Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Titik Terang


__ADS_3

Waktu terus berlanjut, membawa hari, minggu, dan bulan yang sangat tak terasa pergantiannya. Kesepian yang Jacob rasa kian menyakitinya, tapi meski begitu tekad, dan usahanya tidak pernah redup.


Dikala malam menyambang, Jacob merebahkan dirinya diatas tempat tidur, dan selalu membayangkan jika Alesha ada di sana bersamanya.


Kehangatan, dan kelembutan yang pernah mereka bagi satu sama lain di atas tempat tidur masih begitu terasa oleh Jacob. Tidak mudah untuk Jacob melewati malam-malamnya. Ia sudah terbiasa menutup, dan membuka mata disisi istrinya.


Kemana Alesha? Jacob begitu merindukannya.


Jauh dalam lubuk hatinya, Jacob menjerit-jerit, meremas kerinduan dan rasa sakit yang begitu menyiksanya.


Seperti halnya saat ini, Jacob tengah berbaring di atas kasur sembari memejamkan kedua matanya hingga timbul bayang-bayang ingatan Alesha yang kala itu sedang hamil menangis tersedu-sedu sebab ia yang membentaknya.


"BISA TIDAK KAU TIDAK USAH MENGANGGUKU SAAT INI! KAU SELALU SAJA MANJA! KAU SEHARUSNYA TAHU WAKTU JIKA INGIN BERMANJA-MANJA! "


"Hiks, maaf, maafkan aku, Jack, hiks hiks..."


"Alesha, maafkan aku, sayang...." Jacob mulai menangis. Ia masih bisa mengingat jelas bagaimana wajah istrinya yang menangis tersedu-sedu karna dibentak olehnya.


"Aku, hanya ingin kau menemaniku, Jack, hiks hiks."


Alesha sendiri memang sedang membutuhkan suaminya saat itu karna ia merasa pusing, dan sangat lemas disekujur tubuhnya. Itu adalah salah satu efek dari ketidak siapan tubuhnya untuk mengandung dua janin. Namun, saat itu Jacob juga memang sedang sangat amat sibuk hingga akhirnya Alesha lah yang terkena semburan kemarahannya.


"AKU KAN SELALU MENEMANIMU JIKA KAU AKAN MENGECEK KANDUNGANMU, AKU SELALU MENEMANIMU JIKA AKU PUNYA WAKTU LUANG, ALESHA! APA ITU BELUM CUKUP? "


"Kau berubah, hiks hiks..."


"Kau bilang apa barusan, Alesha? Aku berubah? "


"Hiks hiks."


"APA SELAMA INI PERHATIAN, DAN KASIH SAYANGKU KURANG? COBALAH UNTUK MEMAHAMIKU! AKU SEDANG PUSING! BANYAK SEKALI PEKERJAAN, DAN MASALAH YANG HARUS AKU TUNTASKAN! JIKA KAU INGIN BERMANJA-MANJA PADAKU LAGI BERSABARLAH! TUNGGU SAMPAI SEMUA MASALAH, DAN PEKERJAANKU SELESAI! "


"Hiks, Jack..."


Jacob merasakan kembali jemari Alesha yang menahan lengannya untuk tidak pergi saat itu.


"Alesha, hiks, maaf..... Hiks hiks," Kini Jacob lah yang menangis tersedu-sedu karna Alesha yang pergi meninggalkannya.


"Alesha, jangan buat aku semakin marah padamu! Aku tidak ingin memarahimu lagi, jadi lepaskan tanganku! "


"Hiks, Jack, temani aku sekarang, hiks hiks."


"Kembali lah, Alesha, aku akan selalu menemanimu, sayang, maafkan aku, Alesha, hiks," Tubuh Jacob bergetar kencang seiring tangisnya yang semakin menjadi.


"Aku akan menemanimu nanti, sekarang biarkan aku menyelesaikan pekerjaanku agar aku bisa secepatnya menemanimu."


"Aku ingin kau menemaniku sekarang, Jack, hiks."


"ALESHA! "


"BODOH! JACOB, KAU SANGAT BODOH! Hiks," Jacob membenturkan kepalanya dengan keras pada headboard. "Alesha membutuhkanmu waktu itu, dan kau malah bersikap bodoh! Hiks, Alesha, aku sangat menyesal, hiks, kembali lah..."


"B-baiklah, Jack. Kau selesaikan saja pekerjaanmu, aku akan menunggumu, hiks."


"Sekarang aku yang harus menunggu untuk bisa bertemu, dan bersama denganmu lagi, Alesha, hiks, maaf..."


Tiba-tiba saja tubuh Jacob tersentak.


"Mr. Jacob....."


"Alesha!" Jacob terlihat seperti orang yang terkejut.


"Mr. Jacob, lihatlah kabutnya semakin tebal, mulutku sampai mengeluarkan asap saat bicara."


"Alesha...." Jacob menjambak rambutnya dengan frustasi. Ternyata suara Alesha bergema dalam kepalanya kini.


"Aku juga, Mr. Jacob Ridle, atau My Big Guy."


"Big Guy? "


"Ya, kau memanggilku Lil Ale, dan aku akan memanggilmu Big Guy."


"Big Guy," Gumam Jacob sembari tersenyum kecut. "Lil Ale Love Big Guy," Jacob mulai meracau.


"Aku mencintaimu, Alesha."


"Aku juga mencintaimu, Tuan Mentor."


"Aku sangat mencintaimu, sayang..." Jacob menundukkan wajahnya. Suara-suara itu, percakapannya dengan sang istri benar-benar bagai irama musik yang berputar dengan sangat jelas.


"Jadi, apa keinginan terbesarmu? "


"Aku ingin kau tetap bersamaku, jangan tinggalkan aku, aku membutuhkanmu, aku ingin kita melewati susah senang bersama. Jujur saja, aku sangat mencintaimu, Jack. Kau adalah mentor yang sudah membuatku jatuh cinta kembali. Tapi aku takut kau akan meninggalkanku suatu saat nanti."


"Sesuai permintaanmu, Nona mudaku."


"Kau yang meninggalkanku, Alesha, hiks. Kau pergi tanpa memberikan tanda, atau petunjuk apapun agar aku bisa menemukanmu. Hiks," Jacob memegangi dadanya yang terasa sesak.


"Kau dimana, Alesha? Hiks."


Jacob meraih sebuah kotak hitam kecil yang berada disebelahnya.


"Dua bulan sudah kembali berlalu, kalung ini dibuat di tempat khusus untukmu, untuk aku berikan sebagai hadiah ulang tahunmu, dan berlian kecil ini aku dapatkan saat aku melakukan ekspedisi ke dalam gua berlian waktu itu. Kau ingat kan, Al, saat itu aku meninggalkan tim kita karna aku diberi tugas oleh SIO untuk menemukan gua berlian itu," Jacob tersenyum kecut. "Berlian ini sangat cantik, bersih, murni, dan mungil," Jacob terkekeh. "Sama sepertimu, sayang."


"Kalung ini menunggu pemiliknya, dia menunggumu, Lil Ale, kapan kau akan kembali?"


Satu tahun yang sudah berlalu.


Jacob tersiksa dengan cintanya sendiri karna ketidak hadiran Alesha selama satu tahun ini.


Ya ampun, kenapa bisa sudah satu tahun berlalu? Mungkin karna Jacob tidak memikirkan waktu, tujuannya adalah menemukan Alesha. Harapannya masih begitu besar agar bisa bersama dengan istrinya kembali.


"Alesha, kau dimana? Ini sudah satu tahun? Kau tidak merindukanku, Lil Ale?"


Tok... Tok... Tok...


"Mr. Jacob..." Nakyung, gadis itu berada dibalik pintu kamar suami sahabatnya.


Jacob yang berada di dalam kamar pun melirik tajam ke arah pintu.


Kenapa malam-malam begini Nakyung berada di mansionnya, dan mengetuk pintu kamarnya?


Dengan malas, Jacob bangkit, dan berjalan ke arah pintu.


Ceklek...


Pintu terbuka.


"Apa?" Tanya Jacob, malas.


"Ayo ikut aku! Ada yang perlu dibicarakan!" Tiba-tiba saja Nakyung menarik lengan Jacob untuk berjalan.


"Hey, hey, ada apa ini?" Tanya Jacob, sedikit terkejut.


"Nanti kau tahu, yang pasti ini tentang Alesha!"


"Alesha!" Pekik Jacob, dan, "Dimana Alesha?" Jacob menghentikan langkahnya lalu membalikkan tubuh Nakyung seraya mencengkram kedua bahu gadis itu.


"Kau akan tahu setelah mendengar penjelasan dari Bastian, dan Lucas!" Setelah itu, Nakyung pun kembali menarik lengan Jacob untuk kembali berjalan.


Hingga ketika mereka tiba di ruang keluarga, Jacob pun mendapati kedelapan remaja didikannya yang sudah menunggunya di sana.


"Dimana Alesha?" Jacob langsung mengutarakan pertanyaan itu.


"Duduklah, aku, dan Lucas akan menceritakannya padamu," Bastian membawa Jacob untuk terduduk disofa besar.


Wajah Jacob terlihat begitu tegang, jemari-jemarinya bahkan terasa dingin. Tersembunyi sebuah pengharapan besar dalam kedua iris hitam pria itu.


"Huft..." Seperti akan menceritakan sebuah kisah menegangkan, Bastian menghembuskan napasnya dengan satu hentakkan.


"Dimana Alesha?" Pupil mata Jacob membesar, kepenasaranan membludak dalam dirinya.


Bastian pun melirik lalu menatap balik kedua netra hitam Jacob dengan lekat.


Ragu.


Bastian ragu. Ia bingung bagaimana harus memulai ceritanya, bagaimana cara ia menjelaskan pada Jacob tentang Alesha.


"Bas!" Jacob sedikit membentak Bastian. "Dimana Alesha? Kau sudah menemukan dia?"

__ADS_1


Bastian masih terdiam. Bibirnya melipat, matanya bergerak ke sana kemari seperti orang kebingungan.


"Bastian! Katakan padaku apa kau sudah menemukan Alesha!" Kini Jacob mulai meninggikan tensi bicaranya.


"Bas..." Maudy menepuk bahu Bastian. "Katakan saja sekarang, Mr. Jacob harus tahu."


Lucas bangkit berdiri untuk berpindah tempat duduk menjadi disebelah Jacob.


"Mr. Jacob, kami akan menceritakan sesuatu padamu, tapi tolong biarkan kami menjelaskan semuanya sampai tuntas dulu."


"Apa itu tentang Alesha?" Sambar Jacob.


Lucas mengangguk. "Iya."


"DIMANA? DIMANA ALESHA? KALIAN MENEMUKANNYA? KENAPA TIDAK KALIAN BAWA DIA KE SINI? KENAPA KALIAN TIDAK MEMBERITAHUKU JIKA KALIAN BERHASIL MENEMUKAN ALESHA?" Tiba-tiba Jacob memberontak, bahkan suaranya begitu menggema di ruangan itu.


"Mr. Jacob, tunggu, sabarlah, biarkan kami menjelaskan padamu tentang Alesha. Jika kau tidak tenang maka aku dan yang lain tidak akan menceritakan apapun tentang Alesha!" Ancam Lucas seraya menarik tubuh Jacob untuk terduduk kembali.


"Tenang dulu, kami akan langsung menceritakan padamu, tapi kau berjanji tidak akan memotong penjelasan kami!" Sambung Lucas.


"Iya. Baiklah!" Jacob mengangguk dengan perasaan yang tercampur aduk. Dadanya naik turun lebih cepat, tatapan matanya juga begitu utuh menatap pada Lucas.


"Huft...." Lucas menghembuskan napasnya terlebih dahulu sebelum ia akan memulai ceritanya. "Jadi begini, Mr. Jacob..."


Flashback 5 Days Ago .........


Hari itu, Bastian, dan Lucas mendapatkan tugas dari SIO untuk pergi mengunjungi rumah salah satu profesor yang berada di salah satu pedesaan di Amerika Serikat.


Singkatnya, Bastian, dan Lucas pun pergi ke sana. Mereka berdua tidak tahu tugas apa yang harus mereka lakukan, yang mereka tahu adalah mereka diberikan perintah untuk mengunjungi rumah profesor itu.


Lalu, mereka berdua pun tiba disebuah jalan setapak, disalah satu pedesaan yang menjadi tempat tinggal profesor SIO itu


Tepat di depan mereka kini, terdapat sebuah rumah sederhana khas pedesaan. Bastian, dan Lucas cukup terkesima dengan pemandangan di pedesaan itu, sangat asri, dan indah, jauh dari polusi dan hiruk pikuk perkotaan.


Tok... Tok... Tok....


Kepalan tangan Lucas mengetuk pintu rumah sang profesor tersebut.


Ceklek.


Pintu terbuka, dan munculah seorang pria paruh baya yang bukan lain adalah Profesor Darwin.


"Kalian berdua," Wajah Profesor Darwin tampak senang saat mendapati kehadiran Bastian, dan Lucas. "Selamat datang, ayo masuk," Sambutnya.


Bastian, dan Lucas sama-sama tersenyum lalu melangkah memasuki rumah kayu itu.


"Bagaimana kabarmu, Profesor?" Tanya ramah Lucas.


"Aku baik, kalian?" Tanya balik Profesor Darwin sembari menuangkan jus buah ke dalam gelas Bastian, dan Lucas.


"Kami baik, Profesor, dan terima kasih untuk jusnya," Jawab Bastian.


Profesor Darwin tersenyum. "Syukurlah."


Kemudian Profesor Darwin berjalan menuju sebuah lemari. Ia mengambil sebuah camilan lain untuk disuguhkan kepada dua pria yang baru saja tiba di rumah kayu itu.


"Kalian datang diwaktu yang tepat," Profesor Darwin duduk dibangku yang berhadapan langsung dengan Bastian, dan Lucas. "Aku memang sedang membutuhkan kalian saat ini."


Bastian, dan Lucas sama-sama menunjukkan raut bingung pada wajah mereka.


"Sebenarnya aku tidak akan tinggal di tempat ini karna aku hanya akan melakukan penelitian saja di sini. Namun, ada satu hal yang membuatku memanggil kalian berdua ke sini."


Ucapan Profesor Darwin barusan membuat Bastian, dan Lucas semakin dilanda kebingungan, dan kepenasaranan. Ada apa memangnya?


"Aku sengaja meminta dua orang terdekat Jacob untuk menemuiku secepatnya. Aku tahu kalau sudah satu tahun ini Jacob kehilangan istrinya, aku cukup kenal dengan Alesha, dan aku harap apa yang aku lihat beberapa hari ini bisa membantu kalian untuk membawa Alesha kembali pada Jacob."


Bastian, dan Lucas langsung terkejut setelah mendengar ucapan Profesor Darwin barusan. Sungguh, mereka berdua tidak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka akan apa yang mereka dengar barusan.


Apakah Profesor Darwin bertemu dengan Alesha? Pikir Bastian, dan Lucas.


"Aku sengaja memberitahukan hal ini pada kalian berdua terlebih dahulu karna aku tidak ingin memberikan harapan palsu untuk Jacob, dan rekan kalian yang lain, aku takut kalau ternyata aku salah lihat atau salah mengira, dan hal itu pasti akan membuat Jacob sangat kecewa. Jacob adalah pria yang baik, ramah, dan tidak pernah mengecewakan SIO, bahkan dia pun selalu membantuku. Maka dari itu, entah kebetulan atau bagaimana, beberapa hari ini aku selalu melihat seorang wanita yang sangat mirip dengan Alesha, rumahnya tidak jauh dari sini, aku ingin membantunya, maka dari itu aku juga meminta bantuan dari kalian berdua untuk mencari tahu tentang wanita itu."


"Dimana dia?" Tiba-tiba saja Bastian berseru, dan membuat Profesor Darwin juga Lucas terkejut. Bastian menatap begitu lekat pada Profesor Darwin.


"Aku sering melihatnya sedang bermain bersama dua ekor kelinci, dan dua ekor kucing di ladang rumput depan rumahnya," Jawab Profesor Darwin.


"Dimana rumahnya?" Kini Lucas lah yang bertanya.


"Bersama seorang pria!" Pekik Bastian, dan Lucas bersamaan.


"Iya, dia tinggal bersama seorang pria. Lebih baik kalian cari tahu saja langsung sekarang," Profesor Darwin melirik pada jam yang melingkar ditangannya. "Jam sembilan. Waktu yang tepat! Dia biasanya sudah berada di ladang rumput itu untuk bermain! Kalian cepatlah ke sana sekarang!"


Tanpa membuang banyak waktu, Bastian, dan Lucas pun bangkit dari duduk mereka.


"Profesor Darwin, kami sangat sangat berterima kasih banyak untuk informasi ini, semoga saja wanita yang kau lihat itu benar Alesha," Ucap Bastian penuh ketulusan.


"Ia sama-sama. Aku hanya ingin sedikit membantu," Balas Profesor Darwin.


"Yasudah, kalau begitu kami pergi dulu sekarang. Permisi..."


Profesor Darwin mengangguk lalu membiarkan Bastian, dan Lucas pergi menuju tempat yang sudah ia beritahu tadi.


"Semoga saja itu benar Alesha. Aku harap begitu, aku kasihan terhadap Jacob. Pasti dia sangat terpukul," Gumam Profesor Darwin sembari memandangi Bastian, dan Lucas yang berjalan menjauh.


"Bas, kira-kira bagaimana menurutmu? Kau yakin wanita itu Alesha?" Tanya Lucas yang mengiringi langkah kakinya juga kawannya untuk menuju tempat yang sudah Profesor Darwin beri tahu tadi.


"Alesha atau bukan kita harus tetap mencaritahunya. Kesempatan sekecil apapun harus kita ambil agar bisa menemukan Alesha. Aku sudah lelah melihat Mr. Jacob yang dipenuhi oleh kekosongan sejak Alesha menghilang," Jawab Bastian.


Lucas hanya mengangguk-angguk kecil sebagai bentuk respon dari ucapan kawannya barusan.


Langkah mereka pun terus membawa mereka untuk mendekati tempat tujuan dimana terdapatnya sebuah rumah di ujung jalan setapak.


"Apa itu rumahnya, Bas?" Tanya Lucas sembari menghentikan langkah kakinya.


"Sepertinya," Jawab Bastian, ragu.


"Hey! Lihatlah! Ada seorang pria keluar dari dalam rumah itu!" Ucap Lucas secara tiba-tiba dengan tensi suara yang sangat rendah.


"Wajahnya seperti rumpun Melayu," Kedua mata Bastian menyipit menelisik pria yang baru saja menutup pintu rumah, dan berjalan.


"Kita ikuti dia!" Lucas langsung menarik lengan Bastian, dan berjalan cepat namun mengendap-endap.


Dua kawan Alesha itu sempat diperhatikan oleh beberapa orang karna gelagat mereka yang aneh, dan mencurigakan, namun meski begitu mereka berdua tetap bergerak samar mengikuti kemana perginya pria itu.


Hingga sekitar tiga menitan berlalu, mereka berdua tiba disebuah hamparan padang rumput yang begitu indah. Mereka bersembunyi di balik pohon.


"Bas, jantungku berdebar kencang," Ucap Lucas, pelan. Kedua matanya melebar sempurna saat menangkap sosok wanita yang sedang asik bermain dengan dua ekor kucing, dan satu ekor kelinci. Wanita itu memakai baju dress sebetis berwarna cream dengan rambut bergelombang yang jatuh tergerai. Namun, baik Lucas mau pun Bastian, mereka sama-sama belum melihat wajah wanita itu karna wanita itu tidak menghadap ke arah mereka.


"Lisha!!"


Deg!


"Lisha?" Ucap Lucas, dan Bastian bersamaan dengan ekspresi bingung yang sama-sama langsung tercetak juga.


"Dia memanggil wanita itu, Lisha, Lu," Ucap Bastia tanpa membelokkan pandangannya sedikit pun dari wanita yang berada di tengah padang rumput itu.


"Alesha... Lisha.... Mungkinkah?" Gumam Lucas.


"Semoga saja," Balas Bastian.


"Lisha!" Pria yang sejak tadi diikuti oleh Bastian, dan Lucas pun kembali memanggil wanita yang sedang menjadi sasaran fokus kedua netra Bastian, dan Lucas.


"Rangga?" Gumam wanita itu. Dan sejurus kemudian...


"Ranggaaaaa......."


Deg!


Bastian, dan Lucas tercekat sesaat hingga kemudian......


"ALESHA!!!" Pekik Bastian, dan Lucas yang sama-sama terlonjak kaget setelah melihat wanita itu memutar tubuhnya, dan berlari kecil menuju pria yang bernama Rangga tersebut.


Lucas, dan Bastian saling menatap satu sama lain. Kedua mata mereka sama terbelalaknya seakan baru saja melihat hal yang sangat amat mengejutkan diri mereka.


Ya, memang benar! Mereka sungguh sangat terkejut! Sangat sangat! Bagaimana tidak? Lisha, wanita yang dipanggil Lisha itu seperti Alesha kedua, atau ya mungkin memang itu adalah Alesha mengingat sebutan namanya terdengar sama, dan hanya sedikit berbeda, belum lagi ciri khas wajah yang benar-benar membuat Bastian, dan Lucas yakin jika itu adalah Alesha.


"Rangga...."


"Lisha, ada apa? Kenapa wajahmu terlihat seperti itu?" Tanya Rangga yang mendapati Lisha, atau Alesha yang menekuk raut wajahnya.

__ADS_1


"Bonny hilang, aku sudah mencarinya!" Jawab Alesha sembari menghentakkan kakinya dengan sebal.


"Bagaimana bisa?" Tanya Rangga sembari mengelus lembut puncak kepala adik angkatnya, Alesha.


"Aku tadi meninggalkannya sebentar bersama Bunny, Moza, dan Mauza. Aku mengambil buah apel dipohon itu," Alesha menunjuk pada salah satu pohon. "Tapi setelah itu Bonny hilang. Aku sudah mencarinya, dan aku tidak menemukannya," Alesha terlihat sangat kesal.


Kresek.... Kresek....


Tiba-tiba saja Bastian, dan Lucas mendengar bunyi rerumputan dibelakang mereka bergoyang.


Kresek... Kresek...


"Apa itu?" Tanya Bastian.


Lucas menoleh, dan...


"Itu kelinci!" Ucap Lucas.


Bastian pun memutar tubuhnya mengikuti arah tubuh Lucas.


"Jangan-jangan itu adalah kelinci Alesha! Kelinci yang ada di sana hanya ada satu," Ucap Bastian.


"Kau benar! Profesor Darwin tadi bilang bukan kalau wanita yang sering ia lihat, dan mirip dengan Alesha itu selalu bermain dengan dua ekor kelinci, dan kucing," Sambung Lucas.


"Kalau begitu ayo kita ambil!" Bastian bergerak perlahan mendekati kelinci itu.


"Untuk apa?" Tanya Lucas.


"Untuk memandekati Alesha jika pria itu pergi."


Lucas diam tidak membalas, dan membiarkan temannya itu terus bergerak perlahan mendekati kelinci yang sepertinya milik Alesha.


"Aku dapat!"


Brugh!


"Yes!"


Meski terjatuh akhirnya Bastian berhasil meraih kelinci itu.


"Bas, Bas! Lihatlah pria itu pergi meninggalkan Alesha!"


"Kita buat rencana!"


"Rencana apa?" Tanya Lucas.


"Kau ke sana dekati dia, dan bawa dia ke sini, bilang kalau kau menemukan kelincinya!"


"Kau memang pintar, Bas!"


Smirk Lucas terbentuk, dan sejurus kemudian ia pun berjalan cepat dengan lirikkan mata waspada yang tertuju pada Rangga.


"Alesha...." Panggil Lucas. "Alesha!" Tidak ada respon. Kenapa Alesha tidak melirik padanya? Padahal barusan ia memanggil.


"Hey!" Lucas menepuk bahu Alesha.


"Astagfirullah!" Alesha pun terlonjak, dan langsung memutar tubuhnya menghadap Lucas. Tapi tidak, tepatnya dada seorang pria.


"Alesha..." Lucas membungkukkan tubuhnya seraya menatap lekat pada Alesha.


Refleks, Alesha mundur beberapa langkah.


Alesha? Siapa? Alesha jadi bingung saat mendengar pria itu memanggilnya dengan nama 'Alesha'.


"Alesha...." Lucas tercekat, matanya terpaku pada wajah manis yang sangat amat mirip dengan kawannya.


Sedangkan Alesha, ia terlihat bingung. "Ehmm, Alesha? Maaf, kau siapa?"


Deg!


Ekspresi wajah Lucas berubah datar dalam sekejap setelah mendapat pertanyaan yang terucap polos dari dalam mulut Alesha.


Siapa dia? Siapa Lucas? Alesha pasti bercanda.


"Alesha... Kau jangan bercanda!"


"Bercanda? Ehm, maaf tapi kau siapa? Apa ada yang mesti aku bantu?"


Tidak mungkin! Lucas tidak percaya dengan ucapan Alesha barusan.


"Aku Lisha."


Eh!


Lucas terkesiap ketika tiba-tiba saja Alesha menujulurkan tangan sembari tersenyum padanya seperti orang yang mengajak berkenalan.


"Kau siapa? Kau pasti orang baru ya di sini?" Alesha bertanya sangat ramah, dan hal itu semakin membuat Lucas kebingungan.


"Hey, kenapa diam?" Alesha sedikit memiringkan kepalanya.


Ah, manisnya. Alesha terlihat imut dengan poni tipis, dan rambut indah yang tergerai rapi, belum lagi pakaian dress feminim yang menambah kesan Innocent dalam diri Alesha. Seandainya saja ada Jacob, pasti Alesha sudah tidak akan dilepaskan dari pelukan suaminya itu. Pikit Lucas.


"Kau pasti sedang mencari seseorang yang bernama apa? Aku lupa... Ah ya! Alesha!" Alesha menjentrikkan jemarinya. "Tapi aku tidak tahu di tempat ini ada yang bernama Alesha."


Alesha, kau yang bernama Alesha. Apa yang sebenarnya terjadi denganmu?....... Lucas bertanya-tanya dalam pikirannya.


"I-ya, a-aku sedang mencari seorang wanita yang bernama Alesha. Oh ya, sepertinya kau kehilangan kelincimu ya?" Lucas mengalihkan arah pembicaraan.


"Bonny! Kau melihat kelinciku?" Seru Alesha.


"Ya, aku menemukannya di sana, ayo ikuti aku," Ucap Lucas.


Tanpa ragu, Alesha pun langsung berjalan berdampingan dengan Lucas menuju jejeran pohon yang mana terdapat Bastian di sana.


Alesha... Apa kau sengaja melakukan ini? Ini kau kan? Wajahmu, bahkan semuanya, kecuali penampilanmu saja yang berubah. Al, ada apa denganmu? Mr. Jacob mencarimu, dia sangat terpukul karna kau menghilang, Alesha...... Lirih Lucas dalam hatinya. Wajahnya terlihat sedih, lirikan matanya pun tidak teralihkan dari Alesha yang nampak cerah ceria.


"Bonny!!" Pekik Alesha sembari berlari menghampiri Bastian. "Boleh aku mengambil kelinciku?" Mohon Alesha pada Bastian.


Bukannya memberikan kelinci yang ia peluk pada Alesha, Bastian malah terlihat aneh, dan kebingungan.


"Alesha.... Ini benar kau kan?" Gumam Bastian yang dapat terdengar oleh Alesha.


"Aku Lisha, dan itu kelinciku, Bonny, boleh aku mengambilnya?"


"Lisha...... Lisha......."


Lucas, Bastian, dan Alesha sedikit terkejut kala mendengar suara Rangga yang mencari keberadaan Alesha.


"Rangga!" Alesha mulai panik. "Tuan, boleh aku mengambil kelinciku? Aku harus segera kembali."


"Lisha..... Lisha...."


"Tuan....." Pupil mata Alesha melebar, memohon pada Bastian supaya mau mengembalikan kelincinya.


"Iya, ini kelincimu," Lucas meraih Bonny dari Bastian, dan segera menyerahkannya pada Alesha.


"Terima kasih banyak, Tuan sudah menemukan kelinciku," Ucap Alesha dengan tulus.


"Lisha.... Lisha..."


"Tuan aku harus pergi dulu, dia mencariku. Tunggu di sini sebentar jika kalian butuh bantuan, aku akan membantu kalian, dan aku akan segera kembali!" Alesha langsung memutar tubuhnya, dan berlari menuju Rangga yang sedang mengelilingi padang rumput sembarang meneriaki nama panggilannya.


"Bas...."


"Lu....."


Wajah Bastian, dan Lucas begitu datar tanpa ekspresi, tubuh mereka mematung di tempat, dan sama sekali tidak bisa berkomentar apapun setelah Alesha pergi berlari.


Apa yang terjadi pada Alesha?


Pernyataan itulah yang terus terngiang pada kepala, Bastian, dan Lucas saat itu.


"Ayo kita pergi dari sini!" Bastian langsung menarik lengan Lucas, dan langsung melesat tepat sebelum Alesha, dan Rangga dapat melihat mereka yang berada di balik pepohonan.


Flashback Of.........


Jacob merasakan tubuhnya yang lemas, sorot matanya sayu sedih membuat Bastian, dan ketujuh kawannya merasa semakin prihatin.


"Alesha pasti bercanda...." Lirih Jacob. "Dia pasti bercanda. Dia tidak mungkin lupa ingatan kan?"

__ADS_1


"Aku, dan Bastian berada di sana sekitar tiga hari, dan kami selalu mendekati Alesha saat pria yang bernama Rangga itu pergi. Kami rasa Alesha memang lupa ingatan, Mr. Jacob," Ucap Lucas.


"Kalau begitu aku akan pergi ke sana saat ini juga!" Jacob bangkit berdiri. "Jika Alesha memang mengalami amnesia, maka aku yang akan membuat dia mengingat semuanya kembali!"


__ADS_2