Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Aku mengingatmu


__ADS_3

Enam bulan kemudian....


Tidak terasa, lambat laun hari pun telah membawa Alesha sadar akan keadaan yang sesungguhnya. Jati diri yang semula terlupakan sedikit demi sedikit kembali, dengan bantuan, dan kesabaran besar yang suaminya berikan, Alesha mampu mengatasi ingatannya yang terlupakan.


Meski tidak semua, namun Alesha sudah memiliki kembali kenangan masa lalunya bersama Jacob.


Alshiba yang kini tinggal kenangan pun telah Alesha ingat kembali, meski nyatanya itu sangat menyakitkan karna Alesha tidak dapat lagi berjumpa dengan bayinya.


Kenangan saat bertemu pertama kali, kenangan saat diberikan hukuman, menghabiskan waktu bersama saat malam hari, perayaan ulang tahunnya di rumah pohon, ciuman pertama, dihukum, beberapa trik bela diri, dan saat ujian kelulusan WOSA di Himalaya, Alesha ingat itu, ia benar-benar melihat gambaran itu semua dalam ingatannya, dan itu sangat-sangat jelas terasa oleh Alesha jika ia memang pernah mengalami itu semua, bahkan baiknya lagi, Alesha telah mengingat kedua orang tuanya, kakeknya, juga kedelapan teman setimnya.


Meski belum semua, tapi tidak apa, yang penting Alesha mendapatkan kembali ingatan lamanya.


Hanya saja, Alesha masih belum mendapatkan ingatan tentang pernikahannya dengan Jacob, itu sebabnya Alesha masih cukup membatasi kedekatannya dengan Jacob. Alesha hanya tahu Alshiba adalah anaknya, tapi tidak dengan Jacob sebagai suaminya. Tapi jujur saja, selama tiga bulan kebersamaannya dengan Jacob, Alesha pikir ia jatuh hati pada pria itu. Sikap manis, kesabaran, dan kelembutan Jacob sungguh membuat Alesha merasa nyaman, belum lagi Jacob juga sering memanjakannya meski ia sendiri tidak pernah memintanya.


Alesha terpikat pada Jacob.


Itulah kenyataannya saat ini.


Alesha merasakan sebuah tarikan, dan ikatan yang kuat dengan Jacob, tapi Alesha tidak tahu kenapa itu bisa terjadi.


Alesha menjalani kesehariannya sebagai murid WOSA, bangun pagi, menggunakan seragam, dan setelah itu Jacob akan membawanya ke taman lalu mengajarkannya segala hal yang diajarkan di WOSA hingga pukul empat sore. Disaat Jacob bicara atau menjelaskan, Alesha tidak mau mengalihkan tatapannya dari wajah Jacob karna ia merasa terpana, terpukau, dan juga kagum. Alesha pikir Jacob adalah pria yang sangat cerdas karna tahu segala hal tentang isi materi seluruh mata pelajaran di WOSA. Tapi, sudah tiga minggu ini Alesha merasa kalau apa yang Jacob ajarkan padanya sudah pernah ia pelajari sebelumnya.


Saat Jacob menjelaskan beberapa materi, secara mendadak Alesha akan tersentak karna ia mengingat materi itu, kadang kala saat Jacob mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan materi pembelajaran Alesha akan langsung menjawab dengan sangat tepat tanpa ada jeda.


Sementara itu, untuk Jacob sendiri, ia memang merasa bahagia karna perjuangannya untuk membantu Alesha mendapatkan ingatan lama kembali sedikit demi sedikit membuahkan hasil, namun disisi lain, Jacob merasa sangat sedih karna diantara ingatan lama Alesha yang telah kembali tidak ada satu pun ingatan yang mengacu pada pernikahan mereka. Jacob selalu bermurung jika ia mendapati waktu sendirinya malam hari. Jacob pikir apa mungkin Alesha mengingatnya sebatas kekasih saja, dan bukan suami? Menyedihkan sekali. Melihat sikap Alesha yang kadang membatasi kedekatan mereka membuat Jacob terhenyak, dan hanya bisa beristigfar dalam hati.


"Apa kau masih belum mengingat pernikahan kita, Al? "


Pertanyaan itu sering terlontar dari dalam mulut Jacob, tapi Alesha selalu menbalas dengan gelengan kepala saja.


Jacob hanya ingin memiliki momen mesra seperti dulu, namun Alesha selalu enggan, dan menghindar saat ia mencoba untuk memberikan perlakuan manis yang lebih jauh lagi.


Sudah berkali-kali Jacob menegaskan jika ia adalah suami Alesha, namun Alesha masih belum mengingat tentang pernikahannya, jadi ia tidak mengizinkan Jacob untuk melakukan hal-hal yang seharusnya boleh dilakukan oleh seorang suami terhadap istrinya.


Namun, hal tersebut tidak berlaku lagi sejak hari itu. Kala Jacob mengajak Alesha ke rumah pohonnya untuk menghabiskan waktu sore mereka. Karna angin sedang berhembus kencang saat itu, jadi Jacob menyuruh Alesha untuk memakai baju tidur panjang juga jaket. Padahal menurut Alesha hal itu tidak perlu karna Alesha suka merasakan hembusan angin sejuk.


"Jack, padahal jika taman ini memikiki beberapa jenis bunga akan terlihat lebih cantik," Ucap Alesha sembari menggigit buah apel yang didapatnya dari dahan pohon.


"Astagfirullah, Alesha!" Pekik Jacob. Ia segera merebut apel yang istrinya pegang. "Ini belum dicuci, sayang, masih banyak kumannya!"


"Hmm, Jack, memangnya kenapa?" Alesha mengerucutkan bibirnya.


"Nanti kalau kumannya masuk, dan kau sakit bagaimana, sayangku?" Jacob mengelus pelan puncak kepala istrinya.

__ADS_1


"Hmm, ya sudahlah," Alesha merajuk. Sudah tahu ia ingin apel, namun Jacob malah merebutnya. Menyebalkan sekali!


"Hey, kau merajuk?" Goda Jacob sembari menoel ujung hidung Alesha.


"Ish, aku tidak suka itu!" Gerutu Alesha.


"Karna kau sukanya aku," Jacob menangkup wajah istrinya. "Kau mencintaiku, dan kau tidak mau aku meninggalkanmu, Lil Ale."


Alesha diam tak berkata apapun, bahkan pandangannya hanya lurus pada Jacob, tak mengekspresikan apa-apa.


"Kau tahu, sayang? Dulu saat kita berbulan madu ke Turki, kau pernah makan disepuluh restoran berbeda dalam satu hari," Ucap Jacob dengan senyum cerahnya. "Kita pergi ke museum Rosulullah, lalu berjalan-jalan mengelilingi kota," Jacob mulai bercerita.


"Saat malam hari ketika hamil, kau selalu memintaku untuk mengelusi perutmu. Baby J, itu adalah sebutan anak kita saat masih dalam rahimmu, sayang. Kau semakin manja, dan selalu memintaku untuk membelikkan seblak, rujak, atau asinan Bogor yang sangat pedas. Bahkan, kau sering bangun saat malam hari karna kau bilang waktu itu kalau Baby J ingin makan makanan pedas."


Jacob mengelusi rambut Alesha. "Gadis manjaku ini memang menyebalkan saat hamil karna selalu meminta makanan pedas, padahal itu tidak baik, dan aku juga sudah memberikan batasan, namun jika tidak diturutkan kau akan merajuk seharian."


"Kadang saat aku bekerja di kantor, teman-temanmu selalu melaporkan padaku kalau kau menghilang dari kantor SIO secara tiba-tiba saat jam istirahat. Kau tahu, aku panik setengah mati saat itu," Jacob menghela napasnya. "Dan ternyata....." Jacob mencubit gemas kedua pipi Alesha. "Kau pergi bersama Taylor untuk mencari makanan pedas, dan lebih parahnya lagi kau mengancam pada Taylor kalau kau akan melakukan hal-hal yang tidak baik jika sampai Taylor melaporkannya padaku."


"Tyson juga mengatakan padaku saat itu kau pernah bercerita padanya kalau kau berniat untuk berjualan seblak di kantor SIO," Jacob terkekeh. "Aiden bahkan bilang padaku jika kau mengajaknya untuk berjualan seblak."


"Aku paling suka saat kau sudah menggodaku hanya demi mendapatkan izin dariku supaya kau bisa membeli seblak," Lagi-lagi Jacob terkekeh. "Sebenarnya Baby J yang mau atau kau yang membawa nama Baby J supaya bisa memenuhi keinginanmu itu?" Jacob menggelengkan kepalanya sembari tertawa kecil. Ia merasa lucu saat mengingat momen-momen dimana Alesha yang sedang mengidam.


Namun berbeda dengan Alesha, ia kini malah menunjukkan ekspresi aneh yang membuat Jacob berhenti tertawa, dan merasa khawatir seketika.


"Lil Ale, kenapa?" Tanya Jacob. Ia menatap lekat wajah istrinya yang terlihat mengkhawatirkan. "Sayang, jangan buat aku takut," Jacob mengguncang kedua bahu Alesha.


Tidak ada jawaban dari Alesha.


"Sayang... Lil Ale," Jacob mengguncang tubuh istrinya. "Alesha, jawab aku!"


"Jack...." Lirih Alesha.


"Iya? Iya, ada apa, sayang?" Tanya Jacob dengan panik.


"Jack..." Alesha mendongkak, menatap sendu pada Jacob.


"Alesha, ada apa, sayang?" Lirih Jacob, kedua ibu jarinya kini mengusap air mata yang mengalir membasahi pipi istri tercintanya. "Kenapa kau menangis, Al?"


"Hiks, maaf..." Lirih Alesha yang mulai terisak.


Maaf? Ada apa? Pikir Jacob. Perasaannya semakin tidak enak terhadap Alesha.


"Alesha, katakan apa yang terjadi!" Tuntut Jacob.

__ADS_1


"Akad itu, hiks..." Alesha menjeda ucapannya, dan membiarkan kedua matanya terpejam bersamaan dengan mengalirnya rintikan air mata. "Maaf aku ragu padamu, Jack, hiks."


"Ragu? Maksudnya? Katakan pelan-pelan, sayang," Jacob mengelusi pipi istrinya.


"Kau memarahiku karna aku memaksamu untuk membelikkan seblak, hiks, kau selalu menemaniku setiap tengah malam saat aku, dan janinku tiba-tiba saja kelaparan, dan.." Alesha menatap penuh haru pada suaminya. "Aku ingat saat aku memohon padamu supaya kau tidak meninggalkanku, disebuah taman saat kita sedang berbulan madu, hiks."


Kedua tangan Alesha terangkat untuk mengelusi pipi suaminya, Jacob. "Maaf aku melupakanmu, Big Guy."


Alesha sadar sekarang. Ia tahu kenapa setiap kali ia berada di dekat Jacob ia selalu merasa nyaman, dan aman, ia tahu alasan kenapa ia merasa begitu dekat, dan terikat pada Jacob, ia tahu kenapa hatinya selalu berbunga-bunga saat Jacob bersikap lembut, dan manis padanya, dan yang terpenting, kini ia ingat kalau pria yang ada dihadapannya sekarang adalah suaminya, dan ia sangat mencintainya.


Alesha ingat beberapa hal itu, bahkan hatinya terasa begitu lega saat ia menyadari jika Jacob adalah pria yang sangat ia kagumi, dan cintai.


"Jack, aku Alesha, aku istrimu, Alshiba, dan Khalid adalah anak kita. Aku ingat saat aku memohon padamu supaya kau tidak meninggalkanku, hiks. My Big Guy..." Alesha berjinjit, dan langsung mengalungkan lengannya pada leher Jacob. Ia memeluk tubuh suaminya dengan sangat erat. "Hiks, Jack... Kenapa kau malah diam? Aku ingat sekarang kalau kau adalah suamiku, kau imamku, Jack, hiks."


Jacob memejamkan kedua matanya, namun hal itu tidak bisa menahan air mata yang sudah membendung pada kelopaknya. Perlahan, tubuh Jacob mulai bergetar, ia terisak, dan mulai sesegukan.


"Aku tahu kau pasti akan mengingatku, My Little Ale, hiks," Jacob mengangkat tubuh Alesha, dan memeluknya dengan sangat erat.


"Aku ingat beberapa hal tentang pernikahan kita, Jack, hiks," Alesha tersenyum disela-sela tangisnya.


"Aku mencintaimu, Alesha," Jacob pun langsung menghujani wajah istrinya dengan banyak ciuman.


Alesha membiarkan itu, ia membiarkan Jacob menciumi wajahnya. Sungguh bahagia sekali bisa merasakan setiap ciuman yang Jacob berikan.


"Apa kau benar-benar mengingatku sebagai suamimu, sayang?" Tanya Jacob yang ingin mendapatkan kepastian.


"Iya, Jack, aku ingat beberapa hal tentang pernikahan kita," Jawab Alesha sembari mengangguk.


"Kalau begitu ayo, kita harus merayakan ini, sayang," Jacob menurunkan kembali tubuh istrinya. Ia membawa Alesha untuk kembali ke ruangan mereka.


Jacob sungguh merindukan Alesha, sudah hampir dua tahun Jacob tidak mendapatkan haknya sebagai suami, dan Jacob tidak tahu lagi harus berkata apa untuk bisa mengungkapkan kebahagiaannya itu.


Sesampainya di ruangan mereka, tepatnya di dalam kamar, Jacob langsung mencium bibir istrinya dengan sangat posesif, tidak lupa pelukannya yang mengunci tubuh Alesha.


Alesha sangat kewalahan karna bibirnya benar-benar dipermainkan oleh bibir suaminya, belum lagi tubuhnya yang sulit digerakkan karna Jacob mengunci pelukannya.


Tak cukup bibir saja, kini Jacob mulai menjarahi area tubuh Alesha yang lain.


"Emm, Jack!" Alesha sedikit meronta, namun ia tidak bisa melepaskan tubuhnya dari pelukan Jacob.


"Kita mulai lagi semua dari sini, sayang," Jacob mencium leher Alesha sebelum akhirnya ia membawa tubuh Alesha untuk berbaring di atas kasur.


"Kau sungguh yakin jika aku adalah suamimu, sayang?" Tanya Jacob yang kini sudah berada tepat di atas tubuh istrinya.

__ADS_1


"I-iya, Jack, aku mengingat beberapa hal tentang pernikahan kita, dan yang paling aku ingat adalah saat aku memohon padamu supaya kau tidak meninggalkanku ketika kita sedang berbulan madu di Turki," Jawab Alesha.


"Terima kasih sudah mengingatku, sayang."


__ADS_2