
Di ruang tamu.
"Mr. Jacob!" Alesha yang semula bersemangat untuk menemui suaminya kini malah berbanding terbalik setelah melihat kondisi Jacob yang nampak sedikit pucat, lemah, dan terdapat beberapa luka lebam diwajah.
"Jack, kau kenapa?" tanya Alesha. Ekspresi wajahnya datar, dan tegang. Ia berjalan menghampiri suaminya, dan terduduk disebelah pria itu. "Kau kenapa?" pandangan Alesha lurus pada kedua netra hitam Jacob.
"Aku baik-baik saja," jawab Jacob dengan senyum hangatnya.
"Kau pikir aku bodoh?!" sentak Alesha. "Kau kenapa?!" ia membentak suaminya saking penasaran bercampur khawatir terhadap keadaan Jacob saat ini.
"Alesha, tenanglah, Mr. Jacob baik-baik saja," ucap Mike.
"Tenang?! Aku harus tenang saat aku mendapati keadaan suamiku yang tidak baik?!" suara Alesha melengking. "Kau kenapa, Jack?" kedua kelopak mata Alesha mulai berkaca-kaca. Napasnya pun ikut bergetar seiring timbulnya sesegukkan. "Hiks, kau kenapa? Jawab Aku!"
"Aku baik-baik saja, Lil Ale. Kemarin ada kejadian kecil," jawab Jacob setenang mungkin.
"Hiks, kejadian kecil? Wajahmu lebam, dan pucat. Hiks, dan apa ini? Kenapa kemejamu sampai bolong, dan terdapat bercak darah ini?" Alesha menunjuk bercak darah yang cukup banyak pada kemeja Jacob.
"Tidak apa-apa, itu hanya luka sayatan kecil, sayang."
"Luka sayatan kecil? Hiks, aku bukan gadis bodoh! Kau pikir aku percaya? Ini bolong! Jika ini adalah luka sayatan pasti sobekkannya akan memanjang, Jack! Hiks, kau pasti tertembak! Hiks, siapa yang menembakmu? Kau bilang kau pergi ke Bogor untuk mengurus pekerjaanmu! Tapi apa? Hiks hiks."
"Al, tenanglah aku baik-baik saja sekarang." Jacob merengkuh tubuh minimalis istrinya.
"Hiks, kau kenapa, Jack? Apa yang terjadi padamu?" tangis Alesha pecah dalam pelukan suaminya.
"Aku baik-baik saja, sayang. Tidak usah menangis."
"BAGAIMANA AKU TIDAK MENANGIS? HIKS, KAU BOHONG! KAU PASTI MENYEMBUNYIKAN SESUATU DARI KU!!"
"Syutt, Alesha, aku baik-baik saja. Aku akan menceritakannya padamu, tapi berhentilah menangis."
"Hiks, aku takut terjadi sesuatu yang buruk padamu, Jack."
"Tidak, aku sudah bilang, aku baik-baik saja. Tidak terjadi sesuatu yang buruk padaku, sayang."
Cup.
Jacob mencium kening istrinya.
"Hiks, kita harus ke dokter sekarang!"
"Tidak, itu tidak perlu. Dokter SIO sudah memeriksaku, Al."
"Dokter SIO?" Alesha mengangkat wajahnya. "Dokter SIO? Kau dari SIO?"
Dengan berat hati Jacob menganggukkan kepalanya. "Iya."
"Apa yang kau lakukan di SIO?" tuntut Alesha.
"Alesha, aku rasa Mr. Jacob perlu beristirahat sekarang. Jika kau ingin bertanya, kau bisa tanyakan itu nanti," ucap Lucas.
Alesha bergeming. Membenarkan ucapan Lucas dalam pikirannya.
"Baiklah. Kalau begitu ayo, kita ke kamar sekarang." Alesha menggandeng lengan suaminya. "Bantu aku membawa Mr. Jacob ke kamar."
Lucas, dan Mike sigap membantu Alesha untuk membawa Jacob menuju kamar.
"Taylor, boleh aku minta tolong?"
"Ya, Nona, tolong apa?"
"Bisa kau buatkan air panas lalu bawakan ke kamarku?"
"Tentu, Nona."
"Terima kasih."
"Sama-sama, Nona."
Selepas itu, barulah Alesha, Mike, dan Lucas membawa Jacob menuju kamar.
"Jack, apa yang terjadi?" tanya Mona. Ibu anak satu itu tampak sangat cemas, dan mengkhawatirkan kondisi adiknya.
"Biasa." Jacob mengedikkan bahunya dengan santai.
"Huft, ya ampun, Jacob! Kau selalu saja menjawab seakan-akan kau itu baik-baik saja! Ibu lihatlah, putramu ini selalu begini!" Mona mengoceh. "Dia selalu bilang baik-baik saja padahal jelas seluruh tubuhnya terluka!"
"Mona, berhenti marah-marah!" Jacob memutar kedua bola matanya dengan jengah. "Lebih baik kau buatkan susu jahe untukku!"
"Susu jahe?" ulang Alesha.
__ADS_1
"Ya, dulu, sebelum kalian bertemu, aku selalu membuatkan susu jahe untuk Jacob setelah bocah keras kepala itu kembali dari misinya," jawab Mona.
"Tumben kau tidak menangis, biasanya kau akan menangis jika aku kembali dari misi," ledek Jacob.
"Berisik kau, Jacob!"
"Menangis?" ulang Laura.
"Mona selalu menangis karna takut terjadi sesuatu yang buruk padaku, bu. Dia akan merawatku, namun juga memarahiku seharian."
"Itu karna kau yang susah diberi tahu!"
"Kau yang terlalu takut berlebihan, Mona."
"Aku kakakmu! Wajar jika aku takut terjadi sesuatu padamu! Aku selalu bilang pada Jacob untuk tidak perlu berhadapan langsung dengan musuh, cukup saja menjadi mentor, dan membantu para ilmuan, tidak perlu menjadi agent!"
"Terserah! Pergilah ke dapur dan buatkan aku susu jahe!" titah Jacob, malas.
"Kau ini!" Mona menghentakkan kakinya dengan sebal.
"Apa kalian selalu seperti ini?" tanya Laura.
"Ya!" jawab Jacob, dan Mona bersamaan.
"Anakmu itu selalu memarahiku, bu, padahal dia tau kalau aku baru saja kembali dari misi bahkan dalam kondisi yang tidak baik," adu Jacob.
Alesha menyerngitkan dahi mendengar perdebatan antar adik, dan kakak itu.
"Kau yang susah diberi tahu. Aku bilang tidak perlu menjadi agent! Dan lihat! Kau selalu berakhir mengenaskan. Kakak mana yang tidak khawatir, dan takut ketika melihat kondisi adiknya yang babak belur?" Mona tidak mau kalah.
"Kau belum berubah juga, Mona. Padahal Alesha biasa-biasa."
"Siapa yang bilang aku biasa-biasa saja?" timpal Alesha. "Kalau saja kakak mu bisa memarahimu karna kekeras kepalaanmu itu, kenapa aku tidak? Kau pikir aku tidak khawatir? Kau berbohong padaku!"
"Kau juga mau memarahiku, sayang?"
"Tentu! Kau tidak izin, dan mengatakan yang sebenarnya padaku! Aku tahu bagaimana perasaan kakak mu! Kau memang keras kepala, Jack!"
"Kau baru saja memarahiku, Lil Ale, kau tidak kasihan padaku?"
"Aku memarahimu karna aku kasihan padamu! Lain kali kau harus izin dulu, atau setidaknya bilang padaku! Atau jika tidak, aku yang akan menyusulmu ke SIO! Kau pikir aku belum ingat? Aku sudah ingat jalan menuju kantor bawah tanah itu!"
"Kasihan, Mr. Jacob." Merina tertawa kecil melihat Jacob yang dimarahi oleh Mona, dan Alesha.
"Aku baik-baik saja, Mona," potong Jacob.
"Tidak! Kau tidak baik-baik saja!" Mona menunjuk pada adik laki-lakinya. "Jika kau tidak menurut, aku yang akan merawatmu secara langsung!"
"Tidak tidak! Kau malah akan semakin menambah rasa sakit ditubuhku!" tolak Jacob, takut.
"Kalau begitu menurut padaku!"
"Baiklah!"
"Alesha takluk pada suami, dan kakaknya, begitu pun Mr. Jacob, selain takluk oleh istrinya, dia juga ternyata takluk oleh kakaknya, hahahaha," bisik Tyson diiringi tawa kecil.
"Aku mendengar itu, Tyson!" Jacob melirik tajam pada Tyson.
"Ups, maaf, Mr. Jacob, hahaha..."
Alesha hanya menggelengkan kepalanya saat mendengar itu.
"Jack.." panggil Alesha, lirih. Ia terduduk disebelah suaminya, menatap risau, takut, dan sedih. "Perutmu tertembak? Hiks."
Jacob tersenyum hangat. "Aku baik-baik saja, Lil Ale. Tenanglah, dokter SIO sudah mengeluarkan peluru itu, dan dia bilang jika kondisiku baik-baik saja, hanya mungkin butuh istirahat sedikit."
"Hiks, kau berbohong, Jack." Alesha mulai menangis, lagi.
"Maaf..." Jacob mengelus puncak kepala istrinya. "Jangan menangis, aku baik-baik saja. Sungguh, Lil Ale."
"Bagaimana kau baik-baik saja? Hiks, tubuhmu babak belur, wajahmu lebam. Hiks, apa yang terjadi padamu, Mr. Jacob? Hiks hiks."
Jacob tak membalas, melainkan langsung membawa tubuh istrinya masuk kedalam pelukannya.
"Hiks, Jack, kenapa kau bisa sampai seperti ini?"
Cup.
Jacob mencium kening si manis kesayangannya itu. Namun, sejurus kemudian, ekor matanya menangkap satu sosok yang tidak disukai olehnya.
Rangga.
__ADS_1
Pria itu berdiri sekitar dua meter darinya.
Sorot tajam yang Jacob layangkan membuat Rangga tak nyaman. Adik iparnya itu masih saja menaruh amarah padanya. Namun Rangga tidak perduli, ia harus menjaga Alesha bahkan dari kerasnya sikap Jacob sendiri.
"Kau takut kehilanganku, sayang?" tanya Jacob tanpa mengenyahkan sorot tajamnya dari Rangga.
"Hiks, tentu saja! Kau ini bagaimana?!" jawab Alesha, sesegukkan.
"Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk padaku, dan itu membuat kau kehilanganku?" sengaja Jacob mengajukan pertanyaan itu supaya Rangga dapat mendengarnya, dan sadar jika Alesha sudah benar-benar kembali padanya, dan mencintainya.
"Hiks, kenapa kau bertanya seperti itu?!" Alesha melepaskan tubuhnya dari pelukan Jacob. Ia semakin histeris. "Kau kenapa? Hiks, apa yang sebenarnya terjadi padamu? Hiks, jujur padaku! Aku tidak ingin kau meninggalkanku!! Hiks hiks."
"Alesha, tenanglah, jangan panik seperti ini." Jacob menahan kedua bahu istrinya.
"Tidak! Kau kenapa? Hiks, pasti terjadi sesuatu yang sangat buruk padamu!" Alesha memberontak.
"Alesha, jangan seperti ini, ingat kehamilanmu!" Laura bahkan ikut turut tangan menenangkan menantunya.
"Mr. Jacob, kau kenapa? Hiks, kau kenapa?" Alesha semakin memberontak, dan tangisannya kian menjadi. Ia terlalu takut, ucapan Jacob tadi membuat prasangka buruk dalam kepalanya. "Kita harus cek ke dokter sekarang! Hiks, ayo, Jack! Aku takut terjadi sesuatu lebih buruk padamu! Hiks, aku tidak ingin kau meninggalkanku! Hiks hiks."
"Al, hey, jangan seperti ini." Jacob bersikap setenang mungkin. "Aku baik-baik saja, kau tidak perlu cemas."
"BOHONG!! HIKS, KAU PASTI TIDAK BAIK-BAIK SAJA, DAN KAU SENGAJA MENYEMBUNYIKAN DARIKU AGAR AKU TIDAK SEMAKIN KHAWATIR, KAN!! HIKS, APA YANG KAU SEMBUNYIKAN? JANGAN BUAT AKU SEMAKIN PANIK, MR. JACOB!! HIKS HIKS."
Bagus! Sekarang Jacob merutuki dirinya sendiri karna sudah mengajukan pertanyaan macam tadi pada istrinya.
"Alesha, tenanglah," langsung saja Jacob menarik Alesha masuk dalam pelukan eratnya.
Sementara itu Rangga, ia hanya bisa menghela, dan menghembuskan napasnya dengan pasrah saat melihat adiknya juga wanita yang ia taruhi perasaan itu histeris karna saking takutnya terjadi sesuatu yang buruk pada Jacob. Rangga semakin sadar, cintanya bertepuk sebelah tangan. Alesha sudah bersuami, bahkan Alesha begitu takut ditinggalkan oleh suaminya itu. Lalu Rangga bisa apa? Ia tidak boleh lagi memisahkan adiknya itu dari Jacob atau Alesha akan sangat membencinya.
Jujur. Sakit, dan sakit sekali melihat Alesha yang begitu mengkhawatirkan Jacob. Namun Rangga sudah ikhlas. Ia adalah Kakak untuk Alesha, dan akan selalu menjaga adik kesayangannya itu dengan baik.
"Hiks, Mr. Jacob, kita harus ke dokter sekarang..." lirih Alesha disela-sela tangisnya.
"Ibu, bisa ibu tinggalkan aku, dan Alesha?" pinta Jacob. Ia butuh waktu berdua bersama istrinya. "Yang lain, bisa kalian tinggalkan aku berdua bersama Alesha?"
Mike, Lucas, Tyson, Aiden, Merina, Sharon, Laura, dan Rangga saling bertatap-tatapan ketika mendengar permintaan Jacob barusan. Kemudian setelah itu, mereka semua pun mengangguk dan satu persatu meninggalkan kamar Jacob.
"Hiks, Mr. Jacob, kita harus ke dokter sekarang..."
"Tidak perlu, jangan khawatirkan aku. Aku baik-baik saja, oke."
Cup.
Jacob mencium puncak kening istrinya.
"Boleh aku minta tolong, sayang?"
"Tolong apa?" tanya Alesha.
"Bantu aku membersihkan tubuhku."
Alesha sedikit terkejut mendengar permintaan suaminya barusan.
"Kau mau membantu ku, kan, Lil Ale?"
Membantu membersihkan tubuh suaminya? Bukan tidak mau, sih, hanya saja Alesha merasa malu.
"Hey, kenapa diam?"
"Emm, tidak apa-apa," jawab Alesha.
"Bagaimana? Kau mau kan, sayang?"
"I... Iya." Alesha mengangguk, ragu.
Jacob tersenyum puas.
"Kalau begitu ayo, bantu aku berdiri, dan berjalan menuju kamar mandi."
Tak banyak kata, Alesha pun menurut ucapan suaminya barusan, dan memapah pria besar itu menuju kamar mandi.
*
*
*
*
Holla author balik lagi π maaf ya, telat mulu update nya karna author punya banyak banget kesibukan di real life. Tapi cerita ini masih berlanjut yupsπ makasih yang masih setia baca dan mampir. Luv U ππ
__ADS_1
Oh ya satu lagi, author mau ucapin happy Anniversarry buat Jacob and Alesha yang kesatu tahun, yeeeaayyyπ₯³ππ 09-07-2020 - 09-07-2021. Horeee. Satu tahun yang begitu berarti buat author karna Jacob and Alesha udah author anggap sebagai teman dan keluarga sendiri ππ₯° Big Love For You, Jacob And Alesha, My Lovely Characters πππ Kalian tetap karakter yang paling author sayangin diantara karya author yang lain πππ