Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Musuh Lama


__ADS_3

Pagi hari. Jacob mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia baru saja pergi meninggalkan alam mimpinya, dan kembali pada dunia nyata.


Didapatinya oleh Jacob sang istri yang masih terpejam dengan memeluk tubuhnya seperti memeluk sebuah guling besar.


Tidak ingin mengganggu, akhirnya, pelan-pelan Jacob mengangkat lengan istrinya itu dari atas perutnya. Akan tetapi, hal itu gagal dilakukan karna tiba-tiba saja Alesha tersentak, dan kedua matanya pun terbuka seketika. Mungkin istri Jacob itu terkejut karna Jacob mengusik tidur lelapnya.


"Eungh, Jack," Gumam Alesha. Kedua matanya menyipit, bayang bayang kantuk itu masih mendominasi dirinya.


"Maaf, Alesha," Jacob mencium singkat kening istrinya.


Acuh. Alesha, membalikkan tubuhnya, membelakangi Jacob. Ia ingin melanjutkan tidurnya saja.


"Kau tidak mau bangun, Lil Ale?" Tanya Jacob sekalian beranjak duduk.


"Aku masih mengantuk," Jawab Alesha, malas.


"Tapi kau sudah terlanjur bangun, sayang."


"Aku masih mengantuk!"


"Bangun, dan mandilah. Ini sudah pukul tujuh, tidak baik bangun siang-siang."


"Ah, aku masih mengantuk!"


"Sayang, hari ini kita akan latihan lagi. Kau harus bangun, mandi, makan, lalu ikut bersama ku ke arena latihan bela diri para agent SIO," Jacob mengangkat paksa tubuh minimalis istrinya untuk terduduk.


"JACK! Aku masih mengantuk!" Alesha memberontak. Memanyunkan bibirnya. Jacob sangat menyebalkankan!


"Mandi sekarang. Atau mau aku yang memandikanmu?" Tampang nakal terpampang jelas diwajah Jacob. Ia ingin menggoda istrinya yang sedang merajuk.


"Tidak mau! Aku masih mengantuk! Badanku masih sakit karna latihan kemarin!" Alesha menjatuhkan kasar tubuhnya untuk kembali berbaring.


"Lil Ale...."


Kini tubuh Alesha tertindih sebab suaminya, Jacob yang mengurungnya.


"Argh! Jack, ya ampun!"


"Mandi sekarang atau kau akan menjadi sarapan pagi untukku," Smirk menawan yang Jacob tunjukkan membuat jantung Alesha sedikit berdebar.


"Ancaman macam apa itu? Huh!" Alesha mendengus sebal.


"Sayang...." Jacob semakin mengikis jarak wajahnya dengan wajah istrinya.


"Baiklah, baiklah! Ish, kau ini sangat menyebalkan! Awas!" Terpaksa, Alesha pun mendorong sekuat tenaga tubuh suaminya untuk beranjak bangun.


Namun tiba-tiba saja tubuh Alesha tersentak sebab Jacob yang menciumnya secara mendadak.


Cup.


"Argh! Jack!"


"Morning Kiss, Lil Ale," Jacob membentuk mimik pada wajahnya seimut mungkin.


"Sudahlah! Kau mengganggu tidurku! Sekarang jangan ganggu aku lagi!" Alesha menggerutu sebal. Ia berjalan menuju kamar mandi dengan perasaan kesal.


Sementara Jacob, ia malah tertawa kecil melihat istrinya yang merajuk.


"Akhirnya, Alesha. Aku sudah sangat takut kita tidak bisa bersama lagi. Namun kau kembali. Aku mencintaimu, sayang," Gumam Jacob setulus hati.


*****


Beralih menuju kantor SIO di Bandung, Indonesia.


Laras tampak panik, sesuatu membuatnya begitu tergesa-gesa.


Brak!


Laras membuka pintu ruangannya cukup keras. Ia berlari menuju meja kerjanya untuk meraih ponsel genggamnya. Ia berusaha untuk menghubungi seseorang.


Laras : "Hallo, Danish! Hiks, Danish.."


Isak tangis kepala kantor cabang SIO itu pun pecah ketika suaminya, Danish menerima panggilan telponnya.


Danish : "Sayang, ada apa?"


Kepanikan menyerang Danish seketika saat ia mendengar istrinya yang menangis.


Laras : "Hiks, Danish, aku mohon kau harus pulang ke Indonesia sekarang juga. Hiks, Hawa, hiks, dia menghilang, Danish."


Danish : "APA? BAGAIMANA BISA?"


Suara Danish menggema besar dalam kamarnya.


Laras : "Hiks, aku tidak tahu, tapi pengasuhnya bilang pagi tadi pukul tujuh ada tiga orang pria berpakaian serba hitam yang datang. Ketiga pria itu membawa pergi Hawa, Danish. Hiks, hiks. Tolong, Danish, anakku, aku tidak mau kehilangan anakku."


Jantung Danish berdebar kencang. Wajahnya pucat pasi disebabkan oleh kepanikan juga ketakutannya. Tiga orang pria telah membawa putrinya pergi? Tidak bisa! Danish harus memburu orang yang sudah menculik buah cintanya bersama Laras itu.

__ADS_1


Danish :"Sayang, kerahkan beberapa anak buahku di sana untuk mencari Hawa! Aku akan pulang ke Bandung saat ini juga!"


Laras : "Hiks, Danish, aku takut, hiks. Hawa.... Aku takut mereka menyakiti putriku, Danish, hiks."


Danish : "Sayang, bersabarlah, aku akan segera pergi menuju Bandung."


Laras : "Hiks, i-iya."


Sambungan telepon terputus. Laras langsung merosot, terduduk lemas, dan pasrah di lantai. Tangisnya semakin menjadi seiring membesarnya rasa takut, dan khawatir terhadap putri kecilnya, Hawa yang telah diculik oleh sekelompok orang tak dikenal.


Sementara itu, hal yang serupa pun terjadi pada istri, dan anak Levin. Tessa, tepat pukul setengah delapan pagi, ia mendapati lima orang pria asing yang menyelinap masuk ke dalam mansionnya. Karna takut, dan panik, akhirnya ia memutuskan mencari jalan untuk pergi meninggalkan mansionnya itu secara diam-diam. Akan tetapi, Nick, bocah lelaki yang sedang terlelap itu terusik, dan menangis seketika karna terganggu dari tidurnya.


Drett.... Drett... Drett...


"Levin!" Salah satu agent yang ada dalam arena latihan bela diri milik SIO mendapati ponsel Levin yang menerima panggilan masuk.


"Levin, istrimu menelponmu!"


Levin yang tadinya tengah sibuk latihan bertarung dengan pelatihnya pun langsung berhenti, dan berlari menuju dimana ponselnya berada.


Jacob, dan Alesha yang juga sudah ada di arena latihan bela diri itu pun memandang datar pada Levin.


Levin :"Hallo, sayang, ada apa?"


Tessa : "Levin, hiks hiks. Levin, tolong aku."


Suara Tessa bergetar kencang saking takutnya ia.


Levin : "Tessa, ada apa?"


Levin mulai terlihat panik. Jatungnya berdegub kencang. Kenapa Tessa menangis? Apa yang terjadi?


Tessa : "Levin, hiks, aku, dan Nick dikejar-kejar oleh lima orang pria asing. Hiks. Aku takut. Saat ini aku sudah berhasil lolos dari mereka, dan aku bersembunyi di pinggir masjid, di alun-alun."


Levin : "APA?"


Jacob, dan Alesha nampak ikut terkejut ketika mendengar pekikkan Levin.


"Jack, Mr. Levin terlihat panik. Ada apa?" Bisik Alesha.


"Aku tidak tahu, sayang," Jawab Jacob, datar. Ia fokus memperhatikan rival sekaligus rekan kerjanya.


Tessa : "Levin, hiks, apa yang harus aku lakukan? Aku takut, hiks."


Levin : "Tenang lah, kau harus tetap tenang. Aku akan menghubungi anak anak buahku untuk menjemputmu. Jika terjadi sesuatu usahakan untuk menghubungiku secepatnya!"


Levin : "Iya, sayang, kau tetap tenang di tempatmu sekarang. Oke. Aku akan meminta beberapa orang untuk menjemputmu."


Tessa : "Hiks, iya."


Sambungan telepon terputus.


"Sialan! Siapa mereka?" Pekik Levin yang telah terpancing dengan emosinya.


"Levin, ada apa?" Tanya Jacob.


"Tessa, dan Nick, mereka dikejar-kejar oleh sekelompok orang, Jack!" Levin benar-benar dikelubungi oleh amarah.


"Apa? Siapa?" Ulang Jacob, terkejut.


"Aku tidak tahu."


"Lalu dimana Tessa, dan Nick sekarang?" Jacob turut dilanda kepanikan.


"Pinggir Masjid Raya Bandung," Levin begitu fokus berkutik dengan ponselnya.


"Aku akan menghubungi anak buahku, dan meminta mereka membawa Tessa, dan Nick ke mansionku. Setidaknya di sana mereka berdua bisa aman untuk sementara waktu," Ucap Jacob.


"Sungguh, Jack?" Levin menatap tak percaya pada teman rivalnya itu.


"Ya. Keselamatan anak, dan istrimu yang terpenting sekarang," Balas Jacob. Ia langsung menempelkan layar ponselnya kedaun telinganya.


Jacob : "Hallo, Taylor."


Taylor : "Ya, Tuan, ada yang bisa saya bantu?"


Jacob : "Susul Tessa, dan Nick di Masjid Raya Bandung secepatnya, dan bawa mereka ke mansionku! Perintahkan semua anak buahmu untuk berjaga!"


Taylor : "Baik, Tuan."


Jacob : "Oke, kalau begitu, terima kasih."


Taylor : "Sama-sama, Tuan."


Selesai.


Levin langsung berjalan menghampiri Jacob.

__ADS_1


"Jack, terima kasih banyak sudah membantuku," Ucap Levin setulus-tulusnya.


"Iya, sama-sama. Yang penting sekarang adalah Tessa, dan Nick aman. Aku sudah meminta anak buahku untuk menjaga mereka di mansionku. Kau tenanglah," Balas Jacob dibarengi seulas senyum tipis. Ya, tidak apa-apa lah sesekali ia membantu rivalnya, Levin.


"Jacob!"


Kedatangan Mr. Frank yang secara tiba-tiba membuat semua yang ada di arena latihan itu menoleh kepadanya.


"Jacob! Kau harus membantuku!" Mr. Frank begitu tergesa-gesa, dan panik. Sedikit pun ia tak terlihat tenang.


Ada apa?


"Jack, kantor SIO di Bandung telah dimata-matai, kau harus mencari tahu siapa mereka!"


Tanpa berpikir panjang, Mr. Frank langsung menarik Jacob, dan membawanya pergi menuju ruang dimana para peretas SIO bekerja.


Di belakang, Alesha berlari kecil menyusul suaminya yang dibawa oleh kepala utama kantor SIO pusat itu.


"Hawa, anak Laras, dan Danish telah diculik, lalu kami baru saja mendapat kabar jika anak, dan istri Levin dijadikan tujuan selanjutnya untuk diculik," Jawab Mr. Frank.


"APA? HAWA DICULIK?" Pekik Jacob. Kedua matanya terbelalak saking terkejutnya mendengar kabar jika anak dari kedua sahabatnya itu telah diculik oleh sekelompok orang.


"Ya, maka dari itu, aku ingin kau memimpin pencarian, dan mencari tahu siapa orang-orang itu secepatnya!"


...*****...


Di tempat lain, seorang pria tinggi besar yang bukan lain adalah kakak angkat Alesha, yaitu Rangga tengah terdiam didepan layar monitor komputernya.


"Dirga, dia ada di Bandung sekarang," Gumam Rangga. "Pantesan kemaren anak buahnya ada di terminal."


Saat ini, Rangga sudah berhasil memata-matai komplotan penjahat yang masih mengincar adik angkatnya, Alesha. Rangga tersenyum simpul, selama ini Dirga mencari keberadaan Alesha namun tidak berhasil.


"Lo gak akan pernah bisa sakitin adik gue lagi, Dirga. Urusan lo sama gue, karna gue yang udah bantu Profesor Danu buat jeblosin lo ke penjara," ucap Rangga.


Sejurus kemudian, ia mengambil bingkai yang berisi foto Alesha kecil tengah menangis dalam gendongannya. Sebenarnya Rangga memiliki banyak foto Alesha saat masih balita, dan juga foto orang tua angkatnya di dalam buku album besar. Rangga sengaja mengkoleksi foto-foto itu agar ia bisa mengingat kembali bagaimana indahnya kehidupan ia setelah diangkat menjadi anak oleh kedua orang tua Alesha yang teramat baik hati.


"Rangga, nanti kita ke mall, ya buat beli baju lebaran, sekalian juga beli baju buat calon adik kamu ini."


Rangga tertawa kecil. Kilasan ucapan yang ibu angkatnya itu katakan menimbulkan sepercik kebahagiaan manis yang membuat hatinya tenang.


"Umi, Rangga kangen," gumam Rangga sembari mengelus foto umi angkatnya.


"Rangga, Umi sayang banget sama Rangga. Rangga jangan jadi anak nakal, ya. Harus bisa jagain adiknya."


Rangga memejamkan kedua matanya. Suara lembut itu, Rangga sangat merindukannya, apalagi ketika rambutnya diusap pelan penuh kasih sayang.


"Rangga pasti jagain Alesha, Umi. Rangga gak akan biarin seseorang sakitin Alesha lagi. Rangga janji," Rangga berucap penuh tekad.


"Makasih, Umi, Bapak, kalian selalu ada buat Rangga, selalu sayangin Rangga, dan gak pernah pilih kasih. Rangga gak akan buat kalian kecewa, Rangga janji!"


Rangga menghela napas panjang, lalu menghembuskannya dengan tenang. Ia tersenyum lebar, menatapi foto ia bersama orang tua, dan adik balitanya.


...*****...


Di kantor SIO, Selandia Baru.


"Gawat!!" Tatapan Jacob terpaku tajam pada layar monitor komputer didepannya.


"Mr. Jacob, mereka kembali," ucap salah seorang peretas yang membantu Jacob.


"Panggil Mr. Frank sekarang!" Perintah Jacob.


Seseorang segera melaksanakannya.


Jemari Jacob kembali bermain di atas keyboard. Ia terus mencari tahu anggota kelompok yang telah memata-matai kantor SIO di Bandung.


"Mereka tidak bisa mengelabui apalagi membodohiku! Apa mereka belum puas setelah aku, dan Eve mengacak-acak, dan menghancurkan kelompok mereka waktu itu?" geram Jacob.


"Jack, mereka siapa?" Tanya Alesha yang berdiri tepat di belakang bangku yang Jacob tempati.


"Mereka adalah Kelompok Jaringan Gelap."


"Kelompok Jaringan Gelap?" ulang Alesha, pelan.


"Aku sudah berhasil mendapatkan beberapa data mereka, sekarang mereka sedang bersembunyi di Tangerang!" ucap Jacob.


"Jack, mereka yang waktu itu pernah menyerang WOSA, ya?" Tiba-tiba Alesha mendapatkan kembali satu ingatan lamanya.


"Kau mengingat itu, sayang?" Jacob menoleh pada Alesha.


"Sepertinya, tapi aku tidak merasa pernah bertemu dengan mereka, hanya saja kalau tidak salah ingat kau pernah mengatakan padaku jika WOSA diserang oleh kelompok jaringan gelap, dan kau memimpin pasukan khusus untuk menyerang balik mereka," jawab Alesha.


Cup.


Jacob mencium kilat bibir ranum istrinya.


"Itu benar, Lil Ale."

__ADS_1


Alesha tertegun, dan sedikit malu karna Jacob menciumnya dihadapan agent SIO yang lain.


__ADS_2