
Alesha termenung sendiri disofa balkon kamarnya. Terdiam, menunduk sedih, dan dalam seakan sesuatu membuatnya begitu terpuruk.
"Hiks. Kenapa?" lirihnya bersama air mata yang turut menetes satu demi satu.
Apa yang Alesha rasakan sekarang begitu membuatnya sakit, dan terluka. Hatinya seperti tidak percaya, begitu pun dengan pikirannya. Tapi ingatan itu. Alesha ingat, saat malam hari ketika ia menginap di kamar Laras, di WOSA, Laras menceritakan tentang Yuna, dan juga keterpurukkan Jacob ketika Yuna menghilang. Tapi yang paling menyakitkan adalah saat ketika dimana berkali-kali Jacob menyamakannya dengan Yuna.
Jacob mencintainya karna pria itu menganggap ia adalah Yuna, dan bersamanya, pria itu merasa dekat dengan Yuna! Itu yang Alesha ingat, dan dapati sekarang. Kenapa Jacob begitu jahat? Memanfaatkannya demi bisa terus bersama dengan sosok yang sudah jelas sudah meninggal dunia.
"Hiks, Mr. Jacob jahat! Hiks hiks."
"Alesha...." panggil Jacob yang tiba-tiba saja datang. "Lil Ale? Sayang, ya ampun! Kau kenapa? Alesha...." Jacob nampak panik saat mendapati istrinya yang sesegukkan, dan terisak pelan.
"Hiks, pergi!" usir Alesha, tak perduli.
Deg!
Jacob tertegun sejenak. Ada apa?
"Lil Ale..." Jacob berusaha untuk menyentuh wajah istrinya, akan tetapi....
"Jangan sentuh aku!" Alesha menghempas kasar lengan suaminya begitu saja. "Aku membencimu, Mr. Jacob! Pergi dari hadapanku!"
"Al, kau kenapa?" lirih Jacob benar-benar tak menyangka mendapati perlakuan seperti itu dari Alesha.
Alesha menoleh, menatap luruh penuh benci pada suaminya. "Aku membencimu!" tekannya.
Jacob terdiam. Telak!
"Aku membencimu, Mr. Jacob! Pergi dari hadapanku! Dan bila perlu tidak usah anggap aku sebagai istrimu!"
Deg!
Perkataan Alesha barusan sukses menikam keras lubuk hati Jacob hingga membuatnya tak dapat berkutik sama sekali!
Alesha bangkit berdiri. "Aku bukan Yuna!" tekannya sekali lagi dengan ekspresi kebencian yang tertera jelas. "Jangan pernah samakan aku dengan Yuna! Jika kau menginginkan Yuna mu! Kembali lah padanya! Tidak usah pikirkan aku karna aku bukan ratu yang begitu kau cintai itu!"
Tanpa basa-basi, Alesha berlalu pergi dengan langkah yang dipenuhi oleh emosi.
"Tidak.... Alesha, kau salah paham...." lirih Jacob nyaris tanpa suara. Sejenak, pandangannya masih kosong dengan tubuhnya yang membeku di tempat. Sampai ketika, hentakkan keras dari pintu yang ditutup membuat Jacob tersentak.
"Alesha, tunggu!" Jacob berlari mengejar sang istri.
Sementara Alesha sendiri, ia berlari juga menuju kamar Rangga dengan iringan tangis, dan air mata yang terjatuh disetiap langkahnya.
Brak!
Alesha membuka pintu kamar Rangga dengan kasar.
"Rangga...... Hiks..."
Rangga yang semula asik terduduk disofa pinggir jendela bersama gawai pintarnya pun lantas terkejut, dan panik sebab melihat Alesha yang berlari ke arahnya sembari menangis.
"Hiks hiks. Ranggaaa...." Alesha berdiri dihadapan sang Kakak.
Rangga beranjak bangkit dari duduknya. "Alesha, kenapa?" tanyanya, panik.
"Hiks, aku ingin pulang...." Alesha berjinjit, dan memeluk leher Kakaknya begitu saja. "Aku ingin pulang, hiks. Aku ingin kembali pada kakekku, hiks, Mr. Jacob jahat! Aku membencinya!"
Sebentar. Ada apa ini? Pikir Rangga. Sungguh, ia benar-benar bingung!
"Kenapa? Jacob kenapa? Dia kasar padamu?" tanya Rangga, membalas pelukkan adiknya.
Alesha menggelengkan kepala. "Tidak. Hiks, aku ingin pulang, hiks hiks, pokoknya aku ingin pulang sekarang! Aku ingin kembali pada kakek, hiks."
"Al, apa yang terjadi?" tanya Rangga sekali lagi.
"Aku tidak memiliki tempat di sini, hiks, aku ingin pulang, hiks. Mr. Jacob tidak mencintaiku!"
"APA?!" pekik Rangga.
"Dia tidak mencintaiku, Rangga, hiks, dia tidak mencintaiku!"
"Apa? Tapi bagaimana bisa?"
"Jangan banyak bertanya! Hiks. Aku ingin pulang sekarang! Kau harus, hiks, mengantarku pada kakekku!" bentak Alesha.
Sepersekian detik kemudian....
Brak!
Pintu kamar terbuka kembali.
"Alesha!"
Deg!
Tubuh Jacob tercekat! Lagi. Apa ini?! Alesha berpelukan dengan Rangga?!
Alesha memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat menghadap, dan membidik penuh amarah pada suaminya.
"Aku akan kembali pada kakekku sekarang! Aku akan pulang! Dan kau!" Alesha menunjuk keras pada Jacob. "Kau tidak bisa melarang ku!"
"Alesha, kau salah paham!" Jacob berlari menghampiri istrinya.
"APA?" Alesha menantang. "Aku bukan Alesha! Aku Yuna! Benar, bukan, Mr. Jacob?!"
"Tidak itu tidak benar!"
"BOHONG!!" Alesha menghempas kasar kedua lengannya. "Aku tahu alasannya sekarang kenapa kau melarang ku untuk mengingat Yuna! Kau takut kehilangan sosok Yuna yang ada dalam diriku, kan?"
"Sayang, dengar..."
"Cukup! Tidak usah panggil aku dengan kata itu atau embel-embel lain! Ingat, Mr. Jacob, aku bukan Yuna! Cari saja Yuna yang lain! Aku tidak perduli!"
"Ayo, Rangga!" Alesha menarik lengan Rangga dan berniat untuk pergi. Akan tetapi aksinya itu dihentikan oleh Jacob.
"Tidak! Dengarkan aku dulu!"
"Tidak usah menyentuhku!!"
Bugh!
Bugh!
Alesha mengeluarkan sedikit kemampuan bela diri yang sudah suaminya ajarkan pada suaminya sendiri agar pria itu tak menghalanginya.
"Argh!" Jacob meringgis kesakitan saat tonjokkan keras Alesha menikam luka bekas tembakan diperutnya.
__ADS_1
"Ayo, Rangga!" dan tanpa perasaan, Alesha berlalu begitu saja meninggalkan Jacob yang tersungkur di lantai.
"ALESHA!! ALESHA!!"
Di luar, Taylor, Merina, Mike, Tyson, dan yang lain yang baru saja tiba di lorong dekat kamar Rangga langsung berhenti melangkah saat mendapati Alesha yang terlihat beramarah sembari menarik Rangga.
"Alesha..." panggil Merina.
"ALESHA!!! Argh!" teriak Jacob. Pria itu sulit untuk bangkit sebab tikaman yang Alesha layangkan padanya begitu kencang, dan tepat sasaran.
"Tuan!" Taylor melanjutkan langkah, dengan berlari menuju tuannya. Sementara Merina, Mike juga Tyson, mereka mengikuti Alesha.
"Al, ada apa?" tanya Merina, panik.
Alesha tak menjawab. Ia membuka lemarinya, dan meraih kopernya lalu memasukkan pakaiannya ke dalam benda itu.
"Al, kau mau kemana? Ada apa?" ulang Merina semakin panik.
"Alesha, apa-apaan ini?" sentak Laura yang baru saja tiba di kamar Alesha bersama Mona, dan Sharon. "Rangga, ada apa?"
Rangga menggelengkan kepalanya. "Saya tidak tahu, Nyonya," balasnya semeyakinkan mungkin.
"Kau mau pergi kemana Alesha?" Tyson berusaha menghentikan ulah Alesha, dan akhirnya...
Bugh!
"Jangan halangi aku!" Balas Alesha setelah meninju keras perut kawannya itu.
Sretttt....
Resleting koper Alesha tutup setelah ia beres memasukkan pakaiannya.
"Alesha, kau kenapa? Ada masalah apa dengan Jacob?" tanya Rangga, frustasi.
"Tanya saja langsung pada pria itu!" balas Alesha, kasar. "Ayo, bawa aku pulang!"
"Tidak!" tolak tegas Rangga. "Aku tidak akan membawamu pulang tanpa izin Jacob!"
"Oh begitu? Baiklah! Aku akan pulang sendiri!" Alesha berbalik badan dan berniat untuk melangkah, namun Rangga menahannya dengan gerakan cepat.
"Tidak! Kau tidak boleh!"
"Lepas!"
"Alesha, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Mona begitu terbingung-bingung.
"Al..." panggil Jacob yang datang dengan langkah tetatih, dan dibantu oleh Taylor.
"Nyonya, aku bukanlah menantumu!" tegas Alesha pada ibu mertuanya. "Menantumu adalah Yuna!"
"Yuna..." gumam Mona.
"Al, kau salah paham..." lirih Jacob.
"Salah paham? Itu kenyataan! Jelas aku mengingatnya!" balas Alesha, membentak suaminya. "Aku ingat, Mr. Jacob! Kau sangat sering menyamakan aku dengan Yuna! Kau bilang kalau aku membuat mu teringat, dan merasa dekat dengan Yuna! Kau bahkan menganggap jika aku adalah Yuna! Bukan Alesha! Kau mencintaiku karna kau memandangku sebagai Yuna mu! Kau menikahiku supaya kau bisa tetap merasakan Yuna mu! Benar, bukan?"
"Tidak! Kau salah!" elak Jacob. "Dengarkan penjelasanku!"
"Penjelasan apa?" Alesha menantang.
"Ya! Itu semua memang benar awalnya! Tapi sekarang berbeda, Alesha!" tegas Jacob.
"Alesha, kau belum mengingat semuanya!" Jacob melangkah tetatih mendekati istrinya.
"Apa lagi yang perlu aku ingat? Kau mencintai Yuna, bukan aku!"
"Yuna sudah meninggal, dan aku sudah mengikhlaskannya sejak lama karna kehadiran mu membantuku bangkit dari keterpurukkan karena kepergian Yuna! Alesha, percayalah..." Jacob terlihat pasrah.
Alesha mendongkak, menatap sendu berkaca-kaca pada suaminya. "Kau tidak mencintaiku, Jack," lirihnya.
"Tidak, sayang, aku mencintaimu, sungguh. Ingatan mu belum kembali semuanya. Kau tau jika aku sudah melupakan Yuna, kau tahu jika aku sudah benar-benar melepaskan perasaanku pada Yuna, dan kau juga tahu kalau kau adalah obat yang Allah kirim agar aku bisa bangkit, dan membangun kehidupan yang baru, yang jauh lebih baik lagi. Alesha..... Aku mohon, jangan pergi.... "
"Tidak, hiks." Alesha menggelengkan kepalanya. "Aku ingin pulang, hiks."
"Ini rumahmu, Al."
"Aku ingin kembali pada kakekku, hiks."
"Tinggalkan kami!" titah dingin Jacob pada orang-orang disekitarnya.
"Tidak! Aku ingin pulang!!" Alesha bersikeras.
"Tinggalkan kami! Sekarang!" Jacob semakin menegas.
"Kau tidak bisa menghalangiku, Mr. Jacob, tempatku adalah bersama kakekku!" Alesha meraih kopernya, dan berniat untuk melangkah, mengikuti yang lain, meninggalkan kamar. Akan tetapi sejurus kemudian....
"Ini rumahmu, sayang, ini tempatmu." Jacob meraih tubuh istrinya, dan mendekap begitu erat. "Taylor, kunci pintu itu dari luar!"
Taylor membalikkan tubuhnya sesaat. "Baik, Tuan," ia mengangguk, dan kembali melangkahkan kaki.
"Hiks, RANGGAA..... BANTU AKU KELUAR DARI TEMPAT INI!!!" Alesha memberontak. "LEPASKAN AKU!! RANGGAA....."
"Kembali lah ke kamarmu, Nona akan baik-baik saja bersama Tuan Jacob," ucap Taylor pada Rangga sembari mengunci pintu kamar Jacob.
"Kau yakin?" Rangga terlihat tak tenang.
"Tuan tidak akan melukai, dan bermain kasar pada Nona. Tenang saja," balas Taylor.
"Hiks, Jack, aku membencimu!!" Alesha bergerak sekuat tenaga demi terlepas dari dekapan suaminya.
"Aku mencintaimu, sayang..." balas Jacob, lirih.
"Tidak! Hiks, saat dipesta itu! Sebelum kita menikah! Kau bilang kalau aku mengingatkan mu pada Yuna! Itu bukan hanya sekali! Berkali-kali kau mengatakannya! Hati istri mana yang tidak sakit saat mengetahui jika suaminya menjadikan ia alat demi bisa terus merasa dekat pada sang mantan yang teramat dicintai? Hiks, Jack, aku tidak menyangka kau seperti itu. Hiks, kau bahkan bersikap kasar padaku saat aku hamil Khalid, dan Alshiba! Hiks, kau sibuk dengan pekerjaanmu, dan melupakan istrimu yang lemah karna tidak mampu menampung dua janin sekaligus. Hiks, aku harus berterima kasih pada Mike karna dia yang membawaku ke rumah sakit. Kau bilang aku mengganggumu! Kau bilang aku menghambat pekerjaanmu! Dan kenapa sekarang kau malah menghamiliku lagi jika kau saja tidak mau direpotkan oleh istrimu yang hamil?!"
"Maaf......" Jacob menelusupkan wajahnya pada lelukukkan leher sang istri yang tak henti-henti meronta.
"Kenapa sekarang kau malah membuat ku hamil kembali? Hah? Jawab aku!"
"Al, jangan seperti ini, aku mohon, tenanglah dulu, aku akan menjelaskan semuanya," lirih Jacob.
"Apa ingatan ku masih kurang jelas, Jack? Carilah Yuna mu karna aku bukan Yuna!"
"Kau memang bukan Yuna, sayang, hiks."
*****
Di lantai bawah, tepatnya ruang keluarga.
__ADS_1
Semua yang tadi menyaksikan perseteruan Jacob, dan Alesha, kini berkumpul bersama.
Mona, kakak Jacob itu terdiam, termenung sebab memikirkan sosok gadis yang ia pikir akan menjadi adik iparnya.
"Haii, Mona...." sapa ramah Yuna.
"Oh, haii..." sapa balik Mona tak kalah ramah.
"Ehm, tumben kau datang ke WOSA, ada apa? Oohh... Kau pasti mencari Mr. Jacob, ya? "
"Tidak, untuk apa aku mencari bocah keras kepala itu."
"Sungguh? Lalu, ada apa? "
"Ada rapat yang harus aku hadiri di sini."
Mona mengingat kala itu, dua minggu sebelum ekspedisi pencarian batu meteor di Himalaya oleh para murid WOSA, dan orang yang pertama ia temui saat itu adalah Yuna.
"Oh ya, Jacob bilang padaku jika dia berencana untuk melamar mu saat ujian terakhir kalian selesai."
Yuna terkekeh sembari tertunduk malu saat itu.
"Entahlah. Mr. Jacob belum mengatakan hal apapun padaku."
"Sungguh? Tapi, memangnya kau mau menikah dengan bocah menyebalkan itu? "
Lagi-lagi Yuna tertunduk sembari tertawa malu.
"Mr. Jacob memang menyebalkan, sangat menyebalkan, tapi dia bisa membuat siapa pun jatuh cinta padanya."
"Oowwhh..... Jadi, kau akan menerima lamarannya? "
"Kenapa tidak? Mr. Jacob selalu mewanti-wanti padaku jika aku tidak boleh menikahi pria mana pun selain dia."
"Huh! Dasar egois!"
"Oh, lihatlah, itu Mr. Jacob! "
Jacob melangkah santai mendekati kekasihnya.
"Haii, sayang."
Cup.
"Ehm, Mr. Jacob! " Yuna sedikit memberontak ketika Jacob mencium bibirnya begitu saja.
"Ergh, apa kalian selalu seperti ini saat bertemu? " Mona memutar kedua bola matanya dengan jengah.
"Ya."
"Tidak! "
"Mona? Kenapa kau baru tiba? Cepat, yang lain sudah menunggumu di aula! " ucap Jacob seraya merengkuh pinggang kekasihnya.
"Ugh! Ya ampun! Mr. Jacob! " Yuna balas menatap tajam mentornya.
"Kenapa, sayang? "
"Ehm, Mona, aku pikir, kami harus pergi dulu, sekarang sudah pukul satu, dan Mr. Jacob harus mengajar kami," ucap Yuna seraya berusaha melepaskan lengan kekasihnya dari pinggangnya.
"Oh tentu, silahkan," balas Mona, santai.
"Ayo, Mr. Jacob kita harus pergi sekarang, yang lain pasti sudah menunggu! " bisik Yuna.
"Mona..." Laura menepuk pelan bahu putrinya, membuat si empunya bahu tersebut tersentak. "Kau melamun? Ada apa?"
"Tidak apa-apa, ibu," balas Mona seraya tersenyum tipis.
Laura mengangguk pelan, namun sejurus kemudian, kepalanya melontarkan sebuah pertanyaan yang mesti ia tanyakan pada putrinya. "Mona, ibu ingin bertanya."
"Bertanya apa, Bu?"
"Siapa Yuna?"
Deg!
Sejenak Yuna tercekat. Siap Yuna? Mantan calon adik iparnya yang mati dalam gundukkan salju di Himalaya.
"Apa maksud ucapan Alesha tadi? Kenapa dia tiba-tiba marah kepasa Jacob seperti itu?"
"Yuna..." Mona nampak sedikit kebingungan. Bagaimana cara ia menjelaskannya?
"Yuna.... Di... Dia.... Dia adalah mantan kekasih Jacob, bu."
*****
Tiga jam berlalu.....
Alesha kini sudah dalam kondisi tenang, dan tengah berbaring miring dalam pelukkan suaminya.
"Mr. Jacob, hiks hiks. Jangan pernah samakan aku lagi dengan Yuna, hiks, aku bukan Yuna," lirih Alesha.
"Tidak, Al, apa selama ini aku pernah menyebut-nyebut tentang Yuna?"
Alesha menggelengkan kepalanya.
"Aku sudah melepaskan Yuna, Al, aku benar-benar sudah melepaskannya, bahkan dari sejak lama." Jacob mengangkat wajah Alesha untuk menghadap ke arahnya. "Lil Ale, maaf karna memang saat awal kita saling mengenal dulu aku sering menyamakanmu dengan Yuna, karna waktu itu hatiku belum terbuka sepenuhnya, dan sekarang," ia mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya. "Bahkan dari sejak kita belum menikah aku sudah sadar, jika kau dan Yuna itu berbeda."
Cup.
Satu kecupan menyusul lembut pada bibir Alesha.
"Aku mencintaimu, Al." Jacob kembali menelusupkan wajah sang istri pada dadanya. Mendekap si minimalis itu dengan erat.
"Mr. Jacob..."
"Hmmm...."
"Aku ingin pulang."
Deg!
Jacob bergeming. Apa Alesha masih marah? Dan belum memahami semua penjelasan yang telah panjang lebar ia katakan?
"Ini rumahmu, sayang."
"Tidak. Aku ingin bertemu dengan kakekku, aku sangat merindukannya, aku mohon," lirih Alesha.
__ADS_1
Jacob terdiam, berpikir.
"Jack, aku hanya ingin bertemu kakekku, apa salahnya? Aku sudah sangat lama tidak bertemu dengannya. Hiks, aku mohon...."