Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Gangguan


__ADS_3

Keesokan harinya.


Pukul tujuh pagi waktu Australia bagian barat, Tessa sudah berdiri diambang pintu sembari menggendong bayinya, Nicholas yang baru saja terbangun.


Levin sendiri sedang memasukkan tas, dan kopernya ke dalam mobil untuk menuju bandara. Namun kegiatan Levin pun tiba-tiba terhenti ketika ia mendengar suara jagoan kecilnya yang berteriak lalu menangis kencang.


"Tessa, ada apa?" Tanya Levin sembari menghampiri istrinya yang tengah termenung.


"Dia tidak ingin ditinggalkan oleh Dady nya," Jawab Tessa, lirih. Pandangan wanita itu lurus sendu tanpa menatap balik pada suaminya.


Levin menghela lalu menghembuskan napasnya, berusaha untuk tetap tenang, tetapi tangisan Nichole semakin kencang, membuat Levin merasa kasihan terhadap pangeran kecilnya itu.


"Kemari, sayang.." Jacob mengambil alih tubuh putranya. "Hey, kenapa kau menangis?"


Tangisan Nichole tidak lerai juga meskipun sudah berada dalam pangkuan dadynya. Entah apa yang terjadi baca bayi yang berusia enam bulan itu. Tessa bahkan sudah menundukkan wajahnya, dan mulai menangis.


Tessa takut, benar-benar takut. Ia khawatir Levin akan mengalami hal buruk.


"Tessa, jangan menangis...." Levin membelai lembut sembari menghapus jejak air mata pada pipi istrinya.


"Cepatlah selesaikan pekerjaanmu, tidak usah pikirkan aku, dan Nick di sini," Lirih Tessa yang sengaja memberikan sindiran pada suaminya.


Tentu saja Levin memahami ucapan istrinya barusan. "Kalian akan selalu ada dalam pikiranku, dan aku akan kembali untuk kalian, aku janji itu, aku akan baik-baik saja, Tessa..." Levin menjeda ucapannya. "Karna aku sangat menyayangi kalian berdua."


Cup...


Satu ciuman lembut pun Levin berikan pada bibir istrinya. Dalam hatinya, Levin merasa begitu berat untuk meninggalkan istri, dan anaknya, tetapi Levin sudah berjanji kalau ia akan kembali dalam keadaan baik-baik saja, dan Levin akan menepati janji itu.


"Aku mencintaimu, Tessa..." Ucap Levin dipenghujung ciumannya bersama sang istri.


Seolah tahu Dady nya akan pergi, Nicholas terus saja menangis dalam gendongan Levin.


"Hey, sayang, ada apa?" Levin membelai lembut pipi bayinya itu.


"Tessa, apa yang terjadi?" Levin berbalik tanya pada istrinya.


"Mungkin dia lapar."


"Kalau begitu beri dia makan dulu," Levin menyerahkan tubuh putranya pada sang istri.


Tessa pun segera mengambil alih tubuh anaknya lalu membawanya ke dalam rumah, dan duduk disofa ruang tamu.


Sembari menunggu beberapa agent SIO yang lain yang juga akan ikut bersama Levin hari ini, Levin pun memilih untuk menemani Tessa, dan terduduk tepat disebelah istrinya itu.


Setelah beberapa saat berlalu, akhirnya Nicholas berhenti menangis karna mendapatkan ASI dari momy nya. Tessa yang semula menangis juga kini sudah tidak mengeluarkan air mata lagi.


"Aku mencintaimu, Tessa.." Levin menyadarkan wajahnya pada bahu istrinya. Tidak lupa ia juga memberikan pelukan untuk istri, dan anaknya.


...*****...


03.15 WIB, Bandung, Indonesia.


Suara jerit tangis seorang bayi mungil yang bukan lain adalah Alshiba kini membuat semua orang yang berada dalam mansion dilanda kepanikan.


Bagaimana tidak? Sejak pukul dua belas malam Alshiba tidak henti-hentinya menangis. Sudah diberi ASI berkali-kali, sudah ditimang, mencoba untuk ditidurkan, semua itu sia-sia. Alshiba terus saja menangis kencang, dan hal itu sungguh membuat Alesha takut setengah mati, begitu pula Jacob. Mereka takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada bayi mereka.


"Sha, Alshiba baik-baik aja, dia gak demam gak apa, Sha," Ucap Sulis yang mencoba untuk memenangkan Alesha. Ya, dokter muda itu dijemput oleh Taylor ke rumahnya, dan sudah hampir dua jam berada di mansion Jacob, dan Alesha.


"Hiks, Dede jangan nangis terus dong, sayang, Bunda takut, hiks," Alesha terus membelai, dan mengelus putri kecilnya yang masih belum juga menghentikkan tangisannya.


Di dalam kamar itu, terdapat Alesha, Jacob, Laura, Laras, Taylor, Sharon, dan kedelapan kawan Alesha. Mereka sudah benar-benar bingung mencari cara untuk meredam tangisan si kecil Alshiba.


"Hiks, Jack, mending kita keluar kamar sekarang," Lirih Alesha disela-sela tangisnya. "Kayanya Alshiba ngeliat atau ngerasain sesuatu, hiks..." Lanjut Alesha sangat pelan. Matanya terpejam, tubuhnya bergetar karna sesegukan, dan ia juga sepertinya tahu penyebab dari Alshiba yang terus-menerus menangis tiada henti sejak tengah malam tadi.

__ADS_1


"Apa? Ngerasain sesuatu?" Jacob mengerutkan keningnya, menatap bingung pada sang istri.


"Jangan banyak bertanya, kita pindah sekarang!" Alesha bangkit begitu saja hingga membuat orang-orang yang ada di dalam kamar itu terkejut.


"Alesha, kamu mau kemana?" Tanya Laura sedikit meninggikan suaranya.


Alesha tidak membalas, ia terus berjalan meninggalkan kamar yang sepertinya sedang dikunjungi oleh sesuatu tak kasat mata.


Alesha itu sangat sensitif, dia memang tidak bisa melihat, tapi jika disaat-saat tertentu Alesha selalu bisa merasakan apa yang tidak orang lain rasakan. Hanya saja selama ini Alesha tidak pernah memperdulikan hal itu. Bisa dibilang bawaan dari turunan, tepatnya dari kakek Alesha sendiri karna sebenarnya kakek Ujang bisa melihat hal-hal yang berada di dimensi lain.


"Sulis, tolong puterin ayat kursi," Ucap Alesha setelah ia tiba di ruangan khusus keluarga.


Tidak mau banyak bertanya meski merasa bingung, Sulis pun segera menuruti apa yang Alesha perintahkan.


Bacaan ayat kursi pun diputar, dan terdengar di setiap penjuru ruang keluarga di mansion itu. Bibir Alesha pun turut bergerak untuk membacakan bacaan ayat kursi tersebut, tidak lupa ia juga menaruh telapak tangannya pada dada si putri kecil itu.


"Jemput kakek sekarang!" Titah Alesha pada suaminya, Jacob.


Jacob pun langsung menuruti apa kata istrinya, tetapi bukan ia yang menjemput kakek Ujang, melainkan Taylor.


"Taylor, jemput kakek sekarang!"


"Baik, Tuan," Taylor menangguk lalu segera pergi.


"Laa Haulaa, Walaa Kuwataa, Illabillah...." Alesha terus mengucapkan kalimat itu untuk meminta perlindungan dari Sang Pencipta.


Semua orang yang berada disekitaran Alesha, dan Jacob pun terdiam. Mereka kebingungan dengan apa yang terjadi pada Alshiba, dan kenapa Alesha terus membacakan ayat-ayat suci?


Tetapi lambat laun, setelah beberapa menit berlalu Alshiba perlahan berhenti menangis. Bayi itu seolah terbius, dan berubah tenang ketika bundanya membacakan ayat-ayat suci.


Mendapatkan kesempatan, Alesha pun meminta para lelaki yang ada di ruang keluarga itu untuk keluar, kecuali Jacob. Ia pikir dengan memberi ASI pada Alshiba dapat membantu untuk bayi itu tertidur.


"Al, sebenarnya ada apa?" Bisik Jacob.


"Melihat sesuatu di kamar, maksudmu?"


"Jack, Alshiba berjam-jam tidak berhenti menangis, dia juga tidak demam atau sakit, lalu apalagi kalau bukan ada gangguan dari mahluk lain?"


Seketika Jacob tertegun.


Apa benar yang dikatakan Alesha kalau ada hantu atau mahluk sejenisnya yang mencoba untuk mengganggu anaknya.


"Kau tidak merasakannya? Di kamar kita sangat panas, dan pengap, auranya tidak enak, Jack," Lanjut Alesha.


"Aku tidak merasakan apapun," Jacob menggelengkan kepalanya, pelan.


"Ya, kau benar, Alesha!" Tiba-tiba Nakyung menyahut. "Aku juga merasa kalau hawa di kamar kalian panas, dan sedikit pengap, padahal AC kalian nyala."


Alesha pun menengok pada suaminya. "Kakek tahu, dia bisa melihat apa yang tidak bisa kita lihat, kadang kakek juga sering berkomunikasi dengan mahluk-mahluk itu."


Jacob menghela dan menghembuskan napasnya. Ia terdiam dengan arah pandangan menuju Alshiba yang tengah menyusu pada bundanya.


"Tapi Alshiba tidak apa-apa kan sekarang?" Tanya Jacob.


"Sepertinya, semoga saja. Kau terus berdoa atau membaca ayat-ayat Al-Quran, dalam hati juga tidak apa-apa," Jawab Alesha.


Jacob mengangguk. Kemudian sebelah telapak tangannya mulai mengusapi kepala Alshiba.


...*****...


30 menit berlalu.....


Taylor pun kembali bersama kakek Ujang yang berjalan di belakangnya.

__ADS_1


"Assalamualaikum...."


"Waallaikumussalam... Kakek!"


"Eneng, ada apa?" Kakek Ujang pun berjalan menghampiri cucunya.


"Kek, Alshiba dari semalem nangis terus, nangisnya kenceng pula. Eneng takut, Kek, soalnya udah diperiksa sama dokter," Alesha menunjuk pada Sulis. "Tapi Alshiba gak kenapa-kenapa, gak sakit, gak apa. Eneng takutnya ada yang gangguin Alshiba, Kek," Alesha memasang wajah memelas.


"Iya, Neng, emang di rumah ini beberapa penghuni. Dari awal waktu itu kakek ke sini kakek udah liat, cuman ya kakek pikir gak bakal ganggu makanya kakek biarin," Ucap Kakek Ujang.


"Astagfirullah.... Trus sekarang gimana, Kek?" Tanya Alesha, lemas.


"Eneng ngerasain gak?" Tanya balik kakek Ujang.


"Iya, di kamar, Kek, makanya Alesha pindah ke sini."


"Hm, yaudah boleh kalau kakek ke kamar eneng dulu?"


"Iya, kek gak apa-apa, liatin sekalian sebenernya ada apa, trus kenapa gangguin Alshiba."


"Iya, Neng."


"Taylor, tolong anter kakek ke kamar sekarang!"


Perintah Alesha berusan langsung dipatuhi oleh Taylor. Kakek Ujang pun pergi menuju kamar Alesha, dan Jacob untuk melihat mahluk apa yang sudah mengganggu Alshiba.


"Al... ?" Panggil Jacob.


"Kakek akan cek kamar kita untuk melihat siapa yang sudah mengganggu Alshiba, Jack," Jelas Alesha.


Jacob mengangguk paham. Berbeda dengan Laura, ibu mertua Alesha itu kini mendekati menantunya.


"Alshiba sudah tertidur, Al?" Tanya Laura.


"Sudah, Bu, semoga saja dia tidak menangis lagi," Balas Alesha.


"Sebenarnya ada apa, Al? Kenapa cucu ibu terus menangis?" Laura pun mengambil tempat untuk terduduk disebelah menantunya.


"Sepertinya ada yang coba buat ganggu Alshiba, Bu, tapi bukan dari dunia kita."


"Apa?" Kerutan pada kening Laura pun kian terlihat ketika ekspresi bingung terbentuk.


"Alesha merasa ada yang aneh di kamar sejak tadi, tapi Alesha coba untuk berpikir positif. Namun, setelah Sulis bilang kalau Alshiba baik-baik saja, dan tidak sakit, Alesha langsung bisa mengambil kesimpulan kalau ada sesuatu dari dunia lain yang coba buat ganggu Alshiba. Apalagi kan mansion ini dulu.... " Tiba-tiba Alesha menjeda ucapannya. Kedua iris coklatnya pun langsung menatap bingung pada Jacob. "Sebelum ada mansion ini, di sini tempat apa, Jack?"


"Hah?" Jacob malah balik menunjukkan ekspresi bingung pada istrinya. "Maksudnya?"


"Sebelum ada mansion ini di sini tempat apa?" Ulang Alesha.


"Tempat apa? Bukan tempat apa-apa. Hanya ada lahan tanah, dan beberapa pohon besar saja, Al."


"Pantesan!" Gumam Alesha. "Dari sejak mansion ini dibangun kita belum melakukan syukuran bukan?" Alesha kembali memasang ekspresi tanya pada suaminya.


Jacob hanya mengangguk ragu. Sebenarnya iya, memang dari sejak mansion itu dibangun mereka belum sempat melakukan syukuran, dan selametan, bahkan mereka baru mengingat hal itu sekarang. Ya ampun!


Alesha menghembuskan napasnya dengan kasar. "Setiap tempat pasti ada penunggunya, Jack."


"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Tanya Jacob.


"Besok atau lusa kita adakan syukuran, pertama untuk menghargai penunggu yang mendiami tempat ini, kedua kita juga berdoa semoga kedepannya rumah ini selalu diberkahi, dan dijaga oleh Allah, mengerti!" Jawab Alesha.


"Tunggu aku masih kurang paham. Jadi sebenarnya mansion kita ini tempat yang angker?"


"Ya ampun, Jack!" Alesha menepuk keningnya sendiri. "Semua tempat itu pasti sudah ada penunggunya, entah itu mahluk jenis apa yang pasti bukan dari dunia kita! Semua tempat! SEMUA!" Alesha mempertegas ucapannya. "Tapi kita harus saling menghargai, dan tidak saling mengganggu. Kita hidup berdampingan dengan mahluk-mahluk itu, tentunya kita juga berbagi dunia, hanya saja berbeda dimensi juga ruang, dan waktu. Dan mungkin salah satu penunggu di mansion ini ada yang jahil, dan mencoba untuk mengganggu Alshiba."

__ADS_1


Semua yang ada di dalam ruang keluarga itu terdiam setelah mendengar penjelasan dari Alesha, kecuali Sulis. Sebagai orang Indonesia, tentunya Sulis sudah terbiasa dengan hal-hal yang berbau mistis, berbeda dengan orang asing atau bule yang kebanyakan tidak mempercayai adanya mahluk halus atau tempat tinggal bagi mahluk halus.


__ADS_2