
Setelah setengah jam menunggu kabar, kini Mr. Frank sudah mendapatkan informasi dari agent khusus yang ia suruh untuk membuntuti mobil yang Theora tumpangi.
"Ada beberapa pengendara yang melihat kalau Theora, dan pria yang membawanya itu melompat dari mobil sesaat sebelum mobil yang mereka tumpangi menabrak truk tangki itu, dan meledak. Beberapa pengendara itu juga melihat kalau Theora bersama pria itu berlari kebalik mobil tangki yang terbakar," Ucap Mr. Frank pada anak buahnya yang bukan lain adalah Jacob, Danish, Aldi, Rendi, dan juga Laras.
"Sepertinya mereka menaiki mobil lain untuk kabur dari jangkauan kita," Sambung Laras.
"Mungkin saat ini mereka berhasil lolos, namun tidak untuk selanjutnya," Mr. Frank mengepalkan kedua telapak tangannya.
...*****...
Theora termenung dengan sorot mata yang kosong seperti tidak ada satu pun hal yang mengusiknya. Namun, dibalik wajah datarnya, terdapat sebuah pikiran yang langsung menyalurkan sebuah kesedihan ke dalam hatinya.
Apa Jacob membenciku?
Apa karna aku sekarang adalah musuhnya?
Kenapa aku harus bertemu dengannya?
Aku tidak ingin melihatnya lagi.
Aku tidak ingin mengusik kehidupannya bersama, dan anaknya.
Tapi mengubur harapan besar adalah suatu keharusan, karna aku tahu Jacob tidak mungkin mencintaiku.
Aku tidak mau bertemu dengannya lagi. Aku ingin melepaskan perasaanku.
Jack, jika saja kau mengerti. Aku tidak mau menjadi seperti ini. Kakak, dan ayahku yang mengubahku. Tapi aku tidak boleh lemah, kini aku sudah berbeda dimata Jacob, dan mau sebagaimana aku berusaha keras untuk meyakinkannya jika aku ingin menjadi baik lagi, tetap saja Jacob akan memandangku sebagai orang jahat. Buktinya saja dia bersikap negatif padaku saat kamu bertemu.
Jack, sebelas tahun kita berteman, dan aku masih ingat ulang tahunku yang ke enam belas. Itu adalah ulang tahun terakhirku sebelum kita berpisah, dan kau memberiku hadiah sebuah kotak berisi coklat juga bola kristal salju berwarna biru yang didalamnya terdapat sepasang pria, dan wanita sedang berpegangan tangan. Aku masih menyimpan itu hingga sekarang bersama kotak hadiahnya sebagai kenang-kenangan terakhir darimu.
Aku ikut bersama kakakku ke California, dan setelah satu tahun berlalu aku kembali lagi ke Florida.
Theora tersenyum miris ketika mengingat kejadian selanjutnya.
Kau sudah tidak ada di sana.
Theora menundukkan wajahnya saat air mata mulai mengaburkan pandangannya.
Aku mencarimu, dan aku tidak menemukan petunjuk apapun kemana kau pergi.
Hingga saat setelah lima tahun kita berpisah, aku baru tahu kalau ternyata waktu itu kau dipanggil untuk ikut seleksi menjadi murid di WOSA, dan melanjutkan pekerjaanmu di SIO, dan sejak itu pula aku sadar jika status kita akan berubah menjadi musuh saat bertemu, dan semua itu terbukti sekarang, Jack.
Theora sangat sadar posisinya saat ini, dan ia juga tidak ingin melambungkan harapan tinggi yang hanya akan membuatnya terjatuh ke dalam jurang gelap penuh bebatuan tajam.
"Theora, kita sudah sampai."
Tidak terasa, sepanjang jalan Theora termenung bersama pikirannya, kini mobil yang ia tumpangi bersama tiga orang anak buah kakaknya itu pun sampai disebuah pelosok perkampungan yang terletak tepat dibawah kaki gunung Salak, Bogor.
"Dari sini kita berjalan lagi menuju markas," Ucap pria yang mengumudikan mobil.
Theora hanya mengangguk. Lalu setelah itu ia pun turun dari dalam mobil bersama yang lain.
"Ayo..."
Theora masih tetap diam, dan tidak menunjukkan ekspresi apapun. Ia hanya menurut saja untuk berjalan mengikuti anak buah kakaknya menuju markas tersembunyi lain di dalam hutan di kaki gunung salak.
Cukup jauh juga mereka berjalan, melewati pepohonan rindang, dan beberapa kali melihat para pendaki.
"Kau yakin Theo menyuruh kita untuk bermarkas di sini?" Tanya Theora.
"Iya, Theo sendiri yang memerintahkan kita untuk bersembunyi di sini sementara waktu."
Theora memutar kedua bola matanya dengan jengah. "Di tempat ini banyak dilewati oleh pendaki, aku pikir Theo keliru."
Kadang Theora merasa jika kakaknya itu terlalu cepat ambil keputusan. Contohnya saja sekarang, Theora bersama yang lain harus bersembunyi di kaki gunung yang banyak dilewati oleh para pendaki yang otomatis berarti tempat itu adalah tempat umum, sedangkan ia bersama yang lain sebisa mungkin harus menjauh dari kerumunan atau keramaian orang-orang.
__ADS_1
Theora berpikir seperti itu karna Theora sendiri tidak tahu jika di tempat itu sudah ada seorang peri bumi yang merupakan salah satu rekan Theo.
*****
Di kantor SIO, Bandung, Jawa Barat.
Saat ini Jacob tengah terduduk sembari termenung didepan layar komputer yang masih menyala. Hingga ketika getaran, dan bunyi nyaring dari ponselnya membuat Jacob kembali tersadar.
"Hallo, Taylor ada apa? "
"Tuan, Nona menerima sebuah buket bunga misterius."
"Apa? Buket bunga misterius? " Jacob sedikit terkejut.
"Ya, ada surat di dalamnya."
"Surat apa? " Jacob tampak penasaran, dan juga sedikit khawatir.
"Surat itu bertuliskan sebuah sapaan untuk Nona, Tuan."
"Sapaan? Taylor bisa kau perjelas lagi ucapanmu itu? "
"Setengah jam lalu ada seorang kurir pengantar barang yang membawakan buket bunga itu, lalu aku bertanya siapa yang mengirim buket bunga itu, dan kurir itu menjawab namanya Ginara. Namun saat mencoba mencari tahu siapa orang yang bernama Ginara itu aku tidak mendapatkan apapun. Aku sudah meretas sistem jasa pengantar barang tempat kurir itu bekerja untuk mencaritahu informasi tentang seseorang yang sudah mengirimkan buket bunga itu pada Nona. Namun aku tidak menemukan apapun. Aku rasa orang yang bernama Ginara itu menyembunyikan identitas aslinya, Tuan. "
"Baiklah, tunggu aku, kita bicarakan ini di rumah, aku akan pulang sekarang."
"Baik, Tuan."
Tut.. Tut.. Tut...
Sambungan telpon terputus, dan Jacob segera bergegas pergi meninggalkan ruangan itu untuk kembali ke mansionnya.
Perasaan Jacob sudah sangat tidak karuan. Ia mengkhawatirkan istrinya, Alesha.
Siapa yang mengirim buket bunga, dan surat sapaan itu? Ada apa?
"Iya, tapi nanti jika ada sesuatu maka aku akan langsung menghubungimu, Jack," Balas Mr. Frank.
"Iya, kalau begitu aku pulang sekarang, permisi."
Setelah itu, Jacob dengan cepat memacu langkahnya menuju tempat parkir, dan menaiki mobilnya untuk kembali pulang.
Seperti biasanya, jalan raya kota Bandung selalu dibuat macet karna banyak sekali kendaraan yang berlalu-lalang, dan hal itu sedikit membuat Jacob geram. Bahkan kini Jacob harus menunggu selama beberapa menit karna lampu di jalan perempatan menyala merah.
"Siapa yang sudah mengirimkan buket bunga itu pada Alesha?" Gumam Jacob. Ia sungguh khawatir pada Alesha, takut-takut jika kiriman buket bunga itu berasal dari orang yang berniat jahat.
Tidak.
Jacob tidak akan membiarkan Alesha kembali terjerumus dalam masalah. Cukup kejadian tiga tahun yang lalu saja ketika Alesha dua kali sekarat karna tertembak, lalu jatuh dari tebing, dan terakhir adalah keracunan.
Cukup itu saja. Jacob akan berusaha sekuat tenaga untuk menjaga istri tercintanya itu.
Tin.. Tin.. Tin...
Suara klakson dari mobil lain pun membuat Jacob tersadar jika lampu yang tadi menyala merah sudah berubah menjadi hijau.
Demi mempersingkat waktu, segera Jacob kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Tidak perduli padatnya jalan raya, Jacob terus menerobosi mobil-mobil yang menghalangi jalannya. Sesekali Jacob menekan klakson supaya beberapa mobil dapat menyingkir, dan memberikannya jalan.
Lalu sesampainya ia di mansionnya, buru-buru Jacob memarkirkan mobil, dan langsung melesat menuju kamarnya.
"Assalamualaikum... Al," Panggil Jacob yang baru saja membuka pintu kamar, dan berjalan menghampiri istrinya, Alesha yang tengah berbaring di atas kasur bersama Alshiba.
"Waallaikumussalam. Jack, kau sudah pulang?" Alesha melirik pada suaminya.
"Iya. Oh ya, tadi Taylor meneleponku, dia bilang ada yang mengirimmu sebuah buket bunga," Ucap Jacob.
__ADS_1
"Iya, itu di sana," Alesha menunjuk ke arah sofa. "Aku tidak tahu siapa orang yang mengirimkan buket bunga itu, bahkan aku tidak mengenalnya sama sekali, Jack. Aku tidak ingat kalau aku kenal dengan seorang bernama Ginara."
Jacob berjalan mendekati sofa, dan meraih buket bunga itu.
"Aku yang akan mencaritahunya. Aku takut jika ada seseorang yang memiliki niat tidak baik padamu, Al."
Jacob kembali menaruh buket bunga itu diatas sofa lalu berjalan mendekati istrinya.
"Jika iya bagaimana?" Tanya Alesha.
"Aku akan menghabisi orang itu," Jawab Jacob sembari terduduk disebelah Alesha.
Dan setelah itu, Alesha bisa merasakan dagu suaminya yang tertopang pada bahunya.
"Alshiba tidur dari kapan?" Bisik Jacob.
"Dari dua jam yang lalu," Balas Alesha sembari mengelusi pipi lembut bayinya.
"Dia akan tumbuh seperti bundanya. Cantik, pintar, dan sholihah."
Alesha tersenyum kecil setelah mendengar ucapan Jacob barusan.
"Jack.."
"Hmm.."
Alesha membelokkan arah wajahnya yang otomatis langsung saling bertatapan begitu dekat dengan suaminya.
"Aku takut, Jack."
Refleks, kening Jacob berkerut bingung.
"Alshiba. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada bayi kita," Lanjut Alesha yang mulai tampak khawatir.
"Sayang, apa kau akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada bayi kita?" Kini Jacob balik bertanya.
"Tidak," Alesha menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Aku tidak akan biarkan sesuatu yang buruk terjadi pada Alshiba."
"Lalu kenapa kau bicara seperti tadi? Hmm.."
"Jack, kau ingatkan kalau Alshiba terlahir prematur, aku takut dia tidak akan bisa bertahan."
"Alesha, aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini. Aku juga takut Alshiba tidak bisa bertahan, tapi aku akan melakukan upaya apapun supaya bayi kita bisa tetap tumbuh sehat, dan aku sangat bersyukur karna selama tiga minggu berlalu tumbuh kembang Alshiba cukup baik. Aku tidak mau berpikir negatif, aku hanya mau anakku sehat, dan kelak akan tumbuh serta membanggakan kedua orang tuanya," Ucap Jacob yang disusul dengan dua kecupan lembut pada kedua pipi Alesha.
Dan selanjutnya, Alesha pun kembali memposisikan wajahnya untuk menghadap pada Alshiba, sedangkan Jacob bangkit, dan berjalan keluar kamar seraya membawa buket bunga itu.
"Tuan..." Panggil Taylor yang berpapasan dengan Jacob di tangga.
"Ah ya, bagus! Aku memang mau mencarimu. Sekarang ayo ikut aku, kita bicarakan masalah buket bunga ini," Ucap Jacob seraya menarik lengan Taylor.
"Eh tapi, Tuan, ada satu hal lagi yang mesti Tuan tahu," Ucap Taylor.
"Apa?" Tanya Jacob tanpa menghentikan langkahnya.
"Ada seseorang yang sedang memata-matai mansion ini."
Langkah Jacob seketika terhenti, dan tubuhnya pun langsung berdiri tegap menghadap Taylor.
"Siapa?" Kadua ujung alis Jacob saling bertautan yang menunjukkan sebuah keseriusan.
"Saya tidak tahu, tapi saya sudah menyuruh beberapa penjaga untuk berjaga-jaga, dan juga mencari tahu siapa orang yang sedang memata-matai mansion ini, Tuan," Jawab Taylor.
"Apa ada hubungannya dengan buket bunga yang Alesha terima ini?" Jacob mengangkat buket bunga yang sedang ia genggam itu.
"Mungkin, Tuan."
__ADS_1
Hanya itu yang bisa Taylor jawab, karna ya memang dia juga masih belum mendapatkan informasi apapun.
"Perketat penjagaan di sini! Aku tidak mau ada anggota keluargaku yang terluka jika benar-benar terjadi sebuah masalah! Dan aku juga akan meminta pada ibu supaya mau membawa beberapa anak buahnya untuk ikut berjaga di sini!" Perintah Jacob yang langsung diangguki oleh Taylor.