Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Kembali Pada Pelukan


__ADS_3

07.15 Waktu setempat.


Jacob sedang asik memainkan bulu mata istrinya yang kini sedang terpejam.


Sekian lama Jacob bersabar melewati cobaan yang menimpa rumah tangganya bersama Alesha, dan sekarang, Jacob benar-benar dalam keadaan yang sangat baik, ia memeluk tubuh polos istrinya dengan begitu erat, memberikan beberapa ciuman samar agar tidak membangunkan si manis kesayangannya itu.


Jacob tidak akan pernah lagi membiarkan Alesha terpisah dengannya, dan jika saja pria yang bernama Dirga itu masih mengincar Alesha, maka ia tidak akan segan untuk menghabisi pria itu.


"Eung.." Alesha mengusikkan tubuhnya karna merasakan terpaan angin malam yang dingin. Meski tubuhnya sudah ditutupi oleh selimut, ternyata angin itu masih mampu mengganggu Alesha hingga membuat Alesha membuka matanya secara perlahan.


Sebidang dada lebar menjadi pemandangan pertama Alesha saat matanya terbuka.


"Jack..." Alesha mendongkak, dan mendapati Jacob yang tengah tersenyum manis padanya.


"Iya, sayang?" Balas Jacob begitu lembut.


Alesha tidak memberikan balasan lagi, melainkan ia menunduk malu karna posisinya saat ini yang berada dalam pelukan Jacob, dan tubuh yang tidak mengenakan sehelai benang pun.


"Kenapa, Lil Ale?" Jacob mengusap lembut puncak kepala istrinya.


"Aku lapar..." Lirih Alesha. Mungkin dengan alasan itu Jacob mau melepaskan pelukannya karna Alesha yang merasa tidak nyaman dengan posisi mereka berdua.


"Kau lapar?" Jacob terkekeh. "Kasihan. Mau makan apa?" Tawar Jacob.


"Apa saja. Kantin WOSA masih bukan kan?" Tanya Alesha.


"Iya, kantin WOSA tutup jam sepuluh, sayangku," Jawab Jacob.


"Yasudah ayo, aku sangat lapar," Alesha menggerakkan tubuhnya untuk keluar dari dalam pelukan Jacob.


Begitu pun dengan Jacob yang langsung bangkit, dan memakai kembali pakaiannya.


"Ayo, sayang, kenapa kau masih di sana?" Jacob terkekeh melihat istrinya yang terduduk diatas kasur dengan tubuh yang tenggelam dalam selimut.


"Tunggu aku di luar, Jack," Balas Alesha malu-malu.


"Baiklah, sayang," Jacob mengangguk, dan segera pergi keluar kamar. Ia merasa geli melihat Alesha yang malu terhadapnya, percis seperti saat malam pertama mereka.


Setelah berada di luar kamar, Jacob menyibukkan dirinya dengan bermain ponsel sembari menunggu Alesha.


Sampai lima menit kemudian, suara pintu yang terbuka langsung mengalihkan perhatian Jacob.


Alesha, dia berjalan pelan, sembari menundukkan wajahnya. Ia masih sangat malu, dan canggung, meski ia sudah mengingat kalau Jacob adalah suaminya, tetap saja ia merasa jika ia baru melakukan 'hal itu' bersama Jacob saat ini saja.


"Sayang..." Jacob menghampiri istrinya. "Tidak usah malu seperti itu, Lil Ale, kau mengingatkanku pada malam pertama kita, sayang."


Alesha mendongkak, menatap suaminya.


"Semoga saja kita bisa segera memiliki anak lagi, Alesha," Jacob mengelusi perut istrinya dengan gerakan yang lembut.


Alesha menunduk kembali, melihat perutnya yang dielusi oleh Jacob.


"Ayo, sayang," Tanpa ingin membuang-buang waktu, akhirnya Jacob membawa istrinya itu berjalan menuju kantin WOSA.


"Argh, pelan-pelan jalannya," Alesha meringgis.


"Kenapa? Sakit, Lil Ale?" Tanya Jacob sembari menghentikan langkahnya.


"Iya," Alesha mengangguk.


"Mau aku gendong saja?" Tawar Jacob sembari menyeringai nakal.


"Tidak!" Alesha menggelengkan kepalanya cepat.


"Tapi katanya sakit?" Goda Jacob.


"Memangnya kau tahu sakit apa?" Tanya Alesha.


"Apa perlu aku menyebutkannya, sayang?" Jacob semakin menundukkan kepalanya, mengikis jaraknya dengan Alesha. "Hmm?"


Alesha segera mundur menjauhi suaminya.


"Tidak usah," Alesha pikir Jacob tahu perihal rasa sakit yang sedang mengilu itu.


Sementara Jacob, ia tertawa kecil, dan mengacak rambut istrinya. "Maaf sudah membuatmu sakit, Al."


"Sudah ayo, aku sangat lapar," Alesha harus mengalihkan pembicaraan, ia tidak mau mengingat dulu kejadian tadi sore bersama suaminya karna ia akan merasa sangat malu, dan canggung.

__ADS_1


"Oke oke, Sayang," Jacob merangkul pinggang Alesha, dan mereka pun berjalan beriringan.


Beberapa pasang mata yang bukan lain adalah para murid WOSA memandang aneh pada Jacob, dan Alesha.


"Jack, mereka memperhatikan kita, aku malu," Bisik Alesha.


"Biarkan saja, sayang. Kita sudah biasa jadi bahan gosipan para murid WOSA," Balas Jacob santai.


"Tapi aku malu," Alesha celingak-celinguk memandang tak nyaman pada sekitarnya.


"Apa mereka mengenali kita?" Tanya Alesha.


"Mungkin tidak denganmu, tapi aku, mereka tentunya tahu siapa aku," Jawab Jacob sedikit membanggakan diri.


"Bagaimana bisa?" Alesha mendongkak menatap suaminya.


"Aku adalah ksatria tampan yang memiliki banyak penggemar di tempat ini," Jacob tersenyum bangga.


"Tapi jangan lupa jika kau juga memiliki pesaing di sini, Jack," Ucap Eve yang berpapasan dengan Alesha, dan Jacob. Pria itu sempat mendengar ucapan terakhir Jacob. "Haii, Alesha."


"Haii, Mr. Eve," Sapa balik Alesha. Ia tahu Eve karna Jacob yang memberi tahunya, dan bukan karna ia yang mengingat salah satu mentor terbaik juga memiliki banyak penggemar rahasia seperti Jacob itu.


"Kalian mau kemana?" Tanya Eve.


"Alesha lapar, kami akan ke kantin," Jawab Jacob.


Eve tersenyum sembari mengangguk kecil. "Oh ya, Al, boleh aku pinjam suamimu sebentar?" Ucapnya.


Awalnya Alesha terdiam seperti orang kebingungan, namun sejurus kemudian kepalanya terangguk.


"Terima kasih, Al," Eve segera menarik lengan Jacob untuk menjauhi Alesha beberapa langkah.


"Ada apa?" Tanya Jacob.


"Levin memberitahuku kalau Theo, dan Theora berhasil kabur," Ucap Eve.


"Apa? Bagaimana bisa?" Jacob memekik pelan.


"Levin sedang memburu mereka berdua saat ini," Lanjut Eve.


"Lalu bagaimana dengan kantor SIO pusat?" Tanya Jacob.


"Beritahu apa?" Kening Jacob menyerngit.


"SIO memintamu untuk menjadi agent lagi, Jack."


"Apa? Jadi agent lagi?" Ulang Jacob.


"Ya," Eve mengangguk.


"Kalau masalah itu aku tidak bisa memutuskannya sendiri, jika Mona memberikanku izin maka aku siap, tapi jika dia tidak memberikan izin maka aku tidak bisa," Balas Jacob.


"Aku tahu, SIO pun tahu, dia membutuhkanmu untuk mengurus induk perusahaan ibu kalian, namun aku pikir kakakmu itu akan memberikanmu izin jika kau bisa membujuknya. Kita tidak bisa membiarkan dua mafia kakak beradik itu berulah lagi, memangnya kau mau perusahaan ibu akan mengalami penurunan, dan kerugian besar karna ulah mereka berdua?" Eve menatap serius pada Jacob.


"Tapi aku juga memiliki kewajiban lain, Eve," Jacob melirik sekilas pada Alesha. "Alesha diburu oleh seorang penjahat, aku harus menjaga, dan melindunginya, belum lagi aku masih harus membantunya mendapatkan ingatannya kembali."


"Aku tidak bisa memaksamu, Jack, tapi mungkin SIO yang akan turun tangan langsung untuk membujukmu," Ucap Eve.


Jacob diam dan berpikir sejenak. "Nanti akan aku pertimbangkan lagi."


Eve mengangguk ringan, lalu ia melirik pada Alesha. "Kau selalu mengajarkannya bela diri lagi bukan, Jack?" Tanya Eve.


"Iya," Jawab Jacob.


"Kau bisa membawanya kembali pada SIO. Laras bilang kehadiran Alesha sangat membantu para peneliti," Ucap Eve sembari melirik pada Jacob.


"Mungkin nanti setelah semuanya baik-baik saja," Jacob tersenyum ketika Alesha menatapnya.


"Yasudah, kalau begitu aku pergi dulu," Eve menepuk pelan bahu rival, dan rekan kerjanya itu. "Alesha, aku pergi dulu."


"Iya," Alesha mengangguk sembari membalas senyuman Eve.


"Ayo, sayang, kau lapar bukan?" Jacob merangkul kembali pinggang istrinya, dan mereka pun mulai berjalan.


"Kau tunggu di taman pinggir kantin saja ya, aku yang akan mengambil makanannya," Ucap Jacob.


"Kita tidak makan di kantin?" Tanya Alesha.

__ADS_1


"Tidak, kita tidak pernah melewatkan malam berbintang seperti malam ini, sayang," Jawab Jacob.


Alesha menundukkan kembali kepalanya. Tidak pernah melewatkan malam berbintang? Ya memang malam ini sedang dipenuhi oleh bintang, tapi Alesha jadi bingung, apakah dulu ia selalu memandang bintang bersama Jacob saat malam hari?


*****


Alesha, dan Jacob sudah berada di taman pinggir kantin. Jacob asik memandangi wajah istrinya dari pinggir, sedangkan sang istri pun tengah asik menyantap makan malamnya.


Mereka berdua duduk di bangku taman yang sepi. Sengaja, Jacob ingin menikmati waktunya berdua saja dengan si manis kesayangannya itu.


"Berhenti memperhatikanku!" Protes Alesha.


"Kau manis, sayang," Balas Jacob tak mengindahkan ucapan istrinya.


"Jack!" Alesha mendengus. Ia menaruh piring berisi makan malamnya di bangku sebelahnya.


"Hmmm?" Jacob menangkup wajahnya, memandang penuh cinta pada istrinya.


"Malamnya cantik ya," Alesha menunjuk ke arah langit.


"Iya, malam ini cantik karna tertular kecantikanmu, sayang."


Aish, pipi Alesha jadi merona panas karna gombalan suaminya barusan.


"Sudah makannya?" Tanya Jacob lembut.


"Iya," Alesha mengangguk malu.


"Kalau begitu kemarilah," Jacob membawa tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Ia menyandarkan kepala Alesha pada dadanya.


"Kita sering menghabiskan waktu malam bersama di sini, sayang," Jacob mengelusi rambut Alesha. "Cobalah hitung bintang-bintang itu ada berapa jumlahnya."


"Menghitung bintang?" Gumam Alesha yang dapat didengar oleh suaminya.


"Ya, dan kita akan menggabungkannya menjadi gugusan bintang," Ucap Jacob.


"Gugusan bintang?" Alesha kembali bergumam. Ia seperti pernah mendengar dua kata itu, tepatnya di kantor SIO, saat ia sedang melakukan penelitian terhadap sebuah nebula.


Eh tunggu!


Di kantor SIO, saat sedang melakukan penelitian terhadap sebuah nebula.


Ya ampun! Alesha ingat!


"Jack!" Alesha menarik tubuhnya dari pelukan Jacob secara mendadak.


Tentunya hal itu membuat Jacob terkejut. "Ada apa, Alesha?" Panik Jacob.


"Aku ingat sesuatu hal! Aku ingat kata gugusan bintang! Aku pernah membicarakannya dengan beberapa ilmuan saat sedang meneliti sebuah nebula di kantor SIO!" Seru Alesha yang kegirangan. "Aku ingat!"


Senyum cerah yang terpampang pada wajah Alesha kini membuat Jacob merasa tenang.


"Alhamdulillah," Jacob tersenyum lembut sembari mengelus pipi istrinya.


"Jack, terima kasih sudah membantuku untuk mengingat hal yang aku lupakan lagi," Alesha menggenggam telapak tangan kiri suaminya. "Aku berjanji, aku akan mengingat kenangan lamaku, masa laluku, dan juga tentang kita."


"Aku berjanji untuk membantumu mengingat segala hal yang kau lupakan, Al," Jacob memajukan wajahnya, dan mulai menciumi permukaan wajah Alesha.


"Emm, Jack, cukup," Alesha mencoba untuk menjauh dari jangkauan ciuman Jacob. "Cukup, sudah.... Jack."


"Tidak bisa ya kau mencium satu kali saja?" Alesha mengerucutkan bibirnya.


"Tidak," Jacob menggelengkan kepalanya. "Tidak adil jika hanya satu bagian saja," Jacob menunjukkan ekspresi nakalnya.


Alesha sedikit risih dengan tatapan lapar Jacob yang seakan ingin melahapnya.


"Berjanjilah kalau kau tidak akan menganggapku sebagai orang asing lagi," Jacob mengacungkan jari kelingkingnya.


"Jika aku menganggapmu sebagai orang asing, lalu siapa pria yang berbulan madu denganku, dan berjanji untuk tidak akan pernah meninggalkanku?" Ucap Alesha sembari mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking suaminya.


"Terima kasih sudah menepati janjimu, Jack. Kau tidak meninggalkanku, tapi malah aku yang pergi darimu, maaf karna aku sudah sangat merepotkanmu," Alesha menatap tulus, setulus ucapan, dan hatinya.


"Jangan pernah pergi lagi, Alesha, aku sangat mencintaimu," Balas Jacob sembari memeluk erat tubuh wanita yang begitu dicintainya itu.


Alesha memejamkan matanya, merasakan hangatnya pelukan, dan kasih sayang yang menyeruak ke dalam hatinya.


Merasa nyaman, akhirnya Alesha mengalungkan lengannya pada leher Jacob, dan menyandarkan dagunya pada bahu pria itu.

__ADS_1


Jack, terima kasih banyak untuk perjuangan, dan kesabaranmu. Meski aku belum mengingat semuanya tentang pernikahan kita yang penting aku sudah tahu juga ingat jika kau adalah suamiku, dan aku yang ternyata memang mencintaimu seperti kau mencintaiku....... Lirih Alesha dalam hatinya.


__ADS_2