
Tring.... Tring... Tring....
Terdengar bunyi ponsel Jacob yang berdering nyaring tanda ada panggilan masuk. Cepat-cepat Jacob mengangkatnya karna takut akan mengganggu istrinya yang tengah tertidur lelap.
"Hallo, Taylor, bagaimana? "
"Saya sudah menghubungi Mr. Thomson, dan menjelaskan semua yang terjadi pada Nona, Tuan, dan Mr. Thomson juga tadi sudah menghubungi Mr. Frank untuk meminta izin supaya Tuan, dan Nona bisa tinggal sementara waktu di WOSA hingga ingatan Nona sedikit demi sedikit kembali. "
" Lalu bagaimana? Apa Mr. Thomson, dan Mr. Frank memberikan izin? "
" Iya, Tuan, mereka memberikan izin, Tuan, dan Nona bisa menempati ruangan yang dulu Tuan tempati sewaktu menjadi mentor di WOSA. "
Jacob menghembuskan napasnya, dan tersenyum bahagia. Akhirnya, ia bisa membawa Alesha ke WOSA.
"Alhamdulillah..." Gumam Jacob.
"Baiklah, Taylor, terima kasih sudah membantu."
"Sama-sama, Tuan, sudah tugas saya untuk membantu, Tuan, dan Nona." Balas Taylor yang terdengar begitu ramah.
"Kalau begitu, siapkan jadwal penerbangan pesawat ibu, aku ingin berangkat menuju WOSA besok secepatnya."
"Baik, Tuan."
"Yasudah, kalau begitu aku matikan ya sambungannya. Sekali lagi terima kasih, Taylor."
"Iya, Tuan, sama-sama."
Setelah itu, sambungan telepon pun terputus.
Jacob menaruh kembali ponselnya di atas nakas lalu setelah itu ia beralih dengan memandangi wajah damai istrinya, Alesha yang terlelap begitu tenang.
Akhirnya, aku bisa melihat wajah damaimu yang sedang tertidur lagi, Alesha. Aku sangat merindukan ini..... Ucap Jacob dalam hati. Jemarinya bergerak perlahan, memainkan bulu mata lentik Alesha yang melengkung sempurna.
"Milikku," Gumam Jacob disertai kembangan senyum yang menawan. "Aku mencintaimu, Lil Ale," Jacob bergerak perlahan mendekati istrinya. Ia berniat untuk memeluk tubuh minimalis yang sangat dirindukannya itu.
Dengan sangat hati-hati, Jacob mengangkat sebelah lengannya untuk mendekap tubuh Alesha. Sedikit demi sedikit, Jacob membawa Alesha masuk dalam pelukannya.
Sungguh nyaman.....
Ini lah yang selalu membuat Jacob merindu setiap malam saat ia masih belum mengetahui keberadaan istrinya.
"Aku merindukanmu, Alesha...."
Cup...
Satu kecupan singkat mendarat pada sebelah pipi Alesha. Jacob menciumnya dengan penuh kelembutan.
"Eungh..."
Jacob tercekat.Tubuh Alesha tiba-tiba menggeliat dalam pelukannya.
Ya ampun! Apa Alesha akan memberontak, dan menjauhinya lagi? Jantung Jacob berdegub kencang saat ini. Semoga saja tidak, Jacob masih ingin memeluk tubuh istrinya.
"Hmmm...." Alesha yang dalam fase tidak sadar pun terus menggeliatkan tubuhnya, mencari kenyamanan lebih yang kini sedang ia rasakan.
Hangat....
Nyaman......
Setelah dirasa menemukan posisi yang pas, akhirnya tubuh Alesha pun berhenti bergerak. Kini posisi wajahnya berada tepat dihadapan dada suaminya, Jacob.
Alesha kembali jatuh pada alam bawah sadarnya, dan masuk ke dalam dunia mimpinya tanpa menyadari jika kehangatan, dan kenyamanan yang ia rasakan itu berasal dari pelukan suaminya yang terlupakan.
Jacob yang merasakan kembali ketenangan pada istrinya itu kini menarik selimut dengan gerakan perlahan. Ia pikir Alesha kedinginan.
"Kau merasa nyaman ya? Hmm," Jacob tersenyum. Ia segera menyelimuti tubuh Alesha yang meringkuk dalam pelukannya.
Bahagia sekali rasanya. Jacob sangat bersyukur karna bisa merasakan kembali kedetakan dengan istrinya, Alesha. Ia bahkan tidak henti-hentinya memandangi wajah si manis kesayangannya itu sembari terus memberikan belaian samar pada area pipi.
Tidak ada rasa kantuk yang menyambangi Jacob. Ia terlalu sibuk untuk tetap terjaga agar bisa merasakan kedetakan ditiap detik, menit, dan jam yang terlewati bersama istri tercintanya.
"Satu tahun lebih, Alesha. Kau menghilang, dan membuatku sangat ketakutan. Aku pikir kau pergi meninggalkanku, tapi ternyata aku salah. Kau menghilang bukan karna keinginanmu. Aku berjanji akan menjagamu, dan jika seandainya Dirga muncul, maka aku tidak akan segan untuk menghabisinya karna dia sudah membunuh anak kita, dan membuatmu amnesia. Aku tidak akan membiarkan Dirga hidup bahagia begitu saja setelah apa yang sudah ia lakukan pada keluarga kita, Alesha," Gumam Jacob.
"Alshiba...." Ekspresi Jacob berubah sendu. Ia teringat akan putri sulungnya yang kini telah tiada karna ulah kebi*daban Dirga. "Aku selalu merindukan anakku, Alesha. Kita kehilangan Khalid, dan kita juga sudah kehilangan Alshiba, putri kita, bukti cinta kita, Lil Ale," Jacob menyentuhkan keningnya pada kening istrinya. "Hiks, Alshiba..." Tak terasa, air mata pun muncul pada kedua kelopak mata Jacob. "Maaf, aku tidak bisa menjagamu, dan anak kita dengan baik, Alesha..."
...*****...
Dentingan alarm pada sebuah jam mungil berdering sangat nyaring, membuyarkan mimpi indah yang tengah tercipta dalam alam bawah sadar Alesha.
"Eungh..." Alesha menggeliat, menggerakkan tubuhnya mencari kerenggangan sembari meraih jam mungil yang masih mengeluarkan alarm diatas nakas.
"Hmm, jam empat lewat lima belas," Gumam Alesha sembari mematikan alarm pada jam mungil tersebut.
Tapi sebentar.
Alesha mendapati sebuah kejanggalan.
Dimana Jacob? Ia tidak mendapati kehadiran pria yang mengaku sebagai suaminya itu.
Kemudian Alesha bangkit terduduk, tidak lupa ia mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruang kamar tersebut.
Tidak ada.
Kemana pria itu?
"Kau mencariku, Lil Ale?"
Sebuah suara yang terdengar begitu lembut mengejutkan Alesha yang masih dibayangi oleh perasaan kantuk.
Ambang pintu. Sejak kapan Jacob berdiri di sana? Tadi Alesha tidak melihat pintu yang terbuka.
__ADS_1
"Aku baru saja mengambil air wudhu, ayo kita sholat subuh bersama," Ucap Jacob seraya berjalan mendekati istrinya.
Sholat subuh bersama? Alesha tidak salah dengarkan?
"Kau memikirkan apa, sayang?"
"Ti-tidak," Balas Alesha sembari menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Kalau begitu cepat kau ambil wudhu, aku menunggumu di sini, kita akan sholat subuh bersama," Ucap Jacob.
Alesha yang masih merasa bingung pun akhirnya memilih untuk beranjak dari atas kasur lalu berjalan menuju tempat berwudhu.
Selama beberapa menit Jacob menunggu istrinya di dalam kamar dengan hati yang terasa begitu tenang. Lagi, Jacob bisa merasakan satu kebahagiaan lagi dengan menjadi imam sholat untuk istrinya setelah satu tahun lebih mereka berpisah.
"Sudah wudhunya, Lil Ale?" Tanya Jacob yang sudah mendapati Alesha kembali ke kamar itu.
"Iya," Alesha mengangguk pelan. Ia lalu meraih mukenanya, dan segera memakainya agar bisa cepat-cepat menunaikan ibadah sholat subuh tepat waktu.
"Mukenamu sedikit miring, sayang," Jacob mendekati Alesha, dan sedikit membenarkan posisi mukena yang dipakai oleh istrinya itu.
Oh, manisnya....
Alesha tidak berani menatap Jacob karna wajahnya terasa panas, dan satu lagi, kini Alesha kembali merasakan hatinya yang seolah berbunga karna perilaku manis Jacob padanya barusan.
"Sudah. Ayo, kita mulai sholatnya," Ucap Jacob seraya mengambil posisinya sebagai imam sholat.
"Huft..." Alesha menghembuskan napasnya dengan samar. Untung saja Jacob tidak melihat wajahnya yang mungkin saja memerah karna terasa panas.
Ibadah subuh pun dimulai ketika Jacob mengangkat kedua telapak tangannya sembari menyebutkan nama keanggunan, dan kebesaran Sang Pencipta.
Alesha yang sebagai makmum pun mengikuti pergerakan imannya sekaligus suaminya dalam sholat.
Sekitar beberapa menit keheningan, dan kediaman mengambil alih suasana. Jacob, dan Alesha tampak khusyuk dengan sholat mereka.
Sungguh indah terasa. Selama satu tahun lebih Jacob berusaha untuk menahan dirinya agar tidak terjerumus dalam kedepresian lagi karna kehilangan kabar tentang Alesha, dan kini, ia sudah bisa lagi memimpin sholat untuk istri tercintanya itu.
Meski pada kenyataannya, Jacob masih harus lebih berekstra sabar karna Alesha tidak mengingatnya.
"Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakaatuh..... Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakaatuh......"
Usai sudah kewajiban sholat subuh dilaksanakan. Jacob menghembuskan napasnya dengan tenang lalu setelah itu membalikkan tubuhnya. Ia menjulurkan telapak tangannya pada Alesha.
Biasanya dulu Alesha selalu mencium punggung tangan Jacob selepas mereka menunaikan ibadah sholat.
Tapi kali ini respon lain pun Alesha tunjukkan. Keningnya langsung berkerut bingung melihat Jacob yang menjulurkan tangan padanya. Apa maksud Jacob adalah ia harus mencium tangan pria itu karna ia adalah istrinya? Pikir Alesha.
Jacob yang mendapati perubahan mimik pada raut wajah istrinya pun kini jadi murung. Ia tahu, pasti Alesha enggan untuk mencium tangannya.
Baiklah, Jacob mewajari hal itu. Tidak apa jika Alesha tidak mau mencium tangannya.
Perlahan, Jacob pun melipatkan jemari tangan kanannya yang tersulur tersebut lalu menariknya kembali. Namun, sepersekian detik setelah itu, tubuh Jacob sedikit tersentak karna tiba-tiba saja Alesha meraih telapak tangan kanannya lalu mencium punggung tangannya begitu saja.
Mungkin pria ini memang suamiku..... Ucap Alesha dalam hatinya.
Alesha hanya memberikan tatapan balik tanpa ekspresi pada Jacob.
"Terima kasih," Senyum hangat Jacob kini terukir diwajahnya.
Alesha menunduk, dan sedikit mengangguk.
Apa sekarang kau sudah benar-benar menganggapku sebagai suamimu, Alesha?..... Ucap Jacob dalam hatinya. Ia bahagia? Tentu. Alesha mencium tangannya, itu berarti Alesha menganggapnya sebagai suami.
"Kita akan berangkat menuju WOSA pagi ini, Lil Ale," Jacob mengelus pipi istrinya.
"Pagi ini?" Ulang Alesha, pelan. Ia menatap tidak percaya pada Jacob.
"Iya. Kita sudah mendapatkan izin untuk tinggal di sana sementara waktu sampai kau mendapatkan kembali ingatanmu."
"Aku tidak yakin, Tuan," Lirih Alesha. "Memang waktu itu, saat aku terbangun di rumah sakit aku merasa seperti ada sesuatu yang hilang dari ingatanku, tapi Rangga bilang jika aku mengalami benturan kecil dikepalaku hingga aku kehilangan sedikit ingatanku. Tapi Rangga meyakinkanku jika aku tidak mengalami amnesia berat, dan dia memberitahuku tentang semua masa laluku. Orang tua kami, dan masa kecilku. Tapi Rangga tidak mengatakan apapun tentangmu, atau tentang aku yang sudah menikah."
" Jadi kau tahu kalau kau amnesia, Alesha?" Jacob menatap lekat wajah istrinya.
" Awalnya iya, karna waktu itu aku merasa sakit dikepalaku, dan tidak mengingat apapun saat masih berada di rumah sakit, namun Rangga memberitahu jika benturan dikepalaku menghilangkan sedikit ingatanku, tapi hanya sedikit saja, lalu dia memberitahu tentang masa kecilku, dan semua tentangku. Aku tidak mengira jika aku mengalami amnesia berat, bahkan aku masih sulit percaya. Aku masih merasa jika aku adalah Lisha, karna itulah yang Rangga beritahu tentangku."
Kedua telapak tangan Jacob mulai terkepal, ia mulai kembali merasakan gejolak amarah terhadap Rangga. Jadi Alesha tahu jika dia mengalami amnesia, namun Alesha mengira jika amnesianya hanya menghilangkan sedikit ingatannya saja.
Apanya yang sedikit? Alesha tidak mengingat apapun tentang dirinya, bahkan ia sendiri melupakan suaminya.
"Apa saja yang Rangga katakan padamu waktu itu?" Jacob tetap menahan dirinya untuk tetap tenang, dan selembut mungkin supaya Alesha tidak takut padanya.
"Dia bilang jika aku terjatuh dari tangga, dan kepalaku terbentur, lalu setelah itu aku dibawa ke rumah sakit. Saat aku sadar, aku merasakan kepalaku yang sangat sakit, Rangga bilang itu adalah efek dari benturannya, tapi aku tidak mengingat apapun waktu itu. Aku juga sempat takut pada Rangga karna aku tidak mengenalinya, tapi dia menceritakan semuanya padaku, dan dokter juga waktu itu bilang kalau aku mengalami amnesia ringan yang membuat beberapa ingatanku menghilang."
"Lalu kau percaya begitu saja, Alesha?" Jacob semakin memakukan tatapannya pada kedua iris coklat istrinya. Ia tidak menyangka jika ternyata Rangga menghasut dokter yang menangani Alesha untuk berbohong juga.
"Tidak ada yang bisa aku lakukan waktu itu, aku pikir Rangga berkata jujur, dan aku percaya padanya karna dia bilang kau dia adalah kakak angkatku. Aku pikir tidak mungkin keluargaku tidak mengetahui apa yang terjadi padaku, dan orang yang pertama kali ada saat aku membuka mataku adalah Rangga, jadi aku pikir kalau dia memanglah anggota keluargaku karna dia terasa begitu akrab denganku meski aku masih sulit mengenalnya."
"Apa yang dia ceritakan tentangmu waktu itu?"
Alesha memandangi wajah Jacob. Kenapa pria itu begitu penasaran? Pikir Alesha.
"Dia bilang kalau aku adalah adik angkatnya, orang tua kami sudah meninggal sejak lama, dan sejak orang tua kami meninggal dialah yang mengasuhku."
"Apa kau tidak mengingat masa kecilmu, Alesha?" Potong Jacob.
"Tidak, aku mengingatnya. Aku bersekolah di SD Negri Tiga, lalu aku berteman dengan pria bernama Adam. Dia adalah sahabat terbaikku," Alesha tersenyum. "Sebelum pindah ke sini, Rangga sering mengajakku berkeliling kota Bandung. Aku ingat dulu waktu SMP aku suka bermain di alun-alun sembari berjualan."
"Apa kau ingat saat kau kecil Rangga berada disisimu, Alesha?"
Pertanyaan Jacob barusan pun seketika membuat Alesha tertegun.
"Apa kau ingat kalau dulu keluarga dari umimu selalu bersikap negatif padamu dan kakekmu?"
__ADS_1
Tunggu!
Pertanyaan macam apa itu?
Sebentar, Alesha merasa ada yang janggal. Apa ia ingat waktu kecil Rangga selalu berada disisinya?
Hey, apa maksudnya itu?
"Rangga bilang kalau dulu dia selalu mengajakku bermain, namun saat aku kelas tiga sekolah dasar, dia bekerja jauh, dan jarang pulang," Jawab Alesha.
"Apa kau ingat kau pernah memiliki waktu kebersamaan dengan Rangga saat kau kecil?" Lagi, Jacob mengajukan pertanyaan yang membuat Alesha semakin merasa ada yang tidak beres dengan ingatannya.
"Aku tidak tahu, aku sudah bilang beberapa ingatanku menghilang! Aku ingat beberapa teman-temanku, bahkan mereka pun menjauhiku karna aku berteman sangat dekat dengan Adam! Aku ingat kalau aku sering berjualan dipinggir jalan setelah pulang sekolah! Aku ingat jika dulu aku sering merawat almarhum kakekku yang sering sakit-sakitan!"
"Almarhum kakekmu kau bilang? Dia masih hidup, Alesha!" Jacob sedikit meninggikan bicaranya.
"Kakek masih hidup?" Ulang Alesha. "Kakek Ujang?"
"Iya," Jacob mengangguk. "Dia masih hidup, sayang."
"Tapi Rangga bilang kalau kakek Ujang sudahlah meninggal sejak lama," Lirih Alesha.
Jacob menghembuskan napasnya dengan kasar. "Dari mana kau mendapatkan ingatan itu?" Jacob mempertegas ucapannya.
"Rangga yang memberitahuku, dan aku juga mengingat hal itu."
"Huft!" Jacob menghembuskan napasnya dengan kasar. Kini ia bisa mengambil kesimpulan jika Rangga memang sedikit demi sedikit membantu Alesha untuk mendapatkan ingatannya kembali, tapi tidak semuanya!
Namun, ada satu hal lagi yang Jacob tangkap. Jika saja Alesha bisa mengingat beberapa ingatannya karna cerita yang Rangga berikan, itu berarti Alesha juga bisa mengingat kembali kenangannya bersama Jacob jika Jacob mau bersabar membimbing Alesha untuk mendapatkan kembali ingatannya.
"Jadi kau tahu kalau kau itu mengalami amnesia, Alesha?"
Alesha mengangguk. "Iya, tapi aku pikir aku sudah mendapatkan kembali ingatanku, dan tidak ada yang perlu aku ingat lagi."
"Tidak semua!" Tukas Jacob. "Buktinya kau melupakanku, buktinya kau tidak mengingat apakah Rangga pernah mengasuhmu atau tidak waktu kau kecil!"
Jacob tidak mau berpikir jika Alesha menjadi sedikit lebih bodoh karna amnesianya, tapi itulah kenyataan yang Jacob dapat sekarang. Entah terlalu bodoh atau terlalu polos atau mungkin keduanya karna Alesha bisa dengan sangat mudahnya percaya akan apa yang Rangga ceritakan, padahal tidak semua yang Rangga ceritakan adalah kebenaran.
"Kau benar-benar berubah, Alesha. Bahkan pola pikirmu pun jadi berubah. Aku pikir kau dulu tidak akan mudah percaya dengan apa yang orang lain katakan tanpa adanya bukti, tapi sekarang kenapa kau jadi seperti ini, sayang?" Jacob menatap sendu pada istrinya.
"Ya, memang beberapa cerita yang Rangga katakan padamu itu benar, dan membantumu mendapatkan kembali ingatanmu, tapi tidak semuanya, Lil Ale. Dia tidak menceritakan tentangku, tentang pernikahan kita, bahkan dia juga bilang kalau kakek Ujang sudah meninggal dan kau juga tidak ingat kan kalau kau pernah diasuh olehnya?"
Kenapa ini sangat membingungkan untuk Alesha, kenapa ia baru menyadarinya? Apa benar Rangga sudah banyak membohonginya?
"A-aku tidak tahu, Tuan, a-ku tidak me-ngingat apa-apa saat aku terbangun di-rumah sakit. Tapi Rangga memberitahu semuanya kembali tentangku," Balas Alesha dengan suara parau, dan bergetar.
"Jadi intinya kau tahu kalau kau itu mengalami amnesia, Alesha?"
Alesha mengangguk. "Iya, tapi aku pikir aku sudah mengingat kembali, dan aku juga tidak mempermasalahkan hal itu lagi karna ada Rangga bersamaku. Aku sangat mempercayainya karna dia sering menceritakan semua hal tentangku."
"Kenapa kau tidak bilang semalam jika kau tahu kalau kau mengalami amnesia, Alesha?" Lirih Jacob.
"Aku tidak tahu, Tuan. Kau orang asing yang tiba-tiba datang, dan mengaku sebagai suamiku. Aku juga tidak tahu kalau aku mengalami amnesia sampai sejauh itu. Aku pikir amnesiaku hanyalah amnesia ringan biasa," Balas Alesha yang masih terdengar bergetar.
"Jadi sekarang kau percayakan jika aku adalah suamimu, tapi kau melupakanku karna kau tidak mengingatku?" Jacob menggenggam erat kedua tangan istrinya.
"Entahlah, Tuan, tapi aku masih sulit menerima itu. Aku pikir tidak ada yang mesti aku ingat-ingat lagi tentang masa laluku karna aku rasa aku sudah mengingat banyak," Jawab Alesha.
"Alesha, percayalah, aku suamimu. Kau tahu kau amnesia, itu berarti kau juga tahu jika kau melupakanku sebagai suamimu."
"Tuan, jangan buat aku bertambah bingung, aku mohon..." Lirih Alesha.
"Alesha, kau tahu kalau kau amnesia? Dan kau menganggap amnesiamu itu ringan?" Parau Jacob.
Alesha mengangguk pelan.
"Tidak, sayang, kau melupakan semuanya, mungkin beberapa ingatanmu ada yang sudah kembali, tapi Rangga tidak menceritakan tentangku, dan pernikahan kita, dia tidak bercerita tentang kau yang mendapat beasiswa dan masuk di Universitas saat usiamu masih sangat muda, dia juga tidak menceritakan tentang kau yang masuk WOSA," Kini Jacob mendekap erat tubuh istrinya.
"Aku mendapatkan beasiswa di Universitas saat masih berusia muda?" Ulang Alesha.
"Kau dulu gadis yang pintar, Alesha. Kau mendapatkan beasiswa, dan kau juga masuk dalam academy rahasia dunia, yaitu WOSA. Kau pintar, kau memiliki banyak pengetahuan, dan kau adalah gadis yang aktif juga selalu ingin tahu banyak hal. Rangga tidak menceritakan tentang itu padamu bukan?"
"Tuan, aku tidak mengingat apapun lagi, kau jangan berbohong!"
"Aku tidak berbohong, sayang. Tapi tidak apa, hari ini kita akan kembali ke WOSA. Aku yakin kau akan mendapatkan kembali ingatanmu saat kau berada di sana."
"Tapi aku masih ragu, Tuan."
"Alesha, aku adalah suamimu, jangan takut. Percayalah padaku, aku tidak mungkin menyakitimu," Jacob menangkup wajah istrinya. "Percayalah padaku, Alesha, aku hanya memintamu untuk mempercayaiku."
"Percayalah padaku, Lil Ale," Jacob mulai mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya. "Aku suamimu, jangan sungkan terhadapku."
Alesha diam, ia seperti terbius oleh kedua manik hitam suaminya.
"Kau mau mempercayaiku kan?" Lirih Jacob.
Alesha mengangguk pelan.
"Kau percaya jika aku adalah suamimu?"
Alesha tidak memberikan balasan atau respon apapun. Keraguan masih terpancar jelas melalui tatapannya.
Menyadari hal itu, Jacob pun menyungginkan senyum kecilnya. "Tidak apa, aku akan sabar menunggumu sampai kau mengingatku. Yang terpenting sekarang adalah kau mau menaruh kepercayaanmu padaku, Lil Ale."
"Kemarilah," Jacob kembali membawa tubuh Alesha untuk masuk dalam pelukannya.
Alesha diam. Entah kenapa ia tidak bisa memberontak atau menolak pelukan pria yang dirasa masih asing untuknya itu. Namun, lagi-lagi rasa nyaman, dan hangat menyelinap masuk menenangkan hati Alesha ketika tubuh besar Jacob merengkuh tubuhnya. Bahkan kini Ia merasa sangat familiar dengan pelukan yang Jacob berikan itu. Kasih sayang, dan cinta, Alesha merasakan dua hal itu yang mengalir dari kehangatan dekapan Jacob.
"Aku mencintaimu, My Lil Ale," Jacob mencium kedua sisi pipi Alesha. "Aku mencintaimu," Kini Jacob memberikan tatapan penuh cinta pada istrinya tersebut.
Alesha yang mendapatkan dua ciuman singkat dari pria yang masih dirasa asing itu pun kini hanya bisa menundukkan wajahnya dengan malu-malu. Sensasi panas menjalar keseluruh tubuhnya.
__ADS_1
Kenapa aku menyukai itu?...... Gumam Alesha dalam hatinya.