
Stella tengah bersiap. Ia menyembunyikan kedua pistolnya dibalik jaket kulit tebal yang ia kenakan saat ini.
Sekarang pukul setengah satu siang, dan ia akan berangkat bersama Vincent untuk menjalankan rencana mereka.
Simpel saja, Stella akan menemui Alesha dan membawa Alesha pergi untuk ditemukan dengan Theo dan Theora. Stella sudah menghubungi Alesha sejak malam tadi lewat pesan teks. Ia mengatakan pada Alesha jika ia tahu semua tentang Yuna, dan ia akan menceritakan semua tentang Yuna saat mereka bertemu. Bodohnya, Alesha setuju untuk bertemu dengan Stella pukul satu siang ini dengan sembunyi-sembunyi. Tidak lupa Stella juga bilang untuk menyembunyikan percakapan mereka, karna jika Jacob tahu, maka Jacob tidak akan memberikan Alesha izin untuk mengetahui semua hal tentang Yuna.
Sementara itu Alesha sendiri, selepas beres menunaikan sholat dzuhur, ia bersiap dengan mengenakan pakaian biasa saja. Ia bilang pada Rangga dan Kakeknya kalau ia ingin pergi membeli bakso yang tiap hari penjualnya selalu mangkal di pinggir gerbang gedung apartemen. Kakek Ujang tentu tidak menaruh curiga apapun, lagi pun tukang jualan bakso itu memang berada tepat di depan halaman gedung apartemen. Tidak jauh. Tetapi Rangga, ia memutuskan untuk menemani adiknya mengingat anak buah Dirga sedang gencar mencari celah untuk bisa mendapatkan Alesha.
Awalnya Alesha menolak. Ia tidak perlu repot berhadapan dengan suaminya, Jacob sebab pria itu mendadak mendapatkan telpon genting dari salah satu petinggi perusahaan hingga membuat Jacob juga Taylor mau tidak mau harus meninggalkan Alesha sebentar dan mengurus masalah pekerjaan. Tapi Rangga, pria itu yang justru membuat Alesha jengah.
Alesha mesti mencari cara lain untuk bisa menghindari Rangga.
Di bawah, tepatnya beberapa meter dari tukang jualan bakso, Stella berjalan santai menghampiri Alesha yang terlihat menunggu bakso sebal.
"Haii...."
Alesha menoleh kesal suara sapaan barusan. Rangga juga sama, ia ikut menoleh ke arah pinggirnya.
"Hallo, Alesha, apa kabar?" Stella menyunggingkan senyum lebarnya.
"Eh, STELLA!" Kedua bola mata Alesha terbelalak sempurna. Sorot bahagia seketika terpancar dari kedua iris coklatnya. "Ya ampun, akhirnya kita bisa bertemu lagi!" pekiknya, girang. Ia menggenggam kedua telapak tangan Stella. Sama sekali tidak ingat kalau Stella adalah sahabat yang tidak lain dan tidak bukan adalah musuh dalam selimut untuknya.
Rangga memicingkan kedua matanya. Menatap seksama rambut blonde panjang bergelombang dengan setelan santai khas turis yang sedang berkeliling kota Bandung. Wanita itu adalah teman Alesha? Ia menangkap cepat interaksi adiknya dengan wanita bule tersebut.
"Aduh, aku senang sekali akhirnya bisa bertemu denganmu, Alesha," balas Stella yang tidak kalah girangnya. "Kau tau, aku selalu merindukanmu, juga saat-saat ketika kita masih di WOSA dulu."
"Iyaps, aku pun sama." Alesha mengangguk setuju. Senyum sumringah semakin mereka diwajah kedua gadis yang bertahun-tahun sudah tak bertemu itu.
"Permisi, Mas, Mbak, baksonya udah siap," ucap Si Penjual Bakso.
"Ehm, makasih, Pak." Stella lebih dulu mengambil mangkuk berisi bakso itu. Ia sudah sempat memesan lebih dulu baksonya tadi. Sesuai rencananya.
Lalu Alesha juga mengambil mangkuk baksonya, disusul Rangga.
"Ehm, Alesha, sepertinya kita butuh tempat untuk berdua saja memakan bakso ini," bisik Stella.
Alesha mengangguk. Sejurus kemudian, ia menoleh pada Rangga.
"Rangga, kau makan di sini, aku dan Stella akan makan di sana." Alesha menunjuk ke arah bangku di atas trotoar yang berjarak sekitar satu meter dari tempatnya berdiri. "Aku butuh waktu berdua dengan sahabat lamaku."
Rangga menghela napas sabar. Dasar perempuan!
"Baiklah, tapi ja...."
Belum usia Rangga berucap, Stella lebih dulu berseru riang. Ia langsung menarik Alesha menuju bangku di atas trotoar. Bahkan lebih parahnya lagi, kedua gadis itu membawa bangku plastik mereka menjauh sepuluh meter dari gerobak penjual bakso dan memulai percakapan mereka di sana.
Rangga hanya bisa mendengus sembari menggelengkan kepalanya. Baiklah, tidak masalah. Alesha masih dalam jangkauannya.
"Oh ya, Lil Ale, aku dengar kau sedang hamil. Apa itu benar?" tanya Stella sembari mulai melahap baksonya.
Alesha mengangguk sembari tersenyum manis. "Iya, aku memang sedang hamil."
"Wah! Syukur kalau begitu!" Stella berseru bahagia.
Rangga menghela napas sabar beberapa kali melihat interaksi riang dan akrab adiknya bersama gadis bule itu. Padahal, kan apa salahnya ia berada diantara mereka. Perempuan memang aneh kadang.
"Kau tahu, Al, waktu di WOSA dulu, kau adalah anggota tim yang paling dekat denganku. Teman pertamaku, dan kita duduk bersebelahan saat dipesawat dalam perjalanan menuju WOSA untuk yang pertama kalinya."
Alesha hanya tersenyum miris saja mendengar cerita Stella. Ia sama sekali tidak mengingat kejadian itu. Sedih sekali rasanya.
"Kau tidak ingat, ya, Al?" Stella berkata lirih.
Alesha menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa." Stella mengukir senyum hangatnya, "Kau akan mengingatnya kembali secara perlahan."
Alesha mengangguk lemah. "Maaf jika aku melupakan kenangan tentang kita, Stella. Tapi aku bahagia karna aku kembali mengingatmu sebagai sahabatku di WOSA."
Stella masih menyunggingkan senyum hangatnya. Kedua irisnya diam-diam memperhatikan sekitar dengan seksama, menunggu rencana pengalihan perhatian Rangga terhadap Alesha.
Kemana Tuan Vincent? Kenapa lama sekali? Pikir Stella.
Selang dua menit kemudian....
Sebuah mobil sedan hitam pekat terparkir tepat di pinggir gerobak bakso, dan seketika menghalangi pandangan Rangga untuk mengawasi Alesha.
Gawat!
Rangga berdecak sebal. Ia langsung berdiri, dan melangkah cepat menaiki trotoar untuk melihat adiknya dan tidak perduli dengan porsi baksonya yang tinggal sedikit lagi.
"Alesha!"
Deg!
Rangga tercekat! Ia tidak mendapati keberadaan Alesha di tempat yang seharusnya ada Alesha di sana.
__ADS_1
Dimana Alesha?
Bagus! Rangga panik sekarang. Jantungnya sudah bergedub tidak karuan.
Sepersekian detik kemudian, Rangga hendak berlari, namun baru dua langkah, Si Penjual Bakso meneriakinya untuk membayar tiga porsi bakso yang sudah dibeli.
Dengan tergesa-gesa Rangga mengeluarkan uang lima puluh ribu dari dompetnya dan ia serahkan begitu saja pada Si Penjual Bakso, lantas, ia segera berlari cepat setelahnya, tidak memperdulikan uang kembalian.
Sedangkan Alesha sendiri. Ia sudah di dalm sebuah sedan putih yang Stella kendarai sekarang. Ia mengikuti rencana Stella. Menunggu pengalihan perhatian Rangga, baru setelah itu, ia dan Stella cepat-cepat berlatih dan masuk ke dalam mobil untuk mencari tempat lain untuk mereka bisa mengobrol.
Tapi sayangnya, Alesha tidak tahu rencana lain yang Stella miliki. Dua kilometer setelah mobil melaju, Stella memberikan Alesha sebuah minuman chocollate dingin.
"Cobalah, Alesha. Aku ingin tahu bagaimana pendapatmu dengan usaha makanan dan minuman yang sedang aku kembangkan saat ini," ucap Stella dengan santai sembari fokus menyetir mobil.
"Hebat, Stella. Kau masih muda, dan sudah punya bisnis sendiri," puji Alesha. Tanpa sedikit pun menaruh curiga, ia mencoba minuman yang nyatanya memang terasa sangat menyegarkan namun mengandung obat tidur itu.
"WAH! Ini enak sekali, Stella!" seru Alesha dengan mata yang berbinar-binar. "Ada bobanya juga! Eh, aku rasa ini akan menjadi minuman favoritku!"
Stella terkekeh. "Terima kasih pujiannya, Al. Kau tahu, aku meracik bahan dan takaran bahannya sendiri."
"Sungguh?" Alesha menatap tak percaya kawannya itu.
Tentu saja tidak! Dasar bodoh..... gumam Stella dalam hati.
"Iya, Al. Aku belajar bersama seorang chef dari Italia juga," ucap Stella.
"Wah, kau benar-benar hebat, Stella. Semoga bisnis makanan dan minumanmu sukses, ya."
Stella mengangguk. Senyum dibibirnya masih utuh. Namun, terdapat semburat lain yang tidak dapat disadari oleh orang lain pada raut wajahnya.
Tiga menit kemudian, obat tidur itu mulai bereaksi pada Alesha. Alesha mengerjap beberapa kali. Ia pikir, harum pewangi mobil, dan AC juga laju kendaraan yang Stella bawa terasa ringan-tidak lambat tidak juga cepat-membuatnya mengantuk.
Alesha berusaha untuk tetap sadar, tapi entah kenapa, semakin lama rasa kantuk itu semakin berat.
"Kau mengantuk, ya?" Stella terkekeh.
Alesha mengangguk pelan.
"Tidur saja. Kalau sudah sampai, nanti akan aku bangunkan," ucap Stella.
Lagi dan lagi, Alesha mengangguk.
Stella menyeringai samar. Pekerjaannya sekarang ternyata jauh lebih mudah dari yang ia bayangkan. Sesekali ia menoleh pada Alesha, memastikan apakah kawan lamanya itu sudah terlelap atau belum. Hingga dua menit berselang, senyum puas terukir jelas diwajahnya.
"Bagus, Alesha. Tidurlah dengan nyaman, dan jangan bangun hingga kita sampaikan di tempat tujuan," gumam Stella bersama seringai liciknya.
Di ruang kerjanya sekarang, Jacob mengamuk. Ia membanting guci guci kecil dan pajangan lemari yang lain hingga hancur lebur berkeping-keping.
Jacob tahu kalau saat ini istrinya, Alesha sudah masuk dalam perangkap Vincent juga Stella.
Stella!
Lagi-lagi Stella berulah!
Jacob memaki dalam hati, menyumpahi gadis itu.
"Sial! Dimana mereka!"
Brak!
Jacob menggebrak meja saat ia belum berhasil melacak keberadaan Alesha.
"Taylor, hubungi Laras! Aku ingin bicara setengah jam lagi bersamanya!" titah Jacob.
"Baik, Tuan!" Taylor mengangkat patuh. Sejurus kemudian, ia langsung melaksakan perintah Jacob.
"Tidak akan aku biarkan kalian lolos kali ini!" geram Jacob. Ia mengepalkan kedua telapak tangannya. Menatap tajam ke arah layar laptop yang menyala.
...*****...
Di apartemennya, Kakek Ujang menyeka kedua kelak matanya yang basah sebab menangis sedih karna tahu kalau cucu kesayangannya telah diculik oleh orang jahat.
"Kakek, Kakek tenang, ya, Rangga janji, Rangga bakal bawa Neng Alesha pulang," ucap Rangga iba. Tapi jauh dalam lubuk hatinya, Rangga sangat kesal sebab Jacob melarangnya untuk ikut mencari Alesha. Tapi Rangga tidak perduli dengan hal itu. Ia akan tetap ikut mencari Alesha setelah ia mengetahui kabar keberadaan Alesha.
"Hey, kalian!" seru Lucas pada ketujuh kawannya yang sedang sama-sama menunggu perintah entah dari SIO atau Jacob, "Mrs. Laras memanggil kita ke kantor SIO sekarang. Mr. Jacob meminta rapat dadakan di sana untuk membahas rencana penyerangan terhadap Vincent yang saat ini berada di dalam kota ini."
Tak berpikir panjang, Nakyung segera bangkit dan berjalan mendahului kawan-kawannya, "Kalau begitu, ayo. Aku. Sudah tidak sabar ingin segera bertemu dan menghajar Stella."
Disusul yang lain, terakhir Bastian. Ia menyempatkan berpamitan lebih dulu pada Rangga dan Kakek Ujang.
"Kakek, Rangga, aku dan teman-temanku pamit dulu. Kami janji akan membawa Alesha kembali pulang dengan keadaan baik-baik saja," ucap Bastian.
"Bastian, tolong, aku mohon berikan aku informasi apapun yang kalian bahas. Aku harus ikut mencari Alesha, dia adikku, aku sudah berjanji pada ayah kami untuk menjaga Alesha," mohon Rangga.
Bastian mengangguk. Ia tahu apa yang terjadi. Tadi Jacob memaki Rangga habis-habisan lewat telepon dan melarang Rangga untuk ikut campuran dalam urusan mencari Alesha.
__ADS_1
"Aku pergi sekarang. Permisi." Bastian membalikkan tubuhnya dan melangkah cepat menyusul teman-temannya.
"Aku tidak habis pikir. Apa Stella masih benar-benar mengharapkan Mr. Jacob jatuh padanya? Apa maksudnya dia menculik Alesha sekarang?" gerutu Merina.
"Kita akan tahu jawabannya nanti, Merina," balas Nakyung seraya menekan pedal gas hingga membuat mobil yang ia kendarai itu melaju, disusul mobil yang di tumpangi kelima kawan prianya.
"Kita juga bahkan memiliki kesempatan untuk menghabisi Stella bergantian," timpal Maudy.
"Rasanya aku ingin sekali mencakar wajahnya yang suka sok cantik itu," geram Merina.
Nakyung terkekeh. "Kita akan sama-sama melakukannya."
Kedua mobil kawan Alesha itu melesat cepat menuju salah satu hutan lebat disebuah pegunungan. Lain hal dengan mobil kawan Alesha yang satu lagi, justru menjauh dari daerah perbukitan, dan melesat menuju sebuah bangunan yang nampak sedikit tak terurus dari luar.
Stella membawa Alesha menuju markas dadakan yang di tempati oleh anak buah Theo dan Theora saat ini. Sebuah gedung yang baru saja nonaktifkan beberapa bulan lalu. Bangunannya masih sangat kokoh, catnya juga masih awet, juga yang lainnya.
Vincent menyusul tiba di gedung itu beberapa menit kemudian.
Alesha yang masih dalam pengaruh obat tidur terpaksa digendong oleh Vincent menuju salah satu ruangan.
Entah bekas apa gedung itu, yang pasti, banyak sekali lorong panjang selebar dua meter. Orang bisa tersesat jika saja tidak mengetahui denah gedung itu. Apalagi gedungnya juga luas, besar, dan bertingkat tiga.
"Jacob pasti sudah tahu istrinya hilang saat ini," ucap Theora.
Ya, gadis itu sudah tiba di Bandung beberapa jam lalu. Ia duduk disofa, sembari memperhatikan wanita yang kini terlelap di atas tempat tidur.
"Jadi, dia istri Jacob? Alesha?" Theora menyeringai. Ia ingat saat Jacob mencium Alesha waktu ia ditahan di kantor SIO dulu.
Sangat menyakitkan. Namun lagi dan lagi Theora hanya bisa tersenyum miris. Jacob, pria yang ia cintai mencintai wanita lain. Itu terasa lebih buruk ketimbang kehidupan Theora selama menjadi anggota mafia.
"Dia sedang hamil," ucap Vincent.
"Apa?" Theora sedikit terkejut mendengar ucapan Vincent barusan.
"Alesha sedang hamil, hamil muda." Vincent menyeringai. Ia tahu soal perasan Theora pada Jacob. Ia pernah tidak sengaja mendengarkan perdebatan Theo dan Theora sewaktu di Greenland beberapa hari lalu.
Bagus!
Ini bahkan terasa lebih buruk lagi dari sekedar tahu jika Jacob mencintai wanita lain. Tapi Theora bisa apa? Bahkan boleh dibilang, ia tidak berdaya saat ini. Ia memang seorang mafia, tapi mafia juga manusia, dan setiap manusia pasti memiliki perasaan sedih, kasihan, dan lemah.
Theora kecewa pada Jacob, tapi melihat Alesha, hatinya terasa tertikam dengan begitu kuat. Tapi disisi lain, ia ingin sekali melampiaskan marahnya pada Alesha sebab Alesha sudah merebut Jacob darinya, tapi sekali lagi, ia tidak bisa melakukan itu. Apalagi mengetahui Alesha yang sedang hamil. Ia terlalu baik hati, lembut, dan lemah untuk seorang mafia.
Jacob akan semakin membencinya jika sampai ia melukai Alesha, dan ikut akan semakin menambah kadar rasa sakit yang saat ini menikam hati Theora bertubi-tubi.
"Jika saja aku bisa." Theora meremas pakaian yang Alesha kenakan. Ia sudah duduk di tepian tempat tidur, tepat di sebelah saat ini, "Aku ingin sekali menghajarmu, dan membunuhmu, Alesha!" geramnya dibarengi dengan turunnya tetes demi tetes air mata. "Hiks, tapi.... hiks, aku tidak bisa! Jacob akan semakin membenciku, dan dia pasti akan sangat terpuruk kalau kehilanganmu juga calon anak kalian!" lirihnya. Rahangnya masih mengeras, tatapannya masih terpaku penuh benci pada Alesha. "Aku tidak bisa melihat Jacob ku menderita, hiks. Sementara aku sendiri tidak bisa mendampinginya."
Dengan kasar Theora menyeka air matanya. Ini rumit. Satu sisi ia membenci Alesha, tapi disisi lain ia tidak bisa melampiaskan kebenciannya itu pada Alesha. Ia tidak bisa bersiap egois. Alesha tidak mengenalnya, tidak tahu hubungan dan kedekatannya dengan Jacob.
"Aku mungkin tidak bisa melakukannya, Al. Tapi entah dengan Kakakku," lirih Theora. Ia bangkit berdiri dan melangkah begitu saja meninggalkan ruangan tersebut.
Di luar, Stella menyerngitkan dahinya. Kenapa Theora menangis selepas keluar dari tempat Alesha? Ada apa?
Di tempat lain, di ruang rapat kantor SIO.
"Mr. Frank sudah tahu soal ini, Laras?" tanya Jacob.
Laras mengangguk. "Aku sudah melapor."
"Laras, Jack!" Rendi tiba-tiba masuk ruangan rapat dengan membawa tabnya, "Sepertinya aku menemukan lokasi terakhir Theo."
"Dimana?" tanya Jacob, cepat.
"Surabaya," jawab Rendi.
Jacob menyerngitkan dahinya. "Surabaya?"
"Aku dan yang lain masih berusaha melacak keberadaan Vincent, Stella, dan Alesha, Jack," ucap Rendi.
"Jacob." Laras menatap serius pada Jacob. "Ibumu memiliki banyak anak buah, kan?"
Jacob mengangguk.
"Apa SIO bisa meminjam mereka? Agent SIO banyak terluka karna menghadapi kelompok jaringan gelap, dan anak buah Theo, Jack."
Jacob terdiam sejenak. Berpikir. Ia harus meminta izin sekalian membicarakan soal ini lebih dulu dengan ibunya.
"Jack, ini juga untuk Alesha, untuk keamanan perusahaan ibumu. Jika terjadi sesuatu yang buruk pada SIO, perusahaan ibumu juga akan terkena imbasnya!" Laras membujuk, meyakinkan.
Jacob mengangguk. "Aku akan bicarakan soal ini dengan ibu. Ibu pasti akan mau meminjamkan anak buahnya."
Laras sedikit bernapas lega mendengar balasan itu.
"Tapi, Laras. Aku tidak bisa menunggu lebih lama." Jacob nampak khawatir. "Mereka bisa jadiin sudah membawa Alesha ke luar kota, atau lebih buruknya, mereka melakukan hal yang jahat pada Alesha."
"Iya, Jack, aku tahu, aku tahu rasanya. Hawa hilang diculik beberapa hari lalu, aku tahu perasaanmu. Kita pasti akan segera bergegas untuk mencari Alesha sekalian menangkap komplotan mafia itu." Laras mencoba untuk menenangkan kawannya itu. "Mereka menjadikan Alesha sandraan, dan Mr. Frank akan segera memberikan perintah lanjutan. Kau bersabarlah. Aku tahu perasaanmu, aku sangat tahu kecemasanmu."
__ADS_1
Jacob menghembuskan napasnya, pasrah. Ia menangkup wajah dengan kedua telapak tangannya. Cukup frustasi memikirkan kondisi istrinya sekarang.