Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Petaka Sesungguhnya


__ADS_3

Pukul 18.15


Alesha baru saja menyelesaikan sholat maghribnya. Wajah-wajah tenang yang sangat cerah pun memancarkan aura yang begitu damai. Alesha tersenyum, akhirnya, setelah satu bulan lebih ia menjalani masa nifas, kini ia pun bisa kembali bersuci, dan bersujud syukur diatas sajadah.


Dret.. Dret...


Ponsel Alesha bergetar tanda ada pesan yang masuk.


Alesha pun segera mengaktifkan layar ponselnya, dan mendapati jika suaminya lah yang mengirimkan pesan.


(Habibata πŸ’ž : Assalamualaikum, Peri Kecilku 😘)


Wajah Alesha merona seketika saat membaca pesan manis dari suaminya itu. Dalam hatinya ia sangat amat bahagia karna Jacob mengirimkan pesan padanya yang itu berarti Jacob baik-baik saja, dan berhasil menjalankan misinya.


(Ale: Waallaikumussalam, Ya Habibata πŸ€—πŸ’ž)


(Habibata πŸ’ž : Kau sedang apa, sayang?)


(Ale: Aku baru saja beres sholat, Jack.)


(Habibata πŸ’ž : Beres sholat? Kau sudah tidak berhalangan lagi, Al?)


(Ale : Iya, aku baru saja mandi wajib tadi sore 😊)


(Habibata πŸ’ž: Sungguh? 😳 Kau tidak berbohong kan, sayang?)


(Ale : Tidak, Jack sungguh.)


...Alesha send a picture...


Alesha mengirimkan fotonya yang baru saja selesai menunaikan sholat, dan masih memakai mukena.


(Habibata πŸ’ž : Masyaallah, cantiknya bidadari surgakuπŸ˜πŸ’‹)


Alesha tertawa kecil sebab membaca balasan pesan yang suaminya kirim barusan.


Ah, manisnya....


(Habibata πŸ’ž : Aku jadi ingin segera pulang, Sayang 😚 Malam ini kita WAJIB BERGADANG!! 😎)


(Ale : Iya, sayangku, terserah padamu ☺️)


Alesha tersenyum malu-malu ketika memberikan balasan pesan untuk suaminya itu. Bagaimana tidak? Ia tahu maksud dari arti kalimat 'WAJIB BERGADANG' yang suaminya itu ketikan. Sudah berapa bulan Jacob tidak mendapat hak, dan jatah psikologisnya sebagai suami dari Alesha. Maka dari itu, malam ini Alesha ingin membuat suaminya bahagia dengan menjalankan kewajibannya sebagai istri untuk memenuhi kebutuhan biologis Jacob sebagai suaminya.


(Ale : Oh ya, Jack, bagaimana? Apa semua berjalan lancar?)


(Habibata πŸ’ž : Alhamdulillah, Al, Theo, dan Theora berhasil ditangkap bersama beberapa anak buahnya. Bahkan Tessa, dan anaknya yang sempat menjadi sandraan Theo juga sudah berhasil diselamatkan.)


Tanpa Alesha sadari, ternyata ada segerombol orang menyelinap masuk ke dalam rumahnya, dan menyebarkan gas asap yang bisa membuat seseorang jatuh pingsan jika menghirupnya.


Gerombolan itu berjumlah sekitar sembilan orang yang diketuai oleh satu orang pria yang baru saja keluar dari penjara setelah mendekam lima belas tahun lamanya.


Dirga, itulah namanya. Ia adalah mantan pengusaha tambang emas di Kalimantan yang berniat untuk mengkorupsi, dan membawa uang kabur milik negara dengan jumlah yang sangat amat besar hingga menyentuh angka puluhan triliun rupiah, beruntungnya bapak Alesha, yaitu Profesor Danu yang saat itu masih menjabat sebagai agent intelegent negara berhasil menggagalkan misi Dirga, dan sukses menjebloskan Dirga ke dalam penjara.


Namun dendam tetaplah dendam. Dirga yang saat itu benar-benar marah sudah berjanji pada dirinya untuk membantai anak, dan cucu Danu, dan menghentikan garis keturunan Danu. Dirga sudah sangat benci, dan kalut. Hingga setelah satu bulan ia terbebas dari jeruji besi, ia pun mulai menyusun rencana dengan orang-orang bayarannya untuk memburu, dan membunuh Alesha juga Alshiba yang merupakan cucu dari Danu.


"Tuan Dirga, semua orang sudah pingsan, kecuali Alesha," Ucap salah satu pria yang berada disebelah Dirga.


"Bagus, ayo kita masuk sekarang!"


Dengan langkah besar, dan cepat, Dirga pun memasuki rumah besar Jacob, dan Alesha yang kini sudah sangat sepi karna para penghuninya telah jatuh pingsan akibat menghirup gas yang tadi disebarkan disetiap sudut ruangan.


Tap... Tap... Tap...


Sepatu pantofel yang Dirga pakai kini menghasilkan bunyi ketika bersentuhan dengan lantai.


Jarak demi jarak membawa Dirga semakin dekat dengan kamar Alesha.


Ceklek...


Alesha terlonjak kaget ketika mendegar suara gagang pintu yang ditekan.


Dret....


Pesan masuk dari Jacob.


(Habibata πŸ’ž : Kau mau menitip makanan tidak, sayang? 😘πŸ₯°)


(Habibata πŸ’ž : Aku mencintaimu, Alesha πŸ’‹πŸ˜˜πŸ’–)


Tetapi Alesha tidak membacanya sama sekali meski dalam tampilan layar ponsel Jacob jelas pesan yang ia kirim barusan ceklis duanya sudah berubah warna menjadi biru. Jacob pikir Alesha sudah membacanya, namun ia masih belum mendapati tanda-tanda jika Alesha akan membalas pesannya.


"Si-siapa kau?" Pekik Alesha yang terlihat ketakutan karna mendapati dua orang pria asing yang tiba-tiba saja memasuki kamarnya.


Kemana Taylor? Kemana para penjaga? Kemana penghuni rumah ini? Siapa pria itu? Alesha begitu panik, dan takut.


Dengan cepat Alesha bangkit, dan berlari lalu meraih tubuh bayinya, Alshiba yang sedang tertidur lelap.


"Jangan mendekat!" Alesha yang ketakutan setengah mati kini berubah menjadi awas, dan bersiap apabila dua pria itu menyerangnya.


"Huh," Dirga menyeringai. "Aku Dirga, orang yang sudah dijebloskan ke dalam penjara oleh bapakmu, Alesha, dan aku sudah berjanji untuk mengakhiri garis keturunan bapakmu dengan membunuhmu juga anakmu."


Deg!


Alesha tercekat! Tubuhnya tidak dapat bergerak, dan mengkaku di tempat. Ketakutan terlihat jelas pada raut wajahnya kini.


"Anggap ini sebagai balas dendamku karna bapakmu sudah menghancurkan usaha, dan menggagalkan rencanaku waktu itu, Alesha!" Sambung Dirga.


Kenapa? Kenapa Alesha harus berurusan dengan orang jahat lagi? Kenapa ia harus berhadapan dengan orang yang sudah bapaknya jebloskan ke dalam penjara lagi? Tidak cukupkah Mack? Ada berapa banyak orang sebenarnya musuh bapaknya itu, dan menjadikan ia sebagai alat untuk membalaskan dendam? Alesha takut, ia khawatir dengan keselamatan anaknya.

__ADS_1


"Kalian harus mati malam ini juga supaya aku bisa melepaskan beban, dan kebencian yang menggunduk dalam hatiku selama lima belas tahun!" Dirga berjalan cepat menghampiri Alesha.


"TIDAK! JANGAN MENDEKAT!" Pekik Alesha dengan suaranya yang bergetar.


"Kau tidak bisa lari dariku, Alesha!" Dirga langsung merebut paksa tubuh Alshiba, dan menendang perut Alesha hingga membuat Alesha tersungkur cukup keras.


"Tidak, Alshiba! Hiks!" Alesha berusaha bangkit, dan ingin merebut kembali bayinya, namun sayangnya pria lain yang datang bersama Dirga tadi langsung menahan tubuh Alesha dengan kuat.


"Alshiba! Alshiba, hiks, Alshiba!" Alesha meronta sembari menangis kencang. Air matanya bercucuran sangat lebat menghujani wajahnya.


"Dia yang pertama akan mati!" Dirga menyeringai sembari mengusapi kulit wajah Alshiba.


"TIDAK! JANGAN AKU MOHON.... HIKS, ALSHIBA..... HIKS," Alesha mengguncang tubuhnya kekiri dan kanan berharap dapat melepaskan tubuhnya dari pria yang menahannya itu.


"Alshiba!!! Hisk hiks, Alshiba....." Air mata Alesha semakin membludak, tangisnya sudah sangat pecah ketika menyaksikan telapak tangan Dirga yang secara perlahan turun keleher Alshiba.


"Bayi yang malang...."


Setelah itu, terdengar sedikit suara erangan yang keluar dari dalam mulut Alshiba ketika Dirga mencekiknya dengan perlahan, dan semakin kencang.


"ALSHIBA!!!!!!!" Alesha melepaskan semua gelombang suara dari dalam tenggorokannya. "Hiks, Alshiba!!!!" Tubuh Alesha lunglai lemas tak berdaya bersama tangis yang menderu-deru akibat melihat bayinya, bukti cintanya bersama Jacob tewas mengenaskan ditangan orang yang sangat biadab.


"Mati, kau!" Dirga semakin mencengkram leher Alshiba dengan sekuat tenaga.


"Ngaaa..... Ck, ck," Suara pelan itu keluar dari dalam mulut mungil Alshiba sesaat sebelum ia benar-benar menutup mata untuk selamanya.


"ALSHIBA!!!!! TIDAK!! JANGAN LAGI!!! ALSHIBA, HIKS HIKS, ALSHIBA!!!!" Alesha memberontak dengan sangat-sangat kuat, mengeluarkan seluruh tenaganya meski rasanya ia sudah mati, dan hancur karna menyaksikan kematian anaknya untuk yang kedua kalinya.


"ALSHIBA!!! HIKS, ALSHIBA JANGAN TINGGALIN BUNDA!!! ALSHIBA, HIKS ALSHIBA!!" Alesha meraung. Sungguh sangat sangat amat menyakitkan. Alesha tidak bisa, ia tidak bisa jika harus kehilangan buah hatinya lagi. Tidak, tidak dengan Alshiba, Alesha tidak mau kehilangan Alshiba.


"Alshiba..... Hiks.... " Tangisan Alesha terdengar sangat bergetar ketika perlahan ia mulai berhenti memberontak.


"Alshiba.... Hiks.... Alshiba....." Alesha merosot, kedua kakinya tidak mampu lagi untuk menopang massa tubuhnya.


"Tidurlah yang tenang bayi mungil," Ucap Dirga sembari meletakkan tubuh Alshiba yang sudah tidak diisi oleh ruh lagi ke atas kasur.


"Alshiba.... Hiks, sayang.... Jangan tinggalin bunda... Hiks...." Alesha menatap nanar pada bayinya dengan air mata yang tiada surutnya membanjiri kelopak mata, dan wajahnya.


"Susulah bayimu itu sekarang juga!" Dengan sorot mata yang dipenuhi oleh amarah, dan dendam, Dirga pun menyambar tubuh Alesha, dan membantingnya hingga Alesha terkapar tak berdaya.


Bugh!!


Bugh!!


"Argh!!"


Alesha meringgis kesakitan ketika kepalanya dihantamkan dengan sangat keras ke arah lantai beberapa kali oleh Dirga.


Bugh!


Bugh!


"Argh!"


Sebuah suara tendangan pada pintu mengejutkan Dirga, dan satu anak buahnya yang di kamar itu.


"Ba**ngan kau Dirga!" Suara seorang pria menggelegar memenuhi ruang kamar itu.


Pria tersebut berlari, dan dengan satu gerakan lincah ia langsung mematahkan tulang leher anak buah Dirga yang tadi menahan Alesha.


Krak!


"Alshiba...." Lirih Alesha yang berada diambang kesadarannya. Pandangannya buram, dan berkabut, kepalanya begitu pusing, dan berputar, ditambah ia juga merasakan sesuatu yang menghangat namun basah pada kepalanya. Apakah ia akan mati? Kenapa kepalanya terasa sangat basah, dan hangat? Bahkan hidung, dan telinganya pun terasa seperti mengeluarkan cairan kental.


"BIAD*B! TIDAK BERGUNA!" Pria asing itu langsung menarik tubuh Dirga sekuat tenaga, dan menghajarnya habis-habisan. "Jika kau memiliki dendam pada ayah angkatku jangan jadikan Alesha sebagai sasaranmu! Seharusnya aku! Aku yang membantu Profesor Danu, aku yang membantu ayah angkatku untuk menjebloskanmu ke dalam penjara, Bodoh! Kep*rat sia*an kau!"


Bugh!


"Argh!"


Jedug! Jedug!


Pria itu balik menghantamkan kepala Dirga kedinding.


"T-tolong..."


Rintihan suara Alesha barusan membuat pria tersebut berhenti menghajar Dirga.


Diliriknya Alesha oleh pria itu, lalu sepersekian detik kemudian tatapan pria itu pun kembali pada Dirga.


"Urusan kita belum selesai!"


Pria itu menghantamkan kembali kepala Dirga dengan sangat kuat hingga membuat Dirga terhuyung, dan terjatuh.


"Alshiba...."


Pria itu langsung menghampiri adik angkatnya, Alesha yang tampak mengenaskan dengan darah yang mengalir dari kepala, kuping, dan hidungnya.


"Alesha, maaf Kakak udah telat..." Lirih pria tersebut.


Tanpa berpikir panjang lagi, pria itu pun mengangkat tubuh Alesha, dan membawanya melewati seluruh anak buah Dirga yang sudah ia habisi, dan beberapa anak buah juga pelayan Jacob yang pingsan.


*****


Di kantor SIO saat ini, Jacob tengah terduduk sembari menatapi layar ponselnya. Sudah ada belasan pesan yang Jacob kirim pada Alesha, namun yang Jacob tahu adalah Alesha hanya membaca pesannya, dan tidak memberikan balasan atau respon apapun.


Jacob mencoba untuk menghubungi Alesha, namun panggilannya tidak diterima, begitu pula dengan Taylor, dan hal itu membuat sebuah kepanikan juga kekhawatiran sendiri dalam diri Jacob.


Sejak siang tadi sebenarnya Jacob, dan yang lain sudah berhasil menaklukkan clan mafia yang dipimpin oleh Theo, dan kembali ke kantor SIO untuk menyerahkan juga melakukan introgasi pada anak-anak buah Theo itu. Namun, ada satu hal yang mengusik diri Jacob sejak tadi, yaitu entah kenapa tiba-tiba saja hatinya terasa begitu sakit, dan tidak tenang, saat yang lain bisa tersenyum karna berhasil mengalahkan para mafia jahat, Jacob malah bermurung disudut ruangan karna perasaan itu terus mengusik dirinya. Jacob baru bisa menghubungi Alesha maghrib tadi karna ponselnya juga tiba-tiba rusak hingga harus dibetulkan terlebih dahulu. Entah apa, dan kenapa Jacob tidak tahu, tapi Jacob bisa sedikit tenang karna mendengar kabar dari Nakyung kalau Alesha, Alshiba, dan seluruh keluarganya baik-baik saja.

__ADS_1


"Mr. Jacob, ayo kita pulang sekarang," Ucap Lucas.


"Iya, ayo," Jacob mengangguk.


Lalu ia pun bangkit dari duduknya, dan berjalan bersama kedelapan anak-anak asuhnya semasa di WOSA.


Jacob memang sengaja menyuruh Bastian, Lucas, Aiden, Mike, Tyson, Nakyung, Maudy, dan Merina untuk menginap di mansionnya malam ini untuk membicarakan perihal misi mereka seharian tadi, ya itung-itung sekalian merileksasikan diri bersama-sama sembari menghabiskan waktu dengan penuh canda tawa setelah lelah menaklukkan komplotan mafia.


Dalam perjalanan yang ditempuh selama satu jam, Jacob terus menyunggingkan senyumnya sembari terus memfokuskan pandangannya untuk berkemudi. Bagaimana tidak? Merina, dan Maudy terus mengoceh bangga, Lucas, Tyson, dan Mike saling membangga-banggakan diri, sedangkan Aiden, dan Nakyung lebih memilih untuk mendengarkan musik. Lalu Bastian? Dia pun sama seperti Jacob, tidak ikut berkoar seperti teman-temannya, namun hanya tersenyum karna mendengar ucapan-ucapan yang terdengar begitu riang dari dalam mulut kawan-kawan seperjuangannya itu.


Pukul 19.30 WIB


Mobil yang Jacob kendarai pun kini sudah sampai di halaman mansion.


Namun, pemandangan aneh pun menyambut kedatangan Jacob, dan kedelapan anak didiknya. Para penjaga terjatuh pingsan, pintu utama terbuka lebar, bahkan gerbang pun tidak tertutup.


Firasat buruk yang Jacob rasakan membuatnya bergegas keluar dari dalam mobil, dan berlari memasuki ruang dalam mansionnya.


Diikuti oleh Bastian, dan yang lain, kini Jacob langsung dibuat terkejut karna melihat banyak tubuh pria yang terkapar dengan luka dibagian dada. Beberapa diantaranya dapat Jacob kenali wajahnya, dan beberapa wajah yang lain terlihat asing bagi Jacob.


"Alesha... " Gumam Jacob. Seketika langkahnya pun kembali terpacu melaju menuju kamarnya.


Perasaan Jacob sudah sangat tidak karuan, jantungnya berdegub kencang karna takut jika terjadi sesuatu yang buruk yang sudah menimpa istri, dan anaknya.


Setibanya di kamar, tubuh Jacob langsung menegang. Ekspresi wajahnya datar kosong memandang ke arah lantai yang bersimpah darah, lalu beralih pada sosok pria asing yang sedang pingsan, dan terakhir adalah putrinya.


"Alshiba!" Panik! Jacob sungguh panik, dan segera berlari menuju kasur dimana terletak tubuh bayinya yang sudah tidak bernyawa.


"Sayang...." Jacob mengguncang pelan tubuh putrinya. "Sayang, bangun...." Lirih Jacob.


"Sayang, Alshiba bangun, ini ayah, sayang..." Tubuh Jacob bergetar, telapak tangannya beralih pada dada Alshiba untuk memastikan ada atau tidaknya detak jantung bayi itu.


"Alshiba... Hiks, sayang..." Jacob menunduk, dan menangis, menatap pada wajah tenang putrinya yang kini sudah meninggal.


Tidak ada. Jacob tidak merasakan detak jantung Alshiba, dan denyut nadi pada leher bayinya, Jacob juga tidak mendapati pergerakan napas Alshiba.


"Sayang, bangun, jangan tinggalin ayah, sayang...." Jacob mendekatkan tubuh Alshiba pada wajahnya. "Dede, bangun, ayah mohon, hiks...." Jacob berbisik tepat disebelah telinga putrinya. "Sayang.... Hiks."


Jacob mendekap tubuh putrinya dengan sangat erat sembari menangis tersedu-sedu.


Ada apa? Apa yang terjadi pada keluarganya? Kenapa Alshiba bisa meninggal? Dimana Alesha?


"Alesha?" Gumam Jacob. "Alesha?" Jacob mengangkat wajahnya, dan mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.


"Mr. Jacob!" Pekik Merina yang muncul bersama Nakyung, dan Maudy.


"Ah, ya ampun!" Maudy terlonjak kaget ketika melihat keadaan kamar mentornya, Jacob saat ini.


"Mr. Jacob!" Nakyung segera berlari menghampiri Jacob.


"Alshiba...." Lirih Merina.


"Mr. Jacob, semua orang yang di mansion ini pingsan, Bastian, dan yang lain sedang mencari tahu penyebabnya," Ucap Maudy.


Ketiga gadis itu tampak terbingung-bingung juga merasa prihatin, dan sedih melihat Jacob yang sesegukan dengan air mata yang mengucur secara perlahan.


Sedangkan kini, Jacob membawa tubuhnya untuk berbaring, dan memeluk bayinya dengan sangat posesif.


"Sayang, bangun... Hiks, jangan tinggalin ayah..."


"Apa?" Merina tidak sengaja memekik setelah mendengar lirihan Jacob barusan.


Nakyung, dan Maudy pun sama terkejutnya ketika mereka mendengar ucapan mentor mereka.


"Alshiba... Bangun, ayah gak mau kehilangan buah hati ayah lagi, sayang, hiks... "


"Hah!" Merina menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan kedua telapak tangannya sendiri.


Tunggu! Apa maksud ucapan Jacob barusan? Kenapa Jacob bergumam seolah Alshiba sudah meninggal? Pikir Nakyung, Maudy, dan Merina.


"Mr. Jacob!!" Panggil Tyson yang ternyata sama terkejutnya dengan ketiga kawan perempuannya ketika melihat ke dalam kamar mentornya. "Apa yang terjadi?" Tanya Tyson sembari berjalan cepat menghampiri ketiga kawannya.


"Aku tidak tahu, tapi sepertinya Alshiba meninggal, hiks," Jawab Merina begitu lirih.


"APA?" Pekik Tyson hingga membuatnya terlonjak, dan mundur beberapa langkah.


"Alesha..." Gumam Jacob.Β  "Alesha... Dimana dia? Dimana Alesha?" Tanya Jacob disela-sela sesegukannya.


"Alesha?" Nakyung melirik kesekitarnya.


"Cari Alesha sekarang!" Titah Maudy sembari berlari keluar kamar untuk mencari Alesha.


"Hiks, Alesha..." Jacob kembali bergumam. Ia pun bangkit dan membawa putrinya untuk ditidurkan dikeranjang bayi. Jacob sadar kalau rumahnya tadi pasti diserang oleh satu atau beberapa orang.


"Sayang... Hiks, Alshiba..." Jacob menciumi wajah buah hatinya dengan penuh kelembutan.


"Sayang.... Ayah minta maaf, ayah tidak bisa menjagamu dengan baik, ayah minta maaf, sayang.... Hiks, hiks."


Sungguh sakit yang Jacob dapatkan untuk hatinya saat ini. Perih, sangat perih, dan begitu menyesakkan. Jacob tidak tahu harus bagaimana. Ia terlalu lemah sebab harus kehilangan sang bukti cintanya bersama Alesha untuk yang kedua kali.


*


*


*


*


*

__ADS_1


Maafin aku Alshiba, Alesha, Jack 😭😭😭 (gebukin author naπŸ‘ŠπŸ€œ)


__ADS_2