
Keesokan harinya, tepat diwaktu subuh, Alesha terbangun dari tidurnya dalam keadaan masih memeluk pakaian milik putra-putrinya.
Ini sudah masuk waktu sholat. Dengan wajah yang masih sembab, Alesha bangkit dari tidurnya. Duduk sebentar di atas kasur untuk mengumpulkan seluruh kesadarannya.
Tapi, dimana Jacob? Pria tidak ada di tempat tidurnya.
"Alesha, kau sudah bangun?"
Alesha menoleh ke asal suara. Dari arah walk in closet. Jacob keluar sembari membawa sajadah dan pecinya.
"Aku baru mau membangunkanmu untuk sholat," ucap pria itu sembari tersenyum hangat dan menghampiri istrinya. "Ayok, kau ambil wudhu dulu sana, nanti setelah itu aku," lanjutnya.
Alesha tak banyak bicara. Ia hanya mengangguk kecil lantas kemudian beranjak dari tempat tidur dan bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu.
Tidak lama, kurang lebih dua menit, Alesha keluar dengan wajahnya yang basah, juga kaki dan tangannya. Ia berjalan menuju walk in closet untuk mengambil mukena dan sajadahnya. Bumil itu tak bersuara sedikit pun. Wajahnya datar, masih diselimuti duka mendalam. Sampai ketika ibadah shubuh itu dimulai, Alesha tetap tenang agar dapat fokus pada ibadahnya.
Lima menit kurang lebih berselang. Beres melaksanakan sholat, Alesha diam menunduk. Sesekali menyeka bulir cair dipelupuk matanya.
"Alesha...." Jacob mengangkat wajahnya istrinya. "Al, Khalid dan Alshiba sudah bahagia sekarang."
Alesha mengangguk. "Iya. Hiks, tapi aku yang menderita di sini, Jack," lirihnya. "Ingatan itu berputar dan tergambar jelas dikepalaku. Lihatlah, aku memakai mukena sekarang, sama seperti waktu itu, saat Alshiba dibunuh aku masih memakai mukenaku. Ini semua terasa semakin jelas."
Jacob menghembuskan napasnya dengan sabar. "Kita akan ke makam mereka sekarang. Kita akan mengunjungi buah hati kembar kita, Alesha. Jangan bersedih lagi."
"Bagaimana aku tidak bisa bersedih lagi? Hiks, gambaran dari ingatan kematian Khalid dan Alshiba terus berputar dikepalaku, Jack!"
Jacob menangkup wajah istrinya, "Al, kau harus ikhlas. Kasihan Khalid dan Alshiba kalau kau seperti ini. Pikirkan juga Baby J, Sayang. Kasihan dia kalau kau terus menerus stress. Apa kau tidak kasihan pada Baby J, Al?"
Alesha menggelengkan kepalanya. Tangisannya semakin menjadi. "Hiks, aku tidak mau kehilangan Baby J juga, Jack. Hiks hiks. Cukup Khalid dan Alshiba saja. Hiks, aku tidak mau lagi kehilangan anakku. Aku bisa mati perlahan kalau sampai itu terjadi."
Alesha menangkup tersedu-sedu. Membuat Jacob yang melihatnya jadi tidak tega.
"Kita akan jaga Baby J sama-sama, Alesha. Dirga tidak akan pernah lagi bisa merebut Baby J dari kita," ucap Jacob disusul satu ciuman lembut disebelah pipi Alesha.
Pagi harinya, sekitar pukul delapan, Alesha sudah bersiap, hendak pergi ke makam Khalid dan Alshiba. Akan tetapi, efek kehamilan mudanya itu sedikit membuatnya kesusahan. Ia beberapa kali muntah dan mengeluh pusing sedikit sejak tadi.
"Kalian baik-baik saja, kan?" tanya Laura pada Mona dan Alesha.
Dua bumil itu sedang duduk di sofa ruang keluarga sembari sama-sama merasakan morning sickness dengan ditemani segelas susu khusus ibu hamil yang hangat.
Alesha mengangguk. "Lebih baik dari yang tadi, Ibu."
Mona tidak menjawab. Ia memejamkan matanya sembari memijiti pelipisnya.
"Momyyy...." Haris berteriak sembari berlari menghampiri ibunya, Mona.
Pria kecil itu naik ke atas sofa sembari meminum susu dalam botolnya.
"Momy, Paman Jack mau pergi, aku boleh ikut?" tanya Haris percis seperti logat anak usia dua tahun setengah.
Mona menggelengkan kepalanya. Jacob dan Alesha akan pergi ke makam Khalid dan Alshiba saat ini, Haris tidak boleh ikut, nanti bocah itu takutnya malah akan menyusahkan.
"Kenapa, Momy? Aku ingin ikut," rengek Haris.
"Tidak. Tidak boleh, Haris!" balas Mona sedikit tegas.
"Kenapa? Aku ingin ikut dengan Paman Jack." Haris semakin rewel.
"Tidak. Nanti kau takutnya malah merepotkan di sana." Mona sangat tahu bagaimana tingkah putranya itu. Pecicilan dan selalu ingin jalan ke sana kemari.
"Aaaa... Aku mau ikut Paman Jack. Pokonya aku mau ikut Paman Jack!" rengekan Haris semakin menjadi. Ia membuang botol susunya itu dan mulai meronta-ronta-percis seperti anak kecil yang kesal karna keinginannya tidak dituruti.
Mona mengacuhkannya. Biarlah pria kecilnya itu menangis. Ia sedang pusing dan mual saat ini.
Tapi Alesha, melihat Haris yang merengek dan mulai menangis, membuat hatinya menjadi iba. Ia seperti melihat sosok anaknya dalam diri Haris, mengingat usia Haris dengan kedua buah hatinya hanya terpaut satu tahun lebih beberapa bulan.
"Haris...." Alesha menggenggam kedua telapak tangan kepokannya itu, "Kau mau ikut?" tanyanya lembut.
Haris yang mulai sesegukkan pun mengangguk polos.
Alesha tersenyum hangat. "Kalau begitu kau boleh ikut."
"Eh?" Mona refleks menoleh pada adik iparnya, Alesha. "Kau serius, Al? Jangan! Nanti Haris malah merepotkanmu dan Jacob di makam."
Alesha menggelengkan kepalanya. "Tidak, Mona. Dia justru yang akan menemaniku, dan menghiburku di sana. Agar aku tidak terlalu larut dalam kesedihan."
Mona menyerngitkan keningnya. Tidak paham maksud ucapan Alesha.
"Boleh aku pinjam anakmu dulu satu hari ini saja, Mona?" mohon Alesha.
"Hah?" dahi Mona semakin berkerut bingung.
"Dia mungkin bisa menghiburku, apalagi usia Haris dengan Khalid dan Alshiba hanya berbanding satu tahun saja. Boleh, kan aku meminjamnya satu hari ini saja? Itu pun tidak full, Mona."
Mona terdiam. Mencoba untuk mencerna kata-kata Alesha. Tapi ya sudahlah. Pusing kepalanya memikirkan hal itu. Terserah Alesha saja. Yang penting ia sudah memperingati sebelumnya.
"Uhm, ya sudah. Terserah kau saja, Alesha," balas Mona.
Mendapati itu, senyum merekah langsung mengembang diwajah Alesha. Ia menatap cerah pada keponakannya. "Ayok, kita siap-siap. Kita jalan-jalan hari ini," ucapnya dengan semangat.
__ADS_1
Alesha membawa Haris pergi ke kamar yang Mona dan William tempati untuk mengganti pakaian pria kecil itu. Haris pun menurut saja, yang penting keinginannya untuk ikut bersama pamannya, Jacob dipenuhi.
"Alesha," panggil Jacob yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar. Ia mendapati istrinya yang sedang mendandani keponakannya. "Al, Mona bilang kau akan mengajak Haris. Benar?"
Alesha mengangguk, "Aku akan membawa Haris jalan-jalan hari ini."
"HAH? Tidak! Tidak boleh!" tegas Jacob.
Alesha mendengus. Ia tahu alasan suaminya melarang ia membawa Haris jalan-jalan. "Jack, aku akan baik-baik saja. Dirga tidak akan bisa melukaiku, atau tiba-tiba muncul dan melakukan sesuatu yang buruk padaku. Aku butuh sesuatu untuk bisa menghiburku saat ini."
"Tapi, Al. Kita tidak tahu di luar sana Dirga sedang merencanakan apa. Bukan tidak mungkin dia memanfaatkan kesempatan terbuka saat kau di luar sana!" tekan Jacob.
"Jack, aku mohon," lirih Alesha, "Percayalah. Aku akan baik-baik saja. Aku akan kembali ke rumah ini dengan selamat. Kau tidak perlu ikut menemaniku. Kau masih harus beristirahat. Aku hanya akan membawa Haris jalan-jalan sebentar, dan anak buahmu juga, termasuk Taylor akan ikut bersamaku. Aku mohon," Ia menatap pasrah pada suaminya. "Haris mengingatkanku pada Khalid dan Alshiba. Aku ingin mengajaknya bermain, setidaknya dengan begitu aku bisa melepaskan rasa rinduku pada kedua anakku, Jack."
Jacob menghela napasnya dengan sabar. Satu sisi ia cemas pada Alesha, takut terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya itu mengingat anak buah Dirga sedang memantau istrinya saat ini. Tapi disisi lain ia juga kasihan pada Alesha.
"Jack, ayolah. Hari ini saja," mohon Alesha.
"Huft. Baiklah, tapi hanya hari ini saja," pasrah Jacob.
Alesha tersenyum senang saat mendapati izin itu. Ya ampun, bahagia sekali rasanya. Haris memang bukan anak kandungnya, tapi pria kecil itu bisa membantunya melepaskan rasa rindu terhadap mendiang kedua bayinya.
Singkatnya, Haris selesai berdadan. Ia terlihat lucu dan tampan. Alesha benar-benar bisa mendandani pria kecil itu.
"Jack, jaga dia baik-baik," ucap Mona sembari merapikan rambut anaknya.
"Hmm..." balas Jacob, singkat.
"Paman Jack....!!" Haris berteriak girang sembari berlari menghampiri pamannya. Meminta kode untuk digendong.
Jacob, meski pun orang tahunya ia masih butuh istirahat panjang sebab babak belur setelah menjalani misi berhadapan dengan musuh, sejujurnya, istirahat tidur satu malam saja sudah cukup untuk memulihkan tenaganya kembali. Ya meski belum sepenuhnya. Jacob terlihat sangat baik-baik saja sekarang.
"Haii, Tampan. Kau terlihat semakin tampan sekarang. Seperti pamanmu ini," ucap Jacob seraya menggendong tubuh keponakannya.
"Aku kembali ke kamar dulu, ya. Kepalaku sangat pusing, dan tubuhku juga lemas," ucap Mona, pelan.
Jacob mengangguk. "Iya."
Mona melangkah pergi meninggalkan halaman depan mansion itu. Tidak lama kemudian, Alesha datang, sudah siap untuk segera pergi.
"Ayo, Jack," ucap Alesha.
"Taylor kau yang bawa mobil." Jacob melempar kunci mobilnya dengan santai pada Taylor.
"Baik, Tuan," dan Taylor menangkap kunci tersebut dengan mudah.
Sejurus kemudian, Alesha, dan Jacob yang masih menggendong Haris masuk ke dalam mobil. Duduk dijok kedua. Disusul Taylor yang mengambil alih bagian kemudi.
Jacob mengangguk. Ia lantas menaruh ujung jari telunjuknya pada ujung hidung keponakannya. "Jangan nakal, ya. Atau Paman dan Tante akan meninggalkanmu nanti di tempat bermain."
Haris menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku, kan anak baik."
Jacob tersenyum lebar mendengar itu. "Nah, itu baru anak pintar." Ia mencubit gemas sebelah pipi Haris.
*****
Sepanjang jalan, Haris sangat cerewet. Ia terus mengobrol ria bersama paman dan tantenya. Apalagi Jacob yang memang dekat dengan keponakannya itu beberapa kali mengerjai Haris, membuat Haris memeluk tubuh Alesha kuat-kuat untuk berlindung dari gelitikkan pamannya.
Hal itu membuat Alesha merasa cukup senang. Seolah ia sedang bermain dengan anaknya. Ia bahkan tak canggung untuk melayangkan ciuman ciuman gemas pada pipi Haris.
"Tante, aku yang tampan, atau Paman Jack?" tanya Haris dengan polosnya.
Alesha terkekeh. "Kau yang tampan. Paman Jack tidak tampan. Dia kalah jauh denganmu, Haris."
Jacob mendengus. "Tidak! Paman yang tampan, kau tidak tampan!" balas Jacob pada keponakannya.
"Paman Jack jelek! Aku yang tampan!" Haris tidak mau kalah. Ia menatap galak pamannya.
"Tidak, kau jelek!"
"Paman Jack yang jelek!!" teriak Haris.
"Tidak! Aku tampan! WLEEE!!!" Jacob menjulurkan lidahnya, meledek Haris.
"Tante!" Haris merajuk. Menatap marah pada Alesha.
"Jack....." Alesha melayangkan tatapan jengah pada suaminya.
"Heheheh, bercanda, Lil Ale." Jacob kikuk.
"Kita sampai, Tuan, Nona," ucap Taylor tepat saat mobil berhenti.
"Yeayyy!!!" Haris berseru girang. Ia begitu semangat, apalagi saat turun dari mobil.
Jacob berlutut dihadapan keponakannya itu. "Haris, kau tunggu di sini dulu, ya bersama Paman Taylor. Jangan ikut ke sana." Jacob menunjuk ke arah makam. "Lihat!" Ia menunjuk ke arah lain, "Ada yang jual mainan."
Haris mengangguk. Ia tersenyum lebar saat melihat tukang jualan gelembung sabun, dan balon berkarakter animasi.
"Taylor, bawa dia ke sana. Ajak dia main sebentar," titah Jacob.
__ADS_1
"Baik, Tuan." Taylor mengangguk. "Ayo, Tuan Muda Tampan, kita beli mainan itu." Ia menggendong Haris dan bergegas pergi keluar area pemakaman.
"Ayo, Sayang." Jacob menggandeng lengan Alesha. Membawa istrinya itu ke makam putra dan putri mereka yang lokasinya percis bersebelahan dengan makam kedua orang tua Alesha.
Sejenak, Alesha masih tenang, namun saat ia sampai. Ralat! Lebih tepatnya berdiri diantara kedua makam bayi kembarnya, mendadak tangisnya pecah. Tubuhnya limbung, jatuh terduduk diatas rerumputan.
"Hiks, Khalid..... Alshiba.... Ini Bunda, hiks hiks." Alesha mengelus kedua pusara makam bayi-bayinya itu.
Jacob hanya bisa diam. Juga tiga anak buah Jacob yang lain, yang ikut pun sama, hanya bisa menundukkan kepala, berlarut sedih sembari mendengarkan isak tangis Alesha.
"Maaf, Bunda gak bisa jaga kalian, gak bisa temenin kalian lebih lama, gak bisa liat kalian tumbuh. Hiks hiks. Bunda minta maaf...."
Kini, Alesha sungguh tak berdaya. Hatinya rapuh melihat dua gundukkan tanah yang dibawahnya terdapat jasad mungil bayi-bayinya.
Lima belas menit berlalu, Alesha masih terus meratapi kesedihannya. Menangis sesegukkan diantara dua makam mendiang anaknya.
Jacob pun tak berkutik saat ini. Ia hanya berdiri, terdiam dan berusaha tegar untuk tak menangis. Ia ingat jelas saat ia memasukan jenazah Khalid ke dalam liang lahad, juga jenazah Alshiba dengan mata sembab dan wajah yang merah. Dua kali ia ikut menguburi jenazah buah hatinya tanpa Alesha. Itu menyakitkan. Sangat amat menyakitkan.
Tangisan Alesha mulai mereda, tersisa seseguklan kecil. Kedua matanya bergerak lemah memandangi sekitarnya. Seperti tidak asing. Ia seperti pernah ke tempat itu sebelumnya.
Deg!
Alesha tercekat!
Ya ampun! Tentu saja Alesha merasa tidak asing, ia memang sering datang ke tempat itu, tepatnya kedua makam yang letaknya berada percis disebelah makam kedua anaknya!
"Al!" Jacob sedikit terkejut sebab Alesha tiba-tiba saja bangkit berdiri dan berjalan cepat ke arah makam mendiang kedua mertuanya.
"Umi.... Bapak....." gumam Alesha. Ia berdiri diantara kedua makam orang tuanya. Menatap lamat-lamat.
"Umi... Bapak.... Alesha udah kelas lima SD sekarang. Alesha dapet ranking satu lagi, dong."
Alesha terkesiap. Ia terdiam, membiarkan ingatan-ingatan lama memasuki pikirannya.
"Umi, Bapak, tadi ada kakak kelas yang galakin Alesha, dia kelas empat. Tapi Alesha sebel, jadinya Alesha pukul, deh. Eh, Mamah nya kakak kelas yang galakin Alesha itu datang ke sekolah terus marahin Alesha. Jadinya Alesha dihukum, disuruh piket berdiri di lapangan sambil hormat ke arah tiang bendera siang-siang."
"Umi, Bapak, Alesha bakal berangkat ke Selandia Baru sekarang, buat ikut seleksi. Sayang banget Umi sama Bapak gak ada buat liat Alesha yang sekarang."
"Jack....." Alesha menatap lirih pada suaminya. Matanya berkaca-kaca, dan sepertinya akan menangis lepas kembali.
Sial! Kali ini bukan hanya kenangan saat Alesha ziarah ke makam orang tuanya saja yang muncul, tapi ingatan tentang penyebab kematian orang tuanya pun hadir.
"UMI..... BAPAK...." Alesha menangis kencang saat melihat rekaman CCTV yang menunjukkan mobil yang didalamnya terdapat kedua orang tuanya terbakar hebat dipinggir jalan raya.
"Jack, hiks. Aku tidak mau mengingat ini," parau Alesha. Ia berdiri tak berdaya. Ya ampun, rasa sakit yang ia rasakan berkali-kali lipat rasanya sekarang. Pertama karna mengingat kematian anaknya, kedua mengingat kematian orang tuanya, dan yang ketiga adalah mengingat penyebab kematian orang tuanya.
"Hiks, Umi..... Bapak...." Alesha kembali jatuh terduduk, memeluk kedua lututnya sembari menundukkan kepala.
"Al..." Jacob berlutut, menatap cemas pada istrinya.
"Hiks, Rangga bilang Umi dan Bapak meninggalkan karna sakit. Hiks hiks, dia berbohong! Aku ingat sekarang! Aku melihat gambaran dari rekaman video CCTV yang sepupuku tunjukkan. Hiks hiks, mereka terbakar di dalam mobil, Jack. Hiks hiks, umi dan bapakku mati terbakar di dalam mobil."
Alesha memeluk lututnya erat-erat sembari terus terisak lepas. Namun sejurus kemudian.
"Hiks, aku benci amnesia ini!!" Alesha mulai memukuli kepalanya.
Sontak saja itu membuat Jacob terkejut bukan main. Dengan cepat ia menghalau agar istrinya tak melakukan hal bodoh itu.
"Alesha, hey, istigfar! Jangan seperti ini!"
"Hiks, aku benci amnesia ini!" Alesha memberontak. "Ini membuatku lupa dengan semua hal, dan sekarang, gara-gara amnesia ini juga aku jadi mengingat kembali masa-masa pahitku. Membuatku terluka, dan tersakiti dua kali! Hiks hiks, aku benci amnesia ini!"
"Alesha, cukup!" Jacob menahan kedua lengan Alesha, menatap fokus pada istrinya itu.
"Hiks hiks, Jack." Alesha terus menangis, menatap penuh air mata pada suaminya.
Bagus! Jacob merutuki dirinya sendiri saat ini. Ia jadi sedikit menyesal. Kenapa? Lihatlah sekarang Alesha, bumil itu jadi ingat tentang penyebab kematian kedua orang tuanya yang sebenarnya.
"Jack, umi dan bapak meninggal karna terbakar di dalam mobil. Hiks hiks."
Jacob menghembuskan napasnya dengan tenang. Sejurus kemudian, ia menarik lembut tubuh Alesha ke dalam pelukannya. "Yang sabar, Al. Kau harus tabah. Ingat, ini sudah berlalu sangat jauh. Kau sudah ikhlas dengan kejadian ini, Sayang."
"Hiks, tapi hatiku sakit mengingat fakta yang sebenarnya. Mereka meninggal terbakar, Jack. Hiks hiks," balas Alesha. Ia melepaskan pelukan suaminya, lantas kembali memeluk lututnya, dan menangis sendiri. Menumpahkan semua kesedihannya.
Jacob hanya bisa pasrah sembari mengelusi punggung istrinya. Sungguh sedih melihat kondisi Alesha saat ini. Tapi mau bagaimana lagi? Alesha berduka dua kali karna amnesia itu.
Lima belas menit kurang lebih kembali berlalu. Alesha mengangkat wajahnya. Ia tatap lirih kedua makam orang tuanya itu.
"Umi, hiks, Bapak..... Alesha kangen...." Alesha menyeka air mata dikedua belah matanya. Ia tersenyum jerih, "Hiks, tapi Alesha kuat, kok. Umi sama Bapak jangan khawatir, ya. Alesha baik-baik aja sekarang. Alesha janji, Alesha bakal terus datang ke sini, dan terus kirim hadiah doa buat Umi, Bapak, sama Khalid dan Alshiba juga. Alesha janji. Hiks." Kali ini, Alesha mencoba untuk tersenyum lebih lebar. Mengikhlaskan semuanya. Kematian Khalid dan Alshiba, juga kedua orang tuanya.
"Alesha ikhlas. Hiks. Alesha ikhlas sekarang. Umi, Bapak, Khalid sama Alshiba, baik-baik, ya di sana. Semoga kalian bahagia. Alesha sayang banget sama kalian." Alesha menatap keempat makam orang tercintanya itu. "Hufttt......." Ia menghembuskan napas panjang. "Alesha ikhlas. Alesha janji bakal jaga diri Alesha baik-baik. Apalagi sekarang, ada Baby J. Umi sama Bapak tambah cucu baru." Alesha tertawa kecil-meski masih diiringi isak pelan. Ia menoleh pada makam kedua buah hatinya, "Khalid, Alshiba, kalian juga bakal punya adik baru." Setelah itu, Alesha menatap ke arah langit seraya tersenyum, ikhlas. "Ya Allah...." Ia memejamkan kedua matanya. Membiarkan sejenak hatinya untuk menerima perasaan baru. Keikhlasan.
Tidak lama kemudian, Alesha membuka kembali kedua matanya. "Jack..."
"Iya, Al?"
Alesha beranjak berdiri, lantas menatap suaminya dengan senyuman hangat. "Ayok, kita pergi sekarang."
Jacob tertegun sejenak. "Kau yakin, Al?"
__ADS_1
Alesha mengangguk. "Iya. Ayo, aku sudah ikhlas menerima ini semua. Seperti katamu. Ini sudah berlalu jauh, dan aku sudah ikhlas soal ini. Aku hanya perlu mengenangnya dengan hati yang ikhlas, toh, aku masih bisa tetap terhubung dengan mereka melalui doa."
Mendengar itu, Jacob tersenyum lega. Ini lebih baik sekarang. "Nah. Kau benar, Sayang. Hubungan kita dengan anak kita, juga dengan kedua orang tuamu tidak akan pernah terputus. Ada doa yang bisa tetap membuat kita terhubung dengan mereka."