
Alesha terdiam, memegang sebuah kain seukuran telapak tangannya yang sudah basah oleh air hangat. Ia baru saja beres membantu suaminya untuk membersihkan tubuh bagian atas pria itu. Namun, kini tatapannya tertuju lemah ke arah dada suaminya yang dipenuhi oleh luka-luka, dan sebuah garis jahitan kecil diperut sebelah kiri.
Kuasa kah Alesha memandangi tubuh kekar yang kini tampak memprihatinkan itu?
"Hiks, apa yang sebenarnya terjadi padamu, Jack?" Alesha tertunduk, dan mulai menangis.
"Jangan menangis, sayang. Aku baik-baik saja, sungguh." Jacob menarik pinggang istrinya, memeluk lalu menyandarkan kepalanya pada dada si manis kesayangannya.
"Luka jahitannya masih terasa sakit, Jack? Hiks," tanya Alesha.
"Sedikit, tapi tidak masalah. Itu wajar," jawab Jacob, lembut. "Kau keluarlah sekarang, aku akan membersihkan tubuhku sendiri sekarang."
"Kau yakin? Aku akan membantumu, Mr. Jacob." Alesha melepaskan pelukkan suaminya.
"Tidak. Tidak usah, kau siapkan saja pakaianku, dan tunggu aku di kamar. Oke," balas Jacob sembari melemparkan senyum hangat pada istrinya.
"Hiks, baiklah...." Alesha mengangguk pelan. "Jika butuh sesuatu langsung panggil aku."
"Iya, sayangku. Bantu aku berdiri sekarang."
Tak berpikir lagi, Alesha segera membantu Jacob untuk berdiri perlahan.
"Argh!" Jacob meringgis ketika merasakan sensasi nyut-nyuttan pada luka jahitannya itu. "Jadi, apa ini yang kau rasakan waktu itu, Al? Saat Mack menembakmu, lalu perutmu dijahit."
"Hmm?" Alesha mendongkak, menatap tanya suaminya.
"Diperutmu, ada bekas jahitan, kan?" sambung Jacob.
Alesha mengangguk.
"Kau ingat sesuatu tentang itu?" tanya Jacob.
"Belum." Alesha menggelengkan kepalanya. "Yang aku tahu itu adalah bekas jahitan karna aku jatuh dari sepeda, dan terkena beling."
"Rangga yang mengarangnya, pasti." Jacob berucap malas.
"Iya. Dia yang memberitahuku seperti itu."
"Sudah, tidak apa-apa. Sekarang kau keluar saja, dan tunggu aku."
"Kau yakin bisa sendiri?" Alesha ragu.
"Iya, Alesha. Tenang saja, aku biasa membersihkan tubuhku sendirian setelah menjalani misi."
"Ehm, baiklah. Kalau begitu, aku keluar dulu," meski setengah hati, akhirnya Alesha pun melangkah keluar kamar mandi. Ia masih belum tahu apa yang menimpa suaminya itu. Jacob, tetap enggan bercerita. Tapi ya sudahlah, yang penting sekarang Jacob sudah kembali, dan baik-baik saja.
*****
Sekitar lima belas menit berlalu, akhirnya pintu kamar mandi pun terbuka, dan keluar lah Jacob dari tempat itu.
"Alesha...." panggil Jacob tak mendapati kehadiran istrinya. Namun, ia melihat lipatan pakaiannya yang berada di atas tempat tidur.
Kemana Alesha? Sepertinya sedang keluar sebentar. Pikir Jacob.
Tak membuang waktu, akhirnya, Jacob memilih untuk memakai pakaiannya dahulu sembari menunggu Alesha.
Tok.. Tok.. Tok...
"Permisi, tuan."
"Taylor?" dahi Jacob sedikit menyerngit. "Iya, masuk saja, Taylor!"
Sejurus kemudian...
"Ada apa?" tanya Jacob setelah mendapati asistennya itu masuk, dan menghampirinya.
"Dirga berada di Bandung. Dia sudah tahu nona di sini, dan akan segera menjalankan rencana untuk membunuh nona secepatnya, tuan," jelas Jacob.
"Anak buah pria sialan itu yang memberitahumu?"
Taylor mengangguk. "Iya. Saya sudah mengintrogasinya kemarin. Dia bilang jika Dirga masih memiliki dendam pada ayah nona Alesha, dan tetap ingin membunuh nona Alesha supaya dendamnya itu bisa berakhir."
Jacob terdiam dengan rahangnya yang sudah mengeras.
"Dan satu lagi, tuan." Taylor nampak ragu, dan sedih.
"Apa?" Jacob menyorot penasaran.
"Levin...." Rangga sedikit kesulitan untuk menjelaskannya.
"Levin? Kenapa dia?" Jacob semakin penasaran.
"Levin kritis, dan koma, tuan."
"APA?!!" Jacob memekik, dan terlonjak.
"Pihak SIO menghubungi anda tadi, namun ponsel anda tidak dapat dihubungi, jadi SIO menghubungi saya, dan memberitahu jika Levin kritis setelah bertarung bersama anak buah Theo," lanjut Taylor.
"Lalu bagaimana dengan Eve?!" Jacob semakin panik.
"Eve cukup baik, walau terkena sedikit luka tusukkan diperutnya. Mereka sudah dalam perjalan menuju kantor SIO di Selandia Baru."
"Ya ampun!"
Plak!
Jacob menepuk keningnya sendiri. Bagus, ia bingung sekarang! Bagaimana caranya memberitahu tentang hal ini pada Tessa?
"Levin sempat berpesan sebelum ia pingsan, dan koma."
"Pesan apa?" Jacob terlihat mulai frustasi.
"Dia hanya ingin istri, dan anaknya dijaga, dan tetap baik-baik saja."
Kedua mata Jacob terpejam dengan kedua telapak tangan yang masih menempel pada keningnya.
"Aku yang akan menjaga Tessa, dan Nick sampai Levin pulih kembali," ucap Jacob.
"Mr. Jacob..." tiba-tiba saja muncul suara familiar yang bukan lain adalah Alesha. Ia membawa senampan berisi piring yang terdapat hidangan makanan, air mineral, susu full cream, dan dessert kue coklat untuk suaminya.
"Kau kenapa terlihat pusing seperti itu?" tanya Alesha sembari menaruh nampan yang ia bawa di atas meja.
"Tidak apa-apa, sayang," jawab Jacob bersama senyum santainya. "Barusan Taylor bilang jika perusahaan ibu sedang mengalami penurunan saham," bohongnya. Padahal saham perusahaan Laura sedang stabil, dan bergerak naik perlahan.
"Owh..." Alesha mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ehm, Jack, aku sudah bawakan makan siang untukmu, kau makan dulu, ya," lanjutnya.
"Iya." Jacob mengangguk. "Taylor, terima kasih untuk informasinya, nanti akan aku urus lagi soal itu."
"Sama-sama, Tuan." Taylor mengangguk. "Kalau begitu, saya permisi keluar sekarang."
"Iya, silahkan..." balas Jacob.
Taylor melangkah keluar, tidak lupa ia menutup pintu kamar juga.
"Ayo, sayang, temani aku makan." Jacob menarik lembut lengan istrinya menuju sofa.
__ADS_1
*****
"Tuan, Theora mengirim pesan padaku jika agent-agent SIO berhasil menghabisi setengah anak buahnya yang berada di Greenland," ucap Stella.
"Lalu?" tanya Vincent, santai.
Sebelah alis Stella terangkat. Santai sekali pria itu. Pikirnya.
"Theo, dan Theora tidak memiliki banyak anak buah lagi. Kita mesti cepat menjalankan misi ini."
"Hanya itu saja? Hufttt...." Vincent menghembuskan asap rokok elektrik dari dalam mulutnya.
"Kita harus segera menangkap Alesha! Kita tidak punya banyak waktu, Tuan!" Stella mulai geram.
"Kau terlalu terburu-buru. Santailah, waktunya akan segera tiba." Vincent benar-benar menganggap enteng misinya kali ini. "Kau tidak lihat anak buah Jacob, dan juga anak buah si Nyonya Besar, Laura di mansion itu? Kita akan ketahuan jika gegabah. Tenang lah, semua akan baik-baik saja."
"Ergh!" Stella memutar kedua bola matanya dengan jengah. "Terserah!"
"Beritahu Theo untuk tiba di Indonesia lusa atau tiga hari lagi! Dia pasti ingin bertemu dengan Alesha," titah Vincent.
"Hmm..." balas Stella, malas.
*****
Beralih pada Alesha, dan Jacob. Pasutri tersebut tengah asik berbincang kecil di dalam kamar.
"Jack, aku ingat beberapa hal tentang masa lalu kita," ucap Alesha diiringi senyum manisnya.
"Oh ya? Apa?"
"Kau, dan Mr. Levin menjagaku di rumah sakit. Tapi, aku tidak tahu aku sakit apa, dan kenapa aku bisa dirawat di rumah sakit itu."
Sebelah alis Jacob terangkat.
"Dan kita bermain gunting, batu, kertas," lanjut Alesha.
"Lalu? Ada lagi yang kau ingat?"
Alesha mengangguk. "Iya. Aku ingat tentang Yuna, Jack."
Deg!
Seketika mimik wajah Jacob berubah datar, dan menegang.
Alesha menyuapkan camilan ringan ke dalam mulutnya dengan santai. "Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Bagaimana dia bisa terkubur di dalam salju? Aku mencoba untuk mencari ingatan lain, tapi aku tidak bisa."
Jacob bergeming. Apa yang mesti ia katakan?
"Jack, kau kenapa?" sebelah alis Alesha terangkat bingung. "Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan tentang Yuna? Katakan padaku, Jack. Aku ingin tahu, siapa tahu juga aku bisa mengingatnya kembali. Kau bilang kalau dia adalah kawan kita, kan? Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Yuna."
Jacob tersenyum manis. "Sayang, cobalah untuk mengingat kenangan tentang kita dahulu."
"Memangnya kenapa jika aku mengingat tentang Yuna?" potong Alesha. "Jack, dia meninggal karna tertimbun dalam salju, kan? Aku ingat...."
"Alesha." Jacob menangkup wajah istrinya. "Patuhi ucapanku! Cobalah untuk mengingat kenangan tentang kita lebih dulu. Baru setelah itu, kau bisa memahami hubungan antara ingatan itu dengan ingatan yang lain."
Jacob takut jika Alesha hanya mengingat tentang Yuna yang merupakan kekasih tercintanya, sementara Alesha tidak mengingat perihal perasaannya yang sudah terlepas dari Yuna. Itu akan bahaya. Setidaknya, jika Alesha lebih dulu mengingat jika perasaannya terhadap Yuna sudah menghilang, Alesha tidak akan marah atau sedih ketika mengingat ia yang dulu begitu mencintai Yuna.
"Ehm, ba... baiklah." Alesha mengangguk patuh.
Tok.. Tok.. Tok..
"Jack, Alesha, ini aku, Mona."
"Iya, tunggu sebentar, Mona!" sahut Alesha. "Aku buka pintu dulu."
Jacob mengangguk.
Lantas, Alesha bangkit berdiri, dan melangkah menuju pintu.
Ceklek.
Pintu terbuka.
"Haii, Al, ini, aku membawakan susu jahe untuk bocah keras kepala itu," ucap ramah Mona.
"Aku mendegar itu, Mona!" sahut malas Jacob.
"Bagus jika kau mendengarnya. Agar kau semakin sadar jika kau memang susah diberi tahu!" balas Mona sembari berjalan menghampiri adiknya. Ia menaruh nampan yang ia bawa diatas meja sebelah sofa.
"Aw!" Jacob meringgis saat dagunya diangkat begitu saja oleh Mona menggunakan ibu jari. "Aduh! Mona, pelan-pelan!" protes Jacob ketika kakaknya itu membulak-balikkan wajahnya.
"Tidak ada luka serius, hanya memar," gumam Mona. "Kau! Harus! Beristirahat! Selama! Beberapa! Hari!" ia menunjuk tajam pada adiknya. "Atau! Aku! Yang akan! Mengurungmu! Di kamar ini!"
"Tidak masalah jika aku dikurung di kamar ini berdua dengan Alesha," balas Jacob, santai sembari mengedikkan kedua bahunya.
"Alesha, pastikan bocah keras kepala ini untuk tetap istirahat, dan jangan terlalu banyak pikiran!"
Alesha mengangguk seraya terkekeh kecil. "Iya, Mona."
"Mona!!! Mona!!!" mendadak Sharon datang, berteriak-teriak sembari menggendong Haris yang menangis kencang.
"Iya, kena.... HARIS! Kenapa dia?" kedua bola mata Mona terbelalak lebar saat mendapati putranya yang tampak menyedihkan.
"Dia terjatuh dari sofa, keningnya biru, lihatlah," jawab Sharon.
"Ya ampun, anak momy..... Sayang, cup cup cup, jangan menangis, tidak apa, sayang." Mona mengambil alih tubuh pria kecilnya, fan mentimang bocah itu dalam pelukannya.
"Bagaimana dia bisa terjatuh?" tanya Jacob.
"Aku tidak tahu, Taylor yang tahu karna tadi Haris sedang bermain di ruang tamu dan diawasi oleh Taylor," jawab Sharon.
"Jack, aku pergi dulu untuk menenangkan Haris, kau ingat pesanku yang tadi! Dan awas saja jika kau tidak menurut!"
"Iya, Nyonya Mona yang cantik. Sekarang kau pergilah, aku ingin istirahat, sesuai perintahmu tadi," balas Jacob.
"Alesha, Sharon, aku pergi dulu."
"Iya." Alesha, dan Sharon mengangguk bersamaan.
Lalu setelah itu, Mona pun pergi meninggalkan kamar Jacob dengan membawa putranya, Haris.
"Kau. Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Jacob pada adiknya.
"Hmm? Aku?" Sharon menunjuk dirinya sendiri. "Tadinya aku ingin meminta Alesha untuk menemaniku pergi ke mall lusa, tapi Taylor bilang Alesha sedang tidak boleh keluar rumah, dan kau juga sedang tidak baik, jadi, ya tidak jadi," balasnya, santai.
"Apa yang akan kau lakukan di mall?" sebelah alis Jacob terangkat.
"Tidak ada. Aku hanya bosan dan butuh hiburan, jadi aku pikir Alesha bisa menemaniku, karna hanya Alesha, anak muda sepantaranku yang akrab denganku di sini."
"Kau jangan keluar dari mansion ini tanpa seizinku!" titah Jacob, cukup serius.
"Memangnya kenapa?"
"Ada musuh diluar sana yang sedang memantau mansion ini. Mengerti?"
__ADS_1
"Owwhh...." Sharon mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baiklah. Ya sudah, kalau gitu aku pergi dulu, ya. Bye."
Tanpa meninggalkan sepatah kata lagi, Sharon berlalu pergi begitu saja dari kamar itu.
"Kakakmu sangat perhatian padamu, ya?" tanya Alesha sembari terduduk kembali, menghadap suaminya.
"Dia memang bawel jika aku kembali dari misi, dan aku sudah terbiasa. Jika aku tidak menurut, dia akan marah-marah seharian sembari mengurusku. Padahal Mona memiliki suami, tapi Wiliam sering bilang jika dia cemburu padaku karna perhatian Mona begitu besar padaku ketimbang dia." Jacob tertawa kecil saat mengingat kala Kakak iparnya, Wiliam yang sering cemburu sebab perhatiannya berlebih Mona padanya.
"Mona pasti sangat menyayangimu," ucap Alesha seraya tersenyum manis.
"Tentu saja dia sangat sayang padaku, aku juga sangat menyayanginya. Sejak kecil dia yang mengurusku, dia adalah ibu kedua untukku, dan aku adalah alasan dia kuat menjalani masa lalu kami yang begitu suram," balas Jacob sembari melahap satu suapan makan siangnya.
"Masa lalu kalian yang begitu suram?" Alesha menyerngit bingung.
"Mona pernah hampir bunuh diri karna merasa tidak mampu untuk mengurusku dalam segi finansial. Saat itu aku berumur.... Ehm.... Entah aku lupa, yang pasti aku masih kecil. Aku sakit, dan butuh penanganan dokter sesegera mungkin, tapi kami tidak memiliki uang, dan rumah sakit menolak kami. Aku ingat, dia hampir saja meminum sebotol sabun cair, dan aku menangis kencang karna takut kehilangannya, alhasil, rencana bunuh diri itu gagal, dan dia terus hidup sampai sekarang," cerita singkat Jacob.
"Lalu apa yang terjadi denganmu?" Alesha terlihat penasaran.
"Besoknya, aku dibawa ke rumah sakit, dan langsung mendapatkan penanganan dokter. Awalnya aku tidak tahu dari mana Mona mendapatkan uang, namun pria yang menjadi bos ditempat Mona bekerja saat itu mengatakan padaku jika Mona meminjam uangnya, dan sebagai imbalan, Mona akan bekerja tanpa dibayar selama tiga bulan penuh sebagai pembantu setelah aku sembuh. Mona tidak pernah bercerita tentang itu padaku sampaikan saat ini. Dia adalah Kakak sekaligus ibu terbaik untukku. Mona tidak pernah mengeluhkan kesusahannya padaku, jujur saja, dia adalah sosok kedua di bumi ini yang paling aku sayangi, dan cintai setelah kau Alesha. Tapi kau jangan cemburu! Aku menyayangi, dan mencintainya sebagai saudara. Itu sebabnya aku tidak pernah membantah, atau marah besar padanya. Paling sebal biasa saja. Entahlah, aku benar-benar tidak bisa jika harus marah besar pada malaikat bawel itu."
Alesha tertawa kecil. "Kau adalah adik yang begitu beruntung. Kau mendapatkan banyak cinta, dan kasih sayang dari orang-orang terdekatmu. Terutama aku."
"Jangan pernah lupakan aku lagi, Lil Ale." Jacob beranjak berdiri, dan menghampiri istrinya. "Kau tahu, rasanya sangat sakit, dan berat untukku menjalani masa ketika kau lupa padaku."
"Eh, Mr. Jacob!" Alesha sedikit memekik saat tiba-tiba saja Jacob mengangkat tubuhnya. Refleks, ia mengalungkan lengannya pada leher sang suami.
"Katakan kalau kau mencintaiku lalu cium aku."
"Apa?!"
"Katakan kalau kau mencintaiku lalu cium aku." ulang Jacob.
"Ehm, Jack." Alesha mulai salah tingkah.
"Ayo, itu tidak sulit, sayangku."
"Jack, aku malu..."
Jacob terkekeh geli mendengar itu. "Tidak, kau harus mulai terbiasa, Lil Ale. Ayo, turuti perintah suamimu sekarang!"
Alesha menggigit kecil bibir bawahnya. Ugh! Ia gugup tahu!
"Ehm, baiklah." Alesha mengangguk.
"Aku menunggu, sayang," bisik Jacob seraya memejamkan kedua matanya.
Glek.
Alesha menelan ludah cukup susah. Ia tatap lekat bibir pria yang tiap malam selalu mencumbunya itu. Bagaimana ini? Biasanya ia yang menerima ciuman, bukan yang memberi ciuman. Aish, dasar Jacob!
Sepersekian detik kemudian.....
"Aku mencintaimu, Jacob Ridle."
Cup.
Satu ciuman lembut tanpa penekanan Alesha daratkan pada bibir suaminya.
Ciuman itu berlangsung cukup lama sebab baik Alesha atau pun Jacob, merekam sama-sama menikmati, dan meresapinya.
"Aku juga mencintaimu, Alesha Sanum Malaika," balas bisik Jacob yang sejurus kemudian...
Hap!
Pria itu melahap nikmat, dan penuh kelembutan bibir ranum sang istri yang selalu menjadi candu baginya.
*****
Theo duduk bertopeng kaki begitu angkuh dihadapan beberapa agent SIO yang berhasil ia tangkap dan ia bawa ke markasnya.
"Sekap mulut mereka, ikat kaki, dan tangan mereka, lalu kurung mereka!"
Satu titah dari ketua mafia tersebut segera dituruti oleh beberapa anak buahnya.
"KAU TIDAK AKAN BISA MENDAPATKAN VIRUS ITU, THEO!!"
"Apa tidak ada kalimat terakhir yang ingin kau ucapkan selain itu?" sindir Theo.
"Kau kepa***t sialan!"
Theo memutar kedua bola matanya dengan jengah.
Tiga agent SIO tersebut dibawa pergi oleh beberapa anak buah Theo kesebuah ruangan.
"Theo, Stella mengirim pesan, dia bilang Vincent meminta kita untuk datang ke Indonesia secepatnya," ucap Theora.
"Besok pagi kita terbang ke Surabaya. Aku ingin menemui seseorang di sana," balas Theo. Ia beranjak dari duduknya. "Katakan pada Vincent jika aku akan tiba di Bandung lima atau enam hari lagi," ia menoleh pada adiknya. Akan tetap, kedua kelopak matanya langsung menyipit, menelisik sesuatu pada wajah sang adik.
"Kenapa pipimu?" tanyanya, serius.
"Tidak apa, hanya tergores saja," jawab Theora.
"Jangan bohongi aku! Ini luka sayatan pisau yang panjang! Siapa yang melakukan ini padamu?" Theo menaikan tensi bicaranya.
"Theo, aku baik-baik saja." Theora berusaha meyakinkan.
"Tidak! Katakan siapa yang melakukan ini padamu!"
"Eve!" tegas Theora.
"Dasar agent sialan, beraninya melukai adikku!" geram Theo. "Kau istirahat malam ini, dan sembuhkan lukamu!"
Theora memutar kedua bola matanya dengan jengah. "Aku baik-baik saja, Theo."
"Tidak! Aku bilang kau harus beristirahat! Atau kau tidak akan aku izinkan ikut dalam misi ini!" ancaman Theo.
"Huft!" Theora menghembuskan napas dengan kasar. "Baiklah!"
"Eve akan menanggung akibat yang buruk dariku karna berani melakukan hal itu padamu!"
Theora menyikapi ucapan kakaknya itu dengan malas.
"Ayo, makan!" ajak Theo.
"Hmm....." balas Theora, singkat.
*
*
*
*
Holla, ini author. Maaf ya baru balik lagi ๐๐คง cerita ini masih lanjut, oke, but masih tetap selow update ๐๐
__ADS_1