Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Memulai Kembali


__ADS_3

Terbang menuju salah satu pulau besar yang terdapat di salah satu gugusan kepulauan pasifik, pesawat pribadi miliki Laura yang membawa Alesha, Jacob, Lucas, Bastian, Taylor, dan beberapa awak kabin pesawat kini telah mendarat dengan mulus di landasan pacu pesawat di halaman belakang WOSA.


Mr. Thomson, selaku kepala sekolah WOSA kini sudah berdiri tidak jauh dari lokasi tempat terparkirnya pesawat pribadi milik Laura.


"Ayo, Lil Ale, kita sudah sampai," Ucap Jacob sembari membawa istrinya untuk bergegas keluar dari dalam pesawat.


Alesha yang masih dirundung rasa takut kini hanya bisa menurut. Entah apa yang akan terjadi dengan dirinya nanti, tapi Alesha tidak bisa mengenyahkan pikiran-pikiran buruknya. Ia masih cukup takut, dan tidak bisa melakukan apa-apa di sini selain menuruti ucapan Jacob.


"Silahkan, Tuan," Ucap sang pramugari yang membukakan pintu pesawat untuk Jacob, dan Alesha.


"Terima kasih," Balas Jacob, ramah.


Alesha yang mendapati pemandangan asing namun terasa familiar olehnya pun kini tertegun di ambang pintu.


Ya. Alesha pikir tempat yang kini ia datangi adalah tempat asing, dan baru untuknya, tapi entah kenapa ada perasaan lain yang membuat Alesha merasa bahagia, dan begitu familiar dengan tempat itu.


"Alesha, kenapa?" Tanya Jacob.


"Tempat apa ini, Tuan?" Tanya balik Alesha.


"Ini adalah WOSA, tempat kita bertemu, dan mengukir banyak cerita. Di tempat inilah kau melanjutkan pendidikanmu, Alesha," Jawab Jacob. "Ayo, kita turun. Lihatlah di sana, ada yang sudah menunggu kita," Jacob menunjuk pada Mr. Thomson yang berdiri sekitar dua puluh meter darinya.


"Dia siapa?" Alesha kembali bertanya, namun kali ini ia juga mulai melangkah menuruni anak tangga.


"Dia adalah Mr. Thomson, kepala sekolah di sini," Jawab Jacob. Ia masih menggenggam sebelah telapak tangan istrinya tanpa ada niatan sedikit pun untuk melepaskan.


"Senang sekali rasanya bisa kembali ke WOSA," Ucap Lucas dengan penuh semangat.


"Kau benar, Lu, aku sangat merindukan tempat ini," Sahut Bastian yang tidak kalah bersemangatnya.


"Berapa lama aku tidak ke sini, ya ampun. Aku sangat merindukan saat-saat aku masih bersekolah di sini. Mr. Jacob, bisa kita bawa tim kita ke sini untuk bersekolah lagi?"


Jacob terkekeh mendengar ucapan Lucas barusan. "Silahkan, jika Mr. Thomson, dan Mr. Frank memberikan izin, aku akan dengan senang hati mendidik kalian kembali."


"Tuan, apa benar aku pernah ke tempat ini sebelumnya?" Tanya Alesha, pelan. "Aku merasa cukup familiar, tapi aku tidak ingat aku pernah ke sini," Lanjutnya.


"Tentu saja, Alesha. Tempat inilah yang mempertemukan kita, sayang," Jawab Jacob. "Kau merasa familiar karna hati, dan dirimu mengenal tempat ini, namun ingatanmu melupakan tempat ini, Lil Ale."


Alesha tidak membalas. Ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.


Seperti tidak asing. Kenapa terasa sangat familiar? Pikir Alesha.


"Selamat datang kembali, Jack. WOSA merindukan salah satu mentor terbaiknya," Ucap Mr. Thomson yang menjadi sambutan untuk Jacob.


Jacob tersenyum menanggapi ucapan Mr. Thomson barusan.


"Hai, kalian, bagaimana rasanya kembali ke tempat ini?" Tanya Mr. Thomson dengan nada meledek kepada Bastian, dan Lucas.


"Aku ingin menjadi murid WOSA lagi, dan Mr. Jacob kembali mementoriku, dan timku," Jawab Bastian.


"Aku pun sama, Mr. Thomson. Aku sangat rindu saat dimana aku menjadi murid WOSA," Lanjut Lucas.


Kekehan kecil Mr. Thomson terdengar setelah mendengar ucapan Lucas, dan Bastian. Lalu setelah itu, kepala sekolah WOSA tersebut melirik pada Alesha.


"Hai, Alesha," Sapa ramah Mr. Thomson.


Alesha diam, menatap bingung pada pria paruh baya yang ada dihadapannya.


"Kau pasti tidak mengingatku bukan?" Sambung Mr. Thomson disertai senyum kecilnya. "Tidak apa, kita bisa memulai perkenalan lagi dari awal. Aku adalah Mr. Thomson, kepala sekolah di sini."


Mr. Thomson menyalurkan telapak tangan kanannya untuk berjabat tangan dengan Alesha.


Awalnya Alesha menatap ragu pada uluran tangan yang Mr. Thomson lakukan, namun setelah itu, secara perlahan Alesha pun mengangkat telapak tangan kanannya untuk menerima, dan berjabat tangan dengan Mr. Thomson.


"Lish..." Sebentar, Alesha bingung menyebutkan namanya. Lisha? Atau Alesha?


"Alesha..." Panggil Jacob yang kini menatap hangat pada istrinya.


Alesha melirik sekilas pada Jacob, lalu setelah itu. "Aku Al-lesha," Ragu, dan sedikit bergetar. Alesha tidak yakin dengan nama lama yang terasa baru itu.


Mr. Thomson tidak membalas apapun, melainkan senyuman kecil terulas pada wajahnya. Ada rasa sedih dalam hati Mr. Thomson saat melihat Alesha yang mengalami amnesia. Entah apa yang Jacob rasakan saat ini, tapi yang pasti Mr. Thomson berharap Alesha akan cepat mendapatkan ingatan lamanya kembali di WOSA.


"Kalian pasti lelah, istirahatlah. Jack, kau, dan Alesha bisa pakai ruangan lamamu, dan untuk kalian," Mr. Thomson menatap pada Bastian, Lucas, dan Taylor. "Ada satu ruangan kamar mess yang masih kosong. Kalian bisa menempati kamar itu."


"Iya, Mr. Thomson, lagi pun kami di sini tidak akan lama, paling besok kami sudah harus kembali karna kami tidak bisa lama-lama meninggalkan pekerjaan," Balas Bastian.


"Oh ya, Taylor, selama aku di sini, tolong gantikan posisi, dan pekerjaanku. Aku akan mengatakannya pada ibu, dan Mona," Ucap Jacob pada asisten kepercayaannya.


"Baik, Tuan," Taylor mengangguk.


"Yasudah kalau begitu ayo, Alesha, kita ke ruanganku, kau pasti ingin beristirahatkan?" Jacob menangkup wajah istrinya.

__ADS_1


"I-iya," Balas Alesha, pelan.


"Mr. Thomson, aku, dan Alesha pergi duluan ya."


Mr. Thomson mengangguki ucapan Jacob.


"Ayo, sayang," Kemudian Jacob membawa istrinya untuk berjalan menuju ruangan lamanya tempat ia dulu masih menjadi mentor di WOSA.


"Kita akan kemana, Tuan?" Tanya Alesha.


"Ke ruanganku, Lil Ale," Jawab Jacob dengan lembut.


Alesha tidak membalas. Kini ia sibuk memperhatikan sekelilingnya.


"Tamannya indah," Gumam Alesha tanpa terasa. Senyum cerah pun tak luput terukir dari wajahnya ketika ia melihat pemandangan yang sangat menyegarkan matanya.


Jacob yang mendengar itu pun tersenyum kecil.


"Tempat apa ini? Arsitektur bangunannya seperti di tempat-tempat fantasi," Lanjut Alesha.


"Kau suka?" Tanya Jacob.


"Iya. Aku merasa seperti di negri-negri fantasi yang ada difilm," Jawab Alesha masih dengan binar senyumnya.


"Itu adalah gedung venus, asrama untuk para wanita, di sebelahnya gedung jupiter, asrama untuk para lelaki," Terang Jacob sembari menunjuk pada kedua gedung asrama para murid WOSA.


"Gedung itu, aku jadi teringat film Harry Potter, taman di pinggirnya juga sangat indah, dan kolam air mancurnya terlihat jernih."


Jacob tersenyum bahagia saat melihat binar cerah yang terpancar dari mata istrinya. Saat ini Alesha sedang terlihat kagum dengan pemandangan bangunan, dan taman-taman WOSA, padahal sebelumnya Alesha sendiri sudah sangat tahu bagaimana penampakan WOSA.


"Tuan, sebenarnya ini tempat apa? Kenapa bangunan, dan tamannya terlihat indah?"


"WOSA adalah tempat pendidikan untuk para remaja pilihan yang sudah mengikuti seleksi ketat selama beberapa bulan. Para murid itu dididik tentang banyak hal, terutama tentang astronomi, sains, fisika, dan kimia. Setelah lulus dari sini mereka akan bekerja di SIO, yaitu organisasi rahasia yang bergerak dalam bidang pencarian, dan penggalian ilmu pengetahuan yang masih tersembunyi di dunia ini."


Alesha mengerutkan keningnya, tidak paham maksud dari ucapan suaminya.


"Huft..." Oke, Jacob sadar jika Alesha kebingungan dengan ucapannya. Lalu Jacob menghentikan langkahnya, dan berbalik menghadap ke arah istrinya. "Tempat ini adalah WOSA, sebuah academy khusus yang menjadi tempat pelatihan, dan pendidikan untuk para remaja pilihan. Para remaja itu diberikan pendidikan khusus supaya mereka bisa membantu para ilmuan untuk mencari tahu tentang hal-hal yang masih tersembunyi di dunia ini. Bukan hanya hal-hal yang masih tersembunyi, tapi mereka juga akan meneliti tentang banyak hal yang memiliki sangkut paut dengan ilmu pengetahuan. Tapi segala hal yang sudah SIO temukan dilarang untuk disebarkan begitu saja, hanya sedikit penemuan-penemuan SIO yang sudah dipublikasikan. Beberapa persen dari murid lulusan WOSA akan menjadi mentor untuk membantu para guru mendidik para murid WOSA angkatan baru, dan beberapa persen lagi akan dipilih untuk agent khusus supaya bisa memberantas orang-orang jahat yang berusaha untuk mencuri sampel atau penemuan milik SIO."


"Berarti ini bukanlah academy atau sekolah biasa?" Tanya Alesha sembari mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.


"Iya, semua murid di sini adalah pilihan, dan mereka dituntut untuk bisa menguasai materi, dan pelajaran yang sudah diberikan," Jawab Jacob.


Kini Alesha, dan Jacob kembali berjalan beriringan. Beberapa kali mereka berpapasan dengan para mentor lama yang merupakan teman Jacob. Salam, dan sapaan pun tentunya tidak luput, namun ada satu hal yang membuat para mentor WOSA merasa aneh, yaitu Alesha.


Sama halnya saat Jacob, dan Alesha berapapasan dengan Eve. Alesha melayangkan ekspresi membingungkan saat Eve menyapanya, dan tentu saja hal itu membuat Eve merasa aneh terhadap Alesha.


"Jack, ada apa dengan Alesha? Kenapa dia tidak mengingatku?" Tanya Eve pada mantan rival kerjanya di SIO, Jacob.


"Alesha mengalami amnesia, dia juga tidak ingat padaku," Jawab Jacob sembari tersenyum kecut.


"Apa?" Pekik Eve. "Amnesia?" Eve memandangi wajah Alesha dengan ekspresi tidak percaya. "Bagaimana bisa?"


"Ceritanya panjang. Aku membawanya ke sini karna di sini kami memiliki banyak kenangan manis. Aku pikir Alesha bisa mendapatkan ingatan lamanya kembali di sini," Jawab Jacob.


Eve yang mendengar itu seketika merasa sedih, dan prihatin. Ya walau pun Jacob adalah rival kerjanya, namun bagaimana juga mereka adalah rekan kerja juga, jadi ya wajar saja jika ada rasa prihatin dalam hati Eve saat mendengar Alesha yang mengalami amnesia.


"Aku turut prihatin mendengar itu, semoga Alesha bisa cepat mendapatkan ingatan lamanya kembali," Ucap Eve yang sedikit dibumbui oleh kesedihan.


Jacob hanya mengangguk seraya tersenyum kecil. "Kalau begitu kami pergi dulu, Eve, Alesha harus beristirahat karna pasti dia kelelahan."


"Baiklah, silahkan," Balas Eve.


"Ayo, sayang," Jacob segera membawa istrinya untuk kembali berjalan menuju gedung para mentor.


Tidak ada percakapan yang terdengar antara Alesha, dan Jacob. Mereka sama-sama terdiam bersama pikiran masing-masing, hingga sampai akhirnya mereka tiba di ruangan tempat dulu Jacob masih menjadi mentor di WOSA.


Jacob langsung membawa Alesha masuk ke ruangannya, lalu setelah itu ia menaruh koper, dan barang bawaan lainnya ke dalam kamar.


Alesha yang kini terduduk disofa panjang di ruang kerja suaminya dulu pun hanya celingak-celinguk, menatap ke kanan, dan kiri seperti orang linglung.


"Ini ruang kerjaku dulu, Al, dan di sana adalah kamarku, kamar kita," Jacob berjalan menghampiri istrinya. "Kau mau istirahat? Atau mau makan? Kau belum makan dari tadi, sayang, lebih baik kita makan dulu di kantin," Ucap Jacob.


Alesha diam, tidak tahu harus memberikan jawaban atau balasan apa, tapi jujur saja sebenarnya Alesha memang kelaparan.


"Baiklah, kau tidak membalas. Kalau begitu aku akan pergi ke kantin, dan membawakan dua porsi makanan untuk kita, kita makan di sini saja. Lagi pula kau pasti akan canggung dengan para murid WOSA," Jacob tersenyum kecil. Telapak tangan besarnya mengelus lembut puncak kepala Alesha.


"Kau tunggu di sini sebentar ya."


Alesha mengangguk pelan.


Jacob beranjak dari duduknya untuk pergi menuju kantin. Selepas Jacob menghilang dari balik pintu, barulah Alesha mulai berdiri, dan berjalan melihat-lihat ruangan yang tampak rapih. Di ruangan itu masih terdapat satu pasang meja, dan bangku kerja, jam dinding, satu sofa panjang, dan dua sofa kecil, sebuah lemari, dan rak kerja, kulkas, AC, dan satu unit televisi LED berukuran sedang yang menancap pada dinding.

__ADS_1


Cukup komplit.


Kemudian Alesha mencoba untuk memasuki ruang kamar.


Sedikit ragu sih, tapi apasalahnya? Dia kan hanya ingin tahu saja, lagi pula jika ia memang benar istrinya Jacob, maka Jacob pun tidak akan marah hanya karna ia yang memasuki kamar tanpa izin.


Ceklek....


Saat pintu terbuka, Alesha melihat satu buah kasur besar, lemari besar dengan kaca, lalu satu pasang meja, dan bangku lagi yang diatasnya sudah terdapat beberapa bingkai foto, satu buah ponsel, dan satu buah tas berukuran kecil.


Foto. Bingkai foto itu. Alesha jadi merasa penasaran. Lalu ia pun berjalan mendekati meja tersebut untuk melihat foto yang berada dalam bingkai.


Kening Alesha mulai berkerut, nampak wajah-wajah membingungkan yang terlihat pada rautnya saat ini.


Foto itu, menunjukkan sepasang pengantin yang tengah tersenyum di atas pelaminan.


Jacob. Pria itu memeluk sang pengantin wanita dari belakang.


Lalu pengantin wanita itu.


Alesha menyipitkan kedua matanya untuk memperjelas wajah sang pengantin wanita yang ada di dalam foto tersebut.


"Aku?" Gumam Alesha tanpa sadar. Ia melihat wajahnya dalam foto pengantin wanita yang dipeluk oleh Jacob itu.


Kenapa? Kenapa wajah itu sangat mirip dengannya? Atau kah mungkin itu memang ia? Pikir Alesha.


"Hhhh..." Alesha terkesiap. Sorot matanya menunjukkan sebuah ketidak percayaan. Lalu Alesha mencoba untuk melihat bingkai foto yang lain.


Bukan sebuah foto pernikahan, namun dalam bingkai tersebut menunjukkan dengan sangat amat jelas gambar Jacob yang sedang berfoto selfie bersama Alesha.


"Ini? Tidak!" Alesha menggelengkan kepalanya.


"Aku?" Alesha menatap lekat wajahnya yang terpampang nyata dalam foto tersebut.


Jadi aku benar-benar istrinya pria itu?...... Gumam Alesha dalam hati.


"Apa mungkin aku memiliki kembaran? Tapi jika iya kenapa pria itu mengaku sebagai suamiku? Bukan kembaranku?"


Alesha terus bertanya-tanya dalam pikirannya kenapa ia bisa ada dalam foto tersebut bersama Jacob.


Argh, amnesia itu benar-benar membuat Alesha kebingungan, dan merasa susah!


"Lil Ale...." Panggil Jacob yang sudah kembali dari kantin. "Sayang....."


Jacob yang tidak mendapati keberadaan Alesha di ruang kerjanya pun segera berjalan masuk menuju kamarnya.


"Alesha..." Jacob mendapati istrinya, Alesha sedang berdiri termenung sembari memegang bingkai foto mereka.


"Sayang, ayo makan, aku sudah membawakan ayam pedas untukmu," Ucap Jacob sembari menghampiri istrinya.


"Kau sudah melihat foto-foto itu ya?" Jacob tersenyum." Aku sengaja menaruhnya di sana supaya kau bisa melihatnya, Alesha."


"Bagaimana? Apa yang kau rasakan setelah melihat foto itu?" Tanya Jacob sembari menaruh dua piring berisi lauk pauk yang ia bawa di atas meja.


"Tuan, apa benar ini aku? Wanita dalam foto itu sangat mirip denganku. Apa mungkin aku memiliki kembaran?" Tanya Alesha, lirih.


"Itu benar-benar kau, Alesha. Lihatlah, ini adalah foto pernikahan kita," Jacob mengambil bingkai foto pernikahanya bersama Alesha. "Kau tidak memiliki kembaran, sayang."


"Aku merasa aneh, Tuan," Alesha masih berucap lirih.


"Aneh? Aneh kenapa?" Tanya Jacob.


"Aku masih bingung dengan ini semua? Aku takut jika Rangga mempermainkan aku," Jawab Alesha.


"Dia memang mempermainkan ingatanmu, Alesha. Tapi dia melakukan itu juga demi menjaga, dan melindungimu, meski caranya sangat salah karna memisahkanmu denganku," Jacob memeluk pinggang istrinya. "Aku sangat mencintaimu, Alesha. Satu tahun kita berpisah, kau pikir aku tidak frustasi? Aku mencarimu, aku sangat mengkhawatirkanmu, aku selalu bertanya-tanya pada diriku sendiri apa salahku hingga kau pergi begitu saja tanpa meninggalkan jejak sedikit pun supaya aku bisa menemukanmu. Coba kau bayangkan bagaimana jika berada diposisiku. Kau mencariku selama satu tahun, dan setelah bertemu ternyata aku melupakanmu karna aku mengalami amnesia."


Eh tunggu. Kenapa sekarang Jacob malah menyuruh Alesha membayangkan hal seperti itu?


Tapi sakit. Alesha merasakan perih dalam hatinya saat ia membayangkan jika ia yang berada diposisi Jacob saat ini.


"Tapi aku akan bersabar untuk mengembalikan ingatan lamamu agar kau bisa mengingatku lagi. Aku hanya membutuhkan kepercayaanmu, Alesha. Percayalah padaku," Sambung Jacob begitu tulus.


Percaya masih terasa sedikit sulit, tapi jika tidak percaya juga bagaimana dengan nasib dirinya di sini? Pikir Alesha. Ya mau tidak mau Alesha harus mempercayai Jacob.


"Sekarang kita lupakan dulu masalah itu sejenak. Aku tahu kau pasti sangat lapar, ini aku sudah membawakan ayam pedas untukmu karna kau sangat suka sekali dengan makanan pedas."


Bagaimana pria itu bisa tahu kalau aku sangat suka makanan pedas? Mungkin dia memang suamiku, tapi rasanya masih sulit untuk menerima pria asing itu...... Ucap Alesha dalam hatinya.


Tidak mau berpikir panjang lagi, Alesha segera mendudukan tubuhnya di pinggiran kasur, dan mulai makan.


Mulutnya mengunyah, ekspresinya datar biasa-biasa saja, namun dalam hati, dan pikiran, Alesha terus bergumam dengan segala macam pertanyaan mengenai amnesia, dan hubungannya dengan Jacob.

__ADS_1


Pria ini, benarkah aku adalah istrinya? Dia terlihat baik, dan ramah, juga tampan. Aku kadang merasa hangat, dan nyaman saat dia memelukku. Kenapa? Amnesia ini benar-benar menyusahkan! Aku tidak bisa mengingat apapun selain yang Rangga ceritakan padaku! Tuan, jika kau benar-benar suamiku, aku harap kau bisa membuktikannya, dan membuatku yakin jika kau memanglah orang baik, dan bukan orang yang sudah membeliku dari Rangga, aku takut jika kau, dan Rangga bersekongkol untuk menjual, dan membeliku. Tapi rasanya kenapa tidak mungkin Rangga melakukan itu? Bukankah dia sangat menyayangiku? Rangga, aku takut. Bagaimana kalau pria ini berniat jahat padaku?


__ADS_2