Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Memulai Rencana


__ADS_3

Kantor SIO, Bandung, Indonesia.


Lucas, dan Mike telah sampai di ruang rapat, begitu pun dengan beberapa agent yang lain. Kini, mereka tengah menunggu kehadiran Laras.


"Mr. Aldi, kau tahu kenapa Mrs. Laras mengumpulkan kita semua?" Tanya Lucas berbisik pada Aldi yang berada di sebelah.


"Entah, tapi aku dengan jika beberapa agent peretas SIO sudah berhasil melacak keberadaan Theo, Theora, dan Vincent," Jawab Aldi, ragu.


"Sungguh? Bagus kalau begitu," Ucap Lucas.


Selang beberapa saat kemudian, Laras pun tiba di ruang rapat tersebut, dan langsung mendudukan diri dibangku paling depan ujung meja rapat itu.


"Selamat malam semuanya," Sapa Laras.


"Selamat malam, Laras," Sapa balik orang-orang yang ada dalam ruangan rapat.


"Apa sudah berkumpul semua?" Tanya Laras sembari memperhatikan sekelilingnya.


"Sepertinya sudah," Jawab Aldi.


"Baiklah, kalau begitu aku akan langsung saja membuka rapat ini, dan mengatakan tujuanku mengumpulkan kalian semua," Laras menjeda ucapannya. Ia menarik napas sebentar sebelum akhirnya ia melanjutkan kembali apa yang ingin ia bicarakan. "Jadi begini, kita semua tahu kalau beberapa waktu lalu tiga tahanan SIO, yaitu Theo, Theora, juga Vincent berhasil kabur dari sel tahanan milik SIO. Dan sekarang, beberapa agent peretas SIO berhasil melacak lokasi mereka yang ternyata berada dalam satu tempat yang sama, yaitu di daerah perbukitan bersalju, di Greenland. Aku, Mr. Frank, dan para pimpinan SIO yang lain memiliki pendapat bahwa Theo, dan adiknya Theora menjalin sebuah kerjasama dengan Vincent." Laras membuka layar laptop yang ia bawa untuk menunjukan peta lokasi wilayah Greenland.


"Para agent peretas tersebut telah menandai lokasi ini sebagai tempat persembunyian baru Theo, Theora, dan juga Vincent. SIO berencana untuk mengirim Levin, Jacob, dan Eve ke sana untuk memata-matai tiga buronan SIO itu, dan di sini, aku sudah membentuk beberapa tim untuk mempersiapkan diri apabila nanti SIO memerintahkan kalian untuk menyerang komplotan mafia itu," Laras membuka notebook miliknya. "Aldi, aku menunjukmu untuk memimpin tim yang akan berjaga di WOSA. Kai, Dominic, Morgan, Stefanus, Ben, Edward, Alvin, Carl, Xiaomin, dan Juu An, kalian akan ikut bersama Aldi ke WOSA. Tempat utama yang mesti kalian jaga adalah gedung kaca, karna di sana adalah rumah untuk semua bahan uji coba sampel penelitian milik SIO, termasuk Virus XXX, dan vaksin untuk virus XXX tersebut. Sisanya yang ada di ruangan ini, kalian juga harus mempersiapkan diri mulai dari sekarang. SIO sedang menyusun rencana untuk menangkap komplotan mafia itu."


...*****...


Beralih menuju kantor pusat SIO di Selandia Baru.


Malam telah larut, Alesha sudah tertidur pulas setelah kaki, dan tangannya diuruti oleh Jacob beberapa jam lalu. Sementara Jacob, ia kini berada di ruang rapat SIO bersama Eve, Levin, Danish, dan tiga agent pilihan SIO lainnya. Mereka sedang membahas perihal rencana untuk menangkap Theo, Theora, dan Vincent.


"WOSA adalah tempat paling vital yang mudah dibajak oleh mereka," Ucap Danish.


"Kita bisa menaruh tiga sampai lima puluh agent dibeberapa lokasi khusus yang tersembunyi di pulau itu," Jacob menyahut santai.


"Usulanmu bagus, tapi kau ingat beberapa agent SIO terikat kontrak dengan beberapa perusahaan yang menjalin hubungan kerja sama dengan SIO," Timpal Danish.


"Ada sekitar tiga puluh agent SIO yang menjadi mentor di WOSA, termasuk aku. Kami bisa berjaga di sana," Eve membuka suara.


"Tidak semua, Eve. Kau harus ikut bersama aku, dan Jacob untuk memata-matai komplotan mafia itu, dan Mr. Frank juga bilang jika ia akan menarik beberapa agent WOSA untuk ikut bersama kita," Sahut Levin.


"Oh ya, kau benar, Levin! Aku baru ingat, Mr. Frank sudah meminta pada Laras untuk mengirimkan sebelas agent SIO yang ada di Indonesia ke WOSA," Sambung Danish.


"Lalu siapa yang akan berjaga di Indonesia?" Tanya Eve.


"Mantan anggota tim Jacob, dan Eve mungkin," Levin memberikan usulan. Kemudian ia bersandar pada sandaran bangku sembari melipat kedua lengannya dengan santai. "Brandon, dan Bastian bisa memimpin beberapa agent lulusan WOSA yang seangkatan dengan mereka untuk berjaga di Indonesia."


"Mantan anggota tim Jacob, dan Eve?" Gumam Danish. Kemudian pria itu melirik pada Jacob. "Jack, bagaimana dengan Alesha?"


Mendapati pertanyaan itu, Jacob menarik napas pelan, lalu menghembuskannya secara perlahan. Ia tahu risiko apa yang akan ia hadapi jika mengizinkan Alesha untuk ikut dalam misi ini. Namun, tidak apa, ini adalah kesempatan untuk istrinya itu menunjukkan juga membuktikan jika apa yang telah WOSA, dan ia ajarkan tidak lah sia-sia.


"Alesha akan ikut. Taylor yang akan menjadi pengawalnya. Aku juga akan memerintahkan beberapa anak buahku juga anak buah ibu, dan kakakku untuk ikut membantu SIO," Jawab Jacob begitu tenang, namun datar.


"Kau yakin, Jack?" Tanya Levin. Ia memicingkan matanya seolah tidak yakin dengan apa yang Jacob katakan barusan. "Kau tahu kan apa risikonya?"


"Iya, aku tahu," Jacob mengangguk kecil. "Aku percaya pada Alesha. Jangan menganggapnya remeh. Dia perempuan yang hebat, dan tangguh, aku sudah mengajarkannya banyak teknik bela diri, dan dia sering menang saat aku mengajaknya berlatih."


"Kau yakin, Jack? Kau bisa saja kehilangannya atau dia yang kehilanganmu," Sekali lagi Levin bertanya untuk memastikan.


"Kami tidak akan saling kehilangan. Aku percaya padanya, aku harus memberikan kesempatan padanya untuk membuktikan kemampuan yang sudah ia asah selama masa pendidikan di WOSA," Balas Jacob, masih datar.


Tak ada komentar apapun lagi yang Jacob terima mengenai ia yang akan membiarkan Alesha ikut dalam misi berbahaya. Jacob sadar akan keputusannya, ia tahu risikonya, dan ia percaya pada Alesha jika istrinya itu bisa menunjukkan kemampuan yang sesungguhnya yang sudah dilatih cukup keras.


Rapat pun terus berlanjut untuk membahas, dan menyusun rencana juga strategi agar bisa menangkap Theo, Theora, Vincent, dan seluruh anak buah Theo.


Hingga tak terasa, ketika waktu telah menunjukkan pukul satu malam, rapat itu pun baru berakhir. Danish, Eve, Levin, dan tiga agent pilihan SIO lainnya kembali ke kamar masing-masing, begitu pula dengan Jacob.


Sesampainya di kamar, Jacob langsung pergi menuju kamar mandi untuk mencuci kakinya. Barulah selepas itu, ia pun berjalan menuju tempat tidur.


Alesha tidur meringkuk, seperti kedinginan. Dengan inisiatifnya, Jacob menarik selimut untuk menutupi tubuh minimalis istrinya yang membutuhkan kehangatan.


"Mimpi yang indah, sayangku."


Cup.


Jacob mencium lembut bibir istrinya. Kemudian, ia pun duduk bersandar pada headboard. Ia berniat untuk menghubungi Bastian. Namun, sebelum itu terjadi, telinganya sudah terlebih dahulu mendengar sebuah panggilan lembut.

__ADS_1


"Jack."


Jacob menoleh kesisinya, tepatnya ke arah Alesha yang kini tengah memandang padanya.


Sejak kapan Alesha bangun? Pikir Jacob.


"Lil Ale? Ada apa? Kenapa kau bangun?" Tanya Jacob.


Sejenak tidak ada balasan dari Alesha. Ia memejamkan matanya, namun bukan tertidur.


Jacob mengusap pelan puncak kepala istrinya. "Tidurlah lagi."


"Tidak bisa," Alesha menjawab pelan.


"Tidak bisa? Kenapa?" Jacob memicingkan matanya pada Alesha.


"Aku lapar."


"Apa?" Jacob sedikit terkejut dengan jawaban Alesha barusan.


"Aku lapar, Jack" Ulang Alesha, pelan.


"Alesha, ini sudah malam," Balas Jacob.


"Aku tahu, tapi aku lapar."


Jacob terdiam sejenak. Alesha lapar? Malam-malam seperti ini? Tumben sekali. Apa yang harus ia berikan pada istrinya yang kelaparan itu?


"Kau ingin makan apa?" Tanya Jacob, lembut.


"Apa saja."


"Huft..." Jacob berpikir sejenak. Oh ya! Kantin SIO tidak pernah tutup, hanya saja makanannya bukan yang baru matang, melainkan sisa sore hari.


"Kalau kau mau, ayo kita ke kantin sekarang, tapi makanannya sisa sore. Mau?"


"Iya," Alesha mangangguk.


"Ya sudah, kalau begitu ayo. Pakai kerudung, dan jaketmu," Jacob beranjak dari atas tempat tidur.


"Ayo," Jacob mendorong pelan tubuh istrinya untuk berjalan duluan.


Mereka berdua berjalan menuju kantin. Tidak ada percakapan yang terjadi, hanya saja, Jacob tersenyum geli di belakang istrinya.


Jacob jadi ingat ketika Alesha hamil dulu, ia selalu menemani Alesha ditengah malam untuk makan. Lucu. Jacob ingat kala Alesha yang dalam masa mengidam merengek, dan meminta padanya untuk dibelikan rujak, seblak, atau asinan. Jacob jadi ingin seperti itu lagi. Tetapi, ia pun ingat bagaimana sifat negatifnya pada Alesha. Ia yang lelah seharian bekerja, lalu ketika pulang, Alesha malah bermanja padanya, karna merasa risih, jadinya ia pun membentak, dan memarahi Alesha. Jacob sadar, kadang kala sikap kasar, dan kerasnya selalu berimbas pada Alesha, meski pun Alesha tengah hamil.


Tapi Alesha tidak pernah melawan, dan malah selalu meminta maaf. Jacob sungguh merasa sangat beruntung karena memiliki istri seperti Alesha.


"Alesha, kau mau makan apa?" Tanya Jacob sembari memberikan sebuah ciuman lembut pada pipi Alesha.


"Aku ingin itu," Alesha menunjuk pada sisa bumbu ayam rica-rica yang menurutnya sangat pedas.


"Ayamnya sudah habis, sayang."


Alesha menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku ingin bumbunya saja, dicampur nasi, Jack."


"Yakin?" Tanya Jacob.


"Iya," Alesha mengangguk.


"Hanya itu saja, sayang?"


"Emm, itu apa?" Alesha menunjuk pada sebuah mangkuk besar berisi potongan daging ikan tuna yang sudah dibumbui.


"Itu olahan daging ikan tuna, mau?" Jacob membungkuk setengah tinggi tubuhnya agar bisa bersitatap sejajar dengan Alesha.


"Boleh," Alesha mengangguk sembari tersenyum manis.


"Baiklah, kau tunggu di sana. Aku akan mengambilnya," Ucap Jacob. Sekali lagi, ia mencium kedua sisi pipi istrinya.


Alesha tidak merespon apapun, ia hanya diam dan langsung pergi kemeja, dan bangku panjang yang ada di ruangan kantin berukuran besar itu.


Sekian menit Alesha menunggu. Tidak lama, Jacob kembali membawa sepiring hidangan makan malam. Tidak lupa pula segelas air mineral.


"Ini, Tuan Putri Alesha," Jacob berlagak seperti pelayan istana.

__ADS_1


"Ah, kau berlebihan, Jack," Alesha terkekeh.


"Untukmu, tidak apa-apa," Balas Jacob, santai. "Sudah, cepat lah makan agar kau tidak kelaparan lagi. Aku tidak ingin dicap sebagai suami yang tidak perhatian karna membiarkan istrinya kelaparan," Sambung Jacob sembari merogoh saku baju kemejanya untuk meraih ponselnya.


"Baiklah," Alesha mengangguk. Lalu sejurus kemudian, ia pun melahap hidangan makanan yang dibawakan oleh suaminya barusan.


Makanannya kurang enak, bukan karna bumbunya yang tidak sedap, tidak sama sekali. Melainkan karna makanannya sudah dingin. Tapi tidak apa, Alesha masih bisa cukup menikmati makanan itu karna yang terpenting saat ini adalah perutnya tidak kelaparan. Selama Alesha menyantap makan malamnya, selama itu pula tidak terdengar percakapan apapun.


Jacob sibuk berkutik dengan ponselnya. Ia sedang saling bertukar pesan dengan Bastian. Saling menanyakan kabar, namun Bastian berbohong dengan tidak mengatakan tragedi apa yang menimpa Nakyung, Maudy, dan Merina. Bastian, dan ketujuh kawannya sepakat untuk tidak mengatakan yang sebenarnya pada Jacob karna mereka tidak mau membuat Jacob khawatir, dan mengganggu waktu Jacob bersama Alesha.


"Sudah!" Alesha beseru diiringi dengan senyuman yang membentuk eye smile khasnya.


"Ingin menambah?" Tawar Jacob. Ia tertawa kecil mendapati Alesha yang menghabisi satu porsi makanan hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit.


"Memangnya boleh?" Tanya Alesha malu-malu. Ah, jika boleh ia ingin sekali makan lagi.


"Kau serius ingin menambah lagi, sayang?" Jacob terkekeh.


"Kalau boleh," Alesha menundukkan wajahnya.


Jacob menggelengkan kepalanya sembari tertawa kecil. Sepertinya Alesha memang benar-benar kelaparan.


"Eh tapi tidak jadi deh!" Lanjut Alesha. "Aku sudah kenyang."


"Jadi atau tidak? Kalau kau masih lapar tidak apa, tidak akan ada yang memarahimu hanya karna kau makan banyak, Al," Ucap Jacob.


"Tidak! Mau! Mr. Jacob!" Alesha menekan kata-katanya. "Aku sudah kenyang!"


Dahi Jacob berkerut. "Baiklah, terserah kau saja," Ia mengedikkan kedua bahunya.


"Kalau begitu ayo, kita kembali ke kamar. Aku sudah mengantuk," Jacob beranjak dari duduknya. Ia menarik lembut pergelangan tangan Alesha.


"Aku tidak mengantuk, Jack," Alesha berucap malas.


"Kau harus tidur, ini sudah sangat malam, sayangku," Balas Jacob disusul satu ciuman lembut disebelah pipi istrinya.


"Tapi aku belum mengantuk!" Alesha mendengus sebal.


"Terserah, sayang. Intinya aku mengantuk, dan aku ingin segera tidur bersamamu!"


Alesha memutar kedua bola matanya dengan jengah.


...*****...


Di dalam kamarnya, kini Stella tengah termenung sembari memandangi foto-foto ia bersama Alesha, Maudy, Merina, dan Nakyung ketika di WOSA beberapa tahun lalu.


Menyenangkan ya mengingat satu tahun kebersamaannya dengan keempat sahabat baru itu.


Stella tersenyum ketika ia mengingat kala itu ia dan Alesha dihukum bersama Bastian karna masuk ke dalam gedung kaca tanpa izin.


"Bagaimana kabar kalian sekarang?" Gumam Stella. "Pasti kalian sudah sangat melupakanku.


Seukir senyum miris membingkai wajah Stella.


Kemudian Stella menggeser kembali layar ponselnya.


Stella rindu ketika ia memakai seragam WOSA.


"Alesha, apa kabar?" Stella tersenyum manis. Alesha adalah orang pertama yang ia kenal diantara murid WOSA lainnya. "Sebentar lagi kita akan bertemu. Aku harap kalian masih mau mengenaliku, terutama kau dan Mr. Jacob, Al."


"Alesha? Mr. Jacob?" Gumam Theora. Ia yang tinggal satu kamar dengan Stella pun tentu mendengar apa yang Stella katakan barusan.


"Jangan-jangan?" Theora menoleh pada Stella.


Ada masalah apa gadis itu dengan Jacob, dan Alesha?..... Tanya Theora dalam hatinya.


*


*


*


*


*

__ADS_1


Ceritanya masih dilanjut yups🤗 Tapi masih slow update 🤧 terima kasih buat yang masih suka mampir🙏😚🥰


__ADS_2