
Pukul 16.15 WIB Bandung, Indonesia.
Theora telah tiba di kota yang memiliki julukan Kota Kembang tersebut.
Theora menyewa sebuah apartemen dengan menggunakan identitas palsunya. Di dalam apartemen itu, kini Theora tengah berdiskusi bersama anak buahnya.
"Beberapa anggota kita masih tertahan di kantor SIO. Kita tidak mungkin bisa ke sana karna di sana ada banyak sekali agent SIO," Ucap salah seorang pria.
"Termasuk Jacob," Ucap Theora.
"Ya. Jacob juga yang ikut menghabisi beberapa anggota kita bersama Rendi," Lanjut si pria itu.
Theora menghela lalu menghembuskan napasnya seolah sedang menahan sesuatu dibalik wajah datarnya.
"Lalu kita harus bagaimana, Theora? Bagaimana jika salah satu anggota kita mengatakan apa yang akan kita rencanakan selanjutnya pada SIO?" Tanya pria lain yang tampak khawatir.
Theora diam tidak menjawab. Pikiran saat ini sedang tidak fokus karna terus tertuju akan perasaan kecewanya terhadap Jacob.
Theora berharap Jacob tidak akan ikut serta lagi dalam masalah SIO kali ini karna Theora enggan bertemu apalagi sampai bertemu dengan kawan semasa ia kecil hingga remaja itu.
Aku harap aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi, Jack. Setekah aku mendengar kabar jika kau memikiki kekasih bernama Yuna, aku benar-benar patah hati, dan melupakanmu. Aku harap kita tidak akan pernah bertemu...... Ucap Theora dalam hati.
Memang Theora sudah mengetahui hubungan Yuna, dan Jacob waktu itu, bahkan Theora pernah berpikir jika ia bisa kembali berkawan baik dengan Jacob, tapi jika dilihat dari kenyataan saat ini, sepertinya hal itu akan sangat mustahil terjadi.
"Kirim agent rahasia untuk memata-matai SIO, selebihnya kita tunggu perintah dari kakakku!" Perintah Theora, dingin.
Setelah itu Theora bangkit, dan berjalan menuju kamarnya.
Ceklek..
Suara gagang pintu yang ditekan.
Theora memasuki ruangan yang berukuran cukup besar untuk seukuran kamar tersebut.
Theora melangkah, membawa dirinya menuju balkon kamar.
"Huft..." Theora memejamkan matanya, merasakan hembusan angin yang begitu menyejukkan.
Dalam bayangannya kini Theora sedang mengulang kembali kejadian sekitar sebelas belas tahun silam, dimana ia, dan Jacob tengah asik bermain-main di taman kota sembari mengerjakan tugas sekolah.
Terukir sebuah senyum manis pada bibir Theora ketika gambaran ia tengah tertawa cekikikan bersama Jacob kala itu, lalu mereka berlarian menghindari hujan yang tiba-tiba saja turun sangat deras. Saat itu, karna suhu udara cukup dingin, Jacob memakaikannya jaket supaya ia tidak kedinginan, alhasil jadilah Jacob yang akhirnya kedinginan.
Tapi Theora sadar, hal seperti itu tidak akan terulang lagi, apalagi saat ini ia, dan Jacob adalah lawan. Theora cukup sadar diri siapa ia sekarang, dan siapa Jacob sekarang. Sedikit menyesal karna perpisahan mereka dulu, padahal mereka telah sama-sama berjanji untuk dapat bertemu kembali. Namun sekarang Theora berharap janji itu tidak akan pernah terpenuhi mengingat posisi, dan situasi yang mereka berdua hadapi saat ini.
Sedangkan Jacob sendiri, kini ia tengah termenung dalam ruang kerja milik Laras. Pikirannya kini tertuju pada seseorang, ia sadar, dan sudah tahu siapa yang akan ia hadapi. Berhadapan, dan melawan sahabat karib sejak kecil. Dua belas tahun berteman dengan Theora, pahit manis tentunya pernah mereka lewati sebagai teman, dan sahabat dekat.
"Jack.."
Jacob tersadar dari lamunannya ketika suara lembut Alesha itu memanggil namanya.
"Kau kenapa?" Tanya Alesha yang masih menunjukkan sisa raut kesedihannya. Bahkan kedua alis, ujung hidung, dan kedua mata istri Jacob itu masih memerah akibat tangis.
"Tidak apa," Jacob menggelengkan kepalanya pelan seraya tersenyum kecil.
Kemudian Alesha mengambil tempat untuk terduduk sembari memeluk tubuh suaminya. "Aku masih tidak percaya, Jack. Mr. Levin... Dia itu pria yang kuat, dan tangguh, tapi kenapa dia bisa meninggal?" Lirih Alesha. "Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika aku yang ada diposisi Tessa saat ini, pasti aku akan sangat amat terpukul."
"Jangan membayangkan yang tidak-tidak, Al," Balas Jacob sembari mengecup singkat kening istrinya.
"Hiks, aku kasihan pada Tessa, Jack, dia memiliki satu anak yang masih bayi," Alesha menyerka air matanya ketika ia mulai terisak kembali.
Jacob hanya terdiam mendengar ucapan istrinya barusan. Jacob juga merasa kasihan pada Tessa, dan Nicholas yang masih balita, namun mau bagaimana lagi? Kenyataan tidak selamanya baik, dan membahagiakan. Suka atau tidak, mampu atau tidak Tessa harus bisa melewati masa-masa ini.
__ADS_1
Mau sebagaimana Tessa menangis, dan meronta, Levin tidak bisa disisinya saat ini, dan Tessa harus bisa bertahan demi anaknya, buah cintanya bersama Levin.
Tessa tidak boleh terus berlarut dalam kepergian Levin untuk anak mereka, Nicholas, namun untuk saat ini Tessa sungguh tidak bisa melakukan apapun selain menangis, dan meratapi kenyataan yang sangat menghancurkannya.
"Levin... Hiks.." Entah sudah berapa banyak air mata yang terbuang, namun selagi stok kesedihan belum habis, maka Tessa akan terus menangis.
Untuk terakhir kalinya Tessa melihat wajah Levin yang sudah kaku, dan biru di dalam peti mati. Menciumi wajah tampan itu dengan penuh cinta, dan tangis pilu. Hingga saat di dalam mobil pengantar jenazah pun Tessa enggan melepaskan pelukannya dari peti mati suaminya.
"Aku mencintaimu, Levin.. Hiks.." Lagi, Tessa mengeluarkan suaranya dengan begitu lirih. Miris untuknya menatap langsung tubuh suaminya yang terlentang dengan tenang dalam peti mati, dengan kelopak mata yang tertutup, tidak lagi Tessa dapat melihat kedua iris hitam menawan suaminya.
Ceklek...
Tiba-tiba saja pintu ruangan yang saat ini sedang ditempati oleh Tessa terbuka, dan saat itu pula seorang pria berpakaian serba hitam, dengan kaca mata hitam masuk dengan membawakan senampan makanan. Dia adalah salah satu agent SIO yang sengaja disuruh oleh Laras untuk membawakan makanan, dan pesan untuk Tessa.
"Ini makanan untukmu, dan Laras memintamu untuk menemuinya di ruangan rapat setelah makan," Ucap agent tersebut.
Tessa hanya memalingkan wajahnya sambil terus terisak, dan sesegukan. Ia sama sekali tidak ada niatan untuk berbicara, dan menemui siapa pun, termasuk makan.
"Aku turut berduka cita atas kematian Levin," Agent tersebut menundukkan kepalanya sebagai rasa bela sungkawa atas meninggalnya Levin.
"Aku pergi dulu, jika kau butuh bantuan, kau bisa tekan tombol yang ada diatas meja itu supaya beberapa pelayan dapat mendatangimu," Lanjut agent itu sembari menunjuk pada sebuah meja kerja yang dipinggirnya terdapat tombol berwarna merah.
Tidak ada balasan yang agent tersebut terima, akhirnya ia pun pergi meninggalkan Tessa.
"Hiks, Levin...." Tessa memeluk lututnya, dan kembali menangis tersedu-sedu.
...*****...
Suasana beralih menuju ruang dimana saat ini para tawanan SIO berada.
"Katakan dimana kalian menahan Profesor Hans!!" Tegas Mr. Frank yang membuat tubuh seluruh anak buah Theo itu tersentak.
"Kalian tidak punya mulut?" Sindir Danish.
Namun para anak buah Theo itu malah balik menunjukkan senyuman meledek mereka. Tentunya hal itu membuat Mr. Frank geram.
"Katakan dimana Profesor Hans!" Ucap Mr. Frank sembari menodongkan pistol tepat pada kening pria yang sedang Jacob cekik.
"Kau bertanya padaku?" Pria itu malah membalas ucapan Mr. Frank dengan senyum meledek.
"Jangan bermain-main!" Jacob menjambak keras rambut pria itu.
"Kalian terlalu serius," Pria itu menyeringai. "Santai saja sedikit."
"Katakan sekarang atau kalian semua akan mati!" Ancam Mr. Frank.
"Silahkan saja bunuh kami, karna bagaimana juga kalian tetap tidak dapat menemukan Profesor Hans," Pria itu berucap sangat santai, seolah-olah tidak ada ketakutan sama sekali dalam raut wajahnya.
Ceklek..
Terdengar suara gagang pintu yang ditekan.
Ternyata benar, Alesha muncul dengan raut paniknya.
"Empat profesor SIO menghilang dari rumahnya dalam waktu yang bersamaan..." Ucap Alesha yang terdengar begitu panik.
"APA?" Pekik Mr. Frank yang begitu terkejut dengan ucapan Alesha.
"Mrs. Laras baru saja mendapatkan informasi itu dari salah satu agent SIO," Lanjut Alesha.
Sejurus kemudian tatapan tajam Mr. Frank tertuju pada gerombolan mafia yang sedang terduduk dengan kaki, dan tangan yang diikat oleh rantai tebal.
__ADS_1
"Apa rencana Theo?" Mr. Frank semakin menekan ujung lubang pistolnya pada kulit kening pria yang tadi berucap, dan bersikap santai.
"HEI KATAKAN!!" Suara berat Mr. Frank pun mengema dalam volume tinggi.
"Huh," Pria itu kembali menunjukkan senyum meledeknya.
Hanya itu! Ya, hanya itu yang balasan yang Mr. Frank dapatkan dari si pria yang ia todongi pistol.
"DASAR TIDAK BERGUNA!"
Bugh!
"Argh!!" Si pria itu meringgis ketika wajahnya dihantam oleh bogem matang yang Mr. Frank berikan.
"Danish, urus mereka, Jack kau ikut bersamaku!" Kemudian Mr. Frank membalikkan tubuhnya, dan berjalan meninggalkan ruangan dengan amarahnya yang masih menggebu.
"Ayo, Al," Jacob meraih lengan istrinya, dan mereka pun berjalan beriringan mengikuti Mr. Frank.
"Mr. Jacob, apa mungkin keempat profesor itu menghilang karna ulah kelompok mafia itu juga?" Tanya Alesha yang masih terus berjalan.
"Pertama, mungkin, kedua, jangan panggil aku dengan sebutan itu!" Jawab Jacob, datar.
"Ayolah, ini di kantor SIO, apa salahnya kita bersikap sebagai sesama pegawai profesional?" Balas Alesha.
"Patuhi perintah suamimu, Alesha!" Tegas Jacob tanpa sedikit pun melirik pada istrinya.
Alesha menunduk. "Baiklah."
Sesampainya di ruang rapat, Mr. Frank langsung membuka pertanyaan.
"Apa yang terjadi?"
"Profesor James, Profesor Simon, Profesor Lee, dan Profesor Im Jun menghilang beserta keluarga mereka, Mr. Frank. Beberapa agent SIO aku suruh untuk menjemput mereka dan membawa mereka ke sini supaya melakukan penelitian lebih lanjut mengenai vaksin virus XXX, namun mereka hilang," Jawab Laras.
"Tunggu, bukannya mereka yang ikut membantu Profesor Hans membuat vaksin virus XXX kan?" Sahut salah satu agent SIO yang ikut berkumpul di ruang rapat itu juga.
Mendadak ruang rapat itu berubah sepi senyap. Mereka yang ada di sana langsung sibuk dengan pikiran masing-masing setelah mendengar ucapan agent tersebut.
"Jangan-jangan mereka tahu vaksin yang sudah Profesor Hans temukan," Alesha membuka suaranya. Otomatis yang ada di dalam ruangan itu pun melirik padanya.
"Jika iya, kenapa waktu itu mereka mengatakan kalau mereka tidak tahu apapun tentang vaksinnya karna Profesor Hans belum memberitahu bahan dasar dari pembuatan vaksin itu," Tukas Laras.
"Tapi, Mrs. Laras, mereka membantu Profesor Hans untuk membuat vaksin itu, setidaknya mereka juga tahu beberapa bahan dasar untuk vaksin itu, tidak mungkin mereka tidak tahu," Balas Merina yang juga membuka suara.
"Pihak laboratorium SIO sudah berkali-kali bertanya pada mereka, namun jawaban mereka tetap sama, Profesor Hans belum sempat mengatakan apa saja bahan dasarnya. Mereka bilang jika mereka membantu Profesor Hans setelah satu sampel vaksin itu sudah jadi, dan diujikan langsung dengan virus XXX, dan setelah itu Profesor Hans menghilang bersama sampel vaksin yang sudah ia temukan juga," Balas Laras.
"Itu berarti keempat Profesor itu tidak membantu Profesor Hans saat pembuatan vaksin itu?" Alesha menatap penuh tanya pada Laras.
"Tidak, Al, setiap Profesor SIO saling bekerja sama, dan meneliti sampel vaksin yang mereka buat masing-masing, baru setelah itu diuji cobakan pada sampel virusnya, namun Profesor Hans sudah terlanjur menghilang bersama sampel vaksin yang sudah ia buat," Balas Laras dengan yakin.
"Bekerja sama?" Gumam Nakyung. "Mereka bekerja sama, Mrs. Laras!" Nakyung menatap pada Laras. "Meski mereka membuat, dan meneliti sampel vaksin yang berbeda-beda, tapi mereka bekerja sama!" Ucapan Nakyung barusan terdengar sedikit tegas. "Bekerja sama! Setidaknya mereka tahu satu sama lain bahan apa saja yang mereka pakai untuk membuat vaksin itu!"
Ruang rapat kembali sunyi......
Setelah kurang lebih tiga menitan, Mr. Frank mendaratkan telapak tangannya dengan cukup keras diatas meja.
Brak!!
"Kita kehilangan Profesor Hans, kita kehilangan satu-satunya sampel vaksin untuk membunuh virus itu, dan sekarang kita kehilangan empat profesor lain."
"Hubungi pihak laboratorium WOSA! Suruh mereka untuk mengirim video CCTV mengenai kegiatan terakhir Profesor Hans, dan keempat Profesor yang lain!" Titah Laras pada seorang penjaga di belakangnya. "Aku yakin ada sesuatu yang tidak beres!" Gumam Laras.
__ADS_1