Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Sepercik Ingatan dan Kenangan Manis


__ADS_3

Hembusan angin pantai membawa seulas ketenangan dalam hati Alesha setelah hampir satu jam ia menangis tersedu-sedu hanya karna hatinya yang terasa begitu sakit setelah mendengar kebenaran yang masih tidak bisa diingat oleh memorinya.


Kini Alesha, dan Jacob terduduk tenang di tepian pantai. Kedua mata Alesha yang sembab menatap lurus ke arah hamparan samudra. Sedangkan Jacob, ia memeluk tubuh istrinya, membiarkan kepala Alesha bersandar pada dadanya.


"Sudah lebih tenang, sayang?" Tanya Jacob, lembut.


Alesha hanya mengangguk pelan. Ia masih enggan berbicara, hatinya masih terasa begitu perih. Alshiba, dan Khalid, dua bayi yang telah tiada, dan tidak Alesha ingat itu kini membuat luka mendalam dilubuk hati Alesha.


Mungkin Alesha tidak ingat, tapi ia merasakan sakit yang luar biasa hingga ia tidak bisa menerima kenyataan jika dua bayi yang tidak ia kenali itu sudah meninggal.


"Jack," Panggil Alesha sangat pelan.


"Iya, ada apa, sayang?" Tanya Jacob dengan lembut.


"Apa kau memiliki foto bayi itu? Aku ingin melihatnya," Jawab Alesha sembari membawa tubuhnya untuk keluar dari pelukan Jacob.


"Ada, tapi aku hanya memiliki foto putri kita saja, aku tidak sempat mengambil foto putra kita, sayang," Jacob pun mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya.


"Tidak apa, aku ingin melihat bagaimana rupa bayi itu," Sebenarnya Alesha merasa cukup kecewa karna Jacob yang memiliki foto Alshiba saja, dan tidak dengan Khalid. Lalu bagaimana caranya agar Alesha bisa mengingat wajah putranya itu?


"Ini," Jacob menunjukkan sebuah foto dimana Alshiba tengah tertidur pulas di dalam keranjang bayi.


Alesha langsung terpana pada foto Alshiba yang Jacob tunjukkan tersebut. Tatapannya sedikit berbinar, rasa bahagia pun perlahan timbul dalam hatinya yang tengah bersedih. Melihat foto Alshiba membuat Alesha merasakan sesuatu lain dalam dirinya, seperti sebuah tarikan atau hubungan yang terasa erat, dan familiar.


Perasaan macam apa ini?.... Gumam Alesha dalam hatinya.


Kedua netra Alesha benar-benar terpaku pada sosok bayi mungil yang tengah tertidur itu. Hatinya tenang, namun rasa rindu tak dapat lekang. Kenapa harus secara tiba-tiba lagi? Kerinduan itu menyeruak memasuki hati Alesha. Ibu jarinya kini terangkat, membelai lembut layar ponsel tersebut seolah ia sedang benar-benar membelai putrinya.


Perlahan, Alesha mulai mengelapi wajah putrinya dengan sangat hati-hati menggunakan air hangat yang ada di dalam bak mandi itu. Lalu setelahnya, Alesha pun mengelap bersih tubuh Alshiba, tidak lupa pula sabun cair yang Alesha usapkan pada tubuh bayi cantiknya itu.


"Hah!" Tubuh Alesha terlonjak hingga menimbulkan jarak yang cukup renggang dengan suaminya.


Aku mengelap wajah bayi itu dengan hati-hati menggunakan air hangat? Aku menyabuni tubuh bayi itu?...... Alesha bertanya-tanya dalam pikirannya.


"Alesha, ada apa?" Tanya Jacob yang panik karna mendapati istrinya yang tiba-tiba saja terkejut dengan raut wajah yang berubah seakan baru saja melihat hal yang mengejutkan.


Apa mungkin itu ingatan lama yang baru saja kembali?..... Alesha masih bertanya-tanya dengan pikirannya sendiri. Mungkinkah? Tapi ia ingat kejadian itu, ia sedang di dalam kamar mandi, berlutut dengan seorang bayi yang persis dengan foto bayi yang Jacob tunjukkan. Lalu perlahan ia mengelap tubuh bayi itu menggunakan sabun cair.


"Alesha, katakan sesuatu!" Jacob mengguncang tubuh istrinya.


"Aku mengingatnya," Ucap Alesha, lirih. "Aku mengingatnya," Alesha menatap pada Jacob. "Aku sedang memadikannya, aku mengelap tubuhnya menggunakan sabun, dan air hangat," Alesha menunduk, kedua iris bergerak-gerak tak tentu arah. "Aku... Aku ingat itu, Jack. Bayi itu, Alshiba, aku sedang membersihkan tubuhnya."


Alesha mengangkat wajahnya, menatap bahagia pada suaminya. "Ingatanku ada yang kembali karna foto itu. Aku berhasil mengingat satu kejadian, Jack!"


"Alshiba, aku mengingat satu kejadian tentangnya!" Alesha berseru girang.


Jacob tentu merasa bahagia akan hal tersebut. Satu lagi ingatan Alesha kembali, dan Jacob akan memastikan kalau sedikit demi sedikit Alesha akan kembali mendapatkan ingatan, dan kenangan lamanya dengan kebersamaan mereka.


" Aku percaya kau bisa mengingat kembali apa yang terlupakan oleh memorimu, Lil Ale," Jacob membawa tubuh Alesha kedalam pelukannya.


"Aku mencintaimu, Alesha, sangat mencintaimu."


Cup...


Deg!


Alesha menegang. Tubuhnya tercekat setelah Jacob mencium pipi kanannya.


Hawa hawa panas menjalar membuat Alesha tidak bisa mengelak jika kini wajahnya pasti sudah merah matang.


Tuan Jacob, kau menciumku? Kenapa aku suka itu? Tapi aku sangat malu sekarang karna kau menciumku..... Ucap Alesha dalam hatinya.


"Aku mencintaimu, My Lil Ale," Jacob tersenyum memandang penuh cinta pada wanita pujaannya. "Wajahmu merona, sayang."

__ADS_1


Alesha mendapati Jacob yang terkekeh saat memandang ke arahnya. Oh ayolah, Alesha semakin malu, dan rasa panas itu kian menjadi dalam tubuhnya.


"Menggemaskan sekali," Jacob menggerakkan giginya dengan gemas. "Boleh aku menciummu lagi, sayang?"


Bukannya kau suamiku ya? Kenapa kau harus meminta izin? Tapi ah, pria ini, aku masih merasa sangat asing dengannya, tapi kenapa aku malah menyukai sikap manisnya itu? Seharusnya aku tidak sedekat ini dengan pria yang baru aku kenal tiga hari lalu...... Ucap Alesha dalam hatinya.


"Sayang, jangan melamun, Lil Ale," Jacob mendekatkan wajahnya pada wajahnya istrinya.


"Eh, Tuan!" Refleks, Alesha pun memundurkan wajahnya, namun tubuhnya masih tertahan oleh kedua lengan Jacob yang masih melingkari pinggang rampingnya.


"Jangan takut, Lil Ale, aku suamimu. Ingat! Aku suamimu, sayang," Jacob berucap lembut.


"Tapi bagaimana jika ada yang melihat kita?"


"Tidak akan, Al, tidak akan ada yang mengganggu kita di sini, sebelumnya juga tidak pernah ada yang mengganggu kita saat kita berdua menghabiskan waktu bersama di tempat ini, tenang saja."


Benarkah dulu kita suka untuk menghabiskan waktu berdua di sini?..... Tanya Alesha dalam hatinya.


"Tuan, Apa...."


"Sayang, jangan panggil aku seperti itu lagi, aku bukan orang asing untukmu. Aku adalah suamimu, sayang," Potong Jacob.


"Emm, maksudnya, Jack," Sejujurnya Alesha nyaman dengan panggilan itu, rasanya enak saja seperti ia sudah terbiasa, namun entah masih ada rasa canggung dalam hatinya. "Apa dulu kita sangat dekat?"


Aish, pertanyaan macam apa itu? Kenapa bisa Alesha bertanya seperti itu? Ia jadi malu sendiri membayangkan kedekatannya dengan pria asing yang mengaku sebagai suaminya itu.


"Tentu saja kita sangat dekat, bahkan kita selalu bersama-sama, sayang. Saat malam hari selepas kau melaksanakan sholat isya aku selalu mengajakmu ke sini, kita selalu melewati malam kita berdua di sini sembari berbincang kecil," Jawab Jacob.


"Melewati malam kita berdua di sini?" Ulang Alesha.


Jacob mengangguk. "Iya, aku selalu mengajakmu menikmati malam di sini sampai pukul setengah sepuluh karna kau suka untuk menatap langit malam, Lil Ale."


"Eh, bagaimana kau tahu aku suka pemandangan langit malam?" Alesha menyerngitkan dahinya.


Alesha sedikit menundukkan kepalanya, ia sedang memikirkan sebuah pertanyaan dalam kepalanya.


"Emm, Jack, apa kau memiliki bukti lain jika aku adalah benar istrimu?" Tanya Alesha, pelan.


"Aku punya banyak bukti. Aku memiliki banyak foto kebersamaan kita, aku memiliki foto pernikahan kita, dan lihatlah ini, apa kau tidak menyadarinya, Alesha?" Jacob mengaktifkan kembali ponselnya lalu menunjukkan kepada Alesha foto walpaper dilayar utama.


Sekali lagi dahi Alesha menyerngit bingung karna mendapati wajahnya yang tengah tersenyum cerah sembari memeluk buket bunga yang berbahan kain flanel pada layar utama ponsel Jacob.


"Aku tidak ingat aku pernah memeluk buket bunga seperti itu," Alesha menggelengkan kepalanya, pelan.


"Itu buket bunga yang aku belikan saat kita pulang dari rumah sakit setelah mengecek kehamilanmu. Saat itu kau sedang hamil lima bulan, dan kau marah padaku karna aku melarangmu untuk membeli rujak, dan asinan pedas, jadi sebagai gantinya aku membelikkanmu martabak rasa coklat, dan buket bunga itu," Ucap Jacob diselingi senyum kecil. Ia jadi ingat kejadian itu, saat dimana Alesha merengek meminta dibelikan rujak, dan asinan pedas tapi ia melarangnya, lalu Alesha merajuk, dan marah, meski ya pada akhirnya Alesha ceria kembali karna ia membelikkan dua kotak martabak rasa coklat, dan buket bunga.


Lucu yang Jacob dapati saat ia mengingat saat-saat itu.


"Kau tahu, Alesha, kau sangat manja saat hamil, apalagi kalau sudah meminta dibelikan seblak, rujak, dan asinan, pasti kau selalu memaksa seperti anak kecil. Tapi aku suka, malah aku sangat menikmati waktu dimana Tuan Putri manis ini merengek padaku supaya keinginannya bisa dituruti, kau selalu memintaku untuk mengelusi perut buncitmu sampai kau tertidur," Jacob menoel gemas ujung hidung istrinya. "Aku ingin mengulang masa itu lagi, sayang. Aku ingin kau hamil anakku, dan kau bermanja-manja lagi padaku. Aku harap secepatnya keinginan itu dapat terwujud."


Aku tidak salah dengarkan? Tuan ini meminta agar aku hamil anaknya secepatnya? Hamil? Secepatnya?...... Alesha merasa sedikit aneh dengan ucapan Jacob barusan. Ia merasa kesannya seperti Jacob sedang meminta anak padanya. Oh ya ampun, Alesha saja masih memiliki keraguan jika Jacob adalah suaminya, dan kini pria itu malah meminta ia untuk hamil anaknya?


"Aku ingin segera memiliki anak lagi denganmu, dan aku akan benar-benar menjagamu juga tidak akan mengacuhkanmu, Lil Ale," Jacob membelai lembut pipi Alesha. Ia ingat akan kesalahan terbesarnya waktu itu yang sempat mengacuhkan Alesha, dan malah sibuk dengan masalah pekerjaannya.


...*****...


Setelah asik menghabiskan waktu di tepi pantai selama kurang lebih dua jam, Alesha, dan Jacob kembali berkeliling WOSA.


Alesha cukup menikmati waktunya bersama Jacob, meski dalam lubuk hati Alesha masih merasa jika Jacob adalah pria asing untuknya.


"J-Jack," Panggil Alesha, pelan. Ia canggung jika harus memakai panggilan itu.


"Hmm, apa, sayang?" Balas Jacob sembari sedikit membungkukkan tubuhnya.

__ADS_1


"Boleh kita kembali ke ruangan sekarang?" Pinta Alesha. Matanya mulai terasa berat, ia mengantuk, ia sudah terbiasa tidur siang karna Rangga yang selalu menyuruhnya tertidur saat siang hari.


"Kau mengantuk ya?" Jacob tertawa kecil saat mendapati wajah istrinya yang datar sebab menahan kantuk.


"Hmm? Ba-bagaimana kau tahu?" Lirih Alesha. Kedua matanya berkedip-kedip lebih cepat karna rasa kantuk semakin menyambanginya.


"Hahaha, apa yang tidak aku tahu tentangmu, Lil Ale? Berapa tahun kita sudah bersama? Tentu saja aku hapal ekspresi ini," Jacob menangkup gemas wajah istrinya. "Hmm, kasihan. Ayo, kita kembali ke ruangan sekarang."


Akhirnya Jacob bersama istrinya berjalan menuju ruangan mereka. Sesampainya, Alesha langsung melepaskan sepatu boots yang ia pakai lalu mencuci kakinya, setelah itu barulah ia membaringkan tubuhnya di atas kasur.


Kebiasaan baru Alesha itu menjadi salah satu bukti jika Alesha memang benar-benar berubah. Sebelumnya Alesha jarang sekali tidur siang, tapi saat tinggal bersama Rangga, Alesha selalu disuruh untuk tertidur, dan dilarang pergi kemana pun saat siang hari.


Rangga sendiri memerintahkan hal itu pada Alesha karna ia yang harus pergi menjual hasil kebun ke petani di perbatasan. Rangga hanya ingin memastikan kalau adik angkatnya, Alesha aman saat ia sedang pergi keluar pedesaan.


Dret... Dret...


Ponsel Jacob bergetar tanda ada pesan masuk. Segera Jacob mengaktifkan ponselnya dan mencari tahu pesan apa dan dari siapa asalnya.


"Rangga?" Gumam Jacob


(Rangga : Jack, bagaimana kabar Alesha?)


Jacob mulai mengetik untuk membalas pesan Rangga tersebut.


(Me : Alesha baik-baik saja.)


Rangga mengetik...


Jacob memutar kedua bola matanya dengan jengah. Sejujurnya ia sangat malas membalas pesan Rangga karna masih merasa sakit hati sebab Rangga yang memisahkannya dengan Alesha, namun bagaimana juga Rangga melakukan itu demi melindungi Alesha, jadi, yasudahlah, yang penting sekarang Alesha telah kembali padanya.


(Rangga : Apa yang sedang dia lakukan sekarang?)


(Me : Tidur.)


Sementara itu, Rangga yang kini sudah berada di unit apartemennya, di Bandung pun menghela napasnya saat mengetahui Alesha yang tengah tertidur siang.


Seukir senyum tipis mengembang pada wajah Rangga. Pria itu ingat kalau ia selalu memerintahkan adik angkat kesayangannya itu untuk tertidur siang.


"Kakak kangen banget sama kamu, Alesha," Gumam Rangga sembari menatap foto Alesha yang tengah tersenyum manis sembari terduduk di ayunan pohon yang berada ladang tempat biasa Alesha bermain sejak pindah ke pedesaan di Amerika Serikat.


"Kapan kita ketemu lagi?"


Rangga memejamkan matanya, membayangkan Alesha yang tengah tertawa, dan bercanda dengannya. Mereka berdua memanglah sangat dekat, bahkan tidak jarang Rangga memanggil dengan sebutan 'Sayang' pada Alesha.


Tetapi Rangga sadar, Alesha sudah menikah, dan ia tidak bisa menghancurkan rumah tangga adik perempuannya itu. Tugas Rangga adalah menjaga Alesha, seperti yang sudah dikatakan oleh ayah angkatnya, Profesor Danu.


"Bapak, Rangga minta maaf karna Rangga suka sama Alesha, Rangga sayang banget sama Alesha, tapi Rangga janji, Rangga gak akan pernah rebut Alesha dari suaminya, Rangga bakal tetep jaga Alesha sesuai keinginan Bapak."


Kebaik hatian Profesor Danu, dan Umi angkatnya membuat Rangga begitu segan, dan selalu patuh dengan apa yang diucapkan atau diperintahkan.


Rangga bahagia karna memiliki orang tua angkat yang selalu perhatian, dan memberikan belas kasih padanya seperti pada anak kandung sendiri, terutama Uminya yang seperti tidak pernah lelah memberikan segala pengajaran, dan pendidikan di rumah. Kelembutan, dan kesabaran Uminya dalam bertutur kata, dan bersikap membuat Rangga berharap jika kelak ia bisa memiliki istri seperti Umi angkatnya itu. Tapi Rangga masih belum mengetahui alasan kedua orang tua angkatnya menyembunyikan ia dari para sanak saudara, termasuk Alesha.


Jadi, kedua orang tua angkatnya itu membelikkan Rangga sebuah rumah yang berukuran kecil, atau sebesar rumah kontrakan pada umumnya. Sungguh saat itu Rangga benar-benar merasa jika ia adalah orang yang paling beruntung di dunia, belum lagi di dalam rumah tersebut terdapat satu kamar mandi, dan satu kamar tidur, dapur, dan ruang depan tentunya, di sana juga sudah ada kasur yang hanya bisa dituduri satu orang saja, namun sungguh kasur itu terasa sangat nyaman menurut Rangga, ditambah bantal, guling empuk, dan selimut sutra tebal yang hangat, lalu ada TV, tidak lupa beberapa peralatan masak, dan makan. Rangga juga tidak akan lupa saat dimana pertama kalinya ia diajak kesalah satu mall oleh Uminya. Di sana Rangga dibelikan empat setel baju, perlengkapan sekolah, dan kebutuhan sekunder lainnya.


"Kamu jangan sedih lagi ya, kamu udah punya orang tua baru sekarang. Anggap kita sebagai orang tua kandung kamu, jangan sungkan minta sama kita kalau kamu butuh sesuatu, oke."


Ucapan Uminya itu kini kembali berputar dalam pikiran Rangga. Sudah berapa tahun berlalu? Rangga sangat rindu saat dimana ia, dan kedua orang tua angkatnya bercanda gurau, dan tertawa bersama, apalagi sejak kehadiran Alesha yang waktu itu masih berumur beberapa bulan. Rangga selalu mengajak Alesha bermain, dan berbicara, ia benar-benar merasakan kehangatan keluarga yang sesungguhnya saat kedua orang tua angkatnya sudah membawa Alesha kecil ke rumahnya.


"Ya ampun, Al, Kakak jadi inget kalau dulu Kakak suka gigitin pipi kamu," Rangga terkekeh sendiri mengingat bagaimana indahnya kehidupan ia setelah bertemu dengan kedua orang tua kandung Alesha. "Kamu gak mungkin inget, Al. Dulu waktu umur kamu masih dua tahun Kakak sering banget asuh kamu, Kakak sering bawa kamu ke taman bermain yang gak jauh dari rumah. Gak nyangka aja ya, waktu jalan cepet banget, sekarang bayi yang suka Kakak asuh udah nikah, bahkan udah punya anak," Rangga menyentuh layar ponselnya yang kini menunjukkan foto ia yang sedang memeluk Alesha kecil di ayunan taman.


Kenangan manis itu tidak akan pernah Rangga lupakan, apalagi ketika ia yang sedang bercanda gurau dengan kedua orang tuanya sembari menggoda atau mengajak Alesha kecil bermain.


"Dede Lesha, udah gede sekarang," Rangga mengelus layar ponselnya tepat dibagian wajah Alesha. "Dede embul kesayangan Kakak."

__ADS_1


__ADS_2