Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Sandra


__ADS_3

Huhu, sebelumnya maaf, ya kalau aku bakal kurangin sedikit sedikit part actionnya🙏🤧 Tapi part action itu bakal tetep ada, kok. Cuman kali ini yang lebih dominan tenang romance dan problem antara Dirga dan Alesha 😊


Happy reading 😍🤗


*


*


*


Alesha berjalan mondar-mandir penuh khawatir di dalam kamarnya. Suaminya, Jacob juga kedelapan kawannya sedang dalam misi saat ini. Memberantas sisa kelompok jaringan gelap dan menangkap anak buah Theo dan Vincent.


Ini adalah minggu ketiga setelah tragedi Alesha yang diculik oleh Stella. SIO cukup kesulitan melacak dan menentukan strategi terbaik agar dapat menangkap dua musuh bubuyutan itu. Alesha sendiri menawarkan diri untuk membantu, tapi suaminya menolak dengan tegas. Tentu saja, jika ia tidak sedang hamil, mungkin Jacob akan mengizinkan, masalah ia sedang hamil. Itu sangat berisiko besar.


Apa kabar Jacob dan kawan-kawannya sekarang? Sudah tiga hari tiga malam mereka tidak ada kabar. Kemana mereka? Apa yang terjadi.


"Al." Mona masuk ke dalam kamar adik iparnya itu. Membawa senampan makan malam.


Alesha tak menjawab, ia hanya melirik lemah.


"Hey, kau belum makan malam, ya? Ibu, kakak, dan kakekmu menanyakanmu tadi saat kami makan malam," ucap lembut Mona seraya meletakkan nampannya di sebelah Alesha, di atas tempat tidur.


Alesha masih bergeming.


"Kau pasti memikirkan Jacob, ya?" Mona menyentuh bahu Alesha dengan lembut. Ia tersenyum tipis, "Aku tahu rasanya diposisimu saat ini, Alesha. Sangat tahu. Berkali-kali William meninggalkanku dalam misi berhadapan dengan musuh SIO saat dia masih menjadi agent intelegent di SIO. Aku sering merasakan itu, Alesha. Waktu itu bahkan, aku sedang hamil besar, hamil Haris. William dan Jacob pergi, mendapatkan tugas dari SIO untuk melakukan pengejaran terhadap musuh ke Afrika Selatan. Satu minggu lebih mereka tidak kembali. Pihak SIO hanya mengatakan jika mereka baik-baik saja. Tapi aku tidak merasa seperti itu. Aku tahu, terjadi sesuatu yang buruk, dan benar saja, Jacob dan Wiliam di tahan oleh para perompak di tengah laut bersama beberapa agent SIO yang lain. Apa aku takut? Panik? Tentu saja. Sangat, Alesha. Kau tahu, aku sampai stress, hanya bisa berdoa dan menangis sepanjang hari, dan itu cukup berpengaruh buruk pada kehamilanku saat itu. Tapi satu yang selalu membuatku kuat saat harus melepaskan kepergian suami dan adikku ketika mereka mendapatkan tugas."


Alesha menatap kakak ipar perempuannya itu. Apa? Hal apa yang bisa membuat Alesha menjadi kuat untuk menanti kepulangan suaminya saat ini?


"Percaya." Mona melanjutkan kalimatnya dengan pasti, "Aku selalu percaya jika suami dan adikku akan kembali padaku dalam keadaan baik-baik saja. Aku selalu percaya pada mereka karna mereka adalah orang-orang hebat. Wiliam dan Jacob sudah berjanji padaku kalau mereka akan kembali padaku dalam keadaan baik. Ya, walau pun tetap saja, yang namanya kembali dari misi berbahaya, tidak mungkin juga kalau tidak babak belur."


Percaya? Alesha diam. Mencerna satu kata itu. Berarti, apa ia harus percaya kalau suaminya itu akan kembali dalam keadaan baik-baik saja?


"Kau harus percaya kalau Jacob akan kembali padamu, dan tidak akan mengecewakanmu, Al. Dia pasti akan pulang dengan selamat." Mona menggenggam telapak tangan Alesha dengan erat.


Alesha menundukkan wajahnya. Ini cukup sulit baginya. Jacob tidak ada kabar tiga hari tiga malam lamanya. Ia sangat takut. Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk dengan suaminya itu? Tak terasa, sebelah telapak tangan Alesha terangkat, mengelus pelan perutnya yang menjadi tempat bersemayam buah hatinya saat ini.


Mona tersenyum pelan mendapati. Ia paham betul posisi Alesha sekarang.


"Hey, kau kan sedang hamil, kasihan Baby J kalau tidak dikasih asupan. Ayo, makan. Atau mau aku yang menyuapimu?" tawar Mona, ramah.


Alesha menggelengkan kepalanya. Ia sedikit tersenyum. Mungkin Mona benar, ia hanya perlu percaya pada suaminya. Jacob sudah berjanji untuk tidak akan pernah meninggalkannya, mereka masih memiliki masa depan yang harus dibangun, terutama soal Baby J. Jacob pria yang hebat, dan kuat. Berpengalaman dalam hal melawan musuh. Alesha harus percaya itu. Jacob akan kembali padanya dengan selamat.


"Ayo, makan, Al. Kau tidak mungkin berniat untuk membuat calon kepokanku kelaparan, kan?" Mona sedikit bergurau.


Alesha tertawa kecil, "Tentu saja tidak, Mona."


"Ya sudah, kalau begitu makan sekarang." Mona bangkit berdiri, "Maaf, Al, aku tidak bisa menemanimu terlalu lama. Haris bilang ingin tidur tadi, dia sulit untuk tidur jika aku tidak menemaninya."


Alesha mengangguk, "Tidak apa, Mona. Terima kasih sudah membawakan makan malam ini ke kamarku."


Mona turut mengangguk, seraya tersenyum, "Jacob bukan hanya adikku, dia adalah anakku. Begitu juga denganmu. Sebagai ibu, tentu harus perhatian dan memperhatikan soal makan anaknya, bukan?"


Alesha tertawa kecil mendengar itu. Mona memang sosok kakak ipar perempuan idaman siapa pun. Dia baik, sangat perhatian, dan friendly. Beruntung sekali Alesha, Mona selalu bisa menjadi temannya setiap saat.


Setelah meninggalkan sepatah dua patah kalimat terakhir dengan santai, Mona pergi meninggalkan Alesha sendiri dan kembali ke kamarnya. Sementara Alesha, ia pikir, ia memang harus makan. Ia baru sadar kalau ternyata ia sedang kelaparan. Sembari melahap makan malamnya, Alesha terus menghasut pikiran dan perasaan agar tetap baik-baik saja dengan kunci 'Percaya' pada jika suaminya, Jacob akan kembali dari misi dengan selamat tidak lama lagi.


Jarum pada jam berputar cepat. Tengah malam, Alesha tidak bisa tidur. Maklum, efek kehamilannya. Biasanya, disaat seperti ini, Jacob juga ikut terjaga, menemaninya, entah sembari mengobrol kecil atau mengelusi perutnya. Tapi sekarang? Ah, lupakan lah. Jacob akan pulang dengan selamat tidak lama lagi. Semoga saja.


Pukul 01.30 WIB.


Alesha yang kini tengah asik memainkan ponselnya mendadak sedikit terkejut sebab tiba-tiba saja ia menerima panggilan video, masuk, dari Jacob.


Ya!


Dari Jacob!


Ya ampun! Ini sungguh mengejutkan, juga membahagiakan untuk Alesha. Akhirnya, setelah menunggu beberapa hari, Jacob menghubunginya juga!


Alesha : Hallo, Assalamualaikum, Jack.


Jacob : Waallaikumussalam, selama malam, Lil Ale.


Layar ponsel Alesha menampakkan senyuman lembut Jacob.


Alesha : Jack, kau dimana sekarang? Bagaimana kondisimu? Kau baik-baik saja, kan? Kapan kau akan pulang? Kenapa baru menghubungiku sekarang?


Jacob tertawa kecil mendapat pertanyaan bertubi-tubi dari istrinya.


Jacob : Aku baik, Sayang. Aku sudah berada di kantor SIO, di Bandung saat ini. Sedang istirahat bersama yang lain. Maaf aku baru bisa menghubungimu, Sayang. Aku sangat sibuk. Vincent dan Theo benar-benar membuat kami kewalahan. Nyaris saja kami kalah.


Alesha : Oh ya? Lalu bagaimana? Apa kalian berhasil?


Jacob menyeringai.


Jacob : Tentu saja kami menang. Tiga hari tiga malam kami dibuat kewalahan oleh mereka, tentu itu semakin membuat kami geram. Theo dan Vincent ditahan sementara waktu di sel khusus.


Alesha menghembuskan napasnya dengan tenang. Sungguh, lega sekali hati, pikiran, dan perasaannya saat ini. Melihat Jacob yang baik-baik saja, walau nampak kelelahan dan acak-acakkan.


Jacob : Kau tidak bisa tidur, ya?


Alesha : Iya, Jack. Anakmu melarangku tidur sepertinya.


Jacob terkekeh.


Jacob : Dia mungkin merajuk, sudah tiga hari tidak dielusi ayahnya.


Alesha tersenyum kecil mendengar itu. Tapi bisa jadi juga, sih apa yang Jacob katakan barusan.


Alesha : Kau kapan pulang?


Jacob : In syaa Allah, nanti pagi mungkin.


Alesha mengangguk pelan. Ya, setidaknya sisa satu malam ini ia harus bersabar. Besok pagi ia akan bertemu dengan suaminya.


Jacob : Kau kangen padaku, ya?


Goda Jacob.


Alesha mengangguk. Bibirnya sedikit mengerucut.


Alesha : Biasanya kau akan menemaniku malam-malam begini karna aku tidak bisa tidur.


Jacob : Moza? Mauza? Bonnie? Bunnie


Alesha mendengus.


Alesha : Merina, Nakyung dan Maudy, kan belum mengembalikan mereka padaku.


Jacob : Oh ya? Aku kira, sebelum berangkat misi bersamaku, mereka sudah mengembalikan teman-temanmu itu padamu.


Alesha : Mana ada? Awas saja kalau mereka tidak mau mengembalikannya! Aku yang susah payah merawat Moza, Mauza, Bonnie, dan Bunnie dari kecil. Masa iya mereka tidak ambil begitu saja? Tidak bisa!


Jacob : Kenapa tidak suruh Taylor atau yang lain saja untuk mengambil mereka dari apartemen Nakyung, Maudy, dan Merina?


Alesha : Pertama, apartemen itu pasti terkunci! Kedua, kau yang melarang mereka meninggalkan mansion ini untuk berjaga, bukan? Taylor apalagi. Dia tidak mau meninggalkanku karna tugas darimu untuk menjaga dan mengawasiku!

__ADS_1


Lagi-lagi Jacob tertawa kecil. Lucu saja melihat Alesha yang sedang cemberut sebal seperti saat ini.


Akan tetapi, selang sepersekian detik kemudian, tiba-tiba saja pintu kamar Alesha didobrak kuat. Membuat Jacob juga Alesha sama terkejut.


"Nona!" Taylor, dia yang barusan mendobrak pintu kamar, "Ayo, kita harus pergi sekarang!" Ia tampak sangat panik. Tak berpikir panjang, ia menarik lengan Alesha, dan berlari, setengah menyeret Nona Mudanya itu.


"Taylor, ada apa ini?" pekik Alesha antara terkejut dan panik.


Jacob : Al, apa yang terjadi?


Jacob tak kalah panik. Firasatnya tidak enak. Mungkinkah terjadi sesuatu yang buruk di mansionnya saat ini?


"Tuan!" Taylor mendadak menghentikan langkahnya. Ia berbalik, menghadap Alesha, "Apa itu Tuan Jacob, Nona?"


Alesha mengangguk. Keningnya menyerngit. Ia sungguh kebingungan saat ini. Apa yang terjadi? Kenapa Taylor terlihat sangat panik?


Taylor : Tuan!


Taylor merebut ponsel Alesha begitu saja.


Taylor : Tuan, Anda dimana? Mansion diserang oleh sekelompok orang!


Jacob : APA?


Taylor : Tuan, kalau anda sudah beres dengan urusan anda, tolong cepat kembali. Aku akan membawa Nona dan yang lain ke tempat persembunyian!


"Taylor!!" Jacob memekik saat sambungan panggilan videonya terputus. Ia mencoba lagi beberapa kali untuk menghubungi Alesha, mau pun, Taylor. Tapi nihil!


"Argh! Ya ampun! Ada apa ini?" Jacob mengancak rambutnya, frustasi.


Disisi lain, Alesha terus ditarik oleh Taylor. Tepatnya di ujung anak tangga terakhir, tiga orang bertopeng muncul, hendak menyerang.


Taylor maju lebih dulu, melawan tiga orang itu. Satu diantaranya berlari ke arah Alesha.


Baiklah, kini Alesha terpaksa harus bertarung kembali. Semoga saja ia bisa melindungi perutnya dari pukulan.


"Aaaaa!!!" Alesha berteriak kencang, mulai melawan satu pria itu. Sial! Bahunya tertonjok cukup keras. Tapi itu tidak berpengaruh banyak untuk Alesha, ia masih fokus dan balas menendang kuat-kuat dada lawannya itu.


Alesha berlari kencang, melompati pagar tangga, menuju tempat yang lebih datar.


Kini bukan satu, tapi tiga orang berpakaian serba hitam dan bertopeng yang harus ia hadapi, sendiri. Baiklah, ia tidak takut!


"Maju kalian semua!" tantang Alesha sebelum akhirnya ia maju dan memberikan perlawanan.


Dari arah lain, Rangga muncul diwaktu yang tepat. Ia sukses menikam puncak kepala musuhnya yang hendak menendang perut Alesha.


"Rangga!" pekik Alesha, terkejut.


Taylor masih sibuk dengan urusannya, dua orang tadi berhasil ia lumpuhkan, tapi sayangnya muncul empat orang lain.


"Mona, Tessa, dan anak-anak mereka sudah dibawa pergi ke tempat persembunyian, Taylor. Kita harus cepat!" pekik Rangga.


"Bagaimana dengan Nona Sharon?" balas Taylor tak kalah memekik.


Rangga diam. Meski terus sibuk melayani lawannya. Ia tidak tahu soal Sharon.


"Ya ampun! Bagaimana bisa kau melupakan Nona Sharon, Rangga! Bawa Nona Alesha, pastikan dia baik-baik saja! Aku akan kembali ke atas, menyusul Nona Sharon!"


Dag!


Taylor berhasil melumpuhkan lawan terakhirnya. Ia melesat menaiki anak tangga, menuju kamar Sharon.


"Al, kau baik-baik saja?" dengan terengah-engah Rangga bertanya cemas setelah keempat lawannya itu terkapar tak sadarkan diri.


Alesha mengangguk. Napasnya menderu, lelah menghajar dua lawannya tadi.


"Dia baik-baik saja." Alesha menyentuh perutnya, "Aku berhasil menghindarinya dari serangan, dan pukulan tadi."


Rangga mengangguk. "Ayo!" Ia menarik lengan Alesha. Berlarian melewati tubuh-tubuh para pria yang sudah terkapar dilantai.


"Rangga, ada apa ini? Dan, mau kemana kita?" pekik Alesha.


"Anak buah Dirga menyerang mansion ini. Mungkin balas dendam karna tiga minggu lalu Jacob membakar beberapa anggota mereka di tengah jalan raya. Dan ya, di sini sedang tidak aman. Kita akan ke tempat ke persembunyian sementara waktu," jawab Rangga. Ia setengah mendorong Alesha masuk ke dalam mobil.


"Dimana kakek?" Alesha berteriak panik.


"Kakek bersama Mona dan Tessa. Dalam perjalanan menuju tempat persembunyian," jawab Dirga. Cepat-cepat ia menyalakan mesin mobilnya.


"Eh, bagaimana dengan Sharon? Kita tidak bisa meninggalkannya!!"


"Dia bersama Taylor, Al!"


Disaat yang bersamaan, Taylor muncul di berlari sendirian ke arah mobilnya.


"Taylor!!" Alesha berteriak kencang sembari membuka kaca mobilnya, "Dimana Sharon?"


Taylor menghela napas pasrah. Wajahnya terlihat begitu bersalah. Sejurus kemudian, ia menggelengkan kepalanya lalu setelah itu, langsung masuk ke dalam mobilnya.


Eh, apa maksudnya itu?


"TAYLOR, DIMANA SHARON?"


Alesha hendak membuka pintu. Tapi sayang, Rangga terlanjur mengunci pintu mobil dan jendelanya hingga tidak dapat terbuka.


"Rangga, buka pintunya!" Alesha masih berusaha untuk membuka pintu mobil. "SHAROON!!"


Rangga tak berpikir panjang. Ia segera menancap gas. Membawa mobilnya melesat, disusul Taylor di belakang.


"RANGGA, KITA TIDAK BOLEH MENINGGALKAN SHARON!! KEMBALI! APA-APAAN KAU! SHARON MASIH BERADA DI MANSION ITU SENDIRI!!" Alesha berteriak marah bercampur panik.


"Tidak, Al, Sharon sepertinya tidak ada di mansion itu lagi. Taylor tidak mungkin meninggalkannya sendiri." Rangga berusaha tenang.


"APA KATAMU? TIDAK ADA DI MANSION ITU? LALU DIMANA? KITA HARUS KEMBALI!!"


"Al, tenanglah..."


"BAGAIMANA AKU BISA TENANG? ADIK IPARKU KALIAN TINGGALKAN SENDIRI DI MANSION ITU!! KALIAN GILA, YA?" Alesha memotong cepat ucapan kakaknya.


Disisi lain, Jacob baru saja mendapatkan kabar dari Taylor tentang apa yang terjadinya sebenarnya. Mansionnya diserang oleh sekelompok orang, dan Sharon menghilang. Taylor sudah mengambil keputusan tepat dengan membawa penghuni utama mansion itu ke tempat persembunyian sebab Rangga bilang jika tidak lama lagi mansion itu akan dikepung. Itu kenapa sebabnya mereka begitu tergesa-gesa pergi.


Jacob menghentakkan napasnya dengan kasar. Ia mungkin bisa sedikit tenang karna Alesha sudah bisa dipastikan aman. Tapi disisi lain, adik perempuannya menghilang. Ditambah Sharon juga tidak bisa bertarung. Jika Sharon menghilang karna ulah anak buah Dirga, Jacob berjanji, sedikit saja ia melihat lecet ditubuh adiknya itu, ia tidak akan segan untuk membunuh orang yang sudah menaruh lecet kecil pada adiknya itu.


*****


"Uhm! Uhm! Uhm!"


Disisi lain, gadis yang sedang dicemaskan saat ini sedang meronta sekuat tenaga. Mulutnya dibekap, tubuhnya sakit karna didorong oleh seorang pria ke dalam mobil tadi.


"Aku memang telat menangkap Alesha, tapi aku membawa gadis yang mungkin bisa ditukarkan dengan Alesha," ucap pria yang kini menahan tubuh Sharon agar berhenti memberontak.


"ARGH! LEPAS!!" Sharon berteriak sekuat tenaga.


"DIAM!!"


"ARGH!" Sharon meringgis kencang. Wajahnya ditampar keras oleh pria yang menahannya. "Hiks hiks..."

__ADS_1


"Karl, mereka membawa semua penghuni mansion ke tempat lain!" ucap seorang pria yang baru saja muncul dan membuka pintu mobil, "Mereka sepertinya tau kalau kita akan mengepung mansion itu malam ini. Mereka bergerak sangat cepat!"


"Bagaimana mereka bisa tahu?" pekik marah Karl. Ini sungguh di luar dugaannya. Rencananya gagal sebab ia dan timnya telat sedikit mendatangi mansion itu. Mereka tiba setelah melihat beberapa mobil keluar dari dalam mansion tersebut. Meski sebenarnya peluang mereka untuk mendapatkan Alesha masih terbuka, tapi karna Taylor dan Rangga, lagi-lagi rencana itu gagal. Padahal malam ini, pengamanan di mansion Jacob sedang berkurang sebab beberapa anak buah Jacob dan Laura sedang pergi untuk urusan penting yang lain.


"Bagaimana, Karl? Yang lain sudah mengepung mansion itu, tapi mereka juga tidak menemukan seorang pun di sana."


Karl diam, berpikir.


"KALIAN SIAPA?" Sharon memekik kencang, "APA YANG AKAN KALIAN LAKUKAN PADA KELUARGAKU?"


"DIAM!!!"


"AAA!!" Lagi-lagi Sharon memekik kesakitan, "Hiks hiks, sakit...." rintihnya setelah Karl dengan kasar menampar kembali wajahnya.


"Hubungi Tuan Dirga. Katakan semua yang terjadi, dan minta perintah padanya. Oh ya, katakan juga kalau kita menahan gadis yang bisa ditukarkan dengan Alesha!" titah Karl.


"Ditukarkan dengan Alesha? Apa maksudmu?" tanya Sharon bergetar disela tangisnya.


"Kau akan disandra hingga kakak laki-lakimu itu mau memberikan istrinya pada kami!" jawab tegas Karl.


"APA?" pekik Sharon.


*****


Tidak jauh dari wilayah perkotaan, di kaki perbukitan, Alesha tiba bersama Rangga dan Taylor disebuah lahan luas yang dipenuhi rumput setinggi mata kaki.


"Ada bungker seukuran setengah mansionmu di bawah tahan ini, Al. Ibu mertuamu yang sudah membuat dan mempersiapkannya apabila terjadi hal seperti ini. Tidak ada yang tahu tempat ini selain aku, Taylor, ibumu, William, dan Jacob. Tapi sekarang, pastinya semua anak buah suami dan mertuamu yang berada di mansion tadi sudah tahu tentang bungker ini," jelas singkat Rangga sembari terus berjalan cepat ke titik dimana pintu masuk menuju bungker itu berada.


Sekitar satu setengah kilometer jauhnya, Alesha, Rangga, dan Taylor berjalan, hingga mereka masuk ke dalam hutan.


"Kita tidak bisa membawa mobil itu ke dalam hutan, atau mereka bisa mengetahui lokasi kita. Itu kenapa kita meninggalkan mobil kita di sana," Kali ini Taylor yang menjelaskan.


Alesha hanya diam. Menyimak. Sungguh, ia masih terlalu bingung. Bungker? Di tengah hutan? Lalu siapa orang-orang tadi? Anak buah Dirga yang hendak menangkapnya? Tapi Alesha enggan banyak bertanya. Ia urung. Keadaan saat ini mendesaknya untuk bergerak cepat.


Dua kilometer lagi ditempuh, jauh masuk ke dalam hutan. Taylor dan Rangga tentu tahu petunjuk-petunjuk tersamarkan yang menempel diranting dan pohon agar mereka tidak tersesat.


Orang yang tidak tahu, sudah dipastikan akan tersesat. Tapi Alesha, Rangga, dan Taylor tidak. Mereka bahkan telah tiba di tempat tujuan.


Taylor berjalan mendekati sebuah pohon setinggi dua meter. Di sana, terdapat sebuah micro camera yang dapat langsung mendeteksi wajahnya, dan dalam hitungan detik, tepat dua meter dari tempat Alesha berdiri, sebidang tanah dengan lebar dua meter kurang lebih, bergetar, lantas bergerak. Di bawah lapisan tanah tersebut, muncul tangga besi, percis seperti desain pintu masuk menuju kantor bawah tanah milik SIO.


"Ayo, Al!" Rangga menarik lengan Alesha. Setengah berlari menuruni tangga.


Disusul Taylor. Terakhir, ia menekan tombol merah yang menempel di dinding untuk menutupi kembali pintu bungker tersebut.


Mereka bertiga berjalan, melewati lorong besi yang dingin seperti di dalam lemari es sepanjang seratus meter. Dengan pencahayaan cukup minim, Alesha harus kuat menahan dinginnya udara dalam lorong tersebut. Ditambah ia hanya mengenakan piyama dan kerudung langsungan berbahan tipis.


Tidak lama kemudian, mereka akhirnya tiba di ujung lorong. Taylor segera menekan angka-angka yang menjadi kunci agar pintu baja tersebut dapat terbuka.


Sejurus kemudian, saat pintu terbuka, sebuah ruangan lain yang cukup besar dan terang, dan lebih hangat didapati oleh pandangan Alesha. Bukan hanya itu saja, di sana sudah ada seluruh anak buah Jacob dan Laura, juga Tessa, Mona, Wiliam, Haris, Nick, dan ya, suaminya!


Jacob sudah ada di bungker itu juga rupanya!


Tentu saja, lokasi bungker itu tidak jauh dari kantor SIO. Masih dalam satu wilayah perbukitan yang sama.


"Jack!" Alesha berlari, langsung menuju suaminya.


Jacob yang semula teduduk cemas, langsung bangkit berdiri setelah mendapati kehadiran istrinya.


"Jack, ya ampun, kau baik-baik saja, kan?" Alesha memeluk erat tubuh suaminya.


Begitu pun sebaliknya, Jacob membalas pelukan istrinya itu tak kalah erat. Ia sangat takut terjadi sesuatu yang buruk menimpa Alesha sejak tadi. "Kau tidak apa-apa, Al? Ada yang luka? Bagaimana Baby J?" tanyanya sembari menangkup cemas wajah istrinya.


"Aku baik-baik saja. Baby J juga," jawab lirih Alesha, "Tapi Sharon...." Ia nampak bersalah karna Sharon tidak bersamanya, dan tida ada di bungker itu juga.


Jacob mengangguk pelan. "Mereka menangkap Sharon."


"JACK!"


Mendadak suara lain muncul.


Sontak, seluruh pasang mata menatap ke asal suara itu.


Laura, ia baru saja datang bersama beberapa anak buahnya. Dengan wajah sembab penuh air mata.


"Hiks, Jack, Sharon ditangkap oleh mereka!" Laura menatap penuh tangis pada putranya, Jacob. "Hiks hiks, Jack, Ibu takut mereka melukai Sharon, Jack. Hiks hiks." Ia sedang sibuk di kantornya tadi, mengurus beberapa masalah perusahaan sebelum akhirnya ia mendapatkan pesan kalau mansion putranya diserang oleh sekelompok orang, dan putri bungsunya diculik. Ia biasa menghadapi masalah seperti ini, berhadapan dengan musuh, saingan bisnis-walau tidak secara langsung-dan dapat mengatasinya dengan cukup mudah. Tapi sekarang, masalahnya menyangkut keselamatan putrinya juga. Rasa takut, khawatir, dan was-was lebih dulu mengambilnya alih perasaan dan pikirannya.


"Jack, hiks, Ibu harus bagaimana sekarang?"


Jacob mengusap wajahnya dengan gusar. Ia juga tidak bisa gegabah kali ini. Nyawa adik perempuannya bisa terancam.


"Ibu, tenanglah, aku yang akan mengurus ini." Jacob meletakkan kedua telapak tangannya pada bahu ibunya. Ia menatap serius, "Aku akan membawa kembali Sharon dengan selamat. Aku berjanji, Bu."


Alesha menatap suaminya. Apa Jacob akan pergi sekarang untuk menyelamatkan Sharon? Tapi Jacob baru saja kembali dari misi. Wajahnya masih terlihat babak belur.


"Untuk sementara, kita tetap di sini. Dan malam ini, lebih baik kita istirahat dulu saja sembari menyusun rencana," ucap Jacob pada ibunya. "Besok pagi, aku dan yang lain akan pergi untuk membawa Sharon kembali pada kita."


"Hiks, tidak, Jack." Laura menggelengkan kepalanya, "Ibu tidak bisa tenang. Sharon pasti sangat ketakutan sekarang. Hiks hiks."


"Tapi kita tidak bisa gegabah, Ibu. Percaya padaku, Sharon akan tetapi baik-baik saja. Setidaknya sampai aku menemukannya," balas Jacob.


"Hiks, Jack, pokoknya kau harus membawa adikmu pada Ibu kembali dengan kondisi baik-baik saja. Hiks, Ibu takut terjadi sesuatu yang buruk pada Sharon. Hiks hiks." Tangis Laura semakin pecah.


Sekali lagi, Jacob meyakinkan ibunya untuk tetap tenang agar mereka bisa menyusun rencana sebaik mungkin supaya bisa membawa Sharon kembali dalam keadaan selamat.


"Uek! Uek!" Alesha menutupi mulutnya dengannya sebelah telapak tangannya. Tubuhnya sedikit limbung, bersandar pada dinding.


Jacob yang masih meyakinkan ibunya seketika menoleh pada Alesha. Begitu pun yang lain.


"Uek! Uek!" Alesha semakin mual-mual.


"Jack, bawa Alesha ke kamar, kasihan dia, dia harus istirahat. Ibu akan tetap di sini bersama kami," ucap Mona.


Jacob mengangguk. Tak membuang waktu, ia langsung membawa Alesha pada salah satu kamar dari total tujuh kamar yang ada di dalam bungker itu. Ia memapah Alesha berjalan. Tubuh Alesha sedikit bergetar, karna kedinginan mungkin. Suhu ruangan sangat dingin saat ini.


Setelah tiba di dalam kamar, Alesha bergegas berlari menuju kamar mandi. Rasa-rasanya seperti ia ingin memuntahkan sesuatu.


"Uek! Uek! Uek!" Alesha mencengkram pinggiran wastafel kuat-kuat. Ditemani Jacob disebelahnya.


"Wajahmu pucat, Al," ucap Jacob sedikit cemas. Tapi ini adalah hal biasa, wajah Alesha selalu terlihat sedikit lebih pucat saat sedang seperti ini.


Alesha mengangguk lemah. Ia memutar tubuhnya, lantas melangkah pelan menuju tempat tidur.


"Tidur, ya. Siapa tahu rasa mualnya berkurang," usul Jacob.


Alesha tak membalas. Ia naik ke atas tempat tidur, berbaring miring. Kepalanya sedikit pusing berputar. Sangat tidak nyaman.


"Al...." Jacob menyusul naik ke atas tempat tidur. Ia mengusap puncak kepala istrinya dengan lembut.


"Aku tidak bisa tidur, Jack...." ucap Alesha, pelan.


*


*


*

__ADS_1


Next part?


Soon ➡️🤗😁


__ADS_2