
Keesokan harinya, Jacob pun pergi menuju kantor SIO karna mendapatkan sebuah berita khusus.
"Dimana Mr. Frank?" Tanya Jacob pada salah satu pegawai.
"Di ruangan, Jack."
"Oke, terima kasih."
Jacob kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan Mr. Frank. Namun, ketika Jacob melewati ruangan dimana Theora ditahan, tiba-tiba saja langkahnya terhenti.
Entah kenapa rasanya Jacob ingin sekali masuk ke dalam ruangan itu, dan melihat kondisi sahabatnya.
Sejenak Jacob terdiam, dan berpikir. Lalu ia pun membalikkan tubuhnya untuk berjalan mendekati pintu.
Theora yang tadinya sedang menunduk pun jadi mengangkat wajahnya ketika mendengar bunyi pintu yang terbuka.
"Jack?"
Jacob berjalan menghampiri Theora.
"Ada apa?" Tanya Theora, pelan.
"Tidak ada, aku hanya ingin memastikan kalau kau tidak kabur," Jawab Jacob, datar.
"Sungguh? Aku rasa kau berbohong, Jack," Theora memicingkan matanya.
"Terserah..." Jacob mengalihkan wajahnya supaya tidak saling bertatapan dengan Theora.
"Jack.." Panggil Theora, pelan.
Sekali panggilannya itu tidak dihiraukan oleh Jacob. Theora jadi bertanya-tanya, dan penasaran. Kenapa Jacob menemuinya saat ini?
"Jack..." Theora kembali memanggil pria yang selalu ia anggap sebagai sahabat itu.
Namun Jacob masih tetap acuh. Sebenarnya Jacob ingin sekali menyahuti ucapan Theora, tapi itu tidak mungkin karna Jacob sudah bisa menebak, pasti Theora hanya akan mengungkit tentang masa lalu mereka.
"Jack...." Tatapan Theora menjadi sendu.
"Kau membenciku," Kepala Theora tertunduk. Ia merasa sedih karna diacuhkan oleh Jacob.
Apa yang bisa Jacob lakukan? Ia tidak membenci Theora, hanya kecewa saja. Jacob tidak bisa membenci Theora karna Theora dulu sangat baik padanya, dan Theora juga selalu ada jika ia butuh seseorang atau pun bantuan. Jacob tidak enak hati jika sampai harus membenci sahabat yang selalu saja bersikap baik, dan tidak pernah meninggalkannya meski ia sedang kesulitan sekali pun.
"Jack, kau pasti sangat mencintai istrimu."
Deg!
Jacob sedikit tersentak ketika mendengar ucapan Theora barusan.
Kenapa memangnya? Tentu saja Jacob sangat mencintai Alesha.
"Kau pasti sangat menyayanginya, dan aku yakin kau tidak akan pernah mau membuka hatimu untuk wanita lain lagi, termasuk aku, gadis yang selalu berusaha untuk dekat, dan membantumu," Lanjut Theora.
"Aku sangat mencintainya, sangat! Amat! Mencintainya! dan aku tidak akan pernah membuka hatiku untuk wanita lain lagi, sekali pun itu untuk sahabat terbaikku," Balas Jacob, dingin, dan juga tanpa membalas sedikit pun tatapan Theora.
"Kau sudah melupakanku."
"Sudahlah, pembicaraanmu itu tidak berguna, kau tahu, Theora!" Sindir Jacob.
"Kenapa? Apa karna sekarang kita adalah musuh?"
"Lebih baik kau katakan dimana kakakmu menyembunyikan kelima profesor itu!"
"Apa untungnya untukku?" Tantang Theora. "Apa dengan aku memberitahu dimana kelima profesor itu kau akan kembali bersikap baik padaku, dan tidak membenciku?"
"Lupakan hal itu, Theora! Tidak ada gunanya kau membicarakan itu!"
"Kenapa tidak berguna?" Theora sedikit meninggikan suaranya.
"Jangan bawa-bawa masa lalu kita!"
"Kenapa kau berubah, Jack? Aku tahu aku bukan orang baik, tapi tolong hargai perasaanku!"
"Theora!"
"Apa? Hah!" Theora semakin meninggikan suaranya seakan menantang Jacob.
"Permisi.." Tiba-tiba saja seorang pelayan muncul, dan membawakan senampan makanan juga minuman untuk Theora.
"Tuan Jacob, Mr. Frank menunggu anda di ruangannya," Lanjut pelayan itu sambil menunduk.
Jacob mengangguk kecil. Sesaat kedua matanya menatap ke arah Theora, namun setelah itu ia pun langsung pergi untuk segar menemui Mr. Frank.
Pelayan itu pun akhirnya berjalan mendekati Theora.
"Pakai ini! Dan cepat ikuti aku!"
Theora sedikit terkejut dengan ucapan pelayan barusan. Apa maksudnya?
"Kau?"
__ADS_1
"Iya, aku salah satu anggotamu yang disuruh oleh Theo untuk membawamu keluar dari sini." Orang suruhan Theo yang menyamar menjadi pelayan itu pun membuka rantai yang mengikat lengan, dan kaki Theora menggunakan kunci yang entah ia dapatkan dari mana.
"Sudah, ayo cepat! Jangan membuang waktu! Aku sudah tahu jalan mana yang mesti kita lewati!"
Theora buru-buru memakai seragam yang biasa pelayan SIO pakai.
Tanpa banyak buang-buang waktu lagi, Theora bersama orang suruhan kakaknya itu pun pergi dengan gerak-gerik sesantai mungkin, namun tetap berwaspada.
Hingga ketika mereka berdua tiba di lorong penghubung area dalam, dan luar kantor, sebuah alarm berbunyi begitu kencang.
"Ayo! Mereka sudah tahu kalau kau menghilang!"
Mereka berdua akhirnya berlari secepat mungkin. Hingga tepat saat pintu bergerak untuk menutup, Theora, dan anak buahnya itu berhasil lewat diwaktu yang sangat tepat.
"HEI!!"
Seseorang meneriaki Theora, dan anak buahnya.
"Ayo, sebelah sini!"
Theora dibawa berlari memasuki kawasan hutan yang lebih dalam lagi, dan di belakang mereka, terdapat sekitar delapan orang agent SIO yang melakukan pengejaran.
Hingga saat Theora, dan orang suruhan kakaknya itu tiba diantar dua pohon besar yang mana terdapat mobil sedan, mereka berdua pun cepat-cepat masuk ke dalam mobil itu.
"Hubungi pihak SIO sekarang! Suruh mereka untuk melacak mobil Rolls Royce berwarna biru!" Perintah salah satu agent SIO.
Sementara itu di SIO, kini Jacob sedang berada di dalam ruang pengawas CCTV sedang meretas kamera jalan raya yang berjarak paling dekat dengan kantor SIO. Jacob sudah menerima pesan yang dikirim dengan sangat singkat oleh agent SIO yang mengejar Theora tadi.
"Dapat! Mobil Rolls Royce biru baru saja melewati jalan raya besar yang berjarak paling dekat dengan kantor SIO! Aku sudah menandai mereka!" Ucap Jacob. Kemudian ia segera mengambil alih akses kamera CCTV yang berada disemua jalan raya kota Bandung, tujuannya adalah untuk melacak, dan mengetahui kemana perginya, dan jalan mana saja yang dilewati oleh mobil itu.
"Aku, dan yang lain akan mengejar mereka sekarang! Hubungkan akses jalan, dan lokasinya dengan perangkatku, Jack!" Ujar Danish yang segera berlari bersama beberapa agent SIO lain.
"Tidak, tunggu!" Sahut Mr. Frank yang otomatis menghentikan langkah Danish bersama beberapa agent SIO. "Kita ikuti kemana mobil mereka melaju!"
"Tapi kita bisa kehilangan mereka Mr. Frank!" Balas Jacob.
"Tidak akan," Mr. Frank lalu mengeluarkan ponsel dari dalam saku jasnya. "Hallo, ikuti mobil Rolls Royce warna biru! Jacob akan tunjukkan jalannya padamu! " Setelah itu, Mr. Frank kembali menaruh ponselnya ke dalam saku jasnya.
...*****...
Kembali lagi kepada Theora, kini mobil yang ia tumpangi bersama pria yang sudah membawanya kabur dari SIO itu sedang melaju di jalan raya Tol Cileunyi.
"Kita akan kemana?" Tanya Theora.
"Markas baru di kawasan gunung Salak, Bogor."
"Markas baru?" Kening Theora berkerut.
"Theo akan ke sini?" Gumam Theora.
"Tapi kita pasti akan diikuti oleh agent SIO. Mereka bisa melacak mobil ini!"
"Tidak akan!"
"Tidak akan? Bagaimana bisa?"
Tidak ada jawaban yang Theora terima setelah itu, namun setelah beberapa lama mobil Rolls Royce biru itu melaju dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba saja dari arah samping Theora muncul sebuah mobil sedan berwarna hitam.
"Ini saatnya, Theora!"
"Apa? Untuk apa?"
Mobil sedan hitam tadi melesat melewati mobil yang Theora tumpangi.
"Beraksi."
Beraksi? Apa yang akan dilakukan pria itu?
"Nyalakan bom yang ada dibelakang!"
"Bom? Dimana?" Tanya Theora yang semakin menunjukkan raut bingungnya.
"Dibelakang, tas hitam!"
Theora memutar tubuhnya ke arah jok tengah.
"Tas ini?" Theora mengambil sebuah tas kecil yang ada di jok bagian tengah.
"Iya, ambil bomnya, dan atur waktunya menjadi satu menit!"
"Satu menit?" Pekik Theora.
"Ya, cepat lakukan sekarang!"
Segera Theora melakukan apa yang pria itu perintahkan. Entah akan bagaimana nasib nyawanya nanti.
Mobil Rolls Royce itu terus melaju dengan sangat cepat. Sedangkan kini, tepat sekali di depan mobil itu sudah ada sebuah truk tangki besar yang oleng ke kanan, dan kiri.
Truk tangki itu melaju tidak beraturan karna di depannya ada mobil sedan hitam yang dikendarai oleh anak buah Theo yang juga bergerak tidak beraturan.
__ADS_1
"Dua puluh detik lagi!" Pekik Theora yang mulai panik karna bom yang sedang ia pangku itu akan meledak sebentar lagi
"Tunggu, sedikit lagi."
Jantung Theora berdegub sangat kencang ketika mobil yang ia tumpangi semakin mendekat ke arah truk tangki besar yang melaju tidak jelas arah itu. Bahkan kini mobil yang Theora tumpangi pun sudah berada tepat disebelah bahu jalan.
"Theora, cepatlah kebelakang, dan buka pintunya, kita melompat sama-sama!"
Theora sedikit terkejut mendengar perintah pria yang sudah membawanya kabur dari SIO itu, namun cepat-cepat Theora melakukan hal yang barusan diperintahkan oleh pria itu.
Saat Theora sudah dibelakang, dan membuka pintu, pria itu segera beralih menuju jok disebelahnya, dan juga langsung membukakan pintu.
Mobil Rolls Royce itu sedikit oleng karna kehilangan pengemudinya.
"Sepuluh detik.." Gumam si pria yang melirik ke arah bom.
Sedangkan truk tangki yang jalannya diganggu oleh anak buah Theo pun kini semakin menukik ke arah bahu jalan.
"Hitungan ketiga kita melompat!"
Theora sudah sangat tegang karna tubuhnya akan segera berhantaman dengan aspal jalan.
"Satu...." Pria yang bersama Theora itu menatap penuh perhitungan pada truk tangki yang berada tepat beberapa meter dari mobil yang ia bawa.
"Dua....."
Jantung Theora sudah seperti alat mesin jahit yang bergerak begitu cepat dalam setiap detiknya.
"SEKARANG, THEORA!"
Theora terlonjak, dan seketika ia pun langsung membawa tubuhnya untuk melompat dari dalam mobil Rolls Royce yang berkecepatan tinggi itu.
Brugh!
"Argh!!"
DUAR!!!
Mobil yang Theora tumpangi bersama anak buah kakaknya itu kini meledak tepat saat menubruk truk tangki yang oleng itu.
...*****...
"Mr. Frank!" Panggil Jacob. "Mobil itu mendadak berhenti di kilometer seratus empat puluh tujuh!" Lanjut Jacob sembari terus memperhatikan layar komputer yang menunjukkan sebuah titik dimana mobil yang membawa Theora tiba-tiba saja berhenti.
"CCTV di sekitaran sana juga mati! Pasti ini ulah anak buah Theo!" Jacob berdecak sebal.
Tring.... Tring....
Mr. Frank langsung mengambil ponselnya yang berdering dari dalam saku jas.
"Hallo..."
"......"
"Apa? Meledak? " Pekik Mr. Frank.
"....."
"Kalau begitu kau selidiki apa yang sebenarnya terjadi di sana! "
Mr. Frank mengakhiri panggilannya lalu berucap. "Mobil itu menabrak sebuah truk tangki lalu meledak."
Deg!
Jacob langsung tercekat mendengar ucapan Mr. Frank barusan.
Lalu bagaimana dengan Theora? Pikir Jacob.
"Ini pasti akal-akalan mereka untuk menghindari kita!" Rahang Mr. Frank merengas, kedua telapak tangannya juga sudah terkepal.
"Bagaimana kalau kita lihat saja rekaman dari dashboard mobil yang berada dibelakang mobil Rolls Royce itu!" Usul Jacob. "Suruh agent itu untuk mencari mobil yang berhenti paling depan tepat setelah mobil yang Theora tumpangi itu meledak!"
"Ide bagus, Jack!" Mr. Frank menjentrikkan jarinya. Lalu setelah itu ia segera menelepon kembali agent yang ia suruh untuk mengikuti mobil yang membawa Theora kabur.
"Hallo, cari mobil yang berhenti tepat saat mobil Rolls Royce itu meledak! Kita akan lihat rekaman dari dashboard mobil itu untuk mengetahui apa yang terjadi sebelum meledaknya mobil yang membawa kabur Theora! "
".........."
"Baiklah."
Setelah sambungan telpon terputus, Mr. Frank kembali mengarahkan tatapannya pada layar komputer.
"Kita tunggu kabar dari agent itu untuk saat ini, aku yakin pasti ini semua hanya akal-akalan mereka supaya kita kehilangan jejak untuk memburu mereka," Ucap Mr. Frank.
Sementara kini, Theora bersama anak buah kakaknya itu sudah berada di dalam mobil yang berbeda.
Tepat setelah mereka berdua terjatuh tadi, mereka langsung berlari dengan sangat cepat menyusuri pinggiran jalan yang ditumbuhi oleh rerumputan untuk melewati truk tangki yang sudah terbakar bersama mobil Rolls Royce itu. Nyaris saja mereka berdua terkena cipratan api yang berkoar cukup besar, namun untungnya mereka masih bisa menghindar.
Dan benar saja, beberapa meter dibalik kobaran api pada truk tangki itu, sudah ada sebuah mobil sedan hitam yang menunggu mereka. Theora masuk ke dalam mobil itu bersama pria yang sudah membantunya kabur dari SIO.
__ADS_1
Tidak mau membuang waktu, sang supir pun segera menancap gas, dan pergi meninggalkan lokasi.