Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Benci Cinta


__ADS_3

Kekacauan yang terjadi di kantor SIO sejak pukul tiga dini hari hingga pukul lima subuh akhirnya bisa dilerai dengan berhasilnya SIO mengalahkan kelompok mafia yang melakukan penyerangan itu. Beberapa orang berhasil kabur, dan ada sekitar dua puluhan orang yang berhasil SIO tahan termasuk, Theora.


06.15 WIB...


Ceklek....


Suara gagang pintu yang ditekan.


"Jack, bagaimana?" Tanya seorang pria paruh baya yang bukan lain adalah Mr. Frank.


"Dia masih pingsan," Jawab Jacob.


Tidak.


Di dalam ruangan khusus yang terdapat sebuah kasur seperti kasur pasien berukuran kecil, Theora terbaring pingsan di sana, dan sekarang Theora baru saja sadar hanya memang ia belum membuka kedua matanya.


Kedua tangan Theora diikat menggunakan rantai khusus agar wanita itu tidak dapat kabur.


"Kalau sudah bangun langsung saja introgasi dia!"


"Baik, Mr. Frank."


Ketika Mr. Frank beranjak pergi meninggalkan ruangan tersebut, Theora perlahan mulai mengerjapkan kedua matanya.


"Jack..." Lirih Theora.


Seketika Jacob pun melirik ke asal suara tersebut.


"Apa?" Balas Jacob begitu dingin.


Sejenak kesunyian pun kembali mengambil alih suasana.


Jacob masih terpaku pada wajah Theora yang tidak banyak berubah. Sedangkan Theora memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing.


Entah kenapa ada sedikit rasa bahagia dalam hati Jacob karna ia dapat berjumpa kembali dengan kawan lamanya itu.


Perlu diingat! Jacob hanya bahagia, dan bukan suka apalagi jatuh cinta. Jacob bahagia karna sepuluh tahun lebih tidak bertemu, kini gadis yang selalu menjadi teman terbaiknya semasa dulu itu sudah dapat ia jumpai kembali. Namun tetap saja dalam lubuk hatinya Jacob merasa sedih mengingat status Theora yang sekarang adalah seorang mafia.


"Jack..." Theora melayangkan tatapan kesedihannya pada Jacob. Itu bukanlah tipu daya atau sebuah kemunafikan belaka, Theora benar-benar sedih. Ia sangat sedih karna harus bertemu kembali dengan Jacob sedang ia sendiri tahu jika pertemuannya dengan Jacob saat ini tidak akan berjalan baik.


"Apa kau sungguh membenciku?" Lanjut Theora begitu pelan.


Jacob yang mendengar itu hanya bisa diam memandangi wajah Theora tanpa mau berkomentar apapun.


"Pasti kau membenciku karna aku adalah seorang mafia jahat," Lanjut Theora begitu lirih. "Kau mengenalku, sangat mengenalku, Jack."


"Dimana kalian menyembunyikan kelima profesor SIO?" Jacob mengalihkan pembicaraan Theora.


"Itu urusan kakakku, Jack," Jawab Theora masih terdengar sedih.


"Jangan bohong! Kau pasti tahu dimana Theo menyembunyikan kelima profesor SIO!" Jacob menaikkan sedikit tensi bicaranya.


"Theo hanya memintaku untuk mencuri sampel virus itu dari SIO, urusan kelima profesor itu aku tidak tahu," Bohong Theora. Ia tidak mungkin juga kan mengatakan dimana kakaknya itu menyembunyikan kelima profesor SIO?


"Apa kau berusaha untuk membohongiku, Theora?" Sorot mata Jacob semakin menajam.


Theora menundukkan wajahnya, ia tidak mau melihat Jacob yang memberikan tatapan yang begitu menyakiti hatinya.


Apa kau semarah itu, Jack? Tolong jangan tatap aku seperti itu........ Lirih Theora dalam hatinya.


Jujur saja, Theora merasa miris, Jacob bukanlah Jacob yang dulu, yang selalu mengukir senyum disela-sela canda tawa mereka. Jacob yang sekarang hanya akan memberikan tatapan penuh kebencian, dan kemarahan. Begitulah pikir Theora.


Itu kenapa Theora enggan untuk bertemu dengan Jacob, karna ia tahu Jacob pasti akan membencinya mengingat ulah yang ia, dan kakaknya lakukan demi bisa mendapatkan sampel virus XXX tersebut.

__ADS_1


Tapi Theora bisa apa? Mungkin ia sedikit berubah menjadi lebih kejam, tapi dihadapan Jacob kini, Theora kembali menunjukkan dirinya yang lemah hanya karna rasa rindu, dan cinta yang tak terbalaskan.


"JAWAB AKU!"


Theora begitu tersentak ketika Jacob membentaknya secara tiba-tiba. Tubuhnya sedikit membeku seakan tidak bisa menerima intonasi tinggi dari suara pria yang ada dihadapannya itu.


"Aku tidak tahu, Jack, hiks."


"Jangan berbohong, Theora!"


"Kenapa kau seperti itu? Bukankah kau masih menganggapku sebagai sahabatmu, Jack?"


"Itu tidak menjadi alasan, sahabat atau bukan kau, dan kelompok mafiamu itu tetap bersalah! SIO bisa menghabisi kalian, dan identitas kalian semua sebagai mafia dapat terbongkar!"


"Tapi bukan keinginanku untuk menjadi mafia, Jack, hiks," Theora menatap Jacob dengan tangisnya yang mulai kembali. "Aku tidak mau menjadi orang jahat."


Sejujurnya, Jacob sendiri merasa prihatin, dan tidak tega melihat Theora yang menangis. Wajah yang dulu selalu menebar senyum itu kini terlihat menyedihkan. Namun Jacob tidak bisa melakukan apa-apa, Theora musuhnya sekarang, meski ia masih menganggap Theora sebagai kawan baiknya juga.


Tapi, jika memang benar Theora tidak ingin menjadi mafia, dan orang jahat, maka Jacob siap untuk membantu Theora keluar dari dunia itu. Tapi satu, Jacob tidak mungkin bisa membalas perasaan Theora karna Jacob sangat mencintai Alesha, dan sampai kapan pun Jacob tidak akan pernah mau menduakan Alesha, apa pun itu alasannya Alesha tetaplah orang nomor satu dihatinya, ditambah dengan hadirnya Alshiba, tidak akan pernah Jacob mau untuk mengkhianati pernikahannya bersama Alesha.


"Kau masih percaya padaku kan, Jack?" Lirih Theora bersamaan dengan sesegukan yang turut terdengar.


Jacob dapat melihat, dan membaca sebuah pengharapan besar dari dalam mata Theora, namun Jacob tidak mau terkecohkan. Jacob harus tetap waspada, dan menaruh curiga tinggi. Bisa saja Theora sengaja ingin memperdayai Jacob dengan tangisannya itu. Benar bukan?


"Jack...."


Jacob sedikit terkesiap saat Theora lagi, dan lagi memanggilnya dengan begitu sendu, dan lirih.


"Katakan padaku dimana kelima profesor itu? Atau tidak lama lagi kau akan mendengar jika kelompok mafiamu itu, termasuk kakakmu akan mati!!" Tegas Jacob.


"Jack, kenapa kau jadi seperti itu padaku, hiks?"


"Jangan mengalihkan pembahasan, Theora!" Jacob mulai terpacing emosi.


"Kau benar-benar berubah, Jack, hiks."


Brak!


Theora terlonjak seketika. Jantungnya berdegub kencang, dan tubuhnya sedikit bergetar. Kedua matanya membulat sempurna bahkan mulutnya sudah setengah membentuk huruf vokal O. Bentakkan, dan gerbrakan meja yang Jacob lakukan sungguh membuat Theora terkejut, dan tidak percaya.


"Jangan pancing emosiku lagi! Katakan dimana kalian menyembunyikan kelima profesor SIO!!" Pekik Jacob.


Namun sayang, intonasi suara yang Jacob keluarkan sungguh mengena dalam hati Theora. Sakit, sakit rasanya Theora harus mendengar Jacob yang membentaknya, padahal dulu Jacob suka bersikap lembut padanya.


"Hiks..." Theora mengerjapkan matanya beberapa kali hingga membuat banyak sekali butir air mata mengaliri pipinya. Dadanya naik turun seirama dengan sesegukan yang kian menjadi.


"Tidak usah berlagak menangis sedih seperti itu. Aku tidak akan terpengaruh!" Ucap Jacob begitu dingin.


Memang ya, cinta itu bisa membuat orang yang paling kuat sekali pun menjadi lemah tidak berdaya. Contohnya saja seperti Theora sekarang ini. Theora adalah wanita yang tangguh, dan pintar, kakaknya, Theo selalu mendidik dengan keras. Tapi kenyataan berbanding terbalik sekarang, Theora menangis sesegukan karna harus menerima sikap yang sangat amat tidak mengenakkan dari pria yang ia cintai.


"Cepat katakan padaku!" Tekan Jacob tepat dihadapan wajah Theora. Tatapan matanya begitu tajam seperti akan menusuk kedua netra coklat Theora.


"Jack, hiks..." Theora mengangkat sebelah lengannya untuk mengusap pipi Jacob, namun dengan cepat Jacob menepisnya.


"Aku bukan orang jahat, hiks.. Bantu aku.... Hiks..." Theora menundakkan wajahnya. Tangisnya semakin menjadi sebab Jacob yang menatapnya penuh amarah.


"Aku tidak bodoh, Theora! Sekarang katakan dimana kelima profesor SIO! Tidak ada gunanya kau menangis seperti itu!" Sentak Jacob.


Ceklek....


Tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka, dan membuat Jacob juga Theora sama-sama terkejut.


"Mr. Jacob...."

__ADS_1


Cepat-cepat tubuh Jacob berbalik.


"Alesha?" Kedua mata Jacob membulat saat mendapati jika ternyata istrinya ada di sana, di ambang pintu. Ia terkejut? Lumayan. Pasalnya, bagaimana bisa ada Alesha di kantor SIO?


"Jack, aku mengkhawatirkanmu..." Seperti tidak perduli atau tidak merasakan ketegangan dalam ruangan itu, Alesha berlari begitu saja menghampiri Jacob, dan langsung berjinjit untuk memeluk suaminya itu.


Alesha tidak perduli dengan keberadaan Theora di sana. Alesha sungguh mengkhawatirkan Jacob, maka dari itu setelah kurang lebih satu jam yang lalu saat ia mendapat kabar dari Bastian jika SIO berhasil mengalahkan kelompok mafia yang melakukan penyerangan dini hari tadi, Alesha langsung melesat bersama ketiga teman gadisnya menggunakan mobil salah satu penjaga.


"Kenapa kau ke sini, Alesha? Di sini masih belum aman! Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu?" Jacob balik memeluk erat tubuh istri tercintanya itu.


"Aku hanya ingin melihat kondisimu langsung, aku takut kalau kejadian yang kemarin menimpamu lagi, Jack," Lirih Alesha.


"Aku baik-baik saja, sayang," Jacob mengelusi rambut Alesha seraya memberikan ciuman pada puncak kepala si manis itu.


Theora menangis tanpa mengeluarkan suaranya. Pemandangan yang ada tepat dihadapannya saat ini begitu mengiris hati. Melihat Jacob yang memeluk juga mencium Alesha dengan penuh cinta sangat membuat Theora ingin berteriak, mengeluarkan segala kekecewaan, kesedihan, dan kecemburuan mendalamnya.


"Aku mencintaimu, Alesha, aku sangat mencintaimu..." Ucap Jacob yang sengaja ia lakukan agar Theora dapat mendengarnya. Jacob harap Theora bisa menyadari jika hatinya sudah dimiliki oleh Alesha, dan tidak akan pernah berpaling pada siapa pun lagi.


"Ayo, sayang, kita keluar sekarang," Jacob melepaskan pelukan istrinya, dan beralih dengan menangkup wajah Alesha.


Terakhir, Jacob pun menaruh sebuah ciuman lembut berdurasi cukup lama pada bibir Alesha.


Alesha sendiri sedikit terkejut karna mendapatkan ciuman tiba-tiba dari suaminya, apalagi kan tepat disebelah mereka juga terdapat seorang wanita yang tidak Alesha kenal.


Aku harap setelah kau melihat ini kau akan sadar, Theora, dan perasaanmu padaku akan lenyap...... Ucap Jacob dalam hatinya.


"CUKUP, JACOB! HIKS, KELUAR SEKARANG! AKU MEMBENCIMU!" Teriak Theora yang mengeluarkan seluruh emosi, dan kesedihannya. Tangis Theora kian pecah, hatinya semakin tercabik melihat Jacob berciuman bersama wanita lain tepat dihadapannya.


"Ayo, sayangku, kita keluar sekarang," Jacob langsung merangkul pinggang Alesha, dan membawanya untuk berjalan keluar ruangan tersebut.


"AKU MEMBENCIMU, JACOB RIDLE, HIKS, AKU SANGAT MEMBENCIMU!!"


Jacob sedikit menunduk sembari memejamkan matanya. Theora sudah kehabisan suara sekarang, bahkan tangisnya pun terdengar serak.


...*****...


Beralih waktu, dan tempat. Di tempat biasa, di dalam sebuah markas terlihat ada seorang pria yang tengah mengamuk.


Prang......


Sebuah gelas berisi teh teh hijau pecah begitu saja. Beling-beling berserakan di atas lantai, emosi yang menggelora membuat tekanan darah menjadi naik.


Theo, pria itu. Wajahnya kini merah padam, matanya begitu tajam, dan memerah akibat amarah yang bergejolak dalam dadanya.


Itu semua disebabkan karna ia mendapat informasi dari salah satu anak buahnya yang berhasil lolos dari para agent SIO ketika kelompoknya melakukan penyerangan malam tadi.


Salah satu anak buah itu berkata pada Theo jika ia melihat Theora yang sedang menangis sembari mengungkapkan perasaan pada Jacob tanpa melakukan penyerangan.


Wajar saja Theo marah. Ia tidak mau adiknya itu berhubungan dengan musuhnya, dan kenapa juga Theora harus menangis sembari mengungkapkan perasaannya terhadap Jacob. Terlihat sekali lemahnya!


"Awas kau, Jacob! Jika kau sampai membuat adikku jatuh cinta kembali padamu, maka aku tidak akan segan untuk membunuhmu!" Pekik Theo.


"Argh!! Theora!!" Theo mengusap wajahnya dengan kasar. Ia pusing, sungguh pusing. Masalahnya saat ini juga ia sudah tahu jika Theora pasti ditahan oleh SIO karna anak buahnya itu mengatakan jika Theora tidak bersama mereka.


Theo sangat mengkhawatirkan adiknya itu. Ia panik, bagaimana jika terjadi sesuatu pada Theora? Mendiang ayahnya sudah sering mewanti-wanti supaya ia benar-benar menjaga adik perempuannya, Theora.


"Perintahkan satu orang terbaik untuk menemukan, dan membawa Theora keluar dari kantor SIO yang berada di Bandung!"


Wili yang ada di sana kemudian mengganggu lalu pergi untuk menjalankan perintah Theo.


Tidak lama, masuk pria lain, dan berjalan menghampiri Theo.


"Theo, beberapa anak buahmu sudah tiba di Papua, mereka sedang dalam persiapan menuju hutan untuk menemukan anggrek hitam itu."

__ADS_1


"Bagus! Kita hanya tinggal merebut virus itu, dan menyuruh kelima profesor SIO untuk membuat vaksinnya."


Tekad Theo untuk mengembangkan, dan menambah bisnisnya belum juga surut. Malah Theo semakin bersemangat untuk merebut virus XXX yang berasal dari laboratorium WOSA tersebut.


__ADS_2