Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Jacob vs Rangga


__ADS_3

"Rangga, bagaimana kabarmu?" Alesha berdiri tepat dihadapan kakak angkatnya. Mendongkak seraya menunjukkan raut wajah yang berseri bahagia.


"Aku baik," jawab Rangga tak kalah bahagia karna dapat berjumpa kembali dengan adik kesayangannya.


"Oh ya, dimana bonny, bunny, Moza, dan Mauza?" Alesha jadi teringat pada keempat teman hewannya itu.


"Mereka di apartemenku. Mereka semua baik, baru dua minggu lalu aku membawanya ke dokter hewan untuk divaksin," jawab Rangga.


"Bagus. Kau benar-benar menepati janjimu dengan menjaga mereka berempat." Alesha berseru ria.


Kemudian, wajah Rangga terangkat, menatap pada sang adik ipar yang terlihat begitu dingin dan datar.


"Haii, Jack," sapa Rangga.


Tidak ada balasan dari Jacob. Pria itu melangkah menghampiri istrinya.


"Ayo, sayang. Kau pasti lelah, dan harus beristirahat." Jacob menarik lengan Alesha dan membawa berjalan.


"Eh, tunggu. Rangga!" Alesha menoleh kebelakang. Lebih tepatnya pada sang kakak angkat.


"Dia juga akan masuk. Jadi, ayo, kita masuk ke rumah sekarang." Jacob membalikkan arah wajah Alesha.


Rangga tersenyum miris. Ia sadar jika Jacob mungkin masih marah padanya. Tapi tidak apa, melihat Alesha yang baik-baik saja, dan ceria itu sudah cukup membuat Rangga merasa puas.


"Jack, tunggu kakak ku juga." Alesha berusaha melepaskan genggaman tangan suaminya. "Rangga, ayo masuk!"


Rangga mengangguk. "Iya, Al."


Rangga menyusul Alesha, dan Jacob yang lebih dulu memasuki bagian dalam mansion.


"Jack."


Disudut ruangan, dekat tangga, Tessa berdiri, memandang sang tuan rumah yang baru saja tiba.


"Haii, Tessa, bagaimana kabarmu?" sapa Jacob. Ia berjalan menghampiri istri rival sekaligus rekan kerjanya itu.


"Aku baik," jawab Tessa sembari tersenyum ramah.


"Jack, dia siapa?" bisik Alesha. Tatapannya tertuju bingung pada Tessa. Tentu saja ia tidak akan mengingat siapa itu Tessa.


"Dia Tessa, istri Levin," jawab Jacob.


"Istri Mr. Levin?" ulang Alesha.


"Haii, Alesha."


Alesha terdiam, memandang aneh, dan penuh tanya pada Tessa. Apa ia mengenali wanita itu?


"Hmm, dia tidak akan mengingatmu, Tessa. Alesha amnesia," ucap Jacob.


"Apa? Amnesia?" Tessa sedikit memekik.


"Ya." Jacob membungkuk untuk mensejajarkan tatapannya dengan Alesha. "Sayang, apa kau mengingatnya?"


Alesha diam berpikir.


Tidak! Alesha tidak kenal wanita di depannya itu.


"Hmm, tidak, Jack," jawab Alesha, pelan.


"Yasudah tidak apa-apa," balas Jacob, lembut.


"Permisi, Nyonya," seorang pelayan menghampiri Tessa. "Tuan Muda Nick terbangun dan menangis."


"Apa? Bangun? Aku baru saja menidurkannya." Tessa sedikit terkejut mendapati anaknya yang terbangun, padahal baru lima menit ia menidurkan putranya itu. "Jack, Nick bangun, aku harus ke kamarku dulu sekarang."


"Silahkan," balas Jacob.


Tak lama kemudian, Tessa kembali berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Sementara Alesha.


"Ayo, Al. Kita ke kamar sekarang," ajak Jacob.


"Tunggu! Bagaimana dengan Rangga? Apa dia sudah memiliki kamar di sini?" Alesha menahan langkahnya.


"Huft!" Jacob menghembuskan napasnya dengan kasar. Tatapannya intens datar pada Alesha.


"Jangan tatap Alesha seperti itu!" Rangga berjalan mendekati Alesha. "Kau membuatnya takut!" sungguh, Rangga sangat tidak suka melihat adik tersayangnya ditatap tajam oleh Jacob.


Memang benar. Alesha takut, ia bahkan sedikit menunduk untuk menghindari tatapan suaminya.


"Cukup! Kau diam!" Jacob bertegas pada Rangga.


"Pelayan, antar Rangga ke kamarnya!"


"Tidak! Aku tidak akan menginap di sini! Aku kemari hanya ingin bertemu saja dengan Alesha."


Argh! Jacob benar-benar tidak bisa melupakan apa yang telah Rangga perbuat hingga membuatnya kehilangan Alesha semalam setahun!


"Alesha tidak memiliki waktu untuk bersamamu saat ini! Ayo, Al!" Jacob menarik paksa istrinya untuk menaiki tangga, dan menuju kamar mereka.


"Jack, jangan kasar pada Alesha!" Rangga menyusul menaiki anak tangga. Ia sangat tidak terima saat melihat Alesha yang ditarik begitu mudah oleh Jacob.


Alesha sendiri tidak bisa berlaku apa-apa. Ia terlalu takut melihat Jacob yang sedang dirundung amarah saat ini. Kenapa Jacob sebegitunya membenci Rangga? Alesha sangat sedih karna seakan-akan Rangga tidak dihargai.


"Apa?!" tantang Jacob.


"Aku tidak akan tinggal diam jika kau berani mengkasari adikku!" balas Rangga.


Perdebatan mulai terjadi. Semua pelayan, dan anak buah Jacob yang ada di sana pun terbingung-bingung sebab tuan mereka bertengkar dengan pria lain.


"Aku suaminya! Kau tidak berhak me.."


"Aku kakaknya! Dan aku juga pengganti ayah untuk Alesha! Aku tidak takut untuk melaporkanmu pada pihak berwajib jika kau berani melakukan kekerasan pada Alesha!"


"JAGA MULUTMU!" Jacob mencengkram kuat leher kakak iparnya itu. "KAU MEMANG BERNIAT UNTUK MEMISAHKANKU DENGAN ALESHA, BUKAN?"


"Jack, cukup!" Alesha berusaha melerai. Namun Jacob malah balik membentaknya.


"DIAM, ALESHA!!"


"JACOB!"


Bugh!

__ADS_1


Satu bogem keras pun sukses membuat Jacob terhuyung hingga terjatuh.


"HEII!" Taylor yang juga ada di sana pun lantas langsung menyerang balik Rangga.


"Tidak! Jangan!" cepat-cepat Alesha menghadang dengan berdiri tepat di depan Rangga. "Cukup, hiks," air matanya bercucuran. Bukan sambutan seperti ini yang ia harapkan saat ia kembali ke rumahnya.


"Minggir, Alesha! Kakakmu harus diberi pelajaran!" geram Jacob sembari bangkit berdiri. Ia menghempaskan istrinya untuk menjauh dari Rangga.


"KAU MEMANG INGIN MEMISAHKAN KAMI!"


BUGH!


Rangga terhuyung. Sudut bibirnya berdarah setelah menerima tonjokkan Jacob.


"Jangan kasar pada adikku!" Rangga sangat amat tidak terima kala melihat adik perempuannya yang tehempas nyaris terjatuh karna ulah Jacob.


Bugh!


Jual beli serangan dan pukulan pun tak dapat terhindarkan. Jacob, dan Rangga saling menghajar satu sama lain.


Rangga cukup kewalahan menghadapi serangan-serangan Jacob. Ia tidak tahu jika adik iparnya itu benar-benar pandai dalam bela diri, dan tak dapat diragukan kemampuannya.


"Jack, hiks, sudah..." tangis suara Alesha bergetar. Air matanya bercucuran lebat. Menyaksikan dua orang pria yang ia sayangi saling berbaku hantam sangat menyakitkan untuknya.


"Jack, Rangga cukup! Hiks." Alesha ingin melerai, namun Taylor menahan tubuhnya.


"Tidak, Nona!"


"Hiks, pisahkan mereka cepat..." tangisannya membuat suara Alesha benar-benar parau.


"Ayo, pisahkan mereka, hiks."


"KAU YANG MENYEMBUNYIKAN ALESHA DARIKU!!"


Bugh!


Jacob menang banyak! Dia jauh lebih unggul! Bertarung dengan Rangga sangat amat tidak menyulitkannya.


"TIDAK! AKU HANYA INGIN MENJAGANYA!"


"JIKA SAJA BUKAN KARNA ALESHA, AKU TIDAK SUDI UNTUK BERTEMU DENGANMU!!"


"AKU TIDAK PERDULI! AKU HANYA INGIN ALESHA AMAN! TAPI AKU RAGU, KARNA SUAMINYA SENDIRI SAJA BERANI BERLAKU KASAR PADANYA!"


"JAGA BICARAMU, RANGGA!!" tekan Jacob sembari mencekik, dan sedikit mengangkat tubuh Rangga.


"Argh!"


"MR. JACOB!!!!!" dan teriakan lantang pun akhirnya lolos begitu saja dari dalam mulut Alesha. "Hiks, cukup, jangan sakiti Rangga, dia orang baik, dia tidak jahat, hiks sudah, Jack..." tangis Alesha benar-benar pecah. Ia lemas, dan tidak berdaya melihat kakaknya yang dicekik, dan kesulitan untuk bernapas.


Jacob yang mendengar ucapan istrinya barusan pun menoleh pada wanita pujaannya itu.


Deg!


Ya ampun! Apa yang sudah Jacob lakukan? Apa yang sudah ia lakukan? Alesha menangis tersedu-sedu, memandang sendu, dan berlinang air mata padanya.


"Hiks, Jack, sudah, aku mohon jangan sakiti Rangga lagi....." Alesha bergerak-gerak lemah dengan harapan Taylor mau melepaskan tubuhnya.


Brugh!


Rangga terhempas jatuh begitu saja saat Jacob melepaskan cekikkannya begitu mudah.


Taylor segera menuruti itu.


Alesha terlepas, dan langsung berlari menghampiri kakaknya yang tersungkur, dan terbatuk-batuk.


"Jack, kenapa kau seperti itu? Hiks. Dia bukan orang yang jahat. Niatnya baik padaku, hanya memang caranya sangat salah, dan fatal. Hiks, tapi tidak bisakah kau memaafkannya? Sekarang aku sudah kembali lagi padamu, Jack," meski dirundung oleh tangisan, raut kecewa nampak terukir jelas pada wajah Alesha.


"Aku mohon, bagaimana juga dia adalah kakakku, tolong hargai dia, Jack, hiks."


Jacob bergeming memikirkan ucapan istrinya.


"Rangga, kau tidak apa-apa?" Alesha bertanya cemas pada kakaknya.


"Tidak apa. Aku baik, tenanglah," jawab Rangga sedikit tertatih.


"Taylor, suruh seorang pelayan mengobati lukanya!" perintah Jacob, dingin.


"Baik, tuan." Rangga mengangguk patuh.


"Ayo, Alesha," enggan membuang waktu, akhirnya Jacob membawa istrinya untuk segera pergi menuju kamar mereka.


"Hiks, Ranggaaa....." Alesha masih meratapi luka-luka, dan tubuh sang kakak yang lemas tak berdaya. Hatinya perih melihat saudaranya yang diperlukan tidak baik oleh suaminya sendiri. Kenapa Jacob tega sekali seperti itu? Apa Jacob tidak bisa melihat kesisi yang lain? Melihat pada niat baik Rangga yang ingin menjaga dan melindungi Alesha secara maksimal?


"Masuk!" Jacob mendorong pelan tubuh istrinya untuk memasuki kamar mereka. Selanjutnya, ia mengunci pintu lalu berjalan menghampiri Alesha.


Ekspresi dingin, dan tatapan intens yang Jacob berikan membuat Alesha ketakutan. Ia sampai melangkah mundur saat Jacob berjalan mendekatinya.


"Eungh, Jack!" tubuh Alesha terlonjak saat tiba-tiba saja Jacob menyambar bibirnya dengan brutal.


Alesha berupaya untuk menjauhkan diri dari suaminya, namun itu hanyalah sebuah kesia-siaan. Tubuhnya terkunci rapat, ditambah Jacob mengangkatnya pula.


Sedangkan Jacob, tidak ada hal lain dalam pikirannya selain menyentuh, dan menyetubuhi Alesha saat ini. Ia akan mengurung Alesha di kamar itu selama mungkin!


"Argh, Mr. Jacob!" Alesha meringgis saat Jacob membaringkan tubuhnya cukup kasar di atas tempat tidur.


"Jangan berharap bisa menghindariku saat ini, Alesha!" bisik Jacob, pelan dan dalam.


...*****...


"Danish..." tangis Laras oecah saat mendapati kehadiran suaminya. "Hiks, Danish, Hawa hilang, hiks. Apa yang harus aku lakukan? Aku takut kehilangan putriku," tubuh Laras larut dalam pelukan erat sang suami.


"Tidak, sayang, kau tenanglah, kita akan mendapatkan putri kita kembali. Aku berjanji," balas Danish.


"Danish, kau sudah di sini? Baguslah, ayo kau harus ikut denganku!" ucap Rendi yang tiba-tiba saja datang.


"Sayang, lepaskan dulu pelukkanya," pelan-pelan Danish melepaskan pelukan sang istri.


"Hiks, Danish, aku tidak mau kehilangan Hawa."


"Tidak, sayang, kita tidak akan kehilangannya," kecupan singkat dibibir Danish berikan untuk istrinya.


"Ayo, Danish, cepat!" ucap Rendi.


"Tunggu di sini, sayang," dengan terpaksa Danish pun akhirnya pergi meninggalkan Laras. Entah kemana Rendi akan membawanya, semoga saja ada kabar kalau ia bisa segera memalukan pengerjaan pada kelompok jaringan gelap itu.

__ADS_1


"Danish, para peretas SIO sudah berhasil menemukan lokasi anakmu saat ini. Mereka berada di Bogor, lebih tepatnya di daerah jalur pendakian gunung salak, sekitaran Kawah Ratu." ucap Aldi.


"Apa? Jalur Pendakian kaki gunung Salak? Kawah Ratu?" pekik Rendi. "Berani sekali mereka ke sana!"


"Kita berdoa saja semoga orang orang itu tidak menyusahkan kita untuk melakukan pengejaran," ucap Aldi.


"Kenapa memangnya? Kita bisa menggunakan seseorang yang sudah mengenal wilayah itu bukan untuk mengejar komplotan sialan itu?" Danish tidak tahu apa-apa. Tentu saja, dia bukan orang Indonesia, apalagi Jawa Barat.


"Tidak semudah itu, Danish. Rakyat Indonesia memiliki sebuah kepercayaan turun temurun tentang gunung-gunung yang berada di Indonesia," balas Rendi.


"Kepercayaan turun temurun? Maksudnya?" Danish berkerut bingung.


"Indonesia memiliki banyak gunung mistis, dan kebanyakan rakyat Indonesia percaya kalau gunung-gunung tersebut memiliki penunggu."


"Bukankah setiap tempat memang memiliki penunggu ghaib?" Danish memotong penjelasan Rendi.


"Ya. Memang iya, tapi ada perbedaannya, Danish. Kau belum mengerti karna belum terbiasa dengan hal seperti itu. Tapi yang aku tahu, kalau di gunung salak terdapat sebuah kerajaan Ghaib yang mana jika kita sembarangan berbicara atau berperilaku, kita bisa disesatkan, dan menghilang juga tidak ditemukan jalan untuk kembali pulang," jelas Rendi.


"Gunung Salak terkenal dengan kemistissan, dan keangkerannya. Banyak pendaki yang hilang dan tersesat di sana, ada yang kembali setelah berminggu-minggu, dan berbulan-bulan. Jadi, aku ingin jika kita pergi ke sana, tolong jaga adab, perilaku, dan bahasa kita," sambung Aldi.


"Jadi apa keputusannya? Aku tidak bisa menunggu lebih lama! Anakku dalam bahaya!" Danish mulai tak tenang.


"Mr. Frank akan segera memberitahu apa yang harus kita lakukan selanjutnya. Untuk saat ini kita diam dulu di sini," jawab Aldi.


"CK, argh!" Danish menonjok keras tembok yang berada di belakangnya. Ia geram! Putrinya, Hawa dalam genggaman orang-orang jahat itu! Semoga saja secepatnya ia bisa beraksi untuk segera menyelamatkan nyawa putri tercintanya.


...*****...


Kembali pada mansion Jacob, dan Alesha.


Pasangan tersebut tengah sama-sama berbaring tenang, dalam satu selimut yang sama. Tubuh mereka polos tak terbalut walau hanya sehelai benang.


Alesha tertidur pulas karna kelelahan, sementara Jacob terdiam merutuki kesalahannya.


"Maaf, Lil Ale," pria tersebut mengelus lembut permukaan wajah sang istri tercinta. Tatapannya sayu sedih penuh penyesalan.


Apa yang sudah Jacob lakukan? Melampiaskan kemarahannya pada Alesha? Ia bahkan tega membuat istri tercintanya itu menangis, dan merasa seolah-seolah tengah diperkosa oleh pria asing.


Jacob telah melakukannya dengan kasar. Tidak seperti biasanya. Ia dikuasai oleh amarah terhadap kakak iparnya. Tapi apa? Alesha lah yang ia jadikan pelampiasan.


Bahkan Alesha tidak henti-hentinya meronta, dan memberontak tadi, mencoba untuk membebaskan diri. Alesha benar-benar tidak menikmatinya. Ia terlalu sakit, dan terluka. Kenapa Jacob bisa sekasar itu? Apasalahnya? Jacob terus memaksanya, dan mengunci tubuhnya. Apa yang bisa ia lakukan? Pasrah bersama tangisan pecah yang menghujani wajahnya, dan membiarkan Jacob melakukannya sesuka hati juga tanpa hati.


"Maaf, sayang. Aku berjanji tidak akan melakukan yang seperti tadi lagi," bisik Jacob tepat disebelah telinga istrinya. "Maaf Al, aku terbawa oleh amarahku tadi. Maaf...."


Sesaat sebelum tertidur. Tubuh Alesha sangat lemas, dan tak berdaya. Bahkan untuk bersuara saja rasanya sulit.


"Suamimu ini memang bodoh, Al. Maaf..." lirih Jacob.


Sepersekian detik kemudian, tiba-tiba tubuh Alesha bergerak-gerak pelan dalam pelukan suaminya. Ia terusik, dan ketika kedua matanya terbuka secara perlahan, ternyata sebidang dada lebar menjadi pemandangan pertamanya.


"Jack.." Alesha mendongkak, bersitatap sejenak bersama suaminya.


"Jam berapa sekarang?" tanya Alesha, pelan.


"Tidak tahu, sayang." Jacob menjawab lembut.


Setelah itu, Alesha kembali menelusupkan wajahnya pada dada bidang suaminya.


"Kau tidak lapar, Lil Ale? Kau belum makan dari pagi."


Alesha menggelengkan kepalanya, membalas ucapan suaminya.


"Nanti kau kelaparan, sayang. Ayo, kita makan. Kau mau aku pesankan apa?"


Alesha diam berpikir. Ada benarnya juga Jacob. Ia belum makan dari pagi, dan kini perutnya mulai keroncongan.


"Ayam geprek pedas."


"Apa?" ucapan Alesha terlalu pelan, Jacob kurang jelas mendengarnya.


"Ayam geprek pedas, Jack," ulang Alesha.


"Ayam geprek pedas? Lalu bagaimana dengan Baby J? Dia mau apa?"


"Baby J?" dahi Alesha mengernyit bingung.


"Iya, sayang, Baby J," ucap Jacob seraya mengelus lembut perut istrinya.


"Aw, Jack! Geli!" Alesha menggeliat sembari tertawa kecil. Jemari Jacob bermain nakal pada permukaan perutnya.


"Baby J mau apa?" tanya Jacob, sekali lagi.


"Tidak. Dia mau ayam geprek saja seperti bundanya. Tapi ayam gepreknya jadi dua," jawab Alesha.


"Siap laksanakan, ratuku."


"Emm, Jack!" Alesha meronta ketika Jacob menghujani wajahnya dengan banyak ciuman. "Cukup! Satu kali saja tidak bisa apa?!"


"Tidak bisa, sayangku." Jacob menggerakkan giginya dengan gemas. "Kau masih saja awet muda, Lil Ale, sedangkan aku, beberapa bulan lagi sudah mau berkepala tiga."


"Tentu saja awet muda! Aku baru dua puluh dua tahun setengah. Tapi bukannya kita lahir dibulan yang sama, ya? Hanya beda beberapa minggu saja," balas Alesha.


"Empat tahun lebih kita bersama. Aku tak menyangka jika kau sudah hamil untuk yang kedua kalinya." Jacob terkekeh.


"Kau yang bertanggung jawab. Kau yang sudah menanamkan benihmu dalam rahimku. Jadi, jangan coba-coba untuk pergi begitu saja!" Alesha menekan-nekan dada suaminya menggunakan jari telunjuk.


Tok... Tok... Tok...


Mendadak terdengar suara ketukan pintu.


"Permisi, tuan."


"Taylor?" gumam Jacob. "Iya, sebentar!" sahut Jacob.


"Kau tunggu sebentar di sini. Tutup seluruh tubuhmu, dan pura-pura lah tertidur. Oke," ucap Jacob sembari beranjak dari atas kasurnya.


Segera pria besar itu memakai kembali pakaiannya yang sempat berserakan dilantai.


Sedangkan Alesha, ia memejamkan matanya. Pura-pura tertidur. Ugh! Tubuhnya terasa sakit, nyeri, dan sangat pegal-pegal. Terutama daerah leher, dan dada. Jacob benar-benar brutal tadi.


Cukup!


Alesha tidak mau mengingatnya lagi. Hatinya sakit mengingat itu. Untung saja Jacob adalah suami sahnya.


"Baiklah, terima kasih, Taylor."

__ADS_1


Alesha mendengar kalimat terakhir suaminya itu sebelum pintu kamar tertutup kembali.


"Sayang, ayo bangun, dan cepat pakai bajumu. Ada yang harus kau temui di bawah," ucap Jacob seraya memberikan helaian pakaian milik istrinya yang semula tergeletak bebas dilantai.


__ADS_2