
"MOMYYYY...." Haris berlari kencang menghampiri ibunya.
"Sweety, ya ampun!" Mona yang memang sejak tadi sudah menunggu kepulangan anaknya dengan penuh kecemasan pun kini langsung mengangkat tubuh putra kecilnya itu dan memeluk erat. Ia tahu apa yang terjadi pada Alesha, dan Jacob tadi dari salah satu anak buah Jacob.
Wiliam juga sama. Ia ikut memeluk Haris dan mencium putranya itu dengan penuh kasih sayang. Ia tak kalah cemasnya seperti Mona.
"Haris baik-baik saja, Wil, Mona. Anak buah Dirga tak bisa menyentuh kami," ucap Jacob, "Mereka sudah mati terpanggang di tengah jalan raya," lanjutnya datar.
"Mati terpanggang?" Wiliam menatap heran adik iparnya itu.
Jacob mengangguk. "Aku menembak mobil mereka hingga membuat mobil-mobil itu terbakar."
"Jacob! Ya ampun!" Laura yang baru saja muncul di ruangan keluarga itu pun langsung berlari dan memeluk cemas putranya. "Kau baik-baik saja, kan? Tidak ada luka? Apa yang mereka lakukan padamu?" tanyanya begitu panik sembari menatap khawatir pada Jacob.
"Aku baik, Bu. Aku, Alesha, dan Haris tidak apa-apa," jawab Jacob, pelan.
Namun sebagai seorang ibu, jawaban itu seolah masih belum bisa membuatnya tenang. Ia sungguh takut terjadi sesuatu pada putranya, juga cucu dan menantunya.
Setengah jam kurang lebih mereka berkumpul di ruangan keluarga itu. Jacob menceritakan semua yang terjadi. Laura juga bilang kalau dia merasa ada yang aneh dengan sekitaran mansion anak dan menantunya itu. Ia menyuruh tiga anak buahnya untuk mencaritahu penyebab rasa kecurigaannya itu.
Alesha, sejak tadi ia tidak melihat keberadaan kakaknya, Rangga. Dimana pria itu? Tapi Alesha lebih memilih diam dan tak bertanya soal Rangga pada siapa pun. Sampai akhirnya, ia memilih untuk pergi ke kamarnya karna sudah mulai merasa tidak nyaman dengan perut dan kepalanya. Ia menyempatkan untuk sholat dzuhur sebentar bersama suaminya, namun setelah salam terakhir beres, Alesha yang sudah tidak tahan dengan rasa mualnya pun langsung bangkit tanpa membuka mukenanya lebih dulu dan berlari menuju kamar mandi. Memuntahkan udara kosong diwastafel.
"Mual, Al?" tanya lembut Jacob.
Alesha mengangguk lemah.
Lima menit kurang lebih Alesha terus memuntahkan sesuatu kosong. Itu membuat perutnya sakit, dan menambah kadar pusing dikepalanya.
Jacob menuntun istrinya berjalan perlahan menuju tempat tidur.
"Mau teh hangat, Al?" tawar Jacob.
Alesha menggelengkan kepalanya, "Aku butuh sesuatu yang pedas," jawabnya sembari sedikit meremas bantal sutra disebelahnya.
"Hah?" Jacob menyerngit. Ia terkekeh mendengar jawaban istrinya barusan.
"Aku ingin bakso telor tanpa sayur yang sangat pedas, juga cimol pedas tanpa saus, dan minumannya, ehm.....milkshake rasa strawberry dan leci," lanjut Alesha sembari terpejam, dan memijiti keningnya yang terasa berdenyut.
"Kau serius?" Jacob tertawa kecil.
"Apa aku terdengar bercanda?" tanya balik Als yang terdengar serius.
"Baiklah... Baiklah... Ibu hamilku. Aku akan memesankannya untukmu." Baru saja Jacob hendak meraih ponselnya, mendadak ucapan Alesha menghentikan pergerakannya.
"Kau mau membahayakanku, ya?" Alesha terdengar sinis.
Kening Jacob berkerut bingung. Apa maksudnya? Kenapa Alesha bicara seperti itu?
"Kalau kau memesan online, bisa jadi kurir pengantar pesanan makanan itu bertemu anak buah Dirga di dekat mansion kita, dan mensabotase makanannya? Kau ingat, tidak ada rumah lagi di daerah sini selain mansion ini. Mansion ini terletak paling ujung dan paling jauh dari mansion-mansion lain. Tentu anak buah Dirga yang sedang mengawasi rumah ini akan curiga!"
Eh, iya. Alesha benar. Jacob baru menyadari hal itu. Ya ampun! Bagaimana ia bisa abai soal itu?
"Ehm, iya, aku paham sekarang. Aku akan menyuruh Taylor untuk membelinya," ucap Jacob.
"Yeah, itu jauh lebih baik," komen malas Alesha.
*****
Selepas meminta pada Taylor untuk membelikkan apa yang istrinya pinta, Jacob kembali ke kamarnya. Didapatinya Alesha yang tengah duduk terdiam diatas kasur sembari bersandar dan menatap foto pernikahan mereka.
Jacob melangkah menghampiri istrinya.
"Siapa Theora?" tanya datar Alesha.
Deg!
Kaki Jacob terhenti tepat tiga langkah dari sisi tempat tidur yang Alesha tempati.
"Siapa Theora, Jack?" Kali ini Alesha menatap serius suaminya. Ia teringat ucapan Stella kemarin soal Theora.
Jacob menghembuskan napasnya setenang mungkin. Ia kembali melanjutkan langkahnya, lantas duduk berhadapan disebelah istrinya.
"Theora, dia adalah sahabat terdekatku saat aku masih kecil. Kami tinggal disatu komplek perumahan yang sama. Kami berteman hingga remaja. Tapi aku tidak pernah tahu kalau ternyata diam-diam dia menaruh rasa padaku."
"Kau juga menaruh rasa padanya?" potong tajam Alesha.
Jacob sedikit terhenyak, namun sejurus kemudian, ia menggelengkan kepalanya, "Aku tidak pernah menaruh perasaan pada Theora, Al. Aku selalu menganggapnya sebagai sahabatku, atau ya, saudariku. Tapi tidak pernah lebih dari itu."
"Kau yakin?" Alesha terlihat curiga.
Jacob mengangguk yakin. "Ya. Aku tidak pernah menaruh rasa pada Theora. Kami hanya sahabat, Al. Sekali pun lebih dari sekedar sahabat, kami adalah saudara. Aku menganggapnya sebagai adikku. Waktu itu juga Kakaknya, Theo pernah mengutarakan perasaannya beberapa kali pada Mona, tapi Mona menolak secara halus karna ia ingin fokus pada pekerjaannya yang waktu itu baru saja bergabung dengan SIO. Lalu tidak lama setelah itu, Theora dibawa pergi oleh Kakaknya, Theo, dan aku juga dibawa oleh Mona ke SIO untuk diikut sertakan dalam seleksi calon murid WOSA. Kami berteman hingga remaja, namun setelah dia yang dibawa entah kemana oleh Kakaknya, dan aku yang juga fokus pada seleksi calon murid WOSA, kami tidak pernah lagi bertemu apalagi berkomunikasi."
Alesha tak berkata apapun. Ia diam menatap tajam suaminya. Hanya ingin memastikan jika apa yang Jacob katakan barusan itu benar adanya.
"Al, kau harus percaya. Saat ini dan seterusnya, aku tidak akan pernah melirik wanita lain. Untuk apa? Jika aku sudah merasa cukup, bahagia, dan bersyukur bersamamu. Jangan pernah berpikir yang macam-macam soal aku yang memiliki perasaan terhadap wanita lain. Itu tidak akan pernah terjadi. Kau akan menjadi istri pertama dan terakhirku. Mengerti?" Jacob menatap lamat kedua iris coklat istrinya, "Sudah, daripada kau sibuk memikirkan hal seperti itu, lebih baik kau pergi saja ke kamar kakek. Dia menanyakanmu tadi."
Alesha mengangguk kecil. Arah mata sudah berubah, lurus kebawah saat ini. Tapi, mungkinkah Jacob akan menepati janjinya waktu itu, saat mereka bulan madu di Turki? Pria itu berjanji untuk tidak akan pernah meninggalkannya. Semoga saja Jacob akan selalu menepati janjinya itu.
Selepasnya, seperti yang suaminya katakan tadi, Alesha langsung pergi ke kamar Kakek Ujang dan menemani kakeknya itu untuk mengobrol. Alesha cukup prihatin dengan kondisi kakeknya sekarang. Tubuh tua renta itu semakin kurus dan lemah. Alesha jadi ingat kalau dulu ia juga sering mengurus kakeknya yang sering sakit. Tapi kali ini, kondisi Kakek Ujang jelas lebih parah.
Jacob mengusulkan agar Kakek Ujang tinggal di mansionnya agar Kakek Ujang bisa tetap bersama Alesha dan dapat diawasi langsung olehnya. Namun Kakek Ujang menolak, bilang kalau kondisinya sudah lebih membaik, ia akan kembali ke apartemen. Kakek Ujang hanya tidak mau merepotkan atau menyusahkan kedua cucunya jika ia tinggal di mansion Jacob. Padahal Jacob dan Alesha sama sekali tidak keberatan akan hal itu.
"Kakek, makan yang banyak, ya." Alesha dengan sabar menyuapi kakeknya dengan bubur ayam. Kondisi Kakek Ujang yang naik turun membuat Alesha berpikir kalau lebih baik Kakek Ujang dibawa saja ke rumah sakit supaya mendapatkan penanganan lebih baik.
"Neng, gak usah khawatir berlebihan gitu sama Kakek. Kakek gak apa-apa. Kaya gini, kan udah biasa. Lagian ada dokter khusus yang suka rawat Kakek di apartemen. Kakek gak usah dibawa ke rumah sakit," ucap Kakek Ujang.
"Tapi tensi darah Kakek naik turun mulu, Kek." Alesha terdengar khawatir.
"Ya, emangnya kenapa? Kan udah biasa, Neng."
Alesha menghembuskan napasnya dengan sabar. Menatap sendu penuh kecemasan pada Sang Kakek.
Namun sejurus kemudian, terdengar suara pintu yang mendadak terbuka hingga membuat Alesha sedikit terlonjak karna terkejut.
Bumil itu menoleh ke belakang, "Rangga, kau dari mana?" "
Rangga, ia melangkah tegap lalu duduk di tepian kasur sebelah kakeknya.
"Kau dari mana, Rangga?" ulang Alesha.
"Memata-matai Dirga dan anak buahnya," jawab Rangga, santai.
Alesha masih menatap-heran-kakaknya itu.
__ADS_1
"Mansion ini sedang diawasi, Al. Jangan pergi ke mana pun tanpa pengawalan. Mereka bukan hanya mengincarmu, tapi Kakek juga," jelas Rangga.
Kakek Ujang menyeringai tipis mendengar itu. Bukan sebuah hal yang mengejutkan untuknya. Ia adalah orang yang juga ikut membantu Dirga dijebloskan ke dalam penjara. Ia lah otak dari rencana yang Rangga dan putranya lakukan untuk melawan pebisnis jahat itu.
Bertolak belakang dengan Alesha yang justru terkejut bukan main ketika mendengar ucapan Kakaknya barusan.
"Kau tidak bercanda, kan, Rangga?" Alesha berseru.
Rangga menggelengkan kepalanya, "Aku memata-matai Dirga dan anak buahnya dari sejak kau dibawa oleh Jacob enam bulan lalu, Al. Aku kembalikan ke Indonesia, misiku adalah memata-matainya."
"Tapi apa urusannya dengan kakek?" Alesha masih berseru, antara cemas dan bingung.
"Kakek dalang dari rencana yang aku juga Bapak lakukan untuk menjebloskan Dirga ke penjara, Al. Kau baru tahu itu?"
Seketika Alesha menatap tajam kakeknya, "Bener, Kek?"
Kakek Ujang mengangguk seraya tersenyum santai.
"Jangan-jangan kau hanya tau kalau kakek itu sekedar orang tua yang sering sakit-sakitan." Rangga terkekeh, "tidak, Al. Kakek orang pertama yang mengajariku bela diri. Saat ini, mungkin fisiknya saja yang terlihat lemas. Tapi, boleh jadi suamimu itu kalah jika bertarung dengan kakek."
Alesha menelan ludah tak percaya. Sungguhkah itu?
"Kau pikir, Dirga hanya mengincarmu baru-baru ini saja?" Lagi-lagi Rangga terkekeh, "tidak, Al. Dirga menyuruh anak buahnya untuk memburumu dari sejak dia masuk ke dalam penjara, dari sejak kau masih kecil, sejak kita kehilangan kedua orang tua kita. Tapi Kakek menyembunyikan itu semua karna tak mau membuatmu khawatir. Dia menjagamu susah payah agar kau bisa terus hidup aman dan tenteram dari gangguan anak buah Dirga. Aku juga, tidak jarang membantu kakek saat kakek harus berhadapan dengan anak buah Dirga yang hendak menculikmu. Kakek tidak pernah lalai mengawasi cucu satu-satunya, apalah cucunya itu perempuan, cantik, dan cerdas."
"Kakek..." lirih Alesha, menatap, meminta penjelasan dari Sang Kakek.
Kakek Ujang hanya mengangguk lemah. Apa lagi yang harus ia jelaskan? Rangga sudah menjelaskan semuanya.
"Jadi, Kakek...." suara Alesha terdengar parau.
"Kakek gak mau cucu kakek satu-satunya yang cantik ini harus jadi korban juga. Kakek sayang banget sama Eneng," ucap Kakek Ujang pelan penuh kelembutan.
"Tapi Kakek gak pernah cerita soal itu sama Alesha," lirih Alesha.
"Karna Kakek pengen liat Neng yang tetep bisa jalanin kehidupan sebagaimana mestinya. Tanpa harus khawatir karna jadi buronan anak buah orang jahat," jawab santai Kakek Ujang.
Alesha menghembuskan napas dengan pelan. Mengetahui fakta baru ini, membuat hati dan perasaannya mulai tidak enak. Si Jahat Dirga itu juga mengincar kakeknya ternyata. Tapi ia tidak akan membiarkan itu terjadi. Kalau saat kecil kakek Ujang lah yang berusaha susa payah untuk menjaganya dari incaran anak buah Dirga, sekarang giliran ia yang melakukan hal tersebut kepada Kakeknya. Ia akan menjaga Kakek Ujang sebisanya.
"Eneng gak bakal biarin mereka sakitin Kakek. Eneng janji, Eneng bakal jaga Kakek." Alesha menggengam erat kedua telapak tangan kakeknya.
Kakek Ujang terkekeh, "Jacob gak mungkin biarin Eneng lawan penjahat itu."
"Tapi Eneng bisa jaga kakek. Eneng gak kalah jago, kok dalam hal bela diri."
Kakek Ujang menggelengkan kepalanya, masih dengan senyum santai yang menghiasi wajahnya sejak tadi.
"Assalamualaikum...."
Alesha, Rangga, dan Kakek Ujang serempak menoleh ke arah pintu saat mendengar salam dari seseorang yang baru saja masuk kamar.
"Jack?"
"Haii, Sayang." Jacob refleks saja mencium sebelah pipi istrinya, tidak perduli dengan dua orang lain dalam kamar itu.
Rangga mendengus halus saat mendapati hal yang membuatnya begitu jengah itu.
"Kakek, bagaimana kondisi Kakek sekarang?" tanya ramah Jacob sembari menatap ramah pada kakek Ujang.
Kakek Ujang mengangguk pelan, "Alhamdulillah. Baik."
"Oh ya, Al. Ibu tadi bilang padaku tentang satu hal." Jacob terdengar sedikit serius.
"Tentang apa?" Alesha menatap heran suaminya.
"Kebetulan di sini ada Kakek, dan..." Jacob sedikit malas melanjutkan kata-katanya, "juga Rangga. Aku mau menjelaskan satu hal."
Rangga juga Kakek Ujang tak kalah melayangkan tatapan herannya pada Jacob.
"Ibu meminta agar beberapa minggu sebelum Alesha melahirkan nanti, Alesha akan dibawa ke Florida, ke rumah ibuku dan tinggal di sana selama beberapa bulan," jelas Jacob.
"Hah?" kening Alesha menyerngit sempurna. Apa maksudnya itu?
"Itu untuk keamananmu, Al." Jacob menatap istrinya, "Kakek dan Rangga boleh ikut tinggal di sana.
"Jadi, kita akan meninggalkan mansion ini?" sebelah alis Alesha terangkat.
Jacob mengangguk, "Hanya untuk beberapa bulan saja. Mungkin sampai Baby J berumur tiga atau empat bulan."
"Lalu siapa yang akan menjaga mansion ini, Jack?"
"Ada banyak anak buahku di sini. Kenapa harus mengkhawatirkan mansion ini?" Jacob balik bertanya.
"Kau yakin, beberapa bulan tinggal di rumah Ibu?"
"Kenapa tidak? Lagi pun kau pernah tinggal di sana beberapa hari sebelumnya, saat kita dalam misi ketika kau masih jadi murid WOSA. Kurang aman apa mansion ibuku? Kau akan aman di sana," balas Jacob.
Alesha sedikit tak nyaman dengan pesan yang suaminya katakan barusan. Pasalnya, ayolah, tinggal beberapa bulan di rumah mertua? Belum pernah ia tinggal di mansion Laura sejak ia menjadi istri mentornya itu. Apa? Bagaimana rasanya tinggal di rumah mertua? Apa seburuk yang ia tahu dari orang-orang, dan para ibu-ibu sekitarnya dulu? Tapi sepertinya tidak. Laura bukan ibu mertua yang buruk. Sama sekali tidak. Laura justru sudah seperti ibu kandung bagi Alesha. Laura, meski terlihat jutek, dingin, atau semacamnya, dia tetap seorang ibu yang hangat, dan lembut, penuh kasih sayang dan pencemas. Aura dingin berwibawanya sebagai pemilik sebuah induk perusahaan besar akan lenyap saat wanita paruh baya itu sedang bersama anak-anak, cucu, dan kedua menantunya.
*****
Satu minggu berlalu.
Tepat dua hari lalu, Jacob berhasil melacak kemana Vincent, dan Theo bersembunyi. Sementara Theora masih mendekam di dalam sel milik SIO. Kondisi Levin juga berangsur pulih setelah empat hari koma. Juga Eve, dia bahkan mengatakan sudah siap turun lapangan lagi walau dokter SIO memaksanya untuk tidak melakukan itu. Maklum, Eve masih tidak mau disaingi oleh Jacob. Dendam masa lalu, saat Jacob mengalahkannya dalam duel siapa cepat yang berhasil mengalahkan musuh lebih dulu membuat Eve selalu geram dan bersemangat tinggi untuk membalas kekalahannya itu.
"Haii, Eve." Jacob menyapa santai seraya menyeringai. Ia sedang berada di pusat kantor SIO di Selandia Baru saat ini. Mr. Frank yang memanggilnya untuk datang, membahas, dan menyusun rencana penangkapan Theo dan Vincent. Juga, untuk mengintrogasi Theora sebab Mr. Frank tahu satu fakta bawah Theora hanya mau membuka suaranya saat berhadapan dengan Jacob. Walau hanya sedikit, setidaknya Jacob berhasil mendapatkan beberapa informasi dari Theora yang dapat membantu agent SIO menangkap Vincent dan Theo.
Lalu bagaimana Alesha?
Tenang saja, bumil itu aman. Ada banyak anak buah Laura yang menyamar di sekitaran mansion Jacob saat ini. Toh, Jacob juga tidak lama. Siang sampai, sore pulang, kembali ke Indonesia.
"Kau masih lemah rupanya," ledek Jacob.
Eve mendengus, "Haruskah aku menghajar dan menghabisimu saat ini untuk membuktikan pada dokter SIO kalau aku sudah mampu turun lapangan?"
Jacob terkekeh, "Kasihan. Sayangnya kau tidak akan bisa melakukan itu. Lihatlah, kau hanya bisa duduk lemah di atas kasur pasien, sementara aku, dihabisi banyak musuh, babak belur, aku masih bisa berdiri kuat, menghajar anak buah komplotan mafia itu. Aku semakin unggul banyak seperti sekarang. Berapa banyak musuh yang sudah kau habisi? Aku masih tetap unggul. Aku masih yang terbaik di SIO."
"Omong kosong kau, Jack!" Eve memutar kedua bola matanya dengan jengah.
"Oh ya, istriku mengirimkan ini untukmu." Jacob memberikan sebuah kotak makan berisi olahan seumur daging. "Entahlah, aku tidak tahu kalau ternyata dia pernah membuatkan mu makanan ini saat masih di WOSA dulu." Ia terlihat sebal. Cemburu lebih tepatnya.
Eve terkekeh, "Alesha ingat tentang itu?"
Jacob mengedikkan kedua bahunya dengan malas, "Dia bilang, dia membuat itu untuk mentor yang sudah membantunya belajar menembak. Dia mengkhianatiku sebagai mentornya rupanya."
__ADS_1
Eve tertawa, cukup cekikikan. "Iya, kenapa? Kau cemburu? Marah? Waktu itu, Alesha datang padaku sendirian dengan wajah cemberut, kesal padamu. Bilang kalau kau baru saja memarahi, memaki, dan menghukumnya. Dia bilang kalau kau menyebalkan saat mengajarinya menembak dan memegang pistol. Dia memujiku awalnya, tahu kalau aku adalah penembak terbaik di SIO. Dia meminta aku mengajarinya tanpa sepengetahuan siapa pun, apalagi kau."
"Jadi, kalian sering menghabiskan waktu berdua untuk latihan menembak?" Jacob berseru kesal. Menatap tajam rivalnya itu.
"Tidak. Aku mengajarinya di hutan belakang WOSA, tempat latihan menembak. Langsung di hutan bersama beberapa agent SIO lain yang ikut latihan di sana." Eve menjawab santai.
"Berapa lama kalian melakukan itu?" Jacob menekan pertanyaannya.
"Tiga bulan mungkin. Kalau tidak salah. Dia bisa menembak semata-mata bukan karna kau yang mengajarinya, Jack. Tapi aku yang membantunya menyingkirkan rasa takut terhadap pistol itu. Kau pernah melihat Alesha menembak sesuatu menggunakan pistol? Dia penembak yang cukup ulung, Jack. Hanya tiga bulan, dia berhasil mengalahkanku dalam duel tembak di arena latihan menembak di hutan belakang WOSA."
Jacob berdecak kesal. Ia cukup menghentakkan kotak makan itu pada meja sebelah tempat tidur pasien Eve, sejurus kemudian, ia pergi begitu saja. Marah.
Sementara Eve, ia hanya terkekeh. Ia ingat percis, setelah Alesha mengalahkannya dalam duel tembak, besok malamnya, Alesha datang ke ruangannya, membawakan semur daging yang sangat enak sembari berterima kasih karna sudah diajari menembak. Alesha sih bilangnya kalau dia yang langsung membuat semur daging itu setelah susah payah meminta izin pada kepala kantin WOSA. Salah satu balas dendam yang cukup memuaskan untuk Eve, membantu Alesha latihan menembak, jelas Jacob pasti akan sangat marah dengan hal itu. Apalagi Alesha bisa pandai menggunakan pistol karna ia lah yang melatih dasar, dan teknik pentingnya, bukan Jacob.
"Jack?" Aldi, yang juga berada di SIO menyapa Jacob dengan wajah terheran-heran. Jacob terlihat kesal. Ada apa?
"Apa?" tanya malas Jacob.
"Mr. Frank bilang kalau kau bisa kembali ke Indonesia sebentar lagi. Bersama Eve dan beberapa agent SIO yang lain," ucap Aldi.
"Eve?" Jacob sedikit memekik. Hey! Bukankah Eve masih butuh waktu untuk pemulihan beberapa hari, bahkan minggu kedepan?
"Iya." Aldi mengangguk. "Dia akan melanjutkan proses pemulihannya di Indonesia. Dokter SIO bilang kalau Eve bisa turun lapangan beberapa hari lagi."
"APA?" Jacob benar-benar memekik. "Tapi... Tapi..." Ia menelan ludahnya tidak percaya, "Tapi dia belum pulih betul."
Aldi menatap heran kawannya itu. Ada apa dengan Jacob? Kenapa terlihat tidak setuju. Ralat! Tidak suka mungkin. Apa salahnya kalau Eve turun lapangan beberapa hari lagi? Atau itu karna persaingan mereka yang terkenal sebagai rival di SIO?
"Aku tidak tahu soal itu. Bukan urusanku." Aldi mengedikkan kedua bahunya dengan santai.
"Kau tidak ikut ke Indonesia, Al?" tanya Jacob.
"Tidak. Aku harus kembali ke WOSA secepatnya. Mr. Thomson sudah menungguku sejak kemarin," jawab Aldi.
Jacob mendengus samar. Ugh! Ini menjengkelkan! Eve benar-benar membuat moodnya hancur hari ini.
Suami Alesha itu melanjutkan kembali langkahnya, menuju ruangan yang ia tempati dulu.
Setibanya di ruangan yang dituju, tepatnya setelah duduk santai di atas kasur, ponsel Jacob berdering. Menerima panggilan video dari istrinya.
Meski malas, akhirnya Jacob menerima video call tersebut.
Alesha : Assalamualaikum, hallo, Mr. Jacob.
Alesha menyapa hangat.
Jacob mendengus. Wajahnya datar, dingin.
Jacob : Waallaikumussalam. Al, sudah berapa kali aku bilang....
Alesha : Stop memanggilmu dengan sebutan Mr. Jacob karna kau adalah suamiku, dan bukan mentorku lagi.
Alesha memotong tepat.
Alesha : Ya, aku akan mencoba untuk berhenti memanggilmu itu, Jack. Oh ya, kau kapan pulang?
Jacob menatap lurus istrinya yang melayangkan ekspresi ceria padanya.
Jacob : Sebentar lagi. Kenapa?
Alesha : Merina, Maudy, dan Nakyung membawa Moza, Mauza, Bonnie dan Bunnie, Jack. Aku kesal sekali. Mereka tidak bilang padaku dulu masalahnya. Aku sudah bilang kalau aku tidak akan memberikan empat hewan kesayangan ku itu pada siapa pun!
Alesha cemberut. Ia sengaja menghubungi Jacob untuk curhat.
Jacob hanya menyimak. Malas.
Alesha : Jack, kau masih lama, ya pulangnya?
Kali ini, Alesha terdengar lirih. Ia terlihat sedih.
Alesha : Rangga melarangku keluar rumah, Mona juga bilang kalau aku tidak boleh makan pedas lagi. Wiliam tidak kalah protective-nya seperti Rangga, dia bilang kalau dia yang bertanggung jawab di mansion kita selama kau ke kantor SIO pusat. Kucing dan kelinciku juga dibawa oleh teman-temanku. Aku bosan sekali, tidak ada teman.
Jacob masih menyimak. Malas.
Alesha : Jack, aku bosan tahu.
Alesha : Jack...
Alesha : Big Guy...
Jacob : Apa?
Alesha : Kau mendengarkan aku, kan?
Jacob : Iya.
Alesha : Kau jutek sekali, sih. Kenapa?
Jacob : Tidak apa-apa.
Alesha : Kau terlihat sedang malas. Kenapa? Kau terganggu dengan panggilan video ku, ya?
Jacob : Tidak.
Alesha : Baiklah kalau begitu. Maaf, Jack. Aku akan menghubungimu lagi nanti. Assalamualaikum.
Belum sempat Jacob membalas salam, Alesha sudah lebih dulu memutus panggilan video itu.
"Waallaikumussalam..." Jacob menatapi layar ponselnya. Ia mendengus. Dasar bumil! Sensitif sekali, sih! Padahal ia sudah berusaha sebiasa mungkin agar Alesha tidak curiga kalau ia sedang marah.
Tapi ah, sudahlah. Jacob benar-benar sedang malas saat ini.
Tok... Tok... Tok...
Seseorang mengetuk pintu ruangan Jacob.
"Masuk, tidak dikunci," sahut Jacob.
Seorang petugas berseragam kebersihan SIO muncul dari balik pintu.
"Mr. Jacob, Mr. Frank memanggilmu untuk ke ruangan pertemuan sekarang."
Jacob menghela napas sabar. Ya ampun, ia baru saja duduk beristirahat.
__ADS_1
"Iya, aku akan ke sana sekarang. Terima kasih," balas Jacob. Entah apa yang hendak dibicarakan lagi oleh Mr. Frank. Belum cukup, kah dua jam setengah tadi mereka menghabiskan waktu di ruang pertemuan untuk rapat, membahas rencana penangkapan Vincent dan Theora?