Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Tawaran


__ADS_3

Haii, maaf, ya author telat update lama banget. Pertengahan akhir bulan kemarin, bapak author meninggal, jadi gak sempet ketik banyak 🤧


Tapi in syaa Allah, setelah ini, author bakal update kaya biasa lagi 3-5 hari 1x. Atau bahkan secepatnya 🙏


*


*


*


"Malamnya indah," ucap Alesha yang kini sedang duduk di balai bambu bersama Pia.


"Teteh, ceuk si Abah, Teteh teh kalangsu, nya?" tanya Pia.


Alesha mengangguk sembarang tersenyum kecil.


"Kumaha rasana, Teh? Teu sieun kitu?" Pia nampak penasaran.


Alesha tertawa kecil mendengar itu. Tentu saja takut. Takut kalau ada hewan buas dan liar yang menghampiri mereka.


"Nya sieun atuh. Saha anu teu sieun ka langsu di tengah leweng. Tapi alhamdulillah, untung weh katimu sareng si Abah. Rasa na teh ciga teu percaya kitu, tapi nya eta pertulungan ti Allah, jalana lewat Abah Halim," balas Alesha.


"Ari teteh sareng si aa teh asal na timana?"


"Ti Bandung," jawab Alesha sembari memakai satu potong singkong goreng.


"Ari si aa mah ciga nu lain urang dieu, nya?"


Alesha mengangguk, "Ti Amerika si aa mah. Lain urang Indonesia. Tapi in syaa Allah bakal jadi WNI."


Pia mengangguk. Sejak satu jam yang lalu, ia memang asik menikmati waktu malam berdua dengan tamunya itu, Alesha. Sementara Jacob membantu Abah Halim membakar ikan gurame di sebelah rumah panggung mereka.


***


Entah pukul berapa, yang pasti, malam sudah larut.


Alesha dan Jacob tidur di dalam kamar milik Pia, sementara Pia tidur di kamar kakeknya. Abah Halim sedang pergi meronda malam ini bersama warga dari kampung lain.


"Jack..."


"Hmm... Apa, Sayang?"


"Apa kau sudah menemukan cara untuk menghubungi keluarga kita?"


Jacob membalikkan tubuhnya, berbaring miring menghadap istrinya, "Belum. Tapi akan aku cari secepatnya."


Alesha mengangguk. Ia membetulkan posisi tidurnya sedikit sembari menarik selimutnya. Dalam kondisi kamar yang gelap, yang bercahayakan lampu minyak, dan hembusan angin dingin yang menyelinap melalui celah dinding anyaman bambu, Alesha jadi ingat kembali masa kecilnya. Jangan sangka ia tidak pernah tinggal di rumah panggung. Beberapa bulan selepas kematian kedua orang tuanya, Alesha dibawa oleh Kakek Ujang ke Bogor, dan tinggal disebuah pedesaan terpencil di kaki gunung salak. Ia tinggal di sana kurang lebih lima tahun, baru saat ia akan masuk SMP, ia kembali ke Bandung, tinggal di rumah lamanya. Mirisnya, itu hanya bertahan tiga tahun saja, sebab keluarga dari Uminya yang hampir sembilan puluh persen sirik terhadap keluarganya mengambil alih rumah itu dengan cara memaksa membelinya, ditambah Alesha dan kakek Ujang yang saat itu juga sedang kepepet ekonomi, jadilah rumah itu dijual, dan mereka tinggal di rumah kontrakan.


"Al, kau kenapa melamun? Tidur, hey," ucap lembut Jacob seraya membelai lembut puncak kepala istrinya.


"Aku rindu kakek, Jack," lirih Alesha. "Aku pernah tinggal di rumah panggung berdua bersama Kakek selama beberapa tahun setelah Umi dan Bapak meninggal. Kakek sedang apa sekarang? Dia pasti sangat mengkhawatirkanku. Bagaimana kondisinya sekarang?"


"Al..." Jacob bergerak mendekati Alesha, "Jangan berpikir macam-macam, Lil Ale. Kakek baik-baik saja. Banyak yang menjaganya di mansion kita," ucapnya, lembut.


"Saat kami tinggal di rumah panggung, biasanya, kakek selalu membacakan aku surah Al-Mulk hingga aku tidur. Dia adalah pria terbaik ketiga setelah Bapak, dan kau. Aku sangat menyayanginya. Melihat kondisinya yang sekarang semakin memburuk membuatku takut kehilangannya." Tak terasa, kedua kelopak mata Alesha berkaca-kaca.


Jacob menghembuskan napasnya dengan tenang. Perlahan, ia meraih tubuh istrinya, membawa Alesha masuk dalam pelukannya.


Cup.


"Cukup, jangan overthinking, kalau kau sedih atau stress, itu akan berpengaruh pada Baby J, Lil Ale."


Alesha mengangguk pelan. "Kakek selalu membelaku saat ada keluarga dari Umi yang usil padaku. Bahkan saat sakit, ia lebih memilih untuk terus bekerja agar kami bisa makan." Ia menatap sendu suaminya, "Jack, aku ingin segera pulang. Aku kepikiran kakek, aku ingin bertemu dengannya."


Jacob mengangguk, "Aku juga, Sayang. Aku ingin kita segera pulang."


Alesha menelusupkan wajahnya pada dada suaminya.


"Tidur, Al. Besok pagi, aku akan carik cara agar kita bisa pulang secepatnya. Oke."


Alesha mengangguk. Ia memejamkan kedua matanya sembari membenarkan posisi tidurnya.


"Baca doa dulu, Al," bisik Jacob disusul satu ciuman lembut pada kening Alesha.


***


Keesokan paginya.


Abah Halim tiba di kediamannya saat matahari setinggi arah jam delapan.


Sementara itu Alesha sedang duduk dan membantu Pia mengupas ubi di balai bambu.


"Assalamualaikum..."


"Waallaikumussalam..." balas Alesha dan Pia bersamaan.


"Tos uih, Abah?" tanya Pia.


Abah Halim mengangguk, "Atos." Ia tak langung masuk ke dalam rumah, melainkan ikut duduk disebelah Pia. "Neng, peuting kan Abah teh ngaronda sareng barudak ti kampung sabelah," ucapnya pada Alesha, "Nah, di kampung sabelah mah beda jeung kampung iye. Didieu mah pan teu acan aya listrik sareng teknologi anu ayena aya." Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku bajunya, "Nah, Abah teh tadi nginjem hape ke si Apit, ketua pemuda kampung sabelah."

__ADS_1


Kedua bola mata Alesha terbelalak saat Abah Halim menyodorkan sebuah gawai padanya.


"Sok, pake hela ku eneng jeng si aa ajang ngahubungan keluarga eneng. Tuh, di ujung kampung iye aya gapura perbatasan kampung sabelah, tah didinya aya tiang sutet. Lamun didieu mah hese sinyal."


Alesha cukup terkejut mendengar itu. Ya ampun! Ia tidak mengira Abah Halim akan meminjam ponsel pemuda kampung sebelah agar ia dan suaminya dapat menghubungi keluarga mereka.


Enggan membuang waktu, Alesha langsung berterima kasih dan bergegas menemui suaminya.


Sementara itu di mansion, Mona tak kunjung mengakhiri tangisannya. Ia baru saja kembali dari rumah sakit, melihat kondisi suaminya yang masih sama. Belum ada pemilihan signifikan yang terjadi. Wiliam masih koma, dan tentunya, itu membuat Mona terpuruk, ditambah keberadaan adik tercintanya, Jacob yang hingga saat ini belum ia ketahui.


"Hiks, Ibu... Jacob dimana sekarang?" isak Mona.


Laura menatap lirih putri sulungnya itu. Ia risau terhadap kondisi kehamilan Mona kalau Mona terus saja menangis. Namun ia bisa apa? Berkali-kali ia mencoba mengatakan pada Mona kalau Wiliam akan kembali pulih, dan Jacob akan segera ditemukan, bersama Alesha.


"Hiks hiks, Ibu... Kenapa Jacob belum ditemukan? Hiks, kenapa Wiliam juga belum ada pemulihan?" Mona meremas kuat kedua pahanya.


"Momy..." lirih Haris yang ikut bersedih sebab melihat ibunya yang terus saja menangis. "Momy...." Ia mengusapi punggung tangan ibunya.


"Hiks hiks... Haris..." Mona mengangkat tubuh mungil putranya itu, dan mendudukkannya dipangkuannya, menghadapnya.


"Momy jangan menangis lagi..." lirih Haris seraya memeluk leher ibunya dengan erat. "Ayah, Om Jack, dan Tante Alesha akan baik-baik saja, Momy..."


Mona mengusapi punggung Haris dengan lembut seraya melayangkan beberapa ciuman lembut pada wajah pria kecil itu.


Hingga kemudian, mendadak Rangga datang dengan wajah setengah tegang.


"Ada apa, Rangga?" tanya Laura, penuh curiga.


Rangga diam sejenak, menatap Nyonya Besar itu, "Jacob baru saja menelepon kenomor rumah ini, Nyonya."


Laura menatap lurus pada Rangga, memastikan ucapan Rangga barusan.


"Dia berada di cukup jauh dari sini. Tapi anak buahmu sedang melacak lokasinya sekarang, Nyonya," lanjut Rangga.


"Sungguh?" Mona terbelalak. "Dimana Jacob? Dia baik-baik saja, kan?" cemasnya.


Rangga mengangguk, "Dia baik, Alesha juga."


"Temukan mereka maksimal sepuluh menit dari sekarang!" titah Laura. Ia bangkit berdiri, "Kau tetap di sini, Rangga."


Rangga menggelengkan kepalanya, "Aku akan ikut menyusul Alesha."


"Tidak! Kau tetap di sini. Jaga mansion ini!" Laura bertegas.


"Tapi, Nyonya...."


Rangga diam menunduk. Ia kesal. Tapi ia bisa mengendalikan emosi dan raut wajahnya dengan baik. Tidak masalah. Ia mengalah. Sesuai perintah Nyonya Besar itu, ia akan tetap di mansion itu.


"Rangga, bagaimana kondisi Jacob?" tanya Mona. Ia mendekati Rangga.


"Dia baik, Mona," jawab Rangga, pelan.


"Lalu dimana dia sekarang?"


"Di perkampungan pinggir hutan."


Mona menyerngit bingung.


"Jacob dan Alesha tersesat di hutan, dan mereka kebetulan bertemu dengan seorang warga desa di dalam hutan itu."


"Rangga!" Seseorang memanggil Rangga. Ia kini berdiri tepat disebelah Rangga, "Kami sudah mendapatkan lokasi Tuan Jacob dan Nona Alesha."


***


Alesha sangat bahagia ketika ia tahu kalau suaminya sudah berhasil menghubungi keluarga mereka dan akan ada anak buah yang segera menjemput mereka.


Berkali-kali Jacob dan Alesha sama-sama mengucapkan terima kasih pada Abah Halim sebab sudah membantu mereka dalam kondisi yang cukup memprihatinkan, dan dengan santainya, Abah Halim membalas hanya dengan senyuman lebar dan anggukan saja.


Abah Halim sama sekali tak mengharapkan imbalan apapun. Jacob menawarinya uang yang banyak, tapi ia menolaknya sebab ia tidak butuh itu. Kehidupannya sudah sejahtera dan damai bersama kedua cucunya di desa pinggir hutan belantara.


Akan tetapi Jacob dan Alesha sama-sama memiliki rencana lain untuk membalas jasa Abah Halim terhadap mereka.


"Kau bisa bertarung?" tanya Jacob pada Rehan yang sedang sepertinya sedang berlatih tinju dengan sebuah karung yang digantungkan diranting pohon. Ia sengaja memakan bahasa Inggris karna ternyata, Rehan bisa bicara bahasa Inggris dengan lancar. Abah Halim sih bilang kalau Rehan pernah ikut kompetisi Bahasa Inggris saat masih SMA.


"Ehm... Tidak," jawab Rehan sedikit kikuk.


"Untuk apa ini?" tanya Jacob sembari menyentuh karung yang menggantung itu.


"Berlatih. Aku ingin bisa menguasai teknik bela diri," jawab Rehan.


Jacob menyeringai tipis mendengar itu. "Sungguh?"


Rehan mengangguk, "Iya."


"Kalau begitu, apa kau mau aku ajarkan beberapa teknik dasar bela diri?" tanya Jacob, santai.


Rehan menyerngitkan dahi. Jacob bisa bertarung?


"Aku mantan agent intelegent sebuah organisasi rahasia. Tentu saja aku bisa bertarung."

__ADS_1


Deg!


Rehan tercekat mendengar ucapan Jacob barusan. Tidak mungkin! Jacob pasti bercanda.


"Istriku juga bisa bertarung. Aku yang mengajarinya." Jacob melayangkan senyum ramahnya. "Kau mau lihat? Boleh aku pinjam pisau belati kecil itu?" Jacob menunjuk kearah belati yang tergeletak diatas balai bambu.


Rehan mengangguk pelan. Ia masih bungkam.


Jacob lantas melangkah dan mengambil belati itu. "Lihat ini!" Ia menegakkan posisi ujung belatinya diatas. Menatap lurus ke arah buah diatas pohon sejauh sepuluh meter darinya.


Sejurus kemudian.


"HAH!" Rehan terlonjak kaget dengan kedua kelopak mata yang sama-sama terbelalak. Itu sungguh menakjubkan! Jacob berhasil memancapkan pisau belati itu tepat di tengah-tengah buah atas pohon sejauh sepuluh meter lebih itu. "Bagaimana bisa?" ucapnya tak sadar.


"Itu mudah." Jacob mengedikkan kedua bahunya dengan santai.


"Mudah kau bilang?" Rehan menatap Jacob tidak percaya.


Jacob mengangguk. Ia menoleh ke arah pintu rumah dimana Alesha sedang berdiri di sana, memerhatikannya, "Sayang, kemarilah. Aku butuh bantuanmu sedikit."


Alesha mengangguk. Entah apa yang hendak suaminya itu lakukan. Ia melangkah saja dengan santai sembari memakan sisa goreng singkong yang Pia buat. Sampai sejurus kemudian...


"WOEE!!" Alesha memekik kencang. Kaget lebih tepatnya saat Jacob tiba-tiba saja maju dan hendak meninju bahunya. Untung saja ia refleks menghindar. "Heh! Kau ini apa-apaan, sih?" omelnya pada Jacob.


Jacob menyeringai, "Keluarkan semua yang sudah aku ajarkan, Al." Ia maju, berlari menuju istrinya.


Bugh!


"Owh, kau mau pamer pada Rehan kalau kau pandai bertarung?" sebal Alesha yang sukses lebih dulu menghindar dan menendang punggung Jacob, hingga membuat pria itu tersungkur, "Baiklah. Rehan!" Ia menatap pada Rehan, "Perhatikan baik-baik."


Rehan menelan ludahnya, masih tercekat di tempat.


Sementara itu, Jacob mulai bangkit kembali dan menyerang istrinya.


"Tenang, Sayang. Aku tidak mungkin melukaimu, apalagi perutmu," ucap Jacob seraya menjual serangannya.


Alesha menghindar cepat sembari menepis setiap serangan yang suaminya layangkan, "Aku akan benar-benar menghabisimu jika kau memukul atau menonjok perutku walau itu tidak disengaja, Jack," ucapnya, serius.


Jacob terkekeh.


Pia yang baru saja tiba di ambang pintu terlonjak kaget. Hampir saja nampan berisi singkong gorengnya terjatuh sebab melihat Jacob dan Alesha yang saling bertarung.


"Rehan, aya naon iye?" panik Pia, berlari menghampiri kakaknya.


"Si Aa keur nunjuk keun kumaha cara na bela diri," jawab Rehan, datar.


"Hah?" Pia menyerngit bingung. Haruskah ia menghentikan perkelahian kedua tamunya itu?


"AW! Sakit, Jack!" geram Alesha.


Jacob acuh, ia mengincar bahu, dan kaki istrinya. Seandainya Alesha jatuh, tenang saja, ia tidak akan membiarkan itu, kok, ia akan langsung menangkapnya.


BUGH!


"Argh!" Jacob terhempas kebelakang hingga membuat tubuhnya menabrak pohon cukup kencang dan tersungkur.


Alesha menjerit kaget. Sungguh, ia tidak bermaksud untuk membuat suaminya seperti itu. Ia tidak sengaja.


"JACK!" Bumil itu langsung berlari dan berlutut dihadapan suaminya.


Pia dan Rehan tak kalah terkejut saat melihat luka darah dipelipis dan sudut bibir Jacob.


"Cokot kotak obat!" titah Rehan, panik.


Pia langsung berlari cepat ke dalam rumah.


"Jack, maaf..." lirih Alesha. Ia gelisah karna merasa sangat bersalah atas apa yang terjadi pada suaminya barusan. Darah mengalir sedikit lebih banyak dipelipis Jacob. Mungkin karna berbenturan keras dengan batang pohon. Sudut bibir Jacob juga berdarah cukup banyak, dan memar.


"Maaf.... Hiks..." Alesha memeluk suaminya. Takut kalau Jacob akan marah padanya.


Jacob terkekeh seraya menyeka darah disudut bibirnya, "Tidak apa, Al. Jangan menangis. Aku baik-baik saja."


"Tidak, hiks. Maaf, aku tidak sengaja, sungguh."


Jacob tertawa kecil mendengar suara lirih istrinya, "Iya. Aku tahu. Tenang saja. Aku tidak marah, hey." Ia melepaskan pelukan Alesha, "Jangan menangis. Ini bukan luka besar." Ia menangkup wajah Alesha. Kedua iris coklat manis itu sudah berkaca-kaca rupanya. "Sudah, tidak apa."


Alesha mengerucutkan bibirnya dan mengerjap beberapa kali untuk menahan air mata agar tidak jatuh. "Maaf...." Sekali lagi, ia memeluk tubuh Jacob.


Jacob menggelengkan kepalanya sembarangan tertawa kecil. "Bagaimana? Sudah lihat, kan? Tertarik?" ucapnya pada Rehan.


Rehan terdiam, menatap lurus Jacob. Setelah melihat pertarungan Jacob dan Alesha barusan, entah kenapa, tekadnya untuk menguasai ilmu bela diri semakin menjadi saja. Apalagi Jacob menawari langsung untuk mengajarkannya teknik bela diri.


"Aku yang mengajarkan Alesha. Dia bahkan bisa bertarung, melawan musuh dengan kondisi yang sedang hamil. Sekali saja perutnya terkena pukulan atau tinjuan, taruhannya adalah nyawa janin kami." Jacob mengelusi perut Alesha dengan lembut, "Tapi..." Ia menatap Alesha, dengan penuh cinta dan senyum hangat, "Dia berhasil menjaga perutnya dari pukulan-pukulan musuh kami."


"Iye, A," ucap Pia yang tiba dan berlutut seraya menyerahkan kotak P3K pada Alesha.


"Nuhun," ucap Alesha seraya menerima kotak itu.


Rehan sedikit menundukkan kepalanya. Tawaran itu sangat menggiurkan. Tapi, ia harus meminta izin dan pendapat kakeknya lebih dulu.

__ADS_1


__ADS_2