
"Geli, Jac..." Alesha tertawa kecil saat Jacob mengusapi seraya menggelitiki perutnya.
"Aku tidak sabar, Al. Ingin segera melihat Baby J. Kalau laki-laki, dia pasti akan tampan sepertiku."
"Dih, percaya diri sekali kau. Memangnya kau tampan?" Alesha terkekeh, "Tidak, kau tidak tampan. Baby J akan mirip denganku."
"Mirip kita berdua. Itu adil." Jacob mencubit gemas ujung hidung istrinya.
"Oh ya, Taylor dan yang lain kenapa belum tiba, ya?" Alesha menoleh ke arah jendela kamar. Hujan sedang turun lebat saat ini. Rehan ikut bersama kakeknya ke kebun sebelum hujan turun, dan belum pulang, Pia ada di kamar lain.
"Sabar. Mereka pasti akan langsung menjemput kita," balas Jacob seraya memeluk dan menyandarkan tubuhnya dengan manja pada Alesha.
"Kau yakin?"
"Tentu saja. Tidak sulit untuk mereka menemukan kita setelah aku menghubungi tadi."
Alesha menghela napas sabar. Ia mengusapi rambut suaminya dengan lembut. Sementara yang diusapi memejamkan matanya dengan nyaman.
"Tuan Taylor, Jacob kemana?"
"Tuan pergi ke Jakarta, Nona. Ada pertemuan dengan direktur perusahaan lain. Kenapa memangnya?"
"Ponselnya tidak bisa dihubungi. Sore ini dia bilang mau mengantarku ke rumah sakit untuk medical check up."
"Sepertinya Tuan tidak bisa pulang cepat. Paling cepat nanti malam, Nona. Mau aku saja yang antar?"
Kondisinya waktu itu, yang belum terlalu siap untuk menampung dua janin sekaligus membuatnya harus rutin cek kondisi kesehatan ke dokter. Jacob jarang menemaninya karna sibuk, paling, Jacob hanya akan menemaninya saat cek kehamilan saja, satu bulan sekali.
Terdapat beberapa hal yang membuat Alesha kecewa pada suaminya itu. Termasuk soal Yuna. Jacob yang kadang keras, dan seakan lebih mementingkan pekerjaan. Ia melahirkan Khalid dan Alshiba tanpa dampingan suaminya itu, lebih parahnya, kondisi kedua bayinya tergolong tidak baik. Ia selalu marah saat mengingat itu. Tapi..... Tapi tidak adil jika ia hanya melihat sisi buruknya saja, dibalik itu semuanya, ada yang lebih pantas ia unggulkan dari sosok Jacob. Tanggung jawab, kesetiaan, selalu membuatnya merasa bahagia, dan aman. Alesha tahu, Jacob mencintainya dengan sungguh-sungguh. Ia juga sama. Saat ia menghilang, Jacob tidak menyerah atau bahkan mencari sosok wanita lain. Pria itu justru terus mencarinya, hingga mereka bertemu, dan sekarang, telah hadir malaikat kecil mereka yang sedang tumbuh dalam rahimnya.
Alesha tersenyum kecil. Entahlah, ia merasa seperti mimpi sekarang. Jacob, mentornya itu sudah menjadi suaminya. Padahal waktu itu, semasa di WOSA, mereka seperti anjing dan kucing yang selalu bertengkar. Pasalnya, Jacob memang sangat menyebalkan saat menjadi mentor, teman-temannya yang lain tidak berani banyak protes, tapi Alesha, ia yang notabenenya cukup keras kepala tentu tidak takut melayangkan protes pada Jacob. Itu kenapa ia adalah anggota tim yang paling sering dihukum oleh Jacob.
Sementara Jacob, pria itu acuh saja, membiarkan Alesha tersiksa sendiri merasakan hukuman darinya. Meski itu tidak membuat Alesha kapok untuk banyak protes.
"Kenapa tertawa?" tanya Jacob tanpa beranjak sedikit pun dari posisinya.
Alesha tertawa kecil, "Tidak apa. Aku hanya ingat masa-masa saat di WOSA dulu. Aku ingin kembali ke WOSA, Jack. Menjadi anak didikmu lagi. Aku penasaran, apa kau akan tega menghukumku yang sedang hamil anakmu ini oleh sebab aku yang banyak protes dan sering jahil ke kelompok lain."
Jacob mengangkat wajahnya, menatap lamat pada Alesha.
"Kau tidak mungkin berani mengurungku berjam-jam di gudang belakang sendirian atau membersihkan kebun sembari panas-panasan, kan?" Alesha terkekeh.
"Mungkin." Jacob mengedikkan kedua bahunya. "Itu cara lama. Aku bisa menguncimu di kamar seharian atau...." Ia mendekatkan wajahnya pada Alesha, menampakkan seringai nakal.
"Tidak! Kau tidak bisa melakukan yang satu itu kalau aku hamil besar," balas Alesha.
"Oh ya?" sebelah alis Jacob terangkat. "Bagaimana kalau setengah?"
"Tidak! Eh! Ehm..." Alesha mulai kikuk. "Minggir, aku pegal." Alesha mendorong tubuh suaminya. Mengubah posisi tubuhnya sekalian mengalihkan pembicaraan. Ia meluruskan kakinya.
Sementara Jacob, ia juga ikut pindah posisi. Ia menjadikan paha Alesha sebagai bantalnya.
"Baby J...." Pria besar itu memeluk perut Alesha dengan posesif, "Cepat tumbuh, ya, Sayang."
Alesha tersenyum lebar sembari mengusapi rambut suaminya.
"Kau punya rencana nama untuk Baby J, Sayang?" tanya Jacob.
Alesha menggelengkan kepalanya, "Belum."
"Perkiraanmu, Baby J laki-laki atau perempuan?"
"Dua-duanya. Aku ingin punya anak kembar lagi. Tapi, kalau hanya satu saja tidak apa-apa. Laki-laki atau perempuan, aku akan tetap menyayanginya."
Jacob mengangguk setuju, "Baby J, love you, child."
"Bundanya tidak ikut dicium juga?"
Jacob mendongkak, "Kau mau dicium juga?"
"Tidak. Tidak usah. Kita sedang di rumah orang lain. Jangan terlalu sering menciumku. Aku tidak enak dengan Abah Halim dan kedua cucunya."
"Ya sudah." Jacob mengedikkan kedua bahunya dengan santai. "Aku mengantuk." Ia membetulkan sedikit posisi tidurnya, dan terpejam.
Alesha menghela napas tenang. Kelima jemarinya masih setia mengusapi puncak kepala Jacob dengan lembut.
Sementara itu, Geraldo dan Taylor telah tiba di pedesaan pertama. Setidaknya, mereka harus melewati tiga perkampungan dan perkebunan untuk tiba di lokasi dimana titik Jacob dan Alesha berada saat ini.
Perjalanannya masih cukup jauh. Setengah jam kurang lebih. Mobil tidak dapat memasuki perkampungan itu. Itu mengapa mau tidak mau Geraldo, Taylor bersama empat anak buah mereka harus berjalan kaki. Hampir setiap penduduk yang mereka lewati memandang aneh pada mereka. Mungkin mereka bingung kenapa bisa asa bule yang bisa jadi menyasar ke perkampungan mereka.
"Masih jauh, Geral?" tanya Taylor.
"Lumayan."
Taylor menghela napas sabar. Jalanan becek, penuh lumpur dan kotoran hewan, belum lagi gerimis. Ya ampun. Taylor berharap mereka dapat segera tiba.
***
Jacob terusik dari tidurnya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, mengumpulkan semua kesadarannya.
"Al..."
"Hmm?" sahut lembut Alesha.
Jacob langsung tersentak, dan segera bangkit. Berapa lama ia tidur dipangkuan Alesha?
"Maaf, aku ketiduran." Jacob menatap tak enak pada istrinya, "Kau pasti pegal, ya?"
Alesha menggelengkan kepalanya, "Tidak, kok. Kalau kau masih mau lanjut tidur dipahaku, silahkan."
Jacob mengusap wajahnya. "Jam berapa sekarang?"
"Jam setengah dua siang. Kenapa?"
"Taylor dan yang lain belum datang?"
Alesha menggelengkan kepala. "Lagi pun hujan baru reda beberapa menit lalu. Palingan, tadi mereka menunggu sampai hujan reda dulu untuk sampai ke sini."
Jacob tak membalas. Ia menatap ke arah pintu saat mendengar suara orang mengobrol, "Tunggu di sini sebentar." Ia beranjak dan meninggalkan Alesha.
"Eh, Si Aa udah bangun?" sapa Abah Halim yang tengah asik merokok di ambang pintu sembari menikmati gerimis kecil.
Jacob tersenyum kikuk, "I... Iya, Abah."
"Tadi Abah mau ajakin Aa sama si Eneng bakar gurame lagi. Tapi si Aa tidur, jadinya ditunda dulu."
"Bakar gurame?" ulang Jacob, "Abah pulang kapan emangnya?"
"Belum lama, sih. Lima belas menitan, lah kurang lebih. Oh ya." Abah Halim merubah posisi duduknya, bersila menghadap Jacob, "Rehan bilang, Aa tawarin dia buat latihan bela diri, ya?"
"I... Iya, Abah. Kenapa emangnya?" jawab Jacob sedikit aneh.
Abah Halim mengedikkan kedua bahunya dengan santai, "Ehm, gak papa. Tadi si Rehan minta izin ke Abah, kalau dia boleh ikut sama Aa sama si Eneng, gak buat latihan bela diri."
Lalu? Jacob menatap lamat Abah Halim, meminta kepastian.
"Sebenernya, Abah, mah ya udah, terserah si Rehan aja. Cuman.... Abah, teh rada ragu, soalnya, si Rehan, teh belum kerja. Ya, gitulah, belum ada panggilan buat kerja. Maksudnya, daripada latihan bela diri, mending kerja dulu. Buat masa depan dia juga," jelas Abah Halim, "Takutnya nanti kalau ikut si Aa malah susahin. Abah gak mau kaya gitu."
Jacob tersenyum mendengar ucapan Abah Halim barusan. Ia paham, "Enggak, kok, Abah. Rehan gak bakal susahin. Abah pengen Rehan kerja? Dia bisa kerja sama saya. Sembari latihan bela diri. Bahkan, kalau mau, dia boleh jadi anak buah saya."
__ADS_1
"Eh!" Abah Halim diam tertegun, menatap Jacob. Sungguh, kah?
Jacob terkekeh, "Serius, Abah. Anak buah saya bakal segera jemput. Lagi diperjalanan mungkin. Kalau Abah setuju, hari ini juga Rehan bakal ikut sama saya. Dia bisa pulang seminggu sekali kalau mau."
Arah pandang Abah Halim berbelok. Cucunya, Rehan sedang bediri di ambang pintu dapur sekarang, dan sepertinya mendengar percakapan terakhirnya dengan Jacob barusan. "Kumaha, Rehan? Daek, teu?"
Rehan melangkah, lantas duduk sopan diantara kakeknya dan Jacob. Ia diam, menatap kakeknya. Ia ingin sekali menerima tawaran Jacob itu. Apalagi, Jacob juga akan memberikannya pekerjaan. Tapi, bagaimana dengan Abah Halim, ia takut Abah Halim terpaksa untuk setuju.
"Abah, mah sok weh. Lamun Ujang hoyong, nya bae. Komo si Aa oge sakalian rek mere pagawean."
"Bener, Abah?" lirih Rehan.
Abah Halim mengangguk.
"Kau bisa pulang seminggu sekali, Rehan. Ada orang yang akan melatihmu di mansionku nanti," ucap Jacob. Itu adalahnya caranya untuk membalas kebaikan Abah Halim. Yaitu membantu cucu Abah Halim, Rehan menjadi seseorang yang sesungguhnya.
Rehan terdiam menunduk. Ia berpikir keras, menimbang tawaran yang sangat ingin sekali ia terima itu.
"Ngan, Abah pesen hiji, Han."
Rehan mengangkat wajahnya, menatap Sang Kakek.
"Ulah nyusahkeun si Aa jeung si Eneng lamun Rehan setuju kanu tawaran si Aa. Maneh kudu bisa mandiri. Tong ngerakeun Abah," pesan Abah Halim.
Rehan mengangguk. Pasti! Ia tidak akan menyusahkan siapa pun, dan tidak akan membuat malu kakeknya itu.
"Sok, ayena keputusan Rehan kumaha?"
Rehan kembali menunduk. Sekian detik kemudian, ia beralih menatap Jacob. Apa ia terima itu? Ya! Ia tidak boleh mensia-siakan kesempatannya saat ini. Abah Halim sudah memberi lampu hijau. Ia akan terima tawaran itu dan ikut bersama Jacob.
"Iya, aku akan ikut," ucap Rehan, serius pada Jacob.
Jacob tersenyum lebar. Akhirnya, itulah yang ia harapkan. Rencananya berjalan lancar.
Hari pun berganti sore. Saat Alesha sedang sibuk membuat keripik singkong di balai bambu bersama Pia, sebuah panggilan membuat Alesha terkejut dan menoleh ke asal suara.
"Taylor!" Kedua bola mata Alesha terbelalak. Senyumnya mengembang lebar. Ia langsung bangkit, bediri dihadapan keenam anak buah suaminya yang telah berhasil menemukan lokasinya bersama Jacob.
"Nona, ya ampun, Nona baik-baik saja, kan? Dimana Tuan Jacob?" tanya Taylor yang tak kalah bahagia sebab sudah menemukan orang yang dicarinya.
"Taylor, Geral?" Jacob muncul dari sisi kiri rumah panggung itu, disusul Abah Halim. Ia ikut tersenyum lebar, "Kalian sudah tiba? Syukurlah. Aku dan Alesha sudah menunggu kalian sejak tadi!" Ia menepuk bahu Taylor dan Geraldo bersamaan.
"Maaf, Tuan. Kami sedikit kebingungan mencari jalan. Dua jam kami berputar-putar. Sampai akhirnya kami tiba di sini. Itu pun setelah bertanya-tanya pada penduduk setempat soal kediaman Abah Halim," jawab Geral.
"Tidak masalah." Jacob membalas santai. "Abah, kenalin, mereka anak buah Jacob. Ini Geral, ini Taylor, asisten Jacob."
Abah Halim melemparkan senyum ramahnya, "Meni jararangkung, euy. Naon atuh, Neng, iyemah lain urang Indonesia, nya?" candanya pada Alesha.
Keenam anak buah Jacob saling menyerngitkan dahi. Apa yang Abah Halim katakan?
Alesha tertawa kecil, "Sanes, Abah. Atuh pan si Aa oge lain urang Indonesia. Iye kabeh, teh ti Amerika Serikat. Abah apal, teu?"
"Teing, ah. Teu apal. Si Rehan, mah bakal apal meren," balas Abah Halim.
"Nya pasti atuh apal. Ma' e'nya tiasa nyarios bahasa Inggris tapi teu apal negara Amerika Serikat, mah," kekeh Alesha.
"Nya atuh, lah. Sok, arasup hela. Titah asup, Neng. Meni kabeneran deui, eta si lauk gurame, teh karak beres dibakar. Sambel na oge tos jadi. Hayu, ah. Urang taruang hela di jero," ucap Abah Halim sembari naik ke atas balai bambu dan masuk ke dalam rumah panggunya.
Alesha tertawa kecil.
"Abah Halim bilang apa barusan, Al?" tanya Jacob.
"Dia mengajak kita untuk makan. Ayo, kita makan sekarang. Ayo, Pia," jawab Alesha.
Pia mengangguk, "Muhun, Teh."
Malamnya, tepat selepas makan malam. Seperti biasa, Abah Halim pamit untuk meronda. Tapi malam ini merondanya tidak sampai subuh. Paling tengah malam sudah pulang.
Alesha menyerahkan dua kardus besar sembako dan dua karung beras pada Pia dan Rehan. Itu adalah sebuah balasan kecil dan rasa terima kasih sebab Abah Halim juga Pia dan Rehan sudah berbaik hati mau memberikan tempat tinggal untuknya dan Jacob selama tiga hari dua malam ini. Awalnya, Pia dan Rehan menolak, apalagi Abah Halim juga belum tahu soal itu-Alesha sengaja memberikannya setelah Abah Halim pergi sebab Abah Halim pasti akan menolak tegas. Alesha meminta agar pemberian ia dan suaminya itu diletakkan di gudang lebih dahulu agar tidak ketahuan Abah Halim. Baru setelah ia dan suaminya pulang besok, Abah Halim boleh tahu soal itu.
"Nyonya Mona menangis nyaris sepanjang hari Tuan," ucap Taylor yang tengah duduk santai bersama Jacob, Geral, dan lima anak buah lain di dalam rumah dekat pintu.
"Kenapa?" Jacob mengerutkan keningnya.
"Kondisi Tuan William sempat membaik, namun sekarang kembali memburuk. Ditambah, Nyonya juga sangat mengkhawatirkan Anda. Dia tidak henti-hentinya menanyai kabar Anda padaku."
Jacob terkekeh mendengar itu. "Lalu, bagaimana setelah dia tahu kabarku saat ini?"
"Dia sangat senang, ya walau masih tetap menangis. Tapi dia memaksa agar Anda dan Nona Alesha segera pulang."
"Jack..." Alesha memanggil pelan. Ia menghampiri suaminya dan bersandar manja pada bahu pria itu.
"Apa, Al?" tanya Jacob, lembut.
Alesha membisikkan sesuatu pada Jacob.
"Hah?" Jacob terkekeh.
"Ayo...."
"Tumben." Jacob tertawa kecil. Alesha mengantuk, ingin ditemani tidur. Memang malam sudah menunjukkan pukul sepuluh, sih. Tapi tumben sekali, biasanya Alesha kalau mengantuk, ya tidur saja sendiri. Baru ia akan menyusul.
"Ayoooo...." Alesha menarik-narik lengan suaminya.
Jacob menggelengkan kepalanya, masih dengan senyum gelinya. "Aku tidur dulu, ya. Kalian bisa berjaga gantian," ucapnya seraya beranjak berdiri.
"Iya, Tuan." Geral mengangguk.
"Ayo, Sayang."
Alesha tersenyum. Akhirnya.... Entahlah, ia tiba-tiba ingin tidur, tapi Jacob juga harus ikut tidur. Entah bawaan hamil atau apa. Tapi yang ia pikirkan saat ini adalah Jacob mengelusi perutnya, ia yang terpejam, lalu beberapa saat kemudian, terlelap.
Tidak ada lampu listrik. Penerangan hanya menggunakan lampu minyak. Itu pun satu kamar satu lampu.
"Tolong elusi perutku, ya, Jack," ucap Alesha seraya menarik selimutnya. Karna hujan gerimis kecil, suhu udara menjadi sangat dingin.
"Selamat malam, Lil Ale. Selamat malam Baby J," ucap Jacob disusul mencium kening istrinya dengan lembut. "I love you, Al."
Alesha sedikit menunduk malu ketika Jacob mencium bibirnya begitu halus. Setelah itu, ia langsung memejamkan matanya, meresapi elusan tangan Jacob dipermukaan perutnya yang yang masih rata.
***
Keesokan pagi. Sekitar pukul tujuh, Alesha dan Jacob sudah bersiap. Kini, mereka sedang berpamitan pada Abah Halim.
"Abah Hampuranya, bisi engke si Rehan nyieun ririwehan di bumi Eneng. Hatur nuhun pisan ka si Aa," ucap Abah Halim pada Alesha.
Alesha mengangguk. Sembari tersenyum ia membalas, "Aya oge anu kudu na ngahatur nuhun keun pisan teh Eneng sareng si Aa, Abah. Nuhuuunnn pisan, Abah atos nulungan Eneng sareng si Aa."
"Etah teh lain samata-mata di Abah, Neng. Eta mah pitulung ti Allah melalui Abah."
"Enya, Abah. Da abdi oge meni bersyukur pisan pas papanggih sareng Abah. Da eta meren jalan na anu ku Allah tunjuk keun."
Mendadak timbul suara gemuruh diiringi angin kencang yang berputar disekitaran perkampungan itu.
Sebuah helikopter kiriman Laura tiba. Mengambang beberapa belas meter dari tanah.
"Taylor, helikopter siapa itu?" tanya Jacob setengah berteriak.
"Nyonya Laura, Tuan. Dia yang mengirimnya agar kita bisa lebih cepat sampai di mansion Anda, Tuan," jawab Taylor.
__ADS_1
Helikopter itu bergeser sedikit, mendarat di tempat yang terbuka.
"Mobil yang menunggu kita di kampung lain sudah dalam perjalanan pulang ke mansion. Kita akan menggunakan helikopter ini, Tuan," lanjut Taylor.
Rehan yang juga sudah berkemas rapih diam tertegun. Apa ia akan naik helikopter sebentar lagi?
"Kita tidak punya banyak waktu, Tuan. Nyonya Laura meminta agar kita kembali secepatnya," ucap Geraldo.
"Ayo, Sayang..." Jacob menggandeng lengan istrinya.
Alesha mengangguk, "Abah, Abi sareng anu lain indit ayena, nya. Sakali deui hatur nuhun pisan."
"Sami-sami, Neng. Kahade, nya di jalan. Sing salamet, Neng," balas Abah Halim.
"Muhun, Abah. Entos atuh, nya. Assalamualaikum..."
"Waallaikumussalam...."
Alesha berjalan lebih dulu.
"Ayo, Rehan," ajak Jacob.
Rehan mengangguk. Pemuda itu menyempatkan untuk mencium tangan kakeknya sebelum akhirnya ia menyusul naik ke atas helikopter.
Sekian menit kemudian, halikopter jemputan itu pun melayang kembali, dan bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut.
Sepanjang perjalanan, Alesha banyak bertanya pada Rehan. Tentang masa sekolah pria itu, lalu tentang Pia, juga Abah Halim. Setelahnya, Alesha lanjut mengobrol dengan Jacob, sedangkan Rehan, ia asik memandangi pemandangan di bawah.
Ini adalah kali pertama Rehan naik alat transportasi udara. Benar-benar pengalaman yang tak akan ia lupakan.
Satu jam lebih perjalanan di tempuh, akhirnya helikopter itu tiba di tempat pemberhentiannya. Tidak jauh dari mansion Jacob, ada sebuah lahan luas. Cukup untuk helikopter. Setelah itu, Alesha dan Jacob, juga yang lain naik mobil jemputan. Tidak lama. Lima menit juga sudah sampai.
Dari depan pintu utama, Jacob mendapati dua orang berdiri. Mona dan Rangga. Mereka sama-sama terlihat cemas. Dan ya, tepat saat Jacob keluar dari dalam mobil, Mona berlari cepat menghampiri adik tercintanya itu.
Deg!
Tubuh Jacob sedikit terlonjak.
"Hiks, kau kemana saja? Kenapa menghilang? Kau membuatku semakin stress, Jacob! Aku pikir Dirga akan membunuhmu dan Alesha. Hiks hiks...." Ibu hamil itu menumpahkan tangisannya pada pelukan Sang Adik.
Jacob menghela napas panjang. Ia menatap Alesha. Sungguh, ia sedikit tidak enak terhadap istrinya itu.
Sedangkan Alesha, ia juga samanya, cukup terkejut saat Mona tiba-tiba saja memeluk suaminya. Tapi ia tidak masalah, sih. Jacob adalah anak bagi Mona.
"Kau baik-baik saja, kan, Jack? Kita ke rumah sakit sekarang, ya. Kau harus cek kondisimu. Aku tidak mau ada luka dalam yang dibiarkan begitu saja," ucap panik Mona seraya memegang kedua bahu adiknya.
"Ehm, tidak, Mona, aku ba..."
"Jangan menolak!" sentak Mona. "Alesha!" Ia menoleh pada Alesha, "Ikut aku, kita ke rumah sakit sekarang!"
"Rumah sakit? Untuk apa?" Jacob menyerngitkan dahi.
"Mengecek kondisi kalian berdua!" geram Mona.
"Mona, aku tidak ap..." Jacob berusaha menjelaskan, namun kalimatnya lagi-lagi terpotong.
"Jack! Kau mau membuatku semakin stress karna memikirkan kondisimu? Hah? Iya?" Mona menatap galak adiknya. "Jawab!"
Jacob tersentak.
Mendapati keadaan itu, Alesha akhirnya mengambil keputusan. Ia menggenggam telapak tangan suaminya. "Jack, aku rasa Mona benar. Kau harus diperiksa oleh dokter untuk memastikan ada atau tidaknya luka serius yang tidak kelihatan, Jack," ucapnya, pelan.
"Tapi, Al. Aku..."
"Kau tidak tahu bagaimana kondisimu. Kau merasa baik, tapi tubuhmu belum tentu. Bagaimana kalau ada luka dalam yang serius? Kau mendapat banyak pukulan, mobil yang kau bawa juga terguling hingga membuatmu pingsan cukup lama. Aku tahu maksud Mona. Aku juga mencemaskan hal yang sama. Kumohon, mengertilah... "
Jacob terdiam. Berpikir sejenak sembari menatap dua orang wanita yang ia sayangi.
"Baiklah...." Jacob pasrah. Ia akan menurut.
Alesha tersenyum kecil, sementara Mona, ia kembali memeluk adiknya.
"Hiks, aku sungguh mencemaskanmu, Jack," lirihnya.
"Kau memang selalu mencemaskan aku, Mona. Termasuk saat aku sedang berkumpul dengan teman-temanku juga, kau selalu takut terjadi hal yang buruk padaku," balas Jacob setengah jengah. Ada sedikit cerita memalukan memang dimana ia sering diejek Si Anak Mamih oleh kawan-kawannya, padahal Mona bukan ibu kandungnya, dan ejekan itu terus berlanjut sampai ia menjadi agent SIO. Mungkin saja karna sekarang ia sudah menikah, ia sudah tidak pernah mendengar ejekan itu.
***
Di rumah sakit, Jacob terpaksa harus dirawat inap. Ya, paling tidak satu hari saja. Sampai menunggu hasil tes apakah ada luka serius dan lainnya dalam tubuh Jacob.
Alesha juga ikut diperiksa, syukur saja, kondisinya tidak apa-apa. Begitu pun dengan kehamilannya.
"Aku ingin pulang," ucap Jacob.
"Tidak!" sentak Mona.
"Alesha...." Jacob menoleh pada Alesha yang berbaring di tempat tidur disebelahnya. Mereka menempati ruang kelas satu yang mana hanya difasilitasi untuk dua orang saja.
Alesha menggelengkan kepalanya. Ia setuju dengan Mona.
"Ayolah, aku tidak apa-apa. Ada apa, sih dengan kalian berdua?" Jacob menatap jengah istri dan kakaknya bergantian.
"Lebih baik kau makan biar cepat sehat!" Mona menyodorkan sendok berisi makanan pada Jacob.
"Aku tidak sakit! Dan ya ampun, Mona! Aku bukan anak kecil." Jacob menatap pasrah kakaknya.
"Cepat makan!" desak Mona.
"Aku akan makan sendiri!" Jacob mengambil alih nampan berisi makanannya dan memakannya sendiri.
Alesha tertawa meledek. Lucu saja gitu, melihat suaminya yang dimarahi oleh kakak ipar perempuannya dan diperlakukan seperti bocah kecil.
Sorenya, Rangga datang sendirian. Pria itu hampir memeluk Alesha jika saja tidak mendapati Jacob yang melayangkan tatapan galak padanya.
"Aku baik, Rangga," ucap Alesha.
"Bagaimana kandunganmu?" tanya cemas Rangga.
"Alhamdulillah, baik. Oh ya? Kakek bagaimana?" tanya balik Alesha.
"Kakek baik. Cuman, dia sempet drop karna kamu dibawa sama Dirga."
"Loh!" Aina terbelalak kaget mendengar itu, "Trus gimana kondisinya sekarang?" cemasnya.
"Gak papa, kakek udah baik-baik aja pas tau kamu udah dalam perjalanan pulang sama Jacob."
Alesha menghela napas panjang. Cemas.
"Jangan khawatir kaya gitu. Kakek baik-baik aja, Al." Rangga mencoba menenangkan.
Alesha menggelengkan kepalanya, "Aku ingin bertemu dengannya, Rangga," lirihnya.
"Besok saja. Kau istirahat sekarang."
"Aku tidak akan tenang." Alesha menatap risau kakaknya.
"Kau mau video call dengan kakek?" tawar Rangga.
Alesha langsung mengangguk. Setidaknya, dengan Video call ia bisa melihat langsung bagaimana kondisi kakeknya sekarang. Ia belum sempat masuk mansion dan mendatangi kakeknya tadi. Mona langsung membawanya dan Jacob ke rumah sakit.
__ADS_1