
Pagi harinya, sekitar pukul tujuh lewat beberapa menit, Alesha keluar kamar bersama bayinya, Alshiba yang juga baru saja beres dimandikan. Niat hati ingin berjemur di sekitaran rumah, tetapi karna matahari masih berada di ambang pagi, jadi Alesha menunggu terlebih dahulu di dalam mansion besar itu.
"Baby......." Lengkingan suara seorang gadis tiba-tiba saja tertangkap oleh gendang telinga Alesha.
"Sharon?" Refleks, Alesha mengangkat sebelah alisnya ketika mendapati Sharon yang berlari kecil ke arahnya.
"Haii Alesha..." Sapa ramah Sharon dibarengi dengan senyuman yang begitu menawan. "Aaa, Baby Shiba...."
Alesha sedikit terlonjak ketika adik iparnya itu membungkukkan tubuh agar bisa menjangkau wajah bayinya.
"Baby, Aunty punya hadiah untukmu," Gemas Sharon sembari menaruh satu kecupan lembut pada pipi keponakannya.
"Hadiah?" Gumam Alesha.
"Iya," Sharon mengangguk dengan semangat. Lalu ia menunjukkan sebuah kotak berukuran sedang yang memang sejak tadi sudah Alesha liat, hanya saja Alesha tidak tahu kalau itu adalah kotak hadiah yang akan diberikan untuk anaknya, Alshiba.
"Kemari dulu," Sharon, gadis itu membawa kakak iparnya, Alesha untuk terduduk di sofa panjang.
"Lihatlah..." Sharon pun membuka kotak hadiah tersebut dengan penuh semangat. "Tada!!! Hadiah untuk Baby Shiba!!!"
"Waaawww.... Sharon, kau serius memberikan ini untuk Alshiba?" Tanya Alesha dengan mata yang berbinar-binar.
"Iya," Sharon mengangguk pasti. "Aku membelikan ini untuk keponakanku."
"Tapi....." Alesha sedikit tidak enak untuk melanjutkan ucapannya.
"Kenapa?" Tanya Sharon.
"Alshiba tidak akan mungkin bisa jika memakainya sekarang. Tubuhnya terlalu kecil, Sharon."
"Ooohhhh, begitu. Tidak masalah, jangan pikirkan itu. Aku membeli ini karna aku suka, dan aku pikir Alshiba akan semakin terlihat cantik saat memakai ini. Masalah mau dipakai kapan itu terserah padamu," Balas Sharon, santai.
Mendengar itu, Alesha pun menyunggingkan senyum tulusnya. "Terima kasih, Sharon."
"Heheh, Sama-sama," Balas Sharon yang juga menunjukkan senyum manisnya.
"Hmmm, haii Sayang," Sharon melambaikan tangannya pada Alshiba untuk memberikan sapaan ramah. Gadis itu benar-benar gemas pada keponakannya. Jika saja bisa, ingin rasanya ia menggendong tubuh Alshiba, namun pasti Alesha akan melarangnya karna takut jika ia salah memposisikan tubuh bayi mungil itu pada gendongannya.
"Dia sudah mandi?" Tanya Sharon.
"Iya, baru beres sekali," Jawab Alesha.
__ADS_1
"Pantas sangat wangi," Sharon memejamkan matanya, meresapi harum tubuh keponakannya.
Alesha hanya tersenyum-senyum ketika Sharon, adik iparnya itu mengajak bicara Alshiba. Alshiba sendiri hanya menatap, menatap, dan menatap, sesekali berkedip, ya maklum dia hanyalah seorang bayi yang berusia tiga jalan empat minggu.
"Al, bukannya tadi kau bilang ingin menjemput Alshiba?" Tanya Jacob yang tiba-tiba saja, dan menghampiri istri, juga adiknya.
"Iya, nanti, sekarang mataharinya masih belum terlalu panas," Jawab Alesha.
"Kalau begitu kemari, biar Alshiba bersamaku, kau mandilah," Ucap Jacob sembari mengambil alih tubuh putrinya, Alshiba.
"Aku sudah mandi!" Alesha melirik tajam pada suaminya.
Sepersekian detik kemudian, Taylor datang menghampiri Jacob sembari membisikkan sesuatu.
Tentunya hal itu membuat Alesha bertanya-tanya. Ada apa? Apa yang disembunyikan? Ditambah lagi raut wajah Jacob yang berubah menjadi dingin, dan datar. Alesha pun memunculkan beberapa spekulasi dikepalanya. Mungkinkah perusahaan ibu mertuanya itu sedang mengalami masalah kembali, dan Jacob mesti mengatasinya? Begitulah pikir Alesha.
"Suruh mereka untuk berkumpul sekarang!" Titah Jacob, dingin.
"Iya, Tuan," Taylor mengangguk. Lalu selepas itu ia pun pergi.
"Jack, ada apa?" Tanya Alesha.
"Tidak apa-apa," Jacob membalas sangat datar. "Aku pergi dulu, Alesha."
Tanpa meninggalkan sepatah kata lagi, Jacob pergi begitu saja meninggalkan istrinya yang kini tengah dilanda kebingungan.
"Entah, mungkin," Sharon mengedikkan bahunya. "Tapi kalau tidak salah waktu itu Irene bilang kalau saham perusahaan memang sedang turun," Lanjutnya.
Alesha hanya mengangguk pelan. Mungkin tadi Taylor memang membisiki Jacob mengenai masalah perusahaan, makanya ekspresi Jacob jadi berubah dingin, dan datar. Pikir Alesha.
...*****...
Sementara itu, disalah satu negara bagian Oregon, Amerika Serikat, tepatnya di dalam hutan belantara di sekitaran gunung Hood Wilderness, terdapat sebuah markas tersembunyi yang merupakan sarang bagi sebuah klan mafia.
Prank.....
"Sial! Kita gagal, dan malah ketahuan!!!" Umpat seorang wanita sembari melempar sebuah gelas kaca hingga pecah karna menghantam lantai.
"Virus itu! Dan tanamannya!!" Wanita tersebut mengepalkan tangannya. Ia marah, kesal, hatinya panas, matanya merah dengan sorot yang begitu tajam.
"Theora, Eve menahan beberapa anak buah kita!" Ucap seorang pria yang berjalan menghampiri wanita yang tengah dilingkupi oleh amarah itu.
Theora, atau dengan nama lengkap Theora Wiltson, keturunan Inggris-Amerika, dan memiliki saudara lelaki bernama, Theo Wilston yang merupakan pemimpin utama dari kelompok mafia yang beberapa hari lalu menyerang WOSA.
__ADS_1
"Aku tidak perduli, Wili!! Kita harus mendapatkan virus, dan tanaman itu!!" Teriak Theora.
"Jika tidak, kita terpaksa harus pergi ke Papua hanya untuk mendapatkan anggrek hitam itu," Theora menggigiti kukunya sendiri sebagai gerakan refleks. "Virus XXX, sebuah virus jenis baru yang berhasil SIO buat, tapi sayang, mereka masih belum menemukan vaksin yang tepat," Theora berjalan monda-mandir, membuat Wili yang ada di sana merasa kebingungan. "Tetapi ilmuan itu, dia berhasil menemukannya, untung saja kita bisa segera menculiknya dari SIO, jadi kita bisa lebih dahulu mengetahui jenis vaksin yang bisa membunuh virus itu," Ucap Theora sembari memegang sebuah pil kecil yang berisikan virus jenis baru yang ditemukan oleh beberapa orang ilmuan SIO.
"Ada beberapa jenis anggrek hitam, tetapi khusus untuk anggrek hitam Papua, kita hanya bisa menemukannya di sana," Theora terus bergumam, seolah ia sedang sendirian di dalam ruangan itu.
"WOSA memperketat keamanannya. Bahkan ada sekitar dua puluh lima orang yang khusus untuk menjaga laboratorium. Kita akan kesulitan jika harus mencuri anggrek hitam Papua itu dari WOSA, mau tidak mau kita harus mengambil langsung dari tempat asalnya," Ucap Wili.
"Sangat sulit untuk membiakkan anggrek hitam Papua itu. Kondisi tanah, dan iklim di Papua dan di sini sangat berbeda, Wil," Balas Theora.
"Kita tidak perlu membawanya ke sini, Theora."
Sejenak, Theora terdiam setelah mendengar ucapan Wili. Ia mengerti apa yang Wili maksudkan.
"Kita mengirim beberapa anak buah untuk mengembang biakkan anggrek itu di sana?" Theora melayangkan tatapan bertanya pada Wili.
"Ya," Wili mengangguk.
"Kita akan bicarakan hal ini dengan Theo," Theora menjentrikkan jarinya. Lalu setelah itu, ia melangkah pergi meninggalkan Wili.
Ya maklum, Wili hanyalah seorang asisten, dan pesuruh bagi Theora, dan kakaknya, Theo.
Kedua saudara kandung itu memang sudah sejak lama mempersiapkan rencana untuk mencuri salah satu sampel virus yang sukses SIO buat sekitar satu bulan lalu. Theo, dan Theora sudah cukup lama mengawasi SIO, maka dari itu mereka tahu saat-saat ketika SIO masih dalam masa proses pembuatan virus XXX tersebut. Hingga akhirnya mereka mendapat kabar kalau SIO berhasil menyelesaikan pembuatan virus tersebut, Theo, dan Theora langsung menyusun strategi untuk secepat mungkin mendapatkan virus buatan yang berasal dari laboratorium WOSA tersebut. Beruntungnya, Profesor Hans yang merupakan penemu vaksin untuk virus jenis baru itu sudah terlebih dahulu berhasil mereka culik, jadi sampai saat ini SIO, dan WOSA masih belum mengetahui vaksin yang mesti mereka gunakan untuk membunuh virus yang sudah mereka buat.
Apa tujuannya?
SIO sendiri membuat virus tersebut untuk penelitian ilmiah, sedangkan Theo, dan Theora untuk bisnis mereka.
...*****...
Beralih kembali menuju mansion Jacob, dan Alesha.
Kini Bastian beserta ketujuh temannya sedang menunggu pria yang bukan lain adalah mentor mereka ketika masih pendidikan di WOSA.
"Virus yang baru saja SIO buat itu hanyalah alat uji penelitian biasa, dan tidak tergolong sebagai virus ganas, dan bahkan vaksinnya pun sudah ditemukan, hanya saja memang virus itu dapat menyebar dengan sangat cepat, dan yang paling parahnya lagi Profesor Hans berhasil diculik oleh kelompok mafia sialan itu, jadi SIO, dan WOSA masih belum mendapatkan sedikit pun informasi tentang vaksin yang yang sudah Profesor Hans temukan," Ucap seorang pria paruh baya yang berjalan beriringan bersama Jacob menuju halaman belakang mansion, tempat Bastian, dan kawan-kawannya menunggu.
"Tetapi jika dibiarkan, virus itu memiliki potensi besar untuk menjadi pandemi, Jack," Lanjut si pria paruh baya tersebut. Ia adalah Profesor Martin, salah satu orang yang turut ikut dalam proses pembuatan virus XXX.
"Berapa persen potensi kematian yang disebabkan oleh virus itu?" Tanya Jacob, serius.
"Sekitar, sepuluh sampai lima belas persen," Jawab Profesor Martin. "Virus yang baru saja SIO buat hanya akan berbahaya jika sudah mengendap dalam tubuh manusia setelah lebih dari enam bulan. Sistem imun manusia akan langsung diambil alih oleh virus tersebut, dan sedikit demi sedikit akan merusak kerja organ tubuh, hingga akhirnya orang yang terinfeksi tersebut akan lumpuh, dan meninggal dunia," Profesor Martin menghentikan langkahnya lalu saling bertatap wajah dengan Jacob. "Kita bisa mengatasi masalah virus tersebut, tapi yang mesti benar-benar kita hadapi sekarang adalah rencana Theo, dan Theora. Mereka akan menyalahkan gunakan virus tersebut untuk bisnis mereka, Jack."
"Huft...." Jacob menghembuskan napasnya setenang mungkin. Ia harus bisa berpikir jernih.
__ADS_1
"SIO berharap kau bisa membantu, Jack. SIO sudah sangat mempercayaimu, itu kenapa SIO begitu keberatan ketika kau memutuskan untuk mengundurkan diri," Terdapat seberkas harapan yang tersirat melalui tatapan mata Profesor Hans. "Eve diberi tugas untuk menjaga WOSA, Levin akan datang ke sini untuk menjaga pusat penelitian baru SIO," Kemudian Profesor Hans menggenggam kedua telapak tangan Jacob. "Kami membutuhkanmu untuk kembali beraksi. Kita harus menghentikan rencana Theo, dan Theora, mereka akan merugikan satu dunia jika kita membiarkannya. Perusahaan milik ibumu juga akan terkena imbasnya, Jack. SIO membutuhkan orang yang bisa dipercaya untuk memimpin tim khusus ketika akan menyerang kelompok mafia itu. SIO berharap kau lah orangnya."
Bastian, dan ketujuh kawannya pun terdiam telak ketika menyimak percakapan Jacob, dan Profesor Hans. Mereka sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan. Virus, mafia, vaksin, apa maksudnya? Bastian, dan ketujuh kawannya dibuat bingung setengah mati. Mencoba untuk memahami, tapi mereka masih belum tahu maksud awal dari percakapan itu. Mungkinkah mereka juga dikumpulkan karna ada sangkut pautnya dengan apa yang sedang dua orang pria itu bicarakan?