
Baru saja dua langkah Alesha melewari ambang pintu kamarnya, mendadak tubuhnya kembali tercekat.
Bumil itu terlihat ketakutan, namun tak dapat bergerak.
Dengan cepat Alesha bangkit, dan berlari lalu meraih tubuh bayinya, Alshiba yang sedang tertidur lelap.
"Jangan mendekat!"
"Huh," Dirga menyeringai. "Aku Dirga, orang yang sudah dijebloskan ke dalam penjara oleh bapakmu, Alesha, dan aku sudah berjanji untuk mengakhiri garis keturunan bapakmu dengan membunuhmu juga anakmu."
"Anggap ini sebagai balas dendamku karna bapakmu sudah menghancurkan usaha, dan menggagalkan rencanaku waktu itu, Alesha!"
"Kalian harus mati malam ini juga supaya aku bisa melepaskan beban, dan kebencian yang menggunduk dalam hatiku selama lima belas tahun!" Dirga berjalan cepat menghampiri Alesha.
"TIDAK! JANGAN MENDEKAT!" Pekik Alesha dengan suaranya yang bergetar.
"Kau tidak bisa lari dariku, Alesha!" Dirga langsung merebut paksa tubuh Alshiba, dan menendang perut Alesha hingga membuat Alesha tersungkur cukup keras.
"Alshiba!" gumam Alesha sembari meremas pakaiannnya sendiri. Napasnya mulai tersengal-sengal, sorot mata dan raut wajahnya nampak ketakutan. Ia melihat bayangan malam itu, saat Dirga membunuh putrinya.
"Al?" panggil heran Wiliam yang menyadari ketercekatan Alesha.
Refleks, Jacob membalikkan tubuhnya, menghadap belakang. "Alesha, kau kenapa?" Dahinya berkerut bingung. Alesha terlihat sawan. Ada apa?
"Tidak, Alshiba! Hiks!" Alesha berusaha bangkit, dan ingin merebut kembali bayinya, namun sayangnya pria lain yang datang bersama Dirga tadi langsung menahan tubuh Alesha dengan kuat.
"Alshiba! Alshiba, hiks, Alshiba!" Alesha meronta sembari menangis kencang. Air matanya bercucuran sangat lebat menghujani wajahnya.
"Al, kau kenapa?" Jacob melepaskan kedua lengan Wiliam yang menopang bahunya, lantas segera menghampiri Alesha yang terlihat ketakutan. "Alesha!" Ia menepuk pelan pipi istrinya itu.
"Dia yang pertama akan mati!"
"TIDAK! JANGAN AKU MOHON.... HIKS, ALSHIBA..... HIKS,"
"Bayi yang malang...."
Setelah itu, terdengar sedikit suara erangan yang keluar dari dalam mulut Alshiba ketika Dirga mencekiknya dengan perlahan, dan semakin kencang.
"ALSHIBA!!!!!!"
"Mati, kau!" Dirga semakin mencengkram leher Alshiba dengan sekuat tenaga.
"Ngaaa..... Ck, ck," Suara pelan itu keluar dari dalam mulut mungil Alshiba sesaat sebelum ia benar-benar menutup mata untuk selamanya.
"ALSHIBA!!!!! TIDAK!! JANGAN LAGI!!! ALSHIBA, HIKS HIKS, ALSHIBA!!!!"
"HHHHHHhhhhhh!!!" Alesha terhenyak kuat. Matanya terbelalak, kakinya mundur dua langkah bersamaan dengan kedua telapak tangan yang menutupi mulutnya.
Ya ampun. Ini jauh lebih jelas. Ruang kamar itu membuat Alesha mengingat secara percis dan detail kejadian malam itu. Seolah dihadapannya sedang ditampilkan reka adegan ulang yang diperankan langsung oleh pelakunya. Arah pupil mata Alesha bahkan ikut bergerak-gerak, mengikuti setiap pergerakan yang ingatannya tunjukkan.
"Tidurlah yang tenang bayi mungil," Ucap Dirga sembari meletakkan tubuh Alshiba yang sudah tidak diisi oleh ruh lagi ke atas kasur.
"Alshiba...." lirih Alesha. Rekaman ulang itu telah terhenti. Alesha menundukkan wajahnya, sebelah telapak tangannya terkepal didada, merasakan tikaman lain yang sangat menyakitkan. Ia baru saja menyaksikan ulang kematian putrinya. Ini sungguh mengerikan.
"Al, ada apa?" tanya Jacob, panik.
Alesha mengangkat wajahnya dengan kelopak mata yang sudah berkaca-kaca. "Hiks, Dirga, dia membunuh, hiks, Alshiba di sana, Jack," lirih Alesha sembari menunjuk ke arah dimana Dirga berdiri waktu itu sembari mencekik Alshiba hingga menyebabkan bayi itu meninggal dunia.
Jacob menyerngitkan dahi. Ia sadar, ini bukan situasi yang baik. Bahkan sangat buruk. Ia selalu membenci situasi ini, Alesha selalu murung dan bersedih seharian, bahkan lebih saat ingatan buruk yang muncul.
"Hiks, aku tidak bisa melupakan kejadian yang ini, hiks. Dia membunuh Alshiba di sana, Jack."
Jacob menghela napas sabar. Ia sudah biasa mendapati situasi seperti ini, tapi sekarang yang dirasa berbeda, jauh lebih menyedihkan dan menyesakkan. Ia memang tidak tahu percis kronologis kematian Alshiba, tapi melihat Alesha yang sesegukkan lirih, itu pasti sangat menyakitkan. Alesha yang menyaksikan langsung kematian putri mereka. Sedikit banyak itu akan memengaruhi mental Alesha, dan yang paling dikhawatirkan adalah Alesha sedang hamil saat ini.
"Jack, hiks, aku tidak bisa menerima ini." Alesha menggelengkan kepalanya, suaranya serak parau, "Aku tidak bisa menerima kematian putriku yang seperti ini. Hiks. Dia dicekik dihadapan aku langsung. Hiks, Dirga, pembunuh! Hiks, aku mendengar suara Alshiba yang kesulitan bernapas, hiks, aku tidak tega mendengar itu lagi, hiks. Jack, ya ampun, hiks hiks." Alesha menundukkan wajahnya, ia menangis tersedu-sedu pelan.
Wiliam yang menyaksikan itu hanya bisa terdiam bingung bercampur sedih. Ia tahu soal kematian keponakannya, tapi ia tidak tahu kronologisnya, dan sekarang, ia baru saja mendengar penjelasan kematian Alshiba yang sesungguhnya dari Alesha, saksi mata nyata kenapa dan bagaimana Alshiba bisa sampai meninggal.
"Jack, hiks, aku harus bagaimana? Suara Alshiba yang kesusahan bernapas terus berputar dikepalaku. Hiks hisk, Ya Allah, astagfirullah...." Alesha menutup kedua telinganya.
Jacob melirik pada kakak iparnya, "Wiliam, terima kasih sudah mengantarku kemari. Tapi, apa kau bisa tinggalkan kami sekarang? Dan, tolong beritahu pada Mona dan siapa pun untuk tidak datang ke kamarku dulu saat ini," pinta Jacob.
Wiliam, ia mengangguk ragu. Ia paham situasinya. Jacob dan Alesha butuh waktu berdua.
Jacob tersenyum kecil mendapati respon itu.
Dengan keraguannya, Wiliam melangkah mundur. Menatap tak yakin pada dua adik iparnya itu.
Sampai ketika Wiliam benar-benar menghilang dari balik pintu kamar yang sudah tertutup kembali, Jacob mengangkat lembut wajahnya istrinya.
"Jangan di sini, Sayang," ucap Jacob lembut. Ia membawa Alesha berjalan menuju sofa, sementara Alesha sendiri masih terisak lirih.
"Jack, hiks, aku merindukan Alshiba dan Khalid. Khalid meninggal dalam pelukanku, hiks, Alshiba meninggal dengan mengenaskan tepat dihadapan mataku. Hiks, apalagi? Apalagi kenangan buruk yang masih tersembunyi? Aku tidak bisa seperti ini. Hiks, aku selalu menderita dua kali karna kejadian suram yang aku lupakan dan tiba-tiba datang begitu saja. Jack, aku tidak bisa menerima kematian Alshiba yang seperti ini. Hiks, hiks, Ya Allah.... "
Jacob menghela napas dengan sabar, lagi. Ia menarik lembut tubuh Alesha, mendekapnya dalam pelukan hangat. Ia akan membiarkan Alesha mengutarakan semua keluh dan kesah lebih dulu.
__ADS_1
"Jack, hiks. Aku harus apa sekarang?"
Jacob mencium puncak kepala istrinya.
"Ya Allah, hiks hiks, astagfirullah...." Alesha meremas kemeja yang suaminya kenakan. Kehilangan anak adalah hal yang begitu membuat Alesha menderita saat itu, dan kini. Apa yang bisa ia perbuat? Semua sudah berlalu jauh.
"Jack, hiks, aku merindukan Alshiba dan Khalid. Aku ingin pergi ke makam mereka, hiks hiks. Dimana makam mereka?"
Jacob sedikit tercekat. Permintaan Alesha barusan akan sedikit berisiko, mengingat anak buah Dirga sedang berkeliaran mengawasi Alesha di luar.
"Jack, hiks, aku ingin pergi ke makam mereka. Tolong, aku ingin bertemu dengan mereka, hiks."
Jacob diam, berpikir.
"Jack, tidak akan terjadi sesuatu yang buruk padaku. Aku tidak takut pada Dirga, dia tidak bisa melakukan apa-apa padaku, aku tidak takut padanya. Hiks, aku hanya ingin pergi ke makam Khalid dan Alshiba."
Mungkin iya, mungkin tidak. Jacob ragu. Anak buah Dirga pasti akan memata-matai Alesha. Tapi, Alesha juga belum pernah mengunjungi makam putra-putri mereka.
"Jack..." Alesha memohon.
"Ehm, i...iya, baiklah."
"Aku mau besok pagi!" Alesha menarik tubuhnya dari pelukan Jacob. Ia menatap serius suaminya. "Aku ingin pergi ke makam Khalid dan Alshiba besok pagi! Kau tidak perlu ikut ke sana, kau belum sembuh!"
Jacob hanya mengangguk. Ia tidak ingin berdebat. Besok, ia akan tetap menemani Alesha pergi ke makam.
"Aku akan menyiapkan air hangat untukmu mandi." Alesha beranjak berdiri.
Jacob tak membalas.
Selepas itu, Alesha melangkah pergi.
Sementara Jacob masih termenung di tempatnya.
*****
Pukul 22.15 WIB
"Mona, dimana Alesha?" tanya Jacob pada kakaknya, Mona yang saat ini sedang menemaninya bersama Wiliam di kamarnya. Ia baru saja beres mandi, dan kini sedang duduk berselonjor di tempat tidurnya.
"Entahlah, tapi tadi aku lihat Alesha berada di dapur," jawab Mona. Dipangkuannya terdapat nampan berisi susu jahe dan sup bawang juga seporsi nasi. Ia biasa membuatkannya untuk Sang Adik saat adik laki-lakinya itu kembali dari misi dengan kondisi babak belur.
Jacob tak membalas. Ia diam, bertanya-tanya dalam pikirannya, dimana Alesha sekarang, dan sedang apa?
"Jack..." panggil Mona, pelan.
"Kau sungguh baik-baik saja, kan?" tanya lirih Mona sembari memijiti pelan kaki adiknya.
Jacob tersenyum hangat. "Aku baik, Mona."
"Kau yakin? Apa perlu kita ke rumah sakit, bagaimana jika ada memar serius di dalam tubuhmu?" Mona masih terlihat cemas.
"SIO tidak akan mengizinkannya pulang kalau itu terjadi, Mona. Kau, kan pernah menjadi bagian dari organisasi kesehatan SIO juga, jelas kau tau bagaimana kerja mereka," sahut Wiliam, sedikit jengah.
Mona menghembuskan napasnya dengan pasrah. "Aku akan menuntut SIO kalau mereka pura-pura tidak tahu bahwa terdapat memar atau luka dalam tubuhmu yang bisa menimbulkan masalah besar bagi kesehatanmu nanti."
Jacob tertawa kecil. Kakaknya itu memang selalu bawel kalau menyangkut kesehatannya. Tidak jarang ia diledeki Si Anak Mamih oleh sesama rekan kerjanya di SIO sebab Mona yang selalu terlalu mencemaskannya.
Sementara itu di lantai bawah, tepatnya di gudang, Alesha sedang terisak lirih-lagi-sembari memeluk pakaian milik Khalid dan Alshiba. Di gudang itu, masih terdapat peralatan bayi, termasuk pakaian dan kebutuhan lainnya. Ingatannya semakin kuat, saat pertama kali ia memandikan Alshiba, saat Alshiba menatapnya dengan penuh kepolosan, dan saat-saat kebersamaan lain yang begitu singkat. Khalid dan Alshiba sedang apa sekarang? Apa mereka merindukan bunda mereka juga?
"Al...." Laura, ia diberitahu oleh Taylor kalau Alesha sedang di gudang sendirian.
Alesha tak membalas. Tak menyadari ada yang memanggilnya lebih tepatnya.
"Alesha...." Laura berjalan mendekati menantunya itu.
"Hiks, Ibu. Ada apa?" Alesha mendongkak, bertanya lirih sembari menghapus air matanya.
"Kau sedang apa di sini?" tanya Laura, pelan sembari menyentuh bahu menantunya.
"Hiks, Taylor bilang tadi kalau pakaian juga perlengkapan milik Khalid dan Alshiba masih tersimpan rapi di gudang ini. Jadi, aku datang ke sini untuk melihatnya," jawab Alesha.
Laura menghembuskan napasnya dengan sabar. Ia tahu perasaan Alesha sekarang, ia pernah kehilangan putri dan putranya karna kesalahan dan kebodohan ia dan suaminya waktu itu. Walau sekarang, syukurnya Mona dan Jacob sudah kembali padanya.
"Besok pagi aku akan pergi ke makam Khalid dan Alshiba, Bu. Aku sudah bilang pada Jacob, dan dia sudah mengizinkannya," lanjut Alesha.
Laura mengangguk kecil. "Kau tahu, Alesha."
Alesha menatap wajah ibu mertuanya itu. Tahu apa?
"Ibu juga pernah berada diposisimu sekarang. Menangis karna kehilangan putra dan putri yang sangat ibu cintai."
Alesha menyerngitkan dahinya. Apa Jacob memiliki saudara kandung lain selain Mona dan Sharon?
Laura tersenyum kecut. "Kemari, jangan di sini. Kita duduk disofa itu." Ia mengajak Alesha duduk disofa pojok ruangan yang sudah usang dan ditutupi kain putih.
__ADS_1
"Waktu Jacob berusia tiga tahun, dan Mona delapan tahun, ibu dan suami ibu pergi, dan menelantarkan mereka karna masalah perekonomian keluarga kami. Kami merasa tidak mampu mengurus mereka, dan membawa mereka ke panti asuhan."
Deg!
Alesha cukup terkejut mendengar itu. Apa itu benar?
"Tapi ibu panti waktu itu bilang, kalau Mona pergi, kabur dari panti dan membawa Jacob dua tahun sesudah ibu tinggalkan. Semenjak itu, Ibu dan suami Ibu tidak pernah lagi mendengar kabar mereka, dan setiap hari selalu merutuki diri sendiri atas kesalahan terbesar itu. Ibu tahu rasanya kehilangan anak, Al. Ibu tahu percis. Berbelas-belas tahun berlalu, ibu selalu dibayangi rasa bersalah. Sampai ketika tiga tahun sebelum ibu bertemu kembali dengan Jacob dan Mona, suami ibu, mendiang ayah mertuamu meninggal karna sakit. Satu pesan terakhir yang ia katakan pada ibu, ia ingin Jacob dan Mona kembali pada ibu, dan kita membangun hubungan kembali dari awal, menjadi keluarga kecil yang bahagia." Laura menatap lembut wajah menantunya, "Kau tahu, Al? Setiap malam, ibu selalu menangis, mengkhawatirkan Mona dan Jacob, belum lagi rasa bersalah besar yang selalu merundung. Ibu tidak bisa menemukan mereka berbelas-belas tahun lamanya. Lalu, tepatnya hampir lima tahun lalu, ibu akhirnya bisa bertemu kembali dengan Mona dan Jacob. Meski awalnya sulit untuk mereka menerima kehadiran ibu. Ibu mengerti, sangat mewajari hal itu. Mereka berdua bahkan terang-terangan tidak menggangapku sebagai ibu mereka. Tapi seiring berjalannya waktu, ibu sangat bersyukur, karna akhirnya, dan sampai detik ini, mereka akhirnya bisa memaafkan kesalahan ibu dan ayah mereka,
"Al." Laura menatap tulus pada Alesha, "Ibu pernah berada diposisimu. Sulit sekali rasanya. Tapi kau harus ingat, jangan terlalu berlarut. Kejadian itu sudah berlalu, cucu cucu ibu susah bahagia di Surga. Sekarang, kau, dan kita harus fokus pada kehamilanmu. Jangan sampai kau stress, Nak. Ibu ingin melihat cucu ibu ini." Laura menyentuh perut menantunya dengan lembut, "Ibu ingin saat dia lahir nanti, kau dan dia dalam kondisi sehat. Apalagi saat ini Mona juga samanya sepertimu, sedang hamil. Mungkin jarak persalinan kalian berdua hanya akan berbeda beberapa hari saja." Ia tertawa kecil. "Akan bahagia sekali keluarga kita saat dua malaikat kecil itu hadir, Al. Ibu selalu mewanti-wanti pada Wiliam untuk menjaga Mona, dan memperlakukan Mona dengan baik. Juga Jacob, ibu selalu memperingatkannya untuk menjagamu, dan jangan bermain kasar padamu. Apa dia pernah kasar padamu, Al?" Tatapan mata Laura terlihat serius.
Pernah? Huh, jangan tanya. Dari sebelum menikah, Jacob memang kasar, dalam ucapan, namun dalam sikap, dia tidak pernah melakukan itu. Kecuali saat masa latihan di WOSA. Itu sudah berbeda konteks.
"Al, Jacob tidak bermain kasar padamu, kan?" ulang Laura. Kini terdengar lebih menuntut.
Alesha mengangguk kecil, "Mr. Jacob, dia sebenarnya kadang suka kasar padaku, seingatku. Tapi kasar dalam hal ucapan saja. Dia tidak pernah berani kasar secara fisik padaku selama kami menikah."
Terdengar hembusan napas kasar dari Laura. "Apa dia sering seperti itu?"
Kali tatapan Laura sedikit menajam.
Waduh! Alesha sedikit salah tingkah. Apa ibu mertuanya itu akan marah pada suaminya?
"Ehm, ti...tidak, ibu." Alesha menggelengkan kepalanya. "Hanya sesekali saja, jika dia sedang pusing karna pekerjaan, biasanya dia jadi lebih sensitif. Tapi aku tidak pernah mempermasalahkan hal itu, selagi dia tidak bermain kasar secara fisik padaku, dan selagi aku tahu kalau dia mencintai dan menyayangiku. Mr. Jacob lebih sering menunjukkan sifat romantis, lembut dan manjanya, Ibu, ketimbang dia yang pemarah."
"Ibu akan memperingatkannya untuk tidak melampiaskan marahnya padamu jika memang ia pusing karna pekerjaan!" ucap Laura, cukup tegas.
"Eh, tidak usah, Ibu. Jangan!" refleks Alesha, sedikit panik.
"Al, Jacob adalah suamimu, tidak seharusnya dia seperti itu. Melampiaskan rasa lelah, dan kesalnya karna pekerjaan padamu!"
"Ibu..." Alesha menggenggam kedua telapak tangan mertuanya itu. "Jacob tidak seperti yang ibu pikiran sekarang. Dia baik. Dia sangat baik. Ibu tidak perlu menegurnya karna hal itu. Dia sudah tidak seperti itu lagi sekarang. Setelah waktu itu aku diamkan beberapa minggu karna selalu menyibukkan dirinya dengan pekerjaan dan mengacuhkanku juga kondisi kehamilanku yang sedang tidak baik. Itu cukup jadi pelajaran untuknya. Ibu tidak perlu menegurnya lagi," bujuk Alesha.
"Tidak, Al. Aku adalah ibunya. Aku berkewajiban untuk memberitahu padanya agar tidak kasar padamu, dan aku juga harus menegurnya jika dia berani melakukan hal itu!" Laura bersikeras.
"Ibu boleh menegur dan memperingatinya kalau ibu melihat langsung Mr. Jacob yang kasar padaku!" Alesha menatap lamat wajah mertuanya. "Mr. Jacob pria yang baik, Ibu. Percayalah. Dia selalu memperlakukan aku dengan sangat baik."
"Permisi, Nona, Nyonya."
Mendadak muncul suara lain.
Taylor, ia berdiri di ambang pintu gudang.
"Tuan Jacob mencarimu, Nona," ucap Taylor.
*****
Alesha kembali ke kamarnya, ditemani Laura. Bumil itu masih menggenggam dua pakaian milik mendiang anak kembarnya. Dengan mata yang masih cukup sembab, dan ujung hidung juga dua garis alis yang memerah, ia langsung menyita perhatian suami dan kedua kakak iparnya.
"Al, kau kenapa?" tanya Mona dengan mimik herannya.
Alesha menggelengkan kepalanya seraya tersenyum, "Aku baik-baik saja. Aku baru kembali dari gudang. Hiks, melihat-lihat pakaian dan perlengkapan peninggalan Khalid dan Alshiba."
Tak perlu penjelasan lain, Mona, Wiliam, juga Jacob langsung mengerti kenapa sekarang wajah Alesha terlihat sembab.
"Jack, karna Alesha sudah kembali, aku pergi dulu, ya," ucap Mona.
Jacob mengangguk.
"Istirahat yang cukup. Oke." Mona menoleh pada Alesha dan Laura, "Al, Ibu, aku pergi dulu, ya."
"Iya, Mona. Terima kasih sudah menemani Jacob," balas Alesha dengan senyum kecilnya.
Mona mengangguk. Ia lantas menoleh pada suaminya. "Ayo, Wil."
"Oh ya, Ibu juga akan kembali ke kamar saja kalau begitu," ucap Laura selepas Mona dan Wiliam meninggalkan kamar itu. "Jack, kau istirahat dulu. Jangan melakukan aktivitas berat dulu selama beberapa hari kedepan." Ia mengusap pelan puncak kepala putranya.
"Iya, Ibu," balas Jacob.
Sejurus kemudian, Laura pun pergi meninggalkan kamar itu, menyusul putri dan menantu laki-lakinya.
Sekarang, hanya tersisa Jacob dan Alesha saja.
"Al...." panggil lembut Jacob.
Alesha tak membalas. Ia berjalan memutari tempat tidur, lantas naik dan duduk disebelah suaminya. Dua pasang pakaian milik Khalid dan Alshiba masih dalam genggamannya. Harum wangi parfum bayi yang masih melekat membuat hati Alesha kembali teriris-iris.
"Aku sengaja tidak memberikannya pada siapa pun, Al. Aku masih menyimpan semua perlengkapan milik Khalid dan Alshiba," ucap Jacob.
"Hiks, kenapa mereka harus meninggal?" parau Alesha, "Mereka masih terlalu kecil untuk berpisah dengan orang tuanya. Hiks hiks. Ya Allah...." Ia menundukkan wajahnya, dan kembali terisak kecil.
Melihat istrinya saat ini, Jacob berinisiatif. Ia menarik lembut tubuh Alesha kedalam pelukannya. Mencoba untuk menenangkan istrinya itu.
"Jack, hiks, aku ingin mereka kembali. Hiks hiks."
Jacob tak membalas. Ia tetap diam, membiarkan Alesha mengeluarkan semua keluh kesahnya.
__ADS_1
Ini berat mungkin untuk Alesha, seolah dia baru saja kehilangan kedua anaknya. Jacob paham akan hal itu. Ia akan membiarkan Alesha untuk melalui dukanya atas kehilangan kedua buah hati mereka.