh!"


Satu tendangan keras Alesha berhasil melumpuhkan salah seorang pria.


Bugh!


Dug!


Bugh! Bugh! Bugh!


Tubuh Alesha bergetar sebab sesegukannya. Air mata pun tak mau henti. Oh ayolah sampai kapan ia harus berlatih keras seperti ini?


Bugh!


Bugh!


Brak!


"Ugh!" Pria yang satu lagi memegangi perutnya saat Alesha sukses melayangkan bogem mentah.


Namun sejurus kemudian.


"Aaaaaaaa!!! Cukup!!! Hiks, aku tidak kuat lagi, hiks. Aku lelah...." Alesha menghindari sebuah gumpalan tangan yang melesat cepat ke arahnya dengan berjongkok sembari menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya.


"Jack..... Hiks, sudah, aku tidak mau lagi, hiks," Alesha menggelengkan kepalanya.


"Jack, aku rasa sudah cukup. Aku tidak tega jika harus melanjutkannya," Ucap salah seorang pria yang menjadi lawan berlatih Alesha.


Jacob terkesiap ketika melihat istrinya yang berjongkok pasrah sembari menangis. Lalu cepat-cepat ia pun berlari memasuki arena berlatih, dan menghampiri istrinya.


"Sayang...." Jacob menangkup wajah Alesha.


"Hiks, Jack, tubuhku sakit, sudah cukup, aku lelah, hiks," Alesha memandang sendu pada suaminya.


Oh ya ampun, rasanya tidak tega sekali Jacob saat ia mendapati kedua garis alis, mata, dan ujung hidung Alesha yang memerah karna menangis.


"Baiklah, baiklah sudah cukup latihan hari ini. Maaf aku terlalu memaksamu, sayang," Balas Jacob. Ia mencium singkat bibir Alesha lalu kemudian memeluk dengan erat tubuh istri tercintanya itu.


"Terima kasih sudah membantu," Ucap Jacob pada kedua kawannya.


"Sama-sama, Jack," Balas kedua kawan Jacob tersebut.


"Bagian mana yang sakit? Hmm.." Jacob bertanya lembut.


"Kaki, tangan, dan perutku, hiks," Jawab Alesha.


"Sudah tidak apa-apa. Ayo, sekarang kita kembali ke kamar," Perlahan, Jacob membantu Alesha untuk berdiri, dan berjalan.


...*****...


Sementara itu, di rumah sakit daerah Bandung, Nakyung, Maudy, dan Merina baru saja siuman setelah satu hari lebih mereka pingsan.


"Na, apa kau tidak tahu siapa yang mengejar, dan menghajarmu juga Maudy, dan Merina?" Tanya Aiden pada Nakyung.


"Entahlah, aku tidak mengenali mereka sama sekali," Jawab Nakyung.


"Aku curiga kalau mereka adalah anak buah Theo, dan Theora," Sahut Tyson. "Mereka baru saja kabur dari tahanan SIO, bukan?"


"Kalau memang iya, itu berarti SIO harus sangat berhati-hati. Jaringan mafia itu pasti memiliki sebuah rencana," Sambung Mike.


"Tapi kenapa mereka menyerang Nakyung, Maudy, dan Merina secara tiba-tiba?" Tanya Lucas.


"Apa mungkin mereka mengincar sesuatu dari kalian bertiga?" Bastian menatap bingung pada ketiga kawan perempuannya.


"Kalau iya. Lalu sesuatu apa itu?" Tanya balik Merina.


Semua nampak berpikir. Terlihat jelas raut-raut keseriusan pada wajah mereka.


Tring... Tring... Tring....


Bunyi dering ponsel milik Bastian.


"Mrs. Laras menelponku," Ucap Bastian pada kawan-kawannya.


"Cepat angkat!" Ucap Tyson.


Bastian mengangguk. Lalu ibu jarinya menggeser layar bulat hijau kecil dilayar ponselnya itu.


"Hallo, Mrs. Laras, ada apa?" Tanya Bastian.


"Bas, bisa kau datang ke kantor SIO bersama Mike, Aiden, Lucas, dan Tyson sekarang? Ada hal yang perlu kita bicarakan bersama para agent SIO yang lain."


"Kami berlima? Ehm, Mrs. Laras, maaf, tapi jika berlima ke sana, lalu siapa yang akan menjaga Nakyung, Maudy, dan Merina? Aku khawatir jika harus kami meninggalkan mereka," Jawab Bastian.


"Hmm, begitu ya. Baiklah, kalau begitu aku minta dua orang saja yang datang ke kantor SIO saat ini, sisanya tetap di rumah sakit untuk menjaga Nakyung, Maudy, dan Merina."


"Baik, Mrs. Laras."


"Oke. Aku tunggu secepatnya di sini."


"Iya."


Tut... Tut... Tut...


Sambungan telepon terputus.


"Mrs. Laras meminta dua orang untuk pergi ke kantor SIO saat ini," Ucap Bastian. "Siapa yang mau pergi?"


"Aku saja," Lucas mengangkat tangannya.


"Aku juga," Disusul Mike yang turut mengangkat tangannya.


"Ada apa memangnya, Bas?" Tanya Merina.


"Entah, Mrs. Laras bilang ada hal yang perlu dibicarakan," Jawab Bastian.


"Ayo, Mike," Ajak Lucas.


"Kalian berhati-hatilah di jalan," Ucap Aiden.


*


*


*


*


*

__ADS_1


Ceritanya masih berlanjut ya🤗🤗 (but still slow update. Sorry 🙏😭)


__ADS_2