
Beberapa meter di belakang gedung, terdapat lima deretan pohon besar yang menjadi tempat persembunyian anak buah Jacob untuk membantu SIO menyerang Vincent dan anak buahnya.
"Kau pulang sekarang, Al. Taylor akan bersamamu," ucap Jacob.
"Kau tidak ikut?" tanya Alesha, serius.
"Aku masih harus menyelesaikan urusan di sini."
"Aku akan ikut dengan yang lain! Aku akan membantu SIO!"
"Tidak, Alesha. Kau harus pulang sekarang!"
"Aku akan membantu SIO, Jack! Aku bisa!"
"Kau sedang hamil, Alesha!" Jacob sedikit membentak. "Jangan buat dirimu dalam bahaya!"
"Tapi lukamu yang sisa pertarungan kemarin saja belum sembuh, Jack! Kau masih butuh istirahat juga!" Jujur saja, Alesha sangat mengkhawatirkan suaminya, namun ia tak mau menunjukkannya lewat raut wajah.
"Aku baik. Aku sudah biasa menghadapi situasi seperti ini, Al. Taylor, cepat bawa Alesha pulang!"
"Baik, Tuan." Taylor mengangguk. "Ayo, Nona."
"Tidak! Aku tidak akan pulang kalau kau tidak ikut!" Alesha bersikeras.
"Alesha, menurut padaku!" Jacob menatap tajam istrinya.
Alesha menggelengkan kepalanya, "Jack, aku akan ikut membantu SIO! Aku bisa!"
"Kau ingin membahayakan kehamilanmu?" Mendadak Jacob menarik lengan istrinya, setengah menyeret menuju mobil. "Taylor, cepat masuk ke mobil! Dan kau juga, masuk!" Ia mendorong paksa tubuh Alesha agar masuk ke dalam mobil. "Kunci pintunya langsung, Taylor!"
"Tidak mau! Jack!" Alesha yang sedikit terhempas kejok mobil pun mulai meronta. Apalagi saat Jacob menutup mobilnya dengan cukup kasar.
"Ck! Taylor, buka pintunya!" titah Alesha.
"Pergi sekarang, Taylor!" pekik Jacob.
Tak menunggu lama, Taylor langsung menancap gas mobilnya, membuat Alesha berteriak marah.
"AKU BILANG STOP! MR. JACOB HARUS IKUT PULANG! DIA BELUM PULIH!"
Taylor tak mengindahkan itu. Ia fokus menyetir. Sepanjang jalan Alesha menggerutu marah, memaksa untuk kembali ke markas Vincent, tapi Taylor tetap acuh. Ia akan membawa Alesha pulang ke rumah, bukan apartemen kakek Ujang.
Alesha tidak tahu apa yang terjadi pada suaminya, dan beberapa kawannya saat ini. Yang pasti, mereka bukan dalam situasi yang baik. Sementara ia sendiri justru tidak bisa membantu, dan hanya diam berlindung dengan kawalan dari anak buah suaminya. Itu tidak adil! Ia juga harus ikut membantu. Tapi disisi lain, Alesha juga sadar betul jika ia sedang hamil, ia juga takut membahayakan kehamilan. Alesha tidak mau kehilangan buah hatinya untuk yang ketiga kali. Ingatan tentang kematian Khalid dan Alshiba selalu sukses membuatnya menderita, dan sakit teramat dalam. Ditambah, jika ia pun harus kehilangan calon anaknya yang sekarang ia kandung, mungkin ia bisa gila.
Setibanya di mansion pribadi, Alesha langsung pergi ke kamarnya. Mengurung diri. Perasaannya teramat cemas terhadap Jacob. Ia takut hal buruk menimpa suaminya, apalagi Jacob juga belum pulih.
Tok... Tok... Tok...
"Alesha, ini aku, Mona."
Alesha yang sedang termenung sedih diatas kasur sembari memeluk lututnya pun menoleh ke arah pintu.
"Al, kau baik-baik saja, kan?"
Mona terdengar khawatir.
"Ada kakak dan kakekmu. Mereka baru tiba barusan, dan menanyakanmu, Al."
"Rangga, kakek?" gumam Alesha. Sejenak ia termenung.
"Ia, Mona, sebentar!" sahut Alesha dari dalam. Ia beranjak dari tempat tidurnya. Ia harus menemui Rangga dan Kakek Ujang.
"Al..." Mona langsung menyunggingkan senyumnya bersitatap dengan adik iparnya. "Ada Kakak, dan Kakekmu di bawah, suamiku juga, William baru datang," ucap Mona.
Alesha mengangguk. "Aku akan ke bawah sebentar lagi, Mona. Kau duluan saja. Aku menyusul."
Senyum Mona seketika memudar. Alesha nampak datar. Apa dia masih marah pada adiknya, Jacob?
"Al, kau baik...."
"Aku baik, Mona." Alesha memotong cepat. "Kau bisa pergi duluan. Aku menyusul sebentar lagi."
Mona mematung sejenak. Ia pikir, lebih baik ia menuruti ucapan Alesha barusan dan tidak mengusik adiknya itu.
"Uhm, oke." Mona mengangguk. "Kalau begitu, aku pergi sekarang."
Alesha tak membalas. Selepas Mona pergi, ia kembali ke dalam kamarnya, lantas memakai sweater dan kerudungnya. Enggan membuang waktu, ia pun langsung bergegas ke lantai bawah mansion itu.
Di sana, Kakek Ujang dan Rangga baru saja datang, ada William juga, baru saja tiba setelah berbelas belas jam terbang dari Florida ke Indonesia, juga Tessa bersama putranya. Sampai saat ini, Tessa masih belum tau soal suaminya yang sekarat di rumah sakit. Jacob melarang siapa pun memberitahukan yang pada Tessa sebab Jacob sendiri yang akan mengatakan dan menjelaskannya.
"Dor! Dor! Dor!"
Haris dan Nick asik bermain tembak-tembakan mainan saat ini. Dua bocah itu begitu asik dengan dunia mereka, bermain sesuka hati tanpa memperhatikan orang-orang dewasa disekitar mereka. Disaat yang bersamaan, Alesha sampai di ruangan keluarga tersebut. Namun bumil itu langsung berhenti, mematung beberapa langkah dari ambang pintu.
Alesha diam, menatap sayu pada Haris dan Nick. Entahlah, tapi dua bocah itu sukses membuat hatinya tersayat. Perasaannya perih sekali saat ini. Jika saja ada, Khalid dan Alshiba pasti akan ikut bermain bersama Nick dan Haris sekarang. Oh ya ampun, Alesha tidak bisa menyangkal kalau ia selalu benci saat ingatannya tentang kejadian masa lalu yang buruk itu timbul. Ia tidak punya kendali atas itu. Ingatan-ingatannya secara mendadak akan timbul, tak masalah kalau soal ingatan menyenangkan, itu akan sangat membahagiakan, tapi bertolak belakang saat ingatan buruk yang timbul, ia akan diam tercekat seperti orang kehilangan akal, dan sedetik kemudian akan meringgis, merasakan tusukan dan tikaman menyakitkan yang menghujam hati dan perasaannya.
Contohnya seperti saat ini, tiba-tiba saja tubuh Alesha terhenyak dan terlonjak kecil. Ia menarik napas panjang, sesuatu dalam kepalanya membuat dadanya terasa sesak berkali-kali lipat. Masih belum ada yang menyadari keberadaan Alesha, meningat Alesha berdiri beberapa langkah dari ambang pintu ruang keluarga. Bumil itu terdiam. Sesuatu yang semula yang berupa potongan-potongan saja, kini terlihat jelas oleh Alesha.
Kejadian malam itu. Alesha ingat sekali sekarang. Tubuhnya mulai bergetar, air matanya mulai terbendung. Bumil itu melangkah mundur perlahan.
"Hhhhhhhhh..... Alshiba..." lirih Alesha. Napas Alesha mulai terengah-engah. Ya ampun, Alesha melihatnya jelas sekali sekarang dalam ingatannya. Sebelumnya itu masih samar-samar, tapi kali ini, Alesha bahkan merasakan sesak mendalam. Ia baru saja kehilangan putrinya, itu sudah satu setengah tahun yang lalu, tapi ingatan yang teramat jelas itu membawa Alesha pada masa lalu, seolah kejadian itu baru saja terjadi saat ini. "Alshiba..." Alesha menundukkan pandangannya. Kedua kakinya terasa lemah. Ia jatuh berlutut. Sekujur tubuhnya terasa lemas. Lalu kilasan lain munculnya diwaktu yang bersamaan. Khalid meninggal, dan jasad pangeran kecil itu ia peluk erat-erat dengan dirinya yang dihujani tangisan lebat sebab tak sanggup atas kehilangan putranya.
Ibu mana yang bisa terima saat mengetahui jika buah hati tercintanya sudah tiada? Begitu pula dengan Alesha sekarang. Tujuh bulan lebih ia mengandung, dan ia harus kehilangan kedua putra-putrinya beberapa hari setelah melahirkan? Ya ampun, Alesha bisa gila karna ingatan lama itu! Tapi Alesha harus bagaimana? Ia juga sedang hamil sekarang, ia bisa mati perlahan kalau terjadi sesuatu yang buruk pada janin dalam kandungannya juga.
"Khalid.... Alshiba.... Hiks..." lirih Alesha. Ia terisak kecil. Ini sungguh menyakitkan. Jelas sekali gambaran kematian Alshiba ditangan Dirga. Tak terasa, kedua lengan Alesha terangkat.
__ADS_1
Khalidd...... Khalidd...... Khalidd......
Begitulah Alesha memanggili nama sang buah hati dengan deru deras tangis yang menghujani wajahnya.
"Khalidd........" Parau Alesha.
"Khalidd, bangun.... Ini bunda, Nak, bangun...." Lirih Alesha. Tubuhnya lunglai dalam dekapan sang suami.
Pangeran mungil itu kini terlelap dengan tenang setelah beberapa jam para perawat dan dokter berupaya untuk memberikan pertolongan. Namun karna kegagalan fungsi jantung yang kian melemah, berbeda dengan saudari kembarnya, pangeran mungil Alesha, dan Jacob itu kini mesti kembali pada Sang Khalik.
"Khalid...." Alesha menatap kedua lengannya. "Kalau aja bisa, Bunda ikhlas kasih jantung Bunda buat kamu," lirihnya. Beberapa tetes air mata jatuh mengenai kedua telapak tangannya.
Sungguh. Alesha benci saat-saat seperti ini. Setiap kali ada ingatan buruk yang muncul, itu selalu menyiksanya. Tapi Jacob selalu bilang kalau itu sudah berlalu, dan ia harus melupakannya. Tapi bagaimana untuk yang satu ini? Apa Alesha bisa lupa saat dimana ia menggendong, meronta, dan menangis sembari mendekap jasad pangeran kecil tercintanya, juga saat tangan kotor Dirga mencekik Alshiba yang sama sekali tidak bersalah? Ini tidak adil! Kalau saja tidak ingat jika ia sedang hamil, Alesha mungkin sudah membentur-benturkan kepalanya atau melukai kepalanya saat ini.
Ini sungguh tidak adil! Alesha harus menanggung rasa kehilangan dua kali atas kematian kedua anaknya. Kejadian ini sudah satu tahun setengah yang lalu, seharusnya ia sudah ikhlas dan menerimanya dangan lapang dada kepergian dua buah hatinya itu, tapi kenyataannya sekarang tidak begitu. Amnesia sialan ini membawa Alesha pada setiap kebahagiaan, juga luka-luka masa lalunya. Ia selalu menderita dua kali yang mana serharusnya derita itu sudah berlalu.
"Khalid..... Bangun..... Hiks."
"Ibu, anaknya biar kita urus dulu ya, Bu, kasian dedeknya kalo kita gak cepet-cepet kafanin."
"Enggak boleh! Khalid gak boleh pergi!!"
Alesha memeluk tubuh pangeran kecilnya dengan sangat erat, dan hal itu membuat sang perawat juga yang lain yang ada di dalam ruangan itu merasa kebingungan. Satu sisi kasihan pada Alesha yang tidak mau dipisahkan dengan anaknya, tapi disisi lain jenazah Khalid juga harus segera diurusi.
"Alesha, sayang, lepaskan Khalid, kasihan dia jika kau seperti ini, sayang," Ucap Jacob.
"Khaliddd....... Bangun, Nak, bangun....." Alesha terus menangis, dan tidak memperdulikan ucapan suaminya.
"Khalid..... Khalid, bangun.... Ayo bangun, sayang...." Alesha mengguncang pelan tubuh bayinya seraya mendekatkan wajahnya pada pangeran kecil itu.
Kadua mata Alesha terpejam. Perih dan panas terasa saat air mata itu memaksa untuk keluar. Rahangnya sedikit mengeras, menahan rasa sakit atas kehilangan itu.
"Hiks, Khalid, Bunda minta maaf...." Kepala Alesha masih tertunduk. Tubuhnya sedikit bergetar sebab isakkan lirihnya.
"ALESHA!!" pekik Sharon yang baru saja keluar dari ruang keluarga.
Sontak saja, semua orang yang ada di ruangan itu terkejut, dan langsung bergegas menyusul Sharon yang berlari.
"Al, kau kenapa?" tanya Sharon, panik.
"ALESHA!" Rangga terbelalak saat melihat adiknya yang tengah berlutut dan menunduk.
Laura tidak kalah panik, ia ikut berlutut dan langsung mengangkat wajah Alesha. Sementara William, Kakek Ujang, Tessa, Mona, dan Haris juga William diam memperhatikan dengan tampang cemas bercampur bingung.
"Alesha, ada apa?" tanya panik Laura.
Alesha menatap sayu ibu mertuanya, "Ibu, hiks, Alshiba, dia meninggal karna dicekik oleh Dirga, Ibu, hiks. Aku menyaksikannya sendiri. Semua terlihat jelas sekarang dalam ingatanku," lirihnya.
Laura tercekat, juga yang lain.
Sekarang, semua jelas. Tidak perlu banyak bertanya, Laura mengerti apa yang Alesha maksud. Kalau pria bernama Dirga itu berniat untuk menghentikan garis keturunan ayah Alesha, itu berarti, pria itu juga berniat untuk membunuh cucunya. Tidak! Tidak akan pernah ia biarkan itu terjadi lagi. Cukup saja Alshiba menjadi korban, jangan sampai Alesha terutama calon cucunya menjadi korban juga.
"Hiks, tapi, Ibu, hal yang saat ini membuatku menangis adalah bukan karna ancamannya yang berniat untuk membunuhku, aku sama sekali tidak takut dengannya saat ini. Tapi hal yang paling membuat hatiku terluka adalah aku melihat secara langsung saat Dirga mencekik Alshiba. Hiks, Alshiba sedang tidur, aku tidak bisa menghalaunya karna anak buah Dirga menahanku. Hiks, Alshiba dicekik, Ibu, hiks hiks, aku melihat jelas saat dia mengeluarkan suara kecilnya karna kesulitan bernapas, aku mendengar suaranya, hiks. Aku tidak sanggup untuk mengingat hal itu lagi, Ibu." Suara Alesha parau, benar-benar lirih.
Semua yang ada disekitar Alesha sama-sama menundukkan kepala. Terharu dan turut merasakan kepedihan mendalam setelah mendengar cerita Alesha barusan.
"Hiks, aku menyaksikan sendiri kematian putriku, Ibu. Bisa ibu bayangkan? Ibu melihat kematian anak Ibu sendiri? Hiks, hiks. Aku harus bagaimana Ibu? Seharusnya sekarang aku sudah mengihklaskan kejadian itu. Tapi amnesia ini membuatku lupa, dan sekarang, setelah ingatan kelam itu kembali tanpa semau ku, aku merasa kalau kejadian itu sedang terjadi sekarang. Rasa sakitnya terjadi dua kali, Ibu. Hiks. Aku harus apa?"
Rahang Laura mengeras. Siapa pun itu Dirga, ia harus memburunya. Tidak akan ia lepaskan.
"Sharon!"
Yang dipanggil tersentak kaget. "I.. Iya, Ibu, kenapa?"
"Panggil Taylor!" perintah Laura.
Sharon mengangguk. Ia langsung berdiri, dan melangkah pergi, melaksanakan perintah ibunya barusan.
*****
Alesha duduk termenung dengan raut datar disofa ruang keluarga. Saat ini perasaannya tidak jauh lebih buruk, apalagi lebih baik.
Hambar.
Sulit untuk menerima kenyataannya. Kehilangan kedua buah hati benar-benar membuat Alesha terpukul. Situasinya sudah berubah, kejadian itu sudah jauh tertinggal, tapi lihat. Alesha justru kembali pada suasana kala itu. Apa ia bisa menerimanya?
"Al, makan dulu...." bujuk Rangga.
Alesha menggelengkan kepalanya.
"Neng, Eneng makan dulu, ya. Atau mau Kakek suapin?" tawar lembut Kakek Ujang yang juga duduk disebelah Alesha.
"Nanti aja, Kek," balas Alesha, pelan. Ia sedang berkabung saat ini. Tidak bisa diganggu oleh siapa pun.
Laras bersama suaminya, William, juga Tessa, dan Sharon yang ada di sana juga sama-sama diam, seakan mereka ikut merasakan apa yang Alesha rasakan saat ini.
Tidak ada yang berani membuka suara sejak tadi selain Rangga dan Kakek Ujang yang mencoba untuk menenangkan dan menegarkan Alesha. Sampai ketika Laura datang bersama satu anak buahnya.
"Rangga...." panggil ibunda Jacob tersebut.
Rangga refleks menoleh ke asal suara. Dari ambang pintu.
"Iya, Nyonya?" sebelah alis Rangga terangkat.
"Ikut saya sekarang!" pinta Laura, dingin. Sejurus kemudian, ia membalikkan tubuhnya, dan melangkah pergi. Sementara anak buahnya yang satu itu menunggu Rangga.
__ADS_1
Ada apa? Tanya Rangga dalam pikirannya. Sepertinya ada sesuatu yang penting. Tidak mau membuang waktu, Rangga langsung bangkit berdiri, dan menyusul Laura.
Berjam-jam lamanya Alesha termenung disofa. Sekarang sudah hampir pukul sepuluh malam, saat tiba-tiba saja Jacob datang bersama beberapa anak buahnya dengan kondisi yang tidak bisa dikatakan baik, namun biasa bagi Jacob.
Mona, bumil itu berteriak panik saat melihat adiknya Jacob yang datang ke ruang keluarga dengan dipapah dua anak buahnya ibunya. Kondisi Jacob lemah sekarang, mengingat ia harus bertarung melawan musuh bebuyutan juga komplotan mafia dengan kondisi tubuh yang tidak pulih maksimal.
"Jack, kau baik-baik saja, kan?" Mona menangkup wajah adiknya dengan penuh rasa cemas. "Jack, ya ampun, apa yang terjadi? Sharon, ambilkan kotak P3K sekarang!"
Sharon tersentak kaget. Ia mengangguk ragu. Kenapa Mona selalu seperti itu, sih terhadap Jacob saat Jacob baru kembali dari misi? Tapi enggan banyak bertanya-karna memang waktunya tidak tepat-ia langsung bergegas mencari kotak P3K.
"Apa dokter SIO tidak memeriksa mu lebih dulu sebelum kau pulang? Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk padamu? Hah! Jawab!" Mona menatap kesal bercampur cemas pada adik laki-lakinya itu.
"Aku baik-baik saja, Mona," jawab Jacob, santai namun lemah.
"Baik-baik saja? Kau buta? Kalau kondisimu tidak lebih baik dari saat ini, malam ini juga aku akan menyeretmu ke rumah sakit, Jacob!" bentak Mona.
Jacob mendengus malas. Tenang saja. Itu adalah asupan biasa. Hal lumrah. Mona memang selalu seperti itu, terlalu cemas dan berlebihan dengan kondisinya setelah kembali dari misi khusus yang mengharuskan berhadapan dengan musuh langsung.
"Lihat! Kau payah sekarang! Kau harus beristirahat! Aku yang akan mengawasimu, dan kalau perlu menjadi dokter pribadimu agar kau disiplin dengan proses pemulihan kondisi tubuhmu!"
"Teresah," balas malas Jacob. Ekor matanya langsung berpendar, dan berhenti pada dua iris coklat yang kini sedang menatapnya dengan sorot tidak kalah cemas seperti Mona, namun hanya bisa diam, memandangi dari jarak dua meter di depan.
"Al...." Jacob memanggil lembut seraya melempar senyum hangatnya pada Sang Istri.
Di sebrangnya, Alesha bangkit, berjalan perlahan dan ragu ke arah suaminya.
"Hey, kau baik-baik saja, kan? Baby J juga baik-baik saja, kan?" tanya lembut Jacob tepat saat Alesha duduk disebelahnya. Tapi Alesha tidak menjawab. Entahlah, namun itu justru membuat hati Jacob tersayat. Apa Alesha masih marah padanya?
"Kau masih marah padaku, Al? Masih butuh penjelasan dan pembuktian dariku?" lirih Jacob.
Kepala Alesha langsung tertunduk saat mendapati pertanyaan itu. Apa ia masih marah pada suaminya, Jacob?
Senyum hanya Jacob kembali terukir setelah sejenak lenyap.
"Kau mungkin masih marah padaku, tapi aku tahu, kau sangat mencemaskan ku, Al." Jacob menyeringai kecil. "Kau bisa jadi sangat terpukul jika terjadi sesuatu yang jauh lebih buruk menimpaku saat ini."
Kepala Alesha langsung terangkat. Ia menyorot tajam wajah suaminya.
Jacob terkekeh, "Benar, kan apa kataku barusan."
Alesha mendengus sebal. Ia mengalihkan tatapannya ke arah lain. Bisa-bisanya pria itu bicara seperti tadi. Meski memang yang diucapkan benar adanya.
"Jack, kau yakin baik-baik saja? Bagaimana dengan SIO sekarang? Apa kalian sudah berhasil menangkap musuh kalian?" tanya Mona.
"SIO cukup berantakan. Anak buah Vincent dan Theo mengacaukan kantor itu. Tapi untungnya, mereka tidak bisa menembus laboratorium yang berada di lantai dasar. Sekarang mereka kabur, tapi agent agent SIO akan terus melacak dan memburu mereka," jawab Jacob.
"Dokter SIO sudah memeriksamu?" tanya Mona lagi. Kali ini lebih lembut.
Jacob mengangguk. "Aku baik-baik saja. Dokter SIO hanya menguruhku istirahat saja untuk kembali pulih."
Terdengar helaan napas lega dari Mona. Sungguh, ia sudah sangat takut terjadi sesuatu yang buruk pada adiknya tadi.
"Wiliam?" Kedua mata Jacob memicing. Ia baru menyadari kehadiran kakak iparnya itu.
Wiliam tersenyum ramah. "Haii, Jack."
"Sejak kapan kau ada di sini?" Jacob terkekeh.
"Sore tadi." Wiliam mengedikkan kedua bahunya. "Ibu memintaku datang ke sini."
Jacob mengangguk. "Syukurlah kau di sini. Keluarga kita jadi lengkap sekarang."
Wiliam mengangguk, setuju.
Yeah, hubungan antara kakak-adik ipar itu memang terjalin akrab. Wiliam sudah seperti kakak kandung pria bagi Jacob. Mereka sering berlatih bersama saat masih menjadi agent SIO dulu. Tidak jarang Jacob pun meminta pendapat Wiliam untuk beberapa hal karna mereka sesama pria.
Satu-satunya hal yang tidak Wiliam sukai dari Jacob adalah karna adik iparnya itu selalu mendapatkan perhatian penuh dari istrinya, dan sering membuatnya merasa cemburu. Tapi William paham betul, ikatan Mona dan Jacob bukan hanya sekedar kakak-adik, melainkan ibu dan anak. Mona pernah menangis berhari-hari karna saat itu Jacob dan timnya sempat hilang kontak beberapa hari dengan SIO karna melakukan pengejaran terhadap musuh di kawasan Antartika.
"Bagaimana kondisimu sekarang, Jack?" tanya William. Ia berdiri dihadapan Jacob.
"Sebaik yang kau lihat, Wil," balas Jacob, santai.
William terkekeh. "Besok juga kau akan pulih seperti biasanya," ucapnya seraya menepuk sebelah bahu Jacob.
Karna hal itu, Jacob sedikit meringgis. Kedua bahunya sempat mendapatkan pukulan beruntun tadi.
"WILIAM!!" pekik marah Mona.
Yang lain, termasuk Alesha sama-sama tersentak kaget karna bentakkan Mona barusan.
"Ya ampun, Sayang. Aku hanya menepuk pelan bahu Jacob." William yang samanya terkejut pun menatap tidak percaya pada istrinya.
Mona balas menatap galak suaminya itu.
"Adikmu itu bukan anak kecil, Mona." Wiliam memutar kedua bola matanya dengan jengah. Entah sudah keberapa ribu kali ia melontarkan kalimat itu pada istrinya.
Jacob terkekeh. Entahlah, baginya, itu selalu menjadi hiburan tersendiri. Melihat Wiliam yang dimarahi Mona sebab kakaknya itu terlalu mengkhawatirkannya.
"Sekarang kau kembali ke kamarmu, Jack. Aku akan membuatkan susu jahe untukmu," ucap Mona seraya beranjak berdiri.
Jacob mengangguk. Ia menoleh pada istrinya. "Kita ke kamar sekarang, Sayang," ajaknya, lembut.
Alesha mengangguk pelan.
Setelah itu, Jacob beranjak bangkit. Ia berjalan dibantu Wiliam menuju kamarnya, di lantai dua. Alesha menyusul di belakang.
__ADS_1