Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Mentor Baru?


__ADS_3

"Semuanya, sini," Ajak Jacob pada Bastian, dan ketujuh kawannya.


"Ada apa, Mr. Jacob?" Tanya Aiden.


"Ada sesuatu yang harus kita bicarakan, tapi jangan ada yang beri tahu Alesha tentang hal ini," Ucap Jacob.


"Sesuatu yang harus dibicarakan? Apa itu, Mr. Jacob?" Tanya Tyson. Ekspresi bingung pun langsung terukir jelas pada raut wajahnya.


Tidak. Bukan hanya Tyson, tapi yang lain juga. Mereka begitu penasaran hingga wajah mereka berjarak begitu dekat dengan Jacob.


"Huft..." Jacob menghembuskan napasnya. "Jadi begini......" Jacob pun mulai bercerita, dan menjelaskan semua hal yang sedang menimpa SIO, dan WOSA. Dimulai dari pencurian sampel virus, dan tanaman anggrek hitam Papua di laboratorium WOSA oleh kelompok mafia, lalu menjelaskan siapa kelompok mafia yang sedang bermasalah dengan SIO saat ini, dan tugas Bastian juga kawan-kawannya untuk ikut serta mengamankan kantor SIO bersama Levin.


"Tujuanku mengumpulkan kalian di sini adalah untuk memberitahu kalian tentang misi berat yang harus kalian hadapi. Tyson, dan Mike, kalian sudah pernah ikut dalam misi bukan bersama Levin?"


Mike, dan Tyson langsung mengangguk kepada Jacob.


"Misi kali ini akan jauh lebih berbahaya. Ingat apa yang sudah aku ajarkan! Tidak ada yang boleh egois! Sebisa mungkin kalian harus kompak, dan berpikir cepat. Mungkin Levin akan tiba di sini dua hari lagi, aku sudah meminta izin pada kantor SIO untuk meliburkan kalian selama dua hari itu untuk bersiap, dan melatih kembali kemampuan kalian!" Tegas Jacob.


"Lalu bagaimana dengan Alesha?" Tanya Merina.


"Dia tidak akan ikut bersama kalian karna ada Alshiba yang sangat membutuhkannya sekarang..."


"Aku setuju!" Seru Maudy. "Alesha baru melahirkan. Akan sangat berbahaya jika ia ikut serta, apalagi ada Alshiba yang mesti dia urus."


"Kau benar, aku juga setuju, akan lebih baik jika Alesha tidak ikut. Aku kasihan pada Alshiba jika sesuatu yang buruk menimpa Alesha seandainya Alesha ikut dalam misi kali ini," Sambung Nakyung.


"Jadi, intinya dua hari ini kalian akan kembali berlatih keras untuk menyiapkan diri. Aku sendiri yang akan langsung mengawasi kalian!" Ucap Jacob yang melanjutkan bicaranya.


"Di sini? Bagaimana kalau Alesha curiga?" Tanya Lucas.


"Itu urusanku, yang pasti kalian harus bersiap-siap. Kelompok mafia itu sedang mengintai kantor SIO tempat kalian bekerja, jadi kalian harus sangat berhati-hati," Jawab Jacob.


"Jack, aku harus pergi sekarang, aku harap kau mau menerima tawaran itu. Kami membutuhkanmu sekarang, Jack," Ucap Profesor Martin bersamaan dengan permohonannya.


"Aku akan pikiran itu, dan aku akan segera berikan keputusan secepatnya," Jawab Jacob.


"Baiklah kalau begitu, kami berharap besar padamu, Jack," Profesor Martin menepuk bahu Jacob. "Aku pergi dulu."


Jacob hanya mengangguk kecil. Ia menundukkan kepalanya sembari memikirkan keputusan yang harus segera ia ambil.


Beberapa hari lalu, Jacob menerima sebuah surat pernyataan dari SIO yang berisi sebuah permohonan agar Jacob mau kembali membantu SIO untuk memberantas sekelompok jaringan mafia yang belum lama ini menyerang WOSA untuk mendapatkan sampel virus XXX, dan tanaman anggrek hitam Papua.


"Jack...."


Panggilan lembut barusan membuat Jacob terbuyar dari lamunannya.


"Alesha?" Jacob tersenyum kikuk saat mendapati kehadiran istrinya, Alesha.


"Apa yang kalian lakukan di sini? Kenapa aku tidak diajak?" Tanya Alesha dengan raut kecewanya. Bagaimana bisa Bastian, dan yang lain berkumpul bersama Jacob tanpa mengajaknya? Pikir Alesha. Sangat menyebalkan.


"Tidak apa-apa, aku hanya sedang menanyakan pada mereka tentang perkembangan mereka selama satu tahun bekerja di SIO," Jawab Jacob sembari mengelus lembut kepala istrinya yang terbaluti oleh kerudung.


Tetapi Alesha merasa curiga. Seperti ada yang mengganjal, dan ditutup-tutupi darinya.


"Aku tidak mau berpikiran kalau kau berbohong padaku, Jack. Apa yang kalian bicarakan? Tadi juga ada salah satu profesor SIO, pasti ada hal penting yang kalian tutupi," Ucap Alesha bernada serius.


"Tidak, sayang. Tadi itu profesor Martin, dia ke sini untuk memantau kantor baru SIO, dan mumpung berada di Indonesia jadi ia menyempatkan untuk berkunjung, dan bermain ke sini. Maklum aku kan salah satu agen terbaik SIO, jadi ya apa salahnya jika ia ingin menemuiku hanya untuk sekedar bersilaturahmi," Balas Jacob, santai.


"Dih, sombong," Kekeh Alesha.


Jacob tersenyum kikuk. Untung saja ia masih memiliki alasan untuk menutupi hal yang tadi ia bicarakan dengan anak-anak asuhnya, juga Profesor Martin. Meski cepat atau lambat Alesha pasti akan tahu. Hanya saja, yang terpenting sekarang untuk Jacob adalah menjauhkan Alesha dari kelompok mafia itu. Jacob tahu risikonya berhadapan, dan bertarung langsung dengan musuh.


Bukan Jacob tidak yakin, dan tidak percaya pada kemampuan Alesha, namun Jacob tidak mau istrinya itu ikut dalam dunia keras dimana memberantas, dan membunuh musuh adalah pekerjaan utamanya. Jacob hanya ingin menjaga Alesha, apalagi sekarang ada anak mereka, Alshiba. Jacob harus semakin ekstra menjauhkan, dan menjaga dua orang tercintanya itu dari manusia-manusia jahat, dan berbahaya.


"Al, dimana, Alshiba?" Tanya Merina.


"Dia di kamar sedang tidur," Jawab Alesha.

__ADS_1


"Yasudah, kalau begitu aku, dan Alesha pergi dulu ya," Ucap Jacob pada kedelapan anak asuhnya. Ia pikir untuk saat ini membawa Alesha menjauh dari teman-temannya adalah cara terbaik supaya Alesha tidak lebih banyak bertanya, dan tidak semakin curiga.


...*****...


Di dalam kamar, kini Alesha dan Jacob asik berbincang-bincang sembari terduduk nyaman diatas kasur.


"Kau manis, itu yang membuatku tertarik untuk pertama kalinya."


Jacob mengelusi bibir ranum Alesha menggunakan ibu jarinya. Smirk menawan pun terukir ketika kenangan saat ia, dan Alesha sama-sama menikmati ciuman mereka di tepi pantai kala itu.


Jacob ingat, ia mencium langsung bibir Alesha sedang Alesha sendiri dalam keadaan sadar, dan tidak sedang tertidur saat itu.


"Alesha, apa kau ingat saat aku menciummu waktu itu di tepi pantai?" Tanya Jacob yang terkesan menggoda.


Alesha tertunduk malu setelah mendapat pertanyaan dari suaminya itu. Tentu saja ia ingat, bagaimana ia bisa lupa kejadian malam itu ketika Jacob memeluknya dari belakang, lalu tiba-tiba saja mencium sembari mengangkat tubuhnya.


"Kenapa kau tidak marah? Hmmm?" Jacob memajukan wajahnya, menatap lapar pada wanita manis kesayangannya itu.


"Emm, a-aku," Alesha jadi gugup. Kenapa? Masa sih ia merasa malu? Owh mungkin karna kejadian itu terjadi saat ia, dan Jacob belum menikah. Mungkin itu juga.


Baiklah, Alesha terlihat seperti Alesha yang lama sebelum menjadi istri Jacob. Malu-malu kucing, padahal sekarang kan ia, dan Jacob sudah menikah. Kalau dulu ya wajar-wajar saja ia merasa malu. Tapi sekarang?


"Karna kau menyukainya ya?" Goda Jacob. Pria itu sengaja mengedipkan sebelah matanya.


Apa maksudnya? Pikir Alesha.


"Kau menikmatinya juga kan?"


Perlahan, sebelah tangan Jacob meraih tengkuk Alesha lalu mendekatkan wajah si manis itu pada wajahnya.


"Jack!"


"Hmm, apa, sayang?"


"Kenapa aku selalu merasa kalau kau itu masih mentorku?"


"Jangan marah, Jack. Tapi itu kenyataannya," Lanjut Alesha yang dibarengi dengan tawa kecil.


Memang benar, mungkin sedikit pahit untuk Jacob, namun Alesha hanya ingin berjujur kalau sosok mentor dalam diri Jacob belum menghilang.


"Aku masih menganggapmu sebagai mentorku, Jack. Meski nyatanya kau adalah suamiku," Alesha menutup mulutnya untuk menahan tawa geli. Ia tahu, pasti suaminya itu sudah tersinggung. "Maaf, Mr. Jacob. Jujur saja, aku kadang masih merasa malu jika harus 'melayanimu' karna yang ada dalam pikiranku kau adalah mentorku."


"Terserah, Al," Jacob memutar kedua bola matanya dengan jengah. Lagi, dan lagi Alesha membahas masalah itu.


"Hey, jangan marah seperti itu, sayang," Alesha menangkup wajahnya suaminya.


Tapi tunggu.


Apa? Sayang?


Jacob tidak salah dengar kan? Alesha berucap 'sayang' padanya?


This is not Jacob's fantasy, right?


"Tapi meski begitu, yang penting sekarang kau sudah menjadi suamiku, Tuan Mentor," Alesha mencubit dengan gemas kedua pipi suaminya. Melihat Jacob yang sedikit merajuk membuat Alesha merasa geli.


"Sayang..." Gumam Jacob yang juga kembali mengukir smirk menawannya.


"Iya, apa?" Balas Alesha yang kian menunjukan senyum cerahnya.


"Tumben kau memanggilku dengan sebutan 'sayang'," Ledek Jacob.


"Memangnya tidak boleh?" Balas Alesha.


"Tidak. Aku malah suka itu ketimbang kau hanya memanggilku dengan sebutan 'Jack, Jack, Jack'..."


"Lalu aku harus memanggilmu dengan sebutan apa, suamiku?" Jengah Alesha. "Abang Jack, mungkin?"

__ADS_1


"Abang?" Jacob mengulang kata yang barusan istrinya itu ucapkan. Abang? Apa itu? Jacob tidak tahu. Ya mungkin memang ia sudah cukup bisa, dan terbiasa dengan bahasa Indonesia, namun bukan berarti ia sudah benar-benar tahu semua kosa kata bahasa Indonesia.


"Sebutan untuk laki-laki yang lebih tua, paham?"


Jacob mengangguk pelan.


"Bagaimana, kau mau aku panggil dengan sebutan 'Abang Jack', hmm?" Alesha melipatkan kedua tangannya seraya menatap untuk meminta kepastian jawaban dari suaminya.


"Terdengar lucu," Kekeh Jacob. "Tapi aku lebih suka kau menyebut namaku saja," Jacob mencubit gemas kedua pipi istrinya.


"Aww! Sakit!" Alesha pun melayangkan tatapan yang seolah-olah akan membuat suaminya takut, padahal hal itu sama sekali tidak membuat Jacob ciut. Malahan, pria itu malah semakin menggoda istrinya.


"My Lil Ale..." Jacob memerangkap tubuh Alesha ke dalam pelukannya. "Gadis yang pertama kali aku temui sedang berada di taman WOSA bersama teman-temannya kini sudah menjadi istriku."


Cup....


Satu kecupan singkat Jacob mendarat pada kening Alesha.


"Gadis yang dulu selalu aku hukum karna kejahilannya bersama Lucas, dan Mike kini sudah menjadi seorang ibu."


"Tunggu!" Alesha menjentrikkan jarinya. "Aku jadi ingat! Saat itu aku, Mike, dan Lucas pernah mengerjai salah satu tim Brandon. Kami sengaja menaruh tiga buah kodok ke dalam tasnya," Alesha jadi terkekeh karna mengingat dulu ia yang sering berulah bersama Mike, dan Lucas untuk mengerjai murid WOSA yang selalu mencari masalah.


"Dan akhirnya kalian aku hukum dengan harus membersihkan taman utama, juga gudang belakang," Sambung Jacob.


"Ya, aku benci itu," Alesha berucap malas. Memang benar, setelah sukses mengerjai salah satu anggota tim Brandon, Alesha, Mike, dan Lucas dihukum oleh Jacob. Hal itu juga bukan hanya terjadi sekali dua kali. Berbagai macam motif kejahilan selalu Alesha luncurkan bersama partner -nya, Lucas, dan Mike.


Tetapi Alesha melakukan hal itu juga semata-mata untuk memberikan teguran atau balasan karna memang beberapa mulut dari murid WOSA itu sangat menyebalkan.


"Tapi, Mr. Ja.. Emm maaf, maksudnya, Jack. Kau tahu, aku merindukan WOSA. Apa kabar kamar messku, taman, pantai, dan....." Alesha melirik pada suaminya. "Rumah pohon."


"Jika saja bisa, aku ingin mendaftar lagi, lalu ikut seleksi, dan lolos, dan menjadi murid WOSA lagi."


"Tapi aku tidak mungkin bisa menjadi mentormu, Al," Ucap Jacob.


"Siapa juga yang memintamu untuk menjadi mentorku lagi," Balas Alesha. Namun tiba-tiba saja ada sekelibat pikiran jahil dalam kepala istri Jacob itu.


Alesha pun menyungginkan senyum jahilnya. "Siapa tahukan ada mentor yang lebih baik, dan lebih tampan. Lalu menyukaiku, mendekatiku, lalu kami saling dekat, saling menghabiskan waktu bersama, bercanda bersama..."


"Lalu kalian jadian, ciuman, dan kau meninggalkanku. Beres!" Potong Jacob yang merajuk. Ia mendorong tubuh Alesha untuk menjauh darinya.


Kesal, dan cemburu. Apa maksudnya Alesha bicara seperti itu? Jacob jadi malas, dan tersinggung.


"Hey, Big Guy!" Alesha mendapati suaminya yang berjalan menjauh dengan wajah dingin, dan datar.


Sepertinya Jacob sungguhan marah. Pikir Alesha.


"Tunggu...." Alesha beranjak dari atas kasur untuk menghentikan langkah Jacob.


"Jack, jangan marah," Alesha berdiri tepat dihadapan suaminya. "Aku hanya bercanda saja," Sambung Alesha sembari memeluk erat tubuh suaminya.


Jacob masih bergeming. Entahlah ia masih merasa malas karna ucapan terakhir Alesha membuatnya merasa sakit hati.


"Ayolah, aku tidak sungguhan. Tadi aku hanya ingin membercandaimu, maaf...."


"Jika kau mau aku akan memasukanmu kembali ke WOSA, dan kau akan mendapatkan mentor yang jauh lebih baik dariku hingga membuatmu jatuh cinta, dan meninggalkanku," Jacob berucap datar.


Dengan cepat, Alesha pun menggelengkan kepalanya. "Tidak mau! Tidak ada mentor yang lebih baik darimu, Jack. Ish! Kau ini, aku hanya bercanda tadi! Jangan terlalu ambil hati!"


Alesha mendongkak untuk bisa bertatapan dengan suaminya. "Maaf...."


Hati Jacob seakan luluh mendapati sorot sayu, dan memohon dari kedua manik coklat istrinya.


"Huft......" Jacob menghembuskan napasnya hingga menerpai wajah istrinya. "Baiklah..." Kemudian Jacob mengangkat tubuh Alesha supaya mereka bisa bertatapan sejajar. "Kalau kau mencoba untuk berselingkuh dariku, maka selingkuhanmu itu akan menanggung akibat yang sangat buruk dariku," Bisik Jacob.


"Siapa juga yang akan menyelingkuhimu?" Santai sekali Alesha membalasnya. Ya, karna memang ia sama sekali tidak ada niatan untuk berselingkuh. Jacob sudah sangat amat cukup, bahkan lebih dari cukup. Alesha tidak mau yang lain, sudah ada pria yang selalu membuatnya merasa bahagia, dan ia tidak mau yang lain.


"Aku mencintaimu, Mr. Jacob Ridle," Alesha tersenyum, dan sejurus kemudian, ia pun memeluk kembali suaminya sembari menyadarkan kepalanya pada lekukkan leher suaminya.

__ADS_1


Aku juga sangat mencintaimu, Alesha. Sangat mencintaimu........ Jacob bergumam dalam hatinya. Kedua matanya terpejam seraya memberikan pelukan balik yang lebih erat.


__ADS_2