Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Kebahagiaan Kecil Yang Berarti


__ADS_3

Di dalam ruang rapat, kini Alesha, dan Jacob sedang terduduk bersama beberapa agent SIO yang lain.


Sempat tadi ada Mr. Frank yang menghampiri Jacob, dan bertanya kenapa Theora bisa menangis, lalu Jacob menjawab bahwa Theora menangis karna tadi Jacob terus menuntut, dan membentak supaya wanita itu mau mengatakan dimana kelima profesor SIO.


Sebenarnya Mr. Frank merasa ragu akan jawaban yang Jacob berikan. Menurutnya, bagaimana bisa seorang mafia menangis hanya karna dibentak secara terus menerus, ya meski pun mafia itu seorang wanita, rasanya aneh saja, seperti tidak masuk akal.


"Jack..." Alesha menyandarkan tubuhnya pada dada suaminya. Entah kenapa Alesha merasa ngantuk saat ini. Mungkin karna tadi malam ia kurang tidur sebab mengkhawatirkan keadaan suaminya, Jacob.


"Hmm.. Apa, sayang?" Balas Jacob, lembut. Ia pun langsung memeluk tubuh Alesha sembari mengecup puncak kepala istrinya yang terlapisi oleh kain jilbab.


Alesha tidak menjawab, rasa kantuk itu semakin membuat matanya candu untuk terpejam.


"Kau mengantuk ya? Hm.."


Alesha sedikit mengangguk.


"Lebih baik kau pulang saja sekarang, Taylor akan mengantarkanmu. Istirahat lah," Ucap Jacob sembari mengusapi pipi istrinya.


"Aku akan pulang bersamamu," Balas Alesha.


"Jangan, Al, aku pasti tidak akan pulang cepat, lebih baik kau duluan saja. Aku akan baik-baik saja di sini."


"Tidak mau!"


"Kasihan Alshiba, Alesha. Bagaimana jika dia menangis?"


Alesha termenung sejenak. Benar juga apa yang Jacob katakan.


"Al, aku akan baik-baik saja."


"Tapi jangan pulang malam-malam, aku menunggumu, dan aku tidak akan tidur sebelum kau pulang!" Alesha membawa dirinya untuk beranjak dari pelukan suaminya.


"Iya, sayang. Yasudah, kau pulang sekarang ya," Jacob mengelusi punggung Alesha.


"Jack!" Tiba-tiba Rendi muncul, dan menghampiri Jacob dengan tergesa-gesa.


"Ada apa, Ren?" Tanya balik Jacob.


"Mr. Frank memanggilmu ke ruangannya."


"Apa?" Kening Jacob berkerut bingung. "Ada apa?"


"Ada hal yang perlu dibicarakan," Jawab Rendi.


Jacob langsung melirik pada istrinya, Alesha.


"Kau dengar? Ada urusan penting yang harus dibicarakan oleh Mr. Frank. Kau pulang sekarang saja ya."


Alesha mengangguk kecil. Sebenarnya ia tidak mau pulang saat ini, ia masih ingin bersama Jacob, namun ia juga khawatir pada bayinya, Alshiba di rumah. Jadi, yasudah, yang penting saat ini kondisi, dan keadaan Jacob baik-baik saja.


"Ren, kau lihat dimana Taylor?" Tanya Jacob.


"Taylor?" Kening Rendi berkerut. "Pengawal pribadi Nyonya Laura?" Tanya balik Rendi. Ya, yang Rendi tahu adalah kalau Taylor itu pengawal pribadi Laura, seorang Nyonya yang merupakan salah satu dari beberapa orang yang menjadi pemegang saham terbesar di SIO. Rendi tahu karna ia dulu suka melihat Laura yang selalu didampingi oleh Taylor saat berkunjung ke SIO.


"Iya. Kau melihatnya?"


"Tidak," Rendi menggelengkan kepalanya. "Memangnya dia ada di sini?"


"Huft.." Baiklah, setidaknya Jacob tahu kalau Rendi tidak melihat Taylor. "Yasudah, kalau begitu terima kasih. Aku akan mencari Taylor dulu untuk mengantarkan Alesha pulang."


Lalu kemudian Jacob bangkit bersama Alesha, dan pergi meninggalkan Rendi untuk mencari Taylor.


...*****...


Beralih menuju Tessa, saat ini, ia sudah berada disebuah apartemen bersama anaknya, Nicholas, dan tiga pelayan wanita, tidak lupa ada beberapa pria yang SIO utus menjadi bodyguard.


Di dalam kamarnya, kini Tessa berbaring miring menghadap pangerannya yang tengah tertidur lelap.


Dikatakan merasa lebih baik, tidak, merasa semakin buruk juga tidak.


Flat.


Mungkin itu yang Tessa rasakan. Semua datar. Kesedihan yang tak terbendung lagi mengubahnya menjadi murung, dan tak tersentuh. Meski ada beberapa pelayan yang mengajak bicara, Tessa tetap bisu.


Tessa masih tidak percaya dengan kepergian Levin yang secara mendadak, Tessa tidak percaya jika Levin sudah benar-benar meninggal, Tessa tidak percaya jika sekarang ia sudah menyandang sebagai status janda. Tessa tidak percaya, sungguh tidak percaya. Kenyataan yang ia hadapi saat ini, Tessa lebih memilih untuk tidak mempercayainya. Meski sakit, sangat-sangat sakit, Tessa tidak bisa mengelak, kesendiriannya kini menikami hatinya. Ia membutuhkan Levin, ia butuh sosok suami yang bisa menemaninya. Tessa kasihan pada anaknya, Nicholas membutuhkan ayahnya untuk tumbuh.


Lalu Tessa mesti bagaimana? Hatinya menolak untuk menerima kematian Levin, namun pikirannya memaksa untuk mengikhlaskan. Bahkan pada saat detik-detik terakhir jenazah Levin yang sudah terbujur kaku, Tessa masih bisa merasakan kehangatan mendiang suaminya itu.


Kenapa Tessa harus mengalami ini? Apa salahnya? Ia hanya ingin hidup bahagia, dan tenang bersama keluarga kecilnya.


"Levin...." Lirih Tessa. "Kembali lah..."


Tessa menelusupkan wajahnya pada lekukka leher putranya.


"Nick, Momy minta maaf... Hiks, Dady sudah pergi, sayang..." Tessa mulai menangis. Lagi? Ya. Tessa amat terpukul dengan nasib yang mesti ia lewati mulai dari saat ini hingga seterusnya.


Membesarkan putranya sendirian, harus bisa setegar, dan sekuat mungkin demi masa depan yang cerah untuk untuk Nicholas.

__ADS_1


Tessa membutuhkan seseorang untuk bisa memeluknya saat ini. Ia membutuhkan Levin, tapi ia sendiri, hanya sendiri.


"Levin, hiks... Levin...."


Meratapi kesendirian dengan tangisan, itu lah yang bisa Tessa lakukan saat ini. Kepergian Levin adalah duka, keberadaan Nicholas adalah kekuatannya. Namun hatinya masih terlalu lemah untuk benar-benar mengikhlaskan.


...*****...


Menjelang malam, sekitar pukul 19.15 WIB, Jacob tiba di mansionnya bersama anak buahnya juga Bastian, dan keempat kawan prianya.


Lelah? Pastinya. Sangat malah. Maka dari itu, Jacob langsung memilih untuk pergi menuju kamarnya. Namun, sesampainya di kamar, Jacob tidak mendapati keberadaan istri, dan anaknya. Kamar itu kosong.


"Alesha...." Panggil Jacob.


"Sayang...." Sekali lagi, dan masih tidak ada yang menyahut.


"Lil Ale...."


"Alesha ada di kamar ibu, Jack," Ucap Sharon yang baru saja keluar dari dalam kamar.


"Di kamar ibu? Memangnya kenapa di sini?" Tanya Jacob.


"Entahlah, ibu yang memintanya tadi," Jawab Sharon sembari mengedikkan kedua bahunya.


"Owh, baiklah...."


Sharon pergi sembari memainkan ponselnya, sedangkan Jacob masuk ke dalam kamarnya. Ia berniat untuk mandi, dan membersihkan badannya terlebih dahulu sebelum menemui dua orang tercintanya.


Tidak lama, mungkin hanya sekitar lima belas menitan, Jacob sudah mengenakan pakaian santainya. Celana joger selutut, dan baju kaos abu-abu polos. Jacob lebih suka memakai pakaian seperti itu saat malam hari ketimbang harus memakai baju tidur.


Setelah tubuhnya kembali bersih, dan wangi, Jacob menyegerakkan dirinya untuk pergi menuju tempat dimana Alesha, dan Alshiba berada, yaitu kamar ibunya.


Ceklek.


"Assalamualaikum...." Ucap Jacob seraya membuka perlahan pintu kamar ibunya.


"Waallaikumussalam... Eh, ayah udah pulang," Balas Alesha dengan menunjukkan senyum cerahnya.


Jacob sedikit terkejut karna mendapati kalau ternyata istrinya itu memakai daster yang pada bagian lengan, leher, dan pinggangnya terdapat kerutan karet baju. Belum lagi pada bagian lengannya hanya selebar telapak tangan Jacob saja.


Smirk Jacob seketika terbentuk kala pikiran-pikiran aneh mulai berputar dalam kepalanya akibat melihat lengan, dan leher mulus istrinya.


"Dede, ayah pulang noh," Alesha mengajak bayinya bicara. Alshiba sendiri kini sedang dalam gendongan bundanya.


"Kenapa kau berpakaian seperti itu, bagaimana jika ada anak buahku yang melihatmu?" Tegur Jacob.


"Tidak akan, mereka pasti akan mengetuk pintu dahulu jika mereka mencariku, dan aku sudah menaruh jaket, dan kerudungku," Alesha menunjuk pada sisi kasur dimana terdapat jaket, dan kerudungnya.


"Supaya mudah untuk menyusui. Kau lihat, aku sengaja memakai yang ada karetnya."


"Owh begitu..." Jacob mengangguk-anggukkan kepalanya. "Menyusui siapa?" Godanya.


"Tentu saja Alshiba, siapa lagi! Huh!" Alesha mendengus.


"Hanya Alshiba saja, hmm?" Jacob menggerak-gerakkan kedua alisnya dengan tatapan menggoda yang semakin menjadi.


"Jangan berpikir yang macam-macam, Jack!"


"Aku hanya bertanya, sayang."


"Sudahlah, kau pikir aku tidak tahu apa isi pikiranmu saat ini!"


"Memangnya apa?" Jacob memajukan wajahnya, mengikis jarak dengan istrinya.


"Hei, hei, jangan mulai!"


"Kau belum menjawab pertanyaanku, sayang."


"Jack!"


Cup..


Satu kecupan lembut akhirnya mendarat pada bibir Alesha.


"C-cukup!" Alesha memberontak, dan melepaskan dengan paksa ciuman yang suaminya itu berikan.


"Ah, kau ini! Untung ibu sedang keluar!" Alesha menatap tajam pada suaminya. "Daripada kau memikirkan yang tidak-tidak, sedangkan aku sendiri masih belum bisa memenuhi apa yang kau pikirkan itu, mending sekarang kau gendong, dan ajak main Alshiba sebentar. Aku ingin pergi ke dapur, aku lapar."


"Bilang saja jika kau ingin menghindar," Balas Jacob sembari mengambil alih tubuh putrinya.


"Tidak, aku memang lapar. Aku belum makan dari siang."


"Kasihan. Yasudah sana, Alshiba akan di sini bersamaku."


"Baiklah kalau begitu, Big Guy," Alesha segera turun dari atas kasur, dan segera memakai jaket juga kerudungnya. Lalu setelah itu ia berjalan meninggalkan kamar ibu mertuanya.


Sedangkan Jacob, setelah tubuh Alesha menghilang dari balik pintu, ia pun mulai mengajak bicara pada Alshiba yang terus memperhatikannya.

__ADS_1


"Hai, sayang."


Jacob mengusap lembut wajah malaikat mungilnya itu. Bersama ketenangan rasa yang sedang mendera hatinya kini, senyum bahagia pun turut terukir mengingat kisah cintanya bersama sang istri yang kini sudah membuahkan hasil.


"Ayah mencintaimu, sayang," Jacob menaruh sebuah ciuman lembut pada sebelah pipi Alshiba. Sebagai seorang ayah, Jacob benar-benar merasa bahagia karna putri kecilnya itu masih bisa bertahan meski terlahir dengan prematur.


Melihat Alshiba seperti melihat Khalid. Jacob teringat dengan putranya yang kini telah tiada. Setiap selepas melaksanakan kewajiban untuk bersujud yang diakhir oleh salam, Jacob selalu berdoa, dan mengirimkan lantunan ayat suci yang ia hapal untuk putranya. Jacob tidak akan lupa, tidak akan pernah. Khalid adalah putranya, putra yang juga begitu ia sayangi. Tapi yang bisa Jacob lakukan kini hanyalah mengirimkan doa sebanyak mungkin untuk keselamatan, dan kebahagiaan putranya di alam barzah.


"Kau harus bertahan ya, sayang. Ayah akan lakukan apapun agar kau bisa tetap tumbuh, dan menjadi kebanggaan ayah, dan bundamu."


Jacob mengangkat tubuh Alshiba supaya mendekati wajahnya, kemudian, Jacob menempelkan pipinya pada pipi bayinya. "Malaikat kecil ayah yang cantik. Alshiba Sanum."


Tenang sekali rasanya berada begitu dekat dengan Alshiba. Hidup Jacob terasa jauh lebih lengkap, dan berarti.


"Shiba, sayang...." Jacob kembali memandangi wajah bayinya dengan senyuman yang begitu manis.


"Dede Shiba.... Malaikat kecil ayah."


Asik juga rasanya jika memiliki seorang bayi. Dikala lelah, Jacob dapat menghibur diri dengan melihat wajah damai sang tuan putri.


Sejak tiga minggu yang lalu Alshiba terlahir, rasa senang, dan sedih bergejolak menjadi satu. Entah harus bahagia atau berduka, yang pasti penyesalan lah yang paling mendera, sebab kehadirannya tidak bisa memberikan semangat untuk sang istri.


"Maafin ayah, sayang. Ayah selalu marahin bunda, ayah malah terlalu sibuk sama pekerjaan ayah. Ayah pikir kalian baik-baik saja, ayah tidak tahu kalau ternyata bunda masih terlalu lemah untuk menampung kalian berdua. Bunda juga gak pernah bilang kalau dia itu lemah. Tapi seharusnya ayah paham, waktu sore itu, sehari sebelum kalian lahir, bunda panggil ayah, tapi ayah malah acuh. Ayah pikir bunda baik-baik saja, malahan ayah bentak bunda waktu itu," Jemari Jacob membelai lembut wajah Alshiba yang sepertinya akan terlelap. "Ayah tahu kondisi fisik bunda gak kuat buat tampung kalian berdua, tapi ayah pikir bunda benar-benar kuat karna ayah jarang lihat bunda mengeluh tentang kehamilannya."


Jacob mencium kening bayinya. "Maafin ayah ya, sayang, seharus sekarang kamu sama saudara kamu masih di dalam rahim bunda, dan terlahir dengan normal. Ayah minta maaf, sayang."


Selang beberapa saat kemudian, Alesha pun kembali bersama ibu mertuanya, Laura.


"Hey, hey, hey, jangan cium cucu ibu terlalu lama, Jack!" Tegur Laura.


Alesha hanya tersenyum saat mendengar ucapan ibu mertuanya itu.


"Alshiba belum tidur kan?" Suara yang sangat familiar itu tiba-tiba saja terdengar. Sharon, adik perempuan Jacob itu menyelonong masuk ke dalam kamar ibunya lalu berjalan menghampiri Jacob. "Yes, Alshiba belum tidur. Jack, ayolah tidurkan dia di atas kasur."


"Apa yang mau kau lakukan?" Jacob menelisik pada wajah adiknya.


"Aku hanya akan mengajaknya bermain atau berbicara. Tidak apa kan, Alesha?" Sharon menengok ke arah Alesha.


"Iya," Alesha mengangguk sembari tersenyum.


"Dengar? Cepat tidurkan dia di atas kasur!" Titah Sharon.


"Baiklah!" Jacob memutar kedua bola matanya dengan jengah. Akhirnya, ia pun menuruti perintah adiknya itu.


"Haiii, Mona....." Ucap Sharon begitu girang. Ia melakukan panggilan video dengan kakaknya, Mona saat ini.


"Hey, Haris, Lihat! Kau punya teman bermain nanti."


"Ya ampun, mana coba aku ingin melihat keponakanku." Ucap Mona dengan antusias. Tidak lupa juga si pria kecil keponakan Jacob, dan Sharon yang kini sedang dalam pangkuan ibunya itu, yaitu Haris.


"Ah, lucunya, ya ampun!! "Girang Mona. "Coba saja aku memiliki waktu untuk berkunjung. Aku ingin ikut berkumpul dengan kalian."


"Kasihan.. Hahahaha..." Ledek Jacob.


"Awas kau, Jack! Jika saja kau yang menggantikan ibu untuk menjadi CEO utama perusahaan pasti aku sudah akan ikut berkumpul! "Sebal Mona. "Ibu, bisa tidak kalau aku libur beberapa hari? Saat ini perusahaan ibu sedang berjalan baik. Pabrik tekstil, dan minuman berenergi sudah kondusif, resort di kawasan Asia Tenggara tidak memiliki masalah, pertambang minyak juga tidak memiliki kendala. Para CEO, bos, dan petinggi anak perusahaan bisa mendapatkan jatah libur mereka, kenapa aku tidak bisa? " Mona merajuk. "Bahkan Wiliam juga yang menjabat kepala direktur diperusahaan orang tuanya bisa berlibur. Aku juga ingin liburan."


Laura tertawa kecil saat mendengar anaknya itu merajuk seperti seorang bocah.


"Tidak apa kalau kau ingin berlibur, tapi harus ada yang menggantikanmu, Mona." Canda Laura.


"Ada Jacob! Suruh saja dia, biar dia tahu bagaimana pusingnya mengurus induk perusahaan! "


"Tidak! Aku sudah mengambil jatah liburku, aku menyuruh asistenku untuk menggantikanku sementara waktu! " Tolak Jacob dengan cepat.


"Ish kau ini! " Mona melototkan matanya pada Jacob.


"Apa? Kau mau memecatku? " Balas Jacob yang tidak mau kalah.


"Ibu, ayolah, aku ingin ikut berkumpul. Apa kalian tega bersenang-senang dan berkumpul tanpa aku, Wiliam, dan si tampan Haris ini? " Mona masih merajuk.


"Haris, dan Wiliam saja yang dibawa ke sini, dia pasti akan suka dengan Alshiba, dan kau teruslah urusi perusahaan. " Sepertinya Jacob memang senang untuk meledek kakaknya.


"Tidak! Ibu, aku mohon..."


Laura terdiam sejenak dengan ekspresi senyum kecil yang belum luntur dari wajahnya. Laura sedang mempertimbangkan keputusan Mona yang meminta izin untuk mengambil jatah cuti. Sebenarnya bisa saja jika Mona ingin cuti selama beberapa hari, namun Laura juga perlu memastikan jika perusahaan-perusahaannya akan tetap berjalan stabil meski CEO utamanya, Mona sedang berlibur.


"Baiklah kau boleh cuti. Suruh Irene untuk menggantikkanmu sementara waktu." Ucap Laura.


"Sungguh? Aaaaaa, terima kasih, ibu." Mona berteriak penuh kegirangan. Akhirnya, ia bisa juga liburan, dan sedikit melepas bebannya sebagai pemimpin utama dari sebuah induk perusahaan milik ibunya. "Untung saja ada Irene, sekretaris yang selalu bisa diandalkan, jadi aku bisa berlibur, hehehehe."


Disaat suami, ibu mertua, adik ipar, begitu asik mengajak Alshiba bicara, dan bermain, Alesha malah terdiam dengan seulas senyum tulus yang mengukir diwajahnya.


Bahagia.


Itu yang Alesha rasakan saat ini.


*Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?*

__ADS_1


Kutipan dari ayat dalam surat Ar-Rahman itu membuat Alesha sadar. Kehidupannya begitu indah, meski banyak cobaan, dan kesusahan, tapi itu semua adalah nikmat yang Allah berikan untuk hambanya agar bisa lebih sadar. Anugrah yang selalu dilimpahkan meski dalam keadaan buruk sekali pun adalah nikmat yang seharusnya disyukuri.


Alesha sangat-sangat bersyukur. Hidupnya bisa jauh lebih baik, dan ia juga akan terus berusaha supaya bisa menjadi hamba yang sholihah, menjadi ibu, dan istri yang sesuai dengan anjuran islam juga tuntunan yang sudah diajarkan oleh Nabinya. Harapannya sekarang adalah semoga ia bisa mengikuti jejak dari istri Sang Baginda Rasulullah SAW.


__ADS_2