
Jam satu lewat lima siang waktu WOSA, Jacob, Bastian, Lucas, dan Taylor sudah berada di halaman belakang WOSA, tepatnya di area landasan pesawat.
"Jaga diri kalian baik-baik, aku tidak mau mendengar ada yang sakit, tetaplah bersama, dan awas saja jika aku mendengar kabar kalau kalian bertengkar! Jaga kesehatan juga pola makan, sering-seringlah berolah raga, jika terjadi sesuatu yang buruk segera hubungi aku!" Ucap Jacob.
"Iya, Mr. Jacob, ya ampun ucapanmu sudah seperti ucapan orang tua kepada anaknya," Balas Bastian.
"Aku memang orang tua kalian! Jadi turuti apa yang aku ucapkan demi keselamatan, dan kebaikan kalian!" Sambung Jacob.
"Kalau kau orang tua kami, berarti Alesha juga ibu kami?" Lucas terkekeh.
"Tidak," Jacob mengedikkan bahunya. "Dia tetap anakku juga, sama seperti kalian."
"Ngomong-ngomong Alesha, dimana dia sekarang?" Tanya Bastian.
"Dia sedang tidur siang di kamar," Jawab Jacob, santai.
"Tidur siang? Tumben sekali," Komen Lucas.
Jacob tidak membalas.
Selanjutnya, karna jadwal penerbangan pesawat menuju Indonesia tidak lama lagi, Jadi Bastian, Lucas, dan Taylor segera masuk ke dalam pesawat.
"Gantikan aku untuk sementara waktu, jika ada sesuatu yang genting segera beritahu aku," Pesan terakhir Jacob kepada Taylor sebelum asisten kepercayaannya itu pergi memasuki ruang dalam pesawat.
Helaan napas berat terhempas keluar dari dalam mulut Jacob, sebenarnya ia tidak ingin meninggalkan pekerjaannya, tetapi jika memaksakan untuk tetap bekerja, maka tidak ada waktu untuknya agar bisa mengembalikan ingatan lama Alesha. Untung saja, Mona pun bisa mengerti keadaannya setelah ia memberitahukan semua yang terjadi pada Alesha.
...*****...
Seiring berjalannya waktu, tahapan demi tahapan dalam proses pemulihan ingatan lama dilakukan dengan sangat baik, tidak ada paksaan, dan secara perlahan.
Hari hari yang terus berlanjut, membawa Alesha mengingat kembali beberapa hal tentang masa lalunya. Tidak banyak memang, namun itu cukup untuk membuktikan pada diri Alesha sendiri jika ia memang benar-benar telah melupakan banyak hal terutama hal terpenting dalam hidupnya.
Sekian hari yang telah Alesha lalui bersama pria yang mengaku sebagai suaminya, ia tidak mendapat adanya hal mencurigakan dari pria yang bukan lain adalah Jacob itu. Alesha malah semakin merasa nyaman setiap kali Jacob memeluknya, mengelusi rambutnya, membetulkan poni tipisnya, dan segala perilaku manis yang Jacob lakukan selalu saja sukses meluluhkan hatinya.
Kadang kala waktu malam tiba, Alesha sering mendapati Jacob yang tertidur sembari menelusupkan wajah pada lehernya, dan memeluk tubuhnya. Jika hal itu terjadi, rasanya ingin sekali Alesha memberontak, dan mendorong jauh tubuh Jacob, tapi lagi-lagi perasaannya nyaman, hangat, tenang, dan bahagia selalu menahan tubuhny untuk tetap membiarkan Jacob tertidur seperti itu.
Alesha percaya jika Jacob adalah suaminya?
Ya. Boleh dibilang iya. Kenapa? Alesha mulai mengingat beberapa hal tentang Jacob sebab foto Alshiba. Setiap kali Alesha mamandang wajah Alshiba melalui layar ponsel, bukan hanya tarikan batiniah yang Alesha rasakan, namun beberapa sekelibat pikiran asing tiba-tiba saja timbul, dan itu adalah tentang Jacob. Contohnya satu hal, Alesha ingat ketika hamil waktu itu ia sering meminta Jacob untuk mengelusi perutnya. Tapi jujur saja Alesha masih bingung dengan ingatan itu, apa itu benar? Kadang kala saat sedikit ingatan lama muncul, Alesha selalu diam seperti orang kebingungan. Apa benar ia pernah melakukan itu? Kurang lebih seperti itu yang Alesha pikirkan saat beberapa ingatan lamanya kembali.
"Jack," Lirih Alesha. Saat ini ia, dan Jacob sedang berjalan memasuki hutan. Alesha tidak tahu kemana Jacob akan membawanya, tapi sungguh Alesha sangat ketakutan.
"Tidak usah takut, sayang, aku akan membawa mu ke tempat dimana kita sering menghabiskan waktu bersama juga," Balas Jacob yang menyadari ketakutan istrinya.
"Tapi kenapa harus di tengah hutan?" Tanya Alesha masih terdengar lirih.
"Karna memang tempatnya di dalam hutan. Tapi di tengah-tengah hutan, sebentar lagi juga kita akan sampai," Jawab Jacob sembari mengelus lembut puncak kepala istrinya.
Tidak ada balasan dari Alesha. Ia hanya mengikuti langkah Jacob yang membawanya.
Selang beberapa menit kemudian, barulah Alesha tiba disebuah tempat di mana terdapat sebuah lahan yang cukup besar yang dikelilingi oleh pepohonan rindang.
"Lihatlah rumah pohon itu," Jacob menunjuk pada rumah pohon buatannya yang masih utuh, dan kokoh.
"Itu rumah pohon?" Gumam Alesha yang bisa didengar oleh Jacob.
"Iya, aku yang membuatnya sendiri. Cobalah perhatikan sekitarmu, Al, aku yakin kau bisa mendapatkan ingatan lamamu di sini," Ucap Jacob.
Alesha pun menuruti apa yang Jacob ucapkan. Ia mulai berjalan perlahan sembari memperhatikan sekelilingnya.
Tempat itu. Tidak ada, Alesha tidak atau lebih tepatnya belum mendapatkan apapun, ia merasa asing, dan biasa-biasa saja.
"Selamat ulang tahun, Lil Ale."
Apa?
Alesha segera membalikkan tubuhnya menghadap Jacob.
__ADS_1
"Selamat ulang tahun, Lil Ale," Jacob berjalan mendekati istrinya.
"Memangnya aku ulang tahun ya?" Tanya Alesha dengan polosnya.
"Tidak, sayang," Jacob menggelengkan kepalanya. "Aku pernah merayakan ulang tahunmu di sini. Maka dari itu aku mengucapkan selamat ulang tahun padamu, siapa tahu kau akan ingat."
Alesha memandang dengan ekspresi aneh pada Jacob. Merayakan ulang tahun di tempat ini? Benarkah?
"Kau mencoba untuk mengingatnya, sayang?"
Alesha menggangguk.
"Jangan dipaksakan, nanti kepalamu bisa sakit," Jacob menangkup wajah istrinya. "Aku masih memiliki banyak sekali kesabaran untuk membantumu mengingat semua yang kau lupakan, terutama tentang kita, sayangku."
"Aku sangat mencintaimu, Alesha."
Sejurus kemudian, Alesha terhenyak karna tiba-tiba saja tubuhnya terangkat. Ia segera mengalungkan kedua lengannya pada leher Jacob karna pria itulah yang mengangkat tubuhnya dengan sangat mudah.
"Jack," Alesha memandang cemas pada Jacob, ia takut terjatuh.
"Tidak apa, sayang," Balas Jacob, pelan.
Alesha memandangi wajah Jacob tanpa berkedip sedikit pun, ia khawatir jika Jacob akan melakukan hal-hal yang buruk padanya. Alesha harus waspada, ia tidak boleh lengah.
"Alesha, di sini kita sering menghabiskan waktu bersama berdua, bercanda, bercerita, kau juga sering tertidur dalam pelukanku," Ucap Jacob begitu lembut, bahkan ulasan senyum tipisnya yang manis secara tidak langsung membuat Alesha merasa tenang.
"Aku sering mengajakmu ke tempat ini karna di sini kita bisa lebih menikmati waktu berdua kita. Kau adalah gadisku yang pemberani, kau sering memintaku untuk mengajarimu bela diri secara privat di sini."
"Mengajari bela diri?" Ulang Alesha.
Jacob mengangguk. "Iya, kau tidak tahukan kalau kau itu pandai bela diri?"
Alesha menggelengkan kepalanya. "Apa aku bisa bela diri?" Jika saja benar ia bisa bela diri maka ia akan sangat senang sekali. "Aku selalu melihat Rangga yang latihan bela diri di belakang rumah kami, aku sangat ingin belajar bela diri, namun Rangga selalu melarangnya."
"Kau mau belajar bersamaku? Aku bisa melatihmu kembali," Tawar Jacob.
"Iya," Jacob mengangguk pasti.
"Aku ingin belajar bela diri, tolong ajari aku agar aku bisa membuktikan pada Rangga kalau aku bisa bela diri," Alesha berucap dengan penuh semangat.
"Kalau begitu ayo, kita bisa memulainya saat ini juga," Jacob menurunkan kembali tubuh istrinya.
"Sungguh? Oh ya ampun aku sangat bersemangat," Alesha berjingkrak riang.
"Alesha, Alesha..." Jacob menggelengkan kepalanya, ia terkekeh melihat tingkah menggemaskan istrinya.
"Ayo, pukul aku," Tanpa membuang waktu lagi Jacob segera mengambil ancang-ancang untuk menerima pukulan Alesha.
"Hah?" Namun Alesha, sebaliknya ia malah menatap bingung pada Jacob. Pukul? Pukul bagaimana? Pikir Alesha.
"Ayo cepat pukul aku. Kepalkan kedua tanganmu, dan tonjok wajahku," Lanjut Jacob.
Aku harap kau mengingatnya, Alesha..... Ucap Jacob dalam hatinya.
Alesha pun segera menuruti ucapan suaminya itu. Ia mengepalkan kedua tangannya, dan mulai bersiap untuk menonjok wajah Jacob.
Ragu sih, namun ia harus berani, ini demi bisa membuktikan pada Rangga kalau ia dapat menguasai ilmu bela diri.
"Ayo, sayang, keluarkan semua tenagamu," Ucap Jacob. "Cobalah untuk meninju wajahku, jika gagal maka kau harus langsung menunduk dengan sangat cepat. Ingat! Kecepatan sangat diperlukan, jika kau gagal meninju wajahku dalam hitungan kurang dari satu detik kau harus langsung menunduk. Kau harus bisa mencari kelemahanku, oke."
Alesha mengangguk paham.
"Jangan ragu, Lil Ale, anggap aku musuhmu. Hitungan ketiga mulailah."
Alesha menarik napasnya dalam-dalam. Apa seperti ini latihan bela diri untuk pertama kali? Mencari kelemahan? Ayolah ia saja masih merasa sangat amatir. Pikir Alesha.
"Satu.... Dua... Tiga!"
__ADS_1
Alesha segera melesatkan kepalan tangannya menuju wajah Jacob, namun dengan cepat Jacob pun menghindar.
Membungkuk!..... Alesha langsung membungkukkan tubuhnya saat perintah itu datang dari otaknya dengan sangat cepat.
Bugh!
"Argh!!" Jacob meringgis, dan mundur beberapa langkah saat Alesha menendang perutnya. Ia memegangi perutnya yang terasa nyeri karna tendangan Alesha itu sangat keras.
"Tuan Jacob!" Alesha memekik, dan berlari menghampiri suaminya. "Tuan, maaf, maaf aku tidak sengaja, itu tadi refleks, Tuan, maaf maafkan aku. Oohh, pasti sakit sekali, maaf, Tuan," Alesha begitu panik karna melihat Jacob yang membungkuk sembari memegangi perut.
"Tuan, maaf..." Lirih Alesha. Ah rasanya ingin sekali ia menangis, ia sungguh tidak sengaja. Kenapa ia bisa seberani itu? Dan kenapa tiba-tiba saja ia ingin menendang perut Jacob?
"Tidak, Alesha..." Lirih Jacob.
Lalu sejurus kemudian
Srett....
"Aaaa...." Alesha memekik karna Jacob mengunci tubuhnya dari belakang dengan gerakan yang sangat cepat. "Aaaa, Jack, sakit!"
"Apa yang akan kau lakukan jika kau diposisi seperti ini?" Jacob mencoba untuk membantu Alesha mengingat beberapa teknik bela diri yang dulu pernah ia ajarkan.
"Aaa, Jack, sakit!" Alesha memberontak.
"Itu tidak akan membuatmu terlepas, sayangku. Ayo ingat-ingatlah, kau sangat pandai bela diri, aku berusaha untuk membantumu mengingat beberapa teknik bela diri, Lil Ale."
"Tidak! Aku tidak mengingat apapun, Tuan, hiks, tolong, ini sangat sakit, lepaskan aku, hiks," Alesha mulai menangis, tubuhnya ditahan dengan kuat oleh Jacob.
"Kau adalah gadis yang pantang menyerah, sayang, ayo, aku yakin kau pasti bisa melepaskan dirimu, Alesha. Buktinya tadi kau menenang perutku, itu bukanlah refleks, tapi itu memang salah satu gerakan latihan awal, kau mengingatnya tanpa kau sadari."
"Aaa, aku tidak ingat apapun! Sakit! Tanganku sakit, sungguh! Hiks, lepaskan aku!" Alesha mulai terisak ketika rasa sakit akibat cengkraman Jacob menyebar keseluruh tubuhnya.
"Huft..." Karna tidak tega, jadi Jacob pun melepaskan tubuh Alesha dari kuncinya. Oke misi kali ini gagal.
"Hiks, sakit," Alesha memegangi pergelangan tangannya yang memerah.
"Maaf, sayang," Jacob menangkup wajah istrinya. Ugh, sungguh tidak tega Jacob, ia melihat kedua garis alis, dan ujung hidung istrinya yang memerah ditambah dengan mata yang berkaca-kaca.
"Apa yang kau lakukan? Itu tadi sangat sakit," Alesha menatap sendu pada suaminya.
"Mengajarimu kembali, Lil Ale," Jawab Jacob.
"Apa seperti itu latihan dasarnya?" Alesha kembali bertanya.
"Tidak," Jacob menggelengkan kepalanya. "Tentu saja bukan seperti tadi. Itu adalah tahap selanjutnya dari proses latihan, tapi aku memulainya dari sana karna aku berharap kau bisa langsung mengingat beberapa trik, Sayang."
"Tidak bisa langsung seperti itu!" Alesha cukup menegaskan suaranya. "Ingatanku tidak akan kembali jika dipaksakan!"
"Aku akan selalu bersabar, Alesha," Raut wajah Jacob perlahan meredup. Ia menunduk sedih.
Mendapati hal itu, terbesit sedikit luka dalam hati Alesha. Kenapa Jacob menunduk sedih? Begitulah pikir Alesha.
"Jack..." Panggil Alesha pelan.
Jacob tidak merespon apapun. Ia masih menunduk dalam sembari meratapi nasibnya.
"Jack..." Alesha mendekat, dan menyentuh bahu suaminya.
"Kenapa kau belum mengingatku juga, Alesha?" Lirih Jacob, kedua matanya mulai berkaca-kaca. "Kau tahu, terkadang rasanya ingin sekali aku menangis karna mendapati sikapmu yang seolah menganggapku adalah orang asing."
"Maaf, Jack.." Balas Alesha dengan cepat, namun pelan. Entah darimana perasaan sedih ini muncul, tapi sungguh Alesha sangat tidak tega melihat Jacob yang bersedih seperti itu.
"Aku adalah suamimu, kita sudah menikah, Alesha. Apa kau tidak percaya padaku? Hiks," Benar saja, Jacob mulai terisak.
Tidak! Itu tidak benar! Alesha percaya Jacob adalah suaminya, Alesha ingat beberapa hal tentang Jacob, dan anak mereka, Alshiba, hanya saja memang Alesha belum mengatakannya secara terus terang pada Jacob.
"Apa aku adalah orang asing untukmu, Alesha?" Jacob menatap sendu pada istrinya.
__ADS_1
"Tidak," Alesha menggelengkan kepalanya. "Aku percaya, hiks, aku ingat beberapa hal tentangmu, dan Alshiba, tapi tidak banyak."