Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Perhatian Istri


__ADS_3

Sesampainya di kamar, Alesha sempat bertanya apakah tidak apa-apa jika ia, dan Jacob berada di kamar mereka karna mengingat adanya sosok hantu perempuan itu. Namun untungnya kakek Ujang sudah berhasil memindahkan sosok tersebut, jadi Alesha, dan Jacob sudah bisa kembali menempati kamar itu.


Kurang lebih lima menit Alesha, dan Jacob menunggu air panas, akhirnya seorang pelayan tiba, dan segera memasukan air panas tersebut ke dalam bathub yang sudah terisi oleh air dingin.


Kini di kamar tersebut tinggal tersisa Alesha, dan Jacob.


"Argh!" Jacob meringgis kecil ketika Alesha membuka baju kemejanya meski dengan perlahan.


"Ayo..." Alesha membantu Jacob berjalan menuju kamar mandi.


"Tunggu sebentar..." Ucap Alesha. Ia membalikkan tubuhnya untuk keluar dari dalam kamar mandi.


Ada apa? Pikir Jacob.


Beberapa detik berlalu, Alesha pun kembali dengan membawakan kursi dari meja rias.


"Untuk apa itu?" Tanya Jacob menatap bingung pada kursi yang Alesha bawa.


"Duduklah," Alesha tidak menjawab, melainkan membawa tubuh suaminya agar terduduk diatas kursi tersebut.


Alesha pun kembali sibuk dengan mengambil sebuah kain berukuran kecil, dan sabun cair.


"Kau mau memandikanku, Al?" Jacob terkekeh.


"Tidak, aku hanya akan membantumu membersihkan tubuhmu, Jack," Jawab Alesha.


"Tahan, mungkin akan sedikit perih," Ucap Alesha sembari mengambil beberapa gayung air hangat dalam bathub kedalam ember kecil.


Perlahan, Alesha mulai memeras kain kecil yang sudah ia celupkan kedalam air hangat dalam ember.


"Argh!" Jacob kembali meringgis ketika Alesha mulai mengelapi tubuhnya menggunakan kain itu.


Alesha sendiri mencoba untuk kuat, dan tidak menangis saat matanya menangkap jelas bagaimana tubuh kekar suaminya itu kini dipenuhi oleh luka lebam, dan beberapa sayatan dibagian lengan. Tangan Alesha bergetar, ia takut, pasti Jacob kesakitan.


Tapi Alesha harus kuat! Ia tidak boleh lemah hanya karna melihat banyak sekali lebam pada tubuh suaminya.


Miris...


Siapa orang yang berani melukai Jacob hingga seperti itu? Alesha sungguh tidak terima, jika saja ia tahu maka ia akan langsung menghajar balik orang yang sudah melukai suaminya itu.


"Argh, Al, pelan-pelan!"


"Maaf!!" Alesha langsung tersentak ketika suaminya itu meringgis. Memang saat ini Alesha sedang membersihkan bagian lengan sebelah kiri dimana ada sekitar empat luka sayatan.


Bekas darah itu. Meski sedikit ragu, dan takut-takut, Alesha tetap menjalankan tugasnya untuk membantu suaminya, Jacob membersihkan tubuh bagian atas.


"Sshhh, argh!!"


"Maaf, Jack," Alesha menatap sendu pada suaminya. Sungguh rasanya Alesha sangat ingin menangis. Ia sedih melihat luka-luka, dan lebam yang memenuhi tubuh Jacob saat ini.


"Tidak apa, sayang, malah aku yang minta maaf karna merepotkanmu," Balas Jacob sembari tersenyum manis.


Alesha tidak membalas apapun setelah itu. Ia terus fokus untuk membersihkan sisa darah, dan kotoran yang ada pada tubuh bagian atas suaminya menggunakan kain basah perasan air hangat tersebut. Baru setelah itu, Alesha mulai menyabuni tubuh Jacob dengan gerakan sangat pelan.


"Aw! Hahaha," Jacob tertawa kecil karna ia merasakan geli akibat pergerakan lembut dari telapak tangan Alesha disekitaran dadanya. "Geli, Al, hahaha."


Alesha tetap memfokuskan pandangannya, dan pekerjaannya untuk menyabuni seluruh area tubuh bagian atas Jacob, baik depan mau pun belakang.


Namun Jacob, ia tidak henti-hentinya memandangi wajah Alesha yang menyiratkan sebuah kesedihan, dan kekhawatiran.


"Mau berendam dulu?" Tanya Alesha, pelan.


"Iya," Jawab Jacob singkat tanpa mengenyahkan tatapannya dari si manis kesayangannya itu.


Alesha menangguk. Setelah beres menyabuni, Alesha kambali membersihkan tubuh suaminya dari sabun menggunakan kain perasan air hangat itu.


"Al..." Panggil Jacob.


"Hmm...." Balas Alesha.


"Al..." Jacob kembali memanggil.


"Apa?" Tanya Alesha tanpa menatap balik pada suaminya.


"Alesha..."


"Apa?"


"Tatap aku!"


"Sebentar.."


"Tatap aku sekarang!"


Alesha menghembuskan napasnya, lalu ia membawa wajahnya supaya bisa saling bertukar pandang dengan Jacob. "Apa?"

__ADS_1


"Terima kasih," Jacob menyunggingkan senyum tulusnya.


Alesha hanya terdiam menatapi suaminya. Ekspresi datar namun menyiratkan sebuah kesedihan, Jacob dapat membaca raut wajah itu.


"Aku baik-baik saja, Lil Ale," Lanjut Jacob dengan lembut. "Aku sudah biasa seperti ini, tidak usah khawatir."


"Hiks.." Refleks, Alesha langsung melipatkan kedua bibirnya ketika isakkan kecil itu keluar. Ingin rasanya Alesha menangis saat ini juga. Ia benar-benar tidak tega melihat luka-luka pada tubuh suaminya. Banyak sekali, belum lagi pada area wajah.


"Berapa orang yang menghajarmu hingga bisa sebanyak ini luka lebamnya, Jack?" Alesha bertanya dengan suara parau.


Jacob menyikapi pertanyaan istrinya itu dengan tawa kecil. "Tidak banyak, hanya beberapa saja."


"Bohong!" Alesha mendengus kesal. Tidak mungkin apa yang Jacob katakan barusan itu benar adanya, buktinya ada banyak sekali luka lebam, Alesha cukup tahu kemampuan suaminya. "Jika hanya beberapa orang saja kau tidak mungkin pingsan selama empat jam, dan mengalami luka lebam sebanyak ini!"


Alesha kembali mengelapi tubuh suaminya dengan kain perasan air hangat. "Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau bisa sampai pingsan selama itu? Siapa saja yang sudah melukaimu?"


"Aku, Aldi, Rendi, dan Levin mengejar seorang pencuri. Pencuri itu membawaku, dan Rendi ke dalam hutan, lalu tiba-tiba ada sebuah peluru yang melesat ke mobil kami. Kemudian aku membanting setir hingga mobil itu menghantam pohon lalu terbalik.."


"APA?!!" Alesha memekik kencang seraya menatap penuh keterkejutan pada suaminya. Ya, istri mana yang tidak terkejut ketika mendengar kalau mobil yang suaminya tumpangi menghantam pohon hingga terbalik hanya untuk menghindari sebuah peluru yang melesat?


"Hey, tenanglah, tidak perlu berlebihan seperti itu, itu belum seberapa, sayang, mereka bahkan membuangku, dan Rendi yang sudah tak sadarkan diri ke dalam jurang," Jacob terkekeh. Ia malah menganggap hal itu sebagai sebuah candaan biasa saat ini.


"APA?" Alesha semakin terkejut, dan kedua matanya semakin membulat.


"Syutt... Pelankan suaramu, tenanglah, Al."


"TENANG? KAU BILANG AKU HARUS TENANG SETELAH MENDENGAR MOBIL YANG KAU BAWA MENGHANTAM POHON LALU TERBALIK, BAHKAN KAU DIBUANG KE DALAM JURANG DALAM KEADAAN PINGSAN? JACK, AKU BENAR-BENAR KHAWATIR!! AKU TIDAK BERCANDA!!" Alesha kembali memekik dengan intonasi yang lebih tinggi. Dadanya sedikit naik turun untuk menyesuaikan emosinya yang sedikit terpancing.


"Syuutt.. Alesha, pelankan suaramu," Jacob menangkup wajah istrinya. Namun dengan cepat Alesha pun menangkisnya.


"Kau tahu! Aku di sini terus mengkhawatirkanmu! Aku terus menerus menghubungi ponselmu! Perasaanku benar-benar tidak karuan karna aku takut kau dalam masalah! Dan ternyata itu benar! Kau dihajar, lalu dibuang ke dalam jurang! Kau pikir aku tidak syok mendengar itu? Aku takut, Jack!" Alesha memghempaskan kedua lengannya dengan kasar. Air mata mulai menggenang, dan isakkan mulai terdengar. Alesha menangis. "Hiks, kau membuatku khawatir tahu tidak!"


"Ya ampun, Alesha..." Jacob terkesiap saat mendapati istrinya yang menangis sesegukan akibat rasa takut, khawatir, dan syok terhadapnya.


"Maafkan aku kalau begitu," Jacob meraih pinggang Alesha, dan membawanya masuk kedalam pelukannya.


"Maaf, Al," Ulang Jacob sembari mengelusi rambut hingga punggung Alesha.


Namun Alesha hanya bisa menangis saat ini, bahkan ia juga tidak membalas pelukan suaminya. Ia sungguhan takut, bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi dalam tubuh Jacob tanpa pria itu sadari?


"Aku baik-baik saja, Al, dokter SIO sudah memeriksaku tadi. Jadi, sebelum aku pulang ke rumah, aku terlebih dahulu dibawa ke SIO untuk diperiksa sampai keadaanku sudah membaik baru aku diizinkan pulang," Jacob terus mengelusi rambut, dan punggung istrinya. "Sudah jangan menangis lagi, aku baik-baik saja, aku hanya butuh istirahat."


Alesha tetap menangis dalam dekapan suaminya. Rasa takut, dan khawatir sungguh membuat perasaan, dan emosinya tidak karuan.


"Kau tahu, Al, biasanya aku mendapatkan yang lebih parah dari ini, dan aku malah beruntung karna saat ini ada kau yang membantuku membersihkan tubuh, biasanya aku sendirian sembari merasakan sakit, ngilu, dan nyeri diseluruh tubuh," Jacob berusaha untuk menenangkan istrinya yang masih saja menangis. "Sudah, jangan menangis lagi, aku tidak apa-apa sekarang. Semua baik-baik saja, Al."


Selepas itu, Alesha menundukkan wajahnya lalu berjalan keluar menuju walk in closet untuk mengambil pakaian tidur milik suaminya, Jacob. Sedangkan Jacob sendiri, kini ia sudah merendamkan tubuhnya di dalam bathub yang sudah diberi sabun cair hingga permukaannya dipenuhi oleh busa.


"Alesha...." Panggil Jacob.


"Ya, ada apa?" Sahut Alesha yang kembali masuk ke dalam kamar mandi, dan menghampiri suaminya.


"Bisa bantu aku?" Pinta Jacob sembari menarik lengan Alesha supaya istrinya itu terduduk dipinggiran bathub. "Ini," Jacob memberikan sebuah botol shampo pada Alesha.


Awalnya Alesha tertegun dengan kening yang berkerut, tapi sepersekian detik kemudian, Alesha pun paham.


"Baiklah, Tuan Muda," Alesha berucap selayaknya seorang pelayan kerajaan yang tengah melayani pangerannya. Tidak tidak! Tapi raja.


Kemudian Alesha meletakkan shampo cair itu pada telapak tangannya, barulah setelah itu busa-busa shampo pun mengembang pada rambut Jacob ketika Alesha mulai memijiti kepala suaminya.


Kedua mata Jacob terpejam, ia bahkan sedikit menyunggingkan senyumnya kala merasakan sentuhan, dan pijitan lembut pada kepalanya.


"Alshiba dimana, Al?" Tanya Jacob yang masih terpejam.


"Di kamar ibu, dia sedang tertidur," Jawab Alesha.


"Hmm, baguslah," Jacob menyeringai. Entah apalah yang ada dalam pikirannya itu.


Mungkin sekitar lima menitan berlalu, Alesha baru membilas rambut suaminya menggunakan air yang terkucur dari shower.


"Kau masih mau berendam?" Tanya Alesha yang dibalas anggukan oleh Jacob.


"Yasudah kalau begitu aku pergi dulu," Baru saja Alesha akan bangkit, Jacob sudah terlanjur menahan lengannya.


"Temani aku."


Jacob membuka kedua kelopak matanya lalu menatap pada Alesha.


"Temani aku di sini."


"Tapi, Alshiba?"


"Jika dia menangis ibu pasti akan langsung memanggilmu, Lil Ale."


Alesha berpikir sejenak. Ia kembali ke kamar ibu mertuanya untuk menemui putrinya yang tengah tertidur? Atau menemani Jacob di sini?

__ADS_1


"Sudahlah, Lil Ale, lagi pula kan Alshiba sedang tertidur, kau lebih baik bersamaku saja di sini," Bujuk Jacob.


"Tapi aku tidak mau merepotkan ibu, Jack."


"Tidak akan, Al, ibu sudah biasa mengasuh cucunya, Haris juga kadang di asuh oleh ibu karna Mona, dan William yang sibuk bekerja," Jacob menggenggam erat-erat jemari istrinya. "Sekali saja, kita sudah lama tidak menghabiskan waktu berdua," Mohon Jacob.


"Huft... Baiklah.." Alesha mengangguk.


"Nah gitu dong, Neng," Jacob mengedipkan sebelah matanya dengan genit.


"Ish, apa? Kau panggil aku apa barusan?" Alesha menatap pada Jacob sembari menahan tawanya.


"Panggil apa? Memangnya aku menanggilmu apa, Neng?" Jacob balik membercandai istrinya.


"Hahahah... Kau memplagiat panggilan kakekku tahu!" Alesha melipatkan kedua lengannya.


"Biar saja, Peri kecilku, My Lil Ale, Neng.." Jacob berlagak santai.


"Sebut saja semuanya!"


"Sweety, Sweetheart, Baby, Sugar, Honey, Lovely..."


"Stop! Stop!" Alesha membekap mulut suaminya. "Cukup!"


Setelah itu, tidak ada perbincangan lagi yang terdengar. Jacob asik memejamkan matanya sembari merasakan sensasi nyaman ketika jemari istrinya memijiti kepalanya.


Selang kurang lebih sepuluh menit barulah Jacob membuka kembali matanya. "Sudah, sudah, terima kasih, Neng Manis."


"Idih, dasar gombal!" Alesha pun bangkit untuk mengambilkan handuk milik suaminya.


"Ini, aku menunggu di luar." Setelah menyerahkan handuk itu, Alesha pun berjalan keluar kamar mandi.


"Alesha, Alesha..." Jacob menggelengkan kepalanya sembari tertawa kecil.


Di luar, tepatnya di tepi kasur, Alesha berdiri sembari memegangi baju piyama milik suaminya. Ia tersenyum-senyum sendiri sekarang, padahal tadi ia menangis karna sedih melihat keadaan tubuh Jacob yang dipenuhi oleh luka lebam.


Memang Jacob itu ya, selalu saja bisa membuat mood Alesha berubah-ubah.


"Aku tahu kau sedang memikirkan aku, Alesha," Goda Jacob yang sudah keluar dari dalam kamar mandi.


"Ish, percaya diri sekali," Balas Alesha. "Ini, pakai," Alesha menyodorkan baju piyama yang ia pegang pada suaminya, Jacob.


Tetapi Jacob, ia malah menundukkan tubuhnya, dan menatap menggoda pada istrinya. "Pakaikan."


"Tidak!" Balas Alesha, cepat. "Ini, pakai ini," Alesha menaruh paksa piyama itu pada lengan suaminya. "Cepat pakai!" Lalu Alesha menutup mata seraya membalikkan tubuhnya.


"Kenapa kau menutup matamu, dan membelakangiku?" Kekeh Jacob.


"Sudahlah, jangan banyak bertanya, pakai cepat!" Begitulah balas Alesha.


Jacob tersenyum geli sembari menggelengkan kepalanya. Ia masih saja tidak habis pikir pada Alesha yang kadang masih malu-malu, padahal kan mereka sudah menikah.


Tanpa memberitahu pada Alesha kalau ia sudah memakai pakaiannya, Jacob pun mendekat pada sang istri seraya memeluk dari belakang.


"Sudah, sayang.." Satu kecupan mendarat pada pipi sebelah kiri Alesha.


"Jack!" Alesha terkejut ketika tiba-tiba saja tubuhnya melayang.


Jacob mengangkat tubuh istrinya itu lalu membaringkannya diatas kasur.


Kini posisi Alesha berada tepat dibawah tubuh suaminya.


"Hey, apa yang kau lakukan? Aku harus menemui Alshiba sekarang!" Alesha menatap serius pada suaminya.


"Nanti saja," Balas Jacob sembari menggulingkan tubuhnya sendiri untuk berbaring miring, dan memeluk si minimalis kesayangannya itu. "Biarkan Alshiba tidur bersama neneknya malam ini, dan kita tidur di sini berdua."


"Tapi, Jack, bagaimana kalau ada yang mencari.."


"Tidak akan ada yang mencarimu. Mereka tahu kan kalau kau bersamaku di sini, dan mereka tidak akan mengganggu kita!" Potong Jacob.


"Tapi, Jack, aku.."


"Sekarang pejamkan matamu, dan tidurlah!" Jacob menelusupkan wajah Alesha pada dadanya.


"Jack, bagaimana kalau Alshiba bangun?" Alesha masih mencari-cari alasan.


"Ibu bisa mengatasinya, atau paling tidak ibu akan membawanya ke sini, sayang."


"Tapi...."


"Alesha! Turuti apa yang aku perintahkan!"


Alesha langsung diam, dan bungkam. It's okay, untuk malam ini ia akan membiarkan Alshiba tertidur dulu dengan neneknya, sesuai dengan permintaan, dan perintah dari suaminya.


Lalu Alesha memejamkan matanya, dan mulai tertidur. Begitu pun dengan Jacob.

__ADS_1


Kini mereka berdua sudah berada di alam mimpi masing-masing.


__ADS_2