Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Canda Gurau Tim


__ADS_3

Malam harinya pukul 20.15 WIB


Jacob bersama para anak didiknya semasa di WOSA, kecuali Alesha kini sedang berkumpul di halaman belakang mansion.


"Jadi kami akan ikut bersama Mr. Danish untuk menyerang kelompok jaringan mafia itu?" Tanya Lucas.


"Ya, kalian harus benar-benar siap, yang kalian hadapi saat ini adalah kelompok mafia," Jawab Jacob.


"Aku sebenarnya tidak mau berurusan dengan orang-orang seperti itu. Aku pikir awalnya SIO akan mempekerjakan murid lulusan WOSA untuk ikut dalam penelitian ilmiah disegala bidang sains. Ya, itu memang benar, tapi aku tidak mengira kalau kelompok kita akan diikut sertakan, kecuali Alesha," Ucap Merina. "Apa semua murid WOSA ikut dalam aksi aksi memberantas musuh seperti yang akan kita lakukan saat ini?" Lanjutnya.


"Tidak semua, hanya beberapa saja, dan kalian salah satu yang termasuk bersama kelompok tim Brandon," Jawab Jacob.


"Kenapa kalian selalu berkumpul tanpa aku?"


Jacob, dan yang lain otomatis langsung menengok ke asal suara familiar yang tiba-tiba saja muncul itu.


"Sudah dari kapan kalian berkumpul tanpa aku?" Alesha menekuk mimik wajahnya seraya duduk tepat disebelah Maudy. "Kenapa kalian terdiam? Tidak mendengar pertanyaanku?" Alesha melipatkan kedua lengannya seraya menatap sebal pada teman-temannya termasuk si tuan mentor yang kini berubah status menjadi suaminya.


"Apa dia selalu seperti itu, Mr. Jacob?" Tanya Aiden.


"Aku pikir setelah menikah Alesha akan lebih dewasa lagi," Komen Tyson.


Jacob hanya menyikapi ucapan Aiden, dan Tyson dengan tawa kecil. Ya, meski sudah menikah, Alesha masih sama saja seperti Alesha yang dulu, kadang bersikap seperti anak kecil atau remaja.


"Memangnya aku kenapa?" Ketus Alesha pada dua kawan prianya yang barusan berucap.


"Sudahlah, Al, tidak perlu berlebihan, kami hanya berkumpul saja," Ucap Nakyung dengan malas.


"Ya kalian berkumpul tanpa aku. Kalian tahu, aku selalu rindu saat-saat dimana kita berkumpul bersama ketika malam hari di tengah taman utama di WOSA," Balas Alesha.


"Oh ya, Mr. Jacob akan mengajakku ke WOSA nanti, benarkan Mr. Jaa...." Alesha yang semula menyunggingkan senyuman pun seketika luntur saat melihat wajah suaminya sudah berubah dingin, dan datar.


Bagus. Alesha salah menyebut panggilan lagi.


"Benar apa, Al?" Tanya Jacob masih dalam ekspresi yang sama.


"Mengajakku ke WOSA," Jawab Alesha, pelan sembari menunduk. Entahlah, ia jadi sedikit takut melihat perubahan raut pada wajah suaminya.


Bastian beserta ketujuh kawannya yang lain pun tersenyum bingung karna mendapati Alesha yang tertunduk akibat Jacob yang tiba-tiba saja melayangkan tatapan dingin namun tajam.


"Alshiba dimana, Al?" Tanya Merina.


"Dia tidur di kamar neneknya," Jawab Alesha yang masih belum berani menatap pada suaminya.


"Di kamar ibu? Memang pengasuhnya kemana?" Tanya Jacob.


"Ibu yang memaksa Alshiba supaya tidur di kamarnya malam ini," Alesha menatap ragu pada Jacob ketika ia menjawab pertanyaan suaminya itu.


"Ah, aku pikir dia belum tidur, padahal aku ingin mengajaknya bermain," Merina merasa sedikit kecewa saat tahu bayi mungil itu sudah tertidur. "Oh ya, Al, bagaimana rasanya melahirkan?"


Alesha sedikit tersentak ketika Merina mengajukan pertanyaan itu.


Bagaimana rasanya melahirkan? Harus kah Alesha bercerita? Setiap wanita pasti tahu jika melahirkan itu pastinya sakit.


"Merina, jangan mulai. Kau kadang mengajukan pertanyaan yang konyol," Komen Nakyung.


"Apa salahnya? Aku hanya bertanya?" Balas Merina.


"Kau tahu, Al, melihat Alshiba rasanya seperti aku ingin segera memiliki bayi juga," Ucap Maudy diselingi tawa kecil.


"APA?" Pekik Alesha, Merina, dan Nakyung secara bersamaan. Mereka bertiga sama-sama mengerutkan keningnya seolah tidak percaya akan apa yang Maudy katakan barusan.


"Maudy, Maudy..." Mike menggelengkan kepalanya sembari tertawa kecil.


"Cepatlah menikah kalau begitu," Ledek Lucas.


"Bagaimana rasanya menikah, Al?" Maudy menatap penasaran pada Alesha.


"Ah, em, rasanya.." Seketika Alesha langsung gelapan sendiri saat ia bingung bagaimana cara menjawabnya.


"Ya ampun, Maudy."


Lagi-lagi Maudy mendapatkan respon berupa gelengan kepala, dan tawa kecil dari teman-temannya.


Bagaimana tidak? Pertanyaannya itu loh yang mengundang kelucuan. Bagaimana rasanya menikah?


Ya ampun, dasar Maudy.


"Maudy, ayolah kau itu bukan orang bodoh, apa gunanya menanyakan hal seperti itu?" Ucap Nakyung, jengah.

__ADS_1


"Memangnya tidak boleh? Siapa tahu Alesha bisa berbagi cerita, atau ilmu agar nanti setelah menikah aku tahu apa yang harus aku lakukan sebagai seorang istri," Balas Maudy dengan begitu santai.


"Huh..." Nakyung menghembuskan napasnya. "Pertanyaanmu itu seperti pertanyaan bodoh. Tanpa harus kau bertanya juga kau nanti akan tahu bagaimana rasanya, dan apa yang harus dilakukan!"


"Yaps," Alesha mengangguk ragu.


"Lalu bagaimana rasanya melahirkan, Al?" Gantian, kini Merina lah yang kembali membuat kawannya menggelengkan kepala sembari tertawa kecil.


Sebenarnya ada apa dengan Merina, dan Maudy? Kenapa mereka harus menanyakan hal seperti itu? Pikir Alesha.


"Jika kau ingin mendapatkan jawaban itu, pastikan tidak ada mereka di antara kalian," Nakyung menjawab sembari melirik pada kelima kawan prianya. "Kecuali Mr. Jacob," Lanjutnya.


"Kalau begitu ayo kita ke sana, aku ingin tahu bagaimana cerita, dan rasanya," Merina menarik lengan Alesha.


"Eh, tapi!" Alesha berniat untuk mengelak, namun Merina sudah terlanjur membawanya menuju sudut lain taman.


"Tunggu, aku juga mau dengar!!" Sahut Maudy yang berlari kecil mengikuti langkah Merina, dan Alesha.


"Kau tidak ikut dengan mereka, Na?" Ledek Tyson.


"Aku?" Nakyung berpikir sejenak, lalu ia melirik pada ketiga teman wanitanya. "Argh, ya ampun!" Nakyung memutar kedua bola matanya dengan jengah, barulah setelah itu ia pun berjalan malas menuju Alesha, Merina, dan Maudy.


"Kau sendiri tidak mau bercerita pada kami bagaimana rasanya menikah, Mr. Jacob?" Ledek Bastian.


"Tidak, aku tidak mau kalian membayangkan yang tidak-tidak," Tolak Jacob dengan santai.


"Kau salah menjawab seperti itu, Mr. Jacob, sekarang aku malah mulai membayangkan yang tidak-tidak, hahahah..." Ucap Mike sembari tertawa.


Bugh!!


Jacob melemparkan sandal yang ia pakai pada Mike.


"Aww! Sakit, Mr. Jacob!" Pekik Mike ketika sandal mentornya itu mengenai lengannya.


"Siapa suruh membayangkannya, aku sudah melarangnya!" Balas Jacob begitu santai.


Dan yang lain hanya tertawa kecil karna melihat tingkah Mike juga Jacob barusan. Untung saja Mike sudah tahu bagaimana sikap mentornya, jadi ia sama sekali tidak marah karna Jacob melemparkan sandal ke arahnya.


...*****...


Berlain tempat....


"Kalian hati-hati lah, identitas kita sebagai kelompok mafia sudah terlanjur diketahui oleh SIO sekarang, dan pasti rahasia kelompok kita juga kemungkinan dapat terbongkar dengan mudah oleh para aparat yang bekerja sama dengan SIO," Ucap Theora. "Tugas kita saat ini satu, membebaskan anggota kita yang ditahan oleh SIO, tapi kalau bisa kita usahakan juga untuk mendapatkan virus itu!"


"Pakai topeng-topeng kalian! Kita berangkat sekarang!" Kemudian Theora memulai langkahnya sebagai pemimpin dipaling depan. Diikuti sekitar tiga puluh pria dengan kemampuan bela diri, dan kesigapan yang sangat baik, Theora yakin jika kali ini misinya akan berhasil.


Sedangkan Theo sendiri, kini ia sedang mengutus salah seorang pria yang ia percayai untuk selalu menjadi dirinya ketika ada urusan atau pertemuan dengan pihak-pihak lain yang memiliki urusan dengan kelompok mafianya.


Selama ini, Theo tidak pernah menunjukkan dirinya pada siapa pun. Apabila kelompok mafianya mengadakan perjanjian atau hal apapun itu yang berkaitan dengan pertemuan-pertemuan bersama orang lain, Theo selalu mengutus seorang pria untuk berpura-pura menjadi dirinya.


Bahkan dalam menekuni bidang bisnis pun Theo menggunakan identitas palsu, dan menyuruh pria lain untuk menjadi dirinya dalam memimpin perusahaannya.


"Theo, Theora saat ini sedang dalam perjalanan menuju kantor SIO," Ucap Wili.


"Bagus, kita tunggu kabar selanjutnya. Jika ia gagal maka mau tidak mau kita paksa profesor-profesor itu untuk membuatkan virusnya," Balas Theo, datar.


"Tapi aku tidak yakin mereka akan berhasil, Theo. Mungkin Levin sudah meninggal, tapi SIO memiliki banyak agent kuat, dan sangat sulit untuk dikalahkan!"


"Kau meragukan kemampuan kawan-kawanmu, Wil?" Theo melirik datar namun dengan tatapan yang cukup menusuk pada Wili.


"Tidak, aku hanya khawatir jika SIO malah akan menyerang balik pada kita. Apalagi Jacob sudah kembali, kau tahu dia kan, seorang peretas handal. Dia bisa saja meretas semua sistem keamanan digital kita dengan mudah, dan mendapatkannya untuk dilaporkan pada pihak aparat kepolisian. Jika itu terjadi maka identitas kita bisa terbongkar oleh pihak keamanan dunia."


Tanpa banyak basa-basi, Theo bangkit, dan menempatkan ujung belati tepat didepan mulut Wili.


"Jika kau berani mengatakan kalimat keraguan pada kelompokku lagi, maka akan aku pastikan saat itu juga kau tidak akan bisa lagi mendengar suaramu!" Ancam Theo.


Tubuh Wili sedikit bergetar karna ketakutan. Ancaman, dan todongan belati yang kini ia terima dari kepala utama mafia itu benar-benar membuatnya mati kutu.


"Baiklah, maafkan aku kalau begitu. Aku berjanji tidak akan pernah mengucapkan kalimat seperti tadi lagi," Wili terus menunduk takut.


"Sekarang pergilah!" Theo menaruh kembali belatinya diatas meja yang berada tidak jauh darinya.


Enggan membuat ketua mafia itu kembali murka, cepat-cepat Wili bangkit, dan berjalan meninggalkan ruangan itu.


...*****...


Waktu beranjak kembali menuju Bandung, Indonesia, tepatnya kediaman Jacob, dan Alesha.


"Sudah ceritanya?" Ledek Jacob yang kini tengah bersandar santai disofa.

__ADS_1


"Sudah," Jawab Alesha yang baru saja memasukan ruang kamar.


"Bagaimana?" Jacob bangkit, dan berjalan menghampiri istrinya.


"Bagaimana apa?" Tanya Alesha.


"Bagaimana rasanya menikah?" Bisik Jacob tepat dihadapan wajah istrinya.


"Kenapa bertanya padaku, kau sendiri bagaimana?" Tanya balik Alesha.


"Aku?" Jacob menatap lapar pada wajah si manis kesayangannya itu. "Aku sangat menikmatinya. Terlebih aku menikah.. " Jacob semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Alesha. "Dengan seorang wanita yang sangat aku cintai."


Alesha berkedip beberapa kali ketika hembusan napas Jacob menerpa wajahnya.


"Berhenti menatapku seperti itu!" Alesha balik menatap serius pada suaminya.


"Huh, malam ini Alshiba tidur lagi bersama neneknya," Alesha membalikkan tubuh, dan berjalan menuju kasur.


Di belakang, Jacob mengikuti langkah istrinya dengan tatapan yang masih sama, lapar dan ingin memakan mangsa manis yang sangat ia cintai itu.


Lalu ketika Alesha beranjak naik ke atas kasur, ia pun dibuat geram kembali karna Jacob masih saja terus menatapnya.


"Jack!"


"Hmm, apa, sayang?" Bukannya menghentikan ulahnya, Jacob malah semakin mempertahankan tatapannya itu.


"Ish, tau ah!" Alesha membaringkan tubuhnya dengan membelakangi Jacob. Tidak lupa ia juga menarik selimut untuk menutupi tubuhnya supaya tidak kedinginan.


"Jangan punggungi aku, Lil Ale," Ucap Jacob sembari membalikkan tubuh istrinya. "Biasanya dulu kau selalu mau tidur dalam pelukanku."


Tidak ada balasan....


"Alesha..."


"Hei!"


"Sayang..."


Jacob menangkup wajah Alesha lalu menggoyangkannya. "Alesha..."


Sedangkan Alesha malah berpura-pura tidur. Tapi memang sebenarnya ia sudah mengantuk sih.


"Lil Ale..." Kini Jacob turut membaringkan tubuhnya. "Kau masih belum selesai ya?" Tanya Jacob sembari memainkan bulu mata lentik istrinya.


"Hmm, belum selesai apa?" Tanya balik Alesha.


"Itu...."


"Apa?"


"Nifas, sayang," Jacob mencium singkat salah satu pipi istrinya.


"Iya belum. Memangnya kenapa?" Alesha melipatkan bibirnya untuk menahan senyum, ia sengaja ingin meledek suaminya itu, padahal ia sendiri tahu maksud kenapa Jacob menanyakan pertanyaan tadi.


Namun tidak ada jawaban dari Jacob. Pria itu malah termenung dengan raut kecewanya.


"Memangnya kenapa, Jack?" Tanya Alesha sekali lagi.


"Tidak apa-apa," Balas Jacob begitu singkat. Ia lalu merentangkan tubuhnya, dan mulai memejamkan mata untuk tertidur.


Mendapati sikap suaminya yang seperti itu, tentunya membuat Alesha merasa gemas.


Huhu, kasian, Mr. Jacob...... Tawa Alesha dalam hatinya. Bahkan senyum yang timbul dari perasaan geli pun muncul saat ini pada wajah Alesha.


"Ulululu, kasian..." Langsung saja Alesha memeluk tubuh suaminya dari pinggir. "Maaf, Jack."


"Tidak apa, Lil Ale," Balas Jacob yang juga mengukir senyum kecilnya saat ini.


"Sabar ya, semoga saja tidak lama lagi," Alesha mendongkakkan wajahnya untuk menatap pada suaminya.


Sebagai balasannya, Jacob hanya mengangguk.


"Selamat malam, Big Guy."


Satu ciuman singkat dari Alesha untuk bibir suaminya pun menjadi penutup malam bagi mereka berdua.


"Selamat malam juga, Lil Ale," Balas Jacob dengan hatinya yang begitu berbunga-bunga karna mendapatkan ciuman langsung yang istrinya berikan.


Tapi tumben Alesha menyosor duluan. Biasanya ia sangat sangat amat begitu jarang mencium suaminya terlebih dahulu, malah boleh jika harus dikatakan sebagai tidak pernah, tapi bukan berarti sama sekali karna waktu itu entah berapa bulan yang lalu Alesha pernah sekali mencium suaminya secara langsung tanpa ada paksaan atau pun permintaan dari Jacob.

__ADS_1


__ADS_2