
Sore hari sekitar pukul lima. Alesha terusik, dan mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Sudah berapa lama ia tertidur? Sepertinya cukup lama.
"Stella...." Panggil Alesha. Ia memperhatikan sekitarnya dengan penuh tanda tanya. Dimana ia? Kenapa ia berada di atas kasur di dalam sebuah kamar? Dimana Stella?
"Stella...." Panggil Alesha lagi seraya bangkit terduduk. "Stel..." Pergerakan Alesha mendadak berhenti saat ia mendapati pintu ruangan yang terbuka.
Kedua mata Alesha seketika memicing. Siapa wanita itu?
"Haii, Alesha...." Sapa dingin Theora.
"Kau siapa?" tanya Alesha. Ia memasang tatapan awas.
"Aku?" Theora terkekeh. "Apa gunanya kau tahu siapa aku?"
"Dimana Stella?" Alesha tak mengindahkan ucapan wanita itu, ia harus mencari tahu apa yang terjadi padanya saat ini.
"Stella? Ah, gadis yang sampai saat ini masih mengincar suamimu?" Lagi-lagi Theora terkekeh.
"Mengincar suamiku?" ulang Alesha yang sontak mengubah mimik wajahnya menjadi kebingungan.
Theora mengangguk kecil. Ia melangkah mendekati Alesha, lantas duduk di tepian tempat tidur. "Sayang sekali kau amnesia. Kau bisa muak melihat gadis itu jika tahu kalau sebenarnya gadis itu. Siapa namanya? Oh ya, Stella adalah sahabat yang sudah menusukmu dari belakang."
"Omong kosong!" Alesha mulai meninggikan suaranya. Ia menatap tajam pada Theora seakan tidak ada rasa takut dalam dirinya. "Dimana aku sekarang? Dimana Stella?"
"Hey, santai saja, Lil Ale." Theora menyeringai.
Eh, bagaimana wanita itu tau panggilan kesayangan Jacob padanya? Pikir Alesha.
"Dimana aku?" tekan Alesha.
"Kalau aku menjawabnya, lantas kau akan meminta untuk pulang, begitu?" balas Theora, jengah.
"Berhenti membicarakan hal tidak penting. Jawab pertanyaanku! Dimana aku?"
Theora sedikit menggeram saat Alesha membentaknya dengan begitu berani.
"Apa kau tuli? Dimana aku?" ulang Alesha, tegas.
"Kau bisa mencari tahunya sendiri." Theora membalas malas. Ia beranjak bangkit dan mulai melangkah.
"HEY! JAWAB PERTANYAANKU!!" Alesha hendak menyusul Theora, namun sekali lagi gerakan terhenti, dan membuatnya tercekat di tempat.
"Tetap di tempatmu atau belati ini akan menacap di tubuhmu sedetik kemudian!" ancam dingin Theora sembari menghunuskan belatinya pada Alesha.
Tidak ada pilihan lain. Alesha mendengus marah. Ia kembali duduk di tempat semula. Meringsek ke tengah kasur dan menatap kesal pada Theora.
Sementara Theora sendiri, ia melanjutkan kembali langkahnya, pergi meninggalkan Alesha di kamar itu.
"Dimana aku?" gumam Alesha. Ia menatap cemas sekitarnya. Perasaannya sungguh tidak enak. "Huft.... Ya Allah...." lirihnya.
Entah apa yang terjadi, tapi Alesha yakin kalau sesuatu yang buruk pasti sudah terjadi. Apa Jacob tahu dimana ia sekarang dan apa yang susah terjadi?
"Mr. Jacob...." Alesha menunduk seraya memeluk lutut. Kepalanya mulai terasa berdenyut, juga perutnya terasa mual.
Di lain tempat, Jacob bersama dua puluh anak buahnya sudah bersiap untuk melakukan penyerangan ke markas yang saat ini sedang ditempatkan oleh Vincent. Ia tahu Alesha di sana, satu jam yang lalu ia berhasil menemukan lokasi Alesha.
Tapi Vincent tak mau lolos begitu saja, ia sudah menyiapkan rencana lain, tepatnya saat ini, ia sudah bersiap bersama anak buahnya untuk melakukan penyerangan diam-diam ke kantor WOSA dan mengambil sampel virus XXX dari sana. Rencananya mudah, Jacob dan agent SIO yang lain menyerang markas dadakannya, dan semua anak buahnya menyerang markas SIO.
"Jacob dan Danish akan ikut menyerang markas ini," ucap salah satu anak buah Vincent.
Vincent menyeringai. "Itu bagus. Pekerjaan kita lebih mudah. Eve dan Levin dalam kondusu buruk, mereka tidak bisa ikut berjaga, Aldi di WOSA, hanya tersisa Rendi, kepala regu pimpinan para agent rendahan itu."
"Tapi masih ada Laras di sana, Vincent!" Theora mendengus. "Bodoh kalau kau meremehkannya. Dia satu mentor dengan Jacob dan Eve, kemampuannya tidak bisa dianggap sepele."
"Apa kau tidak bisa mengatasi itu, Sayang?" Vincent melirik meledek ke arah Theora.
"TUTUP MULUTMU!" Theora mengacungkan pistolnya tepat di depan mulut Vincent.
Yang ditodong pistol justru malah terkekeh, menganggap itu suatu hal yang lucu.
"Cantik, tapi galak. Aku suka itu," gumam Vincent sembari menyeringai nakal.
Theora memutar kedua bola matanya dengan jengah.
"Kapan Theo akan tiba di sini?" tanya Vincent.
"Tidak lama lagi, dia sedang dalam perjalanan di pesawat sekarang," jawab Theora, malas.
"Bagus. Setelah tiba, aku bisa membuktikan padanya kalau aku berhak mendapatkan restu darinya," ucap Vincent seraya berdiri dan melangkah pergi meninggalkan ruangan itu. Ia menyempatkan untuk melirik dan mengedipkan sebelah matanya dengan genit ke arah Theora.
Theora sendiri langsung membuang wajah dengan sebal ke arah lain.
Kembali pada Alesha, bumil itu sedang sibuk mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk membuka pintu kamar yang dikunci itu. Alesha sekarang sudah tahu apa yang terjadi, ia mendengar percakapan dua orang dari balik pintu tadi kalau ternyata ia tengah diculik. Disandra tepatnya, untuk memancing Jacob dan para agent SIO yang lain sehingga mereka bisa menyerbu kantor SIO dan mengambil salah satu sampel virus di sana. Mereka hendak mengambil alih kekuasaan SIO yang sekarang berada di bawah kendali Mr. Frank.
Tapi Alesha tidak mau diam, menangis, ketakutan, dan pasrah begitu saja. Ia harus bisa kabur dari markas itu. Meski jauh dalam lubuk hatinya, ia sungguh kecewa dan tidak menyangka jika Stella memang benar musuh dalam selimutnya. Tapi Alesha harus mengesampingkan hal itu. Ia mesti kabur!
Alesha ingat, Jacob pernah mengajarinya juga yang lain tentang beberapa trik membuka pintu yang terkunci tanpa memiliki kunci pintu itu sendiri.
Gagang pintu yang harus Alesha buka saat ini adalah gagang pintu model biasa. Mudah saja seharusnya untuk Alesha membuka pintu itu. Ia ingat, waktu di WOSA dulu, Jacob pernah beberapa kali mengurungnya di dalam gudang kosong dari sore hingga malam hari dan ditinggalkan begitu saja juga tak dibiarkan keluar sampai ia bisa meloloskan diri secara mendiri.
"Nah!" Alesha berseru senang. Ia akan menggunakan penitih untuk membuka kunci pintu itu.
Alesha menggigit bibir bawahnya, terus berusaha dan fokus pada pekerjaannya sekarang.
Kurang lebih lima menit, terdengar suara gemlatuk pelan dari dalam gagang kunci tersebut.
Sepertinya Alesha berhasil. Eh, tapi, Alesha harus memastikan lebih dulu jika di luar kamar itu ada orang atau tidak.
Alesha menutup sebelah matanya, mengintip dengan seksama.
Tidak ada siapa pun di sana. Baguslah, tidak ada pengawal atau penjaga di depan kamar itu, Alesha tidak mau membuang kesempatan. Ia harus segera pergi dan mencari jalan keluar.
Ceklek.
Perlahan, pintu terbuka. Alesha lebih dulu menongolkan kepalanya, lalu kemudian berjalan pelan-pelan, melintasi lorong-lorong panjang itu, dan menatap awas ke depannya.
"Tidak ada penjaga?" gumam Alesha. Ia kembali melangkah satu persatu dan sebisa mungkin tidak menimbulkan suara.
Ah, apes sekali Alesha! Gedung itu memiliki lorong-lorong panjang. Kemana Alesha harus pergi?
"Dimana Alesha?"
Deg!
__ADS_1
Alesha tercekat! Ia mendengar pekikan suara seorang pria. Seperti pria itu baru saja dari kamarnya dan terkejut saat mendapati ia tidak ada di sana. Alesha harus bergegas!
"Laa haula wa laa kuwwata illa billah...." gumam Alesha. Ia pasrah sekarang. Ia akan mengandalkan instingnya untuk memilih lorong-lorong itu.
"CARI ALESHA!"
Alesha berlari sembari sesekali menoleh ke sisi kanan dan kirinya, memilah lorong yang tepat. Sementara dua pria-anak buah Vincent-juga berlari berpencar untuk mencari tawanan mereka yang berhasil kabur.
Sedangkan Jacob, ia dan yang sedang bersembunyi dibalik pagar tanaman depan gedung yang dijadikan markas baru bagi Vincent itu. Kedua netra hitamnya menyalang tajam ke arah bangunan tersebut.
Dar! Dar!
Dua orang yang menjaga pintu masuk ambruk seketika saat Danish menembak mereka.
"Ayo, Jack!"
Jacob mengangguk. Ia, Danish, dan lima puluh agent SIO lain mulai menyerbu gedung tersebut diam-diam.
Namun lima langkah kemudian.
DUAR!!
Sebuah bom meledak tepat beberapa meter dari rombongan agent-agent SIO. Membuat Jacob, Danish, dan yang lain sedikit terpental, nyaris saja mengenai mereka.
Vincent menyeringai di dalam ruangannya. Peperangan telah dimulai. Akan ia habis Jacob hari ini juga.
Disisi lain, Alesha yang juga mendengar suara ledakan itu pun mulai panik. Ia tersudut. Hanya ada jendela dengan lapisan teralis besi di hadapannya sekarang. Ini gawat! Salah satu anak buah Vincent sempat melihatnya tadi, dan mungkin hanya hitungan detik lagi untuk pria itu dapat menemukan Alesha.
DUAR!!
Ledakan kedua menyusul. Meski panik setengah mati, namun Alesha juga penasaran dengan apa yang terjadi di luar sana. Ia melihat ke luar jendela. Namun, karna gedung tersebut berbentuk lingkaran, Alesha hanya bisa melihat sedikit saja ke arah ledakan tadi. Tapi, satu hal yang membuatnya cukup terkejut. Ada Jacob di sana! Ia melihat suaminya bersama agent SIO yang lain sedang bertarung dengan beberapa pria lain.
"HEY, KAU!!"
"HAH!" Tubuh Alesha tersentak kaget. Ia berputar seratus delapan puluh derajat, dan ya! Tepat dua meter di depannya, pria yang sejak tadi mencarinya berdiri dengan ekspresi marah.
"Ya Allah...." Alesha bergetar, langkahnya bergerak mundur perlahan. Ia harus apa sekarang?
"Menyerahlah! Kau akan tetap baik-baik saja jika ikut denganku!" bentak pria itu.
Alesha menggelengkan kepalanya, pelan. Ia takut, tapi ia harus mencari cara untuk melewati pria itu.
"Kau akan menyesal jika tidak mau menurut!"
"Aku sudah melatihmu semampuku, Alesha! Jangan sia-siakan itu! "
Deg!
Alesha kembali tercekat. Kilasan ingatan tentang ucapan Jacob sewaktu mementorinya di WOSA itu kembali.
"Jangan takut! Lawan! Dan hadapi aku, Alesha! "
Alesha menatap pria di hadapannya.
"JANGAN LEMAH! JIKA BARU SEPERTI INI SAJA KAU SUDAH MENANGIS, KAU AKAN MATI SEKETIKA JIKA BERHADAPAN LANGSUNG DENGAN MUSUHMU, AL!! "
Alesha menelan ludahnya. Dasar mentor menyebalkan! Ia menangis waktu itu karna Jacob yang terlalu kasar dan keras padanya dalam mendidik. Tapi bagusnya, ucapan Jacob itu justru menanamkan keberanian baru dalam diri Alesha. Jacob benar, jika ia lemah apalagi hanya bisa pasrah dan menangis, ia akan mati ditangan lawan.
Tidak! Alesha tidak akan membiarkan itu. Ada buah hati yang sedang tumbuh dalam rahimnya. Ia akan bertahan, dan melawan siapa pun yang menghalanginya demi Baby J!
"Jangan ragu untuk menghajar musuhmu, Sayang. Aku percaya padamu, kau bisa. Kau mampu untuk menjaga dirimu sendiri bila seandainya aku sedang tidak disisimu."
Jacob menepuk bahu Alesha. "Hajar mereka habis-habisan, Al. Bertarunglah hingga mereka berada di bawah kakimu."
Alesha menyeringai. Itu ucapan Jacob saat ia akan menghadapi lima agent SIO untuk melaksakan uji kemampuan disemester tiga.
Berada di bawah kaki, itu berarti hingga musuh KO.
Seringai Alesha semakin lebar saat pria yang hendak membawanya kembali ke kamar tahanan itu berada beberapa langkah darinya.
"Seharusnya kau tidak mengejarku, Tuan. Karna kau akan sangat menyesal."
"Hah? Apa kau bilang?"
Bugh!
Alesha melayangkan satu tinjuan mantap ke arah dagu pria tersebut. Membuat pria itu terpental setengah meter ke belakang.
"Aku belum pernah ikut dalam misi pertarungan resmi seperti ini sebelumnya. Kau bisa menjadi korban pertamaku."
Alesha maju. "BANGUN!" Ia menarik kerah baju pria itu. "Masih mau menghalangiku?" Ia tersenyum santai.
"Ck! Argh!" Pria itu melayangkan tinjuannya, hendak memukul wajah Alesha.
"Eits, tidak kena!" ledek Alesha. "Hahahaha...."
Dag!
Alesha mendorong tubuh pria itu sekuat tenaga hingga membentur dinding.
"ARGH! KAU" Pria itu maju, dan siap untuk membalas pukulan Alesha.
Tapi Alesha, dengan ilmu bela diri yang sudah suaminya ajarkan padanya, mudah saja ia menghindar dan membalikkan serangan.
Alesha menangkis tonjokan pria itu, dan dengan gerakan cepat, ia memutar tubuh pria tersebut, memelintir lengannya.
"AAAAAA!!!" teriak kesakitan pria itu. Sungguh di luar dugaannya. Alesha bukan wanita biasa. Tubuhnya terkunci, dan Alesha menekan perutnya dengan amat kuat.
"Masih mau menghalangiku?" bisik Alesha.
"SIALAN KAU!!" Pria itu berteriak marah. Ia memutar tubuhnya sekuat tenaga.
Alesha cepat menghindar. Cemas jika pria itu akan memukul perutnya.
"Kau benar-benar diluar dugaan!" Pria itu menatap marah pada Alesha.
"Sungguh?" Alesha balas menatap santai. "Lebih baik kau mengalah. Kau membuang waktuku kalau begini caranya, Tuan."
"Tutup mulutmu!"
Alesha menunduk, lantas disaat yang bersamaan ia meraih punggung baju pria itu dan sekali lagi menghantamkannya pada tembok.
JEDUG!
__ADS_1
DAG!
"Ups, maaf, Tuan." Alesha pura-pura melayangkan tatapan iba pada lawannya. Hey, tapi ini seru juga, ya! Lebih seru ketimbang melawan agent SIO di WOSA. "Aku pergi dulu, Byeee...."
Alesha membalikkan tubuhnya, dan kembali berlari. Tak memperdulikan lagi pria yang baru saja KO melawannya itu.
Apa ia takut?
Tidak! Ia tidak takut. Ia akan hadapi lawannya demi menjaga calon anaknya.
Sama halnya dengan Alesha. Jacob berlari di lorong-lorong, mencari kamar tempat Alesha berada. Sayangnya itu tidak selancar yang dibayangkan. Jacob harus menghadapi dua sampai lima anak buah Vincent sendirian. Tapi itu bukan masalah besar bagi Jacob. Mudah saja untuknya menyapu bersih lawannya itu.
"Alesha, kau dimana?" gumam cemas Jacob.
Alesha berlari cepat melintasi lorong-lorong. Dua sampai tiga anak buah Vincent beberapa kali menghadangnya. Tapi ia bisa melawan mereka, membuat mereka semua KO, seperti yang Jacob selalu tekankan padanya.
"Kau yang KO atau mereka yang KO! "
"Huh, aku sudah membuktikannya, Mr. Jacob! Kau tidak bisa membentak atau memarahiku lagi sekarang karna aku sudah bisa mengalahkan dan membuat musuh-musuhku KO!" gerutu Alesha sembari terus berlari.
Di lantai satu.
Vincent sibuk berhadapan dengan Danish. Ia geram karna bukan Jacob yang menjadi lawannya.
"Kau tidak bisa mengalahkanku, Danish!" pekik Vincent.
"Banyak omong, kau!" balas Danish.
Stella juga sibuk menghadapi agent-agent SIO yang lain.
Sementara itu, Theora bersama lima puluh anak buah kakaknya sedang dalam perjalanan menuju kantor SIO. Mereka akan menyerang SIO dari segala sisi. Masih ada lima puluh anak buahnya yang lain yang sudah menunggu di dalam hutan, tidak jauh dari kantor SIO.
"Alesha!" Jacob tercekat. Ia tiba di sebuah kamar, dan tidak mendapati siapa pun di sana. Tapi ia melihat tas milik istrinya di atas kasur. Jelas sudah, Alesha pasti tadi ada di kamar itu. Tapi dimana Alesha sekarang?
"AAAAAA!!"
Jacob cukup terkejut saat mendengar suara gema teriakan dari lorong lain. Itu suara perempuan. Apa jangan-jangan Alesha?
Tak membuang waktu. Jacob segera berlari ke asal suara.
"KAU AKAN MENYESAL KARNA INI!!" pekik Alesha yang tubuhnya dikunci oleh salah satu anak buah Vincent.
Alesha tak kehilangan akal. Ia berjalan mundur dengan cepat, membuat punggung pria yang mengunci tubuhnya menghantam dinding dengan keras.
DAG!
"Argh!"
"LEPASKAN AKU!" Alesha memberontak sekuat tenaga. Ia menendang area vital pria itu, dan sukses membuat tubuhnya terbebas dari kuncian lengan kekar tersebut.
Enggan kehilangan momen, Alesha langsung menyerang pria itu secara membabi buta.
Satu berhasil tumbang, satu lagi muncul.
Alesha masih terengah-engah, tapi anak buah Vincent yang lain yang baru saja menemukannya langsung berlari dan menjualkan serangan yang cukup menyulitkan.
Alesha menghindar sebisanya, menjauhkan perutnya dari pukulan lawannya. Tapi itu sangat sulit. Alesha harus ekstra fokus atau ia akan kecolongan dan membahayakan calon bayinya.
Selang dua menit kemudian, Jacob muncul dari ujung lorong yang paling ujung. Kedua bola matanya terbelalak lebar saat melihat istrinya yang tengah bertarung dengan satu anak buah Vincent. Disaat Jacob hendak berlari untuk membantu Alesha, mendadak muncul tujuh pria lain di persimpangan lorong.
Sial!
Jacob harus menghadapi mereka sekarang!
"ARGH!" Alesha meringgis saat sebelah bahunya menghantam tembok cukup keras. Perutnya masih aman. Ia meletakkan telapak tangannya disekitar rahim, memastikan tidak terjadi benturan di daerah sana.
Pria yang menjadi lawan Alesha menari baju Alesha dan menghempaskannya kembali.
Akan sangat bahaya kalau punggung apalagi sekitar pinggul Alesha menghantam tembok. Dengan kecepatan sepersekian detik, Alesha menggunakan sebelah telapak kakinya untuk menahan dan menghindari benturan tubuh bagian belakangnya. Meski setelahnya Alesha harus tersungkur karna dorongan dari hentakan telapak kakinya ditembok itu.
"Aduh!"
Pria yang menjadi lawan Alesha menyeka ujung bibirnya yang berdarah. Alesha sukses melayangkan pukulan mematikan beberapa kali tadi. Membuat wajahnya babak belur. Ia siap, menunggu Alesha bangkit berdiri.
Di sisi satunya, Jacob masih sibuk melayani empat dari tujuh pria yang menghadangnya.
"KAU!" Alesha menggeram. Menatap marah pada lawannya. "KAU MENGANCAM KESELAMATAN ANAKKU!" teriaknya, tidak terima."
Jacob mendengar itu. Ia menggencarkan perlawanannya, membuat satu persatu anak buah Vincent itu tumbang.
DAG!
Alesha meninju keras wajah lawannya. Ia kalap! Amarahnya memuncak sebab lawannya itu nyaris saja membunuh Baby J jika tadi ia tidak langsung menahan tubuhnya agar tak menghantam tembok dengan sebelah telapak kakinya.
BUGH!
"ARGH!"
Pukulan itu menjadi pukulan terakhir Alesha sebab lawannya sudah tidak berdaya. Pria itu oleng dan terjatuh. Dari kepalanya mulai mengalir darah kental berwarna merah pekat dan segar.
Salah satu orang yang sedang bertarung dengan Jacob melihat kalau kawannya sudah terkapar tepat di bawah kaki Alesha. Ia. Lantas berlari menuju Alesha.
Jacob semakin panik! Ia masih harus menghadap tiga pria lain, sementara istrinya masih belum aman dari serangan musuhnya. Tapi sungguh, dalam lubuk hatinya, ia bangga dan sangat senang bisa menyaksikan secara langsung kalau salah satu anak didiknya kini telah berhasil membuktikan kemampuan bertarung yang selama ini telah ia ajarkan. Jacob bangga sebagai seorang mentor, dan kagum sebagai seorang suami. Ia tahu, istrinya tidaklah lemah, dan selalu berani. Itulah Alesha yang Jacob kenal sejak awal pertemuan mereka. Bukan Alesha yang lugu, pemalu, atau semacamnya saat tinggal bersama Rangga.
Tiga menit kurang lebih. Ketiga pria yang bertarung dengan Jacob sudah tumbang, terkadang tak sadarkan diri, atau bahkan tak bernyawa lagi mungkin.
Tapi tidak dengan Alesha. Lawannya yang satu ini tidak kalah sulit dari yang sebelumnya. Yang paling membuat Alesha kesusahan adalah pria itu memiliki pistol. Beberapa kali pria itu menembak Alesha, tapi Alesha masih bisa menghindar. Beberapa kali pula Alesha melayangkan pukulan super pada pria itu, membuat pria itu terjungkal.
Namun kali ini, Alesha memiliki kesempatan emas. Pistol pria itu terhempas dan jatuh di lantai. Sementara pria itu sendiri sedang mengaduh kesakitan sebab kepalanya menghantam dinding dengan sangat keras.
"KAU!!" Pria itu menggeram marah pada Alesha.
Tapi Alesha tidak gentar, ia akan memanfaatkan kesempatan itu. Alesha ingat, Jacob pernah mengajarinya satu trik spesial untuk menghindari lawan jika posisi sudah tersudut di pojok ruangan. Alesha ingat, butuh satu tahun ia mempelajari itu, bahkan ia memaksa Jacob untuk mengajarinya secara privat agar ia bisa menguasai teknik itu. Sampai pada akhirnya, ia berhasil. Ya, meski ia harus terus menelan bulat-bulat perkataan Jacob yang memarahinya sebab ia yang terlalu banyak mengeluh, dan mengadu.
Tapi kali ini, Alesha akan membuktikan langsung dihadapan mentornya, pria yang mengajarinya sekaligus suaminya kalau trik yang satu itu sudah ia kuasai dengan baik.
Alesha bersiap, mengambil ancang-ancang. Di ujung lorong sana, Jacob juga memerhatikan dengan cemas. Pria itu hendak menebak hal apa yang akan istrinya lakukan.
"Kau akan menyesal sudah!" geram Alesha. Tatapannya tajam pada lawannya.
Sejurus kemudian, Alesha berlari secepat mungkin ke arah pria yang menjadi lawannya. Ia akan memastikan kalau ini adalah serangan terakhirnya. Dengan satu kali hentakkan, Alesha meletakkan sebelah telapak tangannya pada bahu pria itu, dan dengan kecepatan sepersekian detik, Alesha mengangkat tubuhnya seolah itu mudah dan enteng sekali. Ia melangkah cepat di tembok dengan posisi tubuh yang jelas miring. Kakinya bergerak cepat, atau telat sepersekian detik saja, ia dipastikan akan terjatuh. Tidak lebih dari tiga detik, Alesha tiba di dua langkah terakhir. Sekali lagi, Alesha mengayunkan kakinya, dan DUG! Lawan Alesha itu tersungkur, menabrak lantai dengan keras hingga membuat tulang hidungnya patah.
Zap!
__ADS_1
Alesha sukses mendarat dengan sempurna. Berlutut dengan kepala tertunduk dan kedua telapak tangan yang menyentuh lantai. Ia berhasil melancarkan trik spesial itu. Percis seperti yang Jacob contohkan padanya pertama kali waktu itu. Menjadikan bahunya sebagai penopang telapak tangan lalu melewatinya dengan berjalan di tembok gedung perpustakaan dan menendang punggungnya hingga membuatnya tersungkur dan berciuman keras dengan lantai kayu yang masih pekat berbau cat.
Sementara itu di tempatnya, Jacob tercekat. Telak! Apa yang baru saja ia saksikan benar-benar membuatnya terkejut. Alesha, istrinya itu berhasil berjalan di tembok, dan menyempurkan teknik bela diri yang sudah susah payah Jacob ajarkan.