Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Masih Tidak Terima


__ADS_3

Subuh waktu setempat. Seperti biasa, Alesha pergi ke kamar mandi untuk berwudhu dan melaksanakan sholatnya. Sendirian.


Ya! Sendiri.


Biasanya, semenjak ia bertemu kembali dengan Jacob, Jacob lah yang akan menjadi imam sholat subuhnya. Tapi kali ini, Alesha sendiri. Betapa sedihnya hati Alesha sekarang. Ia tidur tidak lebih dari dua jam. Sisanya, ia menangis sesegukkan. Sendirian di dalam kamar. Teman-temannya sudah kembali ke apartemen mereka, Jacob, dan yang lain di luar kamar. Mungkin. Alesha bahkan tidak perduli jika pria itu, suaminya pulang ke rumah pribadi mereka.


Pukul 06.00 WIB.


Alesha menghabiskan sisa waktu subuhnya dengan berdoa, dan mengadukan masalah yang ia hadapi saat ini pada tuhannya, Allah SWT. Ia menangis sejadi-jadinya dengan suara lirih, dan tertahan. Ia butuh petunjuk untuk membuktikan ucapan Jacob. Rasanya sulit untuk Alesha percaya kalau Jacob sungguhan mencintainya. Bayang-bayang Yuna berputar, menyesakkan dadanya. Sebagai istri, Alesha benar-benar merasa telah dikhianati dan dibohongi. Tapi, semoga saja ingatannya yang belum kembali membawa cukup bukti jika apa ia pikir dan rasakan saat ini adalah salah. Ia mencintai Jacob, tapi sebaliknya, Jacob mengkhianati dan membohonginya. Hey, siapa pun pasti akan terluka jika diposisi Alesha sekarang.


"Uek! Uek!"


Morning sickness. Alesha mulai mengidam kembali. Perutnya sangat mual. Tapi tidak ada apapun yang keluar dari dalam mulutnya selain udara kosong.


"Uek! Uek! Argh!"


"Alesha!"


Merina, gadis itu langsung berlari ke arah kamar mandi. Ia disuruh oleh Jacob untuk menemui Alesha. Hanya sekedar memastikan bagaimana keadaan Alesha sekarang.


"Al, kau kenapa?" panik Merina.


Alesha menggelengkan kepalanya seperti orang pusing. "Aku baik-baik saja. Biasa, ibu hamil, morning sickness," balas Alesha, lemah.


"Ya ampun! Kalau begitu ayo, kembali ke kamar, aku akan bawakan air hangat untukmu."


Alesha mengangguk. Ia berjalan sedikit gontai, dibantu oleh Merina.


"Tunggu sebentar, ya. Aku akan segera kembali," ucap Merina. Cepat-cepat ia pergi keluar kamar untuk mengambil air minum hangat di dapur.


"Merina!" Jacob langsung beranjak dari duduknya. Menghampiri Merina. "Alesha?"


"Dia baik-baik saja, Mr. Jacob. Hanya biasa, lah, ibu hamil, morning sickness," jawab Merina. "Aku akan ke dapur sekarang untuk mengambilkan air minum hangat."


Merina lanjut melangkah begitu saja.


Sementara Jacob, ia hendak melangkah menuju kamar Alesha, tapi ia urung. Percuma saja, Alesha pasti akan mengusirnya.


"Kau tidak akan menemuinya, Jack?" tanya Rangga.


Jacob menoleh, menatap lemah kakak ipar angkatnya itu.


Sebelah alis Rangga terangkat. "Dia sudah mau mungkin untuk ditemani oleh mu." Ia mengedilkan kedua bahunya dengan santai.


Sepertinya. Pikir Jacob. Bagaimana jika Alesha masih tidak mau ditemani atau bertemu dengannya?


"Coba saya dulu, Jack," bujuk Rangga.


Haruskah? Jacob ragu. Tapi... Ia menatap ke arah kamar yang istrinya tempati. Semoga saja Alesha tidak akan mengamuk lagi jika bertemu dengannya.


"Tunggu!" Jacob menahan lengan Merina yang membawa teko berisi air minum dan gelas yang sama-sama terbuat dari kaca.


"Apa?" Merina menyerngitkan dahi.


"Biar aku yang ke dalam. Kau tunggu di sini saja," ucap Jacob.

__ADS_1


Sebelah alis Merina terangkat. Dengan ragu, ia mengangguk. "Ba-baiklah." Ia serahkan teko dan gelas yang dibawanya pada Jacob.


"Bicara pelan-pelan, dan kau harus ekstra sabar, Jack," ucap Rangga.


Jacob hanya mengangguk kecil. Sejurus kemudian, ia melangkah menuju kamar istrinya.


Sementara itu Alesha, diatas tempat tidurnya, ia duduk bersandar. Hening, dan datar sembari mengusap pelan perutnya, dimana terhadap kehidupan kecil di dalam sana yang tengah berkembang.


"Al..."


Yang dipanggil menoleh. Seketika kedua matanya memicing. Apa yang pria itu lakukan di sana? Dimana Merina?


"Sayang..." Jacob berjalan mendekat, sembari melempar senyum hangat. Ia duduk ditepian kasur, berhadapan dengan Alesha. Tidak seperti yang ia kira, ia pikir Alesha akan mengamuk dan marah karna kehadirannya.


"Mau apa kau ke sini?" tanya Alesha, dingin. Ia benar-benar cuek.


Deg!


Jacob cukup terhenyak mendengar itu. Judes sekali Alesha. Sedikit banyak, ucapan Alesha barusan menyakitinya. Seolah kehadirannya sangat tidak diinginkan.


"Air hangat ini, untukmu..." Jacob berusaha tegar. Ia tetap lembut, dan menyerahkan gelas berisi air hangat itu pada istrinya.


Sebelah alis Alesha terangkat. Sejurus kemudian, Ia menerima gelas itu, lantas kemudian, diletakkannya di atas meja sebelah kasur.


"Kau tidak minum? Bukannya kau sedang mual?" Jacob mencoba membuka pembicaraan.


Nihil.


Alesha tak mengindahkan itu. Ia memalingkan tatapannya ke arah lain.


"Lil Ale..." Jacob melebarkan senyumannya. Senyum uang manis dan tenang.


"Apa kabar Baby J sekarang?" Jacob menyentuh permukaan perut istrinya, lantas mengusapnya dengan lembut.


"Aku tidak sabar, Al, ingin cepat-cepat melihatnya secara langsung. Dia anak ketiga kita, Sayang." Jacob tertawa kecil. "Bisa kau bayangkan? Kita sudah punya tiga anak sekarang. Meski yang dua sudah bahagia di dunia lain, dan yang satu masih proses perkembangan."


"BISA TIDAK KAU TIDAK USAH MENGANGGUKU SAAT INI! KAU SELALU SAJA MANJA! KAU SEHARUSNYA TAHU WAKTU JIKA INGIN BERMANJA-MANJA! "


"Hiks, maaf, maafkan aku, Jack, hiks hiks..."


"Aku, hanya ingin kau menemaniku, Jack, hiks hiks."


"AKU KAN SELALU MENEMANIMU JIKA KAU AKAN MENGECEK KANDUNGANMU, AKU SELALU MENEMANIMU JIKA AKU PUNYA WAKTU LUANG, ALESHA! APA ITU BELUM CUKUP? "


"Kau berubah, hiks hiks..."


"Kau bilang apa barusan, Alesha? Aku berubah? "


"Hiks hiks."


"APA SELAMA INI PERHATIAN, DAN KASIH SAYANGKU KURANG? COBALAH UNTUK MEMAHAMIKU! AKU SEDANG PUSING! BANYAK SEKALI PEKERJAAN, DAN MASALAH YANG HARUS AKU TUNTASKAN! JIKA KAU INGIN BERMANJA-MANJA PADAKU LAGI BERSABARLAH! TUNGGU SAMPAI SEMUA MASALAH, DAN PEKERJAANKU SELESAI! "


"Hiks, Jack..."


"Alesha, jangan buat aku semakin marah padamu! Aku tidak ingin memarahimu lagi, jadi lepaskan tanganku! "

__ADS_1


"Hiks, Jack, temani aku sekarang, hiks hiks."


"Aku akan menemanimu nanti, sekarang biarkan aku menyelesaikan pekerjaanku agar aku bisa secepatnya menemanimu."


"Aku ingin kau menemaniku sekarang, Jack, hiks."


"ALESHA!! "


DEG!


Alesha sedikit tersentak. Ia mengerjap beberapa kali. Ingatan apa itu? Ia memang sedang membutuhkan suaminya saat itu karna ia merasa pusing, dan sangat lemas disekujur tubuhnya. Itu adalah salah satu efek dari ketidak siapan tubuhnya untuk mengandung dua janin. Namun, saat itu Jacob juga memang sedang sangat amat sibuk hingga akhirnya ia lah yang terkena semburan kemarahannya. Tapi, hey! Tidak seharusnya ia diperlakukan seperti itu!


"Al, kau kenapa? Kau ingat sesuatu?" tanya Jacob, menyelidik.


Alesha menatap suaminya. Dengan sorot tajam. Rasa marah mulai memuncak kembali dalam dadanya. Rahangnya mengeras, jelas ia tatapannya tersulut-sulut oleh emosinya terhadap Jacob.


"Al, ada apa?" Jacob kian penasaran.


"Tidak usah pura-pura baik padaku! Aku sudah bilang itu semalam, bukan?" balas Alesha, ketus.


Jacob menyerngitkan dahi. "Pura-pura baik?" ulangnya.


"Kau memarahiku, itu tidak masalah! Kau memang pemarah dari sejak kau masih menjadi mentorku! Tapi! Kau, bisa-bisanya meninggalkanku, dan memilih pekerjaanmu waktu itu! Andai kau merasakan apa yang aku rasakan waktu itu, Jack!"


"Alesha, apa yang kau bicarakan?" Jacob benar-benar tidak paham.


"Kau meninggalkanku saat aku sedang membutuhkanmu! Kau tau, bukan kalau kehamilanku lemah! Kau lebih memilih pekerjaanmu!"


Baiklah! Jacob paham sekarang. Iya, ia salah. Ia ingat kejadian itu.


"Maaf..." lirih Jacob. "Iya, aku ingat. Kita sudah membahas ini. Kau juga sudah memaafkanku waktu itu soal ini."


"Waktu itu. Ya! Waktu itu mungkin aku bisa memaafkanmu, Jack. Tapi sekarang, entahlah. Aku masih belum bisa menerimanya." Alesha membuang wajah dengan lantang. Dengus napasnya kasar.


Jacob tertunduk. Masalah itu, Alesha mengungkitnya kembali, dan lagi-lagi membuatnya merasa bersalah.


Disisi lain, Stella, ia bersama Vincent sudah menyiapkan rencana mereka, untuk menculik Alesha.


"Manfaatkan kesempatan ini dengan baik, Stella!" tekan Vincent.


Stella tidak membalas apapun. Ia sibuk berkutik dengan ponselnya. Ya, ia akan sangat memanfaatkan kesempatan ini dengan baik. Semoga saja, rencananya berhasil. Garis bawahi "rencananya", bukan rencana bersama Vincent. Ia memang memiliki rencana lain, dan Vincent tidak boleh tau soal itu. Apalagi Theo.


*


*


*


Hallo, ini author 😁


Sebelumnya mohon maaf, ya karna author lama banget updatenyaπŸ™πŸ˜” Author juga mau sekalian kasih tau, kalau cerita ini, bakal author pindahin ke platform lain (Nov**Li*e). Di sana, InsyaAllah, Author bakal rajin daily update karna bakal didaftarin kontrak eksklusif, yang artinya, cerita ini bakal dihapus di platform ini. Sekali lagi, author minta maaf yang sebesar-besarnya, ya, dan terima kasih banyakan buat yang masih setia baca. Huhu, author terharu banget, masih banyak yang suka ngintip cerita ini ternyata πŸ™πŸ˜­


Semoga aja, awal Januari Author udah bisa daily update, karna harus nunggu sampe kontrak turun.


Sekian 😘

__ADS_1


Love and Big Kiss For My Readers πŸ˜πŸ˜β€οΈπŸ’‹


See you next time πŸ’–πŸ€—


__ADS_2