Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Berkabung


__ADS_3

Pukul 10.00 WIB Kantor SIO, Bandung, Indonesia.


Tessa yang beberapa jam lalu sudah terbangun dari pingsannya kini hanya bisa diam, dan termenung sudut ruangan milik sang kepala kantor, Laras.


Tidak ada tangis atau isakan yang terdengar. Duka yang sedang merundung Tessa saat ini membuat ibu satu anak itu tidak tersentuh.


Dalam pikirannya, Tessa terus mengulang kenangan yang sudah ia lalui bersama Levin selama bertahun-tahun, meski saat itu tidak ada status hubungan yang pasti, kecuali perteman biasa.


Sampai detik ini, Tessa masih tidak menyangka jika Levin sudah benar-benar meninggalkannya untuk selamanya.


Lalu apa yang mesti Tessa lakukan selanjutnya? Nicholas masih terlalu kecil, dan Tessa masih sangat jauh dari kata siap untuk menyandang status sebagai janda.


"Permisi, Nyonya," Ucap seorang wanita yang bukan lain adalah pengasuh si kecil Nicholas.


Tessa hanya melirik dengan ekspresi dingin, namun sejurus kemudian rautnya berubah khawatir karna menyadari jika buah hatinya tengah menangis histeris.


"Nick, ya ampun..." Segera Tessa mengambil alih tubuh putranya.


"Tuan Muda sepertinya lapar, Nyonya."


Tessa hanya mengangguk kecil. Ia kemudian membawa diri untuk terduduk disofa lalu memberikan ASI supaya putranya itu berhenti menangis.


Keadaan mulai berbanding terbalik. Ketika Nicholas mulai diam, kini Tessa lah yang mulai dirundung tangis kembali.


"Hiks, Levin..." Tessa hanya mampu berucap lirih sembari mengelusi pipi bayinya. Nicholas, pangeran kecil itu sangat mirip dengan ayahnya, Levin. Tessa melihat sosok Levin dalam wajah bayinya, namun sekarang Tessa bisa apa? Kematian Levin membuat Tessa mau tidak mau harus bertahan diantara keterpurukan, dan ketegaran demi sang buah hati.


"Levin... Hiks...."


Tessa memejamkan kedua matanya, dan membiarkan air mata mengalir lebih deras lagi.


Ketabahan sebesar apa yang harus Tessa pertahankan? Satu sisi lemah, tapi disisi lain kehadiran sang buah cinta adalah kenang-kenangan berharga yang harus tetap dijaga.


"Tessa...."


Sebuah suara panggilan lembut khas seorang wanita baru saja menggubris kesendirian Tessa.


"Tessa, mobil yang akan mengantarkan jenazah Levin sudah siapa," Ucap wanita tersebut sembari menghampiri Tessa.


"Aku tidak siap, Laras," Balas Tessa disertai isakkannya.


Ya, wanita yang menghampiri Tessa itu adalah Laras.


"Semua orang tidak akan pernah siap jika harus ditinggalkan oleh seseorang yang teramat dicintai secara mendadak. Tapi kau harus ikhlas, Tessa. Kau harus kuat, ingat ada anakmu, dan Levin yang harus dibesarkan," Laras mengusapi punggung Tessa sebagai bentuk rasa prihatin, dan bela sungkawa.


"Kau mengatakan itu karna kau tidak berada diposisiku, Laras."

__ADS_1


Laras menghela napas setelah mendengar balasan dari Tessa. Laras harap Tessa bisa bersabar, dan tetap bertahan dalam keadaan ini.


"Iya, aku memang tidak ada diposisimu, tapi melihatmu yang terpuruk membuatku merasa prihatin. Tidak ada jalan lain selain mengikhlaskan apa yang sudah pergi, karna percuma saja jika kita terus berharap pada hal yang tidak mungkin bisa kita dapatkan kembali, Tessa."


Tessa menghembuskan napasnya dengan tenang. Ia sudah pasrah, antara ikhlas atau tidak Tessa pun tidak tahu. Tapi yang pasti sekarang adalah Tessa sudah benar-benar pasrah akan duka mendalam yang menimpanya.


"Kau wanita kuat. Bertahan lah demi anakmu, dan anak Levin, karna Levin pasti akan bahagia jika melihatmu yang masih bisa tersenyum, dan mengurus anak kalian dengan baik meski kehadirannya hanyalah sebuah bayang tidak nyata semata."


Sesegukkan kecil kembali terjadi pada diri Tessa ketika wanita itu mengingat sosok pria yang sudah mampu membuatnya merasakan cinta tulus, dan murni.


"Aku tidak yakin, tapi semoga aku bisa ikhlas..." Lirih Tessa sembari menghapus sisa air matanya.


...*****...


10.45 WIB.


Disalah satu TPU atau Tempat Pemakan Umum yang berada di wilayah Kabupaten Bandung, kini Tessa sedang menangis tersedu-sedu tepat disebelah makam mendiang suaminya. Di sana hanya tinggal tersisa Tessa, dan Laras.


"Levin....." Tessa tidak henti-hentiya menggumamkan nama tersebut meski diiringi oleh tangis, dan napas yang tersendat-sendat.


Kedua kaki Tessa masih berlutut dengan lemas, telapak tangannya mengusapi permukaan gundukkan tanah yang sudah dipenuhi oleh berbagai jenis kelopak bunga.


"Levin, hiks, kenapa cepat sekali, hiks.." Tessa meremas tanah merah yang berada tepat dibawah telapak tangannya. "Aku membencimu! Kau bohong padaku! Kau berjanji untuk kembali pulang!"


Dengan posisi kepala yang tertunduk, tentunya membuat air mata jatuh mengenai tanah makam. Tessa memejamkan matanya dengan erat, merasakan sakit yang teramat sangat memukuli diri, dan hatinya.


Selang beberapa saat setelah itu, ada beberapa orang wanita yang tiba-tiba saja datang lengkap dengan pakaian serba hitam.


Raut wajah mereka terlihat tegang, namun setelah itu berubah menjadi datar seperti tidak percaya akan apa yang mereka lihat saat ini. Terutama wanita yang memakan kerudung yang bukan lain adalah Alesha.


"Mr. Levin..." Lirih Alesha sembari melangkah pelan menuju sisi makam.


Alesha sungguh tidak percaya, dan tidak menyangka. Ia bahkan sempat memarahi suaminya tadi pagi saat Jacob mengatakan jika Levin sudah meninggal.


"Mr. Levin..." Alesha berlutut disebelah Tessa, memandang lurus pada gundukkan tanah merah yang dibawahnya sudah terkubur tubuh Levin. "Ini gak mungkin..." Alesha menggelengkan kepalanya perlahan bersamaan dengan kedua mata yang sudah memburam karna timbulnya cairan kesedihan.


Alesha menghela napasnya ketika satu air mata lolos begitu saja, sama hal dengan ketiga temannya, yaitu Nakyung, Maudy, dan Merina yang juga sama-sama meneteskan air mata karna ikut merasakan atmosfer duka, dan kesedihan yang melingkupi sekitaran mereka.


Perlahan, sebelah telapak tangan Alesha terangkat untuk mengusap punggung Tessa yang bergetar.


"Aku turut berduka cita," Lirih Alesha dengan tatapan nanarnya terhadap Tessa.


Tidak ada balasan apapun yang Tessa berikan. Ia masih berkabung, dan enggan untuk berbicara pada siapa pun. Hatinya masih terlalu sakit, dan sulit untuk menerima fakta bahwa suaminya telah tiada.


Jauh dalam lubuk hati Alesha, ia sungguh sungguh berduka atas kematian Levin. Bahkan saat ini saja Alesha sengaja memakai gelang emas yang merupakan kado ulang tahun pemberian Levin.

__ADS_1


"Mr. Levin.... Hiks.." Sembari memandangi gelang emasnya, Alesha pun menunduk, menangis sesegukan seperti halnya Tessa.


Alesha tidak mengira jika Levin bisa meninggal karna tubuhnya tidak mampu bertahan dari ledakan bom juga pengeroyokkan yang dilakukan oleh gerombolan mafia itu.


"Aku tidak percaya ini..." Lirih Alesha sembari menggelengkan kepalanya. "Mr. Levin, dia pria yang kuat, hiks."


Gumaman Alesha barusan membuat tangis Tessa semakin menjadi. Jika orang lain saja tidak menyangka kalau Levin sudah tiada, apalagi Tessa.


"Aku menyesal memberikan izin padamu, Levin, aku menyesal, sangat menyesal!" Isak Tessa penuh penekanan.


Di tempat yang berbeda yang berjarak cukup jauh dari lokasi Tessa, Alesha dan yang lainnya berada, terdapat empat orang pria yang bukan lain adalah Jacob, dan ketiga teman agentnya. Mereka mengenakan pakaian berjas serba hitam lengkap dengan kacamata berwarna hitam juga.


Keempat pria itu terdiam menatap ke arah makam Levin sembari melipatkan kedua lengan mereka.


"Semoga Theo bisa cepat-cepat menerima kabar ini," Ucap Jacob, datar.


"Apa yang Alesha lakukan dengan dipergelangan tangannya ....." Gumam seorang pria lain yang berada disebelah kiri Jacob. Pria itu mendapati Alesha yang sedang memutar-mutar sebuah benda bulat mengkilat disekitar pergelangan tangan sembari terus terisak.


"Ia mungkin sedang mengenang pria yang dulu memberikannya gelang emas itu," Balas Jacob, malas. "Alesha selalu menyimpan gelang itu dengan rapih di dalam lemari, dan kadang juga sering memakainya."


"Kau tidak marah?" Tanya si pria yang berada disebelah kiri Jacob.


"Biasa saja," Lagi-lagi Jacob membalas dengan wajah malas.


"Tidak ada waktu lagi, kita pergi ke SIO sekarang, Danish sudah menunggu kita di sana. Gerombolan mafia itu juga akan segera diintrogasi," Ucap pria yang lain yang berada disebelah kanan Jacob.


"Kalau begitu ayo," Jacob membalikkan tubuhnya untuk berjalan menuju mobil sedan yang terpakir tidak jauh darinya. Ketika ia, dan yang lain mulai melangkah, si pria yang tadi berdiri disebelah kirinya malah masih mematung tanpa merubah posisi sedikit pun.


"Hey..." Jacob menepuk bahu pria itu. "Semua akan baik-baik saja. Kita tidak punya banyak waktu."


Pria itu hanya mengangguk pelan lalu membalikkan tubuhnya, dan berjalan menyusul yang lain menuju mobil.


...*****...


Sekitar pukul satu siang, seorang wanita berusia dua puluhan baru saja tiba disebuah markas tersembunyi yang berada di salah pedalaman hutan di wilayah Bogor.


"Theora, empat puluh anggota kita ditahan di kantor SIO saat ini. Mereka sempat berhasil lolos, dan mendapatkan virus itu, namun Danish melakukan pengejaran," Ucap salah seorang pria pada si wanita yang baru saja tiba itu.


"Tapi hal bagusnya adalah Levin sekarang sudah meninggal. Pria itu terkena percikan bom hingga terpental, dan juga tubuhnya yang tidak kuat karna dikeroyok oleh orang-orang kita."


"Huh.." Theora menyeringai. "Dasar lemah."


"Kita ke Bandung sekarang!" Theora membalikkan tubuhnya, dan berjalan menuju ke luar markas setelah memberikan perintah.


Saat ini Theora bersama tiga puluh anak buahnya akan terjun langsung untuk memata-matai kantor SIO untuk mencuri kesempatan supaya bisa mendapatkan sampel virus XXX.

__ADS_1


Sedangkan Theo sendiri, kini ia tengah berdiri di mansionnya yang tepat berada di tebing sisi laut. Sembari memandangi hamparan air yang maha luas, Theo pun berpikir, dan memutar otaknya untuk mencari cara supaya bisa mendapatkan sampel virus yang selalu ia idam idamkan agar bisa mengembangkan bisnisnya.


__ADS_2