Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Mengingat Kawan


__ADS_3

Keesokan harinya, pagi hari pukul setengah delapan di hutan buatan sebelah timur WOSA, seperti biasanya Jacob akan menjadi guru bagi Alesha dengan menjelaskan segala hal yang diajarkan di WOSA.


"Aku seperti tidak asing dengan rumus-rumus ini," Alesha menyerngitkan dahinya, menatap bingung pada buku besar yang terdapat beberapa soal rumus-rumus kimia.


"Tadi kau menjelaskan ini, dan aku seperti ingat kalau aku pernah diajarkan rumus ini, tapi bukan olehmu," Alesha menatap pada suaminya.


"Mrs. Lea, dia adalah guru yang mengajarkanmu juga para murid WOSA tentang rumus ini," Balas Jacob sembari mencium gemas pipi istrinya.


Alesha sedikit terkejut oleh perilaku suaminya itu, namun Sejurus kemudian ia pun tersenyum tipis, menandakan kebahagiaan kecil yang mendera hatinya.


"Ayo, kerjakan, aku sudah mengajarkannya bukan padamu," Ucap Jacob seraya mengelus puncak kepala Alesha. "Sepuluh menit waktu untukmu, sayang."


"APA?" Alesha memekik, kedua matanya membulat sempurna. "Sepuluh menit?"


"Itu hanya dua soal, Lil Ale, seharusnya cukup," Balas Jacob, lembut.


"Kau ingin menyakiti kepalaku ya?" Alesha mendengus sebal.


"Aku hanya memberikan pelatihan, Al, lagi pula kau bilang kau ingat rumus itu bukan? Baguslah, ayo kerjakan. Aku akan menunggumu di sana," Jacob menunjuk pada sebuah bangku yang terbuat dari semen yang berjarak lima meter dari Alesha. "Jika kau telat, maka ada hukumannya, maka dari itu semangatlah, sayangku."


Demgan santai Jacob melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya. "Oke, dimulai dari sekarang," Jacob menjentrikkan jarinya lalu pergi menjauh dari Alesha.


"Hey! Tidak salah sepuluh menit? Aku tidak sejenius para profesor yang bisa mengerjakan rumus rumit seperti ini dengan cepat!" Teriak Alesha.


"Kau membuang waktumu, sayang!" Sahut Jacob.


"Ish!" Alesha menghempaskan kedua tangannya dengan kesal. "Bagaimana aku menyelesaikan ini? Sepuluh menit? Ayolah," Alesha mendumal sebal. Ia tidak tahu bagaimana caranya supaya ia bisa menyelesaikan dua soal rumus rumit itu hanya dalam waktu sepuluh menit? Jadi, Alesha mengerjakan sebisanya saja, mengikuti arahan, dan petunjuk yang otaknya berikan.


Sedangkan Jacob, ia duduk menyilang sembari melihat istrinya yang sedang berusaha menyelesaikan soal yang sudah ia berikan. Jacob sedikitnya terkekeh saat matanya memberikan bayangan seolah-olah ada anggota timnya yang lain. Senyuman tipis yang kini terukir pada Jacob memberikan tanda jika ia merindukan anak-anak asuhnya semasa di WOSA. Saat-saat ketika ia menghukum Lucas, Mike, dan Alesha, lalu ketika ia mengajarkan teknik, dan cara bela diri, saling menghibur dengan tawa juga candaan bersama, sungguh Jacob merindukan saat-saat seperti itu.


Drett... Drett...


Ponsel Jacob bergetar, tanda ada pesan masuk.


(Bastian : Mr. Jacob, bagaimana kabarmu, dan Alesha?)


Wah ternyata Bastian, kebetulan sekali.


(Me: Aku, dan Alesha baik-baik saja. Dia sudah mengingatku, dan kalian 😊)


(Bastian : SUNGGUH? KAU TIDAK BERCANDA KAN MR. JACOB! DIA MENGINGAT KAU DAN KAMI? 😱)


(Me : Iya☺️)


(Bastian : Boleh aku melakukan panggilan video? Nakyung, Maudy, dan Merina ingin melihat Alesha, Mr. Jacob.)


(Me : Tentu saja silahkan.)


Panggilan video yang Bastian lakukan segera diterima oleh Jacob.


"HALLO, MR. JACOBBBB...." Wajah Merina, Maudy, dan Nakyung langsung memenuhi layar ponsel Jacob. "DIMANA ALESHA? KAMI MERINDUKANNYA, DAN KAMI SANGAT INGIN BERTEMU DENGANNYA!!!" Heboh Nakyung.


"Dia sedang mengerjakan soal yang aku berikan," Jacob mengalihkan mode kameranya menjadi menghadap kebelakang.


"ALESHAAA......" Panggil ketiga gadis itu hingga terdengar oleh Alesha.


Otomatis Alesha pun langsung celingak celinguk menatap sekelilingnya.


"Jangan ganggu dia dulu, aku memberinya waktu sepuluh menit untuk menyelesaikan soal rumus yang aku berikan," Ucap Jacob.


"Apa itu Alesha? Kenapa dia terlihat seperti seorang murid ketimbang seorang istri, Mr. Jacob?" Tanya Aiden bersamaan dengan kekehannya.


"Aiden benar, Alesha seperti seorang gadis remaja, hahaha, apa yang kau lakukan padanya, Mr. Jacob?" Lanjut Tyson.


"Mr. Thomson memberikan dia seragam, dan beberapa alat tulis, jadi aku mengubahnya menjadi murid WOSA kembali," Jawab Jacob. Hatinya terasa bahagia karna bisa menjalin komunikasi lagi dengan anak-anak asuhnya semasa di WOSA itu.


"Maksudnya, kau mengajarkan apa yang guru WOSA ajarkan pada Alesha?" Mike meminta kejelasan.


"Iya," Jacob mengangguk.


"Apa dia masih takut, dan canggung padamu, Mr. Jacob?" Tanya Lucas.


"Sedikit, tapi dia sudah mengingatku," Jawab Jacob. "Lihatlah! Alesha berjalan kemari, sepertinya dia sudah menyelesaikan soalnya!" Jacob berucap dengan semangat.


"Kau bicara dengan siapa?" Tanya Alesha menghampiri suaminya.


"Teman-temanmu," Jawab Jacob, tersenyum ramah.


"Teman-temanku?" Alesha menyerngit bingung.


"Kemarilah," Jacob menarik lengan Alesha supaya istrinya itu bisa duduk dipangkuannya.


"Eh, Jack!" Alesha mendengus sebal. Jacob membuatnya terkejut.


"Lihatlah, mereka ingin melihatmu, Lil Ale," Jacob mengarahkan layar ponselnya pada Alesha, dan membuat Nakyung, Maudy, dan Merina memekik heboh.


"ALESHA..... HAIII, LIL ALE KAMI MERINDUKANMUUUUU."


"ALESHA, APA KABARMU? KAPAN KAU AKAN KEMBALI?"


"LIL ALE, KAU MENGINGAT KAMI KAN?"


Alesha tidak berkata apa-apa, melainkan hanya menatap lurus pada layar ponsel suaminya. Mungkin ia sedang memikirkan sesuatu.


"Haii, Alesha..." Mike, Aiden, dan Tyson pun turut menyapa sembari melambaikan tangan mereka pada Alesha.


"Luxury-1,"Gumam Alesha, ia menoleh pada suaminya.


"Iya, Luxury-1, itu nama kelompok tim kita, Al," Jacob mengangguk.

__ADS_1


"Luxury-1," Alesha kembali menoleh pada layar ponsel suaminya. Kembangan senyum mulai merekah saat ia ingat nama kelompok tim itu.


"Haii, Alesha, apa kabarmu?" Lucas tiba-tiba muncul pada layar ponsel Jacob hingga membuat Alesha girang.


"Lucas!! Haii, aku baik, bagaimana kabarmu, dan dimana Bastian?" Alesha tersenyum sumringah.


"Hello, Al, aku baik-baik saja," Balas Bastian yang juga muncul tepat disebelah wajah Lucas.


"Bastian, haii," Alesha melambai-lambaikan tangannya.


"Kau hanya mengingat mereka saja, sayang?" Bisik Jacob sembari mencium singkat sebelah pipi istrinya.


"Tidak," Alesha menggelengkan kepalanya. "Yuna Kyung, Nakyung!" Seru Alesha masih girang.


"Iya, aku di sini!" Sahut Nakyung yang tidak kalah girangnya dengan Alesha.


"Kau hanya mengingat Nakyung saja?" Sambar Maudy.


"Iya, kau juga tidak mengingatku, Lil Ale?" Tambah Merina.


Alesha tersenyum manis sembari menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku mengingat kalian berdua."


Perlahan, jari telunjuk Alesha terangkat, mengarah pada Maudy, dan Merina bergantian. "Maudy...... Merina."


"AAAA, KAU MENGINGAT KAMI!!!" Merina, dan Maudy berteriak kencang, membuat siapa pun yang mendegarnya pasti akan menutup telinga.


Alesha tertawa kecil. Sungguh tawa yang berharga untuk Jacob.


"Kau berhasil, sayangku," Dua ciuman kini Jacob daratkan pada kedua sisi pipi istrinya.


"Stephani...." Alesha menunduk sembari bergumam kecil. "Stephani Laurent.... Stella..."


"Stella!" Seru Alesha. "Dimana Stella?" Tatapan bahagia Alesha berbanding terbalik dengan ekspresi Jacob juga kedelapan kawannya kini setelah mendengar nama si pengkhianat tersebut.


"Dimana Stella?" Ulang Alesha masih terlihat bahagia. Ia tidak ingat kejahatan apa yang pernah Stella lakukan padanya.


"Dia bukan lagi bagian dari kita, Al," Bisik Jacob. Tatapannya lekat pada wajah Alesha.


"Bukan bagian dari kita? Maksudmu?" Alesha menyerngit bingung.


"Stella pernah berbuat jahat padamu, dan WOSA, dia bukan bagian dari kita lagi," Jelas Bastian.


"Berbuat jahat padaku, dan WOSA?" Ulang Alesha.


"Kau mungkin belum mengingatnya, sayang," Ucap Jacob.


Memang benar, Alesha ingat jika Stella adalah temannya, namun ia tidak ingat semua kejadian yang pernah ia alami bersama Stella.


"Sudah, lebih baik kau tidak perlu mengingat hal yang satu itu, Lil Ale. Sekarang pegang ponsel ini, dan biarkan aku memeriksa hasil jawabamu," Jacob menyerahkan ponselnya pada Alesha, kemudian ia mengambil alih buku pelajaran milik istrinya itu.


"Alesha, kapan kau akan kembali ke Indonesia?" Tanya Nakyung.


"Iya, kami merindukanmu, Al. Kau tahu, aku rindu saat kita berempat selalu bermain, dan berjalan-jalan saat weekend," Ucap Merina.


"Cepatlah kembali, SIO masih menunggumu, Alesha," Sambung Maudy.


"Maudy benar, Mrs. Laras bilang padaku jika ia, dan SIO masih membutuhkanmu, Alesha," Kini Tyson yang menyahut.


"SIO?" Alesha memicingkan kepalanya. Ia bingung. "Jack, SIO itu sebenarnya apa?"


Tanpa mengalihkan fokus perhatiannya dari jawaban yang terdapat dalam buku, Jacob menjawab santai. "Secret Intelegent Organitation. Sebuah organisasi besar yang bersifat rahasia atau ya kau bisa menyebutnya lembaga Ilmu pengetahuan yang bergerak dalam bidang penelitian astronomi dan sains. Bukan hanya dalam bidang ilmu pengetahuan saja, SIO juga memberantas orang-orang jahat yang berniat untuk mencuri, atau menyalah gunakan sampel-sampel khusus yang berhasil ditemukan."


Sebentar, Alesha berpikir sejenak. Maksudnya ia sudah pernah bekerja di tempat yang Jacob jelaskan tadi? Seperti itu?


"Kau menjalani pendidikan khusus di WOSA untuk mempersiapkan dirimu sebelum bekerja di SIO, makanya di sini para murid diberi pendidikan khusus, sayang, dan aku adalah mentormu, yang menjadi guru juga penanggung jawab tim kita di sini," Lanjut Jacob sembari mengecup singkat bibir ranum istrinya. "Kau memang anak yang pintar," Kini gantian, lengan Jacob lah yang beralih mengusapi puncak kepala Alesha. "Nilai sempurna untukmu, sayang."


"Oh cukup-cukup, aku jadi iri melihat Alesha," Merina menutupi wajahnya malu-malu.


"Kenapa kalian selalu saja bermesraan di depan kami?" Maudy mendengus sebal.


"Supaya kalian bisa cepat-cepat mencari pasangan," Balas Jacob yang malah sengaja mencium lama bibir istrinya, Alesha untuk meledek kedelapan anak-anak didiknya itu.


"Hahaha, ya ampun," Terdengar tawaan pecah dari Bastian, dan ketujuh partner -nya. Entah apa yang membuat mereka sampai tiba-tiba tertawa geli seperti itu.


"Sepertinya diantara kita tidak ada yang perlu mencari pasangan lagi. Hahahaha," Ledek Lucas disela-sela tawanya.


"Apa maksudmu?" Tanya Jacob, penasaran.


"Hey, brother," Lucas merangkul pundak Mike, menunjukkan tatapan menggoda.


"Kau belum tahu ya, Mr. Jacob? Hahahaha," Kini gantian Nakyung yang tertawa cekikikan.


"Kenapa dengan Mike? Apa dia sudah punya pacar?" Tanya Jacob. Penasaran, dan geli.


"Pacar? Hahahahhahaha....."


"Cukup!" Merina mendengus sebal. Wajahnya mulai memerah.


"Lihat Merina, cieeee, hahahaha," Goda Tyson.


"Mike, dan Merina jadian?" Kening Jacob kian mengerut bersamaan dengan timbulnya tawa kecil yang membuat wajahnya terlihat kian sempurna.


"Jadian? Hahahahhahaha?" Tawa keenam rekan Alesha itu kian pecah, sementara Mike hanya bisa tersenyum simpul, dan Merina mengerucutkan bibirnya.


"Hey, Mike, katakan sesuatu!" Ledek Jacob.


"Apa yang mesti aku katakan?" Mike mengedikkan bahunya.


"Jangan dengarkan mereka, Mr. Jacob, waktu itu tanganku terkilir, aku bersama Mike istirahat lebih dulu karna yang lain masih sibuk bekerja, jadi aku meminta Mike untuk membantuku makan. Hanya itu saja! Tiba-tiba Lucas, dan Tyson datang, jadilah mereka menyebarkan berita tidak benar!" Klarifikasi Merina.

__ADS_1


"Benar begitu, Mike? Atau ada yang mesti kau tambahkan?" Jacob kian menunjukkan ekspresi meledeknya pada Mike.


"Kurang lebih seperti itu," Jawab Mike dengan santai.


"Tapi bagaimana jika Mike sungguhan menaruh perasaan padamu, Merina?" Kini gantian, Merina yang menjadi sasaran ledekan Jacob. "Lihatlah, dia begitu santai menyikapi ucapan kawan-kawannya. Tidak sepertimu yang sepertinya menolak."


"CK! Mr. Jacob! Bisa tidak kau tidak usah memperkeruh suasana!" Merina mendengus, menatap sebal pada Jacob. Untung saja kini mereka hanya terhubung melalui sambungan panggilan video saja, jika tidak mungkin Merina sudah memukuli suami Alesha itu, seperti yang biasa ia lakukan dulu jika Jacob atau yang lain meledeknya.


"Sudahlah, Merina, lagi pula apa salahnya jika kita berpacaran?"


Ucapan yang Mike katakan barusan sontak saja sukses membuat Jacob, Alesha, Bastian, dan yang lain bersorak, dan bertepuk tangan heboh.


Prok...


Prok...


Prok...


"Hahahahhahaha.... Merina kau dengar itu?" Nakyung menepuk-nepuk bahu Merina sambil terus tertawa.


"Merina, apa jawabanmu? Hahahaha?" Sahut Aiden dari belakang.


"Hahahah.... Sudah, terima saja Merina," Ucap Bastian sembari menyerka air mata bahagianya.


"Ish, kau!" Merina menggeram. Ia bangkit, dan menghampiri Mike dengan perasaan kesal.


Bugh!


"Argh!" Mike meringgis, memegangi perutnya yang ditonjok oleh Merina.


"Kau!!!"


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Merina memukuli tubuh Mike dengan cukup keras, dan itu semakin membuat tawa yang lain pecah, begitu pula dengan Mike.


"Aaaaaa, ampun ampun, i-iya maaf-maaf..." Mike mencoba menghindari pukulan Merina. "Aku hanya bercanda, Merina, maaf... Maaf..."


"Bercandamu itu tidak lucu tahu!"


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Merina masih tetap memukuli tubuh kawan prianya itu.


"Hahahahahahahahaha......"


Disaat yang lain tertawa, Alesha menoleh pada suaminya sembari berucap pelan. "Aku merindukan mereka. Aku ingin berkumpul lagi dengan mereka, Jack."


"Tenang saja, setelah kita pulang ke Indonesia nanti, aku akan meminta mereka untuk menginap di mansion kita, sayang," Balas Jacob, lembut.


"Terima kasih, Big Guy," Alesha tersenyum cerah.


Sebuah kebahagiaan besar untuk Jacob melihat kondisi Alesha saat ini yang sudah mendapatkan cukup banyak ingatan lama. Setidaknya, usaha Jacob tidak sia-sia.


"Oohh, lihatlah Mr. Jacob, dan Alesha, mereka begitu mesra bukan, kau, dan Merina harus mencontoh itu, Mike," Sahut Aiden disela-sela tawanya.


"Tidak tidak!" Tolak Mike yang masih mencoba menghindari pukulan Merina. "Cukup, Merina! Aku hanya bercanda!" Mike langsung menahan kedua pergelangan tangan Merina dengan kuat.


"Ciee cieee, hahahahaha."


"Ekhm, Ekhm."


"Uhuk, Uhuk, Uhuk."


"Bercandamu itu tidak lucu!" Merina menarik lengannya dari genggaman Mike. "Huh!"


"Hmm, pura-pura marah, tapi dalam hati bahagia, hahahah."


Bugh!


"Argh!"


"Diam kau, Tyson!" Merina meninju perut Tyson yang barusan meledeknya kembali.


"Sakit sekali pukulanmu, Merina!" Tyson balik menatap tidak percaya pada kawan perempuannya itu. Ia baru tahu kalau ternyata pukulan Merina sekuat itu.


"Lihatlah, perutku sampai merah seperti ini. Tanggung jawab kau, Merina!" Mike membuka kancing baju kemeja yang ia pakai hingga menunjukkan perut sixpacknya.


"Ini!"


Bugh!


Merina kembali meninju perut sixpack Mike, namun dengan pukulan yang tidak sekeras tadi.


"Argh! Merina, sakit!" Ringgis Mike.


"Galak sekali temanmu, Alesha," Komen Bastian.


Alesha yang mendengar itu hanya tersenyum lebar. Ia merasa bahagia melihat tingkah kedelapan kawannya itu.


"Kau mau kan bergabung dengan mereka, dan bercanda seperti itu lagi?" Bisik Jacob.

__ADS_1


"Iya," Alesha mengangguk.


"Bersabarlah, sayang. Ini masih belum waktunya," Jacob kembali mencium sebelah pipi istrinya.


__ADS_2