
Alesha tengah bersiap untuk pergi menuju kediaman kakeknya. Sungguh, ia masih belum bisa menerima ingatannya tentang Yuna. Ia tak lagi memberontak, dan marah pada suaminya agar demi bisa tinggal kembali dengan kakeknya. Singkatnya, ia hanya berpura-pura saja sekarang. Pura-pura tidak marah, dan mempercayai ucapan Jacob yang mengatakan jika pria itu benar-benar mencintainya, dan bukan karna ia yang mirip dengan Yuna.
"Lil Ale, sudah?" tanya Jacob seraya memeluk tubuh istrinya dari belakang.
Sungguh, Alesha sangat membenci hal itu sekarang.
"Sudah, Jack," jawab Alesha.
Cup.
Alesha berusaha setenang mungkin saat Jacob mencium pipinya.
"Kalau begitu, ayo, Taylor sudah menunggu kita, sayang."
Alesha mengangguk. Ia langsung membalikkan tubuh, dan tanpa basa basi melangkah begitu saja mendahului suaminya. Tak ada percakapan diantara mereka. Alesha datar, tak tersentuh, hatinya sangat amat tak menerima perlakuan suaminya dulu yang selalu menyamakannya dengan Yuna.
Maaf, Jack. Aku butuh waktu untuk menenangkan diriku sendiri saat ini. Hanya aku, dan berdua dengan Allah. Aku butuh untuk merenung untuk mencoba menerima semua ingatan itu...... Lirih Alesha dalam hatinya.
*****
Singkatnya, satu jam kurang, Alesha tiba disebuah gedung apartemen yang mana merupakan milik ibu mertuanya. Di sana lah kakeknya tinggal, juga kedelapan kawannya.
"Ayo, sayang, unit apartemen kakekmu ada di lantai sembilan, bersebelahan dengan unit apartemen Bastian, dan yang lain," ucap Jacob.
Alesha hanya mengangguk pelan. Ia melangkah beriringan bersama suaminya memasuki lift. Disusul Taylor yang membawa koper, dan tasnya.
Tidak lama, hanya kurang dari lima menit, lift itu tiba di lantai tujuan. Jacob melangkah lebih dulu, menuntun istrinya menuju sebuah pintu yang terletak di ujung.
"Ini unit apartemen yang Bastian, Mike, Lucas, Tyson, dan Aiden tempati." Jacob menunjuk sebuah pintu. "Dan ini, Merina, Nakyung, dan Maudy tinggal di sini," ia menunjuk pintu lain. "Sementara kakekmu." Jacob menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu, tepat di ujung lorong. "Di sini."
Alesha menatap pintu dengan cat kayu keemasan tersebut dengan seksama, dan ya, nomor unit apartemen tersebut juga. Alesha akan mengingatnya.
Tak berselang lama, pintu tersebut dibuka. Seorang pria muda ternyata.
"Tuan, Nona silahkan masuk...." ucap pria itu.
"Dia Toni, pria yang aku suruh untuk menjaga, dan mengurus kakekmu, Lil Ale, dan masih ada beberapa orang lain di sini yang menjaga kakekmu, termasuk Rangga," ucap Jacob.
Alesha hanya mengangguk. Kedua iris coklatnya celingak-celinguk, mencari keberadaan kakeknya.
"Dimana kakek?" tanya Alesha pada pelayan pria itu.
"Pak Ujang lagi sholat di kamarnya, Nona," jawab pria itu.
Alesha mengangguk. Sembari menunggu, ia terduduk bersama suaminya disofa. Iris coklatnya tak bisa diam, menyapu bersih seluruh ruangan yang didapati oleh indra penglihatannya itu.
"Kau ingat sesuatu?" bisik Jacob. "Ini adalah unit apartemen yang kau tempati beberapa minggu sebelum kita menikah, Lil Ale." Jacob berbisik tepat disebelah telinga istrinya, membuat Alesha risih, dan sedikit menghindar.
Senyum manis yang Jacob ukur lenyap seketika, mendapati sang istri yang seolah terganggu dengan bisikannya itu. Tidak biasanya Alesha seperti itu. Ya, mungkin Alesha masih marah padanya.
Kepala Jacob sedikit tentunduk, sedih. Begitu pun dengan Taylor yang ekspresinya langsung pias memelas saat mendapati sikap Alesha terhadap Jacob.
"Nona..." seorang pelayan wanita menghampiri Alesha.
"Iya?" balas Alesha.
"Pak Ujang udah beres sholatnya, Nona bisa ketemu sama Pak Ujang di kamarnya sekarang."
Kedua mata Alesha langsung berbinar indah. Ia beranjak bangkit dengan capat, dan berlari menuju kamar dimana kakeknya berada.
Sementara, Jacob, ia tak lantas menyusul istrinya. Ia akan membiarkan Alesha menghabiskan waktu lebih dulu bersama Kakek Ujang. Ia hanya tak ingin menjadi pengganggu kebahagiaan wanita yang begitu dicintainya.
"Kakek!" seru Alesha yang kini berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
"Neng?" kedua kelopak mata kakek Ujang menyipit, memperhatikan wanita yang sangat mirip sekali dengan cucunya. "Alesha..." suara paraunya begertar, haru.
"Kakek, hiks, ini Alesha, ini Eneng, Kek, hiks hiks." Alesha berjalan pelan menghampiri kakeknya yang terduduk diatas kasur, dan bersandar lemas pada headboard. "Kakek, ini Alesha..."
"Alesha... Ya Allah, eneng," kedua lengan kakek Ujang yang bergetar terangkat, seakan ingin memeluk cucu yang begitu disayangi dan dirindukannya. Perlahan, bulir demi bulir air mata jatuh membanjiri wajah tua yang kulitnya nyaris telah berkeriput semua.
"Hiks, Kakek, maaf..." Alesha terduduk ditepian kasur, percis dihadapan kakeknya. "Maaf, eneng udah lama banget gak jenguk kakek."
"Eneng kemana aja? Kakek khawatir, neng," lirih Kakek Ujang.
"Hiks, maafin Alesha, ya, Kek," perlahan, Alesha membawa tubuhnya pada pelukan sang kakek. Pelukan yang dulu sewaktu ia kecil selalu mendekapnya saat ia sakit atau kedinginan. Pelukan yang begitu ia rindukan.
"Kakek takut eneng lupa sama kakek, hiks...."
Alesha menggelengkan kepalanya pelan. "Enggak, hiks, eneng gak lupa sama kakek, kok. Ini buktinya eneng balik lagi, hiks."
"Eneng kemana aja emang? Satu tahun setengah lebih eneng gak jenguk kakek, cuman Jacob aja yang suka ke sini buat jenguk kakek, Rangga juga, setelah sekian lama kakek gak ketemu Rangga, dia balik lagi sekitar beberapa bulan lalu," ucap kakek Ujang dengan suara yang begitu pelan, dan bergetar.
"Udah, Kakek gak usah mikirin soal itu, ya. Sekarang eneng udah balik lagi, eneng bakal tinggal di sini sama Kakek buat sementara waktu." Alesha menarik pelan tubuhnya dari pelukan sang kakek. Ia tersenyum manis, sungguh manis meski masih diiringi air mata juga sesegukkan. "Eneng bakal temenin kakek di sini."
Kakek Ujang terdiam, terlihat kebingungan. "Loh, emangnya boleh sama Jacob?" tanyanya, pelan.
Mendapati pertanyaan itu, Alesha tak sedikit pun mengubah mimik wajahnya, ia tetap tersenyum, tak memberikan balasan apapun.
"Kakek, eneng kangeeeennnn banget sama kakek. Udah lama kita gak ketemu, eneng pengen kaya dulu lagi. Kakek inget, gak? Waktu pulang ngaji, trus ujan gede banget, Kakek jemput eneng, eh pulangnya makan mie rebus yang pedes campur telor," entahlah, Alesha tiba-tiba saja mendapatkan satu ingatannya kembali tentang masa kecilnya bersama sang Kakek. "Kakek suapin eneng, abis itu eneng suapin kakek," senyum Alesha kian mengembang indah. "Kakek udah makan? Mau eneng suapin, gak?"
Kakek Ujang terdiam. Wajahnya datar seperti sedang berpikir.
"Mau eneng buatin tempe oreg, gak? Kakek kan suka banget makan tempe oreg buatan eneng!" tanya Alesha begitu bersemangat.
Kakek Ujang menggelengkan kepalanya. Ia mulai mencurigai satu hal. Kenapa Alesha mengalihkan pembicaraan dari pertanyaannya tadi?
"Eneng lagi ada masalah bukan sama Jacob?"
Alesha langsung terdiam seketika. Apa yang mesti ia jawab? Ia tidak ingin membuat kakeknya bersedih.
"Enggak," dengan cepat Alesha menggelengkan kepalanya.
"Trus Jacob dimana? Eneng mau tinggal beberapa hari di sini udah izin sama suami eneng?"
Alesha mengangguk, lagi. Terpaksa ia berbohong. Ia belum bilang pada Jacob jika tidak ingin kembali ke rumah pria itu saat ini. Ia ingin tinggal sementara waktu bersama kakeknya.
"Dimana Jacob sekarang?" tanya kakek Ujang lagi.
"Kakek, kakek gak kangen sama eneng apa?" Alesha menekuk mimik wajahnya, mengurucutkan bibirnya dengan sebal. "Cucu kakek di sini, loh, malah nanyain orang lain."
*****
Sementara itu dilain tempat, Stella dan Vincent tengah terduduk dibangku mereka masing-masing. Vincent berkutik dengan ponselnya, sedangkan Stella dengan laptopnya.
"Alesha, dan Mr. Jacob pergi," ucap Stella.
"Kemana?" tanya Vincent, santai.
"Ke apartemen kakek Alesha."
Vincent mendengarnya, namun tak membalas. Mereka berdua kini sudah mulai menyusun rencana, dan memata-matai Alesha.
"Sudah beritahu Theo?"
Stella menggelengkan kepalanya. "Belum."
"Kalau begitu beritahu sekarang!"
__ADS_1
"Baiklah," balas Stella, malas.
Vincent menggenggam gawai pintarnya. Ia menekan beberapa angka untuk menghubungi seseorang.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Stella.
"Bukan urusanmu," jawab Vincent.
Stella memutar kedua bola matanya dengan jengah. Namun sejurus kemudian, kedua bola mata Stella mulai terlihat melebar, melihat dengan seksama layar laptopnya.
"Tuan..." panggil Stella masih memakukan pandangan pada layar laptop.
"Hmmm?"
"Sepertinya kita harus keluar dari sini!" Stella mulai serius.
"Apa? Kenapa?" Vincent masih terlihat santai.
"Ada dua pria yang memata-matai kita."
"Dari mana kau tau?" Vincent asik saja membakar ujung puntung rokoknya.
"Mereka anak buah Mr. Jacob! Aku berhasil mengidentifikasi wajah mereka sejak dua jam lalu sebab mereka begitu sering bulak-balik di depan apartemen ini. Mereka sangat mencurigakan. Dan benar saja ternyata!" jelas Stella.
"Sial! Darimana mereka tahu aku di sini!" umpat Vincent. "Bereskan barang-barangmu. Kita pergi tengah malam ini!"
"Eh! Kau yakin?" Stella menatap ragu.
"Lalu kau akan tetap bertahan di sini? Aku tidak bisa menjamin jika mata-mata yang Jacob kirim hanya dua. Bisa jadi lebih dari itu dan menyamar menjadi petugas hotel ini. Jika mereka masuk, dan melihat ku juga kau, lalu Jacob tau. Rencana kita akan semakin sulit."
Stella mengedikkan kedua bahunya. Baiklah, ia menurut saja.
*****
Kembali ke apartemen kakek Alesha.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Jacob, pria itu sejak tadi mengajak istrinya untuk pulang. Namun Alesha enggan, terus menolaknya.
Alesha memeluk lengan kakeknya erat-erat, seolah meminta perlindungan pada pria itu dari Jacob.
"Lil Ale, ayo, kita pulang, sayang. Ini sudah malam..." bujuk Jacob begitu lembut.
Alesha menggelengkan kepalanya. Tegas!
"Aku mau bersama kakekku!"
*
*
*
Hallo, ini author 🤗
Buat semua pembaca. Mohon maaf banget, ya, author udah gak up hampir dua bulan ini. Pertama author sibuk di real life, kedua, author juga ada 2 Novel lain yang wajib daily tiap hari sampe akhir bulan. Jadi, author gak sempet lanjutin ini cerita 🙏😭
Tapi......
Ada kabar baiknya 🤗 Cerita ini bakal lanjut sampe end 🥳 yeay🥳
Author pasti bakal tamatin cerita ini. Dan mungkin alurnya bakal author ubah, dari yang tadinya fokus ke action and kriminalitas, jadi author lebih fokusin ke kisah Alesha dan Jacob aja, oleh sebab ada beberapa alasan yang cukup author aja yang tahu, dan satu alasan lagi, karna author juga harus mikirin 2 Novel lain, sementara otak author gak bisa terlalu diporsil 😭 So' author cuman bakal fokus ke roman Jalesha aja, yops 🤗
Hehehe, sekian dari author. Maaf kalau masih harus menunggu. Dan soal up, author bakal usahain buat rajin up 3-5 hari sekali 😢 dan makasih banyak buat yang masih baca cerita ini sampe hari ini. Hiks, author sedih banget, plus terharu 😭😭
__ADS_1