Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Mengungkap Perasaan Theora


__ADS_3

Keesokan harinya, sekitar pukul tiga dini hari, tiba-tiba saja Alesha terbangun karna mendengar suara ketukan pada pintu kamar.


Tok... Tok... Tok...


"Tuan...."


Suara itu terdengar seperti milik Taylor.


Buru-buru Alesha bangkit, dan berjalan menuju pintu, meski rasanya ia masih sangat mengantuk.


"Ada apa, Taylor?" Tanya Alesha khas orang bangun tidur sembari membukakan pintu.


"Nona, dimana Tuan Jacob?" Tanya balik Taylor yang tampak begitu panik.


"Sedang tidur, kenapa?"


"Nona, ada hal penting yang harus Tuan Jacob ketahui!"


"Hal penting?" Kening Alesha berkerut. Hal penting apa? Pikirnya. "Baiklah tunggu sebentar, aku akan membangunkannya."


Kemudian Alesha berjalan kembali menuju kasur, dan membangunkan suaminya, Jacob.


"Jack..." Alesha mengguncangkan tubuh suaminya.


"Jack..."


"Jack, bangun.... Taylor mencarimu, katanya ada hal penting..."


"Eungh...." Jacob terusik, dan mengerjapkan matanya beberapa kali. "Emm, ada apa, Al?" Tanya Jacob dengan kesadaran yang masih belum utuh sepenuhnya.


"Taylor mencarimu, katanya ada hal penting yang harus kau tahu," Jawab Alesha.


Akhirnya, Jacob pun bangkit walau bayang-bayang kantuk masih menguasainya.


"Ada apa?" Tanya Jacob sembari mengucek kedua matanya untuk memperjelas pandangan.


"Tuan, kantor SIO diserang," Jawab Taylor.


"APA? DISERANG!" Pekik Jacob yang langsung membawanya pada kesadaran utuh. "Bagaimana bisa?"


"Diserang? Siapa?" Alesha yang terkejut pun langsung menghampiri suaminya.


"Tuan, anda diminta untuk membantu SIO saat ini juga," Lanjut Taylor.


"Membantu SIO? Ada apa?" Panik Alesha.


Tanpa menjawab pertanyaan istrinya, Jacob pun melesat menuju walk in closet untuk mengganti pakaiannya.


"Taylor, ada apa sebenarnya?" Tanya Alesha yang menuntut jawaban dari Taylor.


"SIO diserang, Nona, Tuan diminta untuk ikut membantu melawan kelompok mafia itu saat ini juga," Jawab Taylor.


Alesha terkesiap. Kini ekspresi takut, dan khawatir tergambar jelas pada wajahnya.


SIO diserang? Mr. Jacob disuruh buat bantu? Gimana kalau dia kenapa-kenapa?..... Kepala Alesha sedikit tertunduk ketika pikirannya berkata seperti itu.


Tidak dapat dipungkiri jika saat ini jantung Alesha berdebar cepat saking takutnya ia akan keselamatan suaminya.


"Bangunkan Bastian, Mike, Lucas, Tyson, dan Aiden. Bawa mereka berlima untuk ikut bersama kita!" Titah Jacob yang kini sudah memakai celana jeans dengan kemeja polos.


"Baik, Tuan," Taylor mengangguk, dan pergi untuk segera melaksanakan perintah Jacob.


Sementara Jacob langsung berbegas untuk berjalan meninggalkan kamarnya.


"Jack!" Panggil Alesha yang berlari kecil untuk bisa mengimbangi langkah suaminya. "Jack!"


Jacob menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadap pada istrinya.


"Jack..." Alesha mendongkak, dan menatap penuh ketakutan pada Jacob. "Jack, kau belum pulih..." Lirih Alesha.


"Aku baik-baik saja, Al," Jacob menangkup wajah istrinya.


"Berjanjilah!"


"Aku berjanji, sayang," Jacob meraih tengkuk Alesha kemudian sedikit membungkuk untuk menaruh sebuah ciuman pada bibir istrinya itu.


"Ayo, kita ke depan," Setelah menyudahi ciumannya, Jacob meraih lengan Alesha, dan mereka pun berjalan beriringan menuju ruang tamu.


Ternyata di sana sudah ada Merina, Nakyung, dan Maudy beserta beberapa anak buah Jacob.


"Mr. Jacob, tadi Mrs. Laras menghubungiku, dan memberitahu padaku jika SIO diserang. Aku langsung mengatakan ini pada Tuan Taylor. Mrs. Laras juga bilang kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi?" Ucap Merina.


"Aku lupa untuk men- charge ponselku, daya baterainya habis," Balas Jacob.


"Mr. Jacob, ada apa?" Tanya Lucas yang baru saja tiba bersama keempat rekan prianya.


"Kalian berlima ikut aku sekarang!" Perintah Jacob.


"Kami?" Nakyung menatap lurus, meminta jawaban pada Jacob.


"Ini bukan waktu yang tepat untuk kalian," Jawab Jacob yang dimaksudkan untuk Nakyung, Maudy, dan Merina.


Baru saja Jacob membalikkan tubuhnya, dan mulai melangkah, tiba-tiba Alesha menghadang.


"Jack..." Tatapan Alesha benar-benar menunjukkan sebuah ketakutan besar.


"Tidak akan terjadi sesuatu padaku, Lil Ale," Jacob berucap pelan, tepat dihadapan wajah istrinya.


Alesha tidak mampu berkata-kata. Kesedihan, ketakutan, dan kekhawatiran terhadap keselamatan Jacob mengambil alih dirinya.


"Hiks, berjanjilah kau akan kembali, dan baik-baik saja," Kedua mata Alesha berkaca-kaca, menandakan jika tangis mulai menghujani wajahnya.


"Aku berjanji," Jacob mengelap air mata yang meluncur cepat pada pipi mulus Alesha. "Aku akan baik-baik saja," Kemudian, Jacob pun kembali menaruh ciuman penuh cinta, dan penekanan pada bibir istrinya kesayangannya.


"Aku mencintaimu, Alesha.. " Jacob menatap penuh arti pada wanita yang sangat ia sayangi itu. "Ayo," Baru setelah itu, Jacob berjalan dengan tergesa-gesa menuju mobil bersama kelima pria didikannya, dan sekitar sepuluh anak buahnya, termasuk Taylor.


"Mr. Jacob..." Lirih Alesha sembari berlari menuju keluar, mengikuti suaminya.

__ADS_1


"Alesha..." Maudy menahan tubuh Alesha tepat di depan halaman parkir mobil.


"Mr. Jacob..... Hiks," Alesha menggabungkan kedua telapak tangannya yang sedikit bergetar. Arah wajahnya masih tertuju pada mobil yang suaminya kendarai.


"Mr. Jacob akan baik-baik saja, Alesha. Kau lihat, dia dibantu oleh beberapa anak buahnya, bahkan Bastian, Mike, Lucas, Tyson, dan Aiden pun ikut," Ucap Nakyung yang berusaha untuk membuat Alesha tenang.


Tidak ada balasan dari Alesha karna ia masih terus menatap cemas pada mobil Jacob yang sudah berlalu pergi. Air mata pun kembali menetes, Alesha sedikit terisak, ia sungguh takut, dalam bayangannya adalah bagaimana jika ia juga berada dipoisis Tessa tidak lama lagi?


"Alesha, ayo masuk..." Ajak Merina dengan hati-hati sembari membalikkan tubuh Alesha.


Mereka berempat pun berjalan sembari menggiring Alesha untuk masuk kembali ke dalam mansion.


Kini keadaan di dalam mansion Jacob, dan Alesha cukup ketat. Ada sekitar dua belas penjaga yang tersebar di setiap sudut mansion untuk melakukan penjagaan. Sebenarnya para pria itu bukanlah anak buah Jacob, melainkan anak buah Laura yang memang selalu mengikuti kemana pun perginya Nyonya Besar itu.


"Alesha, apa yang terjadi?" Tanya Laura yang tiba-tiba saja muncul sembari membawa Alshiba yang ternyata sudah terbangun.


"SIO diserang, Bu, dan Jacob diminta untuk membantu menyerang balik kelompok mafia itu," Jawab Alesha, lirih. "Alshiba? Alshiba kenapa bangun, Bu?"


"Dia tadi terusik, dan sempat menangis, tapi ibu sudah mengatasi itu. Tadinya ibu mau memberikan Alshiba padamu supaya disusui, namun kamar kalian ternyata kosong," Jawab Laura.


"Sini, biar aku susui Alshiba dulu," Alesha lalu mengambil alih tubuh bayinya. "Aku akan bawa dia ke kamar sekarang. Terima kasih sudah menjaga Alshiba, Bu," Ucap Alesha.


"Ibu ikut!" Balas Laura.


Alesha mengangguk kecil, dan setelah itu ia bersama ibu mertua, dan ketiga kawannya berjalan menuju kamarnya.


...*****...


Beralih menuju Jacob, tepat pukul empat kurang lima belas ia menghentikan mobilnya di tengah-tengah hutan yang berjarak sekitar seratus meter dari kantor SIO.


"Kita berjalan mengendap dari sini, siapkan diri kalian, kemungkinan kita akan langsung menyerang kelompok mafia itu saat sampai di SIO!" Perintah Jacob.


"Baik, Tuan," Balas Taylor.


Jacob memutar tubuhnya untuk menghadap ke jok tengah, dan belakang. "Kalian berlima bersiaplah!"


Bastian, dan keempat temannya mengangguk penih keyakinan.


Sejurus kemudian, Jacob keluar dari dalam mobil, dan diikuti oleh anak buahnya yang berada dimobil lain.


"Hati-hati, berjalanlah perlahan!" Ucap Jacob, pelan. Lalu langkahnya mulai melaju secara perlahan, dan penuh perhitungan.


Masing-masing orang sudah memegang pistol karna tadi sebelum membangunkan Jacob, Taylor sudah terlebih dahulu menyuruh anak buahnya untuk menyiapkan perlengkapan yang sekiranya akan dibutuhkan dalam pertarungan saat ini.


Berbeda dengan para agent SIO yang berada di dalam kantor, mereka pun sudah berjaga sejak pagi, namun karna serangan yang dilakukan secara mendadak membuat mereka sedikit keteteran.


"Cepat cari ruangan tempat SIO menahan mereka!" Satu perintah tegas pun Theora berikan untuk beberapa anak buah yang ada dibelakangnya.


"Aku akan mencari virusnya!" Gumam Theora penuh tekad.


Disepanjang lorong yang Theora lewati untuk menuju ruangan laboratorium, ia menghabisi sedikitnya sepuluh penjaga yang menghadang jalannya. Theora sangat bertekad akan tujuannya, terlebih waktu untuk ia, dan kelompoknya berada di Indonesia tidak lama lagi karna ia sudah dapat memastikan jika SIO akan menambah penjagaan, dan memburunya bersama kelompoknya habis-habisan.


"BERHENTI, THEORA!!" Panggil seorang wanita dengan penuh amarah.


Theora menghentikan langkahnya seraya membentuk sebuah seringai licik.


"Hentikan ulahmu! Atau kau bersama komplotan mafia sialanmu itu akan menyesal nanti!" Ancam Laras.


"Kau mengancam?" Theora terkekeh. Ancaman Laras itu terdengar lucu menurutnya.


"Kau memang harus dimusnahkan!" Geram Laras sembari berlari menghampiri Theora.


"Eits, meleset! Hahahah...." Theora tertawa geli ketika Laras ingin meninjunya, namun sayangnya gerakan Laras sangat mudah terbaca oleh Theora. Jadi, dengan cepat pula Theora langsung menghindar.


"Tutup mulutmu!" Tanpa aba-aba, kini Laras beralih dengan membogem tulang rahang Theora.


Bugh!!


"Argh!" Theora sedikit terhuyung kebelakang karna menerima pukulan yang keras dari Laras.


"Owh, jadi kau mau bermain-main ya?" Theora menatap tajam pada Laras. "Baiklah kalau begitu, rasakan ini!"


Theora pun melesatkan kepalan tangannya menuju perut Laras, dan sepersekian detik setelah itu, Laras segera menghindar untuk menggagalkan pukulan yang Theora berikan untuknya.


Bugh!!!


"Argh!!" Lagi, Theora meringgis, dan tubuhnya yang nyaris terjatuh karna Laras menedangnya.


"Aku bilang kalian harus pergi!" Bentak Laras sembari menjenggut rambut lebat Theora.


"Argh! Sialan kau!" Geram Theora. Dengan sekuat tenaga, ia pun menggunakan sebelah kakinya untuk menendang Laras.


Bugh!!


"Argh!!" Laras terhuyung ke belakang, dan nyaris sekali terjatuh jika saja tidak ada seseorang yang menahan tubuhnya.


Ya. Punggung Laras menghantam dada seorang pria, dan pria itu juga menahan kedua bahunya supaya tidak terjatuh.


"Kau baik-baik saja?" Tanya si pria yang menahan tubuh Laras yang bukan lain adalah Jacob.


Deg!


Tubuh Theora langsung mematung di tempat ketika kedua netranya menangkap sosok pria tinggi besar yang semakin terlihat tampan dari yang terakhir Theora ingat.


Jacob....... Gumam Theora dalam hatinya.


"Aku tidak apa-apa, Jack," Jawab Laras.


"Kalau begitu pergilah ke luar, Danish bersama anak buahku sedang menghajar beberapa orang di sana!"


"B-baiklah," Dengan sedikit tertatih, dan menahan kesakitan, Laras pun pergi menuruti ucapan kawan lelakinya itu.


Sekarang, tinggalah tersisa Jacob, dan Theora. Sepasang sahabat dekat yang dulu terpisah, dan kini sudah menjadi musuh.


Jacob, dan Theroa saling bertatapan selama beberapa saat, membiarkan beberapa kenangan lama tergambar pada memori mereka saat ini.


"Aku berharap aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi, Jack!" Theora maju sembari melayangkan tonjokkan keras pada Jacob.

__ADS_1


Dengan sigap Jacob menghindar. Ekspresinya masih saja datar, tidak ada amarah, atau kebencian dari sorot matanya. Biasanya jika ia berhadapan dengan musuh dirinya itu akan panas sekali, dan sangat bersemangat untuk mengeluarkan semua emosi melalui pukulan, dan tonjokkan. Tapi tidak dengan kali ini.


"Jangan menghindar!!" Pekik Theora sembari membalikkan tubuhnya, dan kembali melayangkan pukulan lain pada Jacob.


Tapi lagi, dan lagi Jacob hanya menghindar.


Kemudian Theora terus menerus memberikan perlawanan pada sahabat kecilnya itu. Segala bentuk pukulan, dan teknik bela diri sudah Theora keluarkan untuk mengalahkan Jacob. Namun tidak ada satu pun pukulannya yang mengenai Jacob.


Semakin Theora sigap memberikan pukulan, semakin juga Jacob sigap untuk menghindar tanpa memberikkan perlawanan balik sekali pun.


Ruangan yang berukuran besar itu kini menjadi saksi dimana Theora terlihat begitu membenci sahabatnya dengan semakin memperbanyak, dan memperkeras baku hantam keras yang sama sekali tidak mengenai Jacob.


"KENAPA KAU HANYA MENGHINDAR? LAWAN AKU!!" Pekik Theora begitu menggema dalam ruangan. Terlihat jelas kilatan kekecewaan dalam sorot mata Theora, bahkan dadanya juga ikut naik turun saking emosinya ia.


"AYO MAJU, JACK! LAWAN AKU!!" Theora kembali maju, dan mengincar wajah Jacob untuk dijadikan landasan bagi lesatan kepalan tangannya.


"Argh!!"


Kali ini pukulan Theora tepat mengenal sasaran. Jacob meringgis, dan hal itu membuat Theora terkesiap.


Apa yang sudah aku lakukan? ....... Theora membeku dengan kedua matanya yang melebar, dan sedikit menunjukkan tatapan khawatir juga bersalah atas apa yang sudah ia lakukan terhadap Jacob barusan.


Namun sejurus kemudian Theora pun kembali tersadar. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Lawan aku!" Theora menonjok perut Jacob, tetapi pukulannya tidak sekuat diawal.


"Cepat! Hajar balik aku!" Theora menendang tubuh Jacob hingga membuat si empunya tubuh tersebut terhuyung.


"Aku membencimu, Jack! Hiks, aku membencimu!!" Theora terus memukuli Jacob dengan isakkan yang mulai terdengar.


Sebentar.


Theora menangis?


"Aku membencimu!"


Bugh!


Kali ini Jacob kehilangan keseimbangan tubuhnya, dan terjatuh ketika Theora menendangnya.


"Aku membencimu, Jack!" Sekali lagi, gumaman Theora tersebut dapat terdengar jelas oleh Jacob.


Lalu saat air mata Theora semakin bercucuran, ia memilih untuk pergi meninggalkan Jacob. Tapi ternyata langkahnya masih kurang cepat hingga kini Jacob sudah menahan kedua bahunya.


"Aku tidak akan membiarkanmu kabur, Theora!" Ucap Jacob penuh penekanan.


"LEPAS!!" Theora mengeluarkan sebuah trik dengan memutarkan tubuhnya hingga ia dapat terbebas dari cengkraman Jacob.


"AKU MEMBENCIMU, JACK! JANGAN BUAT AKU INGIN MENGHAJARMU TERUS MENERUS!"


"Kenapa? Kenapa kau membenciku? Apa salahku?" Kini gantian Jacob lah yang membuka suaranya. "Apa karna aku musuhmu sekarang?" Jacob menyeringai. "Seharusnya aku yang membencimu karna sekarang aku tahu siapa kau."


Ucapan terakhir Jacob benar-benar mengenai hati Theora hingga menimbulkan luka yang begitu menyakiti dirinya.


"Kau membenciku?" Gumam Theora dengan air mata yang semakin mengucur deras, namun tanpa isakkan. Tatapan matanya berubah menjadi sedih, dan sendu. Jacob membencinya? Kenapa harus menyakitkan sekali menerima kenyataan itu?


"Kalau begitu kenapa kau tidak melawanku balik tadi?" Theora menunjukkan senyum kecutnya. "Kau bilang kau membenciku."


"Aku memang membencimu saat ini. Tapi kau tetaplah sahabatku, Theora."


Deg!


Theora terkesiap, tubuhnya benar-benar mematung tanpa bergerak sedikit pun, kecuali pergerakan napas, dan air mata.


"Aku tidak ingin menyakiti sahabatku, apalagi menghajarnya."


Cukup, Jack...... Theora terisak sekarang. Satu sisi ia bahagia masih dianggap sebagai sahabat oleh Jacob, tapi disisi lain ia sadar siapa ia, dan siapa Jacob sekarang.


"Kau ingin menghajarku, silahkan. Tapi aku tidak akan melepaskanmu. Kau harus bertanggung jawab."


"Tidak....." Lirih Theora. Air mata yang mengalir menjadi saksi kuat jika saat ini Theora sudah melemah. Ia memang merindukan Jacob karna ia menyukai, bahkan mencintai Jacob. Tapi setelah ia berusaha untuk menghilangkan perasaan itu, dan mengubahnya menjadi kebencian, kini Jacob malah mengatakan jika ia masih dianggap sebagai seorang sahabat.


"Ayo hajar aku! Tapi kau tetap tidak akan bisa lolos, Theora."


"Cukup, Jack! Hiks..." Theora menundukkan kepalanya, dan menangis, mengeluarkan kesedihan yang menderanya saat ini.


"Kenapa kau malah menangis? Kau membenciku bukan? Ayo hajar aku!" Jacob berjalan menghampiri Theora.


"Cepat hajar aku!" Kini Jacob berdiri tepat dihadapan Theora.


"Ayo! Hajar aku sekarang!"


Theora menggelengkan kepalanya sembari terus tertunduk, dan menangis.


"AYO, THEORA!!"


"AKU TIDAK BISA!!" Theora berteriak, dan mendongkak menatap pada Jacob. "Aku tidak bisa karna aku mencintaimu, Jack, hiks hiks.."


"....."


Apa?........ Jacob diam tidak berkutik sama sekali. Tatapan matanya menunjukkan sebuah ketidak percayaan pada gadis yang sedang menangis tepat dihadapannya saat ini.


"Aku sudah lama mencintaimu. Aku pikir saat kita bertemu kita bisa mengukir banyak kenangan manis kembali. Tapi kau membuatku sangat kecewa," Theora memundurkan langkahnya, dan menatap penuh kekecewaan pada Jacob. "Kau pikir aku tidak tahu kau berpacaran dengan Yuna? Kau pikir aku tidak tahu kalau kau terpuruk karna kepergian Yuna? Secinta itukah kau padanya, Jack, dan kau melupakan seorang gadis yang selalu menemanimu sejak kecil, yang selalu membantumu, menyemangatimu, dan selalu ada untukmu. Hanya karna sebuah perpisahan terpaksa kau melupakanku begitu saja?"


Theora menggelengkan kepalanya. "Aku patah hati karna aku sadar kau begitu mencintai Yuna, dan sudah melupakanku."


Jacob masih termenung, menatap lurus pada Theora yang semakin menjauh darinya.


"Dan sekarang!" Theora menekan ucapannya. "Kau sudah menikah bersama wanita lain, dan sudah memiliki seorang anak!" Theora menggelengkan kepalanya lagi. "Kau pikir aku akan tega merusak hubungan kalian? Apalagi sudah ada malaikat kecil yang merupakan bukti cinta kalian," Theora menunjuk pada dirinya sendiri. "Asal kau tahu, Jack, aku memang seorang anak, dan adik dari salah satu mafia, tapi aku tetaplah aku yang dulu. Aku yang selalu mengalah, dan bersabar, aku bukanlah orang jahat jika saja bukan karna ayah, dan kakakku."


Theora mengalihkan pandangannya dari Jacob. "Bukan keinginanku untuk menjadi seperti ini, Jack. Aku selalu berharap kau akan datang, dan membantuku untuk dapat terlepas dari dunia jahat itu karna memang aku sangat berharap besar padamu. Tapi itu tidak mungkin, dan tidak akan pernah terjadi."


Tanpa aba-aba, tiba-tiba saja Jacob maju, dan memukul tengkuk Theora hingga membuat gadis itu sempoyongan.


"Jack...." Theora terjatuh, dan tubuhnya ditahan oleh Jacob. "Aku mencintaimu.." Ucap terakhir Theora sebelum akhirnya ia pingsan.


"Maaf, Theora..." Lirih Jacob sembari mengangkat, dan membawa tubuh sahabat kecilnya itu menuju sebuah ruangan.

__ADS_1


__ADS_2