
Di markasnya, kini Theo sedang asik bermain catur bersama salah satu anak buahnya.
"SIO memang bodoh," Theo menyeringai. "Padahal WOSA memiliki tanaman yang bisa dijadikan vaksin."
"Anggrek hitam itu, WOSA menyimpannya di dalam gedung kaca yang berada di tengah taman utama. Tapi sampai sekarang mereka masih dibuat pusing untuk menemukan vaksin yang tepat. Beruntung kita bisa segera menculik Profesor Hans."
"Tapi, Theo, kau taukan kalau ada beberapa Profesor lagi yang ikut membantu Profesor Hans untuk membuat vaksin itu."
Theo menyeringai setelah mendengar ucapan dari lawan main caturnya itu.
"Ada lima ilmuan yang membantu Profesor Hans untuk membuat vaksin itu, tetapi mereka tidak akan berani membuka mulut, karna jika mereka berani," Theo mengambil gilirannya untuk meletakkan satu buah anak catur hingga membuatnya memenangkan pemain catur tersebut. "Mereka akan menerima kenyataan jika seluruh anggota keluarga mereka akan lenyap dari bumi ini hanya dalam waktu kurang dari satu malam," Theo menatap lekat pada pria yang sudah ia kalahkan dalam permainan catur itu. "Karna kini keluarga mereka sudah berada dalam genggamanku, sekali saja ada yang berani membuka mulut mengenai vaksin itu, maka anak buahku akan langsung meninggalkan bekas pilu dalam hidup mereka."
Theo bangkit dari duduknya. "Tidak lama lagi mereka juga akan membawa diri mereka sendiri kepadaku, atau aku yang akan memaksa mereka untuk datang kepadaku."
Setelah itu, Theo pun berlalu pergi.
Theo sudah siap dengan segala risiko buruk yang pasti akan ia, dan kelompoknya terima. Tapi Theo siap, dan sangat siap. Bahkan ia bertekad untuk menghancurkan, atau mengambil alih SIO.
Satu tahun lebih Theo memantau SIO, hingga sekarang adalah saatnya untuk ia beraksi.
Tidak perduli siapa yang akan ia hadapi, Theo akan memastikan jika rencananya itu akan berhasil.
...*****...
Memajukkan waktu menuju Bandung, Indonesia. Kini disebuah jalan raya besar ada tiga buah mobil sedan sedang terlibat kejar-kejaran. Dua mobil sedan yang ditumpangi oleh Levin, Jacob, Aldi, dan Rendi, dan satu mobil lain ditumpangi oleh si pencuri yang sudah berhasil mencuri sampel virus XXX milik SIO.
"Bawa mereka menuju markas! Kita akan habis mereka di sini."
Ucap seseorang melalui alat komunikasi yang terpasang pada telinga si pencuri.
"Baiklah." Balas si pencuri tersebut. Kini tugasnya adalah menggiring mobil yang ditumpangi oleh keempat agent SIO itu menuju markas tersembunyi yang berada dipedalaman hutan diwilayah perbatasan Bandung-Garut.
Ramainya jalan raya oleh kendaraan lain tidak membuat ketiga mobil itu lengah dalam memacukan sedan yang melaju dalam kecepatan tinggi. Salip menyalip, menerobos. lampu merah, bahkan beberapa kali nyaris bertabrakan dengan kendaraan lain, namun itu bukanlah hal yang tabu bagi mereka.
Seolah jalan raya yang padat itu adalah lapak untuk mereka bermain-main.
Ya! Bermain-main.
Tiga mobil yang melesat di jalanan raya itu pun kini saling beradu kecepatan, dan teknik mengemudi. Salah perhitungan sedikit saja, maka konsekuensinya adalah terjatuh ke dalam jurang atau hancur menghantam tebing.
Lesatan demi lesatan membawa ketiga mobil itu menembus pergerakan angin yang berlawanan arah. Di jalan yang tidak terlalu lebar itu, yang pinggirannya adalah tebing juga jurang, terdapat dua jalur yang berlawanan, satu jalur menuju Bandung, dan satu jalur lain menuju Garut.
Kini ketiga mobil tengah menuruni jalanan curam dengan tikungan-tikungan tajam.
Sialnya, ada sebuah truk besar pembawa pasir yang tiba-tiba saja muncul dari balik tikungan dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Tiinnnnn!!!!!!
Cekit.....
Suara decitan ban mobil yang tiba-tiba saja berputar menghadap tebing lalu berhenti secara mendadak memecah keheningan jalan raya yang semula hanya dilalui oleh beberapa kendaraan saja.
Duarr!!!!
"Oh SHIT! Levin, apa yang kau lakukan!" Pekik Aldi yang terkejut ketika menyaksikan truk pembawa pasir itu terjun bebas ke dalam jurang.
Levin sendiri tercekat dibangku kemudi. Ia sangat kaget saat kedua netra hitamnya mendapati truk besar yang tiba-tiba saja muncul dari balik tikungan, jadi dalam hitungan sepersekian detik Levin pun membanting setir ke sisi lain lalu menekan pedal rem dengan cepat, dan kuat sehingga mobil yang ia kendarai bisa berhenti tepat sebelum berhantaman dengan tebing.
"LUPAKAN TRUK ITU! CEPAT IKUTI MOBIL JACOB!" Teriak Aldi yang kembali menyadarkan Levin dari rasa syoknya.
Tidak mau berpikir panjang lagi, Levin pun kemudian kembali memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Apa yang terjadi di belakang?" Tahta Rendi pada Jacob.
"Sebuah truk jatuh ke dalam jurang," Jawab Jacob yang masih sibuk memperhatikan mobil si pencuri yang berada tepat di depannya.
"Jangan bilang kalau truk itu mencoba untuk menghindari mobil yang Levin bawa!" Pekik Rendi.
"Ya, lalu apalagi kalau bukan itu kejadiannya?"
Jacob terus terpaku pada mobil si pencuri yang ada didepannya, hingga ia tidak menyadari kalau mobil yang ia bawa sudah memasuki wilayah yang sisi kiri dan kanannya adalah bukit, dan hutan.
__ADS_1
Entah itu di daerah mana yang pasti sudah bukan wilayah Kabupaten Bandung lagi. Tempo kecepatan mobil pun otomatis langsung turun secara drastis.
"Jack, sepertinya kita mulai memasuki hutan," Ucap Rendi.
"Kau tahu di wilayah mana ini, Ren?" Tanya Jacob.
"Aku tidak tahu nama tempat ini, tapi di sini adalah wilayah perbatasan antara Bandung, dan Garut, kita baru saja melewati jalanan Nagreg tadi," Jawab Rendi.
"SIAL! Apa yang Levin lakukan! Apa dia sengaja ingin membuat mobil ini bertabrakan dengan mobilnya!!" Umpat Jacob yang kesal juga terkejut karna tiba-tiba saja mobil yang Levin bawa menghadang mobilnya.
Levin sendiri kini sudah keluar dari dalam mobilnya, dan sedang berjalan menghampiri mobil Jacob.
"Ada apa?" Ketus Jacob yang menatap kesal pada Levin.
"Dia membawa kita ke sarangnya, Jack, kita tidak tahu ada berapa banyak orang di sana," Ucap Levin.
"Lalu?" Jacob mengangkat sebelah alisnya.
"Kita hubungi pihak SIO untuk menyusul kita ke daerah ini," Usul Levin.
"Itu hanya akan membuang waktu, mereka bisa kabur!" Balas Jacob. "Kalau kau mau menunggu sampai bantuan dari SIO datang silahkan, tapi aku akan tetap mengejar pria itu!" Jacob mendorong Levin untuk menjauh dari pintu mobilnya.
"DASAR KERAS KEPALA!!" Umpat Levin saat mendapati mobil yang Jacob kemudikan kembali melaju.
"Levin! Apa yang kau lakukan di sana?" Pekik Aldi dari dalam mobil.
Dengan terpaksa Levin pun kembali ke mobilnya untuk menyusul Jacob.
Sedangkan Jacob sendiri, kini ia telah berhasil membuntuti mobil si pencuri itu. Namun, sepertinya Jacob semakin memasuk ke dalam hutan.
Sisi kiri, dan kanan hanya ada pepohonan rindang, belum lagi kabut yang memenuhi sekitar. Keadaan terasa sedikit mencekam. Tapi Jacob tidak mau melemahkan mentalnya, ia harus tetap mengikuti kemana mobil si pencuri itu pergi. Hingga akhirnya suara pekikkan dari Rendi membuat Jacob terkejut.
"Jack, awas!"
Seketika mobil yang Jacob, dan Randi tumpangi pun terbanting karna menghantam pohon besar demi menghindari sebuah tembakan peluru yang tiba-tiba saja muncul.
"Sial! Rendi, cepat keluar!" Dalam posisi mobil, dan tubuh yang terbalik, Jacob, dan Rendi berupaya untuk mengeluarkan diri.
Pintu mobil pun seketika terbuka ketika Jacob menendangnya cukup keras, begitu pula dengan Rendi, ia pun menendang pintu mobil tersebut sehingga ia, dan Jacob dapat keluar.
Sedikit merangkak untuk membawa tubuh menjauh dari mobil sedan yang sudah terbalik itu, kini Jacob, dan Rendi berdiri sembari menahan nyeri diseluruh tubuh akibat kejadian tadi.
Namun belum semenit berlalu, tiba-tiba saja datang segerombol orang yang mengepung mereka berdua.
"Satu, dua, tiga, lima belas.." Gumam Rendi sembari menatap awas pada lima belas pria yang mengelilinginya bersama Jacob.
"Kau bisa mengatasi ini kan, Ren?" Tanya Jacob, pelan.
"Tentu saja, sudah lama aku tidak bertarung," Balas Rendi.
"Bagus!"
Jacob, dan Rendi sama-sama bersiap siaga, menatap intens pada kelima belas pria berjas yang ada dihadapan mereka itu.
"Mereka adalah agent SIO. Habisi mereka!" Perintah salah seorang pria yang bukan lain adalah si pencuri sampel virus XXX.
"Kalian pikir kalian bisa menghabisi kami?" Jacob menunjukan seringai meledeknya. "Maju kalian semua!" Tantang Jacob.
"Banyak bicara kau!" Geram salah seorang pria sembari berlari untuk melawan Jacob.
Disusul dengan pria-pria yang lain, kini Rendi, dan Jacob bertarung melawan lima belas pria yang merupakan komplotan mafia, anak buah Theo.
Sementara itu....
Levin yang kini berpisah dengan Jacob, dan Rendi malah berhasil menemukan sebuah gubuk berukuran sedang yang terletak jauh di dalam hutan.
"Sepertinya di sini adalah markas mereka," Gumam Aldi.
Levin menghentikan mobilnya lalu mulai berjalan keluar dengan langkah yang sangat hati-hati.
Kemana kelompok mafia itu?....... Gumam Levin dalam hatinya.
__ADS_1
Sejenak, Levin, dan Aldi hanya mendapati keheningan juga kesunyian. Hanya ada suara kicauan burung saja, itu pun dibarengi dengan kabut yang semakin tebal.
Tidak ada sedikit pun pergerakan yang Levin, dan Aldi dapati, padahal mata mereka berdua sudah sangat awas dengan sorot tajam, memastikan dimanakah lokasi musuh bersembunyi.
Hening.....
Sunyi.....
Senyap....
Dan akhirnya...
...DUAR!!! ...
Sebuah bom meledak tepat disebelah Levin, dan Aldi.
...*****...
Pukul 18.15 WIB
Alesha terlihat gusar. Sejak tadi ia mencoba untuk menghubungi suaminya, Jacob, namun tidak ada satu pun panggilan yang diterima, bahkan pesan yang dikirim saja tidak dibaca.
Alesha sudah khawatir, sebentar lagi acara syukuran akan dilakukan, ya meski hanya dihadiri oleh beberapa orang saja karna memang syukuran itu dilakukan sangat mendadak, dan tujuan utamanya adalah untuk memanjatkan doa pada Sang Ilahi agar mansion itu dapat dilindungi serta selalu diberkahi.
"Bas, kau sudah hubungi Mr. Jacob?" Tanya Alesha yang kian merasa cemas.
"Sudah, tapi dia tidak mengangkat panggilanku juga, Al," Jawab Bastian. Sebenarnya Bastian sudah tahu dimana lokasi Jacob saat ini karna Lucas, dan Aiden sudah berhasil melakukan pelacakan pada ponsel yang dibawa oleh Jacob. Tetapi Bastian, Lucas, dan Aiden lebih memilih diam dulu untuk saat ini, pertama mereka tidak ingin mengacaukan acara syukuran kecil-kecillan yang akan segera dilaksanakan, kedua mereka tidak ingin membuat Alesha bertambah panik.
Tetapi Alesha, dan Tessa, kedua ibu muda itu kini benar-benar dilanda rasa khawatir yang berlebih karna belum juga mendapatkan kabar dari suami mereka masing-masing.
Kemana Jacob? Pikir Alesha.
Dan kemana Levin? Pikir Tessa.
Kenapa mereka berdua tidak bisa dihubungi? Pikir kedua ibu muda itu.
"Taylor, Mr. Jacob kemana? Kenapa dia belum pulang, dan tidak memberi kabar?" Tanya Alesha yang terlihat sangat khawatir, bahkan saking khawatirnya ia malah jadi mondar-mandir tidak jelas.
Begitu pun dengan Tessa. Ia sejak tadi terduduk sembari memangku putranya yang tengah tertidur. Namun Tessa teramat gelisah. Berkali-kali ia menghubungi Levin, tetapi tidak ada satu panggilan pun yang terjawab.
"Levin, angkat panggilanku sekali saja..." Gumam Tessa dengan gelisah sembari terus mencoba untuk menghubungi suaminya melalui sambungan telepon.
Alesha, dan Tessa sama-sama merasakan hal yang sama. Khawatir berlebih pada suami mereka masing-masing karna sejak tadi tidak ada satu pun panggilan yang Jacob, dan Levin terima.
"Taylor, kenapa Mr. Jacob belum pulang? Apa ponselnya mati? Acara syukuran ini akan segera dimulai! Jika dia memang tidak bisa hadir setidaknya beritahu aku!" Alesha menghentakkan kakinya karna sebal. Ia kesal, Jacob tidak ada kabar, sedangkan ini sebentar lagi acara syukuran akan segera dimulai.
"Alesha, cobalah untuk tenang, mungkin Jacob sedang di jalan untuk kembali pulang," Ucap Laura sembari menepuk-nepukki tubuh cucunya yang tengah terlelap di atas kasur besarnya.
Ya, saat ini untuk sementara waktu Alesha, dan Alshiba terpaksa untuk berpindah kamar dahulu, tepatnya di kamar Laura karna memang ibunda Jacob itu sendiri yang memintanya pada Alesha.
"Tapi Jacob belum pulang, Bu, ponselnya juga tidak bisa dihubungi," Alesha terduduk dengan tubuh yang terus saja bergerak gelisah.
"Ya Allah.... Mr. Jacob, kenapa belum pulang sih? Kenapa HP nya juga gak bisa dihubungin sih?"
Alesha sungguh merasa gelisah, dan takut. Jam sudah menunjukan pukul delapan belas dua puluh lima, tetapi ia masih belum mendapatkan tanda-tanda kepulangan suaminya.
"Nona, lebih baik Nona tenang dulu untuk saat ini, siapa tahu.."
"Bagaimana aku bisa tenang!" Potong Alesha yang mulai tersulut emosi. "Suamiku belum pulang! Tidak ada kabar darinya sejak dia berangkat tadi pagi sedangkan acara syukurannya akan dimulai lima menit lagi!"
Alesha pun bangkit, dan berjalan dengan emosi yang membuat napasnya sedikit terengah-engah.
"Nona..." Panggil Taylor sembari mengikuti kemana Alesha pergi.
...*****...
...Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak dapat dihubungi..........
"Argh!" Tessa memghempaskan ponselnya pada sofa. Ia geram karna sudah berpuluh-puluh panggilan telepon yang ia tujukan pada suaminya, namun tidak ada satu pun yang dijawab.
"Levin, kenapa kau tidak menjawab panggilan, dan pesanku? Kau dimana sebenarnya? Apa yang terjadi?" Lirih Tessa. Ibu muda itu tampak semakin cemas juga gelisah.
__ADS_1
"Levin, kau dimana? Kenapa panggilan telpon, dan pesan yang aku kirim tidak ada satu pun yang kau balas," Tessa menundukkan kepalanya. Menatap nanar pada sang buah hati yang tengah terlelap.