Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Membuatmu Percaya


__ADS_3

Alesha menggelengkan kepalanya yang terasa sedikit pusing beberapa kali. Efek kehamilannya mungkin. Tapi disaat seperti ini, Alesha tidak boleh kecolongan. Sejurus kemudian, ia meraih pistol yang tergeletak bebas tersebut, lantas bangkit dengan sigap, memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat, menguhunuskan moncong pistolnya ke arah lawannya, dan seketika DOR! DOR! DOR!


Tiga butir peluru melesat susul menyusul, menghantam tubuh lawan terakhir Alesha tersebut.


Jacob semakin tercekat. Tidak menyangka kalau Alesha bisa seberani itu menembak orang lain. Padahal yang Jacob tau, Alesha selalu takut untuk memegang pistol, apalagi menembak lawan.


Napas Alesha terengah-engah. Ia mencoba untuk mentralisir perasaannya yang berkecamuk. Marah, sedih, kecewa, cemas, dan semuanya. Tapi sejurus kemudian, ia menoleh ke arah suaminya, menatap lurus tanpa ekspresi.


Jacob menghela napas dengan tenang. Ia melempar senyum hangatnya. Niat hati ingin berlari untuk menghampiri istrinya itu, namun teriakan Alesha lebih dulu menahan langkahnya.


"JACK, MENUNDUK!"


Refleks, Jacob langsung membungkuk setengah badan, disusul bergemanya suara tembakan dan lesatan peluru tepat diatas kepalanya.


DOR!! DOR!! DOR!!


Pria yang baru saja muncul dari ujung lorong dan hendak menikam Jacob dengan sebuah belati tumbang seketika. Alesha berhasil menancapkan tiga buah peluru didadanya.


Jacob cukup terkejut mendapati hal itu. Ia kira sudah tidak ada anak buah Vincent lagi di lorong itu. Sejenak Jacob memandangi pria yang baru saja ditembak-mati, mungkin-oleh Alesha. Ia bergidik ngeri. Bukan karna melihat pria itu, tapi karna sekarang Alesha sudah bertransformasi menjadi wanita yang Jacob harapkan dari sejak ia mementori istrinya itu di WOSA.


Sekali lagi tubuh Jacob sedikit terlonjak sebab mendengar bunyi benda keras yang jatuh menghantam lantai.


Jacob memutar balik tubuhnya, "Al!" Ia berlari panik menghampiri Alesha yang oleng dan nyaris saja jatuh jika tidak bersandar pada tembok.


"Al, kau kenapa? Kau baik-baik saja?" Jacob menahan tubuh istrinya dengan perasan dan ekspresi cemas yang terlihat jelas.


"Alesha...."


"Aku baik, Baby J juga baik. Kepalaku pusing, perutku mual. Uek!" Alesha menutup mulut dengan sebelah telapak tangannya, sementara telapak tangannya yang lain mencengkram kuat bahu suaminya.


Sungguh, Alesha merasa lemas sekarang, kepalanya terasa sedikit berputar, dan mual diperutnya mulai cukur menyiksa.


"Jack...." lirih Alesha.


"Apa, Sayang?"


"Jack, aku ingin duduk sebentar."


Jacob mengangguk. Ia membantu Alesha untuk duduk dan bersandar perlahan pada tembok.


"Kau yakin baik-baik saja, Alesha?"


Alesha mengangguk. "Aku tidak apa-apa. Hanya perutku mual, kepalaku sedikit berputar, Jack," keluhnya.


Jacob mengangguk pelan. Ia paham, itu efek kehamilan Alesha. Tapi Jacob juga bisa apa? Seandainya ia bisa mengurangi rasa sakit dan mual yang Alesha rasakan itu. Tapi sayangnya ia tidak bisa. Namun, cukup bagi Jacob untuk melihat kondisi istrinya yang baik-baik saja saat ini. Ia sangat bersyukur karna Alesha bisa menjaga dirinya dengan baik.


"Alhamdulillah...." gumam Jacob sembari memeluk tubuh Alesha. Ia juga turut meletakkan ciuman ciuman lembut pada puncak kepala Alesha yang terlapisi oleh kerudung tersebut.


"Sayang, ayo, kita tidak bisa lama-lama di sini," ajak lembut Jacob, "Kau masih mampu berjalan? Atau aku akan menggendongmu saja."


Alesha menggelengkan kepalanya. "Aku bisa berjalan sendiri."


"Baiklah, kalau begitu, ayo. Di sini tidak aman, Sayang." Jacob membantu Alesha berdiri perlahan.


Di tempat lain, Bastian bersama kawan-kawannya sedang berjaga di kantor SIO. Namun kali ini, bukan hanya Bastian dan ketujuh kawannya saja di sana, ada regu tim Brandon juga yang ditugaskan untuk berjaga di kantor SIO. Tidak terjadi saling sapa sama sekali diantara Bastian dan Brandon. Mengingat, mereka adalah rival di WOSA, dan itu masih berlanjut hingga sekarang.


Sementara itu Laras, ia berada di ruangan kendali, tempat dimana seluruh area kantor raksasa bawah tanah itu dapat diawasi oleh teknologi muktahir. Di ruangan itu juga semua sistem gedung beroperasi, dari sistem listrik, komputer, dan lain-lain. Jika ada satu saja sistem yang rusak atau dimatikan di ruang itu, maka beberapa persen atau setengah dari kantor SIO tersebut tidak dapat beroperasi.


"Mrs. Laras, tidak ada tanda-tanda musuh sejauh ini," ucap Aiden yang sibuk memantau kawasan hutan sekitaran kantor SIO.


"Terus awasi, Aiden, aku tidak mau kita kecolongan. Bukan tidak mungkin Vincent dan Theo juga menyerang kantor ini saat agent SIO yang lain juga pergi untuk memberantas mereka," ucap Laras.


"Baik, Mrs. Laras."


Laras bergegas pergi meninggalkan ruangan tersebut, ia harus memastikan kalau beberapa agent SIO yang lain sudah bersiap di posisi masing-masing.


"Aku berharap aku bisa ikut langsung ke tempat dimana Vincent berada sekarang. Aku ingin sekali menghajar Stella," dumal Nakyung.


"Bukan kau saja, Nakyung, tapi aku juga," sahut Merina.


Mereka berdua ditugaskan untuk berjaga di lantai tiga, sementara Mike, dan Tyson di lantai lima.


Radius lima kilometer dari wilayah kantor SIO, anak buah Theo sudah bersiap, mereka bahkan sudah mulai bergerak menuju kantor SIO dengan sembunyi-sembunyi, melewati jalan khusus yang tidak dapat terpantau oleh sistematis keamanan jarak jauh milik SIO. Theora masih dalam perjalan bersama anak buahnya yang lain. Masih dibutuhkan waktu yang sedikit lebih lama untuk tiba di kantor SIO, dan setibanya ia di sana nanti, ia hanya tinggal perlu bergabung dengan pesta yang sudah kakaknya dan Vincent rencanakan.


Sejauh ini, rencana berjalan sesusai yang diperkirakan. Theora dan beberapa anak buahnya akan menyelinap masuk ke dalam ruangan laboratorium SIO, dan mencuri sampel virus XXX juga vaksin virus baru tersebut.


Kembali pada markas dadakan Vincent. Di sana, keadaan masih belum terkendali, pertarungan jual beli pukulan masih menghiasi setiap sudut gedung.

__ADS_1


Vincent yang kalap nyaris saja menakluki Danish. Ia marah sebab Danish menghalanginya untuk mencari dan bertarung dengan Jacob. Tapi bagaimana juga, tidak semudah itu mengalahkan Danish. Bahkan keadaan mulai berbanding terbalik sekarang. Vincent menerima banyak pukulan membabj buta, membuat tubuhnya menghantam dinding dan lantai dengan keras beberapa kali. Darah segar mulai mengucur dari ujung bibirnya, juga keningnya yang tergores kepala paku kecil yang menancap didinding tadi.


Sementara itu Jacob, ia juga sibuk menghadapi para anak buah Vincent yang berpapasan dengannya di lorong.


Alesha?


Bumil itu juga ikut bertarung dengan suaminya, meski hanya sebentar. Ia hanya membantu Jacob sedikit. Kepalanya semakin pusing berputar, perutnya sangat mual, sulit untuk melawan musuhnya dalam kondisi seperti itu, apalah ia juga harus memastikan perutnya yang aman dari pukulan atau benturan apapun.


"Al...." Jacob menahan tubuh istrinya yang bersandar lemas pada dinding. Ia cemas, namun berusaha untuk tidak panik.


"Aku baik, aku hanya butuh istirahat...." lirih Alesha.


Jacob menghela napas sabar. "Sedikit lagi, Sayang. Kita harus segera pergi dari tempat ini. Ada Taylor dan beberapa anak buahnya yang sudah menunggumu di luar."


"Lalu bagaimana denganmu? Dia hanya menungguku?" tanya Alesha, masih lirih.


"Aku masih harus menyelesaikan masalah ini dengan agent SIO yang lain, Al," jawab Jacob.


Alesha terhenyak samar mendengar itu. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk pada suaminya?


"Ayo, pelan-pelan turun tangganya." Jacob menuntun istri dengan hati-hati saat menuruni anak tangga.


Tepat di ujung anak tangga terakhir, seseorang berpapasan dengan Jacob dan Alesha. Orang itu terkekeh seraya menggenggam kuat belatinya.


"Haii, Alesha...."


"Stella!" geram Alesha. Ia menatap marah pada Stella. Sejak Theora yang meninggalkannya di kamar, kilasan tentang pengkhiatan dan perlakuan Stella terhadapnya mulai berdatangan. Alesha ingat saat ia dituduh hamil anak Jacob, padahal itu adalah akal-akalan Stella untuk menyingkirkannya. Ia ingat saat tragedi di kamar mandi setelah melaksanakan ujian semester dua di bukit Hollywood, Stella menghajarnya dengan menyamar, dan yang terakhir adalah Alesha ingat, saat Stella pernah mencium Jacob diam-diam dengan memakai parfumnya.


"Hey, apa kabar, Kawan?" Stella berbasa-basi.


"Omong kosong kawan! Cih! Kau bukan kawanku, Stella!" balas Alesha, galak. "Dasar bibit pelakor!"


Stella menggeram marah. Barusan Alesha bicara dengan bahasa Indonesia, tapi ia mengerti maksudnya.


"Cukup! Aku rindu saat bertarung denganmu, Al. Terakhir kita bertarung hidup dan mati saat di kamar mandi, bukan? Apa kau ingat itu?" Stella mengangkat belatinya, menghunuskannya pada Alesha.


Jacob diam. Memperhitungkan situasi. Ia terus memasang insting terkuatnya untuk berwaspada terhadap serangan dadakan yang bisa jadi Stella lakukan. Gadis itu sangat lihai dalam memainkan belatinya, ia sendiri yang yang waktu itu mengajarkan Stella secara privat beberapa kali. Salah satu hal yang membuat Jacob suka pada Stella adalah gadis itu cepat sekali menguasai satu teknik yang ia ajarkan, dan boleh dibilang Stella adalah muridnya yang terbaik di Luxury-1. Tapi sayang, hal yang sudah Stella lakukan membuat rasa bangga, dan percayanya lenyap begitu saja.


"Aku bahkan ingat saat kau mensabotase alat testpack milikku. Kau menukarkannya dengan milik Della agar aku dikeluarkan dari WOSA, kan? Dan kau bisa mendekati lalu membuat Mr. Jacob tertarik dan jatuh hati padamu, kan?" Alesha berusaha mengendalikan emosinya.


Stella terkekeh. "Tapi memang kenyataannya suamimu itu kagum padaku, Al. Coba tanya padanya, berapa kali dan berapa banyak dia memujiku saat kami latihan secara privat. Dia jauh lebih menggunggulkanku daripada kau, Alesha."


"Kau tahu, kau tidak pernah ada dihatinya, Alesha."


"CUKUP, STELLA!!" teriak marah Jacob. Ia hendak melangkah dan menghajar gadis itu, namun pergerakannya ditahan oleh Alesha.


Stella menyeringai lebar. "Kau hanyalah objek yang dimanfaatkan oleh suamimu karna suamimu itu tidak bisa melepaskan perasaan cintanya pada kekasih lamanya, Yuna."


"STELLA!!"


"DIAM, JACK!!" Alesha balas membentak Jacob. Ia tak membiarkan Jacob bergerak mendekati Stella.


"Kenapa, Al? Owh, atau kau masih mau mendengar kenyataannya dariku?" Stella tersenyum sumringah.


Ya, itu adalah senyum sumringah penuh kelicikan.


"Kau selalu disamakan dengan Yuna, kan?"


Di tempatnya, tubuh Jacob bergetar saking kuatnya ia menahan amarah sebab perkataan Stella. Hubungannya dengan Alesha sedang tidak baik sekarang, dan bisa jadi semakin memburuk karna ulah Stella.


"Mr. Jacob mencintai Yuna. Itu kenyataannya. Dan kau mirip dengan Yuna menurutnya. Itu juga kenyataannya. Mr. Jacob selalu nyaman dekat denganmu karna membuatnya mengingat Yuna, juga membuatnya merasa dekat dengan Yuna yang jelas sudah meninggal." Stella menatap iba lawan bicaranya, "Al, itu kenyataan yang pahit, bukan? Mr. Jacob menikahimu, tetapi yang dia anggap kau adalah Yuna. Singkatnya, dia menikahi Yuna-nya. Bukan begitu?"


"TUTUP MULUTMU, STELLA!! JANGAN MEMFITNAH YANG TIDAK BENAR TENTANGKU!!" teriak marah Jacob. "TAU APA KAU TENTANG YUNA DAN PERASAANKU TERHADAPNYA? AKU MEMANG MENCINTAI YUNA, TAPI ITU DULU! ALESHA BAHKAN TAHU KALAU AKU SUDAH MELEPASKAN PERASAANKU TERHADAPNYA!! ALESHA JUGA TAU JIKA AKU MENCINTAINYA BUKAN KARNA YUNA! SAAT INI YANG ALESHA BUTUHKAN ADALAH PENJELASAN AGAR IA BISA MENGINGAT SEMUANYA DAN TIDAK SALAH PAHAM PADAKU!! TAPI KAU MALAH MEMPERBURUK KEADAAN!!"


Stella sedikit tersentak saat mendapati Jacob yang memarahinya dengan suara yang begitu lantang dan emosi yang berapi-api. Jika saja tidak ditahan oleh Alesha, Jacob pasti sudah akan menghajarnya.


"Dengar, Stella! Jangan pernah ungkit tentang Yuna...."


"KENAPA?" Stella melantangkan suaranya. "KENAPA, MR. JACOB? APA KARNA KAU MASIH MENCINTAINYA, DAN MENDAPATI FAKTA BAHWA YUNA SUDAH MENINGGAL ITU SANGAT MENYAKITKAN BAGIMU HINGGA DETIK INI?"


Deg!


Jacob bungkam. Ia telak terdiam.


Perkataan Stella barusan memang sedikit ada benarnya, menerima fakta bahwa Yuna sudah meninggal hingga detik ini memang menyakitkan untuk Jacob. Itu kenapa Jacob tidak pernah mau mengingat apapun soal Yuna, namun juga tidak akan melupakannya. Tapi soal cinta, itu salah. Jacob sudah ikhlas akan kematian Yuna. Ia sudah menerima itu, dan berdamai dengan masa lalunya. Ia sudah tidak mecintai Yuna lagi, Yuna adalah masa lalunya, sementara Alesha adalah masa kini dan masa depannya.


"Stella!" geram Jacob yang dapat didengar si pemilik nama, "dengar ini! Kematian Yuna memang hal yang paling menyakitkan untukku. Ya! Itu benar. Tapi sekarang, Yuna tidak lebih dari masa laluku. Aku sudah ikhlas dengan kematiannya, aku sudah ikhlas dengan kepergiannya. Karna apa? Karna...." Jacob menoleh kesampingnya, sedikit menunduk untuk menatap Alesha.

__ADS_1


Refleks, Alesha pun membalas tatapan suaminya yang dalam dan bersungguh itu.


"Karna aku sudah mendapatkan yang baru. Yang jauh lebih baik untuk bisa mendampingiku saat ini, nanti, dan bahkan di surga nanti."


Alesha terkesiap. Ia cukup terkejut dengan perkataan suaminya barusan.


"Awalnya aku memang berpikir jika Alesha dan Yuna adalah sama. Namun sejak keikhlasan dalam hatiku hadir untuk menerima kematian dan kepergian Yuna, aku sadar, mereka adalah dua gadis yang berbeda."


Raut haru samar-samar terbentuk pada diwajah Alesha.


"Yuna adalah Yuna, dan Alesha adalah Alesha. Mereka berbeda, dan sekarang yang perlu Alesha tahu adalah bahwa aku mencintainya tulus, bukan karna dia selalu mengingatkanku atau membuatku merasa dekat dengan Yuna." Jacob tersenyum tipis. "Aku mecintaimu, Alesha. Aku mencintaimu tulus, dan cukup saja Yuna yang menjadi masa laluku, kau jangan. Karna aku ingin saat ini dan seterusnya, hingga surga nanti kita akan tetap bersama sebagai pasangan suami istri yang penuh cinta kasih."


Alesha mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan pelan. Perasaannya tidak karuan saat ini.


"Omong kosong, Mr. Jacob! Kau seperti itu agar mambuat Alesha percaya, kan?" Stella tidak mau kalah.


"Ya! Memang itu niatku. Membuat Alesha percaya penuh padaku jika aku tulus mencintainya. Sebuah hubungan harus dilandasi rasa saling percaya satu sama lain, Stella. Owh, ya, maaf, aku lupa." Jacob menutup mulutnya dengan tiga jari kanannya sembari tersenyum meledek. "Kau, kan tidak memiliki hubungan spesial dengan siapa pun. Jadi, kau tidak tahu hal itu mungkin. Yang kau tahu adalah bagaimana caranya merebut suami orang, kan?"


Situasi terbalik tiga ratus enam puluh derajat. Kali ini Stella lah yang dirundung emosi mendalam. Tapi, Stella tidak boleh terpengaruh. Ia harus tetap santai menghadap lawannya sekarang, meski di dalam lubuk hatinya gelora amarah sudah menggebu-gebu.


Stella mengedikkan kedua bahunya, "Mr. Jacob, aku hanya berusaha membuat Alesha sadar. Aku kasihan padanya karna...."


"Oh ya? Kenapa kau tidak mengkasihani dirimu sendiri saja, Stella? Kau tidak lihat bagaimana kau sekarang? Bersekongkol dengan Vincent untuk menghancurkan hubunganku dengan Alesha. Itu hal yang sangat rendahan sekali, Stella. Aku hanya berusaha membuatmu sadar saat ini. Aku kasihan padamu karna kau sudah melakukan tindakan rendahan, apalagi kau juga berniat untuk merebutku dari Alesha. Kalau orang Indonesia biasa menyebutnya apa? Ah, ya! Pelakor!" Jacob menyeringai puas. Ia menang telak sekarang.


"CUKUP BASA-BASIMU, MR. JACOB!! A...."


Belum usai kalimat Stella, Jacob lagi-lagi memotongnya dengan santai.


"Hey, kau yang berbasa-basi sejak tadi. Apa kau lupa? Oh, atau kau amnesia mungkin seperti Alesha tanpa kau sadari, atau kau pikun? Ya ampun, kasihan sekali, masih muda sudah pikun. Itu mungkin karna kau terlalu stress sebab memikirkan bagaimana cara agar hubunganku dengan Alesha hancur, kan?"


"TUTUP MULUTMU, MR. JACOB! SEKARANG BIAR KITA MULAI SAJA PERTARUNGAN INI!"


"Banyak bicara kau, Stella!"


Deg!


Tubuh Stella mendadak tercekat saat seseorang, perempuan tiba-tiba saja menyerangnya dari belakang, merebut belati dari tangannya dengan begitu mudah, dan lantas, dalam hitungan detik melumpuhkan pergerakannya. Gerakan tangan perempuan itu begitu cepat. Sepertinya Stella tahu siapa dia.


Seringai Jacob semakin melebar mendapat kehadiran satu anak didiknya yang lain. Maudy. Gadis itu berhasil mengambil alih belati milik Stella, lantas dengan gerakan yang cepat, Maudy berhasil membuat Stella tak dapat berkutik sebab kedua lengan Stella sudah diborgol. Itu adalah salah satu trik yang Jacob ajarkan, dan Maudy yang paling menguasainya diantara anak Luxury-1 yang lain. Trik menggerakkan telapak tangan dan jemari dengan cepat dan cekatan, Maudy menguasainya dalam waktu beberapa bulan saja, dan, ya boleh dibilang juga, kalau Maudy adalah murid terbaiknya kedua. Sebab Maudy tidak kalah cepat dengan Stella dalam menguasi trik dan teknik yang ia ajarkan, juga skill bela diri Maudy yang sukses membuat Jacob spechless saat ujian kemampuan dengan berhasil membuat KO lima agent SIO sekaligus. Tapi meski begitu, Maudy juga samanya dengan Alesha, tidak kalah membuat Jacob selalu merasa jengkel dan kesal sebab terlalu banyak mengeluh. Percis sebelas dua belas dengan istrinya.


"Apa yang harus aku lakukan padanya, Mr. Jacob? Haruskah aku menghabisinya saat ini juga?" tanya Maudy.


Stella menggeram. Ia berusaha memberontak, tapi jelas sekali itu sia-sia.


"Diam kau, Pengkhianat!" bentak Maudy pada Stella.


"Amankan dia. Kita akan membawanya ke kantor SIO," jawab Jacob.


"Kantor SIO?" ulang Maudy. Raut wajahnya mendadak berubah, "Mr. Jacob, kantor SIO baru saja diserang," lirihnya.


Mendengar itu, Jacob berdecak sebal. Ia sudah tahu soal ini. Lebih tepatnya sudah mengira hal ini akan terjadi. SIO adalah sasaran utamanya, tapi, misi ia bersama kawan-kawannya yang lain sekarang adalah menangkap Vincent dan Theora. Jika dua orang itu ditangkap, maka akan mudah menghadapi sisa anak buah mereka.


"Kita harus bisa menangkap Vincent dan Theora sekarang," ucap Jacob.


"Theora yang memimpin penyerangan ke kantor SIO, Mr. Jacob," balas Maudy, masih sedikit lirih.


"Huh, Theora." Stella menyeringai. "Masa lalu Mr. Jacob yang lain. Sahabat masa kecil yang terpisahkan. Sayang cinta kalian bertepuk sebelah tangan. Kau adalah pria yang jahat Mr. Jacob, meninggalkan sahabat terbaikmu sendiri yang tulus mencintaimu."


"Hah?" Alesha menyerngitkan dahi. Apa. Maksudnya itu.


"Owh, kau tidak tahu, ya, Al?" Stella tertawa kecil, "Suamimu itu memiliki cinta lain ternyata. Meski kali ini cintanya hanya bertepuk sebelah tangan."


"Jack?" Alesha mendongkak, menatap menuntut jawaban pada suaminya.


"Akan aku jelaskan soal itu nanti," jawab Jacob setenang mungkin.


"Hati-hati, Alesha, Mr. Jacob bisa saja berpaling darimu dan kembali pada sahabat masa kecilnya."


Bugh!


"Argh!" Stella mengerang. Sejurus kemudian, ia pingsan, dan nyaris jatuh jika tubuhnya tidak ditopang oleh Maudy.


"Banyak bicara kau!" geram Maudy yang baru saja memukul tengkuk Stella.


"Ikuti aku, Maudy!" titah Jacob.


"Baik, Mr. Jacob. Eh, tapi aku tidak bisa membawa tubuh si Pengkhianat ini."

__ADS_1


"Aku yang akan membawanya, kau pegangi Alesha, dia lemas karna efek kehamilannya," jawab Jacob.


Maudy mengangguk. "Uhm, oke."


__ADS_2