Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Merindu


__ADS_3

Sore berganti malam. Alesha asik bermain bersama, Nick, putra Tessa, dan Levin.


"Ayo, berjalan, Nick, ayo..." ucap Tessa sembari menunggu anaknya melangkah padanya.


"Anak pintar." Tessa tersenyum bahagia setelah putra kesayangannya itu berhasil berjalan dengan langkah yang cukup banyak untuk mendekatinya.


"Dia sudah pintar berjalan, ya," ucap Alesha sembari mengusap pelan puncak kepala Nick.


"Iya, bukan hanya berjalan, dia bahkan sudah bisa menghitung sampai sepuluh," balas Tessa.


"Sungguh?" kedua mata Alesha berbinar. "Pintar sekali."


"Momy....." tiba-tiba Nick merondang, dan bangkit berdiri, berpegangan pada tubuh ibunya, Tessa.


"Apa, honey?"


"Dady....."


Senyum indah Tessa perlahan luntur ketika putranya itu menanyakan suaminya.


"Dady, aku ingin Dady, Momy..." mulut mungil Nick berucap selayak anak umur dua tahun yang sudah pandai berbicara.


"Dady masih bekerja, sayang," balas Tessa dengan senyum sendunya.


"Nooo, Dady..... aku ingin melihat Dady, Momy, hiks hiks," bocah kecil itu mulai menangis.


"Dady masih bekerja, Nick. Kita akan segera melihatnya, tapi tidak sekarang, sayang."


"Dady.... Hiks hiks... Dady....." tangis Nick semakin pecah karna keinginannya tidak terpenuhi. "DADYY....."


Alesha terdiam, tak tahu harus apa ketika melihat Nick menangis kencang. Begitu pula dengan Tessa yang mulai dijatuhi oleh air mata.


"Dady.... Hiks hiks, Dady...."


"Alesha, aku akan ke kamar sekarang untuk menidurkan Nick," Ucap Tessa sembari bangkit berdiri. Nick masih menangis, bocah itu memeluk ibunya dengan kuat.


"I... Iya." Alesha mengangguk.


Sejurus kemudian, Tessa berbalik badan, dan pergilah menuju kamarnya.


Alesha terduduk diam di tempatnya. Ia termenung, memikirkan Jacob. Perasaannya mendadak tidak enak. Ada apa?


"Tuan Taylor..." Alesha membalikkan tubuh, menghadap pengawal pribadinya.


"Iya Nona, ada apa?" Taylor berjalan mendekati Alesha.


"Boleh aku menghubungi Mr. Jacob sekarang. Perasaanku tidak enak," mohon Alesha.


"Tidak, Nona, tuan Jacob sedang tidak bisa diganggu saat ini," jawab Taylor.


"Sebentar saja, aku hanya ingin tahu kabarnya. Perasaanku tidak enak." Alesha benar-benar memohon.


Taylor menghembuskan napas panjang. Satu sisi ia tidak tega dengan nyonya mudanya itu, tapi disisi lain, ia juga bingung. Beberapa saat lalu Jacob sudah menghubunginya untuk menanyakan kabar Alesha, dan sekarang, Alesha yang ingin menghubungi Jacob untuk balik menanyakan kabar.


"Tuan Jacob baik-baik saja, beberapa saat lalu dia menghubungi saya, Nona," balas Taylor lembut.


"Tidak, aku ingin mendengar suaranya langsung," pasrah Alesha.


Taylor berpikir sejenak. Apa tidak apa jika ia mengirim pesan pada Jacob dan mengatakan jika Alesha ingin menghubungi tuan mudanya itu.


"Hmm, baiklah, tunggu sebentar," mungkin tidak masalah jika Taylor mencobanya dulu. Jika Jacob tidak sedang sibuk, pasti akan membalas pesannya.


"Oh ya, Nona, boleh saya minta satu permintaan?" ucap Taylor sembari mengetik pesan pada layar ponselnya.


"Apa?" tanya Alesha.


"Jangan panggil saya dengan sebutan 'Tuan' cukup panggil Taylor saja, Nona."


Dahi Alesha menyerngit seketika. Sebentar, maksudnya panggil nama saja? Begitu? Apa tidak terkesan tidak sopan, ya?


"Tapi, kau lebih tua dariku," balas Alesha.


"Tidak, Nona. Panggil saja namaku, Taylor. Tidak perlu memakai kata 'Tuan' didepannya."


"Ehmm, baiklah kalau begitu, Taylor," sebenarnya Alesha merasa kaku jika hanya memanggil nama saja. Pengawal pribadinya tampak seumuran dengan Kakak angkatnya, Rangga.


"Terima kasih, Nona," balas Taylor disertai senyuman.


"I.. Iya." Alesha mengangguk ragu.


Setelah itu, tidak ada percakapan apa-apa lagi.


Alesha, dan Taylor sama-sama menunggu balasan pesan dari Jacob.


Hingga kurang lebih sepuluh menit kemudian.


Drett....


Ponsel Taylor bergetar. Ada notifikasi pesan masuk dari Jacob.


"Bagaimana, tu.... Ehm, maksudnya, Taylor?" Alesha nyaris salah sebut.


"Iya, Nona. Anda bisa menghubungi tuan Jacob," jawab Taylor.


Sumringah bukan main Alesha mendengar itu. Akhirnya. Ia sudah sangat cemas, dan perasaannya tidak enak terhadap Jacob, namun kini ia bisa menanyakan langsung kabar suaminya itu.


"Hubungkan cepat!" Alesha sudah tidak sabar.


"Ini, Nona." Taylor menyerahkan ponselnya yang sudah terhubung dengan Jacob.


Alesha "Hallo, assalamualaikum, Jack."


Jacob "Wa 'alaikumussalam. Lil Ale, ada apa?"


Alesha "Aku hanya ingin menanyai kabarmu. Kau pergi tanpa pamit dulu padaku."


Jacob terdengar tertawa kecil.


Jacob "Kau tadi tidur pulas, sayang. Jadi kau tidak tahu. Aku sudah pamit padamu."


Alesha "Apa yang sedang kau lakukan saat ini? Pulang tidak?"


Jacob "Aku? Ehm, aku sedang mengurus beberapa project perusahaan ibu, jadi aku sangat sibuk. Maaf aku tidak bisa pulang malam ini, Lil Ale."


Alesha "Lalu kapan kau akan pulang?"


Jacob "Besok mungkin. Kenapa memangnya? Kau merindukanku, ya?"


Alesha "Tidak!"


Jacob "Sungguh? Padahal aku berharap kau merindukanku."


Alesha "Sudahlah, cepat selesaikan pekerjaanmu, cepatlah pulang. Aku menunggumu di sini. Baby J ingin bertemu ayahnya."

__ADS_1


Jacob "Iya, sayang. Tenang saja, kau tidak usah khawatir. Aku baik-baik saja. Aku pasti akan segera selesaikan pekerjaanku, dan aku akan segera pulang. Jangan pergi kemana-mana selama aku belum pulang. Mengerti, Lil Ale?"


Alesha "Iya, pak suami."


Jacob "Yasudah, kalau begitu aku matikan, ya sambungan telponnya."


Alesha "Ehmm, Jack, kau sangat sibuk sekali ya?"


Alesha murung. Ia masih ingin berkomunikasi dengan suaminya.


Jacob "Lil Ale, maaf. Aku berjanji akan segera menyelesaikan pekerjaanku, dan pulang. Tapi saat ini, aku memang tidak banyak memiliki waktu untuk bertelponan denganmu."


Jacob pun terdengar sedih.


Alesha "Baiklah, tidak apa kalau begitu. Semangat kerjanya, suamiku. Aku mencintaimu, Jack."


Jacob "Aku juga mencintaimu, sayang."


Alesha "Assalamualaikum..."


Jacob "Wa 'alaikumussalam..."


Selesai!


Alesha menyerahkan kembali ponselnya pada Taylor. "Terima kasih."


"Iya, sama-sama, Nona."


Alesha menunduk murung. Ia tak lagi banyak bicara, melainkan berjalan begitu saja menuju kamarnya.


"Alesha, kau mau kemana?" tanya Merina yang berpapasan dengan Alesha di luar ruang keluarga.


"Kamar," jawab Alesha lemah tanpa menoleh.


Tyson bersama Aiden yang mendapati itu pun terdiam memandang Alesha yang terlihat sedih.


"Merina, coba kau ikuti dia. Temani dia kalau bisa," titah Aiden.


"I... iya, baiklah." Merina mengangguk.


Selanjutnya, Merina berjalan menyusul Alesha. Mungkin malam ini ia akan menemani Alesha atau menghibur Alesha supaya tidak merasa sedih mengingat Alesha yang sedang hamil.


*****


Sementara itu di lain tempat.


Jacob sudah tiba di lokasi tujuannya sejak beberapa jam lalu. Ia berada disalah satu perkampungan kaki gunung salak, tidak jauh dari lokasi markas kelompok jaringan gelap.


"Mr. Jacob, ini." Nakyung menyerahkan sebuah roti yang ia bawa untuk perbekalan. Jacob belum makan apapun dari tadi.


"Tidak, terima kasih," balas Jacob, pelan.


"Tapi kau belum makan apapun, Mr. Jacob," ucap Nakyung.


"Tidak masalah bagiku." Jacob tidak ingin memakan apapun. Ia hanya ingin bertemu dengan istrinya, ia merindukan Alesha.


"Mr. Jacob, kau kenapa?" Nakyung mendapati satu hal yang aneh. Jacob diam, dan nampak memikirkan satu hal.


"Aku baik-baik saja, Nakyung," balas Jacob.


"Kau yakin?"


Jacob melemparkan senyum manis pada Nakyung. "Aku baik-baik saja."


"Ehm, baiklah."


"Dimana Bastian, Maudy, Lukas, dan Mike?"


"Mereka bersama Mr. Danish. Dan kau di sini menyendiri. Ada apa?" Nakyung masih penasaran.


"Aku tidak apa-apa, percayalah."


"Kalau begitu, kau pasti merindukan Alesha," tebak Nakyung, asal.


Jacob terdiam, memandang gadis dihadapannya itu. Ia tidak tahu bagaimana Nakyung bisa tahu itu, tapi sungguh, ia sangat merindukan Alesha. Apa yang sedang Alesha lakukan saat ini? Apa Alesha merindukannya juga?


"Kau harus bersemangat menjalani misi ini demi Alesha, Mr. Jacob. Alesha sedang hamil, dia membutuhkanmu. Jangan sampai dia kehilanganmu," ucap Nakyung.


"Aku hanya ingin melihatnya saat ini. Sejak kami bertemu enam bulan lalu, kami selalu menatap bintang bersama di taman WOSA." Jacob menatap ke arah langit, memandang hamparan bintang sembari tersenyum kecil.


"Kau pria hebat. Kau akan kembali pada Alesha besok. Jangan membuatnya bersedih, Mr. Jacob, dia sedang mengandung anakmu."


"Akan aku hancurkan komplotan sialan itu malam ini!" tekad Jacob.


"Mr. Jacob," panggil Lucas. Ia datang bersama keempat kawannya.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Mike.


"Aku menawarkan roti ini kepada Mr. Jacob, tapi dia menolaknya," jawab Nakyung.


"Mr. Jacob, Merina mengirim pesan padaku," ucap Lucas.


"Pesan apa?" tanya Jacob, penasaran.


"Alesha merindukanmu, Mr. Jacob."


Deg!


Jacob terdiam. Tatapan matanya lurus kosong.


"Batin kalian benar-benar terhubung. Kalian sama-sama saling merindukan." Nakyung terkekeh.


"Lalu apa yang sedang Alesha lakukan sekarang?" tanya Jacob bersama tampang sedihnya.


"Alesha di kamarnya bersama Merina. Merina mencoba untuk mengalihkan pikiran Alesha agar Alesha tidak semakin bersedih, tapi hasilnya adalah Alesha yang meminta untuk dibelikan rujak mangga muda malam ini juga," jawab Lucas. Ia tertawa kecil saat membaca pesan yang Merina kirimkan barusan.


"Dia mulai mengidam sepertinya," ucap Maudy bersama kekehannya.


"Lalu siapa yang membelikkan rujak itu?" tanya Jacob. Ia pun turut terkekeh, dan tersenyum kecil.


"Tyson."


"Apa? Tyson?" Bastian menyerngitkan dahi.


"Ya." Lucas tertawa kecil. Ia terus membaca pesan yang Merina kirim. "Alesha bilang kalau ia ingin Tyson yang membelinya."


"Ya ampun, Alesha..." Mike menggelengkan kepalanya sembari tertawa ringan.


"Malam-malam seperti ini, dimana yang berjualan mangga muda? Memangnya Tyson tahu?" Bastian terkekeh.


"Alesha ingin martabak coklat juga kebab, dan dim sum," lanjut Lucas. "Dia sangat bawel, dan banyak sekali permintaan," tawanya belum juga usai. "Merina bilang kalau Alesha ingin makan mie ayam di pinggir jalan sekarang, tapi Merina menolaknya, namun Alesha memaksa."


"Apa yang harus dilakukan, Mr. Jacob? Alesha sangat keras kepala." Lucas menoleh pada Jacob.

__ADS_1


"Jangan biarkan dia keluar dari mansion. Suruh salah satu anak buah Taylor untuk membelinya," jawab Jacob.


"Baiklah sebentar." Lucas mengirimkan pesan yang barusan Jacob katakan.


"Apa dia selalu seperti itu, Mr. Jacob?" tanya Nakyung.


"Dulu, sewaktu ia hamil Khalid, dan Alshiba, setiap malam atau tengah malam dia selalu meminta makanan yang aneh-aneh padaku. Namun aku jarang menurutinya. Paling dia akan makan makanan yang ada di dapur saja," jawab Jacob.


"Apa dia tidak marah keinginannya itu tidak kau turuti?" kali ini Maudy yang bertanya.


"Tentu dia marah. Hanya saja, Alesha takut padaku, jadi mau tidak mau dia harus menurut," jawab Jacob.


"Alesha ingin...." ketika Jacob berniat untuk melanjutkan ucapannya, tiba-tiba saja Danish berlari menghampirinya dengan tergesa-gesa.


"Jack!...."


...*****...


"Aku mau makan mie ayam malam ini!" Alesha menunjukkan pupy eyes -nya pada Rangga.


"Tidak, Al, ini sudah malam," tolak Rangga.


"Kalau begitu mana mangga mudanya?" Alesha seperti anak kecil yang sedang merajuk.


"Sedang dibeli. Oke!"


"Lama sekali! Aku ingin sekarang. Aku lapar!"


"Kalau begitu ayo makan!" Rangga mulai kehabisan kesabaran.


"Makan apa? Aku ingin mie ayam, Rangga!"


"Iya! Kalau kau mau nanti akan aku belikan! Tapi tidak dengan kau yang langsung mendatangi tempat penjual mie ayam itu!"


"Kau jadi galak, Rangga," lirih Alesha.


"Aku tidak galak, Alesha. Coba mengertilah. Aku sudah menjelaskannya padamu, Jacob melarangmu untuk meninggalkan mansion ini." Rangga berkata pasrah.


"Alesha, ini aku mendapatkan rujak mangga mudanya," ucap Tyson yang masuk begitu saja ke dalam kamar Alesha.


"Tidak! Jangan beri Alesha mangga muda itu! Dia belum memakan apapun!" tegas Rangga.


"Tidak mau! Aku mau mangga mudanya!" Alesha bersikeras. Ia beranjak menuruni tempat tidur untuk berjalan menghampiri Tyson.


"Alesha, tidak!" secepat kilat Rangga mendahului Alesha lalu merebut plastik berisi rujak mangga muda yang Tyson bawa.


"Kau jangan makan ini sebelum makan nasi!" Rangga menatap serius adiknya.


"Kau ini kenapa sih?" Alesha menghentakkan kakinya dengan sebal. "Aku hanya ingin mangga muda itu! Apa salahnya?"


"Tidak! Perutmu masih kosong!"


"Aku mau dim sum, martabak, dan coklatnya kalau begitu!"


"Anak buah Taylor sedang membelinya, sabar lah sebentar." Rangga berusaha mengendalikan emosinya. Baru kali ini ia mendapati tingkah rese, dan keras kepala Alesha, padahal sebelumnya Alesha selalu menurut padanya, dan tidak pernah protes apapun.


"Rangga..." tiba-tiba saja Taylor muncul bersama Aiden, dan Merina. Wajahnya tampak tegang. "Ayo ikut aku! Kalian bertiga tetap di sini, dan jaga Alesha."


Merina, dan Aiden mengangguk. Sementara Tyson, ia masih belum tahu apa yang terjadi.


Tak banyak kata lagi, akhirnya Taylor membawa Rangga pergi.


"Mereka kenapa?" tanya Tyson.


"Anak buah Mr. Jacob mendapati beberapa orang yang tengah memantau mansion ini," jawab Merina.


"Apa?" pekik Alesha. "Siapa mereka?"


"Alesha, tenanglah. Jangan panik. Kami semua di sini untuk menjagamu. Kemungkinan orang-orang itu adalah anak buah dari pria yang sudah berbuat jahat padamu."


Alesha bergeming. Ia mulai ketakutan.


"Susulah bayimu itu sekarang juga!" Dengan sorot mata yang dipenuhi oleh amarah, dan dendam, Dirga pun menyambar tubuh Alesha, dan membantingnya hingga Alesha terkapar tak berdaya.


"HAH!" Alesha terkesiap, dan terlonjak. Tubuh dan wajahnya menegang.


"Alesha... Alesha, ada apa?" tanya Merina, mulai panik.


Alesha meringgis kesakitan ketika kepalanya dihantamkan dengan sangat keras ke arah lantai beberapa kali oleh Dirga.


"Argh!" Alesha meringgis lagi sembari memegangi kepalanya. Ia merasakan sensasi ngilu. Sebuah ingatan lain yang menyakitkan telah kembali dalam memorinya.


Pria itu langsung menghampiri adik angkatnya, Alesha yang tampak mengenaskan dengan darah yang mengalir dari kepala, kuping, dan hidung.


"Alesha, maaf Kakak udah telat..." Lirih pria tersebut.


"Rangga...." lirih Alesha. "Rangga.... hiks." Alesha mulai terisak.


"Alesha, kenapa?" Merina menatap cemas kawannya.


"Hiks, Alshiba...." Alesha bergerak pelan, memeluk tubuh Merina. "Aku mengingat pria itu, hiks. Dia mencekik Alshiba, dia menjatuhkanku ke lantai, dia menghajarku. Kepala, hidung, dan telingaku dialiri oleh darah, hiks. Dirga. Ya, itu orangnya! Aku mengingat pria itu, hiks."


Merina balik memeluk tubuh Alesha dengan erat.


"Tenanglah, ada kami di sini, jangan takut. Kau akan baik-baik saja, Al. Kami tidak akan membiarkan pria jahat itu melukaimu," ucap Merina.


"Aku tidak ingin mengingat itu! Aku tidak ingin mengingat itu! Aku tidak ingin mengingat itu! Hiks." Alesha melepaskan pelukannya. Sorot matanya lurus ketakutan. "Hiks. Aku tidak ingin mengingat itu! Aku takut, hiks. Alshiba...." tubuh Alesha bergetar dan merosot ke lantai. "Hiks, Alshiba... Alshiba... Alshiba... Hiks, bunda minta maaf, bunda gak bisa jagain kamu, sayang, hiks."


"Al!" Merina berlutut, dan kembali memeluk tubuh Alesha dengan erat.


"Merina, hiks, aku ingat kejadian malam itu, hiks. Aku melihat Alshiba yang dicekik, Alshiba kesulitan bernapas. Hiks. Alshiba....." tangis Alesha semakin pecah.


"Mati, kau!"


"Ngaaa..... Ck, ck."


"TIDAK! AKU TIDAK MAU MENDENGAR ITU!! Hiks, ALSHIBA......" Alesha memberontak.


"Alesha! Alesha, jangan seperti ini. Tenanglah!" Merina menahan sekuat tenaga tubuh Alesha. Begitu pun dengan Tyson, dan Aiden, mereka berlutut, tak tahu harus bagaimana. Rasanya sedih melihat Alesha yang menangis histeris karna mengingat kejadian kelam kala itu.


"ALSHIBA!!! Hiks, bayiku... dia membunuh bayiku, hiks. Alshiba. AKAN AKU BALAS KAU, DIRGA!!!"


"Syutt... Alesha, Alesha sadarlah, istigfar ayo, jangan bicara kemana-mana. Oke tenanglah, ingat kau sedang hamil, kau akan segera memiliki bayi lain, jangan buat dirimu stress. Itu bisa berbahaya terhadap kehamilanmu, Al," ucap Merina.


"Hiks. Astagfirullah.... Alshiba...." Alesha memejamkan kedua matanya erat-erat.


*


*


*


Aku balik lagi 🤗😊 ceritanya masih berlanjut ya🤗

__ADS_1


__ADS_2