
Hallo, author balik lagi. Huhu maaf ya, lama gak update. Author sibuk banget abisnya. Eh, tapi sebagai gantinya, bab ini panjang, sekitar 6,6k kata, loh :)
And ya, ceritanya belum selesai, masih lamaaaaaaa...... (karna author gak rela pisah sama mereka huhu ):
Makasih banyak banget buat yang masih setia baca. Maaf atas banyaknya kesalahan author :(
Oke, cukup deh segini aja dulu. Kalau banyak basa-basi kapan mulai baca babnya. Hadeh! (timpuk author!)
Oke, happy reading :)
*
*
*
Sore harinya, Laura bersama anak-anak, menantu, cucu, dan anak buahnya kembali ke mansion Jacob. Mereka tiba kurang lebih pukul tujuh malam.
Benar saja. Tidak ada satu anak buah Dirga pun yang mengawasi mansion itu. Yang ada justru mereka disambut oleh Geraldo beserta dua puluh anak buahnya yang lain di mansion Jacob.
"Malam, Nyonya," sapa ramah Geraldo. Meski begitu, wajah sangarnya tetap tidak dapat tergantikan oleh ekspresi apapun.
Laura balas tersenyum ramah, "Malam, Ger. Kerja bagus."
Geraldo hanya mengangguk sembari tersenyum. "Senang bisa membuat Anda kembali puas dengan kinerjaku dan anak buahku, Nyonya."
Laura menyeringai. "Kau tidak pernah mengecewakanku, Geral."
"Sebuah kehormatan, Nyonya," balas Geraldo.
Alesha berjalan cepat, berlari menuju kamar mandi yang berada di dapur.
"Uek! Uek!"
Jacob menarik napas panjang. Ia selalu tidak tega saat melihat istrinya yang muntah-muntah seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi? Hal seperti itu memang biasa terjadi pada wanita yang sedang hamil muda.
"Al..." Laura menghampiri, menyentuh bahu menantunya itu. "Kau baik-baik saja?" Ia bertanya lembut.
Alesha mengangguk. Namun sejurus kemudian, "Uek! Uek!" Ia mencengkram pinggiran wastafel kuat-kuat.
"Ibu buatkan teh manis campur lemon, ya," tawar Laura.
Alesha mengangguk. Sepertinya itu akan membuat tubuhnya terasa segar.
"Eh, tapi...." Alesha menoleh pada suaminya, "Aku mau makanan yang pedas. Aku ingin rujak dan salad buah."
Laura terkekeh. "Belikan, Jack. Turuti apa yang dia mau. Ibu akan membuatkan teh lemon dulu, ya."
Alesha terus menatap suaminya selepas ibu mertuanya pergi, "Jack..."
"Tapi kau belum makan, Alesha," ucap Jacob.
"Ya sudah, aku makan dulu. Nanti setelah itu baru makan rujak dan salad buah, Jack," mohon Alesha.
Jacob menghela napas dengan sabar. "Baiklah. Aku akan menyuruh Taylor untuk membeli itu."
"Eh, tapi aku juga mau nasi goreng dan sate kambing, Jack. Oh ya! Minumannya sekuteng!" Kedua netra Alesha berbinar saat menyebutkan jenis makanan dan minuman itu.
Sembari berkutik dengan ponselnya, Jacob tetawa kecil, "Apalagi, Tuan Putri? Oh ya, Tuan Muda Baby J mau pesan apa?" tanyanya berlagak seperti pelayan kerajaan.
"Putra Mahkota, Jack! Baby J adalah putra mahkota kita. Eh, lagi pun kau memangnya sudah tahu apa jenis kelamin anak kita," kekeh Alesha.
Jacob mengedikkan kedua bahunya dengan santai, "Ya sudah, dia mau apa, Sayang?"
"Yang tadi saja. Owh ya! Satu lagi! Jangan nasi goreng! Aku tidak mau itu. Ganti saja jadi nasi uduk."
"Nasi uduk?" ulang Jacob, "Malam-malam begini siapa yang jualan nasi uduk, Alesha?"
"Ada! Ish, kau tidak tahu saja. Di dekat stadion Sijalak Harupat, aku dan kakek sering beli nasi uduk untuk makan malam di sana! Terakhir, aku beli nasi uduk itu saat aku hamil Khalid dan Alshiba lima bulan. Kau ingat tidak? Jam sembilan malam, waktu itu aku memaksa dibelikan nasi uduk padamu, Jack!" Alesha bersikukuh.
"Oh ya?" Sebelah alis Jacob terangkat.
"Iya! Ayolah, Jack. Masa kau tidak ingat?"
Jacob mengedikkan kedua bahunya dengan santai. "Baiklah, Taylor mungkin ingat. Dia kan orang yang selalu aku suruh untuk membelikan makanan yang kau mau."
"Pokonya aku mau nasi uduk, sate kambing dua puluh tusuk, sekuteng, rujak, dan salad buah!"
"Ada lagi, Nona Alesha Sanum Malaika?"
"Tidak! Tapi entah kalau nanti."
Jacob menatap lurus istrinya. Lantas mendengus pelan. "Baiklah, kalau begitu, pesananmu sedang diproses, Nyonya Alesha. Sekarang mari kita pergi ke kamar sembari menunggu pesananmu datang."
***
Di kamar, pasangan serasi itu asik berbincang-bincang dan bercanda. Tidak ada yang mengganggu atau mengusik waktu mereka. Jacob mendapatkan kembali kebersamana bersama istrinya yang hampir seminggu ini harus ia tinggalkan sebab misinya.
"Jack, aku masih penasaran dengan banyak hal. Aku yakin, pasti masih banyak ingatan lamaku yang belum kembali," ucap Alesha.
Jacob memeluk gemas tubuh istrinya dari pinggir. Ia selalu suka saat memeluk Alesha. Tubuh istrinya itu sangat pas dalam pelukannya.
"Kalau sudah lima bulan ke atas, jangan pakai sandal atau sepatu tinggi lagi. Pakai saja flat shoes atau sandal biasa, Sayang."
Alesha sedikit cemberut. Jacob mengalihkan pembicaraan barusan.
"Aku harap Baby J kembar lagi, Sayang. Bisa kau bayangkan, dua bayi dalam mansion ini. Pasti ramai dan seru," ucap Jacob.
"Tentunya. Tapi aku tidak mau pakai jasa baby sitter. Aku yang akan mengurus dan mendidik anak-anakku sendiri. Itu jauh lebih bagus, Jack."
Jacob mengangguk. Ia tersenyum bahagia. "Memang itu yang aku harapkan, Al. Kita mengurus dan membesarkan anak kita cukup berdua saja."
"Sekarang usia kandunganku baru akan memasuki usia enam minggu. Masih sangat lama. Huft... Aku tidak sabar, melihat bagaimana saat perutku besar nanti, dan merasakan tendangan dari Baby J." Alesha terkekeh.
"Kau tahu, Al. Aku selalu mengingat waktu pertama kali kita bertemu di taman belakang WOSA. Lalu membandingkannya dengan yang sekarang. Kau yang dulu hanya sebatas anak muridku, kini menjadi istriku."
"Aku malah awalnya tidak menyangka kalau kau justru menaruh rasa padaku. Apalagi, aku ingat, banyak sekali murid perempuan WOSA yang menyukai dan selalu mencari perhatianmu."
"Apa aku pernah memperdulikan itu, Al?" Jacob terkekeh, "Kau beruntung, Sayang. Dari sekian banyak murid perempuan WOSA, kau yang terpilih untuk menjadi pendamping mentor sekaligus agent intelegent terbaik milik WOSA dan SIO."
"Dih, pd gile gue punya laki," gumam Alesha seraya tertawa kecil.
"Hey, aku mengerti apa yang kau ucapkan barusan, Sayang." Jacob menatap lurus istrinya.
Alesha menggelengkan kepalanya seraya tertawa, "Lagi pula, kau selalu saja tebar pesona dan selalu percaya diri."
"Tentu saja, aku harus tebar pesona dan percaya diri di depan orang yang aku sukai," balas Jacob bersama tatapan nakalnya.
"Stop, Jack!" Alesha berusaha menjauhkan wajahnya dari Jacob. Atau ia akan menerima ciuman beruntun dari pria itu. "Jack, aku sedang tidak ingin dicium! Menyingkirlah!"
Jacob acuh. Ia tetap memaksa, menyosor, berusaha untuk bisa mencium wajah istrinya.
"Al, ayolah."
"Tidak mau, Jack! Aku sedang tidak mood dicium olehmu!"
"Kenapa?"
"Entahlah. Geli saja. Mending kau usapi saja perutku."
"Iya, setelah menciummu."
"Tidak mau!" Alesha mendorong tubuh suaminya sekuat tenaga.
"Ck! Al!" Jacob mendengus. "Kenapa, sih?"
Alesha tidak menjawab. Ia acuh dan santai saja mengambil sebuah kaleng plastik berisi permen coklat.
Jacob menatap sebal istrinya. Belakangan ini Alesha memang jadi lebih sensitif dan aneh. Salah satu contohnya yaitu tadi, enggan dicium. Tapi setidaknya, Alesha berada didekatnya kini. Tidak seperti satu tahun lalu dimana ia masih kehilangan jejak Sang Istri dan belum menemukan petunjuk apa-apa.
"Alesha....." Jacob bergelayut manja.
"Ish, diam!" protes Alesha.
"Aku mau coklat," pinta Jacob. "Suapi."
"Ish, kau ini!"
Alesha menyodorkan satu permen coklatnya pada Jacob.
"Eh, bukan. Ehm, aku mau yang ada di dalam mulutmu saja." Jacob mulia menggoda kembali.
"Mau atau tidak?" tanya Alesha, ketus. Ia mulai jengah dengan sikap suaminya saat ini.
"Galak sekali, sih. Dasar bumil!" Jacob melahap coklat yang Alesha sodorkan itu dengan wajah tertekuk.
Kurang lebih setengah jam kemudian. Taylor datang membawa pesanan Alesha. Dan selama itu pula Jacob terus menggoda istrinya. Ya walau pun Alesha tidak terlalu menghiraukan dan fokus menonton film di layar TV-nya.
"Aku sudah tidak mood makan," ucap Alesha selepas Taylor pergi.
"Eh, tapi kau belum makan, Alesha."
"Tidak, aku tidak mau!"
"Kenapa? Baby J nanti kelaparan, Sayang." Jacob membujuk.
"Tidak jika aku tidak merasa lapar. Aku malas, aku ingin tidur saja." Tak berpikir panjang, Alesha segera membaringkan tubuhnya di atas kasur.
"Hey, Ibu sudah membawakan Teh lemon hangat tadi, sekarang Taylor sudah membawakan pesanan makanmu juga. Kau tidak mau menyentuhnya sedikit saja, Al?"
"Jack, aku ingin tidur sekarang. Kalau kau mau makan saja olehmu. Aku mengantuk!"
Jacob menghembuskan napasnya dengan sabar. Dasar Alesha, tadi memaksa minta dibelikan makanan, sekarang, makanan itu sudah datang, malah dianggurkan. Tapi ya sudahlah, Jacob mengalah. Ia membiarkan makanan itu di atas meja. Paling, nanti sekitar jam satu atau setengah dua malam, Alesha akan terbangun sendiri karna kelaparan.
Pada akhirnya, Jacob yang semula bermain ponsel disofa sebab godaannya tak di respon oleh Alesha pun kini memutuskan untuk ikut berbaring, dan tertidur. Sudah hampir pukul sepuluh malam. Pantas saja Alesha sudah mengantuk.
"Baca doa dulu, Al," bisik Jacob seraya mencium lembut kening istrinya.
Alesha mengangguk, "Sudah."
Jacob tersenyum kecil. Selalu tenang rasanya melihat Alesha yang terpejam.
"Jack, bisa elusi perutku?" pinta Alesha.
"Tentu saja, Tuan Putri," balas lembut Jacob. Sebelah telapak tangannya langsung bergerak masuk ke dalam pakaian Alesha, mengelusi perut istrinya itu perlahan. "Cepat tumbuh, Baby J. I love you, Dear."
Lima menit berselang. Terdengar hembusan halus napas Alesha yang sepertinya sudah terlelap.
Jacob menyudahi aktivitasnya. Ia membaringkan diri pelan-pelan-takut mengusik Sang Istri. Tak lupa, selalu ia mendaratkan ciuman lembutnya pada kedua sisi pipi Alesha tepat sebelum tidur. Itu adalah salah satu rutinitas favoritnya. Setelah itu, barulah ia ikut memejamkan kedua matanya, disisi wanita paling berharga dalam hidupnya.
***
Pukul 02.00 WIB
Diatas tempat tidurnya, Jacob terlelap setengah terlentang, sementara sebelah lengannya dijadikan guling oleh Alesha. Suhu ruangan yang dingin membuat Jacob menutupi tubuhnya dengan selimut sutra, berbeda dengan istrinya yang justru enggan diselimut sebab merasa kepanasan. Namun bukan itu satu-satunya hal aneh yang lazim terjadi.
Tepat tengah malam ini, seperti biasa, Alesha terbangun, mengerjapkan matanya dan mendapati ruang kamarnya yang gelap, hanya ada cahaya dari lampu tidur saja. Bumil itu terusik dan mengeliatkan tubuhnya.
"Eungh..." Alesha mengucek kedua matanya, "Laper...." Ia merasakan perutnya yang bergerak-gerak sebab rasa lapar yang selalu mengganggu waktu tidurnya ketika sedang hamil. Diliriknya Jacob. Pria itu tidur sembari mendengkur halus. "Ck! Kebiasaan, ish, lapernya malem-malem gini. Kan berabe kalau gak ada makanan!" dumal Alesha seraya beranjak duduk.
Eh, tapi sebentar. Beberapa jam lalu, kan Taylor membawakan makanan yang Alesha pesan.
Bumil itu menoleh ke arah meja.
"Nah, Mr. Jacob kayanya gak makan, deh." Alesha tersenyum lebar. "Eh, tapi.... Ehm... Kayanya gorengan sama sambel geprek enak, deh." Alesha berpikir sejenak.
"Eungh... Al..."
Alesha sedikit terkejut saat mendengar suara suaminya. Apa Jacob terusik?
"Hey, kenapa bangun?" tanya Jacob dengan kedua mata yang memicing, khas orang yang terganggu dari tidurnya, "Lapar?"
Alesha tersenyum kikuk, "Hehehe, iya."
Jacob membalas malas, "Hmm... Ya sudah, itu, makan saja yang Taylor bawa tadi. Hanya paling, makanannya sudah dingin. Hmm.. Hoaaammm...."
"Jack, sebenarnya aku ingin gorengan, juga sambal geprek," ucap Alesha, pelan.
"Apa?" Jacob menyerngit. "Kau bilang apa barusan?"
"Aku mau gorengan dan sambal geprek."
"Ini sudah malam, Alesha. Bu Rika juga pasti sudah tidur."
"Aku akan membuatnya sendiri, Jack. Kau tidak usah menemaniku, lanjut tidur saja." Alesha sedikit membujuk.
"Huft...." Jacob menghela napas dengan jengah. "Benar, aku tidak usah menemanimu?"
Alesha mengangguk.
"Oke, terserah kau, Al." Jacob membalikkan tubuhnya, berbaring miring seraya memeluk guling dan memejamkan kembali kedua matanya.
Alesha tersenyum lebar. Ia bisa membuat cireng, cimol, tahu krispi, dan tempe goreng. Juga, ya, jangan lupa, sambal geprek.
Bumil itu beranjak dari tempat tidurnya. Tidak lupa memakai rompi panjang dan kerudungnya. Untung saja Bu Rika, asisten rumah tangga di mansionnya itu selalu menstok bahan-bahan dapur dengan kumplit. Terakhir, Alesha lihat ada tepung sagu, tepung terigu, tahu, dan tempe di dapurnya. Semoga saja bahan-bahan itu masih banyak.
Langkah Alesha mendadak terhenti saat ia membuka pintu kamarnya. Ia terdiam mematung, menatap lorong kamarnya yang gelap. Ia lupa, jika semua penghuni mansion sudah tidur, seluruh lampu memang akan dimatikan, kecuali lampu taman, dan pos penjaga.
Bagaimana ini? Alesha takut kalau hanya sendiri.
"Jack..." panggil Alesha, lirih.
Yang dipanggil pura-pura tidak mendengar.
"Jack..." Alesha menoleh pasrah ke arah suaminya. "Mr. Jacob.... Temani aku."
Jacob mendengus. Sejurus kemudian, ia bangkit dari tidurnya, memaksa agar tidak luruh pada rasa kantuknya.
"Jack, mansionnya gelap, temani aku..." ucap Alesha saat Jacob berjalan menghampirinya.
"Aku lupa kalau mereka sudah mematikan semua lampu di mansion ini." Alesha mendongkak, menatap polos suaminya.
"Ada satu syarat," ucap Jacob datar.
"Apa?"
Pria itu membungkuk, mensejajarkan wajahnya dengan Alesha. Lantas menyeringai, "Cium aku sekarang, baru aku akan menemanimu."
"Hah?" Alesha menyerngitkan dahi, menatap tak percaya pada suaminya. Hey! Ia hanya minta ditemani. Kenapa harus ada syarat seperti itu pula?
"Cium aku dulu, baru aku akan menemanimu."
"Baiklah!" Alesha mendengus. Mengalah. Meski terpaksa dan sedikit gelagapan, akhirnya ia pun mendaratkan satu ciuman pada bibir Jacob. Tapi itu benar-benar singkat sekali.
__ADS_1
"Hey! Tidak adil. Aku pasti akan lama menemanimu di dapur, kau menciumku terlalu singkat, Sayang," protes Jacob.
"Ish, ya sudahlah!" Alesha mendengus sebal. Jacob sangat menyebalkan!
"Kau tidak usah menemaniku kalau tidak mau! Aku akan ke dapur sendiri!" Alesha berjalan cepat menuju meja dekat tempat tidur. Ia meraih ponselnya dan menyalakan senter.
Jacob sedikit terkejut saat mendapati itu, "Hey, jangan marah, Al." Ia meraih pergelangan tangan Alesha saat istrinya itu melewatinya.
"Habisnya kau terlalu ribet! Aku hanya memintamu menemani! Segala harus melakukan syarat lebih dulu pula. Kalau tidak mau bilang saja, aku tidak akan memaksa! Sudah lepaskan!" Alesha menghempaskan lengan suaminya dan kembali melangkah meninggalkan kamar.
Jacob mengusap gusar wajahnya. Baiklah, ia sudah biasa menghadapi seperti ini. Alesha yang lebih sensi saat sedang hamil.
"Lil Ale..." Jacob berlari kecil menyusul istrinya, "Oke, maaf soal yang tadi. Aku akan menemanimu."
"Tidak usah!" balas ketus Alesha seraya terus melangkah.
"Al..." Jacob menahan kedua bahu istrinya. "Maaf, aku hanya bercanda tadi."
Alesha memutar kedua matanya dengan jengah.
"Jangan marah. Oke." Jacob membujuk, menyunggingkan senyum terbaiknya. "Ssshhh..." Ia menggertakkan giginya dengan gemas.
Alesha menyerngitkan dahi ketika suaminya itu menciumi wajahnya dengan gemas.
"Ish! Cukup! Pakai dulu bajumu kalau mau menemaniku. Nanti kau masuk angin kalau hanya memakai celana saja!" protes Alesha. Suaminya itu memang seperti itu, sudah menjadi kebiasaan sehari-hari kalau tidur hanya memakai celana joger saja.
"Tidak usah, aku akan baik-baik saja," balas Jacob sembari menaruh satu cuman gemas terakhirnya disebelah pipi Alesha. "I Love you."
Alesha mendengus, "I Love you I Love you! Sudah, ayo!" Ia melangkah lebih dulu, disusul Jacob di belakangnya.
***
Di dapur, kini Alesha sibuk berkutik dengan perabotan masak dan bahan-bahan yang akan ia olah. Sementara Jacob, ia berbaring tengkurab disofa teras luar sebelah pintu.
Sembari memperhatikan istrinya yang sibuk, tak terasa kedua mata pria itu justru terasa berat. Angin malam yang berhembus menggodanya untuk kembali terlelap.
Satu jam berlalu, Alesha baru saja beres membuat cireng dan tahu krispi. Jangan tanya bagaimana ia dapat membuatnya. Sejak kecil kan ia suka berdagang di sekolahan. Tentu ia tahu cara membuatnya karna ia sering membantu ibu-ibu yang dagangannya ia jual itu.
Jacob?
Ah sudahlah, biarkan saja. Pria itu sudah tidur disofa.
Setengah jam kemudian, tepat saat Alesha beres mencuci perabotan yang ia pakai tadi, Jacob datang menghampiri, memeluk lemas dari belakang dengan wajah-wajah khas bangun tidur yang masih mengantuk.
"Masih lama, Sayang?" tanya Jacob, pelan.
"Tidak. Sudah beres, kok," jawab Alesha.
"Kalau begitu ayo, kita kembali ke kamar," ajak Jacob.
"Bantu aku membawa makanannya, Jack. Oh ya, pintu sudah dikunci?"
"Sudah," balas Jacob, malas. Ia mengambil dua piring berisi cireng dan tahu krispi tersebut. Menunggu Alesha yang sedang cuci tangan sepertinya.
"Ayo, Pak suami." Alesha mengambil piring lain berisi sambal geprek lantas melangkah mendahului suaminya.
Mansion yang gelap dengan penerangan seadanya dari beberapa lampu redup itu terasa sunyi dan senyap. Suhu yang rendah akibat pendingin ruangan yang bekerja maksimal membuat Alesha bergidik beberapa kali.
Semula, semua tampak biasa. Tidak ada yang salah atau mencurigakan sedikit pun. Tapi Jacob, meski dalam keadaan setengah mengantuk dan malas-malasan, insting pertahanannya masih bekerja baik.
"Stop, Al!" suara Jacob terdengar pelan namun tegas. Kedua mata pria itu memicing awas, memperhatikan sekitarnya.
Alesha yang berjalan dua langkah di depan suaminya pun langsung menghentikan gerakan kedua kakinya, berbalik menatap Jacob.
"Kenapa, Jack?" tanya Alesha.
"Mundur ke belakangku!" titah Jacob, pelan.
"Hah?" Kening Alesha menyerngit bingung.
"Mundur ke belakangku sekarang!"
Alesha menelan ludahnya. Pasti ada yang tidak beres. Tak membuang waktu, Alesha segera menuruti perintah suaminya itu, berdiri di belakang tubuh tinggi besar tersebut.
"Ada apa, Jack?" bisik Alesha.
"Kau tidak mendengarnya, Al?" tanya balik Jacob.
"Mendengar apa?"
Jacob tak membalas, ia berjalan pelan langkah demi langkah, diikuti istrinya. Namun semakin lama, suara itu semakin terdengar oleh telinganya.
Deg!
Jacob sedikit terkejut saat tiba-tiba saja Alesha mencengkram lengannya.
"Jack..." Alesha menatap cemas suaminya, "Suara apa itu?"
Jacob menelan ludah. Ia sedang berusaha mencari asal suara tersebut. Jika ia telat, kemungkinan akan terjadi sebuah petaka besar.
"Aku mendengarnya dari sana." Alesha menunjuk ke arah tangga. Tepatnya bawah tangga yang terdapat tiga buah pot tanaman besar.
"Tetap di sini, dan jangan mendekatiku!" tegas Jacob.
"Tapi itu." Alesha nampak cemas.
"Aku tahu. Aku tahu itu, itu suara alat peledak yang sedang bekerja. Aku akan berusaha mematikannya. Tetap di sini, dan jangan mendekatiku. Oke."
"Jack, ba-bagaimana ca-caranya..." Alesha tergagap saking cemasnya ia setelah mendengar ucapan Jacob barusan.
"Aku pernah beberapa kali menjinakan bom, Sayang. Tenang saja. Oke."
Cup.
Jacob mencium kening istrinya. Ia tidak tahu akan berhasil atau tidak, tapi setidaknya, jika gagal, ia sudah memberikan kecupan terakhirnya untuk Alesha.
Bom itu. Sangat kecil sekali suaranya, nyaris tidak terdengar. Namun Jacob, dengan latar belakangnya sebagai anggota intelegent khusus, telinganya sudah sangat terlatih untuk hal seperti itu.
Napas Alesha menderu cemas. Apalagi setelah Jacob meletakkan dua piring yang pria itu bawa dan melangkah menuju celah diantara ketiga pot bunga raksasa itu.
"HAH! Astagfirullah!" Alesha terhenyak kaget. Kedua matanya terbelalak sempurna saat mendapati sesuatu berwarna orange seukuran sebuah buku novel yang memancarkan sinar pendek dan sangat kecil berwarna merah dan hijau.
Itu bom!
Alesha mulai gelagapan. Tubuhnya kian bergetar ketakutan saat Jacob menyentuh alat peledak itu dengan tenangnya.
"Sial, pukul tiga subuh!" dumal Jacob. Ia tidak habis pikir, siapa yang sudah menanam bom di rumahnya itu? Namun sekarang, ia mesti fokus untuk menonaktifkan bom tersebut. Waktunya kurang dari lima belas menit. Atau jika ia gagal, ia dapat menjamin jika nanti, tepat pukul tiga subuh lewat beberapa menit, mansionnya itu akan berubah menjadi tumpukan abu.
Bom itu, meski hanya seukuran sebuah buku novel, tapi daya ledaknya sangat kuat. Jacob harus berhati-hati.
Sekian menit berlalu tegang. Keringat dingin mulai membasahi pelipis Jacob.
"Jack...." parau Alesha. Tubuhnya lemas saking takutnya ia jika terjadi sesuatu yang buruk menimpa suaminya.
Dan sekian menit berlalu, lagi.
Waktu yang bom itu tunjukkan semakin menipis. Tinggal sedikit lagi Jacob menyelesaikan tugasnya.
"Hallo, Pak, Jacob dan Alesha berhasil menemukan bom itu.
Seorang pria, yang bersembunyi dibalik dinding tidak jauh dari Jacob dan Alesha nampak menyeringai lebar seraya menghubungi seseorang melalui telepon genggamnya.
"Bagus, apa yang lain bisa masuk sekarang?"
"Baiklah, kalau begitu tunggu sebentar, kami akan masuk."
Sayangnya, Jacob lengah. Benar-benar lengah. Lebih tepatnya terkecohkan. Bom itu hanya alat pengalihan saja. Bukan bom sungguhan. Dan sialnya, Jacob baru menyadarinya beberapa menit kemudian, setelah lima anak buah Dirga berhasil masuk ke dalam mansionnya tanpa kesulitan.
Ini adalah misi balas dendam dengan tujuan menangkap Alesha, bahkan kalau perlu Nyonya Laura juga.
Dirga sendiri, sebelumnya, ia sempat menjadi tawanan anak buah Laura dan bersiap untuk menghadapi kematiannya. Namun seorang anak buahnya berhasil menyamar dan memasuki gedung kosong tempat ia ditahan. Mereka menyusun rencana balas dendam dadakan. Baik terhadap Alesha mau pun Nyonya Laura.
Sisa anak buah Dirga yang berjumlah sepuluh orang telah mendapatkan pekerjaan masing-masing. Dua orang membantu Dirga keluar dari tahanan anak buah Laura, sisanya menculik Alesha, dan mempertemukan istri Jacob itu dengan Dirga disebuah hutan belantara.
Misi itu harus berjalan cepat, atau mereka akan kembali gagal.
"Ini bukan bom," gumam Jacob seraya menatap heran alat peledak bohongan itu. "Ini bukan bom!" Ia bangkit berdiri, menghadap istrinya, "Al, ini bukan..."
Deg!
Jacob tercekat, sepersekian detik saat mendapati segerombolan orang tengah melangkah mendekati istrinya.
"Alesha!" Dengan sigap Jacob berlari, menyambar lengan istrinya, dan menarik Alesha ke belakang tubuhnya.
"SIAPA KALIAN?" teriak Jacob.
Tidak ada yang menjawab.
Kedelapan anak buah Dirga itu langsung maju dan menyerang.
Jacob menghadapi lima pria, sisanya, Alesha lah yang terpaksa harus berhadapan dan melindungi dirinya sendiri, juga janinnya.
"Aaa!!" Alesha meringgis saat seseorang mencengkram lengannya. Tapi ketiga pria itu sama sekali tidak melakukan perlawanan padanya, hanya menghindar tanpa berniat memberikan serangan balik.
Ada apa ini?
"JACK!!" Alesha berteriak panik. Suaminya dikroyok lima orang sekaligus.
"ARGH, LEPAS!"
Sial sekali, Alesha berusaha sekuat tenaga melepaskan diri, tapi ketiga pria itu menahannya dan menyeretnya pergi.
"MR. JACOB!!"
"LEPASKAN AKU!!" Alesha berteriak sekuat tenaga. Ia tidak tahu kenapa bisa tidak ada penjaga atau anak buah suami dan ibu mertuanya di mansion itu yang mengetahui soal ini. Bahkan ia tidak melihat satu penjaga pun di luar.
"Argh!" Satu anak buah Dirga meringgis saat Alesha menggigit lengannya dengan kencang.
Itu kesempatan bagi Alesha, cepat-cepat ia memberontak lantas terlepas. Tapi pergerakannya masih kalah cepat dengan satu anak buah Dirga lain yang menyambar lengannya.
"Aw!" Alesha meringgis sakit. Ia didorong dan dihempaskan ke dalam mobil. Dua orang menahannya disisi kiri dan kanan, sementara yang satu mengambil alih kemudi lantas melajukan sedan tersebut.
"ALESHA!!" Jacob berteriak cemas. Ia memang berhasil menghabisi kelima musuhnya itu, namun ia telat. Segera ia berlari ke dalam pos penjaga yang kosong, meraih satu buah kunci mobil yang tergantung ditembok untuk segera mengejar mobil yang membawa istrinya.
*****
Pukul 04.45 WIB.
Bu Rika, asisten rumah tangga itu baru saja keluar dari kamarnya yang terletak di sebelah taman belakang mansion. Ia berjalan santai seraya mengikat cepol rambutnya. Awalnya, semua baik-baik saja, Bu Rika langsung pergi ke dapur untuk mempersiapkan menu sarapan, tak lupa, ia akan lebih dulu menyapu dan mengepel lantai ruang makan, ruang keluarga dan ruang tamu agar nanti pagi, setelah majikan dan anak buah majikan bangun, mansion sudah bersih dan rapih. Tapi kali ini, Bu Rika yang hendak membersihkan ruang tengah-tempat tangga berada-justru dibuat terlonjak dan berteriak histeris sebab mendapati lima pria dengan luka disekujur tubuh dan darah yang menggenangi lantai.
Wanita kepala empat itu segera berlari menuju lantai dua, hendak memberitahu yang lain.
Kebetulan sekali, Bu Rika bertemu dengan Geraldo di lorong kamar.
Tubuh Geraldo tercekat beberapa saat ketika mendengar ucapan Bu Rika yang panik dan bergetar. Tak membuang waktu, ia segera berlari ke lantai satu, sementara Bu Rika berlari menuju kamar Taylor atas perintah Geraldo.
"Gawat!" gumam Geraldo seraya memandangi mayat kelima pria yang tidak dikenalnya itu.
"Geraldo, ada apa ini?" pekik Laura yang menuruni tangga setengah berlari. "Aku mendengar keributan di depan kamarku tadi."
"Astaga, apa-apaan ini!!" Kedua bola mata ibunda Jacob itu terbelalak kaget melihat lima tubuh pria yang tampak mengenaskan dengan darah yang mengucur. "Apa yang terjadi, Geral?"
"Aku tidak tahu, Nyonya." Geraldo menggelengkan kepalanya. "Bu Rika yang pertama kali melihat ini. Sepertinya semalam terjadi sesuatu, dan kita tidak menyadarinya karna tertidur."
"Geral, Nyonya, Tuan Jacob dan Nona Alesha tidak ada di kamarnya," ucap Taylor yang baru saja muncul. Ia tidak kalah terkejutnya saat mendapati tubuh kelima pria asing yang tergeletak mengenaskan di depannya. "Siapa mereka?"
"Yang pasti mereka bukan anak buahku!" gumam Laura, "Dan dimana Jacob juga Alesha? Dimana anak buahmu yang lain, Geral. Kenapa ini bisa terjadi?" Ia menatap tajam kepala Bodyguard kepercayaannya itu.
"Maaf, Nyonya. Aku tidak tahu soal ini. Tidak ada yang memberitahuku." Geraldo menundukkan kepalanya, merasa amat bersalah sebab telah abai.
"Aku sudah memerintahkan padamu dan anak buahmu untuk selalu berjaga-jaga, Geral! Kau tahu sendiri, bukan kalau situasi saat ini masih rawan. Seharusnya kau tidak abai soal ini!" bentak Laura penuh emosi.
"Maaf, Nyonya." Geraldo menunduk lebih dalam.
"Cari tahu apa yang terjadi secepatnya! DAN JANGAN BUAT AKU KECEWA!" titah Laura, tegas dan kencang.
"Baik, Nyonya." Geraldo mengangguk seraya menatap mantap bosnya itu. "Saya permisi kalau begitu."
Laura mendengus. Ia marah! Terutama pada Geraldo. Ia sudah memerintahkan agar mansion ini dijaga ketat, tapi yang terjadi justru mengecewakan.
"Taylor!"
"Ia, Nyonya?" Taylor berdiri tegap menghadap Laura.
"Cari dimana lokasi Jacob dan Alesha sekarang! SECEPATNYA!"
"Baik, Nyonya." Taylor mengangguk. "Saya permisi," lantas bergegas melaksanakan tugasnya.
"Ini pasti ulah Dirga!" Laura menggeram. Ia mengepalkan kedua telapak tangannya.
Sementara itu, kembali pada Jacob dan Alesha.
Tepatnya di tengah-tengah hutan belantara yang begitu lebat, Jacob mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Kepalanya terasa pening dan nyut-nyutan. Samar-samar ia mendengar suara isak tangis yang menyebut-nyebut namanya.
"Hiks hiks, Jack..." suara Alesha serak parau. Entah sudah berapa banyak air mata yang mengalir dipipinya dari sejak ia melihat mobil yang suaminya kendarai ditabrak oleh satu buah mobil lain di jalanan sepi dan jungkir balik.
Anak buah Dirga menyeret Jacob yang sudah setengah tidak sadar keluar mobil lantas merantainya dan membawanya masuk ke tengah hutan bersama Alesha dan anak buah Dirga yang lain.
Entah dimana tepatnya, Alesha tidak tahu, yang pasti disekelilingnya hanyalah pepohonan rindang dan rerumputan dari mulai setinggi telapak kaki hingga sepundak orang dewasa.
Alesha dan Jacob diikat dipohon yang berbeda, berjarak dua setengah meter.
Sementara Dirga dan kesepuluh anak buahnya sejak tadi tersenyum licik. Menunggu hingga Jacob tersadar.
"Hiks hiks... Jack... Bangun..." Alesha terisak lelah. "Mr. Jacob... Hiks." Meski tadi ia melihat air bag dialat kemudi mobil suaminya mengembang dan menghindarkan Jacob dari benturan kepala yang keras, tetap saja ia takut. Sedikit banyak Jacob telah cedera hingga membuat pria itu pingsan cukup lama.
"Alesha...." lirih Jacob, serak. Pandangannya masih sedikit kabur. Ditambah rasa nyeri dikepalanya yang masih sedikit terasa membuatnya sulit untuk fokus. "Al..." beberapa saat kemudian, barulah ia menyadari situasi dan kondisinya, juga Alesha.
"Alesha..." Jacob bersuha memberontak, namun pergerakannya masih sedikit lemah. "Alesha! Sial! Lepaskan aku!" Jacob menatap ke arah pria yang menjadi dalang dari masalah ini. "Lepaskan aku dan Alesha, Dirga!"
"Jangan membuang tenagamu, Jack. Santailah. Kau masih harus beristirahat, Nak," balas Dirga, lembut.
"OMONG KOSONG KAU, DIRGA! Argh!" Jacob meringgis, menahan nyeri dikepalanya yang bertambah sebab berteriak.
"Lihatlah istri kecilmu ini." Dirga menatap iba pada Alesha. "Kau tahu, dia tidak berhenti menangis sejak tadi, takut terjadi sesuatu yang buruk padamu. Padahal aku sudah menjelaskan agar dia ikhlas saja sebab cepat atau lambat, kau akan mati hari ini."
"TIDAK!" kali ini Alesha yang berteriak, dengan iringan tangisnya, ia membalas tegas perkataan Dirga barusan, "SUAMIKU TIDAK AKAN MATI HANYA KARNA MOBIL YANG DIA KENDARAI TERGULING KARNA ULAH KALIAN! DIA ORANG HEBAT DAN KUAT, BUKAN PENGECUT SEPERTIMU, DIRGA!!"
"Oh ya?" Dirga menatap polos Alesha. "Kalau begitu, sepertinya aku memang harus memainkan permainan kedua untuk membuatnya mati," ucapnya dengan seukir senyum manis.
"Hiks. Tidak!" Alesha menggelengkan kepalanya, "Hiks hiks, kenapa? Kenapa kau melakukan ini? Apa salahku dan suamiku? Kenapa kau begitu ingin balas dendam padaku hanya karna masa lalu kau dan ayahku?"
"Haruskah aku menjelaskannya? Tapi itu akan memakan waktu. Aku harus mengirim kalian berdua ke alam lain secepatnya."
__ADS_1
"Aku tidak memiliki masalah apapun denganmu!" pekik Alesha.
"Tapi ayahmu, yang seharusnya orang yang menjadi objek balas dendamku sudah mati, Alesha."
"Dan kau melampiaskan dendammu itu padaku?"
"Karna kau anak satu-satunya Danu, dan aku ingin Danu tak memiliki satu keturunan pun."
"Kau jahat, Dirga!"
Dirga menyeringai, "Hey, aku memang orang jahat. Aku tidak tersinggung sama sekali dengan kenyataan itu."
"Dan kau bangga dengan kejahatanmu itu?"
"Ya, Alesha! Iya! Aku bangga apabila aku berhasil membunuhmu, Alesha!" Dirga menatap tajam pada Alesha.
"Kau tidak akan pernah bisa melakukan itu!"
"Oh ya? Tapi aku sedang dalam proses untuk meraih tujuanku itu, Al."
"Kau akan gagal!" ucap Alesha penuh penekanan.
Dirga menyeringai. "Gagal? Baiklah, sepertinya kau sudah tidak sabar untuk melihat jika aku adalah pemenang dalam permainan ini." Ia menoleh pada anak buahnya. "Lepaskan Jacob. Kita mulai permainan keduanya."
"Apa yang akan kau lakukan, Dirga?" tanya Alesha penuh waspada.
"Mengalahkanmu dironde pertama." Dirga tersenyum licik. "Pasti akan bahagia melihatmu menangis dan terluka sebab ditinggal mati suami tercintamu itu."
Deg!
Alesha tercekat. Apa maksud ucapan Dirga barusan.
"Sepuluh lawan satu. Waw! Itu hebat!" Dirga berkata antusias.
Alesha menoleh tajam pada musuh utamanya, "ITU TIDAK ADIL! KALIAN AKAN BERTARUNG DENGAN SUAMIKU? SEPULUH LAWAN SATU? ITU TIDAK ADIL, SUAMIKU DALAM KONDISI LEMAH. KALIAN SEMUA PENGECUT! JIKA BERANI LAWAN AKU! AKU TIDAK TAKUT PADA KALIAN!"
"Kalau kau mau bermain bersama kesepuluh anak buahku, akan ada ronde kedua nanti, Al." Dirga berkata santai.
"KAU PENGECUT, DIRGA! DASAR PENGECUT TIDAK TAHU MALU! KAU LEMAH! KAU CEMEN! KAU PENGECUT PALING SAMPAH DIANTARA SAMPAH-SAMPAH!" Alesha berteriak kalap.
Dirga mengedikkan kedua bahunya dengan santai. "Terserah, Al. Aku tidak peduli kau mau mengataiku apapun, aku tidak akan melarangmu, silahkan keluarkan semuanya. Aku akan memberikan kesempatan padamu sebelum kau menyusul kedua orang tuamu."
"Hiks hiks, JACK!" tangis Alesha kembali pecah saat melihat suaminya yang mulai mengambil ancang-ancang untuk melawan kesepuluh anak buah Dirga.
Jacob menyeringai. Apa ia takut? Tidak. Ia sama sekali tidak takut. Apa ia ragu? Tidak juga.
"Lil Ale, apa kau ingat? Saat kau masih menjadi murid WOSA, anak buah Mack menculikmu dan membawamu ke tengah hutan."
Sembari menangis sesegukkan, Alesha diam, menyimak ucapan suaminya yang terlihat santai meski sedikit sempoyongan.
"Kau ingat, Sayang? Saat itu, Mack menahanmu, dia bilang, jika aku bisa menghabisi kedelapan anak buahnya, juga dirinya sendiri, maka dia akan membebaskanmu."
Lima belas menit sudah berlalu, Alesha masih belum lelah menangis, bahkan tangisannya pun tidak berkurang. Sebenarnya Alesha sangat lelah, namun Alesha tidak mampu menahan tangisnya saat melihat mentornya yang dihujani oleh pukulan dan tonjokkan. Beberapa luka lebam sudah tercetak pada wajah Jacob, darah bercucuran pada kening dan sudut bibir Jacob, belum lagi pukulan pada bagian perut. Alesha sudah bingung dan pasrah sepasrah pasrahnya ketika melihat tubuh mentornya yang mulai kehilangan kendali dan keseimbangan. Sepertinya Jacob mulai kelelahan dalam menghadapi tujuh lelaki yang memiliki kemampuan bertarung sangat baik. Namun Jacob tidak mau kehilangan momen dan semangatnya, ia terus bertarung hingga tiga diantara ketujuh lelaki itu sudah berhasil Jacob kalahkan dengan mematahkan beberapa tulang milik mereka, dua yang lain terbujur kaku setelah kepala mereka Jacob hantamkan pada batang pohon yang besar dan keras, dan dua yang lain jatuh pingsan saat Jacob mencekik leher mereka mereka lalu kemudian Jacob saling mengadukkan kedua kepala mereka.
Deg!
Alesha sedikit tercekat. Ingatan baru muncul dikepalanya!
"Dan kali ini, kejadian yang sama akan kembali terulang. Yaitu menghabisi orang yang hendak melampiaskan dendamnya terhadap ayahmu padamu di tengah hutan, Alesha. Aku tidak akan kalah. Sama seperti waktu itu, Mack yang berniat untuk mengirim kau, juga aku menuju dunia lain." Jacob menyeringai, "Tapi yang terjadi sebaliknya, aku yang mengirim mereka menuju dunia lain."
"Maaf, Mr. Jacob, aku selalu merepotkanmu." Rintih Alesha.
"Lepaskan Alesha, majulah dan hadapi aku." Tantang Jacob yang kembali mengemas dengan rapih energi dan kekuatannya agar bisa menghajar lelaki yang kini sedang menahan gadisnya. "Aku muak denganmu, kau terus saja mengganggu Alesha, padahal kau tahu kalau Alesha tidak bersalah sama sekali." Jacob menghapus noda darah yang berada pada sudut bibirnya.
"Apa masih tidak cukup untukmu membunuh orang tuanya?!" Jacob meninggikan nada suaranya. "Apa lagi maumu? Jangan jadikan gadis itu sebagai sasaranmu berikutnya, dia tidak mengetahui apapun, dia tidak bersalah, Mack!" Bentak Jacob.
Tangis Alesha semakin membludak. Ia ingat sekarang siapa pembunuh umi dan bapaknya yang sesungguhnya. Mack! Pria itu dalangnya.
"Kumohon, silahkan bunuh aku jika itu maumu, tapi biarkan Mr. Jacob pergi, ia tidak bersalah." Alesha berlutut dan memeluk kaki Mack. Memohon seperti seorang budak yang tidak berdaya.
"Lepaskan dia, Alesha, aku akan menghabisinya malam ini juga. Aku tidak ingin lagi ada seseorang yang terus mengincarmu hanya untuk membalaskan dendam yang tidak seharusnya kau terima!" Perintah Jacob.
"Tidak, aku tidak mau terus melibatkanmu, ini masalahku, kau tidak seharusnya ada di sini dan bertarung demiku tadi, pergilah." Balas Alesha yang masih memeluk kaki Mack.
"Cukup dramanya!" Mack menendang Alesha hingga membuat Alesha tersungkur.
"Mack! Kau benar-benar membuatku marah, kali ini aku pastikan kalau ajalmu akan segera menjemputmu!" Bentak Jacob. Ia sungguh tidak terima melihat gadisnya yang diperlakukan seperti tadi oleh Mack.
"Ajalmu yang akan segera menghampirimu!" Mack mengeluarkan pisau kecilnya yang tadi ia gunakan untuk mengancam Alesha.
"Tidak, cukup!!" Alesha ingin bangkit, namun tubuhnya tidak memberikan dorongan atau dukungan apapun.
Dengan penuh emosi, Mack segera menghantamkan pisau belatinya ke arah Jacob. Menyadari ada sebuah pisau yang sedang terarah kepadanya, Jacob pun segera menghindar dengan gerakan kilat.
"Kau harus mati malam ini! Dan SIO akan kehilangan salah satu agent terbaiknya!" Mack menyeringai licik. Ia pun kembali memberikan serangan pada Jacob.
Alesha menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ini sangat jelas. Gambaran ingatan itu masuk dan sedikit mengacaukan pikirannya. "Hiks, Mr. Jacob.... Maaf... Maaf aku selalu menyusahkanmu bahkan dari sejak kau masih menjadi mentorku. Hiks hiks," lirih Alesha.
Jacob bersiap. Permainan sudah dimulai, beberapa detik lagi, anak buah Dirga itu akan maju dan menyerangnya. Tapi sekali lagi, ia akan mengulangi kejadian yang sama seperti waktu itu saat ia menghabisi seluruh anak buah Mack, termasuk Mack sendiri.
"Jack, hiks hiks, maaf..." Alesha menundukkan kepalanya, tak kuasa melihat suaminya yang kini sedang bertarung hanya demi bisa membebaskannya dari Dirga. Gambaran saat Jacob mati-matian melawan anak buah Mack, juga Mack sendiri waktu itu membuat Alesha tidak berdaya. Rasa bersalah melingkupi dirinya. Apalagi melihat Jacob yang saat ini menerima banyak pukulan dan hujaman disekujur tubuh.
"Dirga, cukup.... Hiks, aku mohon... Lepaskan suamiku. Kau bisa menangkapku. Kau bisa membunuhku saat ini, tapi tolong bebaskan Jacob, hiks hiks. Aku mohon...." parau Alesha.
Dirga menyeringai puas. Ini yang ia harapkan, Alesha menangis dan memohon padanya. Melihat Alesha yang tersiksa seperti sekarang ini menambah rasa kepuasan dalam dirinya. Ditatapnya kedua netra Alesha. Ia dapat melihat mata Danu di sana. Juga wajah Danu, ia melihat wajah musuhnya itu kembali melalui wajah Alesha.
PLAK!
"Argh!"
Satu tamparan mentah yang keras Alesha terima dari telapak tangan Dirga.
"DIRGA!!! BERANI-BERANINYA KAU MENAMPAR ALESHA!!" Jacob berteriak marah seraya terus melayani serangan kesepuluh anak buah Dirga itu.
"AKU BENCI WAJAH INI!" Dirga meraih wajah Alesha dan mencengkramnya kuat-kuat.
Alesha terus menangis, wajahnya terasa sangat perih dan sakit.
"DIRGA!! LIHAT SAJA, SETELAH SEMUA ANAK BUAHMU INI BERES KUHABISI, KAU YANG AKAN MENJADI SASARANKU SELANJUTNYA!!"
Dirga tak memperdulikan teriakan kalap Jacob barusan. Ia menatap Alesha dengan penuh kebencian, "Aku benci mata ini! Harus aku mencongkelnya agar aku tidak melihat sosok Danu lagi padamu, Alesha?"
Alesha tak bisa berkata-kata. Wajahnya dicengkram kuat, tubuhnya pun sulit memberontak sebab diikat kencang pada sebuah pohon.
"Kau sangat mirip dengan bapakmu itu, Alesha. Aku benci wajah ini! Argh!"
Dan sekali lagi....
Plak!
Satu tamparan keras kembali Alesha terima.
"DIRGA!!" Jacob semakin brutal menghajar musuh-musuhnya. Total sudah empat orang yang ia tumbangkan dan berakhir mengenaskan.
Jacob berlari ke arah Dirga, tidak memperdulikan sisa musuhnya yang lain.
"BIA**B KAU!!"
BUGH!
Satu tinjauan matang sukses mendarat diwajah Dirga, membuat Sang Empunya wajah terjatuh menghantam tanah.
Jacob tak mau membuang kesempatan, ia lanjut berlari dan menghajar Dirga secara membabi buta.
Beruntungnya, Dirga tidak pandai dalam berkelahi, membuat Jacob semakin mudah menghajar sebab tak mendapatkan perlawanan balasan dari Dirga.
Dirga mengumpat dalam hati. Ia benar-benar tidak tahu jika Jacob sekuat dan sehebat itu dalam berkelahi. Sekarang ia tahu kenapa Jacob mendapatkan julukan sebagai agent SIO terbaik. Kemampuan yang Jacob miliki sungguh jauh diluar dugaannya. Dirga merutuki dirinya sendiri, ia gegabah mempertimbangkan kekuatan musuhnya. Bahkan sekarang, untuk membuka mulut dan memberi perintah pada anak buahnya saja ia tidak bisa, Jacob menghajarnya tanpa ampun.
"KAU AKAN MATI SAAT INI JUGA, DIRGA!!"
Bugh!
"Argh!" Jacob meringgis. Satu anak buah Dirga menarik tubuhnya, lantas balas menghajarnya.
Tapi itu tidak semata-mata membuat Jacob kalah. Ia kembali bangkit, dan terpaksa harus melayani kelima anak buah Dirga yang tersisa.
Di tempatnya, sekitar sepuluh meter dari Alesha, Dirga susah payah membawa dirinya bangkit untuk duduk, wajahnya nyeri, bahkan untuk bicara saja rasanya sangat amat sakit.
"Mr. Jacob, maaf...." Alesha menatap nanar suaminya dengan penuh air mata. "Kau adalah guru terbaikku, kau juga pengganti orang tua yang paling baik untukku, dan sekarang, hiks hiks, kau adalah sosok pria yang paling berharga dan terbaik yang pernah aku kenal setelah bapakku. Maaf, hiks hiks, maaf karna aku selalu merepotkanmu, Jack. Sudah cukup..... Hiks, jangan bertarung lagi untukku." Ia pasrah. Sedih dan sakit sekali melihat Jacob yang menerima banyak pukulan. Berkali-kali jatuh dan kalah, namun kembali bangkit dan menyerang. Alesha tidak kuasa melihat itu untuk lebih lama lagi. Ia tidak tega melihat perjuangan dan luka-luka disekujur tubuh suaminya.
Mendengar itu, Jacob semakin termotivasi. Meski pada kenyataannya, ia sudah sangat lelah, dan lebih sering kalah kali ini. Namun untuk Alesha, juga calon anak mereka, Jacob akan terus berjuang.
"AAAAA!!!" Jacob berteriak kencang seraya maju dan balas menghajar kelima musuhnya itu.
Butuh sekitar lima menit untuk Jacob menumbangkan satu lawannya dengan kondisi mengenaskan. Berbekal dua belati yang ia dapat dari anak buah Dirga yang sudah terkapa mati, kini saatnya Jacob menaikkan tensi level permainan.
Di ujung sana, Dirga nampak bergerak perlahan mendekati Alesha seraya membawa sebuah pisau.
Ini akan menjadi puncak petarungan.
Jacob bergerak cepat, ia berlari seraya memantapkan posisi kedua lengannya yang sudah mencengkram belati. Dalam satu gerakan cepat, Jacob menebas dua pisau dari dua orang yang maju melawannya lantas didetik itu juga, ia langsung merobek perut kedua pria itu dengan belatinya.
Tersisa dua. Mereka yang melihat kedelapan kawan mereka mati mengenaskan ditangan Jacob kini hanya bisa meneguk saliva seraya menata ragu pada Jacob.
"Kalian ingin bernasib sama seperti delapan kawan kalian yang lain?" teriak Jacob.
Dua pria itu saling menggelengkan kepala. Wajah mereka nampak ketakutan.
"PERGI SEKARANG!!" bentak Jacob.
Kedua pria itu mengangguk, lantas kemudian berbalik badan dan lari terbirit-birit.
Jacob menghembuskan napas berat. Kini tersisa Dirga seorang. Tak membuang waktu, ia segera maju dan hendak menikam Jacob.
Namun, Dirga yang sudah lebih dulu menyadari itu langsung menghindar dengan gerakan cepat.
"JANGAN MENGHINDAR KAU DIRGA!!" Jacob berlari ke arah Dirga.
Dirga sendiri, ia jelas sadar, ia akan kalah oleh Jacob. Jadi, lari adalah jalan terbaik mungkin.
"Berhenti!" Jacob berhasil meraih lengan Dirga.
Refleks yang bagus membuat Dirga langsung melayangkan pisaunya pada Jacob.
"JAACCKK!!" teriak panik Alesha.
Wuishh...
Pisau itu mengenai udara kosong.
Jacob juga memiliki refleks yang bagus. Ia sukses menghindar tepat waktu.
"Kau tidak akan bisa lari dariku, Dirga!" tekan Jacob.
Bugh!
Satu bogem matang mendarat diwajah Dirga, membuatnya terhuyung dan terjatuh.
"KAU SALAH SEBAB SUDAH MENANTANGKU, DIRGA!" Jacob sungguh kalap. Ia tidak perduli, meski Dirga sudah tidak berdaya dibawahnya, ia tetap menghajar pria itu habis-habisan.
"Arrkkhh!!" Dirga meringgis. Kedua telapak tangannya memukul-mukul tanah sebab lehernya dicekik kuat oleh Jacob.
"Seharusnya kau tidak bermain-main denganku, Dirga," bisik Jacob, "Terutama dengan istriku. Aku sudah bilang kalau keadaan akan terbalik, bukan kau atau anak buahmu yang akan mengirimku juga Alesha ke dunia lain." Jacob menyeringai, "Tapi akulah yang akan mengirim kalian ke dunia lain. Selamat jalan, Dirga, selamat menempuh dunia yang baru."
"ARRKKHH!!" Dirga mengerang kuat. Ial berusaha memukuli Jacob dengan sisa tenaganya, namun itu tak berarti apa-apa.
Jacob ingat, Alesha bilang, jika Alshiba meninggal sebab dicekik oleh Dirga.
"Oh ya, satu lagi. Waktu itu kau yang mencekik bayiku hingga membuat putriku itu meninggal, bukan? Sekarang gantian, biarkan kau merasakan juga bagaimana rasanya mati dicekik oleh seorang ayah yang putrinya dibunuh olehmu, Dirga!" Jacob menyerangnya puas. "Selamat tinggal, Dirga."
Dan dengan satu cengkraman kuat terakhir, Jacob pun sukses mengakhiri misinya dengan sangat baik.
"ARKH! ARKH!" Dirga melotot, ini adalah detik-detik kematiannya.
Jacob kian menambah kekuatan cengkramannya. "Sekarang kita impas!"
"Rrrkkhh... arkh!" Dan sedikit demi sedikit, hingga pada akhirnya, Dirga pun terpejam tanpa lagi bergerak-gerak, atau bernapas.
"HUFT!" Jacob menghembuskan napasnya dengan kasar. Ditatapnya lamat-lamat Dirga olehnya. Ini adalah kali kedua Jacob membunuh pria yang hendak membalas dendam terhadap ayah mertuanya pada Alesha.
"Cukup. Ini harus menjadi yang terakhir. Cukup Mack dan Dirga saja. Jangan ada lagi orang lain yang tiba-tiba datang dengan motif yang sama," gumam Jacob.
"Jack..." panggil Alesha, lemah.
Refleks, Jacob menoleh pada istrinya.
"Jack... Hiks hiks..."
Jacob langsung bangkit dan bergegas menghampiri Alesha yang masih terikat dipohon.
"Jack, hiks hiks, terima kasih... Hiks, Terima kasih banyak untuk semuanya...." Alesha menatap nanar wajah suaminya.
Jacob tak membalas. Ia fokus membuka rantai yang mengikat istrinya.
"Maaf aku selalu merepotkanmu sejak dulu. Hiks hiks. Terima kasih sudah selalu berusaha untuk menjagaku."
Jacob menghela napasnya dengan tenang. Melepaskan rantai yang melilit tubuh istrinya itu, lantas membuangnya kesembarang arah.
"Hiks, Jack, terima kasih." Alesha langsung mengalungkan kedua lengannya pada leher Jacob. Menumpahkan tangisannya kembali dibahu pria itu.
Jacob pun sama, ia balas memeluk tubuh istrinya erat-erat. Sungguh, ia sangat takut tadi. Takut jika ia akan kehilangan Alesha.
"Aku mencintaimu, Jack," ucap Alesha disela-sela tangisnya. "Jangan tinggalkan aku. Hiks hiks, dan terima kasih banyak."
Kali ini, Jacob dapat tersenyum dengan penuh kelegaan.
"Hiks, Jack..." Alesha menarik kepalanya. Menatap suaminya itu dengan senyum bahagia dalam jarak yang sangat dekat.
Jacob balas tersenyum lembut.
Sejurus kemudian.
Deg!
Jacob tercekat!
Alesha mencium suaminya begitu saja dengan lembut, dan sedikit ditekan. Juga lama.
Oh ya ampun, ini adalah hal yang selalu Jacob harapkan. Alesha menciumnya tanpa perlu ia yang meminta.
"Aku mencintaimu, Tuan Mentor," bisik Alesha yang disusul tawa kecil.
Wajah Jacob berseru merah. Sekujur tubuhnya terasa panas.
__ADS_1
"Apa tadi itu nyata?" gumam Jacob bersama senyum kikuknya.