Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
New Mission


__ADS_3

Di dalam ruang perawatan, saat ini Nakyung, Maudy, dan Merina masih belum juga siuman, namun dokter sudah mengatakan jika tidak ada luka atau cidera serius, hanya beberapa luka memar saja.


"Lucas, Aiden, kalian sudah menemukan sesuatu?" Tanya Bastian.


"Tidak, aku tidak mendapatkan informasi apapun, Bas," Jawab Lucas.


"Aku juga," Lanjut Aiden.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa orang-orang itu, dan kenapa mereka mengejar Nakyung, Maudy, dan Merina?" Gumam Tyson yang tengah terduduk sembari menyatukan kedua telapak tangannya. Ia tampak serius, dan berpikir.


"Apa mungkin mereka adalah anak buah Theo, dan Theora?" Mike berpendapat.


"Bisa jadi, adik kakak itu berhasil kabur dari tahanan SIO, kan?" Sahut Bastian.


"Apa mungkin mereka ingin balas dendam pada SIO, dan berniat untuk mencuri sampel virus XXX lagi?" Sambung Tyson.


"Kita tidak boleh lengah, bisa jadi mereka sudah menyusun rencana untuk menyerang kita, dan SIO," Ucap Mike.


...*****...


Beralih menuju WOSA. Pukul 06.30, pagi.


"Jack...." Alesha mengguncang pelan tubuh suaminya yang tengah tertidur pulas. "Jack, bangun, Mr. Frank menelponmu, Jack."


"Hmm, apa, Lil Ale?" Jacob bergumam. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali.


"Mr. Frank meneleponmu," Jawab Alesha.


"Mr. Frank?" Ulang Jacob. Ia masih diambang kantuknya.


"Iya, ini," Alesha mengangguk dan menyerahkan ponsel milik suaminya itu.


Jacob segera meraih ponselnya.


Jacob : "Hallo, Mr. Frank, ada apa?"


Mr. Frank : "Jack, kau dimana sekarang?"


Terdengar Mr. Frank yang panik.


Jacob : "Aku masih di WOSA, Mr. Frank."


Mr. Frank : "Jack, aku mohon, SIO sedang benar-benar butuh bantuanmu saat ini!"


Jacob: "Bantuan? Bantuan apa?"


Mr. Frank : "Theo, dan Theora, mereka berhasil kabur dari tahanan SIO beberapa hari lalu, begitu pula dengan Vincent. Mereka kini bekerja sama untuk menyerang SIO!"


Jacob : "Apa? Bagaimana bisa?"


Mr. Frank : "Aku akan menjelaskan semuanya. Aku ingin kau pergi ke kantor SIO pusat saat ini juga, dan rapat bersama para agent lainnya, Jack. Aku mohon, kami benar-benar membutuhkanmu."


Jacob terhenyak. Ia memandang cemas pada istrinya, Alesha.


Jacob : "Mr. Frank, aku tidak bisa meninggalkan Alesha untuk saat ini, aku khawatir."


Mr. Frank : "Kau bisa membawa Alesha juga ke kantor SIO pusat, Jack. Bahkan aku berharap kau akan mengizinkan Alesha untuk ikut rapat juga. Dia masih menjadi bagian dari SIO, bukan? Dia bisa membantu kita, Jack."


Jacob berpikir sejenak sembari menatapi wajah Alesha.


Jacob : "Baiklah, Mr. Frank."


Mr. Frank : "Terima kasih, Terima kasih, Jack. Pesawat SIO akan menjemput kalian. Aku menunggumu, dan Alesha di sini."


Jacob menghela napas panjang selepas sambungan telepon itu terputus.


"Sayang, bersiap lah, kita akan pergi menuju kantor SIO pusat di Selandia Baru setelah pesawat SIO sampai di sini," Ucap Jacob, lembut. Sejurus kemudian, ia mendaratkan kecupan yang cukup lama pada salah satu pipi istrinya itu. "Aku mencintaimu, My Lil Ale."


Jacob sedikit gelisah. Ia akan membiarkan istrinya itu untuk turut ikut memberantas kelompok mafia yang sedang berencana untuk menyerang SIO itu. Tapi Jacob percaya kalau Alesha bukan lah seorang wanita yang lemah, jadi, apasalahnya jika Jacob memberikan kesempatan untuk Alesha ikut dalam misi melawan para penjahat?


...*****...


Sementara itu, disebuah gudang tua yang menjadi markas baru bagi komplotan para anak buah Theo saat ini sedang diadakan sebuah rapat yang membahas sebuah misi khusus untuk mendapatkan sampel virus XXX, dan mencuri data tentang ekspedisi yang akan dilakukan para agent, dan ilmuan SIO untuk menemukan berlian langka yang diyakini terdapat di sekitaran gunung Mauna Kea, Kepulauan Hawaii.


"Tiga karyawan SIO berjenis kelamin perempuan dikejar-kejar oleh sekelompok pria?" Gumam Theo. "Wili, bisa kau cari tahu siapa orang-orang itu."


"Baik, Theo," Wili mengangguk, dan segera melaksanakan perintah ketuanya itu.


Seperginya Wili dari ruangan itu, kini tinggal tersisa, Theo, Theora, beberapa anak buah mereka, dan tidak lupa, musuh bubuyutan SIO, yaitu Vincent.


"Kau kumpulkan dulu saja orang-orangmu, aku ingin bersantai-santai dulu selama beberapa hari," Theo menyilangkan kaki sembari meminum teh hijau kesukaannya.


"Semua anak buahku sudah berkumpul, dan siap. Tinggal kau lah yang perlu menyiapkan seluruh anak buahmu dalam misi ini," Balas Vincent.


"Kami juga sudah siap, hanya saja, biarkan aku, dan adik kesayanganku ini menghirup udara bebas dulu," Theo mengusap puncak kepala adiknya, Theora. "Menginap setahun di dalam sel SIO membuatku sedikit frustasi, aku butuh merileksasikan otak, dan pikiranku," Theo terlihat begitu santai. "Ku dengar Mr. Frank akan meminta bantuan pada Jacob. Apa rencanamu?" Sambung pria itu.


"Aku akan rebut kelemahannya, dan jangan lupakan Levin, dan Eve, aku sudah tahu dimana kelemahan mereka masing-masing," Vincent menyeringai.


"Bagus kalau begitu. Kau bersantailah dahulu, kita lakukan misi ini secara berkala, dan rapih. Aku tidak ingin gagal lagi," Ucap Theo.


"Kau benar, tapi aku sudah tidak sabar untuk berhadapan dengan agent agent sialan itu," Vincent menyeruput kopi hitamnya.

__ADS_1


"Aku juga," Theo mengedikkan bahunya. Ia begitu santai seolah tidak memiliki beban, padahal di luar sana, ia, adiknya, dan Vincent sedang menjadi buronan para agent SIO.


"Sepertinya Eve akan meninggalkan WOSA untuk membantu SIO menghadapi kita," Ucap Vincent.


"Baguslah, aku malah berharap seperti itu," Balas Theo.


"SIO akan mengerahkan para agent terbaiknya hanya untuk melawan kita," Vincent terkekeh.


"Ingat, Vincent, para agent sialan itu tidak bodoh, aku rasa dalam beberapa hari juga mereka bisa mengetahui tempat ini, kita harus segera pergi jika tidak ingin tinggal dalam sel lagi," Ucap Theo.


"Aku sudah menyiapkan penerbangan menuju greenland, kita akan berangkat besok pagi," Sambung Vincent. "Di sana ada Mr. Fredd, dan Laurent yang bisa membantu kita."


"Siapa mereka?" Tanya Theora.


Vincent menyeringai. "Mr. Fredd adalah mantan anggota mafia, dia adalah pengganti orang tuaku, sedangkan Laurent, dia mantan murid WOSA yang dipecat karna ketahuan bersekutu denganku."


Theora mengangguk kecil.


Setelahnya, tidak terdengar percakapan apapun lagi karna semua sibuk dengan pikiran masing-masing.


...*****...


Kembali menuju WOSA. Jacob, dan Alesha sudah rapih, dan siap, mereka hanya perlu menunggu pesawat SIO sampai.


Tepatnya di kantin, Alesha baru saja menghabiskan sarapan paginya bersama Jacob.


"Sudah kenyang, sayang?" Jacob mengelus sebelah pipi istrinya.


"Iya," Balas Alesha.


Seukir senyum manis menghiasi wajah Jacob seiring terangkatnya telapak tangan untuk membetulkan posisi kerudung yang dipakai oleh istrinya. "Mulai sekarang kau harus memakai kembali kerudungmu ya, Lil Ale."


Alesha hanya mengangguk kecil sembari tersenyum juga.


"Kau terlihat semakin manis, dan memikatku kalau seperti ini," Puji Jacob. Ia mulai gemas pada si manis kesayangannya itu. "Cantik," Ia menoel ujung hidung Alesha.


"Ah, sudahlah, Jack," Alesha tersipu, ia mengedarkan pandangannya ke arah lain.


Jacob tertawa kecil saat mendapati respon istrinya itu. Ugh! Sungguh menggemaskan.


"Mumpung kita belum berangkat apa kau mau berkeliling WOSA sebentar?" Tawar Jacob.


"Boleh," Balas Alesha. Mungkin itu ide bagus. Pikirnya.


"Ayo, sayang," Jacob bangkit dari duduknya. Ia menggenggam pergelangan tangan Alesha, dan mereka pun berjalan beriringan.


"Jack, apa nanti aku boleh ke sini lagi?" Tanya Alesha sembari melihat-lihat sekitarnya.


"Janji ya," Alesha mengangkat jari kelingling kanannya.


"Janji, sayangku," Jacob pun mengaitkan jari kelinglingnya pada jari kelingking istrinya. Sejurus kemudian, Alesha sedikit tersentak karna Jacob mencium juga menekan bibirnya secara mendadak.


"Eemm, Jack..." Alesha mendorong dada suaminya. "Aku malu."


"Kenapa harus malu? Tidak ada yang melihat kita," Jacob terkekeh.


"Sudah sudah, ayo kita lanjutkan saja berkelilingnya," Alesha menggandeng lengan Jacob untuk kemudian berjalan kembali.


"Jack, aku ingat beberapa hal, tapi..." Alesha menjeda ucapannya. "Hal itu membuatku merasa marah, dan sebal padamu."


"Hmm, hal apa memangnya?" Jacob terkekeh sembari melirik pada istrinya.


"Kau sangat galak, dan pemarah!" Alesha membalas malas. "Kau sangat sering memarahiku, kan? Kadang aku ingin sekali memakimu saat kau memaksaku untuk latihan bertarung dengan Tyson atau Lucas, dan aku tidak dibiarkan istirahat sampai aku bisa mengalahkan mereka!"


"Jahat!" Alesha mendengus sebal.


"Lil Ale, aku melakukan itu agar kau bisa disiplin, dan semakin kuat! Aku sering memarahi, dan menghukummu karna memang kau sangat jahil, dan suka mengerjai murid WOSA yang lain, sayang, berkali kali aku menegurmu tetapi kau tetap saja seperti itu," Jacob membalas lembut.


"Kau tau, Jack, waktu itu aku sering berpikir jika kau tidak benar-benar mencintaiku karna kau itu sangat galak padaku, suka memarahiku, dan terlalu tegas," Alesha memalingkan wajahnya dari Jacob.


"Alesha, ya ampun," Jacob tertawa kecil mendengar curhatan istrinya itu. "Aku sangat mencintaimu, sayang, tapi aku tidak mau menganak emaskanmu. Aku harus bersikap adil kepada semua. Kau salah, maka aku akan menegur atau memarahi, dan menghukummu. Begtiu pula dengan yang lain."


"Jika saja aku adalah orang yang mudah menyerah, mungkin akan lebih memilih untuk keluar dari WOSA," Alesha mendengus.


"Seandainya waktu itu hal tersebut terjadi, maka aku tidak akan membiarkannya. Memang kau mau berjauhan denganku, hmmm?" Jacob menatap nakal pada istrinya.


"Tidak mau," Alesha menggelengkan kepalanya.


"Tentu saja karna kau mencintaiku, Lil Ale," Jacob mengacak gemas puncak kepala istrinya.


"Jack, boleh aku bertanya sesuatu?" Alesha mengalihkan pembicaraan.


"Bertanya apa, Al?" Tanya balik Jacob.


"Beberapa hari ini aku ingat sebuah nama, tapi aku tidak mengenalnya, Jack," Alesha tampak bingung.


"Nama? Siapa, sayang?"


"Yuna."


Deg!

__ADS_1


Jacob langsung tercekat hingga kakinya berhenti melangkah.


"Jack, kau kenapa?" Alesha menyerngit, bingung karna mendapati perubahan pada suaminya secara mendadak.


"Hmm, tidak, aku tidak apa-apa, sayang?" Jacob langsung tersenyum datar. Berusaha menyembunyikan keterkejutannya.


"Tapi kenapa kau langsung seperti tadi saat aku menyebutkan nama itu?" Alesha semakin menunjukan ekspresi bingung, dan penasarannya.


"Tidak apa, aku hanya sedikit terkejut saja," Jawab Jacob.


"Memangnya dia siapa, Jack? Aku mencoba mencari tahu tentang dia, tapi aku tidak ingat sesuatu tentangnya," Alesha melanjutkan langkahnya diikuti oleh Jacob.


Siapa? Yuna siapa? Jacob menunduk sembari tersenyum mengingat sosok gadis yang sangat ia cintai sewaktu itu.


Apa yang kabarmu, Yuna?...... Gumam Jacob dalam hatinya. Jacob enggan menganggap Yuna sebagai mantan kekasihnya, Yuna adalah gadis pertama yang begitu ia cintai dan bahkan hingga kini Yuna masih memiliki tempat lain dalam hati Jacob, tetapi yang pasti bukanlah sebagai ratu atau pemilik lagi karna hanya Alesha lah wanita yang paling Jacob cintai kini.


"Jack," Alesha menepuk bahu suaminya. "Kenapa kau melamun?"


"Hmm?" Jacob menoleh pada istrinya. Senyum merekah yang begitu cerah mengukir indah pada wajahnya.


"Yuna siapa?" Alesha mengulang pertanyaannya.


"Dia sahabat terbaik kita, dia cantik, pintar, dan kuat sepertimu, bahkan awalnya aku mengira kalian adalah sama," Jawab Jacob.


"Sahabat terbaik? Dia salah satu anggota tim kita?" Alesha mengajukan pertanyaan lagi.


"Iya, dan akan selalu menjadikan bagian dari kita," Jacob mengangguk pasti.


"Sungguh? Kalau begitu dimana dia?"


Jacob terdiam sejenak. Raut wajahnya sedikit menurun. Jacob tidak mau membohongi dirinya sendiri. Ia merindukan Yuna. Namun hatinya jadi terasa hampa. Kenapa Alesha harus membuatnya teringat kembali pada sosok kekasih tercinta beberapa tahun silam itu? Padahal Jacob sudah berhasil terlepas dari belenggu cintanya terhadap Yuna.


"Dia sudah meninggal, sayang," Jawab Jacob.


"HAH!" Alesha tersentak. "Inna lillahi," Ia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. "Bagaimana bisa, Jack?"


"Dia tertimbun dalam tumpukan salju," Sungguh perih yang Jacob rasakan saat ini. Ia ingat bagaimana frustasi, dan terpuruknya ia ketika Yuna meninggalkannya.


"Astagfirullah!!" Alesha terlonjak, matanya terbelalak. "Apa yang terjadi memangnya?"


"Bisa kita ganti topik pembicaraan ini, Al? Aku tidak mau kita mengingat hal itu lagi," Jacob tersenyum lemah.


"Kenapa memangnya?" Tanya Alesha.


"Sebaiknya kau ingat-ingat dulu hal tentang kita, aku pikir itu terlalu jauh jika kau mengingat tentang Yuna terlebih dulu," Jacob menjawab lembut.


"Owh.... Hmm, baiklah," Alesha mengangguk kecil.


Jacob tidak tahu apa yang terjadi dengan hatinya sekarang. Mengingat Yuna membuat hatinya menjadi perih. Ditinggalkan saat ia sedang benar-benar mencintai. Itu adalah hal yang paling menghancurkannya.


"Aku mencintaimu, Alesha," Jacob memeluk erat tubuh istrinya. Ia pikir dengan memeluk Alesha bisa menenangkan hatinya. "Sangat mencintaimu," Tidak lupa ia pun menaruh banyak ciuman lembut pada wajah istrinya.


"Aku juga mencintaimu, Jack," Balas Alesha, menatap penuh cinta pada suaminya. "Kalau begitu ayo, kita lanjutkan lagi jalan-jalannya."


"Iya. Oh ya, biasanya kau sangat suka sekali berfoto di pantai. Dulu saat masih pendidikan di sini, setelah bel jam pelajaran terakhir berbunyi, kita pasti akan ke pantai sampai pukul lima atau setengah enam, dan kau tahu, kadang kau berfoto selfie sendiri menggunakan ponselku, kadang kau memintaku untuk memfotomu."


"Pantas saja banyak sekali fotoku digaleri ponselmu, kalau tidak salah ada empat ribu," Potong Alesha.


"Dari sejak awal, belum pernah ada satu pun fotomu yang aku hapus. Satu pun belum ada!" Jacob mencium gemas pipi istrinya.


"Kau berlebihan tahu tidak," Alesha berucap jengah.


"Tidak," Jacob menggelengkan kepalanya. "Kalau aku lelah bekerja, aku pasti memandangi foto-fotomu, atau jika aku sedang bersedih, dan kau tidak sedang berada dekat denganku, maka aku akan melihat wajahmu melalui foto-foto itu."


"Wajar sekali, karna aku kan cantik secantik bidadari surga," Alesha berucap dengan bangganya.


"Ya, kau memang lah bidadari surgaku, sayang," Dengan jahil, Jacob memggelitiki perut Alesha.


"Aaaa, Jack! Geliiii!" Alesha memekik, berusaha untuk menjauhi suaminya.


"Kemari kau, jangan pergi, Alesha!" Jacob berlari kecil mengejar istrinya.


"Tidak mau! Kau jahil!" Balas Alesha sembari berlari secepat mungkin untuk menghindari gelitikan suaminya.


*


*


*


*


*


*Hallo para readers, dan silent readers yang selalu setia baca kisah Jalesha ini😍😘😊 Sebelumnya author mau sampein permohonan maaf ya karna author itu banyak banget kerjaan, tugas sekolah, dan senin insyaallah mau ujian kompetensi terakhir, jadi author nulisnya tersendat-sendat deh, belum lagi author juga kan lagi siapin naskah baru atau yang insyaallah bakal rilis awal bulan di platform kuning (******)😊


Tapi aku janji, selama apapun aku up cerita ini aku pasti bakal tuntasin sampe akhir, sampe Alesha dan Jacob bahagia setelah semua permasalahan πŸ€— dan aku gak akan gantungin cerita ini, tapi ya mungkin untuk bulan ini aku belum bisa up teratur kaya dulu, tapi aku janji gak bakal gantung cerita ini. Semoga aja bulan depan setelah tugas sekolah, dan yang lain lain beres aku bisa up teratur satu dua atau tiga kali sehari, bahkan aku juga ada rencana buat bikin seasons empatnya. Jujur aja aku gak tega kalau harus tamatin cerita Jalesha buat sekarang karna aku sayang banget sama mereka.


So, For the last, Terima kasih banyak ya buat para readers dan silent readers yang masih suka mampirπŸ™πŸ™πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ˜ gak papa Jalesha cuman sedikit peminatnya, tapi aku bahagia bisa tetep lanjutin kisah mereka, dan itu gak akan jadi halangan buat aku akhirin cerita mereka gitu aja😌😊😊


Jangan lupa jaga kesehatan, dan kebersihan ya, See youπŸ’•πŸ’•πŸ˜˜πŸ˜ŠπŸ˜**

__ADS_1


__ADS_2