Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
I've Found You


__ADS_3

Keesokan harinya, tanpa banyak bicara lagi, Jacob langsung terbang menuju Amerika Serikat untuk menuju pedesaan tempat di mana Alesha, istrinya berada.


Jacob bersama Bastian, Lucas, dan Taylor pergi menggunakan pesawat pribadi milik Laura. Di perjalanan yang menempuh waktu berbelas-belas jam, Jacob terus saja memperhatikan foto-foto istrinya.


"Alesha, kau sedang apa, sayang? Apa kau melupakanku? Apa kau tidak mengingatku, Lil Ale?" Lirih Jacob. Ia kemudian memejamkan kedua matanya, melihat putaran ingatan yang begitu jelas terasa.


Wajah ceria itu, yang setiap pagi selalu menjadi tempat mendarat bibirnya untuk mengawali hari, Jacob merasakan tubuh Alesha yang menggeliat meminta kehangatan pada tubuhnya saat sedang terlelap, Jacob merasakan telapak tangannya yang selalu mengusap lembut kulit halus istrinya, bahkan kini Jacob melipat bibirnya sendiri kala Alesha menciumnya walau hanya sesaat. Jacob merindukan hal itu, ia sangat rindu, benar-benar rindu. Ia rindu ketika lengan, dan tubuhnya mengukung tubuh mungil istrinya, ia rindu ketika Alesha sudah membercandainya, ia rindu saat-saat dimana tawa menggelitik diantara mereka berlangsung, ia rindu saat Alesha bermanja-manja padanya.


Jacob merindukan itu semua. Kapan ia akan seperti itu bersama istrinya lagi?


"Alesha.... Aku merindukanmu, hiks," Air mata kembali berlinang. Jacob mulai menangis kembali. Hatinya sungguh lelah jika harus menghadapi kerinduan-kerinduan yang menguras habis kekuatannya demi bisa bertemu dengan cinta sejatinya kembali.


Namun tetap saja, sebesar apapun rasa sakit yang mesti Jacob tahan akibat kerinduannya itu, ia tidak akan pernah menyerah untuk menemukan Alesha! Ia tidak mau terpuruk lagi seperti ia kehilangan Yuna dulu, kali ini ia harus berusaha sekuat tenaga agar bisa mendapatkan kembali wanita yang sangat dicintainya.


...*****...


Tidak terasa, perjalanan mengudara yang memakan banyak waktu itu kini telah terhenti, dan terganti dengan perjalanan darat yang juga akan memakan waktu beberapa jam untuk tiba di tempat tujuan.


Tidak ada istirahat. Jacob ingin cepat-cepat melihat wajah wanita yang ia yakini adalah istrinya itu.


Jacob sudah sangat tidak sabar hingga membuat jantungnya berdegub lebih kencang, dan hatinya yang tidak karuan.


Setiap lima belas menit sekali Jacob melirik pada jam tangannya untuk menghitung waktu yang sudah berlalu.


"Mr. Jacob, ingatlah, kau harus bisa bersikap setenang mungkin, jangan paksakan Alesha untuk mengingatmu karna hal itu hanya akan sia-sia saja, atau jika kau tetap memaksakan Alesha untuk mengingatmu, aku tidak bisa menjamin jika ia mau berada didekat pria yang menurutnya asing, dan aneh," Ucap Bastian.


"Bastian benar. Yang terpenting sekarang adalah kita sudah menemukan Alesha, meski Alesha sendiri tidak bisa mengingat siapa kita. Aku pikir kita bisa mengembalikan ingatannya dengan perlahan, dan bertahap, Mr. Jacob," Sambung Lucas.


Jacob hanya mengangguk kecil. Ia tidak bisa berkomentar apa-apa tentang Alesha yang mungkin saja lupa ingatan.


Kenapa harus seperti ini? Jacob merenung bersama pikirannya. Satu tahun ia menunggu, dan berusaha untuk mencari keberadaan Alesha, dan sekarang, setelah pencariannya berakhir kemungkinan besar Alesha akan lupa padanya.


Kenapa miris sekali? Jacob jadi mengasihani dirinya sendiri. Semoga saja Alesha bisa mengingatnya meski hanya sedikit.


Terlalu banyak diam, dan sibuk bersama pikirannya, Jacob pun baru menyadari jika ternyata mobil yang ia tumpangi telah berhenti tepat di pinggir jalan setapak disebuah pedesaan asri, dan begitu damai.


"Tuan, kita sudah sampai, ayo," Ucap Taylor.


"Iya, ayo!" Jacob membuka pintu, dan segera keluar dari dalam mobil. "Dimana rumahnya?" Tanya Jacob yang sudah sangat tidak sabar.


"Tidak jauh lagi. Tapi Alesha pasti tidak ada di rumahnya," Ucap Lucas.


"Lalu dimana dia?" Jacob menatap lekat pada Lucas.


"Kita langsung saja ke padang rumput itu, Alesha selalu bermain di sana sendirian atau ya paling bersama kelinci, dan kucing yang selalu menjadi temannya!" Seru Bastian.


"Kalau begitu ayo!" Jacob sangat amat tidak sabar hingga melangkah cepat mendahului Bastian, Lucas, dan Taylor.


Alesha, kita akan segera bertemu, sayang. Satu tahun aku mencarimu, akhirnya aku menemukanmu. Aku sangat merindukanmu, Alesha, aku akan membawamu pulang ke rumah kita, dan aku akan membawamu ke makam Alshiba, sayang............. Ucap Jacob begitu semangat dalam hatinya.


"Ke sini, Mr. Jacob!" Bastian menarik lengan Jacob untuk merubah arah langkah mereka.


"Di sana! Biasanya Alesha selalu bermain di sana bersama hewan-hewannya!" Lucas menunjuk pada rerumputan yang terhampar luas dengan beberapa jejeran pohon yang menambah kesan sejuk juga damai di tempat itu.


"Kita cari dia!" Titah Jacob yang mulai menyusuri hamparan rumput itu.


Sayang, aku di sini, kau dimana, Alesha?....... Lirih Jacob dalam hatinya.


Sekitar lima menitan Jacob, dan yang lain mencari keberadaan Alesha, tiba-tiba saja terdengar sebuah suara lembut yang memekik memanggil nama Bastian, dan Lucas.


"Bastian! Lucas!"


Alesha..... Jacob langsung terpaku di tempatnya. Ia masih belum menangkap sosok yang barusan bersuara itu, namun ia sangat mengenal suara itu!


"Bastian! Lucas!"


"Lisha!" Bastian, dan Lucas berucap bersamaan ketika mereka sama-sama mendapati keberadaan Alesha yang berjarak sekitar sepuluh meter dari mereka.


"T-tuan, i-itu, apa itu, Nona?" Taylor pun sama, ia terkejut namun dengan mimik wajah lurus datar.


Mendengar ucapan asistennya barusan, Jacob langsung saja memutar tubuhnya tiga ratus enam puluh derajat menghadap ke arah hamparan pepohonan.


Deg!


Jacob bergeming! Tubuhnya tidak bisa bergerak sama sekali! Kedua netra hitamnya kini terpaku lurus pada seorang wanita yang berpakaian dress selutut tanpa lengan tengah terduduk santai disebuah ayunan pohon.


Wajah ceria itu, senyum manis, eye smile, poni tipis, rambut coklat jatuh berombak, kulit putih susu, tubuh mungil, dan aura manis yang memancar kuat, ditambah dengan topi piknik bulat besar senada dengan langit biru cerah yang menghiasi bagian kepala. Jacob ingin melangkah, dan menggapai lalu memeluk wanita itu dengan sangat erat untuk melepaskan semua kesedihan, dan kerinduannya selama satu tahun ini.


"Lisha!" Bastian, dan Lucas berlari kecil mendekati Alesha.


"Hai," Sapa Alesha dengan begitu ramah, dan manis.


Oh ya ampun... Alesha benar-benar terlihat imut, dan polos dengan penampilannya saat ini, sungguh sangat jauh berbeda dengan penampilan, dan gaya Alesha yang dulu. Bahkan Bastian, dan Lucas pun sedikit salah tingkah saat Alesha menunjukkan senyum cerahnya pada mereka.


"Kalian kemana saja? Sudah beberapa hari ini aku tidak melihat kalian?" Tanya Alesha sembari mengayun pelan ayunan yang sedang ia tempati.


"Em, kami berdua ada urusan, jadi kami harus pergi dulu," Jawab Lucas yang kikuk dihadapan kawannya kini. Ia tersipu malu, penampilan Alesha yang terkesan polos saat ini sangat menunjukkan sisi lain dari istri mentornya itu.


"Lisha, kami ke sini membawa teman baru, kau mau berkenalan?" Tanya Bastian yang sedikit membungkukkan tubuhnya. Ia jadi merasa seakan ia sedang berhadapan dengan seorang gadis kecil.


"Teman baru? Siapa?" Kening Alesha berkerut bingung.

__ADS_1


"Kau mau berkenalan dengannya tidak?" Tanya Bastian lagi yang sedikit dibumbui oleh candaan.


"Iya," Alesha mengangguk cepat. "Aku mau," Lalu tertawa kecil.


Bastian tersenyum, dan sejurus kemudian, ia membalikkan tubuhnya lalu berjalan menghampiri Jacob yang ternyata masih mematung di tempat.


"Mr. Jacob, ayo..." Ajak Bastian sembari meraih pergelangan tangan Jacob.


"Apa di sana itu Alesha?" Lirih Jacob.


"Ya, itu Alesha. Dia mau berkenalan denganmu katanya," Balas Bastian.


"Berkenalan?" Jacob tersenyum miris. "Aku suaminya, kenapa aku harus berkenalan dengannya?"


"Sudah ayo, lihatlah, dia tersenyum ke arah kita, dia menunggumu untuk berkenalan dengannya," Bastian segera menarik lengan Jacob, dan membawa pria itu berjalan mendekati Alesha.


Alesha langsung bangkit berdiri setelah mendapati Bastian, dan Jacob yang berjalan ke arahnya.


"Lisha, perkenalkan, ini Jacob, teman kami," Ucap Bastian.


Alesha tersenyum cerah sembari mengarahkan pandangannya pada Jacob, suaminya yang terlupakan.


Deg!


Deg!


Deg!


Jantung Jacob berdebar kencang saat mendapati senyuman indah dari istrinya. Tubuhnya masih diam membeku, ia jadi sangat kaku, padahal hatinya sudah meronta untuk bisa memeluk si manis kesayangannya.


Alesha..... Ini kau? Apa benar ini kau, sayang? Kau melihatku dengan matamu, tapi tidak dengan ingatanmu? Aku suamimu, sayang. Apa kau tidak mengingatku sedikit saja?...... Lirih Jacob dalam hatinya.


"Hai, aku Lisha, salam kenal," Alesha menjulurkan telapak tangannya.


"J-Ja-Jacob..." Ucap Jacob tanpa membalas uluran tangan Alesha.


Tentu saja hal itu membuat Alesha merasa ada yang aneh dengan pria yang bernama Jacob tersebut. Kenapa Jacob terlihat membingungkan? Ekspresi wajahnya sulit untuk diartikan oleh Alesha.


Sama-sama saling memandang dengan ekspresi yang berbeda, Alesha, dan Jacob hanyut dalam tatapan mata yang mereka terima masing-masing. Namun itu pun tidak lama karna akhirnya Alesha berani bertanya pada Bastian, dan Lucas tentang apa yang terjadi pada Jacob.


"Ehm, dia kenapa?" Alesha melirik kilat pada suaminya. "Apa dia sakit?" Alesha berjinjit untuk berisik pada Lucas, dan Bastian.


Lucas terkekeh mendapati pertanyaan Alesha barusan. "Tidak, dia tidak sakit, dia memang seperti itu jika berkenalan dengan wanita yang cantik, dan manis," Jawab Lucas.


"Cantik, dan manis?" Gumam Alesha. "Berarti...." Alesha menundukkan kepalanya dengan malu-malu sembari memainkan jemarinya, dan bahkan sebelah kakinya yang berbalut flat shoes pun bergerak-gerak menggeseki rerumputan yang berada dibawahnya. "Berarti aku..." Alesha tertawa kecil. "Berarti aku cantik ya?" Lanjutnya seperti seorang bocah kecil.


Oh ya ampun, Alesha.....


Kenapa menggemaskan sekali ucapannya?


Alesha membuat keempat pria yang ada dihadapannya kini merasa sangat gemas padanya.


Bastian, Lucas, dan Taylor hanya mampu tertawa kecil sembari menahan kegelian mereka terhadap ucapan Alesha yang terdengar pelan namun sangat menggemaskan itu.


Lalu Jacob, entah kenapa hatinya tiba-tiba luluh, dan terharu. Rasanya ia ingin menangis.


Akhirnya, aku menemukanmu, Alesha. Kau cantik, kau sangat cantik, dan akan selalu cantik untukku, sayang......... Lirih Jacob dalam hatinya.


"Boleh aku memelukmu?" Tiba-tiba Jacob mengeluarkan ucapan yang membuat Alesha, Bastian, Lucas, dan Taylor terkejut seketika. Mata suami Alesha itu kini berkaca-kaca. Sungguh Jacob sudah tidak dapat lagi menahan rasa harunya, sosok wanita manis yang ada dihadapannya kini membuat ia ingin sekali memeluk, dan mendekap dengan sangat erat.


"Aku mohon, biarkan aku memelukmu, hiks," Tubuh Jacob mulai bergetar, ia mulai menangis, dan ia menatap penuh harap pada istrinya.


Tetapi Alesha, ia jadi terlihat salah tingkah, dan memandang Jacob dengan ekspresi bingung bercampur aneh. Apa ia tidak salah dengar? Kenapa pria itu atau Jacob tiba-tiba saja ingin memeluknya? Aneh. Pikir Alesha.


"Alesha... Aku mohon...hiks," Jacob menggenggam jemari istrinya.


"Alesha? Aku Lisha! Aku bukan Alesha!" Alesha menggelengkan kepalanya.


Jacob pun menutup kedua matanya. Ia menghela, dan menghembuskan napasnya dengan tenang.


"Kau mengingatkanku pada istriku yang sudah satu tahun menghilang, namanya Alesha. Kau sangat sangat mirip dengannya," Lirih Jacob dibarengi air mata yang kian bercucuran. "Tolong izinkan aku memelukmu, aku mohon.... Hiks, aku mohon, aku sangat merindukan istriku, hiks."


Mulut Alesha mendadak kaku. Ia tidak bisa berucap apapun, tubuhnya pun semakin salah tingkah.


Takut.


Ya, entah kenapa Alesha merasa takut saat ini, ia bergetar, langkahnya mulai bergerak mundur.


"Tidak! hiks, aku mohon," Jacob menahan kedua bahu Alesha supaya tidak menjauhinya.


"A-aku takut..." Lirih Alesha menatap penuh ketakutan pada Jacob.


Sakit sekali rasanya. Jacob seperti disayati oleh banyaknya pedang-pedang tajam karna mendapati Alesha yang merasa takut padanya.


"Aku bukan orang jahat, aku hanya ingin memelukmu saja karna kau membuatku teringat pada istriku, aku mohon, hiks hiks, Lisha...." Terpaksa Jacob menyebutkan nama itu, meski hatinya sungguh sangat menolak.


"Lisha, tidak apa, dia bukan orang jahat. Dia hanya merindukan istrinya yang sudah lama menghilang, dan kau membuatnya merasa begitu dekat dengan istrinya," Ucap Bastian diselingi oleh kesedihan. Sungguh, Bastian pun tidak tega melihat Jacob yang menangis, dan Alesha yang seakan ketakutan juga kebingungan.


"Biarkan dia memelukmu, dia tidak akan melakukan hal yang buruk padamu," Sambung Lucas yang turut merasakan atmosfer kesedihan pula.


Kemudian tatapan Alesha beralih kembali pada kedua mata Jacob yang terus menatapnya dengan penuh kesedihan.

__ADS_1


"Aku mohon, Lisha, aku ingin memelukmu, biarkan aku memelukmu, hiks," Sekali lagi Jacob memohon dengan sangat sungguh-sungguh.


Alesha harus bagaimana? Satu sisi ia takut, dan bingung, tapi disisi lain ia juga merasa kasihan. Namun, entah kenapa Alesha merasakan sesuatu yang mengusik hatinya.


Bahagia kah? Kenapa Alesha merasa ada yang aneh dengan dirinya saat ini. Melihat Jacob yang ada dihadapannya membuat jantungnya berdegub kencang, dan entah kenapa ia juga merasa nyaman ketika telapak tangan Jacob menyentuh kulit bahunya.


"Aku mohon.... Hiks, Lisha..."


Alesha tidak menjawab, kedua matanya masih terpana pada pria yang begitu ingin memeluknya saat ini.


Namun, setelah beberapa saat kemudian, Alesha merasakan kepalanya yang tiba-tiba saja bergerak kebawah dengan sangat pelan.


"Terima kasih."


Deg!


Tubuh Alesha membatu dalam sekejap mata. Jacob, pria itu langsung memeluk istrinya dalam kurun waktu kurang dari satu detik setelah Alesha memberikan satu anggukan samar.


Didekapnya erat-erat tubuh mungil sang istri tercinta oleh Jacob. Begitu erat sampai Alesha sendiri bisa merasakan detakkan jantung yang berdegub di dalam dada suami yang terlupakan oleh memorinya itu.


Nyaman.....


Tenang......


Bahagia.....


Tidak! Tunggu dulu! Kenapa Alesha? Alesha kenapa? Hatinya tiba-tiba menghangat saat merasakan pelukan yang sangat dirindukan itu.


Eh tidak! Apa? Pelukan yang sangat dirindukan? Apa maksudnya? Kenapa Alesha bisa berpikir seperti itu?


"Kenapa kau menghilang? Aku sangat merindukanmu, Alesha. Aku mencarimu, aku terus berusaha untuk menemukanmu. Aku sangat merindukanmu, sayang," Jacob sengaja mengatakan hal itu pada istrinya, meski mungkin Alesha tidak akan memperdulikan ucapannya itu.


Alesha terus diam tanpa melakukan apapun. Jacob terus saja memeluk pinggang, dan menekan punggungnya agar tubuh mereka bisa semakin berdekatan, meski nyatanya tubuh mereka berdua itu sudah menempel dengan sangat dekat.


Tapi kenapa Alesha tidak memberontak sama sekali? Malah semakin Jacob mengeratkan pelukannya, rasa hangat pun semakin menyeruak ke dalam diri Alesha.


Apa yang sebenarnya terjadi dengan Alesha saat ini? Kenapa ia malah merasa sangat nyaman, dan hangat?


"Aku mencintaimu, Alesha, aku sangat mencintaimu, My Lil Ale."


Deg!


My Lil Ale.......


kau tahu, Lil Ale.......


Sayang... Lil Ale..........


Tentu saja, Lil Ale........


Heyy, Lil Ale........


"Argh!" Tiba-tiba saja Alesha mengerang sembari memegangi kepalanya yang terasa sakit.


Ada apa ini? Lil Ale? Apa itu tadi? Lil Ale?......... Alesha bertanya-tanya dalam pikirannya sembari menahan rasa sakit pada kepalanya.


Lil Ale? Berapa kata tadi? Kata-kata apa itu? Kenapa tiba-tiba muncul dalam pikirannya?


"Argh! Lepaskan! Aku ingin pulang!" Lirih Alesha.


"Ada apa? Kau kenapa?" Panik Jacob sembari melepaskan pelukannya, dan beralih menggenggam kedua bahu istrinya.


"Aku ingin pulang, kepalaku sakit...." Alesha kembali berucap lirih. "Aku ingin pulang, maaf aku harus pergi sekarang."


Alesha langsung membalikkan tubuhnya, dan berlari begitu saja.


"Alesha!" Jacob yang sudah tidak sanggup ditinggal oleh istrinya lagi pun kini turut berlari mengejar Alesha.


Diikuti Bastian, Lucas, dan Taylor. Kini mereka berempat sama-sama memacu langkah mengejar Alesha yang berlari ke rumahnya.


"Ranggaaaaa.... Hiks, Rangga....." Alesha berteriak sembari berlari menuju halaman belakang rumahnya. "Ranggaaaaa.... Hiks."


Rangga yang sedang menanam beberapa sayuran pun membalikkan tubuhnya, dan....


"Ranggaaaaa, hiks hiks."


Alesha langsung menabrak, dan memeluk tubuhnya sembari menangis tersedu-sedu.


"Alesha, kau kenapa?" Rangga meraih wajah adik angkatnya agar mereka bisa saling bertatapan.


"Kepalaku sakit... Hiks hiks... Rangga.... Hiks," Balas Alesha.


Sepersekian detik kemudian, ekor mata Rangga pun menangkap sesuatu yang langsung membuat jantungnya bergedub ketakutan.


Jacob!


Dengan sangat jelas Rangga melihat sosok pria yang bukan lain adalah suami dari adik angkatnya, Alesha tengah berdiri mematung dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diartikan.


Tapi jika dilihat dari kepalan tangannya, Rangga dapat menebak jika saat ini Jacob sedang menahan amarah, apalagi ketika mereka berdua saling memandang satu sama lain.


Satu tahun aku menyembunyikan Alesha dari keluarganya termasuk suaminya agar Alesha bisa aman dari ancaman kejahatan Dirga, dan kini Jacob sudah berhasil menemukan Alesha? Tidak! Alesha, aku tidak akan melepaskanmu, aku sangat menyayangimu, kau memang adik angkatku, namun kau membuatku jatuh hati, Al. Bapak, Rangga minta maaf kalau Rangga suka sama Alesha, tapi Rangga janji, Rangga bakal selalu jagain Alesha dari Dirga, dan segala bahaya..... Lirih Rangga dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2